Covid-19 dan Berubahnya KBM

Oleh: Ahmad Shofwan Syaukani (PM 9 BAKTINUSA Regional Bandung)

Dampak yang terjadi akibat dari pada pandemi Covid-19 terbilang hampir menyentuh seluruh sektor kehidupan manusia, termasuk pada sektor pendidikan. Fenomena yang berkembang hari ini ialah banyak sekolah maupun universitas yang diliburkan terlebih dahulu kegiatan belajar mengajarnya (KBM). Kemudian banyak bangku-bangku kelas yang kosong, bahkan pada beberapa daerah ada beberapa sekolah yang ingin dijadikan sebagai lokasi untuk para petugas medis yang hendak memberikan pelayanan kesehatannya kepada pasien Covid-19. Entah memang fasilitas kesehatan kita yang sudah overload atau bagaimana, tetapi mari kita doakan bersama semoga pandemi ini dapat segera selesai dan kita dapat beraktivitas kembali seperti biasanya.

Kemudian dampak dari pada banyak sekolah yang diliburkan, menjadikan proses berputarnya roda pendidikan dilakukan selama anak berada di rumah. Mungkin bagi sebagian anak ada yang beranggapan bahwa mereka turut berbahagia karena tiba-tiba saja tertimpa durian runtuh karena bisa libur panjang sampai dengan waktu yang tidak ditentukan, namun ada juga anak yang mungkin sudah mulai terasa bosan dan ingin segera kembali berangkat sekolah pagi-pagi untuk menuntut ilmu dan bertemu teman-teman sepermainannya. Namun tidak hanya anak-anak saja yang pusing, melainkan orang tua juga mendapatkan tantangan baru untuk sekiranya mengembalikan fitrah keluarga sebagai madrasah pertama bagi para anak-anak.

Mungkin bagi sebagian orang tua, mereka cukup kewalahan karena ada satu agenda tambahan yaitu memberikan pengajaran kepada anak-anaknya. Sampai mungkin kita lupa, sebenernya yang diberikan tugas utama untuk mengajar itu guru atau kedua orang tua? Lantas mengapa begitu sulit untuk dilakukan? Apakah karena kita yang terlalu sibuk mencari uang untuk membiayai uang pendidikan anak-anak atau kita yang belum tahu mengenai mata pelajaran dalam pendidikan anak-anak kita? Tentunya pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat menjadi perenungan kita, baik itu yang sudah maupun akan menjadi orang tua.

Oleh karena itu, anak-anak adalah harapan sekaligus generasi penerus keberlangsungan hidup manusia. Maka mengembalikan fitrah madrasatul ula pada kondisi seperti ini merupakan proses belajar yang baik bagi setiap manusia. Bahwa pendidikan merupakaan pembinaan sepanjang hidup. Misi utamanya ialah melakukan perubahan, sehingga kemudian terwujudnya sebuah tatanan kehidupan yang baik.

Komentar

komentar