Pendidikan Anak dan 5 Level Kepemimpinan

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut.” (HR. Bukhari – Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci ibarat kertas kosong. Secara naluriah, seorang anak akan mengharapkan dan membutuhkan bimbingan dari orang dewasa. Disinilah pendidikan anak memegang peranan penting, untuk mulai mengisi dan mewarnai kertas kosong tersebut. Ketika beranjak dewasa, sang anak mungkin sudah –dan harus– mampu mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya sendiri, namun sketsa awal yang dibuat pada kertas kosong itu akan sangat memengaruhi pilihan hidup yang kelak diambil. Dan karena kepemimpinan adalah seni memengaruhi orang-orang yang dipimpin, peran pemimpin secara otomatis hinggap di pundak para orang tua dalam mendidik anaknya.

Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya, namun pemimpin seperti apa? Sebagai refleksi, ada baiknya kita komparasikan dengan lima level kepemimpinan yang ditulis oleh John C. Maxwell. Maxwell menggunakan 5 level pemimpin (5P) yaitu Position (Posisi), Permission (Perkenanan) , Production (Produksi), People Development (Pengembangan SDM), dan Personhood (ke-Pribadi-an). Masing-masing level ini kemudian dipasangkan dengan dengan produknya, yang disebut Maxwell sebagai 5R, yaitu Rights (hak), Relationships (hubungan), Results (hasil), Reproduction (reproduksi) dan Respect (hormat).

Level kepemimpinan pertama adalah posisi atau jabatan. Seorang anak mengikuti orang tua karena keharusan. Pendidikan anak di level ini ditandai dengan penekanan hak orang tua untuk dituruti karena posisinya sebagai orang tua yang harus dihormati anaknya. Tanpa kemampuan ataupun upaya khusus, jabatan orang tua dan anak sudah ditentukan, tidak akan tertukar. Indoktrinasi bahwa orang tua selalu benar, lebih tahu dari anaknya dan tidak akan mencelakakan anaknya akan kental, sementara ruang dialogis sangat terbatas. Anak akan berpotensi kehilangan jati dirinya, terkekang minat dan bakatnya, serta sekadar menjadi ‘boneka’ orang tuanya. Moralitas relatif turun sementara potensi pemberontakan tinggal menunggu momentumnya saja. Maxwell mengatakan, “A great leader’s courage to fulfill his vision comes from passion, not position”.

Orang tua yang mendidik anaknya di level kepemimpinan pertama ini perlu berbenah, setidaknya naik ke level kepemimpinan selanjutnya yaitu perkenanan yang berorientasi hubungan. Pada level kedua ini, seorang anak menuruti orang tuanya karena rasa sayangnya pada orang tua, bukan karena keharusan semata. Disini orang tua sudah menjadi pribadi yang menyenangkan bagi anak-anaknya sehingga kerja sama antar anggota keluarga dapat lebih terjalin. Anak-anak sudah mulai merasa dihargai dan lingkungan keluarga pun lebih terasa positif. Sayangnya, pendidikan anak di level ini cenderung membuat orang tua populer di mata anak, tetapi pengembangan diri anak kurang terfasilitasi. Pendidikan yang berorientasi membuat nyaman semua anggota keluarga ini kurang mengakomodir kebutuhan anak yang memiliki motivasi tinggi untuk maju.

Pendidikan anak perlu naik ke level kepemimpinan ketiga yang fokus pada kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta memberikan hasil nyata dari pendidikan anak. Pada level ini, seorang anak akan patuh pada orang tuanya karena sudah merasakan hal-hal positif bahkan hasil yang dapat dilihat kasat mata, buah dari pendidikan yang dilakukan orang tuanya. Anak-anak sudah merasakan tercapainya tujuan pendidikan, yaitu adanya perubahan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Anak-anak pun sudah mampu mengatasi masalah dan mengambil keputusan sendiri dalam mencapai cita hidup mereka. Di level ini, orang tua telah mampu menjadi role model yang baik bagi anaknya dan dengan jelas mampu menunjukkan kontribusi mereka bagi keluarga. Teladan orang tua yang produktif akan menghasilkan anak-anak yang produktif.

Pekerjaan terakhir seorang pemimpin adalah memastikan dirinya mewariskan hal-hal yang baik, termasuk ketersediaan kader pengganti. Pada level kepemimpinan keempat, kaderisasi adalah harga mati karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menghasilkan pemimpin lainnya. Di level ini, orang tua sudah mempersiapkan anak-anaknya sebagai pemimpin sekaligus orang tua di masa mendatang. Orang tua mengoptimalkan segala yang dimilikinya untuk pengembangan anak-anak mereka sebagai investasi SDM strategis. Pendidikan di level ini akan menumbuhkan dan memperkuat loyalitas anak kepada orang tua dan keluarganya. Bakat dan minat anak diperhatikan, potensi anak dikembangkan, inisiatif anak didukung, proyeksi masa depan anak dipersiapkan dengan baik. Reproduksi bukan berarti mencetak anak sebagai kloning orang tuanya, karakter kepemimpinan sang anak tetap harus terbentuk.

Level kepemimpinan kelima menyoal kepribadian dan respek, yang disebut Jim Collins sebagai pemimpin dengan professional will dan strategic humility. Bijak dan kharismatik. Di level ini, anak-anak menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada orang tuanya. Respek ini bahkan sanggup menggerakkan untuk berjuang dan mengorbankan segala yang dimilikinya demi orang tuanya. Tanpa alasan. Bukan karena hubungan darah, rasa kasih sayang ataupun melihat apa yang sudah orang tua berikan. Lebih luhur dari itu. Orang tua menjadi teladan, inspirator, sekaligus pemimpin idola bagi anak-anaknya. Butuh waktu lama dan upaya keras untuk mencapai level ini, bahkan mungkin baru dapat dilihat setelah perannya sebagai orang tua di dunia sudah berakhir.

Ada ungkapan yang mengatakan, “Seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa akan jauh lebih berbahaya daripada seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing”. Ungkapan tersebut barangkali ada benarnya dan relevan dengan pendidikan anak kita. Jika anak-anak kita tidak mampu mengaum, bisa jadi bukan karena mereka lemah, namun karena kita tidak mampu memberikan pendidikan sekuat singa. Orang tua punya peran besar dalam membangun masa depan anak, apalagi di usia keemasannya. Mari sejenak kita renungi level kepemimpinan kita dalam mendidik anak, sebentar saja, untuk kemudian kita berbenah dan memperbaiki diri. Agar kelak anak-anak kita mengenang kita sebagai orang tua terbaik, penuh dedikasi dan keteladanan, bukan hanya orang yang ‘kebetulan’ jadi orang tua. Setiap orang tua adalah pemimpin, setiap anak adalah amanah, mendidik anak adalah kewajiban. Pemimpin, amanah dan kewajiban akan dimintai pertanggungjawabannya.

 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An Nisa: 9)

“Ma, Anggi Hoyong Papanggih“

papanggih“Biar saya duluan pak yang maju“ teriak Anggi saat lomba memeringati Hari Kartini pekan lalu. Ia melangkah perlahan ke depan, menarik napas sejenak, ruangan riuh suara anak-anak yang masih tak menyangka Anggi akan maju, anak laki-laki yang tempramental ketika hal yang tak diinginkannnya tak terwujud. “Silahkan Anggi,“ ucapku pelan. Ia tersenyum, suara emasnya mengalaun, seisi ruangan bertepuk tangan. Aku terdiam, terdiam mendengar suara emasnya, terdiam dengan makna lagu yang dinyanyikannya dengan penuh penghayatan. Lagu berjudul Ibu itu pun terus mengalun, mengantarkanku ke cerita Anggi yang ia tulis dibuku diarinya, diari rutin setiap hari anak-anak didikku yang setiap hari aku baca dan periksa. Lagu Ibu itu terus mengalun, “Kaulah ibuku cinta kasihku,“ anak-anak mulai ikut bernyanyi. Namanya Anggi Aderiana Husni, seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun, kelas tiga di tempatku mengabdi, MI Cibengang. Anak laki-laki yang saat berumur dua tahun ditinggal pergi ibunya entah ke mana, Anggi kecil tinggal bersama ayah dan diasuh neneknya ketika ayahnya merantau.

