Sekolah Tempat Siswa dan Siswi Berkarya

Adanya, tanggung jawab pemerintah untuk membangun sebuah Sekolah menjadi hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan istilah pembangunan tidak hanya berbicara tentang sebuah gedung yang begitu mewah dan megah, gedung sederhana, minimalis dan layak saja sudah cukup untuk bisa dijadikan sebuah pembangunan pendidikan.

Membangun pendidikan yang berkualitas tidak bisa hanya berbicara satu ruang lingkup saja, banyak pakar pendidikan sudah merumuskan tentang pembangunan pendidikan. Hingga saat ini kita bisa mengenal pendidikan berkarakter, padahal masih banyak lagi tentang pendidikan yang harus bisa dijadikan sebuah landasan. Dimana harus adanya sebuah titik awal, adanya sebuah proses dan adanya sebuah hasil yang kemudian harus dievaluasi bersama, tidak ada yang benar-benar jadi sebelum adanya sebuah langkah awal dan melakukan proses dengan cara yang baik.

Sekolah yang merupakan tempat siswa dan siswi belajar selain di rumah dan di lingkungan masayarakat, memiliki tanggung jawab yang besar. Bagaimana agar siswa dan siswi bisa belajar dengan baik, belajar dengan aman, nyaman dan tenang. Hal ini harus sudah dipersiapkan oleh Sekolah untuk bisa mengali potensi setiap siswa, karena pada hakikatnya adalah Sekolah merupakan tempat siswa dan siswi untuk berkarya dan memberikan hasil nyata. Mengapa? Disanalah dikembalikan pada tahapan persiapan dan proses perencanaan Sekolah yang baik.

Banyak karya hasil anak bangsa yang bisa mengangkat Negara tidak terlepas bagaimana bimbingan dan pendidikan yang diajarkan di Sekolah, maka sudah saatnya ciptakan Sekolah untuk tempat siswa dan siswi untuk terus berkarya menciptakan hasil nyata agar bisa dilihat dunia. Tidak ada tempat untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat siswa-siswi anak bangsa untuk berkarya tanpa adanya ruang baca tempat untuk mereka bisa berkarya. (Noly)

{fcomment}

Tiga Pilar Pendidikan

 

Proses atau tahapan yang harus dilakukan dalam hal apapun tidak terlepas dari sebuah perencanaan, begitu pula dalam hal pendidikan. Ada hal yang harus kita ketahui bersama mengenai pilar-pilar pendidikan yang harus dibangun atau dijalankan dalam membentuk karakter peserta didik atau putra-putri kita semua, sebab tanpa adanya sebuah pilar atau batu pijakan kita seperti berada diatas awan yang terbang tanpa ada sebuah lintasan untuk mendarat dengan baik.

Pilar pendidikan sangat penting dalam membentuk karakter anak, setidaknya ada tiga pilar yang harus kita ketahui mengenai pilar-pilar pendidikan tersebut. Pilar pendidikan yang Pertama adalah keluarga, keluarga menjadi pilar yang sangat penting untuk membentuk karakter anak. Sebab melalui pendidikan keluarga, orang tua lah yang mengetahui sifat anak-anak yang dibimbingnya. Contohnya adalah cermin sikap ayah kepada ibu akan terlihat langsung oleh sang anak, bagaimana berkata yang baik, sopan santun, ramah tamah, lemah lembut dsb. Orang tua menjadi pilar pendidikan pertama bagi anak, dimana akan ada banyak rasa keingintahuan anak tidak terlepas dari informasi yang dimiliki oleh orang tuanya. Kita dapat ketahui bersama, masa anak-anak adalah masa dimana segala informasi atau hal-hal yang baru akan dia cari, maka inilah pentingnya komunikasi antara ayah dan ibu agar berkomunikasi dengan baik dan mencari informasi yang baik pula karena anak selalu melihat kebaikan diantara keduanya.

Pilar pendidikan yang kedua adalah masyarakat, masa perkembangan anak setelah mendapatkan bimbingan yang baik dari orang tuanya maka sudah saatnya masa perkembangan anak mulai tumbuh dan berkembang. Maka, pada saat itu pula proses pengetahuan anak akan terus berkembang. Keberadaan lingkungan tempat anak bermain sangat penting untuk dijadikan pendidikan bagi anak-anak, sebab anak-anak akan mulai mengenal lingkungan dan teman sekitar dimana tempat ia berada. Dalam hal inipun pendidikan masyarakat sangat penting, harus adanya pengelolaan yang baik dalam menjalankan sebuah hubungan ditengah-tengah masyarakat. Baiknya individu bergantung seberapa besar dukungan masyarakat sekitar, begitu pula pendidikan tidak bisa terpisahkan.

Pilar pendidikan yang ketiga adalah Negara, dalam hal ini Negara menjadi sebuah pengayom atau yang memfasilitasi diadakannya sekolah-sekolah untuk tempat anak-anak menimba ilmu. Sudah menjadi sebuah kewajiban dalam hal belajar, maka Negara sifatnya wajib memfasilitasi sekolah-sekolah bagi anak-anak. Agar anak-anak bisa diwadahi untuk meningkatkan prestasi yang dimiliki, sehingga ketika Negara memfasilitasi dengan baik akan bisa terlihat seberapa besar potensi anak-anak yang sudah melakukan tahapan pendidikan dengan baik dan yang belum. Ketiga pilar pendidikan tersebut memiliki satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan, karena diantara ketiganya memiliki kontroling dan monitoring yang seharusnya bersinergi tidak terpisah-pisah atau berjalan sendiri-sendiri. Maka sudah saatnya membangun negeri dengan tiga pilar pendidikan bagi putra dan putri Indonesia untuk menjadi generasi terbaik pada masanya (Noly).

