Inginku tak Hanya Sampai Disini

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Dara yang berusia 19 tahun ini bernama Nuri Rahmah anak pertama dari tiga saudara ini merupakan salah satu guru sekaligus staf administrasi yang membantu mengajar di MIS maupun di MTs Istiqomah Entikong. Bu Nuri begitu ia kerap disapa di sekolah baik oleh anak-anak maupun guru-guru. Bu Nuri baru tiga bulan mengabdikan dirinya di sekolah ini. Bu Nuri hanyalah tamatan Madrasah Aliah Negeri. Tamat sekolah dia di tawari pihak sekolah untuk bergabung di MIS dan MTs Istiqomah, awalnya ia hanya diminta membantu sekolah untuk menjadi wali kelas 2 dan guru bahasa arab, tetapi karena sumber daya manusia di sekolah yang terbatas akhirnya dia juga diminta untuk menjadi staf sekaligus guru didua sekolah itu. Bu Nuri pernah bercerita kepada saya bahwa dia ingin sekali kuliah dan menargetkan untuk bisa kuliah di tahun berikutnya. Hanya saja saat ini semuanya terbatas karena ibunya yang juga sakit stroke dan pendapatan Bapaknya yang tidak menentu setiap harinya. Ditambah kebutuhan hidup yang cukup mahal dan untuk membiayai sekolah adiknya membuat dia harus menunda dulu keinginannya untuk kuliah. Dia pernah bercerita sejak MAN dia sempat sekolah di Kabupaten Sanggau menumpang di keluarga dekatnya. Ibu Nuri merupakan guru termuda yang ada di MIS maupun MTs tetapi semangat dan kinerjanya tidak diragukan dalam mengajar dan mengemban amanah sebagai guru sekaligus staf administrasi di dua sekolah ini, padahal gajinya tidaklah seberapa itupun dihitung perjam ngajar yang mana terkadang kalau ada guru yang tidak masuk maka dialah yang akan masuk menggantikan guru tersebut.

“Sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah dengan mengambil jurusan pariwisata namun karena keterbatasan dan keadaan yang ada akhirnya saya memilih untuk mengabdi dulu di sekolah ini”, pungkas Bu Nuri.

Bu Nuri datang ke sekolah sejak pukul 07.00 Wib sampai pukul 12.00 Wib dilanjut mengajar di MTs setiap harinya sejak pukul 13.00 Wib-17.00 Wib. Terkadang dia mengeluhkan rasa capek dengan jadwalnya begitu padat, akan tetapi dia berharap semoga dengan pengabdian ini dapat membuka jalan kemudahan baginya untuk menyambung pendidikan lagi dibangku kuliah seperti teman-temannya.

Bu Nuri merupakan salah satu patner kawan SLI yang cukup membantu dalam pendampingan MTs Istiqomah Entikong. Beliau cukup kooperatif dan profesional dalam membantu berjalannya program SLI untuk kemajuan sekolah MTs. Mari teman-teman kita do’akan semoga Bu Nuri dimudahklan langkahnya untuk dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi dan semoga penyakit Ibunya segera diangkat dan disembuhkan. (AS)

Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya. Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau. Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi. “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.” Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang, Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa sebagai Bocah Buta Hilang. “Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Si Bocah Buta Hilang dari Indramayu

Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan  nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya.

Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau.  Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi.  “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.”

Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang,

Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan  kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya  pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa  sebagai Bocah Buta Hilang.

“Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas  kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat  ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Usia Menua tetapi Jiwa dan Semangat Tetap Muda

Usia Menua tetapi Jiwa dan Semangat Tetap Muda

Bapak Nukman H. Maknum lahir pada 26 April 1952. Saat ini usianya menginjak setengah abad tepatnya 66 tahun. Beliau sekarang tinggal bersama istri dan anak bungsunya yang masih mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Beliau memiliki tujuh orang anak dan semuanya sudah hidup mandiri. Semenjak kecil sampai sekarang beliau tinggal di Desa Meranjat Ilir Kecamata Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir Sumatra Selatan.

Beliau sedari kecil hingga kini beraktivitas di SD Pidua Meranjat, ketika kecil beliau menjadi murid dan kini menjadi guru sekaligus kepala sekolah. SD Pidua Meranjat merupakan yayasan pendidikan yang dikelola oleh keluarga Bapak Nukman H. Maknum dan sudah jadi warisan keluarga besar H. Nukman.