Kalimat yang masih teringat  dan cukup menyayat hati “Pak saya belum pernah melihat wajah ibu saya“. Hari itu, hari yang mengingatkanku secara tidak langsung apa kabar ibu di rumah. Anggi kecil yang belum tahu apa-apa, tak pernah lepas dari senyum khasnya. Di tulisannya, ia bercerita bahwa ayahnya sampai harus meminta maaf tidak bisa mempertemukan ia dengan ibunya walaupun ia menangis setiap malam, betapa rindu itu sudah bertumpuk untuk anak berumur sembilan tahun. Lagu ibu yang dilantunkan Anggi semakin membuat riuh ruangan, tidak malu-malu, Anggi bernyanyi dengan gerakan yang mengisyaratkan betapa ia rindu dengan ibunya, di sudut-sudut kelas, aku melihat beberapa anak perempuan menangis, menghayati lagu ini. Di akhir suratnya, kalimat yang terbang melayang ke segala penjuru semesta dan aku hanya bisa berkata “aamiin” kalimat penuh harap dari seorang anak yang berjuang dibalik rindu yang mendalam, “ Saya selalu ingat ibu saya pak, saya selalu berdoa, Ya allah semoga saya berjumpa dengan ibu saya, saya tidak sabar ingin bertemu ibu.. Ya Allah, Ma.. Anggi hoyong papanggih.. (Ma, Anggi ingin bertemu)“. Lagu ibu itu berakhir, lagu yang menyinari kami di ruangan penuh haru yang dibawakan Anggi. Riuh tepuk tangan untuk Anggi, ia tersenyum dan kembali duduk. Sekuat apapun kita, sejauh apapun melangkah, doa ibumu adalah yang utama, kebahagiaan ibumu adalah harta yang paling berharga, bapak akan berdoa terus untuk Anggi, untuk semua anak di sini, setiap hari di sini selalu memberi pelajaran baru buat bapak, kalian senja yang tak pernah pudar.

Anak Adalah Investasi Masa Depan

Oleh: Siti Sahauni.

IMG_20160204_133626Setiap anak yang lahir ke dunia lahir dalam keadaan fitrah, suci dan bersih. Bahkan bau surga masih menyelimuti mereka. Kedua orang tuanyalah yang mengantarkan mereka menjadi orang lain. Seperti yang diterangkan dalam hadis riwayat Muslim, “Setiap bayi yang terlahir dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanyalah yang membuat bayi itu menjadi Yahudi atau Majusi”.

Di era modern ini, peran orang tua baik di daerah maupun di kota tidak jauh berbeda. Mereka memiliki andil besar dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya menjadi pribadi yang tidak hanya unggul di segi pendidikan namun juga pada akhlakul kharimahnya.

Pada beberapa kalangan orang tua, persoalan pendidikan selalu dikaitkan dengan ekonomi. Misalnya bagi orang tua yang strata ekonominya berada di bawah rata-rata, sekolah bukan menjadi suatu keharusan. Sehingga ketika mereka dapat mengupayakan anaknya sekolah bahagianya bukan kepalang. meski hanya sampai pada tingkatan tertentu saja.

Ketiadaan ekonomi akhirnya memunculkan masalah klasik yang cukup pelik dan getir. sehingga tiada kekhawatiran bagi orang tua yang berada di bawah garis kemiskinan. Karena kekhawatiran mereka telah dialihkan pada sebuah kenyataan akan keberlangsungan hidup. Yang tak dapat ditampik kemudian memaksanya untuk sedikit mengacuhkan dua hal yang sebenarnya memberikan pengaruh besar pada anak-anaknya di kemudian hari.

Secara tidak langsung, orang tua yang melakukan tindakan demikian sebenarnya tengah membunuh mimpi anaknya pelan-pelan. Mimpi di mana suatu saat nanti anaknya akan membawa perubahan besar, tidak hanya mengubah strata pendidikan pada keluarganya. Dirinya juga untuk daerahnya, suatu kebanggaan yang tak ternilai harganya.

Ketakutan serta kekhawatiran yang dirasakan oleh orang tua memang naluriah. Namun, sungguh pun demikian ketidakcukupan sandang dan pangan menjadi penghalang untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Maka mereka telah meragukan penciptaNya dan tidak mengakui kebesaran-Nya sebab Allah SWT menegaskan agar kita tidak takut miskin hanya karena mempunyai anak. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (Qs. Al-An’am:151). Karena harta yang kita miliki tidak hanya sebatas materi. Melainkan memiliki seorang anak. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS. Al kahfi: 46)

Anak yang saleh dan shalehah dambaan setiap orangtua. Terlepas dari itu semua, keutamaan kedua orangtua tidak hanya membesarkan anaknya, melainkan memberikan peneladanan. Karena pendidikan yang pertama kali diperoleh anak adalah ketika mereka berada dalam lingkungan rumah yakni keluarga, bapak dan ibunya. Sehingga tindak tanduk orang tua tidak akan terlepas dari sorotan anaknya.

Orang tuanyalah yang akan menjadi agen perubahan bagi anaknya. Sikap dan sifat yang melekat pada diri seorang anak juga tergantung dari orangtuanya. Sehingga sejatinya sebagai orangtua yang baik dimata orang lain dan pencipta-Nya adalah mereka yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pendidikan umumnya saja. Melainkan juga diberikan kekuatan pondasinya melalui pembekalan agama.

Pendidikan agama memang diperoleh anak ketika mulai masuk sekolah. Tetapi, kadar yang diberikan oleh sekolah jauh lebih banyak diterima ketika anak berada di dalam rumah. Bimbingan seorang ibu yang telah melahirkan akan lebih mengena ketimbang orang lain.  Allah SWT memaparkan dengan jelas bahwa orangtua amat berperan penting dalam mengarahkan dan menanamkan ketauhidan kepada anaknya. “Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya  yang demikian itu termasuk perkara yang penting (QS. Luqman:17)

Alangkah besarnya pengaruh orang tua terhadap investasi masa  depan seorang anak. Mereka yang telah menyadari perannya dengan baik maka menanam kebaikan pada seorang anak akan terbiasa dilakukan. Apalagi bila kebaikan yang dibiasakan dapat membawa keberkahan pada anaknya. Anak adalah investasi yang tidak ada habisnya. Bahkan memiliki seorang anak yang membanggakan tidak akan menjadi sia-sia. Karena benih kebaikan yang kita berikan suatu hari nanti akan berkembang cantik lagi indah rupanya. Mengharumkan kita. Orangtuanya di dunia dan akhirat.

Penulis adalah Guru Konsultan Sekolah Literasi Indonesia, Bantarwaru Kec. Cinangka Kab. Serang-Banten

Surat Cinta untuk Ibu di Arab

Oleh: Suni Ahwa

Hanya satu pintuku tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu
Hanya satu pintuku tuk bercanda dan tertawa
dipangkuan seorang ayah

(Mocca)

“Purwita udah nggak sanggup lagi, bu.” Lirih suara Purwita dari dalam kamarnya. Kedua tangannya gemetar saat ia memegang selembar foto ibunya yang sedang berdiri di samping Ka’bah lama sekali. Tiba-tiba bulir airmatanya berkejaran. Ia tersedu-sedu. Airmatanya mengenai seragam merah putih yang masih dikenakannya.

Kejadian beberapa waktu lalu melintas lagi. Memenuhi pikiran Purwita. Gunjingan teman-temannya di sekolah dan masyarakat di rumah masih jelas terngiang di telinganya. Dan mengganggunya.

“Kenapa harus aku bu yang mengalami semua ini. Kenapa hanya aku yang lebih banyak diuji dibandingkan orang lain.” Purwita menghentikan menulisnya. Hanya pada sebuah surat cinta ia mengutarakan segala perasaannya. Seperti perasaan yang sedang menguasainya kala itu.

Surat cinta yang ditulis Purwita kelak ketika ibunya pulang akan dibaca. Sudah tak terbilang lagi berapa banyak surat yang dibuatnya. Surat cinta dari anak kepada seorang ibu yang begitu dirindukannya. Ia meremas pulpen pemberian Ibunya kuat-kuat. Pulpen yang dibelikan ibunya masih disimpan baik-baik oleh Purwita. Ibunya tahu kalau Purwita menyukai tulis menulis.

Purwita menyeka airmatanya. Saat pintu kamarnya diketuk berulang kali dari luar. Ia bergegas menaruh surat cinta yang baru ditulisnya pada kotak biru di bawah lemari bajunya. Sejurus kemudian ia mengganti pakaiannya. Menggantungkan pakaiannya di lemari kayu yang telah usang.

“Wita mau salat dhuzur dulu ya oyot.” Seru Purwita dari dalam kamar. Ia buru-buru menuju kamar mandi di dapur. Mengambil air wudhu. Dan menunaikan salat dhuzur yang telah 15 menit berlalu.

Purwita berdiri mematung di depan pintu masuk warung. Pintu masuk warung yang hanya dibatasi selembar kain tipis. Sehingga ia dapat menyaksikan perempuan senja yang telah membantu proses kelahirannya lama. Tiba-tiba pikirannya kembali ditumbuhi berderet pertanyaan. Yang getir. Dan menyakitkan.

Mungkinkah ini adalah balasan Tuhan pada seorang ibu yang telah mencampakkan anaknya beberapa waktu lalu.

“Kenapa harus aku, bu.” Lirih Purwita. Matanya berair.

“Enek,” Oyot memanggil cucunya yang sedang berdiri mematung menyaksikan oyotnya. Purwita tersentak mendengar panggilan oyotnya. Ia langsung menghampiri oyotnya. Dua piring dengan lauk pauk seadanya dibawa Purwita cepat. Waktu telah menunjukkan pukul 12.45 WIB. Itu artinya dia harus menggantikan oyotnya menjaga warung.