{fcomment}

Mengenal Batik Gedog di Hari Batik Sedunia

Selamat Hari Batik Sedunia Makmalian. Seperti yang sudah Makmalian ketahui jika Batik merupakan salah satu kekayaan budaya Indonesia, bahkan telah disahkan sebagai warisan dunia oleh UNESCO. Hampir seluruh daerah di Indonesia memiliki ciri khas batik tersendiri seperti halnya Jawa Timur. Berbagai referensi menyebutkan bahwa batik yang berkembang di Jawa Timur terpengaruh dari kebudayaan cina yang dahulu dibawa oleh para pedagang, pengaruh ini biasanya dapat dilihat dari motif-motif batik yang kebanyakan berbentuk burung atau bunga-bunga. Batik awalnya merupakan sebuah seni melukis di atas kain dengan menggunakan cairan malam yang dilukis menggunakan canting tetapi kini dengan berkembangnya zaman proses membatik tidak hanya dilukis tetapi juga bisa dicap atau bahkan hasil pabrikan.

Salah satu daerah yang memiliki ciri khas batik adalah Kabupaten Tuban, sebuah kabupaten yang termasuk dalam kawasan provinsi Jawa Timur. Batik khas Tuban ini dinamanakan Batik Gedog, dari segi motif tidak terdapat perbedaan mencolok dari batik gedog apabila dibandingkan dengan batik jenis lain di jawa. Perbedaan yang mendasar serta menjadi andalan batik gedog adalah kainnya. Kain yang dipakai untuk batik gedog merupakan kain hasil tenunan yang dinamakan gedog kata ini diambil dari suara yang dihasilkan alat tenun pada saat melakukan proses penenunan benang menjadi kain. Suara ini berasal dari kayu alat tenun saling berbenturan dan menghasilkan bunyi “gedog”.

Jika kita melihat lebih dalam maka kita akan menemukan daerah asal batik gedog, yaitu kecamatan kerek. Saat anda memasuki kawasan ini makan anda akan menemukan orang-orang terutama wanita yang membatik hampir disetiap rumah. Secara turun temurun keahlian membatik diwariskan, sehingga bisa dikatakan 90% wanita di Kecamatan Kerek memiliki kemampuan membatik.

Proses pembuatan batik gedog diawali dengan memintal kapas menjadi benang, biasanya proses ini dilakukan pada saat musim kemarau saat tidak ada kegiatan bertani. Kemampuan memintal benang tidak dimiliki oleh mayoritas pembatik, biasanya kemampuan ini hanya dimiliki oleh para orang-orang tua yang diturunkan oleh orang tuanya terdahulu. Proses ini bisa memakan waktu sampai satu bulan untuk mencukupi kebutuhan benang yang selanjutnya akan dipakai untuk ditenun. Bahan dasar pembuatan benang adalah sejenis kapas yang diambil dari tanaman disekitar ladang ataupun dibeli.

Setelah didapat benang yang cukup selanjutnya benang-benang ditenun menggunakan alat tenun tradisional. Proses ini juga memerlukan waktu yang cukup lama dan dikerjakan oleh orang-orang tertentu terutama mereka yang sudah berumur. Kain yang ditenun biasanya memiliki panjang tiga meter dan lebar 80 sentimeter. Proses tenun dilakukan di rumah-rumah produksi batik karena tidak semua rumah memiliki alat tenun. Salah satu rumah produksi yang cukup terkenal di kerek adalah rumah produksi batik milik bapak Zaenal.

Setelah kain selesai baru tahap selanjutnya membatik, proses ini bisa dilakukan di rumah sendiri maupun beramai-ramai di rumah produksi. Proses membatik juga bisa menentukan harga jual dari batik yang dihasilkan. Semakin rumit atau susah motifnya akan semakin mahal harga batik tersebut, selain itu faktor kerapian juga menjadi nilai tambah sebuah batik tulis. Perbedaan batik tulis dan batik cap juga dapat kita lihat dari motifnya, motif batik tulis biasanya akan sulit benar-benar simetris antar motifnya hal ini dikarena pengerjaannya yang manual seperti layaknya orang yang menggambar atau melukis sedangkan pada batik cap kita dapat melihat motif yang simetris karena dihasilkan dari cap yang sudah didesain terlebih dahulu.

