KAWAN SLI: Hujan Kenangan di Halmahera

KAWAN SLI: Hujan Kenangan di Halmahera

Hampir dua minggu sejak kedatangan pertama kami di Halmahera Selatan, hari ini adalah hujan pertama yang ku rasakan ketika berada di sini. Secara perlahan dan sedikit demi sedikit butiran air pun mulai membasahi permukaan tanah dan atap-atap rumah warga yang menghasilkan suara sangat kurindukan.
Perasaanku sangat senang mendengarkan suara gemuruh hujan, hujan membuat cuaca panas menjadi teramat sejuk dan nyaman. Namun seketika perasaan senang berubah menjadi sedih, aku teringat akan sahabat-sahabat yang telah membersamaiku kurang lebih dua bulan di Bogor. Hujan yang jatuh seperti membawa satu per satu kenangan yang kami lewati bersama. Teringat senyum, tawa, candaan, keseruan serta tantangan yang pernah kami hadapi. Waktu bersama mereka memang singkat namun sangat membekas, itulah yang kurasakan setelah bersama dengan orang-orang hebat ini.
Kini kami terpisah oleh jarak dan waktu demi tugas mulia, memajukan pendidikan dan menciptakan tenaga pendidik kompeten untuk menghasilkan insan-insan generasi emas penerus bangsa di seluruh penjuru indonesia.
Memang tidak mudah untuk kami lewati, namun teringat jika kami selalu bersama meskipun jarak dan waktu memisahkan, saling mendukung menjadi kunci utama kekompakan kami.
KAWAN, sebesar apapun tantangan yang akan kalian hadapi, percaya saja jika doa, jiwa, dan semangatku akan selalu membersamaimu bahkan bukan hanya diriku, sahabat-sahabat yang lain pun begitu.
Tetaplah semangat dan tegar menerjang segala badai yang ada, jangan biarkan siapapun dan apapun melemahkan mu sobat, setahun lagi kita akan bertemu. Ku harap tujuan kita bersama bisa terwujud.
 KEEP UP YOUR SPIRIT
Saat ini kita sedang menabung karena
Lelahmu hari ini akan terbayarkan di surga nantinya

KAWAN SLI: Pelajaran Hidup Berharga dari Seorang Ayah

KAWAN SLI: Pelajaran Hidup Berharga dari Seorang Ayah

Hari ini aku dan beberapa temanku melaksanakan agenda kunjungan sekolah ke beberapa sekolah yang ada di Kecamatan Tembalang, kegiatan ini merupakan bagian dari program Konsultan Relawan Sekolah literasi Indonesia (KAWAN SLI) yang sedang kujalani.
Hari ini mba Yuyun school visit ke SD Negeri Tandang 03, mba Putri kunjungan sekolah ke SD Negeri Sendangmulyo 01 sedangkan aku ke MI Baiturrahim Kecamatan Tembalang. Kami ke sekolah menggunakan dua motor, aku diantar oleh mba Yuyun dan nanti setelah kunjungan sekolah aku dijemput kembali.
Disela-sela waktu menunggu dijemput mba Yuyun di depan salah satu toko, seorang pengamen pria berparas wanita menemuiku, umurnya sekitar lima puluh tahun. Ia menggunakan baju kuning dengan celana legging coklat sambil membawa kincringan yang sesekali ia mainkan. Setelah selesai satu lagu ia mulai bercerita tentang kondisinya sekarang, ia mengatakan jika memiliki anak yang masih duduk di kelas tiga SMK. Seketika terlintas dibenakku,  “bagaimana tanggapan anak beliau dengan mengetahui kondisi bapaknya seperti ini?”
“Aku punya anak laki-laki yang duduk di bangku kelas tiga di salah satu  SMK di Kota Semarang. Istriku meninggal beberapa tahun lalu ketika anakku masih kelas empat SD,” katanya.
“Lalu mas?” tanyaku.
“Aku mengambil keputusan bekerja sebagai pengamen dan berpenampilan seperti ini agar orang tertarik melihatku dan aku bisa menafkahi putraku,” ucapnya.
Seketika batinku diketuk, apa yang kulihat saat ini bukanlah keinginannya sendiri melainkan usahanya mencari uang. Dia kembali bercerita “suatu ketika seorang teman anakku menyampaikan padanya tentang pekerjaanku saat ini, anakku tidak tahu kardna penampilan seperti ini tidak pernah kuperlihatkan dihadapannya. Aku tampil layaknya seorang ayah, seorang laki-laki tangguh”.
Sejenak aku terpaku dan meneteskan air mata, kulihat matanya juga berkaca-kaca ketika menceritakan kisah pilu yang sedang ia hadapi. Setelah bercerita ia mendoakan agar urusan kami sukses dan lancar. Dalam hati aku berkata “ya Allah sungguh aku tidak menyangka ada orang seperti ini, aku adalah hamba yang masih belum begitu bersyukur atas Rahmat dan Nikmat  yang telah diberikan Allah”.
Alhamdulillah aku bisa belajar banyak dari sosok yang sering dicemooh orang karena penampilannya.