“Ayo makan siang dulu, oyot.” Purwita tersenyum hampa sembari menyodorkan sepiring nasi pada oyotnya yang sedang duduk. Kedua tangan oyot begitu cekatan membereskan barang dagangan yang belum rapi.

Tangan kanan oyot melayang ke kepala Purwita. Ia mengusap lembut sembari memandangi Purwita. Cucu semata wayangnya yang sudah mengenakan kerudung. Oyot mengembangkan senyuman simpul. Purwita membalasnya. Di bawah terik matahari mereka begitu menikmati santap siang meski dengan ikan asin dan sayur asem.

**

Sudah lebih dari 5 tahun kejadian itu berlalu. Namun, bayangan masa lalu itu bagai luka yang membekas di tubuh Purwita. Bekas luka yang tidak hanya dirasakan oleh ibunya tetapi juga dirinya. Kerinduan pada ibunya seketika menjelma menjadi mimpi buruk. Seperti malam itu. Mimpinya seolah nyata tergambar di depan matanya untuk kesekian kalinya.

“Rek sampe iraha aya di imah, akang. Dua tahun deui anak urang makin gede. Pasti ngabutuhkeun biaya gede.”1 Papar Wati pada suaminya yang sedari tadi asyik menonton televisi. Tidak ada tanggapan apa-apa yang keluar dari mulut suaminya. Wati geram. Kemudian ia menghampiri suaminya. Dengan langkah cepat remote kontrol televisi yang berada di genggaman suaminya berpindah tangan. Dia menekan tombol off.

“Kang!” Seru Wati. “dengerin saya ngomong nggak sih.” Katanya sekali lagi seolah memastikan.

“Ari dia kunaon?! Balik ti sawah marah-marah. Geura masak! Aing lapar! Ti tadi nungguan dia.”2 Samani membaringkan tubuhnya di kursi ruang tamu. Tanpa memedulikan pertanyaan dari isterinya.

Wati melihat lelaki yang sudah 6 tahun hidup bersama. Melewati masa-masa suka dan duka. Hingga seorang anak perempuan lahir ke dunia. Kelahiran anak pertama, Purwita seolah melengkapi kebahagiaan rumah tangganya. Ia meremas remote kontrol yang dipegangnya kuat-kuat. Penglihatanya sedikit kabur saat keringat sebiji jagung menetes bersamaan buih airmata yang ikut mengalir di pipi cekungnya. Bau lumpur bercampur keringat menyenguk ruang tamu.

PRAKK.

Wati membanting remote kontrol dari genggamannya ke ubin. Samani tersentak dari baringnya. Kedua bola matanya langsung melesat pada perempuan yang membelakanginya. Ia membalikkan badan isterinya dengan kencang.

“Kamu!” Samani melayangkan telunjuknya tinggi-tinggi. Giginya bergemeretak. Matanya memerah.

“Saya nggak kuat lagi sama akang. Saya udah nggak sanggup lagi, kang. Lebih baik kita cerai saja.” Wati menghempaskan kedua tangan yang mencengkram bahunya.

“Kamu berani minta cerai sama saya! Kenapa? Apakah karena saya tidak menafkahi keluarga ini lagi. Begitu!” Samani mencengkram bahu isterinya untuk kedua kalinya. Kini cengkramannya bertambah kuat. Ia memandang wajah isterinya dengan sorot mata tajam.

“Karena akang sudah berubah! Menjadi seseorang yang tidak lagi saya kenal.” Wati membuang pandangannya. Airmatanya jatuh satu persatu mengenai pipi yang tak lagi tampak terawat semenjak ia memutuskan menjadi pesuruh di sawah.

“Berubah!” Samani mengulang kata-kata isterinya. “kamu tahu kenapa saya sekarang berubah?! Itu semua karena kamu! Karena kamu!?” Samani berang.

“Karena saya? Maksud akang apa?” Wati berhenti menangis. Ia menyeka airmatanya cepat.

“Karena kamu tidak memberikan apa yang saya inginkan!”

Kedua mata Wati membelalak mendengar ucapan suaminya. Ia mengelus dadanya perlahan. Ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya masih mengungkit permintaan yang menurutnya tidak masuk diakal. Permintaan paling bodoh dikeluarkan dari mulut seseorang yang pada saat itu biaya rumah tangga dan putrinya seharusnya dinomor satukan.

“Jadi, kamu masih mengharapkan permintaan tolol itu! Masih kepikir kesana rupanya,” Wati mendengus. Tiba-tiba tubuhnya seperti tersulut api. Kepalanya panas. Darahnya bergolak. Ia mengambil langkah seribu. Menghampiri meja makan. Ia meraih sebilah pisau.

“Kenapa tidak bunuh saja saya, kang!” Ia melantangkan suaranya sembari mengacungkan sebilah pisau peranti memasak di depan wajah suaminya.

“Kamu sudah berani ya sekarang sama suamimu.” Samani melihat Wati dengan tatapan nanar. Kedua bola matanya seperti akan melompat keluar. Benda yang terangkat di depan matanya segera ditepis. Samani kalut. Ia mendorong Wati kencang. Seketika Wati tersungkur ke tanah. Pertengkeran semakin hebat. Suasana semakin panas dan tegang. Tiba-tiba terdengar suara Purwita dari balik gorden. Ia menangis sejadi-jadinya. Menyaksikan kedua orang tuanya yang saling menyakiti satu sama lain. Tanpa berpikir panjang Wati berlari menghampiri Purwita. Memeluk Purwita yang tersedu-sedu. Samani bergegas melangkah keluar rumah. Meninggalkan dua perempuan yang dirundung kesedihan. Purwita menatap lepas punggung bapaknya dengan sorot mata berkilat.

**

“Ibu, ibu, ibu….” Purwita memanggil-manggil ibunya dari dalam kamar. Perempuan tua yang tengah khusyuk bertafakur di sepertiga malam itu bergegas menghampiri sumber suara. Ia tertatih-tatih menghampiri kamar Purwita yang bersebelahan. Oyotnya sudah paham betul dengan teriakan itu. Teriakan yang tidak hanya sekali namun hingga berkali-kali. Itu merupakan sebuah pertanda. Tanda bahwa saat itu cucunya sedang dilanda mimpi buruk.

“Enek, enek.” Oyot mengelap keringat yang membasahi wajah Purwita pelan. Tangannya gemetar meraih tangan Purwita yang dingin. Ia segera membangunkan Purwita cepat. Bibir oyot tak kunjung berhenti melafalkan ayat-ayat Allah. Beberapa menit kemudian Purwita tersadar dari tidurnya. Ia memeluk oyotnya penuh haru erat.

Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Purwita terjerembab dalam mimpi panjang masa lalunya. Seperti malam itu, dan entah mengapa mimpi buruk itu datang tepat di hari kelahiran Purwita. Dan di hari kelahiranya yang ke 11 tahun. Naluri seorang ibu memang kuat. Telepon genggam Purwita berdering. Tertulis di layar telepon genggamnya nama ibu. Ia langsung menjawab teleponnya.

“Assalamualaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Selamat ulang tahun ya anak ibu yang cantik. Semoga bertambahnya usia Wita semakin bertambah pula ilmunya. Makin sholehah dan membanggakan ibu di sini ya, sayang.” Tutur perempuan paruh baya dari seberang jalan. Tutur katanya tampak sekali diselimuti kebahagiaan.

“Bu….” Purwita memanggil dengan suara sendu.

“Iya anakku sayang. Maafkan ibu ya nak. Ibu nggak bisa pulang tahun ini. Insya Allah tahun depan jika diizinkan. Oh ya, ibu nggak bisa lama-lama meneleponnya ya. Sedang sibuk di sini. Assalamualaikum.” Wati menutup teleponnya cepat.

Kebahagiaan yang sempat menyelimuti Purwita seketika menghilang. Senyum simpul Puwita yang mengembang berganti muram. Ketidakpulangan ibunya ke Indonesia tiba-tiba mengundang tanya. Pertanyaan itu muncul berlompatan dari kepalanya.

Kejadian tempo hari itu melintas lagi. Apakah ada hubungannya dengan masalah di rumahnya. Tapi bagaimana bisa kabar buruk itu tersiar hingga ke telinga ibu. Purwita menafsirkan jawabannya sendiri. Kalau bukan dari seseorang yang sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya itu, siapa lagi yang bisa menyampaikan kabar ini.

“Masih dapatkah lidah ini sanggup memanggilmu, ayah.” Lirih Purwita dalam hati. Gagang teleponnya masih menempel di telinga. Disepertiga malam itu airmatanya pecah. Ia tergugu pilu.

***

[1] “Rek sampe iraha aya di imah, akang. Dua tahun deui anak urang makin gede. Pasti ngabutuhkeun biaya gede

[2] “Ari dia kunaon?! Balik ti sawah marah-marah. Geura masak! Aing lapar! Ti tadi nungguan dia.”