Proses akhir dari pembuatan batik adalah pewarnaan, Dahulu proses pewarnaan masih menggunakan pewarna alami untuk memberikan warna pada kain batik, warna-warna alami di dapat setelah melalui proses ekstraksi. Beberapa bahan yang bisa dipakai adalah kulit luar buah kelapa, the, kunyit, dan kayu secang. Namun saat ini untuk menekan harga para pembatik lebih memilih menggunakan pewarna buatan. Penggunaan pewarna buatan juga dipakai jika kain yang dipakai untuk membatik berbahan dasar sintetis. Padahal jika ditinjau dari segi kesehatan pewarnaan menggunakan pewarna buatan justru lebih beresiko terhadap kesehatan kulit dan merusak lingkungan karena belum ada proses pengelolaan limbah yang baik dari rumah-rumah produksi batik. Biasanya para pembatik mandiri menjual hasil batiknya hanya sampai pada tahap pembatikan, hal ini dikarenakan kurangnya kemampuan utntuk melakukan pewarnaan batik. Faktor lain adalah para pengumpul atau pemilik toko batik lebih memilih menerima batik yang belum diwarnai karena harganya lebih murah. Proses pewarnaan batik sebenarnya tidak memerlukan biaya yang mahal tetapi harga jual batik yang sudah diwarnai bisa naik 100% dari pada batik yang belum diwarnai oleh sebab itu para pengumpul lebih memilih membeli batik setengah jadi atau yang belum diwarnai kemudian mereka mewarnai sendiri. Hal ini juga menjadi salah satu faktor penghambat untuk pengembangan usaha kecil batik. Sebagai salah satu penanggulangan hal ini Dompet Dhuafa melalui Klaster Mandiri memberikan pelatihan pewarnaan batik bagi masyarakat di kecamatan kerek.

Batik Gedog asli Tuban sudah sangat jarang diproduksi, hal ini dikarenakan karena membutuhkan waktu yang lama, harga yang cukup tinggi, dan kesulitan dalam pemasaran. Saat ini kebanyakan pembatik tetap menamai batik gedog meskipun mereka menggunakan jenis-jenis kain lain yang langsung mereka beli dipasaran. Dahulu batik gedog masih dapat di jual bagi turis-turis mancanegara yang dibawa berwisata ke desa-desa penghasil batik tetapi 5 tahun belakangan ini sudah tidak ada kunjungan-kunjungan oleh wisatawan asing.

Peningkatan daya guna produk sepertinya harus dilakukan untuk menyelamatkan batik gedog, penyuka batik di Indonesia biasanya memanfaatkan batik menjadi pakaian yang dipakai untuk kegiatan-kegiatan resmi, dan mereka juga rela membayar mahal untuk sebuah model pakaian batik dengan kualitas kain yang baik. Hal ini bertolak belakang dengan pengrajin batik saat ini yang hanya menjual dalam bentuk kain, daster, dan T-shirt, sangat sedikit dari mereka yang menjual dalam bentuk pakaian dengan model atau desain yang menarik. Ini menyebabkan mereka tidak mungkin memproduksi batik gedog yang ditenun karena tentunya harus dijual dengan harga yang cukup tinggi.

Langkah-langkah penyelamatan batik gedog sebenarnya juga sudah menyentuh ranah pendidikan, dimana beberapa sekolah dasar (SD) menjadikan membatik sebagai pelajaran muatan lokal disekolahnya. Membatik tingkat sekolah dasar ini juga sering diperlombakan untuk tetap menanamkan kecintaan anak-anak terhadap budaya asli daerah mereka.

Dompet Dhuafa Melalui program klaster mandiri juga membantu para pembatik agar menigkatkankan nilai jual produk batik mereka. Kegiatan ini berpusat di Desa Gaji Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban Jawa Timur. Program pendampingan ini memberikan peningkatan kemampuan pembatik seperti pelatihan pewarnaan baik menggunakan pewarna alami maupun buatan, memberi kemasan yang lebih menarik, memberikan tempat berupa rumah produksi, dan membantu pemasaran produk batik yang dihasilkan

Setelah melihat beberapa kendala dalam penjualan batik gedog tentunya kita menyadari bahwa peningkatan daya guna produk adalah hal utama yang harus mendapat perhatian. Sebuah kain batik yang belum di warnai akan naik harganya setelah proses pewarnaan untuk itu kemampuan pewarnaan batik harus dimiliki pembatik. Kain batik yang memiliki motif bagus dan warna yang baik pula tentu akan memiliki nilai jual yang lebih tinggi jika dijadikan pakaian dengan desain yang modern dan di jahit dengan kualitas yang bagus pula. Kemampuan mendesain dan menjahit ini yang juga harus dimiliki para pembatik guna meningkatkan nilai jual batik gedog, sehingga nantinya bisa bersaing dengan berbagai jenis batik lain di Indonesia.

Pendidikan (Katanya) Prioritas

Pendidikan (Katanya) Prioritas

Pendidikan adalah salah satu tiang terpenting dalam kehidupan umat manusia sehingga sudah sewajarnya seluruh Negara di Dunia ini menjadikannya sebagai prioritas bagi seluruh penduduknya, demikan juga dengan Indonesia. Melalui berbagai program pemerintah Indonesia mencoba memperbaiki kualitas pendidikan di Indonesia, mulai dari program wajib belajar sembilan tahun, penyaluran dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS), sampai dengan membebaskan biaya bahkan sampai pendidikan menengah atas atau dengan peningkatan kualitas guru dengan mengadakan program sertifikasi bagi guru-guru di Indonesia, tentunya dengan harapan generasi penerus bangsa nantinya dapat menjadi induvidu unggul untuk menyongsong dunia global yang sudah di depan mata.

