Ciptakan Matematika Menyenangkan dengan Mamun Tebal

Oleh: Titin Mulyaningsih

 

 

Peningkatan mutu pendidikan dititikberatkan pada peningkatan kinerja guru, peningkatan mutu pembelajaran dengan PAKEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif dan Menyenangkan), juga peran serta masyarakat. Dalam penerapan PAKEM, guru dituntut untuk mampu menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif. Suasana PAKEM yang tercipta diharapkan diikuti dengan tercapainya peningkatan mutu pendidikan yang optimal.

 

Selama ini matematika dianggap momok yang menakutkan oleh sebagian besar siswa. Hal tersebut menjadi salah satu penyebab rendahnya nilai pada pelajaran ini. Matematika dalam benak siswa identik dengan kesulitan, nilai rendah, dan guru yang galak. Akhirnya dinyatakan bahwa siswa tidak mampu menerima pembelajaran karena kondisi tertekan.

 

Menurut Bobbi DePorter dalam bukunya Quantum Learning, proses pembelajaran dapat efektif jika pembelajaran berlangsung menyenangkan. Guru dituntut untuk mampu menumbuhkan rasa senang para siswa terhadap suatu mata pelajaran. Dalam hal ini guru harus menuangkan kreativitasnya dalam menciptakan pembelajaran  yang inovatif, dengan mengerahkan sumber daya dan sumber belajar yang ada secara optimal. Inilah tantangan bagi para guru.

 

Munculnya anggapan matematika sebagai momok disebabkan oleh berbagai hal. Di antaranya, guru kurang memberi motivasi pada siswa untuk menyukai pelajaran matematika, metode dan media yang digunakan guru kurang bervariasi, juga kurangnya motivasi dari dalam diri siswa sendiri. Hal tersebut merupakan tantangan tersendiri bagi guru.

 

Studi kasus di sekolah dasar, tahap pembelajaran matematika di sana adalah penanaman konsep. Karenanya siswa dikenalkan dengan hal-hal yang bersifat konkret. Selain itu, anak-anak pada usia sekolah dasar secara psikologis masih suka bermain. Maka guru harus mampu masuk ke dalam dunia bermain itu untuk dapat menemukan formula pembelajaran yang sesuai.

 

Peran guru dalam menanamkan konsep pada diri siswa sangat besar dan utama. Penguasaan materi pelajaran, kemampuan memilih dan menggunakan metode, serta penggunaan media yang tepat, adalah beberapa faktor penentu keberhasilan suatu proses pembelajaran. Di samping itu tentu saja potensi dan kemauan siswa menjadi modal awal.

 

Maka, penggunaan media yang tepat akan mendukung dan memberi kontribusi besar dalam menciptakan pembelajaran yang menyenangkan. Siswa dapat melihat dan melakukan sendiri, sehingga proses “menemukan” dapat dialami. Oleh karena itu, saya memperkenalkan media pembelajaran berupa alat permainan Mamun Tebal (Maju Mundur Terus Balik).

 

Melalui media permainan Mamun Tebal ini siswa bisa bermain operasi hitung penjumlahan dan pengurangan bilangan bulat. Harapan saya, materi Operasi Hitung Bilangan Bulat dapat berlangsung dengan menyenangkan. Sehingga mampu menumbuhkan minat siswa untuk belajar matematika, serta menghilangkan kesan bahwa pelajaran matematika itu membosankan.

 

Mamun Tebal pun menjadi media pembelajaran di kelas saya, Kelas IV SDN Kotagede 3 Yogyakarta. Awalnya, para siswa saya kurang tertarik mengikuti pelajaran karena sudah beranggapan bahwa matematika sulit dan membosankan. Selain itu, nilai mereka pada materi bilangan bulat masih rendah. Karena itulah saya berusaha menciptakan media pembelajaran matematika tersebut. Harapannya, saya dapat mengajak siswa untuk aktif dan menikmati pelajaran, serta materi dapat tersampaikan dengan baik.