[1] Mau sampai kapan ada di rumah kang. Dua tahun lagi anak kita makin besar. Pasti membutuhkan biaya yang besar.

[2] Kamu kenapa? Pulang dari sawah marah-marah. Cepat masak sana! Saya sudah lapar! Daritadi nungguin kamu!

Merekam Kelas dalam Bingkai Kamera

Guru adalah salah satu profesi yang memiliki peluang banyak dalam merekam jejak sejarah manusia, dalam hal ini adalah siswa-siswinya. Banyak kisah yang terjadi di dalam kelas di mana guru adalah saksinya. Namun cerita yang silih berganti, tidak akan dikenang sebagai apa-apa jika tidak dibingkai dalam tulisan atau foto yang mengabadikannya, hanya menjadi sebuah kesan dalam ingatan masing–masing warga kelas yang terlibat. Pilihannya ada dua, menulis atau memotret. Menulis sudah tentu menjadi sebuah keharusan bagi guru, terutama ketika ada tuntutan membuat PTK (Penelitian Tindakan Kelas), namun memotret sangat jarang diprioritaskan kecuali karena alasan dokumentasi.

Tidak hanya soal saksi sejarah saja, guru merupakan manusia penuh kesempatan dalam berkreasi dan berinovasi membuat beragam metode, strategi dan media pembelajaran. Namun sayangnya, mengabadikan karya melalui foto masih terpinggirkan dikalangan guru dan tak menjadi prioritas utama. Karena hal inilah Pusat Sumber Belajar mengajak para guru di Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) berkumpul di gedung Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan dalam rangka mempelajari pentingnya merekam cerita dan karya pada bingkai foto. Pada Kamis (31/03) para guru berkumpul untuk belajar sekaligus praktik mengambil foto yang bagus dan berkualitas dengan menggunakan alat smartphone.

“Foto bukan hanya sebuah dokumentasi, tetapi ia bicara sebuah kisah dan sejarah” ujar Andi Angger Sutawijaya, trainer pada pelatihan kala itu. Andi Angger sudah malang melintang di dunia fotografi dan ingin berbagi pengalamannya pada guru–guru terkait dunia fotografi. Dengan mengajarkan teknik serta praktik langsung pelatihan ini berlangsung seru.  Untuk memotret  karya atau aktivitas kelas harus ada pengkondisian dan metode–metode fotografi  guna menghasilkan foto yang berkualitas.  Teknik tersebut dinamakan Entire Detail  Frame Angel Time atau disingkat EDFAT, merupakan metode yang diperkenalkan Walter Cronkite School of Journalism and Telecommunication Arizona State University sebagai salah metode pemotretan untuk melatih cara pandang melihat sesuatu dengan detil yang tajam.

Metode EDFAT diuraikan ke dalam beberapa teknik di antaranya: Entire,  Detail, Frame,  Angel dan Time. Teknik Entire adalah  bagaimana kita mengambil gambar secara menyeluruh tatkala melihat sebuah peristiwa. Detail artinya mengambil gambar yang paling inti, mungkin kalau dalam paragraf dinamakan kalimat inti, di mana satu gambar dapat menjabarkan keseluruhan peristiwa. Frame  adalah teknik mengambil gambar dengan menghadirkan sebuah frame untuk  menghasilkan gambar yang akurat dan fokus, metode frame sangat cocok digunakan dalam mengambil karya media pembelajaran yang dihasilkan oleh guru–guru. Angel adalah teknik mengambil gambar dari sudut pandang yang diinginkan, misal dari atas-bawah atau kiri – kanan. Sedangkan Time adalah pengaturan waktu dalam mengambil gambar, hal ini sangat penting karena terkait ketersediaan cahaya ketika mengambil gambar.

Tidak hanya bicara teori fotografi saja, pelatihan ini diwarnai dengan banyak aktivitas dan praktik mengambil gambar, utamanya mengambil foto media pembelajaran.  Dalam mengambil foto media, guru tidak boleh asal ambil foto, melainkan harus mencoba teknik EDFAT tadi dengan tujuan mengambil satu foto media pembelajaran namun dapat menjelaskan secara keseluruhan apa yang ingin disampaikan sehingga viewer (orang yang melihat foto) tahu media pembelajaran itu untuk apa dan bagaimana cara menggunakannya. Pelatihan kali ini membuat peserta sangat antusias dan penasaran ingin segera mencoba praktik di kelas, bagaimana tidak? Umumnya orang sangat suka wajahnya berhadapan kamera, apalagi jika sudah tahu trik menghasilkan foto yang bagus hanya menggunakan smartphone. Sebuah cerita dan karya akan dibingkai dengan lebih mudah jika sudah mengetahui triknya.

‘Amati kehidupan bergerak seperti sungai disekitarmu, dan sadari bahwa fotomu bisa menjadi bagian dari sejarah kolektif’ -Eli Reed

IMG_1072 IMG_1053 IMG_1033 IMG-20160331-WA0024 IMG-20160331-WA0021 IMG-20160331-WA0010 IMG-20160331-WA0007 IMG-20160201-WA0028

 

Sekolahnya Masyarakat: Konteks Relasi Sekolah Dasar dan Masyarakat

Oleh: Hani Karno.

 

Sekolah sebagai sebuah institusi tentu tidak bisa dlepaskan dari konteks sosial yang melingkupi. Sekolah, secara historis menjadi bagian dari institusi yang lahir untuk dan dari harapan masyarakat, sekolah, lahir dibidani masyarakat. Berjamurnya yayasan-yayasan yang menaungi institusi pendidikan menjadi satu indikasi. Contoh yang paling nyata bagaimana kemudian masyarakat turut membidani kelahiran sekolah akan mudah kita temui pada Madrasah Ibtidaiyah yang dinaungi oleh Yayasan.

Menurut Ngalim Purwanto, Administrasi dan Supervisi Pendidikan  (Bandung: PT Remaja Rosdakaya, 1993), pandangan ‘filosofis’ tentang hakikat sekolah itu sendiri dan hakikat  masyarakat, diantaranya sebagai berikut:

  1. Sekolah adalah bagian integral dari masyarakat; ia bukan merupakan lembaga yang terpisah dari masyarakat.
  2. Sekolah adalah lembaga sosial yang berfungsi untuk melayani anggota-anggota masyarakat dalam bidang pendidikan.
  3. Kemajuan sekolah dan masyarakat saling berkorelasi; keduanya saling membutuhkan.

Menurut pandangan ‘historis’ antara lain:

  1. Sekolah merupakan lembaga pendidikan yang sehrusnya mendidik generasi muda untuk hidup di masyarakat.
  2. Sekolah haruslah merupakan tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan sesuai dengan yang dikehendaki masyarakat setempat.
  3. Sebaliknya, masyarakat harus membantu dan bekerja sama dengan sekolah, agar apa yang diolah dan dihasilkan sekolah sesuai dengan apa yang dikehendaki dan dibutuhkan oleh masyarakat.
  4. Pentingnya hubungan sekolah dan masyarakat dapat pula dikaitkan dengan semakin banyaknya isyu yang berupa kritik-kritik dari masyarakat tentang tidak sesuainya produk sekolah dengan kebutuhan pembangunan. Dengan meningkatkan keefektifan hubungan sekolah dan masyarakat, beberapa masalah tersebut dapat dikurangi.

Dalam tataran realitas relasi antara sekolah dan masyarakat tak jarang berjarak. Seperti yang diutarakan oleh Ngalim Purwanto,  bahwa Sekolah haruslah merupakan tempat pembinaan dan pengembangan pengetahuan sesuai dengan yang dikehendaki masyarakat setempat.

Pertanyaannya kemudian adalah apakah sekolah sudah mengetahui apa yang dikehendaki oleh masyarakat, atau lebih jauhnya lagi apakah masyarakat sudah mengetahui apa yang dikehendaki dari sekolah? Atau jika sekolah sudah mengetahui apa yang dikehendaki masyarakat dan masyarakat juga sudah memiliki pengetahuan yang baik tentang pendidikan (sekolah) apakah dua sistem ini sudah membangun komunikasi? Alih-alih bersinergi, jangan-jangan komunikasi yang dibangun hanya sebatas formalitas akhir tahun.

Sejauh yang penulis ketahui selama bersinggungan dengan sekolah, distrust sering menjadi penghalang komunikasi anatara sekolah dan masyarakat.  Buruknya komunikasi yang terbangun menimbulkan minimnya data dan informasi tentang satu pihak oleh pihak lainnya dan kembali sistem sekolah dan masyarakat terhubung hanya untuk hal-hal yang sifatnya seremonial belaka.

Idealnya tidak ada lagi pemisahan antara pendidikan di masyarakat dan di sekolah, menciptakan kultur kondusif simultan dilakukan mulai dari rumah, lingkungan bermain, dan sekolah. Ketiganya bahu membahu membangun seluruh potensi yang ada pada anak, sehingga ketiganya menjadi tempat dan sumber belajar potensial  bagi anak. Pembelajaran menembus dinding dan dikomunikasikan dengan lingkungan sekitar.