Semua program yang telah di lakukan pemerintah ternyata juga mengalami kendala-kendala salah satunya dikarenakan wilayah Indonesia yang sangat luas, dimana setiap daerah memiliki permasalahan masing-masing seperti kurangnya guru, jarak sekolah yang sangat jauh, bahkan tidak jarang kekurangn murid juga menjadi permasalahan disekolah-sekolah.

Salah satu contoh lain yang bisa kita ambil untuk melihat ketimpangan ini adalah untuk masuk Sekolah Dasar (SD) diperkotaan maka calon murid harus mengikuti tes atau ujian masuk, sedangkan untuk masuk SD pedesaan maka guru dan sekolah harus berusaha keras agar kuota minimal jumlah murid dapat terpenuhi. Sayangnya perjuangan yang dilakukan sekolah-sekolah di desa untuk mendapatkan murid juga tidak serta merta dikarenakan ingin meningkatkan kualitas individu di desa tersebut tetapi mereka malah hanya ingin mendapat dana BOS yang lebih besar dari pemerintah. Permasalahan tadi hanya bagian dari sekian banyak permasalahan lain yang harus dihadapi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Desa Gaji merupakan salah satu Desa yang juga ikut terkena permasalahan-permasalahan tersebut. Desa yang terletak di Kecamatan Kerek Kabupaten Tuban Jawa Timur ini juga menyimpan berbagai persoalan pendidikan. Permasalahan terbesar yang mengrogoti wajah pendidikan di desa ini adalah kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Bagi mereka yang hidup desa sekolah menjadi tidak terlalu penting dikarena hanya menjadi ritual pergi pagi pulang siang saja, karena nantinya mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk berhenti sekolah dengan berbagai alasan, baik itu ekonomi, pernikahan, atau merasa lebih baik untuk turun kesawah, atau mencari kayu bakar untuk dijual.

 

Guru = “Guyonan Untuk Rakyat Umum”?

Guru = “Guyonan Untuk Rakyat Umum”?

Dari zaman Adam sampai zaman Edan, orang sudah mengetahui bahwa “Guru” merupakan singkatan dari “digugu” dan “ditiru”, atau sekarang dicari lagi kepanjangan yang lebih keren yaitu “Guna Untuk Rakyat Umum”. Namun, pernahkah anda mendengar kepanjangan Guru menjadi “Guyonan Untuk Rakyat Umum”?. Yups… Guyonan. Tak ayal disetiap hari diberbagai media kita selalu disuguhi guyonan yang mampu mengocok perut kita.

Bagaimana cara kepanjangan kata “Guru” tersebut  mampu mengocok perut kita ?. hal ini dapat kita temui dari kegiatan dan keseharian  para guru, antara lain adalah :

  • Dalam pelatihan sepuluh hari, guru sudah dianggap guru profesional yang mampu membangkitkan mutu pendidikan.
  • Guru selalu disuguhi dengan berbagai macam administrasi yang padat sehingga lupa kewajiban utamanya untuk mendidik anak bangsa.
  • Dengan uang sertifikasi gaya hidup seorang guru bisa berubah tapi lupa dengan metode yang tepat untuk mendidik anak-anak bangsa.

Seandainya para guru sadar mengenai kewajibannya sebagai seorang guru, maka guru yang profesioanl itu bukanlah guru yang hanya mengikuti pelatihan sepuluh hari untuk menjadi profesional, guru yang benar-benar profesional itu tidaklah memerlukan sertifikasi untuk menjadi profesional.Masihkah Guru di kenang dengan “pahlawan tanpa tanda jasa” atau sekarang sudah berubah menjadi Guru Adalah “Pahlawan Dengan Tanda Jasa”?.

“Kullukum Ro’in wa kullukum mas’ulun ‘an ro’iyatihi”. Setiap manusia adalah pemimpin dan setiap pemimpin bertanggung jawab atas apa yang ia pimpin.

Setiap manusia kelak akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatannya. Apakah dengan sertifikasi kita benar-benar sudah siap mempertanggung jawabkan perbuatan kita?. Marilah kita jawab dalam hati kita masing-masing !.

Penulis merupakan Wali Kelas VI SDN 060932 Bangun Mulia, Medan Amplas

{fcomment}

Sekolah Ramah Hijau Makmal Pendidikan

Makmalian Harus Tahu Tiga Hal Penting Wujudkan Sekolah Ramah Hijau

Sekolah adalah rumah kedua bagi guru maupun siswa. Sepertiga dari waktu mereka berada di sekolah. Tiba di sekolah jam tujuh pagi dan kembali pulang ke rumah jam empat sore. Pada jam – jam produktif inilah mereka lebih lama berada disekolah daripada di rumah. Kegiatan belajar mengajar berlangsung aktif pada jam tersebut.

Salah satu pendukung kegiatan KBM adalah lingkungan belajar yang nyaman. Sekolah yang nyaman seperti rumah sendiri. Sehingga kegiatan belajar mengajar bisa optimal berjalan.

Dari itu MI Al Hidayah berupaya membuat lingkungan terlihat teduh, bersih dan sehat, sehingga semua warga sekolah nyaman dan betah berada di sekolah. Persoalan yang harus diselesaikan untuk mewujudkan sekolah bersih, nyaman dan sehat adalah SAMPAH. Untuk meminimalisir persoalan klasik lingkungan ini ada beberapa pembiasaan yang dilakukan di MI Al hidayah untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah hijau, bersih, sehat dan nyaman.