Pak Nukman meskipun diusianya yang sudah menua, namun secara fisik beliau masih terlihat gagah dengan badan dan kondisi tubuh yang bugar. Jiwa dan semangatnya masih tetap muda untuk memajukan pendidikan. Beliau selalu menerima kritik dan saran dalam pendidikan untuk meningkatkan kualitas sekolah yang dipimpinnya. “Saya mengharapkan saran-saran dari Konsultan SLI untuk meningkat kualitas SD Pidua Meranjat dan kami juga membutuhkan dampingan dalam menjalankannya” jelas Bapak Nukman H. Maknum ketika bercerita dengan Konsultan SLI yang di tempatkan di wilayah Ogan Ilir.

SD Pidua Meranjat merupakan salah satu sekolah penerima manfaat dari Dompet Dhuafa Pendidikan melalui program pendampingan sekolah dari Konsultan Relawan SLI pada tahun kedua. SD Pidua Meranjat salah satu contoh sekolah yang memiliki komitmen bersama untuk memajukan kualitas pendidikan, baik dari kepala sekolah, tenaga kependidikan maupun dari fasilitas sekolah yang dimiliki. Meskipun SD Pidua Meranjat merupakan yayasan keluarga, tetapi pendidikan yang diselenggarakannya tetap untuk umum dalam memajukan pendidikan untuk anak-anak di Desa Meranjat dan sekitarnya.

Usia yang mulai senja tidak mematahkan semangat Bapak Nukman untuk memajukan pendidikan di SD Pidua Meranjat yang dipimpinnya. Beliau memiliki semangat yang tinggi untuk meningkatkan kualitas di sekolah, baik untuk para guru maupun siswa-siswanya. Beliau sering menunaikan saran dari Dinas Pendidikan maupun Kawan SLI dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SD Pidua Meranjat. “Jika itu bisa memajukan dan meningkatkan kualitas sekolah, maka saya akan berusaha untuk melakukannya sesuai dengan kemampuan sekolah yang saya pimpin” ungkap Bapak Nukman H. Maknum kepala SD Pidua Meranjat.

Salah satu contoh yang dapat diamati secara langsung yaitu ketika beliau mengikuti kegiatan rapat dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir, maka ada instruksi dari kepala dinas untuk membuat sanggar sesuai dengan kemampuan sekolah. Esok harinya beliau langsung menggumpulkan dan mensosialisikan kepada seluruh guru bahwa ada instruksi pembuatan sanggar, kemudian dari hasil kesepakatan bersama maka sanggar itu terbentuk dan terlaksana di hari berikutnya. Ini merupakan salah bukti bahwa beliau selalu ingin maju dan mengembangkan kualitas pendidikan sekolah sesuai dengan kemampuan warga sekolahnya. (LR)

Agar Murid Mudah Diarahkan, Lima Hal Ini yang Harus Dilakukan

Agar Murid Mudah Diarahkan, Lima Hal Ini yang Harus Dilakukan

Siapa yang tak miris hatinya saat melihat video viral tentang pembullyan murid terhadap gurunya di Kabupaten Kendal. Meskipun hanya candaan, kejadian itu tentu saja menjadi pukulan bagi kita, bukan hanya yang berstatus sebagai pendidik, tetapi semua yang dalam hatinya masih ada hari nurani.

 

Kejadian ini menambah panjang daftar catatan hitam pendidikan kita. Tentu kita belum lupa tragedi yang menimpa Guru Budi beberapa waktu yang lalu. Juga kasus-kasus lain yang sering menimpa guru. Semua rentetan tragedi tersebut memberikan sinyal bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja.

 

Kita harus berani mengakui bahwa banyaknya kasus degradasi moral dari peserta didik merupakan kegagalan dari pendidikan kita. Di balik sederet prestasi dan riuh tepuk tangan, ada hal mendasar yang nyatanya belum terselesaikan. Dengan adanya tragedi Guru Joko dan Guru Budi, sudah sepantasnya sistem pendidikan kita dievaluasi. Tragedi tersebut bukan tiba-tiba muncul tanpa sebab, melainkan akibat dari akumulasi proses pendidikan yang kurang tepat.

 

Setidaknya ada lima hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam proses pendidikan, agar murid memiliki akhlak baik seperti yang dicita-citakan.

 

Menumbuhkan Keimanan Sebelum Pengetahuan

Sudah sepatutnya pendidikan diarahkan sesuai dengan fitrah manusia; belajar untuk mengenal Yang Maha Kuasa. Jika kita lihat kondisi hari ini, murid lebih dituntut memperoleh nilai akademik tinggi, ketimbang mengenal dan mengamalkan sifat-sifat ilahi.  Padahal, ketika keimanan sudah tertancap kuat di dalam dada, anak akan mampu memilah antara yang haq dan batil, sehingga akhlak dan perilakunya bisa terjaga. Selain itu, hati yang telah diterangi cahaya iman akan lebih mudah menerima ilmu pengetahuan, karena segala ilmu pengetahuan sumbernya adalah dari Allah Sang Maha ‘Aliim.

