Umar Bin Khattab Cilik

Darel, Umar Bin Khattab Cilik

Siaaap grak, lancang depaaan grak, tegap grak!

Suara lantang itu bergema di ruang kelas 1, ruang bercat kuning yang tembok dindingnya  sedikit rapuh dan beberapa goresan tinta hitam berbentuk gelombang. Semua siswa dalam kelas mengikuti semua intruksi dari pemilik suara lantang itu. Ternyata Ia adalah Darel, anak laki-laki yang mengemban amanah sebagai ketua kelas 1 di SDN 2 Wanasari Kec. Bangodua Kab.Indramayu. Hari ini Darel membuat orang-orang yang melihat aksinya terkesima termasuk Pak Khalim yang sedang melakukan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) di sekolah kami. Siapa yang tidak terkesima dengan anak laki-laki berpostur kecil dan kurus namun bak seorang tentara, badannya tegap, dadanya sedikit membusung dan bersuara lantang serta gercap mengambil langkah dalam memimpin teman-temannya di kelas. Anak laki-laki yang bisa menilai secara obyektif perihal barisan paling rapi di hadapannya. Dengan langkah cepat dan tegap, Darel berjalan ke kiri dan kanan menunjuk barisan yang boleh pulang.

Di Kursi paling belakang, bersama kepala sekolah saat proses pembelajaran berlangsung saya memperhatikannya. Mulai saat Ia meminta izin keluar sambil berlari memegang mulutnya karena giginya tanggal. Jelang beberapa detik, Ia kembali masuk dengan tertawa pada semua temannya. Langsung duduk di bangkunya dan fokus dengan pembelajaran. Menurut Ibu Masnaeni (wali kelas 1) dan Ibu kepala Sekolah, Darel adalah siswa yang cerdas dapat dibahasakan “juara kelas”.  Yang paling membanggakan, Darel mampu mengayomi teman-temannya. Darel kerap menegur temannya yang tidak memungut sampah saat meninggalkan ruangan kelas.

Umar Bin Khattab Cilik2

Di usia 7 tahun, Darel sudah menampakkan keberanian, kewibawaan dan karisma seorang pemimpin. Saya  sebut saja Umar Bin Khattab cilik, Umar yang dikenal sebagai Khalifah,  sosok sahabat Rasulullah shallahu’alaihiwassalam yang sangat tegas, pemberani, merakyat dan mengayomi. Sosok Umar mulai nampak pada diri Darel, dan jika jiwa kepemimpinannya semakin diasah berarti sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan telah mempersiapkan pemimpin berintegritas di masa yang akan datang.  Mempersiapkan lahirnya Umar Bin Khattab baru.

Sudah sepatutnya kepemimpinan setiap anak ditumbuhkembangkan, dan cara terjitu yang dapat ditempuh dengan penerapan mendidik anak ala Ali bin Abi Thalib :

“Ajaklah anak bermain dengan menyenangkan pada 7 tahun pertama, disiplinkanlah anak pada 7 tahun kedua, dan bersahabatlah pada anak usia  7 tahun ketiga.”

 

Lebih jauh lagi, Munif Chatif menerjemahkannya “pada masa 7 tahun pertama usianya anak adalah raja yang punya kerajaan bermain, pada  masa tujuh tahun kedua usianya anak adalah pembantu yang harus dididik dan dibimbing, pada masa 7 tahun ketiga usianya  anak akan tumbuh menjadi wazir.”. Kini Darel sudah memasuki fase 7 tahun keduanya berarti mulai didisiplinkan dengan didikan dan bimbingan. Apalagi usianya masih dalam usia golden age, usia paling tepat membentuk pribadi anak.  Uniknya, Darel membiasakan teman sekelasnya untuk menghormati seorang pemimpin walaupun itu adalah teman sebayanya dengan budaya salam. Setiap pulang sekolah Darel berdiri di depan kelas bersama Ibu guru menyalami satu persatu teman sebayanya.

Darel membuka mata kita bahwa siapapun bisa menjadi pemimpin, postur tubuh kecil tidak menjadi masalah. Karena sejatinya semua manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri.

Kontributor : Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Pustaka:

  • Chatif, Munif. 2018. Orang Tuanya Manusia. Bandung: Kaifa Learning
  • Wulansari, Nyi Mas Diane. 2017. Didiklah Anak Sesuai Zamannya. Jakarta: Visimedia Pustaka.

Komentar

komentar