 

Standar kompetensi yang diharapkan pada materi Operasi Hitung Bilangan Bulat adalah siswa dapat menjumlahkan dan mengurangkan bilangan bulat serta menggunakannya dalam pemecahan masalah. Bilangan bulat sendiri terdiri dari bilangan bulat positif dan bilangan bulat negatif. Sementara penerapannya berkaitan dengan ukuran derajat di bawah nol, ukuran kedalaman di bawah laut, atau pun kerugian dan keuntungan yang diperoleh.

 

Konsep dasar yang diajarkan di kelas empat ini adalah mengurutkan bilangan bulat, menjumlahkan dan mengurangkan, serta  menggunakan bilangan bulat untuk pemecahan masalah. Konsep “bilangan bulat” sendiri yaitu bilangan bulat positif, bilangan bulat negatif dan bilangan nol. Bilangan bulat posistif merupakan bilangan asli yang terdiri atas 1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya. Sedangkan bilangan cacah terdiri atas 0, 1, 2, 3, 4, 5, dan seterusnya.

 

Untuk menyatakan suhu dibawah nol, kedalaman di bawah permukaan laut, suatu keadaan rugi, tidak bisa menggunakan konsep bilangan tersebut, sehingga menggunakan bilangan bulat negatif. Bilangan bulat negatif adalah bilangan asli dengan tanda negatif yaitu -1, -2, -3, -4, -5, dan seterusnya. Penerapannya seperti pada contoh berikut:

 

  1. Suhu di suatu tempat 5⁰ C di bawah nol, dapat dituliskan -5⁰ C.
  2. Kedalaman kapal selam berada 25 meter di bawah permukaan laut dapat dituliskan -25 m.

Pembelajaran matematika hendaknya memberi kesempatan untuk memanipulasi benda-benda (alat peraga). Dengan adanya alat peraga tersebut siswa dapat melihat langsung bagaimana keteraturan serta pola yang terdapat dalam alat peraga yang diamati.

 

Saya mencoba mencari alat atau media yang mampu dipahami siswa tentang konsep operasi hitung bilangan bulat. Karenanya saya membuat game board Mamun Tebal tersebut.

 

Mamun Tebal berupa papan bidang datar berbentuk segi delapan. Dalam papan ini terdapat gambar empat garis bilangan yang digambarkan dengan warna-warni. Sebagai pusat adalah bilangan 0 (nol), ke kanan merupakan bilangan bulat positif, ke kiri bilangan bulat negatif. Di antara garis bilangan tersebut terdapat gambar piramida segitiga dan bangun persegi. Keduanya berfungsi sebagai tempat mengumpulkan poin atau reward, juga sebagai tempat meletakkan kartu soal yang disebut Kartu Tantangan. Media ini dilengkapi dengan satu bidak dan beberapa pion sebagai bentuk reward jika berhasil menyelesaikan soal yang diberikan. Peralatan tersebut dapat dilihat pada gambar berikut ini:

Cara menggunakan permainan ini sama seperti mengerjakan operasi hitung bilangan bulat dengan menggunakan garis bilangan. Masing-masing pemain secara bergiliran bermain dengan mengambil Kartu Tantangan untuk dikerjakan pada garis bilangan. Jika pemain benar maka akan mendapat reward. Jika belum benar maka tidak mendapat apa-apa.

 

Pemenangnya adalah pemain yang dapat memenuhi piramidanya terlebih dahulu. Untuk menentukan benar salah, para pemain lain berperan sebagai pemeriksa jawaban. Jika jawaban salah, merekalah yang akan memberitahu jawaban yang benar. Dengan demikian akan terjadi peer teaching atau pembelajaran dengan teman sebaya.

 

Konsep-konsep tersebut dapat dimainkan siswa di dalam permainan Mamun Tebal ini, sehingga mereka dapat merasakan bahwa matematika tidak menakutkan. Setelah konsep dapat dipahami siswa dengan baik, maka mereka dapat menyelesaikan operasi hitung dengan bilangan yang lebih besar tanpa menggunakan garis bilangan.

 

Penggunaan alat permainan ini terbukti memberikan dampak positif yaitu tumbuhnya minat dan keaktifan siswa dalam pembelajaran matematika. Siswa tidak lagi takut dengan matematika. Pembelajaran pun menjadi menyenangkan dan bermakna.

Komentar

komentar