Menghilangkan dikotomi; Sekolah dulu atau masyarakat dahulu?

Pemikiran seperti sejatinya tidak perlu keluar seumpama kedua sistem duduk bersama dan melakukan porsi masing-masing dengan tahapan yang sudah disepakati sehingga ada keduanya bisa seiring sejalan dalam harmoni.

Dimulai dari penyusunan perencanaan strategis

Perencaanaan strategis sekolah yang salah satunya diejawantahkan dalam sebuah visi, misi, dan tujuan sekolah acap kali dianggap sebagai bagian dari administrasi yang formalistis. Visi, misi tak jarang hanya di-copy paste ditakar keindahannya melalui persepsi kepala sekolah semata, tanpa melibatkan warga sekolah.

Penyusunan visi misi yang mampu mengakomodasi kepentingan siswa, guru, dan lingkungan masyarakat mutlak memerlukan inputan data yang kuat. Data dan pemahaman akan dinamika sekeliling dianalisia dengan baik sehingga sekolah mampu menjawab harapan dari siswa, guru, dan lingkungan masyarakat. Melalui Visi, Misi, dan Tujuan yang baik Sekolah bisa menjawab tantangan zaman tidak hanya konteks kekinian akan tetapi beyond, melampaui masa sekarang, jauh ke depan, visioner. Visi yang mambu diejawantakan dengan baik sehingga sekolah tidak tercerabut dari akar kedaerahan di mana dia berada. Visi yang lantas mengakomodir Lingkungan sekitar sebagai bagian dari labolatorium pendidikan. Mengintegrasikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar bisa dilakukan sebagai sebuah strategi untuk megikis dinding yang membangun jarak anatara sekolah dan masyarakat.  Sehingga Apa yang dilakukan sekolah pengertian, good will, kepercayaan, penghargaan dari publik (masyarakat)

Sebagaimana diamanatkan oleh Undang–Undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 BAB IV yang di dalamnya memuat bahwasannya pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, masyarakat dan keluarga. Masyarakat memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan mereka juga mempunyai kewajiban untuk mengembangkan serta menjaga keberlangsungan penyelenggaraan proses pendidikan. Partisipasi masyarakat dalam membangun budaya kondusif bagi anak tentu menjadi sebuah impian bersama. Bagaimanapun sekolah harus memiliki  sistem yang terbuka, sekolah pasti akan mengadakan hubungan dengan masyarakat disekelilingnya. Begitu pun masyarakat harus mampu memberikan dukungan yang baik bagi sekolah. Keberhasilan penunaian fungsi sekolah sebagai layanan pesanan masyarakat sangat dipengaruhi oleh ikatan objektif antara sekolah dan masyarakat. Ikatan objektif ini dapat berupa perhatian, penghargaan, dan bantuan tertentu; seperti dana, fasilitas, dan bentuk bantuan lain, baik bersifat ekonomis maupun non-ekonomis, yang memberikan makna penting pada eksistensi dan hasil pendidikan (Depdikbud, 1990: 5-9).

Bagaimanapun sinergitas produktif antara sekolah dan masyarakat akan sangat menguntungkan bagi anak. Desain pembelajaran yang mengakomodasi dinamika daeah setempat akan sangat membantu anak dalam memahami suatu permaslahan. Anak diajak untuk melihat konteks yang melingkupinya, sehingga dia mampu berfikir konkret apa yang menjadi manfaat dari satu aktifitas pembelajaran untuk diri dan kehidupannya.

Kelembagaan masyarakat yang menjalankan fungsinya dengan optimal dan produktif tentu akan sangat membantu untuk meciptakan iklim kondusif bagi anak, PKK yang concern dengan asupan gizi yang baik bagi anak, sementara sekolah menyiapkan anak baik itu kognisi, afeksi, atau psikomotori. Karang Taruna yang dalam salah satu program kerjanya memberikan pendampingan belajar untuk anak sekolah, sehingga anak-anak memiliki ruang belajar lain selain di sekolah. Komunitas pengajian yang menyisipkan materi parenting aplikatif, sehingga ligkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah memiliki porsi yang proporsional untuk mendidik anak. Dengan dikomandani Kepala Desa/Lurah yang melakukan pemantauan dan supervisi.  Kelembagaan yang berfungsi dengan baik tentu mampu menjadi dinamisator bagi perubahan di masyarat.

Epilog

Tentu impian tersebut bukanlah sebuah utopia jika kedua sistem (sekolah dan masyarakat) mau memulai dan berkomitmen atas apa yang digagas, kerja-kerja bersama yang dimulai dari keterbukaan dalam membangun komunikasi, trust, dan inisatif.  Bersama bahu-membahu membina generasi penerus bangsa yang unggul dan senantiasa mampu mengaruhi dinamika zaman idealnya harus disadari sebagai sebuah amanah kita bersama.

Sekolah Literasi Indonesia Upaya untuk Membumikan Literasi

sekolah literasi 2

 

Oleh: Abdul Kodir.

Meminjam istilah Prof. Quraish Shihab tentang karyanya yang berjudul ‘Membumikan Al Qur`an’ agaknya pantas juga untuk disandingkan dengan kata literasi. Istilah membumikan mengisyaratkan “jauhnya” kegiatan literasi dari kehidupan kita, padahal idealnya literasi itu harus “dekat” dengan kita, dekat dengan kehidupan kita kapan pun dan di mana pun. Jadi “membumikan Literasi” ringkasnya mengandung pengertian adanya upaya untuk mewujudkan “yang jauh” menjadi “yang dekat”.

Istilah membumikan literasi tidaklah berlebihan untuk menggambarkan budaya literasi di Indonesia yang masih jauh dari harapan. Tengok saja penelitian dari Hasil riset IAEA (The International Association Evaluation Achievement), PIRLS (Progress in International Reading Literacy Study) dan Center for Social Marketing (CSM) kesemuanya menjelaskan bahwa tingkat budaya literasi di negara kita masih terbilang lemah. Tentu, memahami literasi tidak hanya terbatas pada kemampuan baca dan tulis saja karena ini baru sebatas literasi teknis jika berkenaan dengan hal ini Indonesia sudah sangat baik menurunkan angka buta aksara hingga tahun 2015.

Namun, literasi yang dipakai dalam konteks kekinian lebih luas lagi, literasi tidak hanya dipahami sebagai kegiatan membaca dan tulis saja. Bahkan menurut Prof. Totok mengatakan  dalam perkembangannya literasi tidak hanya bermakna keberkasaraan saja, namun literasi juga bisa dipadukan dalam pembelajaran sains, sosial, matematik sehingga siswa dapat mengeksplor imajinasi dari konsep pelajaran tersebut dalam alur cerita yang sangat menarik, hal ini bisa menumbuhkan sikap kritis dan logis dalam menyelesaikan sebuah permasalahan.

Dalam pembelajaran berbasis literasi anak dipacu untuk berpikir dan mengembangkan daya nalarnya terhadap satu permasalahan yang diajukan oleh guru. Sehingga anak terbiasa berpikir kritis dan logis. Saat ini pola pembelajaran yang ada hanya menjejali atau bahkan siswa diminta menghapal satu materi sedangkan siswa sendiri tidak memahami manfaatnya selain untuk bekal menjawab soal-soal ujian.

Pola pembelajaran yang dilakukan di sekolah sepatutnya juga tidak hanya kegiatan membaca saja, namun menekankan pentingnya pemahaman terhadap isi bacaan, karena esensi dari membaca adalah pemahaman, tanpanya kegiatan membaca tidak akan menghasilkan apapun. Menurut William seseorang dapat dikatakan paham apabila: mampu menangkap arti kata, mampu menangkap makna bacaan dan mampu menyimpulkan bacaan.

Saat ini Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa membentang kebaikan dengan program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) di 20 titik tersebar di Jakarta, Jawa Barat, Banten, Kalimantan Utara, Riau, Kalimantan Barat, Sumatera Selatan,NTT dan Papua. Untuk membangun budaya literasi di Sekolah Dampingan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa hal yang dilakukan adalah dengan melakukan pembiasaan membaca sebelum proses belajar mengajar , tidak hanya membaca saja setelah kegiatan membaca selesai,  salah satu siswa diminta untuk sharing dari buku yang telah dibacanya. Di sini siswa belajar memahami isi bacaan dan melatih kemampuan komunikasi.

Selain itu di setiap kelas dilengkapi pojok baca (ceruk ilmu), pojok baca adalah rak buku yang diletakkan di sudut kelas hal ini dilakukan untuk memfasilitasi minat baca siswa yang tumbuh kapan saja.  Di ceruk ilmu juga dilengkapi dengan jurnal ceruk ilmu, dalam jurnal ceruk ilmu siswa diminta pendapatnya tentang buku bacaan yang telah dibacanya.

