Makmal Penddikan Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Anak Adalah Investasi yang Tidak Ada Habisnya

Anak Adalah Investasi yang Tidak Ada Habisnya

Oleh: Siti Sahauni, Alumni KAWAN SLI

 

Setiap anak yang lahir ke dunia lahir dalam keadaan fitrah, suci dan bersih. Bahkan bau surga masih menyelimuti mereka. Kedua orang tuanyalah yang mengantarkan mereka menjadi orang lain. Seperti yang diterangkan dalam hadis riwayat Muslim, “Setiap bayi yang terlahir dalam keadaan fitrah (suci), orang tuanyalah yang membuat bayi itu menjadi Yahudi atau Majusi”.

 

 

Di era modern ini, peran orang tua baik di daerah maupun di kota tidak jauh berbeda. Mereka memiliki andil besar dalam membimbing dan mengarahkan anak-anaknya menjadi pribadi yang tidak hanya unggul di segi pendidikan namun juga pada akhlakul kharimahnya.

 

 

Pada beberapa kalangan orang tua, persoalan pendidikan selalu dikaitkan dengan ekonomi. Misalnya bagi orang tua yang strata ekonominya berada di bawah rata-rata, sekolah bukan menjadi suatu keharusan. Sehingga ketika mereka dapat mengupayakan anaknya sekolah bahagianya bukan kepalang. meski hanya sampai pada tingkatan tertentu saja.

 

 

Ketiadaan ekonomi akhirnya memunculkan masalah klasik yang cukup pelik dan getir. sehingga tiada kekhawatiran bagi orang tua yang berada di bawah garis kemiskinan. Karena kekhawatiran mereka telah dialihkan pada sebuah kenyataan akan keberlangsungan hidup. Yang tak dapat ditampik kemudian memaksanya untuk sedikit mengacuhkan dua hal yang sebenarnya memberikan pengaruh besar pada anak-anaknya di kemudian hari.

 

 

Secara tidak langsung, orang tua yang melakukan tindakan demikian sebenarnya tengah membunuh mimpi anaknya pelan-pelan. Mimpi di mana suatu saat nanti anaknya akan membawa perubahan besar, tidak hanya mengubah strata pendidikan pada keluarganya. Dirinya juga untuk daerahnya, suatu kebanggaan yang tak ternilai harganya.

 

 

Ketakutan serta kekhawatiran yang dirasakan oleh orang tua memang naluriah. Namun, sungguh pun demikian ketidakcukupan sandang dan pangan menjadi penghalang untuk memenuhi kebutuhan anaknya. Maka mereka telah meragukan penciptaNya dan tidak mengakui kebesaran-Nya sebab Allah Swt. menegaskan agar kita tidak takut miskin hanya karena mempunyai anak. “Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka (Qs. Al-An’am:151). Karena harta yang kita miliki tidak hanya sebatas materi. Melainkan memiliki seorang anak. “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia” (QS. Al kahfi: 46).

 

 

Anak yang saleh dan salehah dambaan setiap orang tua. Terlepas dari itu semua, keutamaan kedua orang tua tidak hanya membesarkan anaknya, melainkan memberikan peneladanan. Karena pendidikan yang pertama kali diperoleh anak adalah ketika mereka berada dalam lingkungan rumah yakni keluarga, bapak dan ibunya. Sehingga tindak tanduk orang tua tidak akan terlepas dari sorotan anaknya.

 

 

Orang tuanyalah yang akan menjadi agen perubahan bagi anaknya. Sikap dan sifat yang melekat pada diri seorang anak juga tergantung dari orangtuanya. Sehingga sejatinya sebagai orangtua yang baik dimata orang lain dan pencipta-Nya adalah mereka yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pendidikan umumnya saja. Melainkan juga diberikan kekuatan pondasinya melalui pembekalan agama.

 

 

Pendidikan agama memang diperoleh anak ketika mulai masuk sekolah. Tetapi, kadar yang diberikan oleh sekolah jauh lebih banyak diterima ketika anak berada di dalam rumah. Bimbingan seorang ibu yang telah melahirkan akan lebih mengena ketimbang orang lain.  Allah Swt. memaparkan dengan jelas bahwa orangtua amat berperan penting dalam mengarahkan dan menanamkan ketauhidan kepada anaknya. “Wahai anakku! Laksanakanlah salat dan suruhlah (manusia) berbuat yang ma’ruf dan cegahlah (mereka) dari yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu, sesungguhnya  yang demikian itu termasuk perkara yang penting (QS. Luqman:17).

 

 

Alangkah besarnya pengaruh orang tua terhadap investasi masa  depan seorang anak. Mereka yang telah menyadari perannya dengan baik maka menanam kebaikan pada seorang anak akan terbiasa dilakukan. Apalagi bila kebaikan yang dibiasakan dapat membawa keberkahan pada anaknya. Anak adalah investasi yang tidak ada habisnya. Bahkan memiliki seorang anak yang membanggakan tidak akan menjadi sia-sia. Karena benih kebaikan yang kita berikan suatu hari nanti akan berkembang cantik lagi indah rupanya. Mengharumkan kita. Orang tuanya di dunia dan akhirat.