KAWAN SLI: Sejatinya Guru adalah Pemenang

KAWAN SLI: Sejatinya Guru adalah Pemenang

Hari Guru Nasional memang telah lewat, tapi aku tak akan pernah melupakan pengalaman pertamaku melewati Hari Guru di sana. Kala itu seluruh sekolah di Kecamatan Air Joman mengundang perwakilan tiga gurunya memenuhi teras-teras kelas SDN 010250 Binjai Serbangan.
Dengan penuh semangat kemenangan, para guru bersiap mengikuti lomba memasak nasi goreng tingkat sekolah dasar/madrasah se-Kecamatan Air Joman di Lapangan SDN 010250 Binjai Serbangan. Kegiatan yang bertujuan mempererat persaudaraan sesama guru ini mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah Kecamatan Air Jorman. Khoiruddin, Koordinator Wilayah (Korwil) Kecamatan Air Joman, mengungkapkan jika kegiatan sejenis layak dicontoh kecamatan lain.
“Meskipun terlihat sengit tapi kami bukan mengajak para guru untuk bersaing, melainkan untuk mengakomodasi paguyuban guru di sini,” tambahnya.
Berbagai alat masak dibawa peserta dari rumah, tak lupa bumbu dapurnya. Ketika lomba dimulai para guru mulai sibuk menyiapkan banyak hal, aroma khas nasi goreng tercium ke berbagai penjuru. Semangat mereka dalam memadukan bumbu hingga hiasan nasi goreng sangatlah hebat.
Kreativitas peserta lomba membuat Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) sebagai juri kesulitan menentukan pemenang.  Namun kami percaya jika menjadi pemenang bukanlah inti kegiatan ini, karena sejatinya guru adalah pemenang. Pemenang di dalam hati anak bangsa.
Kawan Fajar (Tingkatkan Minat Baca Siswa MI Al-Azhar Saumlaki)

Pendidikan Karakter Dimulai dari Penanam Aqidah lho Makmalian

Pendidikan Karakter Dimulai dari Penanam Aqidah lho Makmalian

Oleh: Hodam

Umar bin Khathab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu, dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad saw.) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya.”

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk di antara penduduk Mekah yang paling kejam.

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran yaitu sebagai berikut:

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan mengubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah saw. menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut aqidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

Aqidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, aqidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satupun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa aqidah yang benar. Jika aqidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Pilar yang Tak Akan Lekang di Makan Waktu

Pilar yang Tak Akan Lekang di Makan Waktu

Proses atau tahapan yang harus dilakukan dalam hal apapun tidak terlepas dari sebuah perencanaan, begitu pula dalam hal pendidikan. Ada hal yang harus kita ketahui bersama mengenai pilar-pilar pendidikan yang harus dibangun atau dijalankan dalam membentuk karakter peserta didik atau putra-putri kita semua, sebab tanpa adanya sebuah pilar atau batu pijakan kita seperti berada diatas awan yang terbang tanpa ada sebuah lintasan untuk mendarat dengan baik.

Pilar pendidikan sangat penting dalam membentuk karakter anak, setidaknya ada tiga pilar yang harus kita ketahui mengenai pilar-pilar pendidikan tersebut. Pilar pendidikan yang Pertama adalah keluarga, keluarga menjadi pilar yang sangat penting untuk membentuk karakter anak. Sebab melalui pendidikan keluarga, orang tua lah yang mengetahui sifat anak-anak yang dibimbingnya. Contohnya adalah cermin sikap ayah kepada ibu akan terlihat langsung oleh sang anak, bagaimana berkata yang baik, sopan santun, ramah tamah, lemah lembut dsb. Orang tua menjadi pilar pendidikan pertama bagi anak, dimana akan ada banyak rasa keingintahuan anak tidak terlepas dari informasi yang dimiliki oleh orang tuanya. Kita dapat ketahui bersama, masa anak-anak adalah masa dimana segala informasi atau hal-hal yang baru akan dia cari, maka inilah pentingnya komunikasi antara ayah dan ibu agar berkomunikasi dengan baik dan mencari informasi yang baik pula karena anak selalu melihat kebaikan diantara keduanya.