 

Para pelaku pendidikan harus meyakini bahwa akhlak lebih utama dari ilmu. Karena syarat keberkahan ilmu adalah akhlak yang baik. Sehingga yang perlu ditanamkan kuat sejak dini kepada murid adalah akhlaknya. Sebagaimana pesan Imam Malik kepada anaknya “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu”. Hal ini juga sesuai dengan tujuan utama pendidikan; memanusiakan manusia. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang baik akhlaknya.

 

Menunjukkan Keteladanan

Akhlak tak cukup hanya dengan diajarkan, melainkan perlu diteladankan. Salah satu faktor pembentuk akhlak murid adalah lingkungannya, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Murid akan lebih mudah melakukan apa yang mereka lihat di lingkungan sekitar ketimbang apa yang mereka dengar.

 

Seorang guru harus memahami bahwa keteladanan adalah sebaik-baik pengajaran. Ketika seorang guru menginginkan muridnya rajin membaca buku, maka ia harus memulainya terlebih dahulu. Ketika seorang guru menginginkan muridnya baik perangainya, maka ia harus terlebih dahulu mencontohkannya. Begitu seterus dan seterusnya. Maka ketika ada murid yang buruk perangainya, seorang guru yang baik akan lebih memilih instrospeksi diri ketimbang sekadar menghakimi, karena bukan tidak mungkin perangainyalah yang sedang diikuti.

 

Memotivasi dan Memberi Dukungan

Apa perbedaan mendasar antara dikejar anjing dengan mengejar anjing? Meskipun aktivitasnya sama-sama lari, namun rasanya berbeda. Orang yang dikejar anjing akan mudah merasakan capek dan lelah, meskipun baru lari beberapa langkah. Berbeda halnya saat mengejar anjing. Sejauh apapun berlari, semangat seakan terus terisi. Bahkan belum akan berhenti jika tujuannya belum tercapai.

 

Seorang guru harus mampu menumbuhkan motivasi dalam diri muridnya. Jika murid belajar karena keterpaksaan, mereka akan mudah mencari aktivitas pelarian, akibatnya kelas menjadi tak terkondisikan, hingga guru pun tak lagi dihiraukan. Namun ketika murid belajar karena adanya motivasi kuat dari dalam dirinya, maka ia akan serius menjalaninya. Jika ada murid yang tidak serius mengikuti pelajaran, sesekali boleh direnungkan, jangan-jangan gurunya yang kurang memotivasi dan terasa membosankan.

 

Selain motivasi, yang juga teramat penting bagi murid adalah dukungan. Guru adalah teman murid bertumbuh dan berkembang, dan penopangnya adalah dukungan. Saat murid melakukan kebaikan, hendaknya guru mendukungnya agar terus berkelanjutan. Jika murid melakukan kesalahan, ia juga perlu dukungan. Dukungan yang mampu mengembalikannya pada kesadaran dan kebaikan.

 

Adil dan Sabar Dalam Memberi Pengarahan

Tantangan terbesar bagi seorang guru adalah mampu bersikap adil terhadap muridnya. Dalam sebuah komunitas sekolah atau kelas, ada murid yang cepat dalam menangkap pelajaran, ada juga yang pelan. Ada murid yang berperangai baik, ada juga yang kurang baik. Kenyataan yang sering terjadi, murid yang pintar dan berperangai baik cenderung sering mendapat pujian yang kadang sampai berlebihan, sementara yang lambat dan berperangai kurang baik sering mendapat teguran atau bahkan hukuman.

 

Jika sudah demikian, maka yang muncul adalah kecemburuan, perasaaan tidak senang, hilangnya perhatian, hingga sikap perlawanan. Di sinilah sering menjadi awal mula guru dan murid terlibat perseteruan.  Maka yang dibutuhkan adalah sikap adil guru dalam setiap perkataan dan tindakan.

 

Adil dan sabar adalah dua hal yang saling berkaitan. Seorang guru akan sulit berlaku adil jika tidak dibarengi dengan kesabaran. Dalam menghadapi murid yang berperangai kurang baik misalnya, seorang guru hendaknya sabar dalam memberikan pengarahan, bukan menjudge dan menghujaninya dengan celaan. Ketika memberi teguran, hendaknya dengan kelembutan dan didasari rasa kasih sayang, dengan niat untuk meluruskan. Tentu saja ini tidak semudah yang dibayangkan. Diperlukan kesabaran yang luasnya tak bertepian.