Siswa Menanam dan Menumbuhkan Pohon

Selama ini pemerintah memprogramkan gerakan menanam pohon, namun tidak ada program merawat atau menumbuhkan pohon. Tapi di MI Al Hidayah dilakukan gerakan siswa menanam dan menumbuhkan pohon. Masing – masing siswa diberikan satu buah pohon lalu siswa menanam dan memberi nama pohon tersebut dengan nama si penanam. Agar mereka bertanggungjawab merawat pohon tersebut hingga tumbuh subur.

Sampahku Tanggungjawabku

Masing – masing kita adalah produsen sampah. Setiap hari kita menghasilkan sampah baik berupa sampah organik dan non organik. Sekecil apapun sampah itu bila ada sepuluh orang bahkan lebih membuangnya secara sembarangan maka lingkungan tersebut terlihat kotor. Dari itu di MI Al hidayah dibuat gerakan “sampahku tanggungjawabku”. Bahwa semua warga sekolah bertanggungjawab terhadap sampah masing – masing sehingga dipastikan tidak ada sampah yang bukan pada tempatnya. Ketika salah satu warga sekolah lalai dalam membuang sampahnya maka tugas yang lain mengingatkannya.

Kegiatan 3R (Reduce, Reuse, recycle)

Sampah juga bisa diolah kembali dan digunakan kembali. Kegiatan pengelolaan sampah ini sudah diterapkan di MI Al hidayah salah satunya komposting. Sampah organik yang sudah dipilah dijadikan pupuk untuk merawat pohon yang sudah ditanam siswa. Selain itu barang- barang jenis plastik di-reuse secara sederhana untuk mempercantik dinding dan halaman sekolah. Sehingga bisa terlihat bahwa MI Al hidayah merupakan sekolah berwawasan lingkungan.

Melalui konsisten melakukan kegiatan peduli lingkungan ternyata telah menghantarkan MI Al hidayah meraih penghargaan Adiwiyata Tingkat Kota Medan tahun 2017 dan penghargaan Adiwiyata Tingkat Propinsi Sumatera Utara tahun 2018 yang lalu.  Dan insyaAllah sedang mempersiapkan diri menuju Adiwiyata Tingkat Nasional tahun 2019. Semoga Allah meridhoi.

Namun hal yang paling penting dari keberadaan sekolah adiwiyata ini adalah terbentuknya karakter anak – anak yang peduli terhadap masa depan bumi. Karena sudah menjadi pembiasaan sehingga lahir ketulusan dan kesadaran menjaga lingkungan agar lebih sehat, bersih dan nyaman.

Kontributor : Sri Ningsih Pardosi,Ssi (Kepala MI Al Hidayah Medan)

Kesederhanaan Dalam Sebuah Dinding (Bukan) Tembok

Kesederhanaan Dalam Sebuah DInding (Bukan) Tembok

Piska Yunita, Kawan SLI Angkatan 2 Penempatan Konawe Selatan

Pendampingan Sekolah Literasi Indonesia di kabupaten Konawe Selatan, Kecamatan Tinanggea terdiri dari lima sekolah. Salah satunya adalah MI Raudhatul Jannah yang terletak di desa Bomba-bomba. MI Raudahtul Jannah sudah berdiri sejak 12 tahun yang lalu, dibina oleh bapak Imanuddin sekaligus menjadi kepala yayasan dan kepala sekolah tersebut.

MI Raudhatul Jannah terdiri dari lima guru yang aktif yang tiap hari datang ke sekolah, seorang kepala sekolah, dan seorang “Guru jam terbang” yang hanya beberapa hari di sekolah. Kepala sekolah MI Raudhatul Jannah tidak hanya bertugas mengelola sekolah, tetapi sebagai pengajar sekaligus wali kelas. Hal ini dikarenakan secara administrasi MI Raudhatul gurunya sanagt minim. Tentu ini bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah saja, tetapi juga elemen yang ada di sekolah tersebut misalnya guru maupun dinas pendidikan setempat.

Tidak saja kekurangan guru, MI Raudhatul Jannah juga kekurangan sarana dan prasarana sekolah seperti : bangunan sekolah baik, ruangan kelas maupun perpustakaan sekolah yang layak, dan nyaman bagi peserta didik untuk belajar. Tidak sesempurna sekolah lain yang berlandaskan tembok dengan ruang yang besar, MI Raudhatul Jannah hanya dilandasi bangunan kayu. Walaupun seperti itu, MI Raudhatul Jannah mempuyai sumber daya manusianya yang bagus seperti guru-guru yang memiliki semangat rasa memiliki terhadap sekolah yang kuat. Bagi guru-guru disana yang menjadi hal terpenting bagi mereka adalah semangat peserta didik yang mau belajar.

 

Ada Tanggung Jawa Besar Dibalik Amanah

Ada Tanggung Jawa Besar Dibalik Amanah

Oleh: Sarno, M.Pd Kepala Sekolah Cerdas Literasi SDN 05 Saparan

 

Tugas adalah amanah yang harus dijalankan. Menjalankan amanah dengan ikhlas adalah ibadah, maka sejak saya mendapatkan tugas di SDN 05 Saparan Kecamatan Jagoi Babang Kabupaten Bengkayang, saya berusaha untuk menjalankan tugas ini dengan baik sesuai dengan kemampuan saya.