Pilar pendidikan yang kedua adalah masyarakat, masa perkembangan anak setelah mendapatkan bimbingan yang baik dari orang tuanya maka sudah saatnya masa perkembangan anak mulai tumbuh dan berkembang. Maka, pada saat itu pula proses pengetahuan anak akan terus berkembang. Keberadaan lingkungan tempat anak bermain sangat penting untuk dijadikan pendidikan bagi anak-anak, sebab anak-anak akan mulai mengenal lingkungan dan teman sekitar dimana tempat ia berada. Dalam hal inipun pendidikan masyarakat sangat penting, harus adanya pengelolaan yang baik dalam menjalankan sebuah hubungan ditengah-tengah masyarakat. Baiknya individu bergantung seberapa besar dukungan masyarakat sekitar, begitu pula pendidikan tidak bisa terpisahkan.

Pilar pendidikan yang ketiga adalah Negara, dalam hal ini Negara menjadi sebuah pengayom atau yang memfasilitasi diadakannya sekolah-sekolah untuk tempat anak-anak menimba ilmu. Sudah menjadi sebuah kewajiban dalam hal belajar, maka Negara sifatnya wajib memfasilitasi sekolah-sekolah bagi anak-anak. Agar anak-anak bisa diwadahi untuk meningkatkan prestasi yang dimiliki, sehingga ketika Negara memfasilitasi dengan baik akan bisa terlihat seberapa besar potensi anak-anak yang sudah melakukan tahapan pendidikan dengan baik dan yang belum. Ketiga pilar pendidikan tersebut memiliki satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena diantara ketiganya memiliki kontroling dan monitoring yang seharusnya bersinergi tidak terpisah-pisah atau berjalan sendiri-sendiri. Maka sudah saatnya membangun negeri dengan tiga pilar pendidikan bagi putra dan putri Indonesia untuk menjadi generasi terbaik pada masanya (Noly).

{fcomment}

Tugas adalah Amanah yang Harus Dijalankan

Tugas adalah Amanah yang Harus Dijalankan

Oleh: Sarno, M.Pd Kepala Sekolah Cerdas Literasi SDN 05 Saparan

 

 

Tugas adalah amanah yang harus dijalankan. Menjalankan amanah dengan ikhlas adalah ibadah, maka sejak saya mendapatkan tugas di SDN 05 Saparan Kecamatan Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang, saya berusaha untuk menjalankan tugas ini dengan baik sesuai dengan kemampuan saya.

 

 

 

Pada 28 Oktober 2004, saya mendapat tugas baru selain menjadi guru yaitu sebagai kepala sekolah di SDN 05 Saparan, sebelumnya saya bertugas di SDN 10 Saparan. Ketika saya pertama masuk di SDN 05 Saparan banyak hal baru yang saya pikirkan diantaranya dari mana saya memulai,`akan saya bawa kemana sekolah ini, bagaimana membawanya, dengan siapa saya menjalankan semuanya? Pada hari berikutnya saya ajak guru yang ada untuk musyawarah, akhirnya beberapa data berhasil saya kantongi, data yang saya temui pertama adalah di sekolah itu ada 6 kelas dan hanya ada tiga orang guru padahal muridnya ada seratus empat anak, selain itu jarak antara tempat tinggal saya dengan sekolah memang tidak terlalu jauh hanya 7 km, tapi jalannya sangat susah dilalui kendaraan itu salah satu  masalah/kendala yang saya hadapi di saat pertama kali saya bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN 05 Saparan. Maka langkah pertama yang saya lakukan adalah silaturahmi dengan tokoh masyarakat kebetulan rumah kepala desa dekat dengan sekolah, dalam silaturahmi dengan kepala desa, saya mendapatkan beberapa petunjuk dari beliau, diantaranya yaitu adanya kesepakatan antara saya dan kepala desa untuk kerja bakti memperbaiki jalan menuju sekolah dan pembuatan pagar sekolah yang dilakukan oleh orangtua murid (Komite Sekolah).

 

 

 

Untuk menjalankan tugas dengan baik di suatu sekolah yang jumlah rombelnya ada 6 dan jumlah murid 104 anak dengan 3 orang guru pastinya kami mengalami kesulitan, maka kami berusaha bagaimana untuk mendapatkan tenaga pengajar. Setelah saya bertugas satu tahun di SD yang saya pimpin, sekolah kami mendapat tambahan satu orang guru sehingga jumlahnya jadi 4 orang guru, untuk memenuhi kekurangan saya mengangkat 2 orang guru tidak tetap (honor) sehingga jumlah menjadi 6 guru.

 

 

 

SDN 05 Saparan telah memiliki tenaga pengajar yang cukup lumayan, setiap kelas dipegang oleh satu guru, tinggal bagaimana mencapai visi dan misi yang diharapkan, dengan kerja sama yang baik diantara guru-guru yang ada dan didukung oleh masyarakat/Komite, tahun demi tahun SDN 05 Saparan menunjukkan hasil yang semakin meningkat, terbukti dalam akreditasi sekolah SDN 05 Saparan juga sudah terakreditasi walaupun nilainya C. Pada seleksi OLIMPIADE MIPA sering menjadi perwakilan di tingkat  kabupaten, dalam bidang olah raga juga tidak ketinggalan, tahun 2009 SDN 05 Saparan juga mewakili kabupaten Bengkayang ketingkat provinsi dalam cabang bulu tangkis.