 

Ikhlas dan Selalu Mendoakan

Pangkal yang sekaligus ujung dari pengabdian seorang guru adalah keikhlasan. Ikhlas adalah kunci untuk mendapat keridhoan, sehingga upaya guru dalam mendidik muridnya bisa menemui kemudahan. Jika semua didasari dengan keikhlasan, semoga Allah akan membantu mengarahkan murid kepada jalan kebaikan.

 

Dan yang tidak kalah penting, hendaknya guru selalu mendoakan kebaikan bagi murid-muridnya. Barangkali ini yang sering terlupakan. Jika hari ini ada murid yang prestasi dan perangainya tidak sesuai harapan, pertanyaannya adalah sudah seberapa sering gurunya mendoakan? Sekuat apapaun manusia berusaha, Allah-lah yang memutuskan. Maka, memohon kepada-Nya adalah sebuah keniscayaan.

 

Kelima hal di atas hakikatnya tidak hanya ditujukan bagi  guru di sekolah, melainkan juga untuk guru di rumah, yakni orangtua. Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anak, jauh sebelum mereka mengenal sekolah. Maka dalam membentuk akhlak anak diperlukan kerjasama yang baik antara orangtua dan sekolah. (AA)

 

Sekolahku Adalah Surgaku

Sekolahku Adalah Surgaku

Sekolah merupakan rumah kedua bagi siswa setelah rumah yang sesungguhnya sehingga guru menjadi orang tua di sekolah yang tugasnya bukan hanya mengajar di kelas tetapi juga mendidik dan membentuk karakter siswa. Para guru diharapkan bisa menjadi role model bagi siswa baik dari segi penampilan, perkataan maupun prilaku. Guru juga harus bisa memberikan rasa aman dan nyaman kepada siswa agar siswa merasa terlindungi dari bullying, pencurian, kenakalan remaja, bolos dan lain-lain.

Seperti halnya di MIS Tonggorisa, salah satu Sekolah dampingan Sekolah Literasi Indonesia di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Jika dilihat  secara fisik,  sekolah yang berdiri sejak tahun 1965 ini masih terdapat banyak kekurangan. Tidak adanya ruang perpustakaan, minimnya buku bacaan dan bangunan sekolah yang sudah tua tidak menyurutkan semangat siswa dan guru untuk tetap belajar. Pembiasaan membaca surat Yasin setiap hari Jumat di depan kelas sangat membantu siswa agar dapat membaca Al-Quran dengan baik.

Seorang kepala sekolah adalah pimpinan tertinggi di sekolah, segala keputusan dan kebijakan yang dibuatnya selalu bertujuan memajukan nama baik sekolah di mata masyarakat terkhusus di lingkungan sekolah itu berada. Interaksi dengan warga sekolah adalah kunci utama keberhasilan kepemimpinan di sekolah karena  interaksi yang baik tentu saja menjadikan jalinan komunikasi yang baik pula.

Interaksi dengan guru maupun siswa yang berkelanjutan dapat menciptakan suasana yang harmonis di lingkungan sekolah dan suasana harmonis yang tercipta di sekolah menjadikan sekolah sebagai tempat yang nyaman untuk dikunjungi atau sekolah menjadi surga bagi seluruh warga sekolah. Lalu bisakah semua kepala sekolah membuat ada surga di sekolah? Atau Bagaimana menciptakan nuansa sekolah yang sangat dirindukan oleh semua warganya?

Tulisan “Sekolahku adalah surgaku” yang ada di dinding MIS Tonggorisa seolah menjadi pemacu semangat dan pemantik energi positif bagi siapapun yang membaca tulisan tersebut dan menyadari bahwa bangunan sekolah atau fasilitas yang ada di sekolah bukanlah faktor utama untuk terciptanya suasana sekolah yang harmonis. Bekerja dengan hati adalah realisasinya. Langkah awal yang harus dilakukan adalah niatkan dalam hati pada saat kaki akan melangkah dari rumah dengan berdo’a agar apa yang akan kita kerjakan sehari penuh Allah berikan keberkahan. Berdo’a ini hal yang sangat mudah tetapi kadang-kadang terlupakan. Biasanya karena terburu-buru.   Kebiasaan  guru-guru untuk datang lebih awal dari anak-anak agar mereka pada saat tiba di sekolah sudah disambut oleh guru sebagai pengganti orang tuanya di sekolah. Berikan senyuman manakala mereka datang. Sambut anak dengan belaian yang nyaman pada saat mereka memberi salam. Giring mereka memasuki pembelajaran yang menyenangkan bukan pembelajaran yang menakutkan. Dengan demikian akan membuat guru selalu dirindukan oleh anak didiknya dan sekolah pun bisa menjadi surga bagi siswa.