Dengan program pembiasaan yang dilakukan secara konsisten diharapkan mampu memicu minat siswa dalam membaca, sehingga menciptakan generasi yang berkualitas.

Islam dan Filosofi Continuous Improvement

Oleh: Purwo Udiutomo, GM Beastudi Indonesia – Dompet Dhuafa

“The best revenge is to improve yourself” (Ali bin Abi Thalib)

Terminologi Continuous Improvement tidak terlepas dari konsep Kaizen di Jepang yang bermakna perbaikan terus-menerus atau perbaikan berkelanjutan. Perbaikan ini bersifat sedikit demi sedikit (step by step improvement), komprehensif dan terintegrasi dengan filosofi Total Quality Management (TQM).

Karena terintegrasi dengan TQM, pembahasan tentang Continuous Improvement kerap melebar ke ranah manajemen mutu, mulai dari siklus Plan-Do-Check-Action (Deming Cycle), waste management (Muda, Mura, Muri), hingga konsep zero defect atau bahkan six sigma lengkap dengan siklus DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control). Kajian teori yang menarik pun sebenarnya filosofi continuous improvement lebih sederhana dan aplikatif.

Filosofi Continuous Improvement mendorong tercapainya standar kualitas yang optimal melalui beberapa langkah perbaikan yang sistematis dan dilaksanakan secara berkesinambungan. Berbagai aksi perbaikan yang sederhana dan terus-menerus akan memunculkan gagasan dan aksi perbaikan yang lebih banyak sehingga sedikit demi sedikit berbagai permasalahan akan terselesaikan. Dan perbaikan ini dilakukan oleh setiap personal dalam organisasi.

Continuous Improvement adalah usaha-usaha berkelanjutan yang dilakukan untuk terus berkembang dan melakukan perbaikan. Filosofi yang ternyata sejalan dengan konsep Islam yang mendorong pemeluknya untuk senantiasa melakukan perbaikan.

Continuous Improvement adalah perubahan memelihara nikmat Allah SWT. “Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri…” (QS. Ar Ra’du: 11).

‘Keadaan’ disini ditafsirkan sebagai nikmat –bukan nasib—sebagaimana tersebut dalam Surah Al Anfal ayat 53. Kelalaian dan kemaksiatan dapat menghilangkan nikmat, sehingga upaya merawat dan meningkatkan nikmat perlu disertai perubahan diri ke arah yang lebih baik. Disinilah continuous improvement mulai menjalankan peran, mulai dari diri sendiri, senantiasa melakukan perubahan untuk memelihara nikmat yang telah Allah SWT berikan.

Continuous Improvement adalah merawat produktivitas. “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain” (QS. Al Insyirah: 7). Kata ‘faraghta’ berasal dari kata ‘faragha’ yang berarti kosong setelah sebelumnya terisi penuh.

Sebagian mufassir menafsirkan ayat tersebut adalah bahwa apabila kamu telah selesai berdakwah, beribadahlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, kerjakanlah urusan akhirat; apabila kamu telah selesai dari kesibukan dunia, bersungguh-sungguhlah dalam beribadah dan berdoa.

M. Quraish Shihab cenderung untuk tidak menetapkan ragam kesungguhan yang dimaksud karena objeknya tidak disebutkan sehingga bersifat umum dan mencakup segala sesuatu yang bisa dikerjakan dengan kesungguhan, selama dibenarkan syariat.

Kewajiban manusia bersifat simultan, terus menerus tanpa putus. Demikian pula dengan filosofi continuous improvement, selesai melakukan perbaikan, ada hal lain yang menanti untuk diperbaiki. Tetap produktif dalam menjalankan aktivitas yang bermanfaat.

Continuous Improvement adalah perbaikan kualitas. “Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al Mulk: 2).

Fudhail bin ‘Iyadh menegaskan bahwa amal yang lebih baik adalah yang dilakukan dengan ikhlash dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW. Yang paling menarik adalah penggunaan diksi ‘yang lebih baik amalnya’, bukannya ‘yang lebih banyak amalnya’, menunjukkan bahwa ada perhatian lebih pada dimensi kualitas amal, bukan sekedar kualitas.

Dan penggunaan kata ‘lebih baik’ (comparative) bukan ‘paling baik’ (superlative) menunjukkan esensi dari filosofi continuous improvement bahwa tidak ada yang paling baik, namun selalu ada yang lebih baik. Kualitas terbaik artinya sempurna, tidak ada lagi yang bisa di-improve. Justru tidak manusiawi. Yang diminta hanyalah terus berupaya lebih baik setiap saatnya, menuju kualitas amal optimum yang bisa dilakukan.

Continuous Improvement adalah konsistensi kerja. “Lakukanlah amal sesuai kesanggupan. Karena sesungguhnya Allah tidak akan bosan sehingga engkau menjadi bosan. Dan sesungguhnya amal yang paling Allah sukai ialah yang terus-menerus dikerjakan walaupun sedikit.” (HR Abu Dawud).

Continuous improvement tidak menghendaki perubahan yang radikal, tetapi inkremental. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Kebaikan dan perbaikan ketika terbiasa dilakukan akan menghasilkan kebaikan dan perbaikan selanjutnya.

Continuous improvement. Kontinyuitas ini pula yang akan memastikan kerja lebih langgeng dan akan berakhir yang baik. Pembiasaan juga akan meminimalisir kebosanan dalam beraktivitas, dengan syarat kontinyuitas yang dilakukan disertai dengan penambahan kualitas ataupun kuantitas, bukan sekedar pengulangan dan rutinitas. Itulah sejatinya filosofi continuous improvement.

Continuous Improvement adalah proses seumur hidup. Barangsiapa yang harinya (hari ini) lebih baik dari sebelumnya, maka ia telah beruntung, barangsiapa harinya seperti sebelumnya, maka ia telah merugi, dan barangsiapa yang harinya lebih jelek dari sebelumnya, maka ia tergolong orang-orang yang terlaknat.

Ungkapan tersebut banyak dinilai sebagai hadits palsu dan hanya bersandar pada perkataan Rasulullah SAW dalam mimpi seorang ulama. Selalu lebih baik setiap harinya juga dianggap tidak realistis, namun ungkapan tersebut sejatinya sangat sejalan dengan filosofi continuous improvement.

Pertama, ungkapan tersebut menunjukkan tekad untuk lebih baik setiap harinya. Kedua, nilai ‘lebih baik’ tidak harus pada seluruh aspek, bisa jadi hanya tambahan kebaikan kecil di beberapa aspek. Ketiga, rentang hari ini dengan sebelumnya tidak harus dimaknai sempit.

Sungguh dalam kerugian orang-orang yang berlalu bulan dan tahun usianya namun kebaikannya tidak bertambah, apalagi kalau sampai berkurang. Filosofi continuous improvement berfokus pada proses, dengan rentang waktu yang panjang. Kompetisi menuntut setiap diri dan organisasi untuk terus semakin baik setiap saatnya. Diam tetap di tempat akan tertinggal, apalagi jika mundur. Dan proses ini adalah pembelajaran seumur hidup (life-long learning).

Perjalanan menuju visi besar, baik visi hidup maupun visi organisasi merupakan perjalanan jauh yang membutuhkan nafas panjang. Barangkali butuh momentum hijrah atau titik balik kesadaran hidup yang bersifat revolusioner, namun istiqomah dalam menjaga iman dan amal justru membutuhkan kontinyuitas dalam melakukan kebaikan-kebaikan kecil.

Terus berbenah diri, melakukan kebaikan dan perbaikan secara terus menerus. Menjadi pribadi pembelajar dan organisasi pembelajar (learning organization) yang adaptif terhadap perubahan karena senantiasa melakukan kebaikan dan perbaikan. Karena kehidupan dan kematian sejatinya hanyalah ujian untuk melihat siapa yang konsisten lebih baik dalam beramal.

Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. bahwasanya ia berkata: Rasulullah SAW pernah ditanya, “Amalan apakah yang paling disukai oleh Allah?” Beliau bersabda, “Amalan yang dikerjakan secara kontinyu walaupun sedikit.” (Muttafaqun ‘alaih)

Merawat Alumni Sekolah

Oleh: Asep Sapa’at
Pemerhati Pendidikan,
Co-Founder Character Building Indonesia

 

Bagi sekolah, alumni bisa menjadi anugerah atau menghadirkan musibah. Anugerah jika alumni punya prestasi yang bisa mengangkat nama baik sekolah. Sebaliknya, musibah jika alumni menjadi dalang di balik tewasnya salah satu siswa di gelanggang perkelahian ala gladiator (Radar Bogor, 25 Februari 2016). Bagaimana sesungguhnya sekolah harus merawat alumninya?