Pada 28 Oktober 2004, saya mendapat tugas baru selain menjadi guru yaitu sebagai kepala sekolah di SDN 05 Saparan, sebelumnya saya bertugas di SDN 10 Saparan. Ketika saya pertama masuk di SDN 05 Saparan banyak hal baru yang saya pikirkan diantaranya dari mana saya memulai,`akan saya bawa kemana sekolah ini, bagaimana membawanya, dengan siapa saya menjalankan semuanya? Pada hari berikutnya saya ajak guru yang ada untuk musyawarah, akhirnya beberapa data berhasil saya kantongi, data yang saya temui pertama adalah di sekolah itu ada 6 kelas dan hanya ada tiga orang guru padahal muridnya ada seratus empat anak, selain itu jarak antara tempat tinggal saya dengan sekolah memang tidak terlalu jauh hanya 7 km, tapi jalannya sangat susah dilalui kendaraan itu salah satu  masalah/kendala yang saya hadapi di saat pertama kali saya bertugas sebagai Kepala Sekolah di SDN 05 Saparan. Maka langkah pertama yang saya lakukan adalah silaturahmi dengan tokoh masyarakat kebetulan rumah kepala desa dekat dengan sekolah, dalam silaturahmi dengan kepala desa, saya mendapatkan beberapa petunjuk dari beliau, diantaranya yaitu adanya kesepakatan antara saya dan kepala desa untuk kerja bakti memperbaiki jalan menuju sekolah dan pembuatan pagar sekolah yang dilakukan oleh orangtua murid (Komite Sekolah).

Untuk menjalankan tugas dengan baik di suatu sekolah yang jumlah rombelnya ada 6 dan jumlah murid 104 anak dengan 3 orang guru pastinya kami mengalami kesulitan, maka kami berusaha bagaimana untuk mendapatkan tenaga pengajar. Setelah saya bertugas satu tahun di SD yang saya pimpin, sekolah kami mendapat tambahan satu orang guru sehingga jumlahnya jadi 4 orang guru, untuk memenuhi kekurangan saya mengangkat 2 orang guru tidak tetap (honor) sehingga jumlah menjadi 6 guru.

SDN 05 Saparan telah memiliki tenaga pengajar yang cukup lumayan, setiap kelas dipegang oleh satu guru, tinggal bagaimana mencapai visi dan misi yang diharapkan, dengan kerja sama yang baik diantara guru-guru yang ada dan didukung oleh masyarakat/Komite, tahun demi tahun SDN 05 Saparan menunjukkan hasil yang semakin meningkat, terbukti dalam akreditasi sekolah SDN 05 Saparan juga sudah terakreditasi walaupun nilainya C. Pada seleksi OLIMPIADE MIPA sering menjadi perwakilan di tingkat  kabupaten, dalam bidang olah raga juga tidak ketinggalan, tahun 2009 SDN 05 Saparan juga mewakili kabupaten Bengkayang ketingkat provinsi dalam cabang bulu tangkis.

Pada tahun ajaran 2010/2011 SD 05 Saparan mendapat tenaga pendamping dari Dompet Dhuafa Pendidikan selama satu tahun, bimbingan, arahan, petunjuk serta beberapa pelatihan yang diberikan kepada guru-guru ternyata bisa menambah semangat dan kreatifitas guru-guru dalam menyampaikan materi pelajaran kepada anak-anak, sehingga tahun ajaran 2010/2011 SDN 05 Saparan mendapat rangking satu se-UPT Dinas Pendidikan Seluas dalam pelaksanaan UAS dan UAN yang terdiri dari 45 SD dengan jumlah peserta enam ratus siswa lebih dalam sejarah perjalanan SDN 05 Saparan baru ini mendapat juara satu se-UPT, prestasi dalam bidang olah raga juga masih bias terlihat saat O2SN tahun 2011, SDN 05 Saparan menjadi duta UPT Dinas Pendidikan Seluas untuk maju ketingkat kabupaten dan hasilnya bulutangkis double dan single masih merebut juara tiga tingkat kabupaten.

Yang paling membanggakan bagi kami di tahun 2011 ini adalah diterimanya anak didik kami di SMART Ekselensia Indonesia Muhammad Azmi. Mengapa bangga? Karena satu satunya peserta dari Kalimantan Barat hanya satu yang diterima dari beberapa peserta lainnya yang ikut seleksi, maka kami patut bersyukur dan terima kasih kepada Dompet Dhuafa Pendidikan yang telah memberikan pendampingan kepada SD kami dan juga terima kasih Kepada kepala Dinas Pendidikan Kabupaten, Ka UPT Dinas Pendidikan Seluas, Pengawas TK/SD kecamatan Jagoi Babang, guru-guru SD 05 Saparan, Komite dan seluruh pihak yang mendukung keberhasilan SDN 05 Saparan, semoga SDN 05 Saparan lebih meningkat dan berprestasi di tahun yang akan datang. Selamat berjuang!