 

 

Pada tahun ajaran 2010/2011 SD 05 Saparan mendapat tenaga pendamping dari Dompet Dhuafa Pendidikan selama satu tahun, bimbingan, arahan, petunjuk serta beberapa pelatihan yang diberikan kepada guru-guru ternyata bisa menambah semangat dan kreatifitas guru-guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak-anak, sehingga tahun ajaran 2010/2011 SDN 05 Saparan mendapat rangking satu se-UPT Dinas Pendidikan Seluas dalam pelaksanaan UAS dan UAN yang terdiri dari 45 SD dengan jumlah peserta enam ratus siswa lebih dalam sejarah perjalanan SDN 05 Saparan baru ini mendapat juara satu se-UPT, prestasi dalam bidang olah raga juga masih bias terlihat saat O2SN tahun 2011, SDN 05 Saparan menjadi duta UPT Dinas Pendidikan Seluas untuk maju ketingkat kabupaten dan hasilnya bulutangkis double dan single masih merebut juara tiga tingkat kabupaten.

 

 

Yang paling membanggakan bagi kami di tahun 2011 anak didik kami diterima di SMART Ekselensia Indonesia Muhammad Azmi. Mengapa bangga? Karena satu satunya peserta dari Kalimantan Barat hanya satu yang diterima dari beberapa peserta lainnya yang ikut seleksi, maka kami patut bersyukur dan terima kasih kepada Dompet Dhuafa Pendidikan yang telah memberikan pendampingan kepada SD kami dan juga terima kasih Kepada kepala Dinas Pendidikan Kabupaten, Ka UPT Dinas Pendidikan Seluas, Pengawas TK/SD kecamatan Jagoi Babang, guru-guru SD 05 Saparan, Komite dan seluruh pihak yang mendukung keberhasilan SDN 05 Saparan, semoga SDN 05 Saparan lebih meningkat dan berprestasi di tahun yang akan datang. Selamat berjuang!

Dari Guru Kebetulan, Menjadi Guru Teladan

Dari Guru Kebetulan, Menjadi Guru Teladan

Oleh: Andi Ahmadi,K onsultan Sekolah Literasi Indonesia

 

 

Tak pernah terpikirkan di benak Guru Ningsih sebelumnya bahwa ia akan menjadi seorang guru. Kuliah di jurusan non kependidikan, membuatnya tak ada niat berkecimpung di dunia pendidikan. Namun semua berubah, ketika ia diperhadapkan pada kondisi yang tak mudah. Ia dituntut mampu mendapatkan uang sendiri guna mencukupi biayai kuliah.

 

 

 

Pertengahan 2006 menjadi awal perjalanannya menjadi seorang guru, ketika kuliahnya memasuki semester tujuh. Ia melamar menjadi guru di MIS Al Hidayah, sebuah sekolah kecil di tengah-tengah padatnya Kota Medan. Niatnya menjadi guru bukanlah selamanya, tapi hanya sampai ia menyelesaikan kuliahnya. Hal ini karena menjadi guru bukanlah cita-citanya, ditambah lagi gaji sebagai guru honor yang tak seberapa.

 

 

 

Ternyata kondisi membuat Guru Ningsih harus tetap mengajar meskipun kuliahnya sudah kelar. Bahkan setelah tiga tahun berjalan, pihak yayasan menunjuknya menjadi kepala sekolah. Tentu saja awalnya ia menolak dengan penunjukan tersebut. Selain karena ia belum memiliki pengalaman sebagai kepala sekolah, keadaan sekolah pada saat itu sedang kurang sehat.

 

 

Sekolah tempat Guru Ningsih mengajar memang dipandang sebelah mata oleh masyarakat sekitar. Apalagi di sekitar lokasi tersebut terdapat beberapa sekolah favorit yang menjadi tujuan utama masyarakat menyekolahkan anaknya. Puncaknya, di tahun 2011 MIS Al Hidayah hampir ditutup karena siswa baru yang mendaftar hanya lima.

 

 

 

Guru Ningsih tidak menyerah begitu saja. Ia mencoba meyakinkan pihak yayasan agar sekolah tetap berjalan, sembari berdoa agar diberi jalan keluar dari masalah yang dihadapi.