Ada beberapa catatan kritis dan penting menyoal peristiwa ini. Persoalan pertama, tragedi ini melibatkan dua sekolah elit di Bogor dan rutin dilakukan jelang event kompetisi bergengsi. Dalam konteks peristiwa ini, kita bisa meyakini bahwa budaya kekerasan dan kebencian telah diwariskan antar generasi. Dugaan ini amat rasional karena yang menjadi promotor dari tawuran ala gladiator ini melibatkan alumni dari kedua sekolah tersebut. Apa yang sudah dilakukan sekolah terhadap para alumninya?

Alumni adalah sosok yang pernah diajar dan dididik di bangku sekolah. Maka, apa yang pernah mereka alami dalam situasi pembelajaran di kelas dan budaya hidup di lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan bersikap mereka setelah mereka lulus nantinya.

Kualitas alumni ditentukan kompetensi dan karakter. Kompetensi ibarat rumput ilalang. Karakter ibarat padi. Menanam padi pasti tumbuh ilalang. Menanam ilalang mustahil tumbuh padi. Mendidik perilaku baik, masih juga terselip keburukan. Perilaku buruk itu akan berkembang sendiri, tak usah diajari. Yang jadi soal, apa yang harus dilakukan sekolah agar kompetensi murid berkembang baik dengan karakter sebagai fondasinya? Komitmen, konsistensi, dan kreativitas sekolah dalam merancang sistem pendidikan yang bisa mengatasi perilaku buruk murid, itulah karya sekolah yang sesungguhnya. Dalam kasus ini, secara tegas kita bisa menyatakan bahwa sekolah belum berhasil membangun fondasi karakter yang kokoh pada diri anak.

Persoalan kedua, alumni yang diduga jadi otak peristiwa perkelahian, keduanya ternyata pernah mengalami drop out. Kita patut merenung, apakah drop out merupakan pilihan terbaik dari sekolah untuk menyelesaikan persoalan perilaku menyimpang yang dihadapi anak-anak kita?

Banyak sekali murid drop out karena merasa terasingkan di sekolah. Ada dua sebab mereka dikucilkan. Bisa karena dianggap bodoh atau nakal. Naasnya, persepsi bodoh dan nakal lebih sering diciptakan dalam ruang persepsi orang tua dan guru. Kuat dugaan saya, kedua alumni yang pernah dikeluarkan dari sekolah merasa terasingkan karena mereka dianggap biang onar saat bersekolah. Terlebih jika kedua anak tersebut dibesarkan dalalm pola asuh orang tua yang disesaki suasana kekerasan secara fisik maupun psikologis.

Sebenarnya, persoalan rendahnya motivasi belajar dan ketidakdisiplinan anak dalam situasi pembelajaran di ruang kelas menjadi penanda paling akurat untuk mengidentifikasi masalah sejak dini. Anak yang ogah belajar, selalu membuat keributan di kelas, tak menunjukkan disiplin dalam mengerjakan tugas, bolos mengikuti pelajaran, kerap tidak mendapatkan perhatian khusus dari guru-guru di sekolah. Padahal seharusnya guru mempunyai siasat untuk membuat anak merasa mampu untuk belajar. Para guru harus mendesain pembelajaran yang kontektual, bermakna, dan melibatkan semua ranah (kognitif, afektif, psikomotorik) secara total. Hal ini bisa membangkitkan motivasi belajar anak. Pada akhirnya, mereka bisa memiliki persepsi positif tentang diri mereka serta hasil belajar mereka.

Di sisi lain, persoalan disiplin harus diatasi sedini mungkin. Sikap tak disiplin harus dididik. Jangan sampai anak punya sikap disiplin karena ketidakdisiplinannya. Masalah ketidakdisiplinan bisa diatasi oleh sosok guru pemimpin. Siapa guru pemimpin itu? Mereka adalah figur yang berfokus pada pembenahan karakter dan masa depan anak, menggunakan pengaruh mereka untuk memotivasi anak, dan sangat memahami pikiran dan perasaan anak (Goode-Vick, 1985). Jadi, masalah belajar dan kedisiplinan yang dihadapi anak sebenarnya bisa diatasi di lingkungan sekolah.

Yang naif, persoalan jadi makin pelik karena anak yang punya masalah dalam hal belajar dan perilaku disiplin di sekolah malah lebih sering diabaikan ketimbang mendapatkan perlakuan yang tepat dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya. Akhirnya, sikap pengabaian inilah yang membuat masalah makin matang dan besar. Sehingga ungkapan amarah, brutalitas, kebencian yang dirasakan menjadi manifestasi perasaan keterasingan dan pengabaian itu. Menarik untuk mengungkap rekam jejak kedua alumni tersebut, apakah mereka memiliki masalah motivasi belajar dan kedisiplinan saat mereka bersekolah dulu?

Persoalan ketiga, bagaimana cara kedua sekolah elit tersebut menghentikan tradisi kekerasan yang dilakukan para alumninya? Belajarlah pada SMAN 6 Yogyakarta. Mereka berhasil mengikis tradisi kekerasan dan membangun citra menjadi “The Research School of Jogja”. Apa rahasianya? Semua korps pendidik di SMAN 6 Yogyakarta memiliki pemikiran komperensif bahwa tak mungkin mencegah perilaku tawuran dan kekerasan tanpa memberikan pilihan kegiatan sebagai ruang aktualisasi bagi murid-murid. Tradisi otot mendapat imbangan tradisi akal dan hati. Dengan komitmen dan konsistensi, SMAN 6 Yogyakarta berhasil membangun tradisi baru menjadi sekolah yang memiliki reputasi bagus di bidang penelitian dan karya ilmiah remaja. Cara cerdas dan bijak dalam merawat salah satu aset berharga sekolah, yakni para alumni.

Tak ada kata mudah bagi sekolah untuk mengatasi setiap kasus tawuran dan kekerasan. Yang lebih tidak mudah lagi adalah melesakkan nilai-nilai sekolah kepada para alumninya. Ada sekolah yang gemar bolak-balik berurusan dengan hukum karena menyelesaikan persoalan tawuran para murid dan alumninya. Ada juga sekolah yang lebih senang bersandiwara menutup semua kasus kekerasan untuk kepentingan pencitraan sekolah.

Ibarat peribahasa, sekali mendayung satu dua pulau terlampaui. Strategi kebijakan SMAN 6 Yogyakarta jelas layak ditiru. Tradisi kekerasan terkikis dan berubah menjadi tradisi penelitian yang unggul. Karena mereka sadar, aset terbaik sekolah adalah alumni. Bagaimana cara terbaik merawat alumni sekolah? Beri mereka lingkungan positif dan ruangan aktualisasi diri saat di sekolah sehingga mereka punya kenangan mengesankan yang takkan pernah bisa dilupakan.

Menggagas Reformasi Pendidikan dari Ruang-Ruang Kelas

Oleh: Asep Sapa’at
Praktisi Pendidikan, Pemerhati Karakter Guru di Character Building Indonesia

Saya selalu tergoda untuk menelaah, berpikir, merenung, dan merefleksikan hasil studi internasional, the Trends in International Mathematics and Sciences Study (TIMSS) dari masa ke masa. Ada sesuatu yang menarik dicermati. TIMSS adalah studi internasional untuk melihat prestasi matematika dan sains siswa sekolah lanjutan tingkat pertama yang dilakukan empat tahun sekali sejak tahun 1995. Hasil dari kajian internasional ini bisa merefleksikan dan memberikan pemahaman mendalam tentang praktik dan dampak penerapan kebijakan pendidikan yang berbeda di setiap negara yang turut berpartisipasi.

Menurut hasil TIMSS 2011, peringkat anak-anak Indonesia bertengger di posisi 38 dari 42 negara untuk prestasi matematika. Rata-rata skor prestasi matematika adalah 386, masih berada signifikan di bawah skor rata-rata internasional. Lantas, apa yang terjadi dengan data prestasi matematika dan sains siswa Indonesia di tahun 1999, 2003, dan 2007?

Saya tergagap menyimak data TIMSS tahun 1999, 2003, dan 2007. Pada tahun 1999, 2003 dan 2007, posisi prestasi matematika siswa Indonesia secara berturut-turut bertengger di posisi 34 dari 38 negara (skor 403), 35 dari 46 negara (skor 411), 36 dari 49 negara (skor 397). Selama hampir lebih dari satu dekade, mengapa prestasi matematika siswa Indonesia relatif stagnan dan tercecer di peringkat bawah? Dimana titik lemah persoalan pendidikan kita? Darimana kita mulai berbenah?

Menguak Akar Masalah

Berkaca pada dokumen hasil laporan TIMSS 2003 di bidang matematika, potret buruknya prestasi matematika anak Indonesia ditengarai karena lemahnya tiga faktor penting. Pertama, kurang kuatnya kurikulum pelajaran matematika di Indonesia yang bisa diidentifikasi dari tiga hal, yaitu: 1) kurangnya penekanan pada penalaran pemecahan masalah; 2) kurangnya topik yang dicakup; 3) kurangnya penggunaan kalkulator. Kedua, kurangnya guru-guru matematika yang terlatih. Ketiga, kurangnya dukungan dari sekolah dan rumah yang ditandai dengan kurangnya sumber daya di sekolah, kurang positifnya lingkungan sekolah sebagai tempat belajar bagi siswa, dan kurangnya sumber daya pendidikan di rumah.