Bisa Bercerita, Tetapi Belum Bisa Baca

Tepat satu hari sebelum Hari Kunjung Perpustakaan, saya datang ke sekolah salah satu dampingan program Gemari baca  untuk melakukan monitoring, evaluasi dan supervisi kegiatan membaca. Seperti biasa sekolah sepi, karena siswa/i sibuk di ruang kelas masing – masing, kemudian saya langsung masuk ke ruangan perpustakaan yang kondisinya lebih nyaman dibanding sebulan sebelumnya. Bagaimana tidak? Ruangan yang awalnya kosong itu sekarang memiliki karpet yang tebal dan sudah berAC, maklumlah kabupaten Tangerang ini juga dikenal akan hawa panasnya, dengan ruangan berAC jangankan anak – anak sayapun betah, apalagi desainnya sangat nyaman dan ada deretan buku anak dengan cover menghadap depan.

Saat saya sedang menunggu, tibalah seorang guru dan pasukan siswa/inya datang untuk melakukan kegiatan membaca. Kehadiran saya di perpustakaan tersebut juga tak lain untuk mensupervisi kegiatan membaca lantang di kelas satu dan membaca berpasangan di kelas dua yang dilakukan oleh guru tersebut.

Saya menemukan kejadian yang sangat menarik. Ini terjadi saat sesi menceritakan kembali, Seusai aktivitas membaca, kami biasanya meminta beberapa siswa maju ke depan untuk menceritakan isi buku yang dibacanya.

“Naah…. sekarang bu guru mau meminta teman – teman untuk maju ke depan. Siapa yang berani untuk menceritakan kembali?” Sang guru bertanya

“Saya bu!” ucap seorang Siswa bernama Aboy

“Aduuhhhhh, gimana ni bu, si Aboy belum bisa baca tapi malah pengen ke depan” guru tersebut berbisik dengan suara pelan kepada saya. Saya hanya tersenyum mempersilahkan

“Silahkan Aboy dan temannya untuk maju ke depan”, Sang guru memilih untuk mempersilahkan Aboy dan temannya untuk ke depan

Dengan penuh ekspresi dan percaya diri Aboy berdiri di depan, ia bercerita tentang dunia kolam yang merupakan cerita dari buku yang dibacanya, dimana di dalamnya beragam hewan tumbuh di sana. Aboy bercerita dengan lancar, iapun bisa menjawab pertanyaan gurunya dengan baik.

Saya melihat jelas ekspresi kaget dari sang guru, “waaah… Bagaimana bisa ya bu Aboy bercerita dengan lancar? padahal ia belum bisa baca sama sekali, sampai saya harus mengadakan les khusus untuknya”, sang guru sangat keheranan

Saya sampaikan pada gurunya, hal demikiann merupakan dampak dari pembiasaan membaca. Membaca tidak hanya diartikan mengeja huruf per huruf, tetapi mampu mendefinisikan dan mengimajinasi gambar dan menghubungkannya dalam kehidupan sehari – hari. Dua kejadian tadi membuat sang guru semakin menyadari dampak aktivitas membaca juga bisa mendorong keterampilan dan penguasaan siswa terhadap materi ajar. Selama ini guru – guru di sekolah tersebut kurang antusias menerima program – program yang kami berikan , tetapi hanya dari satu kejadian tersebut sang Guru menjadi semakin semangat menerapkan kegiatan membaca menjadi pembiasaan di sekolah.

Hari berikutnya, tepat 14 September 2019 Tiga Belas sekolah dampingan merayakan Hari Kunjung Perpustakaan. Banyak sekali aktivitas yang digalakkan oleh sekolah, masing – masing memiliki inovasi kegiatannya sendiri. Seperti SDN Waringin dengan program unggulannya, Gebuk, Gelar Buku, perpustakaan yang mini membuat SDN Waringin harus memutar otak agar seluruh siswa dan orang tua bisa menikmati kegiatan membaca tanpa harus berdesakan di ruangan perpustakaan. Adapula kegiatan KUACI, Komunitas orang tua cinta literasi, meningkatkan minat baca penting sekali didukung poleh orang tua sehingga program dapat berjalan maksimal.

Perayaan Hari Kunjung Perpustakaan tersebut membuat saya selaku pengelola program Gemari Baca merefleksikan diri, ada lima  hal yang patut dijadikan bahan renungan :

Pertama, program ini tidak hanya mendorong keterampilan membaca, tetapi juga agar bagaimana anak – anak memiliki hubungan spesial dengan buku – buku. Keminatan tidak bisa dibangun dengan sekedar penyediaan akses yang lengkap, tetapi harus dibangun dengan hubungan yang tulus antara guru, siswa dan buku.

Kedua, keterampilan membaca tidak bisa selalu dinilai dengan terampilnya anak membaca aksara, tetapi juga bagaimana ia bisa mengambil pelajaran dan menghubungkan dengan kehidupan mereka sehari – hari, juga mampu mengambil dan menebarkan manfaat dari buku yang ia baca.

Ketiga, idealisme program Gemari Baca terkadang berbenturan dengan kebijakan di sekolah. Contoh yang paling sering terjadi adalah penentuan tanggal pembinaan dan pelatihan, terkadang bisa ditunda satu atau dua bulan agar sesuai dengan jadwal sekolah yang padat. Terlepas dari semua itu, program harus tetap diberikan. Tidak ada kata terlambat, setiap sekolah memiliki waktu cemerlangnya masing – masing.