Sebelum Lulus Beri Siswa Lingkungan Positif dan Ruangan Aktualisasi Diri

Oleh: Asep Sapa’at

 

Bagi sekolah, alumni bisa menjadi anugerah atau menghadirkan musibah. Anugerah jika alumni punya prestasi yang bisa mengangkat nama baik sekolah. Sebaliknya, musibah jika alumni menjadi dalang di balik tewasnya salah satu siswa di gelanggang perkelahian ala gladiator pada 2016 lalu. Bagaimana sesungguhnya sekolah harus merawat alumninya?

 

 

Ada beberapa catatan kritis dan penting menyoal peristiwa ini. Persoalan pertama, tragedi ini melibatkan dua sekolah elit di Bogor dan rutin dilakukan jelang event kompetisi bergengsi. Dalam konteks peristiwa ini, kita bisa meyakini bahwa budaya kekerasan dan kebencian telah diwariskan antar generasi. Dugaan ini amat rasional karena yang menjadi promotor dari tawuran ala gladiator ini melibatkan alumni dari kedua sekolah tersebut. Apa yang sudah dilakukan sekolah terhadap para alumninya?

 

 

Alumni adalah sosok yang pernah diajar dan dididik di bangku sekolah. Maka, apa yang pernah mereka alami dalam situasi pembelajaran di kelas dan budaya hidup di lingkungan sekolah sangat berpengaruh terhadap cara berpikir dan bersikap mereka setelah mereka lulus nantinya.

 

 

Kualitas alumni ditentukan kompetensi dan karakter. Kompetensi ibarat rumput ilalang. Karakter ibarat padi. Menanam padi pasti tumbuh ilalang. Menanam ilalang mustahil tumbuh padi. Mendidik perilaku baik, masih juga terselip keburukan. Perilaku buruk itu akan berkembang sendiri, tak usah diajari. Yang jadi soal, apa yang harus dilakukan sekolah agar kompetensi murid berkembang baik dengan karakter sebagai fondasinya? Komitmen, konsistensi, dan kreativitas sekolah dalam merancang sistem pendidikan yang bisa mengatasi perilaku buruk murid, itulah karya sekolah yang sesungguhnya. Dalam kasus ini, secara tegas kita bisa menyatakan bahwa sekolah belum berhasil membangun fondasi karakter yang kokoh pada diri anak.

 

 

Persoalan kedua, alumni yang diduga jadi otak peristiwa perkelahian, keduanya ternyata pernah mengalami drop out. Kita patut merenung, apakah drop out merupakan pilihan terbaik dari sekolah untuk menyelesaikan persoalan perilaku menyimpang yang dihadapi anak-anak kita?

 

 

Banyak sekali murid drop out karena merasa terasingkan di sekolah. Ada dua sebab mereka dikucilkan. Bisa karena dianggap bodoh atau nakal. Naasnya, persepsi bodoh dan nakal lebih sering diciptakan dalam ruang persepsi orang tua dan guru. Kuat dugaan saya, kedua alumni yang pernah dikeluarkan dari sekolah merasa terasingkan karena mereka dianggap biang onar saat bersekolah. Terlebih jika kedua anak tersebut dibesarkan dalalm pola asuh orang tua yang disesaki suasana kekerasan secara fisik maupun psikologis.

 

 

Sebenarnya, persoalan rendahnya motivasi belajar dan ketidakdisiplinan anak dalam situasi pembelajaran di ruang kelas menjadi penanda paling akurat untuk mengidentifikasi masalah sejak dini. Anak yang ogah belajar, selalu membuat keributan di kelas, tak menunjukkan disiplin dalam mengerjakan tugas, bolos mengikuti pelajaran, kerap tidak mendapatkan perhatian khusus dari guru-guru di sekolah. Padahal seharusnya guru mempunyai siasat untuk membuat anak merasa mampu untuk belajar. Para guru harus mendesain pembelajaran yang kontektual, bermakna, dan melibatkan semua ranah (kognitif, afektif, psikomotorik) secara total. Hal ini bisa membangkitkan motivasi belajar anak. Pada akhirnya, mereka bisa memiliki persepsi positif tentang diri mereka serta hasil belajar mereka.

 

 

Di sisi lain, persoalan disiplin harus diatasi sedini mungkin. Sikap tak disiplin harus dididik. Jangan sampai anak punya sikap disiplin karena ketidakdisiplinannya. Masalah ketidakdisiplinan bisa diatasi oleh sosok guru pemimpin. Siapa guru pemimpin itu? Mereka adalah figur yang berfokus pada pembenahan karakter dan masa depan anak, menggunakan pengaruh mereka untuk memotivasi anak, dan sangat memahami pikiran dan perasaan anak (Goode-Vick, 1985). Jadi, masalah belajar dan kedisiplinan yang dihadapi anak sebenarnya bisa diatasi di lingkungan sekolah.