Satu Atap tak Menyurutkan Asa

Satu purnama sudah saya sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia  Dompet Dhuafa Pendidikan bertugas disini tepatnya di MTs Al-Ikhlas Kubung. MTs Al-Ikhlas Kubung adalah sebuah Madrasah setingkat Sekolah Menengah Pertama yang terletak di Desa Kubung,Kecamatan Bacan Selatan,Kabupaten Halmahera Selatan,Provinsi Maluku Utara. Sekolah yang berada di bawah Yayasan Al-Ikhlas Kubung ini baru seumur jangung berdiri tepatnya pada 18 Juli 2017 yang lalu. Sekolah ini berdiri atas prakasa masyarakat, beberapa tokoh masyarakat dan Guru Al-Ikhlas mengingat pentingnya pendidikan di Desa Kubung karena harus menempuh jarak yang jauh apabila harus meneruskan sekolah lanjutan.

MTs Al-Ikhlas memiliki atap yang satu dengan MI Al-Ikhlas karena terbatasnya fasilitas pembelajaran yang dimiliki. Kondisi ini menyebabkan kegiatan belajar dan mengajar harus dilakukan di tempat yang bukan seharusnya, semisal kelas VII harus menempati ruang guru MI sehingga semua kegiatan guru MI pindah ke ruangan tamu sekolah yang disulap menjadi kantor bersama. Sekolah yang hanya memiliki 37 siswa dengan akumulasi siswa kelas VII sebanyak 14 siswa, kelas VII sebanyak 23 siswa ini meskipun harus menghadapi banyak keterbatasan namun mereka tetap semangat dalam belajar.

Bapak Mhd. Jan Marsaoly, S.Ag selaku kepala sekolah MTs Al-Ikhlas Kubung dan juga salah satu pendiri madrasah ini sangat optimis meskipun harus dihadapkan dengan keterbatasan yang ada. Beliau yakin dengan kerja keras dan komitmen bersama seluruh stakeholder yang ada, maka sekolah ini dapat maju apalagi sekolah ini saat ini mendapat kepercayaan untuk didampingi oleh KAWAN (Konsultan Relawan) SLI Dompet Dhuafa. Sekolah Literasi Indonesia dibuat untuk mewujudkan sekolah berbasis masyarakat yang berkonsentrasi pada peningkatan kualitas sistem instruksional (pembelajaran) dan pengembangan kultur sekolah. Besar harapan agar MTs Al-Ikhlas menjadi percontohan madrasah yang menerapkan Kurikulum K13. Tidak hanya itu dukungan juga hadir dari Pemerintah Desa Kubung, terbukti ketika ada kegiatan School Strategy Discussion sekolah mendapat fasilitas peminjaman LCD agar acara berjalan lancar.

Semoga dengan segala keterbatasan yang ada tidak menyurutkan semua asa siswa, guru dan pemerintah desa yang mendukung kemajuan sekolah ini sehingga besar harapan MTs Al_ikhlas dapat menjadi contoh model pengembangan peforma sekolah yang baik bagi Kabupaten Halmahera Selatan dan sekitarnya(ww)

NEGARA YANG (TAK) DIBERKAHI Konklusi Buku Reformasi Pendidikan Menuju Negara Adidaya 2045

Sudah 73 tahun Indonesia merdeka, namun jumlah orang miskin masih diangka 70 juta jiwa (World Bank). Hutang negara per Juni 2018 mencapai Rp 5.191 triliyun. Sementara tujuh komoditi bahan pokok (beras, jagung, gandum, ubi kayu, kedelai, gula dan bawang putih) masih mengandalkan impor. Serta Indeks Persepsi Korupsi (IPK) Indonesia berada diurutan 96 dari 180 negara (Transparency International), artinya korupsi masih jadi PR besar bangsa ini.

Potret Indonesia saat ini sepertinya masih jauh dari cita-cita para pendiri bangsa sebagaimana termaktub dalam pembukaan UUD 45, yaitu, negara Indonesia yang berdaulat, adil dan makmur. Apa yang salah? Padahal kekayaan alam negeri ini begitu melimpah. Tentu banyak faktor jika kita coba perdebatkan. Namun jika kita meraba lebih dalam akar dari semua persoalan krisis yang melanda negeri ini, kita akan menemukan muaranya: pendidikan.