Keempat, ruangan perpustakaan kami dorong agar bisa sangat nyaman. Tidak dimungkiri bahwa di sebuah sekolah perlu ada tempat rekreasi, tempat anak – anak bisa santai tanpa terbebani dengan rutinitas belajarnya. Desain yang nyaman di perpustakaan harapannya dapat mewujudkan hal tersebut. Meski, tidak semua anak datang ke sana untuk membaca, setidaknya hanya dengan berdiam diri di perpustakaan, lambat laun akan mendorong dirinya mengambil buku yang menarik minat hati mereka.

Kelima, tidak ada program yang dikatakan sangat bagus, atau sangat buruk. Semua memiliki waktu dan tempatnya masing – masing. Karena setiap sekolah dan setiap SDM di dalamnya memiliki karakteristik yang berbeda – beda.

Hari Kunjung Perpus (4)

Hari Kunjung Perpus (4)

Halo Arjun, Terima Kasih

Halo Arjun, Terima Kasih

Oleh: Fera Arista Wardani

Pendamping Sekolah Cerdas Literasi SDN 6 Sungai Danau, Tanah Bumbu (Kalimantan Selatan)

Ketika itu saya melihat Arjun berlarian di kelas. Padahal, guru Arjun berada tepat di depan tempat duduknya. Tetapi, sepertinya ia tidak memiliki rasa takut, termasuk kepada guru di kelasnya.

MELIHAT KONDISI kelas seperti itu, tiba-tiba terbersit keinginan saya untuk meminta jam pelajaran kelas 3B untuk keesokan harinya. Saya pun diizinkan untuk mengisi materi kelas tersebut. Kebetulan guru kelas belum menerapkan pelajaran tematik. Esoknya saya sematkan pelajaran Bahasa Indonesia, Matematika, dan IPS secara tematik sederhana.

Saya masuk kelas dengan disambut ucapan salam dari siswa hebat seperti biasanya. Doa belajar dan kata sapaan bersama-sama pun diucapkan siswa, “Selamat pagi, Bu, Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabara-katuh….”

Dengan lantang dan penuh semangat saya menjawab, “Wa’alaikumussalam warrahmatullahi wabara-katuh. Selamat pagi! Apa kabar anak Indonesia?”

Siswa pun dengan riang dan bersemangat menjawab sapaan saya, “Semangat pagi! Cerdas, ceria!”

Hari itu saya mengambil tema lingkungan. Mereka akan mengerjakan tugas yang sudah saya siapkan semalam.

“Kita mau belajar apa hari ini?” Tanya saya.

Arjun, seperti biasa, jalan mondar-mandir di depan kelas. Bahkan dengan san-tainya berdiri di kursi saat saya menjelaskan.

Tanpa penjelasan yang panjang, saya melontarkan kata. “Hari ini kita tidak belajar dengan buku, tapi kita belajar sambil bermain, siapa yang mau?”

Serentak semua menjawab. “Saya, Bu! Saya, Bu!”

Arjun tampak keheranan melihat teman-temannya bersemangat dalam belajar.

Saya membagi mereka menjadi empat kelompok. Tugasnya adalah menga-mati aktivitas yang ada di sekolah, kemudian mencatatnya dan menghitung jumlah siswa yang melakukannya. Setelah itu, secara berkelompok dibuat beberapa buah kalimat dari rangkaian aktivitas tersebut sehingga menjadi karangan singkat. Ka-rangan yang paling bagus akan ditempel di majalah dinding sekolah.

Saya langsung meminta Arjun untuk memimpin kelompok. “Oke, Arjun anak hebat, kamu pimpin kelompok 1 ya, Nak. Catat aktivitas di sekitar area dekat tanaman. Amati dan catat apa yang siswa-siswa lainnya lakukan di sana”.

Saya kaget saat ia menjawab, “Baik, Bu. Ayo berataan kita keluar!” Arjun dengan suara mantap mengajak keluar teman-teman sekelompoknya.

Waktu yang diberikan tiga puluh menit. Saya mengamati Arjun, siswa yang selama ini dikenal sangat aktif saat di kelas. Saking aktifnya, ia jadi sering tidak memerhatikan guru di kelasnya.

Dari kejauhan saya melihat Arjun memang sering berlari-larian sambil membawa buku dan penanya. Seketika ia menghampiri saya, “Ibu, contohnya seperti ini?” Saya membaca tulisannya, dan ia ternyata paham apa yang menjadi tugasnya.

Karakter dan sifat masing-masing peserta didik memiliki keunikan tersendiri. Untuk itu, guru seyogianya tidak lantas menyalahkan peserta didik yang tidak memerhatikannya di kelas dan kerap membuat keributan atau tindakan lain-

nya. Hendaknya kita sebagai seorang pendidik berkaca dan berintrospeksi diri; apakah ada yang salah dalam metode pembelajaran yang diajarkan.

Sangat jelas, peserta didik akan bosan dengan penjelasan yang diberikan guru jika hanya mengandalkan ceramah dan ceramah. Siswa seperti Arjun sebenarnya bisa menjadi inspirasi pembelajaran bagi siapa saja. Di sinilah pentingnya kemauan guru untuk terus belajar, mau meng-upgrade diri. Guru harus mau mencoba hal-hal yang baru dan keluar dari zona nyaman.