 

 

 

Pucuk dicinta ulam tiba. Tahun 2015, berkat rasa haus akan ilmu dalam dirinya, Guru Ningsih mendapat kesempatan mengikuti program School Master Teacher, sebuah program pengembangan kapasitas guru yang digagas oleh Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa. Tak hanya sampai di situ, di tahun 2017 sekolahnya juga mendapatkan program Sekolah Literasi Indonesia, sebuah program pengembangan kualitas sekolah berbasis literasi yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

 

 

Tak ada hasil yang menghianati usaha. Seperti itulah barangkali ungkapan yang tepat untuk menggambarkan perjuangan Guru Ningsih dan juga timnya. Sekolah yang dipimpinnya mulai sehat pengelolaannya, dan beberapa prestasi pun berhasil diraihnya, baik prestasi pribadi maupun prestasi sekolah. Secara pribadi, ia pernah memenangkan Olimpiade Literasi Tingkat Nasional, mendapat penghargaan sebagai peserta dengan PTK terbaik dalam program Teacher School Master, hingga menjadi salah satu kepala sekolah berprestasi di Kota Medan.

 

 

 

Perlahan, MIS Al Hidayah kini menjadi sekolah yang mulai diperhitungkan. Jumlah siswa baru yang mendaftar tak cukup dua ruangan. Antusiasme ini muncul karena sekolah memiliki banyak program pengembangan guru dan siswa yang dilakukan, meskipun dengan anggaran yang pas-pasan. Siswa-siswinya juga mulai terbiasa ikut kompetisi, dan beberapa di antaranya berbuah prestasi. Mulai dari juara lomba mendongeng, juara olimpiade literasi, hingga menerbitkan buku antologi puisi.

 

 

 

MIS Al Hidayah juga berhasil menyabet penghargaan sebagai sekolah adiwiyata tingkat kota dan provinsi, dan kini sedang berkompetisi di tingkat nasional. Tentu saja semua itu adalah pencapaian luar biasa dari sekolah yang dulunya hampir saja tinggal nama. Dan atas semua yang diraih itu, Guru Ningsih kini dipercaya menjadi Ketua Bidang Pendidikan Forum Komunikasi Kepala Madrasah Swasta kota Medan.

 

 

 

Setelah melalui perjalanan yang panjang dan berliku, kini Guru Ningsih benar-benar bisa mencintai pekerjaannya sebagai guru. Menjadi guru bukan lagi sekadar mengisi kekosongan, atau aktivitas sampingan sembari menunggu pekerjaan lain yang lebih menjanjikan. Baginya, menjadi guru adalah sebuah pilihan.

 

 

 

Melalui kisah Guru Ningsih kita belajar bahwa menjadi guru itu soal kemauan dan kesungguhan, tak melulu harus dari sarjana pendidikan. Menjadi guru juga bukan hanya soal mengajar di kelas, tapi bagaimana berjuang sepenuh hati untuk menjadikan sekolah semakin berkualitas.

 

 

Selamat Hari Guru Nasional tahun 2019.

 

KAWAN SLI: Misi Hari Guru Nasional yang Sukses

KAWAN SLI: Misi Hari Guru Nasional yang Sukses

 

 

 

Hari Guru Nasional tahun ini menjadi hari yang sangat berkesan bagi Konsultan Relawan (KAWAN) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Kabupaten Asahan, karena kami diberi kesempatan untuk menghadiri perayaan ulang tahun PGRI yang ke-74 di gedung serbaguna GOR Kabupaten Asahan. Untuk sampai ke gedung serbaguna GOR Kabupaten Asahan memakan waktu lebih kurang tiga puluh menit. Berdasarkan surat edaran, acaranya dimulai pukul 08.00 WIB. Mengetahui hal itu kami memutuskan untuk berangkat lebih awal agar tidak terburu-terburu. Perayaan ulang tahun PGRI yang ke-74, dihadiri oleh bapak bupati beserta jajarannya, kepala dinas pendidikan beserta jajaranya, dan seluruh guru se-Kabupaten Asahan.

 

 

 

Beberapa acara yang diadakan oleh bupati Asahan kami selalu berusaha untuk menghadirinya. Suatu ketika, kami menghadiri acara penetapan posko kemenangan beliau di Air Joman dengan harapan, kami dapat memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami berada di Kabupaten Asahan secara langung. Akan tetapi, saya melihat terlalu banyak orang yang memiliki kepentingan pribadi, sehingga kami tidak memiliki ruang untuk menjalankan misi tersebut. Oleh sebab itu, kedatangan kami ke gedung serbaguna GOR Kabupaten Asahan tidak hanya ikut merayakan ulang tahun PGRI melainkan ada misi lain yaitu bertemu dengan orang nomor satu di Kabupaten Asahan yaitu bapak bupati dan kepala dinas pendidikan. Untuk mensukseskan misi tersebut tentu saja kami harus memiliki strategi. Salah satu strategi kami adalah menghubungi bapak sekretaris dinas pendidikan untuk meminta kesediaan beliau memberikan pesan untuk seluruh guru di Indonesia. Selain itu, kami menghubungi salah satu kepala sekolah yang sudah kami kenal baik di Air Joman yang merupakan salah panitia di acara tersebut. Kedua orang ini merupakan tiket untuk kami bisa masuk ke dalam gedung di lantai satu karena sebelumnya, kami mendapatkan posisi duduk di lantai dua.