Dunia pendidikanlah yang melahirkan para pemimpin bangsa, guru, ekonom, teknokrat, politisi, pengusaha dan sebagainya. Seharusnya sistem pendidikan kita melahirkan manusia yang berakhlak dan bertakwa, sebagaimana telah diamanatkan dalam UUD 45 pasal 31 ayat 2. Namun faktanya ekonomi kita ambruk karena banyaknya pejabat yang korupsi, percaturan politik negeri ini disesaki oleh politisi busuk, orang-orang culas, pengkhianatan dan tipu menipu. Perekonomian negara ini dikuasai oleh pengusaha-pengusaha rakus nan serakah, diperparah dengan penegakan hukum yang amburadul. Hampir semua manusia tersebut lulusan perguruan tinggi.

Para pendiri bangsa telah membuat konsep manusia Indonesia yang ideal yaitu INSAN MULIA. Kunci negara yang adil dan makmur hanya akan bisa diwujudkan jika penduduknya beriman dan bertakwa. Hal ini merujuk pada firman Allah subhanahu wa ta’ala, “Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa maka akan Kami bukakan pintu keberkahan dari langit dan bumi, akan tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu, maka kami siksa mereka akibat perbuatan mereka” (QS: Al A’raf ayat 96). Lalu mengapa pendidikan kita justru melahirkan banyak orang pintar yang biadab? Apa yang salah dengan sistem pendidikan kita?

Terhitung sejak tahun 1947 Indonesia telah mengganti kurikulum sebanyak 11 kali. Sudahkah kurikulum, materi ajar dan sistem pembelajaran, serta evaluasi hasil pendidikan di sekolah-sekolah kita, memprioritaskan terbentuknya konsep manusia Indonesia Ideal, yaitu manusia bertakwa yang adil dan beradab? Atau malah jauh panggang dari api?

Dr. Adian Husaini dalam buku terbarunya yang berjudul Reformasi Pendidikan Menuju Negara Adidaya 2045 mengajak kita khususnya umat Islam untuk berani mengevaluasi sistem pendidikan di Indonesia secara keseluruhan. Evaluasi ini mulai dari tujuan, kurikulum, jenjang pendidikan, dan standar kelulusan yang tak relevan dengan tujuan pendidikan yang telah diamanatkan oleh konstitusi.

Ajakan Dr. Adian ini bukan tanpa dasar. Dari aspek kurikulum, pendidikan Indonesia telah banyak disusupi oleh pemahaman sekuler. Misalnya bisa kita dapati dalam buku sejarah Indonesia untuk SMA Kelas X Kurikulum 2013, nenek moyang bangsa Indonesia digambarkan sebagai sebuah keluarga Homo Erectus. Siapakah mereka? Manusia purba yang hidup 900 tahun lalu, mulutnya monyong dan telanjang bulat. Bahkan dalam rangkumannya, mengutip pendapat Charles Darwin, “Manusia sekarang adalah bentuk sempurna dari sisa-sisa kehidupan purbakala yang berkembang dari jenis hominid, bangsa kera”. Pembelajaran apa yang diharapkan dari materi ajar yang demikian? Seharusnya sejarah dan science mampu membuat manusia maju mendekat pada penciptanya. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Semakin tinggi ilmu science seseorang semakin mundur jauh dari Sang Pencipta.

Lebih jauh lagi, buku ini mengkritisi alat ukur kelulusan siswa yang tak memasukkan moralitas (keimanan, akhlak dan ketakwaan) sebagai syarat kelulusan. Siswa dianggap telah lulus jika nilai mata pelajaran yang diujikan di Ujian Nasional telah mencapai atau melampaui syarat minimal. Sekalipun siswa tersebut sholatnya amburadul dan buta huruf Al-Qur’an. Padahal tujuan utama pendidikan nasional menurut UUD 45 adalah melahirkan manusia yang bertakwa.

Tak hanya mengkritisi, DR Adian Husaini menawarkan solusi yaitu sistem “pendidikan adab” melalui “Kurikulum Takwa”. Sebagaimana pendidikan yang telah dilakukan pada jaman Rasululullah SAW, sahabat, tabi’in dan ulama-ulama setelahnya. Kurikulum Takwa menempatkan ilmu secara adil dan beradab. Konsep ini meletakkan adab sebagai basis pendidikan, menempatkan ilmu-ilmu fardhu ‘ain sebagai sentral, dan dilengkapi dengan ilmu-ilmu fardhu kifayah secara proporsional, mengikuti potensi murid dan kebutuhan masyarakat. Kurikulum Takwa juga menempatkan guru sebagai mujahid pekerja intelektual yang terhormat, bukan sebagai “tukang ngajar” yang diperlakukan seperti buruh.

