Ceruk Ilmu Untuk Sekolah Lebih Baik

Ceruk Ilmu Untuk Sekolah Lebih Baik

Oleh: Muhammad Shirli Gumilang

 

“Mana mungkin literasi dapat dilakukan, kami tidak punya perpustakaan,” ujar seorang guru. Bisa jadi ungkapan tersebut keluar dari guru lainnya. Begitu ironis. Satu sisi gaung gerakan literasi begitu besar, tetapi sisi lainnya masih ada sekolah yang tidak memiliki perpustakaan. Jangankan perpustakaan kondisi sekolahnya pun sangat memprihatinkan. Sisi baiknya untuk literasi Indonesia adalah banyak bermunculan penerbit buku yang menerima naskah siap cetak. Tapi buat sebagian lainnya, ada peluh para penulis buku tentang pajak penulisan buku. Akhirnya seperti dalam film, negeri ini memang penuh ironis.

Rasanya tak elok jika kita selalu menyalahkan gelap tanpa ada usaha untuk menyalakan lilin. Pecundanglah ungkapan yang tepat bagi mereka yang selalu terus menyalahkan, tanpa adanya tindakan perbaikan. Upaya yang dilakukan pemerintah begitu masiv dalam meningkatkan kemampuan literasi masyarakat Indonesia. Rasanya tidak akan tercapai tujuan tersebut jika tidak di dukung oleh semua pihak.

Keterbatasan bukanlah penghalang keberhasilan. Ungkapan tersebut tepat sekali untuk menggugah semangat dan menguatkan asa bagi sekolah yang memiliki keterbatasan. Baik keterbatasan secara jumlah guru, keterbatasan gaji guru, keterbatasan sarpras sekolah, termasuk keterbatasan perpustakaan. Pribahasa mengatakan “tak ada rotan, akar pun jadi”. Kuncinya adalah kreativitas. Guru atau Kepala Sekolah perlu jeli melihat kelemahan dan potensi yang dapat dikembangkan di sekolah. Jika memang perpustakaan tidak ada, bukan berarti literasi di sekolah tersebut tidak berjalan. Guru atau Kepala Sekolah dapat melakukan hal lain sehingga literasi di sekolah tetap terlaksana.

Makmal Pendidikan dengan program unggulannya yaitu Sekolah Literasi Indonesia (SLI) memiliki salah satu program ke-khas-an dalam menjalankan aktivitas literasi yaitu ceruk ilmu. SLI mendampingi sekolah dengan kondisinya sangat memprihatinkan. Jangankan perpustakaan, kondisi kelasnya pun sangat terbatas. Bahkan untuk masuk ke kelas, siswa atau guru harus masuk dan melewati kelas yang sedang pembelajaran. Sekolah tersebut juga tidak memiliki perpustakaan.

Guru-guru di sekolah tersebut memiliki semangat bahwa keterbatasan bukan penghambat keberhasilan. Dari keterbatasan tidak memiliki perpustakaan, mereka memanfaatkan pojokan kelas untuk dijadikan ceruk ilmu. Sebagai sarana untuk mengembangkan pengetahuan mereka, ceruk ilmu tidak hanya digunakan sebagai tempat untuk membaca. Ceruk ilmu juga digunakan untuk sharing bacaan dari setiap siswa, mendongeng berdasarkan hasil bacaan, serta praktik pembelajaran memanfaatkan ceruk ilmu. Semuanya aktivitas dalam ceruk ilmu terdokumentasi dalam jurnal ceruk ilmu. Untuk sebagian sekolah ceruk ilmu juga salah satu item menambah kesan artistik dari sebuah ruang kelas. Sehingga kelas menjadi lebih hidup, dan lebih menyenangkan bagi siswa, serta tidak membuat siswa bosan.

 

 

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044