 

 

Setelah berhasil memasuki gedung kami segera menemui kepala sekolah dan sekretaris dinas pendidikan. Kami menyampaikan tujuan kami, bahwa kami ingin membuat video tentang hari guru. Kami menyampaikan bahwa, dalam video tersebut ada pesan yang akan disampaikan oleh bupati, kepala dinas pendidikan, dan sekretaris dinas pendidikan. Dengan sigap pak sekdis mengantarkan kami kehadapan bupati dan kepala dinas yang sedang dikelilingi oleh beberapa wartawan. Namu pada saat itu, mereka meminta izin untuk melakukan wawancara sebentar. Pada saat menunggu mereka selesai wawancara, terdapat beberapa orang yang risih akan keberadaan kami dan menyuruh kami untuk pergi. Namun kami dengan santainya tetap berdiri tanpa bergeser satu langkahpun dan tidak mempedulikan omongan mereka. Setelah mereka selesai diwawancara, salah satu dari kami mendekati mereka untuk memperkenalkan diri dan menyampaikan tujuan kami berada di kabupaten Asahan.

 

 

 

Kondisinya pada saat itu sangant ramai sehingga tidak memungkinkan untuk kami mengambil video di dalam gedung dan akhirnya kami hanya berfoto bersama dengan salam dua jari alias salam literasi. Tidak berakhir sampai di situ, kami pun mengganti strategi untuk mengambil vidio di luar gedung. Kami memutuskan untuk menunggu di luar gedung dan membagi peran. KAWAN Uthfia berperan untuk mencegat mereka berdua, KAWAN Via memegang kamera untuk mengambil video dan saya sendiri memegang gawai untuk mengambil gambar. Namun sayang, hanya kepala dinas pendidikan yang berhasil dicegat. Kami meminta izin kepada beliau untuk menyampaikan sepatah dua kata pada video kami. Beliau menyampaikan terima kasih kepada SLI sudah mau membantu meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Asahan.

 

Saya Mencintai Profesi Pustakawan

Saya Mencintai Profesi Pustakawan

Oleh: Dini Wikartaatmadja

Love is blind. Cinta memang buta. Kalimat bernada melodrama ini biasa dinyatakan ekspresi seseorang yang kasmaran,perasaannya hanyut dalam nuansa fanatisme antilogika. Seperti apapun yang dicintai itu menggilakan. Perasaan ini tak berlaku untuk seseorang yang selalu mengedepankan rasionya.

Tak aneh di zaman Kartini banyak kaum muda frustasi berhadapan dengan cinta sejati yang membutakan. Mereka harus tunduk pada titah orang tua. Perasaan itu tersandera jodoh pilihan orang tua. Dengan gampangnya,para orang tua baheula memaksakan kehendaknya dengan nasihat,”Tresno kuwi jalaran kulino.’ Cinta itu karena biasa.

Romantisme filsafat Jawa identik dengan perjalanan saya mencintai profesi pustakawan. Jujur,profesi advokat bak kekasih yang menyelinap di relung batin. Apa hendak dikata, saya pun harus berjodoh dengan dunia perpustakaan alias terpaksa menjadi mahasiswi Jurusan Ilmu Perpustakaan. Kurang percaya diri karena acap kali mendapat cibiran,memangnya ada, ya jurusan itu;mau jadi apa tuh kalo kuliah kayak begitu,beresin buku?

Jujur,saya sering sekali absen kuliah. Memilih hadir di kuliah jurusan lain lebih enak rasanya. Saya pun sering memilih meghadiri seminar-workshop di sekitar kampus dengan narasumber dari dalam maupun luar negeri. Wajar,banyak teman dan dosen “mencap” saya sebagai mahasiswi salah jurusan. Namun demikian, saya tetap berusaha bertanggung jawab dengan kuliah. Pasalnya,biaya kuliah dari kocek sendiri.

Akhirnya sadar, saya tidak boleh berlama-lama acuh. Jurusan ini memang takdir. Allah memberikan pencerahan lewat Sulistyo Basuki,dosen yang dikenal sebagai mahaguru yang telah menuliskan ratusan artikel dan puluhan buku tentang Ilmu Perpustakaan. Beliau mengabarkan jika pada November 2008 lalu ada Kongres Internasional, World Congress of Muslims Librarians and Information Scientists (WCOMLIS) di Kuala Lumpur, Malaysia. Saya mengambil risiko untuk hadir di kongres tersebut bersama teman saya Hana Mardliyyah. Hati saya tergerak teguh meraih “Ruh Kepustakawanan” yang hilang hingga semester enam.