Tujuan pendidikan adab dengan Kurikulum Takwa lebih fundamental melahirkan manusia yang baik (to be a good man). Sebab manusia yang baik secara otomatis akan menjadi warga negara yang baik. Ini berbeda dengan tujuan pendidikan sekuler yang hanya berorientasi menghasilkan warga negara yang baik (to be a good citizen). Padahal seorang yang menjadi warga negara yang baik belum tentu menjadi manusia baik. Contohnya warga NAZI di Jerman. Mereka mengklaim sebagai warga negara yang baik, cinta tanah air dan bahwa apa yang mereka lakukan adalah benar. Meskipun mereka melakukan berbagai kejahatan terhadap ras atau bangsa lain.

Diharapkan dengan Kurikulum Takwa ini maka konsep membentuk manusia Indonesia ideal menemukan relevansinya. Tujuan menjadi negara yang berdaulat, adil dan makmur bukan sekedar mimpi di siang bolong. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah akan dikelola oleh sumber daya manusia yang bertakwa. Kurikulum ini juga akan melahirkan pemimpin-pemimpin yang amanah, aparat hukum yang menegakkan hukum dengan adil, pengusaha yang dermawan, dan para guru yang ikhlas mendidik dan mengajarkan ilmunya. Dengan demikian, pintu-pintu keberkahan akan terbuka dari langit, bumi dan lautan. Maka kemakmuran akan meliputi seluruh rakyat. Indonesia akan menjadi negara kaya raya, dengan peradaban yang tinggi. Insya Allah.

Ini yang Harus Dilakukan Institusi Pendidikan untuk Menghadapi Revolusi Industri 4.0

Jumat malam (19/10) kemarin, General Manager Sekolah Kepemimpinan Bangsa Dompet Dhuafa Pendidikan, Purwa Udiutomo menyatakan apa yang harus dilakukan oleh institusi pendidikan dalam menghadapi revolusi industri keempat ini. “Penting bagi institusi pendidikan untuk mengarahkan mahasiswa agar memiliki kompetensi yang dibutuhkan di masa depan dalam menghadapi Revolusi Industri 4.0,” ungkapnya.

Pernyataan ini ia sampaikan pada acara NGOPI (Ngobrol Pendidikan Indonesia) yang diadakan oleh Dompet Dhuafa Pendidikan. Acara tersebut digelar di salah satu coffee house di Jakarta Selatan, tepatnya di daerah Tebet, yaitu Warunkomando. Tema yang diangkat pada acara berformat talkshow ini adalah “Revolusi Industri 4.0, Sarjana: Lahirnya Kaum Intelektual Atau Hanya Menambah Pasar Manusia Terdidik”.

Pada kesempatan itu, Purwa juga menceritakan ada fenomena menarik yang terjadi di kalangan mahasiswa era revolusi ini. Banyak mahasiswa yang menjadi enterpreneur saat mereka masih kuliah. Hal ini disampaikan Purwa berdasarkan pengamatannya pada para mahasiwa penerima Beastudi Etos, salah satu program yang ia kelola di Dompet Dhuafa Pendidikan. Ketika masuk program, para mahasiswa ini berstatus dhuafa, namun di semester ketiga banyak dari mereka sudah bisa menjadi enterpreneur. Ini fakta yang menggembirakan karena status ekonomi para penerima manfaat program dapat berubah dengan cepat.

Purwa juga menyoroti bagaimana teknologi sangat berpengaruh pada gerakan mahasiswa saat ini. Ia kembali mengambil contoh dari program beasiswa yang dikelolanya. Beberapa waktu lalu, penerima Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) memviralkan kondisi sekolah rusak di Brebes, Jawa Tengah. Hanya dalam kurun waktu dua bulan saja, pemerintah daerah langsung melakukan tindak lanjut. “Bandingkan dengan beberapa tahun lalu, dimana ratusan aktivis melakukan aspirasi dijalan-jalan namun tidak ada perubahan sama sekali,” kata Purwa.

Sebagai pamungkas uraiannya, Purwa mengungkapkan ada dua tantangan besar yang dihadapi bangsa ini pada era Revolusi Industri 4.0 ini. Pertama, paradigma SDM pengelola pendidikan.

