Dukalara hati guru dipedalaman yang membuahkan senyuman

Oleh: Munzir

Pendamping Sekolah Literasi Indonesia SDN 12 Sokop Lokal Jauh (Kepulauan Meranti)

 Salah satu Guru yang bernama ibu Riyati yang saat itu mengajar di Desa Repan Kecamatan Rangsang merasa prihatin atas pendidikan di Desa Sokop. Banyak anak-anak yang tidak bersekolah dikarenakan jarak sekolah yang sangat jauh dari rumah mereka. Ibu Riyati mulai membagi waktu antara mengajar dan mengurus keluarga demi anak-anak suku akit agar bisa sekolah layaknya perkotaan. Ibu Riyati pagi hari yang harus mengajar di Repan meluangkan waktu sorenya untuk mengajar anak-anak suku akit di Bandaraya Sokop.

Aktivitas tersebut dilakoni mulai tahun 2014 hinga sekarang. Bermula dari memanfaatkan balai pertemuan berwarna putih berukuran sedang, ibu Riyati mulai memanjakan anak-anak suku Akit dengan pelajaran sekolah dasar. Dengan pakaian tak menyerupai sekolah layaknya diperkotaan, anak-anak Bandaraya tak merasa malu. Rasa ingin belajar yang tinggi akhirnya memberi semangat tersendiri bagi ibu Riyati.

Ibu Riyati mengaku prihatin dan ikhlas tidak digaji waktu itu. Karena, ibu Riyati percaya jika sesuatu yang dilakukan karena Allah SWT pasti akan akan diberikan pula jalan terbaik oleh sang pencipta .

Aktivitas membagi waktu mengajar, pagi, sore dan waktu untuk keluarga dilakoni ibu Riyati selama lebih kurang 2 tahun, yaitu pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 sebelum ia ditetapkan sebagai pengelola sekolah lokal jauh yang terletak di Desa Sokop pada tahun 2016 sampai dengan sekarang.

“saya yakin kalau sudah ada yang buka Lokal Jauh pasti akan banyak yang akan membantu nantinya”  kata ibu Riyati.

Allah tidak tidur, setidaknya kata-kata ini menjadi bukti tersendiri bagi sejarah pendidikan lokal jauh di Desa Sokop, Kepulauan Meranti. Dengan semangat belajar yang tinggi dan adanya guru yang begitu ikhlas membagi ilmu kepada siswanya, akhirnya bantuan mulai berdatangan, saat ini SDN 12 Sokop Lokal Jauh ini sudah dibangun 5 ruangan semi permanen yang dilengkapi meja, kursi dan buku panduan guru. Selain bantuan dari segi bangunan sekolah juga mendapat bantuan tenaga pengajar dan konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia untuk mendampingi sekolahnya melalui Program Dompet Dhuafa.

Pada tahun 2015 Allah membuka jalan untuk Ibu Riyati. Ibu Riyati lolos seleksi K-II dan saat ini berstatus sebagai CPNS. Ibu Riyati yang berasal dari Desa Tebun akhirnya pindah ke Desa Sokop dengan Nota Dinas Kepulauan Meranti, Ibu Riyati kini menetap di dusun Bandaraya bersama suami dan anaknya. Kini hari-hari ibu Riyati dihabiskan dengan anak-anak suku Akit yang mayoritasnya masih menganut kepercayaan Animisme.

Komentar

komentar