Di sana, kali pertama bertemu dengan para pustakawan mancanegara. Mereka sudah lama sekali menjadi pustakawan. Saya mewawancarainya saat coffee break atau makan siang. Testimoni mereka menjalani profesi ini sebagai penggilan hati,sama halnya dengan profesi guru atau dokter terpanggil melakukan pelayanan masyarakat.

Sepulang kongres semakin bersemangat mengikuti kuliah;tak bosan bolak-balik pula meminjam literature tentang perpustakaan dari para dosen. Saya pun mendapatkan kesempatan untuk hadir di Congress of Southeast Asian Librarians (CONSAL) tahun 2009 di Hanoi,Vietnam. Kali itu saya bertemu dengan pustakawan yang luar biasa memberikan inspirasi,John Hickok seorang pustakawan California State University Fullerton. Sosoknya sederhana,kurus,tinggi, rambut pirang dengan belahan pinggir serta senyum yang selalu menghiasi wajah,membuat sosoknya selalu dikerumuni para peserta kongres. Gayanya yang enerjik-berwawasan luas membuat saya memahami sosok pustakawan sesungguhnya. John Hickok pun menjelma menjadi salah satu role model saya.

Pekerjaan atau Karier?

Saya pun mulai memahami konsep pekerjaan dan karier. Pekerjaan itu alat untuk memperoleh mata pencaharian (gaji). Lebih dari tu pekerjaan juga bisa memberi kesempatan untuk terus tumbuh sebagai pribadi dan professional. Karier merupakan totalitas kehidupan professional seseorang. Karier hanya punya dua tujuan, yakni kebahagian dan makna. Idealnya, karier dijalankan sesuai dengan tuntunan passion (segala hal yang diminati), purpose (segala hal yang paling penting) dan values (hal yang diyakini).

Passion berasal dari kata pathos (bahasa Yunani) dalam bahasa Latin disebut passio yang berarti “sakit”. Passion akan mengajak kita berjalan jauh dan sangat jauh dan juga meminta pengorbanan. Tapi semua itu akan menghasilkan kepuasan. Lebih jauh, Richard St. Cross dalam bukunya 8 To Be Great, mengatakan orang yang didorong passion akan mau melakukan hal yang disukai, sekalipun ia tidak menerima bayaran. Sedangkan Rene Suhardono, seorang Career Coach menyebutkan bahwa passion adalah anak tangga pertama sebuah perjalanan karier. Pekerjaan adalah alat bagi organisasi untuk mencapai tujuan tertentu dan alat bagi individu untuk terus tumbuh sebagai pribadi dan profesional. Karier adalah mengenai diri sendiri. Karier bicara soal pemenuhan kebahagiaan dan ketercapaian. Siapa pun bisa dipecat dari pekerjaan, namun tidak bisa dipecat dari karier. Your career is yours. Your career is you!

John C. Maxwell, seorang pakar leadership dunia mengatakan, orang yang menjalani segala sesuatu dengan passion, maka dia akan mampu membawa kehidupan yang lebih baik. Buktinya, Steve Jobs,Bill Gates,Mahatma Gandhi dan BUnda Theresa. Mereka figur yang melakukan segala hal dengan passion secara konsisten. Banyak pengorbanan dilakuakn hingga mereka mencapai posisi mumpuni-berlimpah harta dan popularitas. Namun,kesamaan mereka yakni pilihan mengutamakan kebahagiaan batin atas karya ciptaannya dengan hati juga pelayanan dan cinta. Hasilnya dunia computer lebih berwarna dengan lahirnya Apple. Begitupula dengan hadirnya Microsoft. India bisa lepas dari genggaman Inggris tanpa peperangan serta kaum miskin dan yang berpenyakit jadi memiliki semangat hidup. Karya yang mereka lahirkan abadi mengisnpirasi miliaran manusia di kolong langit ini.

Dunia kepustakawann Indonesia juga punya sosok demikian. Para pustakawan yang menjadikan profesi ini sebagai karier-dijalaninya dengan passion. Sebut saja, Suherman yang akrab disapa Kang Herman. Pustakawan Lembaga Ilmu Pengetahuan dan Informasi (LIPI)-Bandung penyandang gelar pustakawan terbaik se Asia Tenggara tahun 2012. Kang Herman menjalani profesi pustakawan sebagai karier dengan banyak melahirkan karya dan menciptakan kegiatan bermanfaat bagi masyarakat. Segala hal yang dilakukan bersandar pada kepuasan batin.