Karakteristik SDM yang Banyak Dibutuhkan Industri Saat Ini, Menurut GM Astra Otoparts

Plant and Engineering General Manager PT. Astra Otoparts Tbk., Fadli Hari Purnomo mengungkapkan, ada dua hal yang menjadi penyebab perubahan besar yang kita rasakan pada era Revolusi Industri 4.0 saat ini. Dua hal itu adalah pertama, teknologi digitalisasi manufacturing, dan kedua, tekanan pasar dimana masyarakat semakin melek teknologi.

“Maka diperlukan sumber daya manusia yang siap untuk menjawab kedua tantangan tersebut,” lanjut Fadli. Pada akhirnya, inilah yang menjadi tantangan bagi perguruan tinggi untuk mencetak sarjana-sarjana baru berkualitas seperti yang diungkapkan Fadli.

Fadli juga menjelaskan karakteristik revolusi industri keempat ini. Hal yang menandai terjadinya Revolusi Industri 4.0 adalah ketika adanya digitalisasi data. Itulah mengapa saat ini klasifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan adalah mereka yang memiliki literasi digital yang baik. “Tantangan saat ini adalah mencari SDM yang siap menjawab kebutuhan industri berbasis ICT dan pasar yang melek teknologi,” demikian ungkapnya.

Hal tersebut disampaikan Fadli selaku salah satu pembicara dalam talkshow NGOPI (Ngobrol Pendidikan Indonesia) yang diadakan oleh Dompet Dhuafa Pendidikan. Acara ini dilaksanakan pada Jum’at malam (19/10) di coffee house Warunkomando yang terletak di sekitaran Tebet, Jakarta Selatan.

Fadli diundang untuk memberikan perspektifnya dari sisi pelaku industri. Hadir pula Drajat Martianto, Wakil Rektor I IPB Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan yang memaparkan dari sisi akademisi. Pembicara ketiga adalah Purwa Udiutomo, General Manager Sekolah Kepemimpinan Bangsa Dompet Dhuafa Pendidikan dari sisi praktisi pendidikan. Ketiganya memberikan paparan dalam diskusi terkait fenomena banyaknya pengangguran bergelar sarjana, dan bagaimana solusi yang dapat diberikan dari latar belakang masing-masing pembicara.

Wakil Rektor IPB: Lupakan Ijazah

Pendapat yang menarik disampaikan oleh Wakil Rektor I Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan, Drajat Martianto, terkait dengan tantangan pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 saat ini.

Drajat menyatakan, agar dapat bersaing di tahun-tahun disrupsi ini, seorang sarjana harus bisa keluar dari “jebakan-jebakan” semasa belajar di Perguruan Tinggi. “Lupakan (dulu) ijazah-ijazah. (Sarjana) Harus berpikir kreatif, independent thinking, sesuai koridor-koridor yang baik. Itulah yang harus diajarkan oleh Perguruan Tinggi,” lanjutnya. Pernyataan ini Drajat sampaikan saat menjadi pembicara dalam acara NGOPI (Ngobrol Pendidikan Indonesia) yang dihelat oleh Dompet Dhuafa Pendidikan, Jum’at (19/10) lalu.

Pada acara yang bertempat di Warunkomando Tebet Jakarta Selatan ini, Drajat juga menyoroti ironi yang terjadi pada era Revolusi Industri 4.0 ini. Menurutnya pada era ini di tengah masyarakat kita terlalu banyak mengalami disrupsi, namun sayangnya tidak diikuti dengan penguatan pola pikir.

Doktor yang memiliki kepakaran dalam ilmu Gizi Masyarakat dan Ketahanan Keluarga ini juga menyatakan, salah satu kesalahan yang terjadi pada masa transisi saat ini adalah pendidikan tidak cepat beradaptasi dengan teknologi.
Kemajuan teknologi pada era transisi ini, menurut Drajat, akhirnya memunculkan tuntutan agar masyarakat mampu memahami dimensi literasi baru. “Dulu literasi dasar, ke depan (muncul) literasi teknologi bahkan manusia,” ungkapnya.

Drajat juga menyadari timbulnya kesan individualis dengan adanya gadget. “Bisnis sekarang modalnya adalah jaringan. Jadi perlu (memahami) literasi manusia agar bisa berkembang. Inilah hal yang paling sulit diajarkan oleh Perguruan Tinggi, yaitu membuat orang lincah,” kata Drajat.

Ia juga menyampaikan, salah satu prinsip kampus yang dipimpinnya adalah bagaimana melahirkan bukan hanya sekedar lulusan, namun pembelajar yang tangguh. Definisi dari kata tangguh tersebut, menurut Drajat adalah siap menerima perubahan dan lincah. Karena penentu kesuksesan bukanlah dari IPK, apalagi PTN, tapi integritas dan kedisiplinan, pesan Drajat.