Secara logis, rendahnya prestasi matematika siswa Indonesia dalam studi TIMSS karena tak adanya pembenahan secara terintegrasi dan berkelanjutan di bidang kurikulum, pelatihan guru yang berkualitas, dan daya dukung terhadap proses belajar anak. Jika pun ada upaya perbaikan, kuat dugaan kita, rekomendasi hasil refleksi TIMSS 2003 tak dijadikan bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan.

Inti pendidikan, idealnya, musti berujung pada terjaganya level kualitas pengajaran. Apapun kebijakan pendidikan yang digulirkan, jika secara substantif tak mampu mendorong terciptanya reformasi pengajaran, maka selama itu pula tak ada jaminan hak-hak belajar anak terfasilitasi. Itu artinya, pendidikan kehilangan disorientasi. Sejatinya, setiap kebijakan pendidikan dan segenap sumber daya mesti berfokus dan bermuara pada perbaikan dan peningkatan kualitas pengajaran. Bangkitnya kesadaran belajar, rasa ingin tahu, dan kegairahan belajar anak, mustahil akan terjadi jika kualitas pengajaran di kelas amat buruk.

Hikmah dari Jepang & Amerika Serikat

Jika mengancik pada analisis laporan TIMSS 2011, Jepang dan Amerika Serikat terbukti mampu meningkatkan performa kemampuan matematika siswanya dalam studi internasional antara tahun 1995 dan 2011. Buah dari keseriusan dan kesungguhan dalam membenahi tata kelola pendidikan di masing-masing negara. Apa yang bisa kita pelajari dari Jepang dan Amerika Serikat? Bagaimana cara Jepang & Amerika Serikat menata kualitas pengajaran matematika di ruang-ruang kelas mereka?

James W. Stigler & James Hiebert (1999), dalam bukunya yang berjudul The Teaching Gap: Best Ideas from the World’s Teachers for Improving Education in the Classroom, mengungkap perbedaan filosofi pengajaran matematika antara Jepang dan Amerika Serikat. Pengambil kebijakan di Amerika Serikat menyadari satu persoalan amat serius, upaya reformasi tak selalu menunjukkan perbaikan dan peningkatan kualitas pendidikan. Contoh, banyak produk kebijakan berfokus pada peningkatan kualitas perekrutan guru—meningkatkan kualifikasi guru, melakukan proses sertifikasi guru yang ketat, meningkatkan gaji guru—tetapi luput perhatiannya untuk meningkatkan kualitas pengajaran. Guru dan kualitas pengajaran, dua hal berbeda. Mengubah faktor-faktor berkait guru tak otomatis berpengaruh terhadap kualitas pengajaran. Teaching, not teachers, is the critical factor. Maka, bagaimana kualitas pengajaran di kelas bisa dipotret, dianalisis, dan diperbaiki?

Berdasarkan data TIMSS video study dengan sampel 100 kajian video di Jepang dan 81 kajian video tentang pengajaran matematika di ruang kelas, terungkaplah fenomena menarik yang patut ditelisik. Pertama, ada perbedaan filosofi pengajaran matematika antara Jepang dan Amerika Serikat. A Japanese lesson is structured problem solving. Guru matematika di Jepang memulai pelajaran dengan melakukan review materi sebelumnya. Setelah itu, siswa diberikan tantangan soal-soal problem solving, lalu terjadi diskusi dan kolaborasi di antara siswa dan guru-siswa dalam memecahkan masalah tersebut. Kebanyakan guru tidak segera mengoreksi jawaban siswa jika cara pemecahannya salah.

Yang unik, kesalahan yang terjadi malah dijadikan bahan pembahasan antar siswa. Siswa ditantang untuk terbiasa menemukan cara pemecahan masalah yang benar secara kolaboratif. Rancangan pelaksanaan pengajaran di Jepang memiliki kecenderungan pada pengajaran eksploratif. Karakter disiplin, ulet, kerja keras, kerja sama, secara implisit diintegrasikan dalam aktivitas pengajaran matematika. Sebelum pelajaran diakhiri, guru membahas poin-poin penting dari konsep matematika yang sudah dipelajari.

Pengajaran matematika di Amerika Serikat identik dengan filosofi learning terms and practicing procedures. Awal pelajaran dimulai dengan memeriksa pekerjaan rumah. Kemudian, guru membagikan lembar kerja untuk dikerjakan siswa, memonitor pekerjaan siswa, dan mendemonstrasikan metode penyelesaian soal-soal dari lembar kerja tersebut. Terakhir, guru memberikan soal-soal pekerjaan rumah untuk mematangkan pemahaman konsep siswa.

Kedua, pengajaran matematika yang dilakukan guru-guru matematika di Amerika Serikat sangat bersifat mekanis-prosedural. Para siswa bekerja sendiri atau berkelompok untuk mengerjakan soal-soal secara rutin. Berbeda dengan pengajaran matematika di Jepang. Siswa-siswa di Jepang menghabiskan banyak waktu untuk menyelesaikan tantangan soal-soal pemecahan masalah. Mereka kerap berdiskusi dan mengasah keterampilan untuk memperdalam pemahaman konseptual matematika. Konsekuensi logisnya, rendahnya pemahaman konsep yang diajarkan dan terbatasnya metode pengajaran guru berdampak pada level kualitas hasil belajar matematika siswa. Hal ini menegaskan satu hal penting, guru harus menguasai pemahaman konsep matematika dan fasih menerapkan ilmu tentang metodologi pengajaran. Jika kedua syarat itu terpenuhi dengan baik, maka akan berbanding lurus dengan kualitas pengajaran dan hasil belajar matematika siswa.

Ketiga, pemegang kebijakan di Amerika Serikat menyadari satu kekeliruan mendasar. Mereka tak cukup mampu dan efektif memberikan kesempatan kepada guru-guru untuk belajar tentang konsepsi mengajar. Tegasnya, sistem pengembangan profesional guru mesti dirombak. Mengapa? Karena sistem pengembangan profesional yang berlaku tak berdampak signifikan terhadap perbaikan keterampilan mengajar guru-guru di Amerika Serikat. Hal ini tercermin dari realitas pengajaran matematika di ruang kelas.

Di sisi lain, satu fakta tak terbantahkan, lesson study—sistem kegiatan dan filosofi pengembangan profesional guru di Jepang—telah berhasil menciptakan program pengembangan kapasitas guru secara efektif. Dampaknya, pengajaran jadi lebih bermakna buat siswa dan kompetensi guru pun tetap bisa dijaga. Uniknya, lesson study tak semata-mata berfokus pada pembenahan cara mengajar guru. Tetapi amat memperhatikan hal-hal detail, bagaimana cara siswa belajar. Dengan kata lain, sistem lesson study punya kerangka pemikiran yang patut dipelajari, bagaimana guru dapat membantu siswa supaya proses pembelajaran siswa lebih bermutu. Hebat. Prinsip penting sudah ditegakkan, yaitu memenuhi hak-hak belajar anak.

Jepang telah konsisten menerapkan lesson study lebih dari satu abad. Wajar kiranya, kualitas pengajaran dan hasil belajar matematika para siswanya relatif baik. Semakin sahih saja karena potret ini pun konsisten didukung hasil studi internasional TIMSS. Meski prestasi matematika anak-anak Amerika Serikat belum selevel dengan Jepang. Tapi, cara pemerintah Amerika Serikat melakukan koreksi terhadap sistem kebijakan pendidikan mereka, sungguh elegan. Data dan fakta terpapar jelas. Data dianalisis secara cermat dan komperensif. Ujungnya, pengambilan kebijakan berbasis data.

James W. Stigler & James Hiebert (1999) menyatakan, “The fact that teaching is a cultural activity explains why teaching has been so resistant to change. But recognizing the cultural nature of teaching gives us new insights into what we need to do if we wish to improve it”. Mengajar itu adalah aktivitas kebudayaan. Boleh jadi, reformasi pendidikan akan efektif dilakukan ketika dimulai dari reformasi pengajaran. Maka, lakukan ‘reformasi damai’ di ruang-ruang kelas kita. Karena sejatinya, jantungnya pendidikan terletak pada kualitas pengajaran. Bukan ditandai oleh kegaduhan para elit saat memutuskan suatu kebijakan. Yang disempurnakan dengan sebuah kekonyolan berikutnya, habisnya energi dan stamina karena tak tuntas mengawal proses monitoring evaluasi terhadap efektivitas dan efisiensi kebijakan pendidikan yang sudah diketok palu. Apa yang harus dilakukan pengambil kebijakan pendidikan kita? Jangan tergesa-gesa. Tengok dulu, apa yang tengah terjadi dengan potret pengajaran di ruang-ruang kelas kita? Bercerminlah dari upaya reformasi pendidikan ala Jepang dan Amerika Serikat.