Sosok lain yang juga mengisnpirasi itu seorang Begawan kepustakawanan Indonesia, Blasius Sudarsono. Mantan Ketua PDII/LIPI ini bukanlah dari Jurusan Ilmu Perpustakaan melainkan lulusan Jurusan Fisika. Namun kemudian, karier pustakawannya dirintis penuh perjuangan. Hasilnya, buku-bukunya tersebar di setiap jurusan perpustakaan di Indonesia. Tokoh yang mengusung filosofi kepustakawanan ini banyak mencerahkan para mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan. Passion menggerakkan inspirasi orang di sekitarnya.

Bagaimana dengan kita yang terlanjur menganggap profesi pustakawan sebagai pekerjaan? Silakan saja. Namun, akan lebih baik jika belajar untuk meniupkan passion dalam pekerjaan. Susah dan penuh tantangan pada walnya. Kemudian berbuah manis ketika menjalaninya. Kita akan bersemangat setiap bangun pagi. Masuk kerja dengan wajah berseri-seri,tak sabar berkontribusi. Kemudian seiring berjalan waktu, karya yang luar biasa akan lahir dari tangan kita. Kreativitas dan inovasi akan selalu mengiringi setiap pekerjaan.

Tresno kuwi jalaran kulino. Filosofi ini memang benar. Saya memetik hikmah untuk lebih mencintai profesi sebagai tenaga perpustakaan. Mencintai profesi pustakawan harus memiliki aksesibilitas-keterbukaan wawasan. Dengan cara itu, seorang pustakawan akan menjadi tenaga terampil-profesional. Perpustakaan harus menjadi sentral informasi bagi masyarakat sehingga diperlukan akses dan wawasan dari para pustakawan. Kata kunci passion itu tak lain pula harus ada usaha belajar pada sesuatu yang baru,banyak beramal dan berprestasi.

Saya jadi teringat ucapan Buya Hamka,”Jika hidup sekadar hidup,babi di hutan juga hidup. Jika kerja sekedar bekerja,kera juga bekerja!” Mari menjadi seorang pustakawan dengan passion di dada. Bekerja dengan hati dan terus berenergi membangun literasi di negeri tercinta.

Sapa Kota Gudeg, Duta Gemari Baca Perkuat Pegiat Muda Literasi Yogyakarta

Sapa Kota Gudeg, Duta Gemari Baca Perkuat Pegiat Muda Literasi Yogyakarta

 

 

 

Yogyakarta – Jumat (22/11), sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap peningkatan kualitas literasi di Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan adakan “Kumpul Bareng Duta Gemari Baca Batch Yogyakarta” yang bertujuan memperluas kebermanfaatan dalam memberikan aksesibilitas terhadap kegiatan literasi di berbagai daerah bersama Duta Gemari Baca. Duta Gemari Baca merupakan kumpulan anak muda pegiat literasi yang kreatif, inisiatif, dan inspiratif dalam meningkatkan minat baca dan mengembangkan literasi masyarakat di daerahnya. Duta Gemari Baca hadir sebagai upaya menebarkan semangat literasi dan meningkatkan minat baca masyarakat melalui peningkatkan kapasitas dan kemampuan pemuda dalam bidang literasi.

 

 

 

Untuk pertama kalinya seleksi Duta Gemari Baca dilaksanakan per regional, Yogyakarta terpilih sebagi kota perdana pelaksanaan kegiatan tahunan ini. Para calon Duta Gemari Baca nantinya akan diseleksi, ketika terpilih mereka akan mendapatkan pembinaan intensif melalui program Tajuk Inkubasi selama tiga hari pada 22 hingga 24 November 2019 di Sleman.  Inkubasi Duta Gemari Baca merupakan program pembinaan dan pengembangan kapasitas pegiat literasi dalam meningkatkan minat baca dan mengembangkan literasi masyarakat di daerahnya, selain itu mereka juga akan mendapatkan pelatihan seputar kepekaan sosial dalam mengembangkan literasi di masyarakat.

 

 

Pelatihan tersebut disampaikan langsung oleh Agung Pardini, GM Sekolah Kepemimpinan Bangsa; Muhammad Shirli Gumilang, SPV Sekolah Literasi Indonesia (SLI); dan Eko Prasetyo, Social Movement Institute. Selain pelatihan, Duta Gemari Baca akan mendapatkan lokakarya literasi kreatif dari pegiat literasi berprestasi secara nasional melalui TBM Kreatif Rekreatif dari Kemendikbud, diantaranya Maria Tri Suhartini, TBM Helicopter GoBook Maos dan Triyanto, TBM Guyub Rukun. Turut hadir Heni Wardatul Rohmah, Ketua Forum TBM Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, memberikan inspirasi melalui semangat gerakan literasi di Yogyakarta.

 

 

 

Duta Gemari Baca diharapkan mampu membangun simpul jejaring komunitas literasi yang mampu membangun inovasi gerakan literasi dalam upaya membangun masyarakat Indonesia yang berdaya. (MA x AR)