 

 

Yang naif, persoalan jadi makin pelik karena anak yang punya masalah dalam hal belajar dan perilaku disiplin di sekolah malah lebih sering diabaikan ketimbang mendapatkan perlakuan yang tepat dan kasih sayang dari orang-orang sekitarnya. Akhirnya, sikap pengabaian inilah yang membuat masalah makin matang dan besar. Sehingga ungkapan amarah, brutalitas, kebencian yang dirasakan menjadi manifestasi perasaan keterasingan dan pengabaian itu. Menarik untuk mengungkap rekam jejak kedua alumni tersebut, apakah mereka memiliki masalah motivasi belajar dan kedisiplinan saat mereka bersekolah dulu?

 

 

Persoalan ketiga, bagaimana cara kedua sekolah elit tersebut menghentikan tradisi kekerasan yang dilakukan para alumninya? Belajarlah pada SMAN 6 Yogyakarta. Mereka berhasil mengikis tradisi kekerasan dan membangun citra menjadi “The Research School of Jogja”. Apa rahasianya? Semua korps pendidik di SMAN 6 Yogyakarta memiliki pemikiran komperensif bahwa tak mungkin mencegah perilaku tawuran dan kekerasan tanpa memberikan pilihan kegiatan sebagai ruang aktualisasi bagi murid-murid. Tradisi otot mendapat imbangan tradisi akal dan hati. Dengan komitmen dan konsistensi, SMAN 6 Yogyakarta berhasil membangun tradisi baru menjadi sekolah yang memiliki reputasi bagus di bidang penelitian dan karya ilmiah remaja. Cara cerdas dan bijak dalam merawat salah satu aset berharga sekolah, yakni para alumni.

 

 

Tak ada kata mudah bagi sekolah untuk mengatasi setiap kasus tawuran dan kekerasan. Yang lebih tidak mudah lagi adalah melesakkan nilai-nilai sekolah kepada para alumninya. Ada sekolah yang gemar bolak-balik berurusan dengan hukum karena menyelesaikan persoalan tawuran para murid dan alumninya. Ada juga sekolah yang lebih senang bersandiwara menutup semua kasus kekerasan untuk kepentingan pencitraan sekolah.

 

 

 

Ibarat peribahasa, sekali mendayung satu dua pulau terlampaui. Strategi kebijakan SMAN 6 Yogyakarta jelas layak ditiru. Tradisi kekerasan terkikis dan berubah menjadi tradisi penelitian yang unggul. Karena mereka sadar, aset terbaik sekolah adalah alumni. Bagaimana cara terbaik merawat alumni sekolah? Beri mereka lingkungan positif dan ruangan aktualisasi diri saat di sekolah sehingga mereka punya kenangan mengesankan yang takkan pernah bisa dilupakan.

Tanpa Adanya Ruang Baca Bagaimana Anak Bisa Berkarya

Tanpa Adanya Ruang Baca Bagaimana Anak Bisa Berkarya?

 

Adanya, tanggung jawab pemerintah untuk membangun sebuah sekolah menjadi hal yang sangat penting dalam dunia pendidikan. Dalam dunia pendidikan istilah pembangunan tidak hanya berbicara tentang sebuah gedung yang begitu mewah dan megah, gedung sederhana, minimalis dan layak saja sudah cukup untuk bisa dijadikan sebuah pembangunan pendidikan.

Membangun pendidikan yang berkualitas tidak bisa hanya berbicara satu ruang lingkup saja, banyak pakar pendidikan sudah merumuskan tentang pembangunan pendidikan. Hingga saat ini kita bisa mengenal pendidikan berkarakter, padahal masih banyak lagi tentang pendidikan yang harus bisa dijadikan sebuah landasan. Di mana harus adanya sebuah titik awal, adanya sebuah proses dan adanya sebuah hasil yang kemudian harus dievaluasi bersama, tidak ada yang benar-benar jadi sebelum adanya sebuah langkah awal dan melakukan proses dengan cara yang baik.

Sekolah yang merupakan tempat siswa dan siswi belajar selain di rumah dan di lingkungan masayarakat, memiliki tanggung jawab yang besar. Bagaimana agar siswa dan siswi bisa belajar dengan baik, belajar dengan aman, nyaman dan tenang. Hal ini harus sudah dipersiapkan oleh sekolah untuk bisa mengali potensi setiap siswa, karena pada hakikatnya adalah Sekolah merupakan tempat siswa dan siswi untuk berkarya dan memberikan hasil nyata. Mengapa? Disanalah dikembalikan pada tahapan persiapan dan proses perencanaan Sekolah yang baik.

Banyak karya hasil anak bangsa yang bisa mengangkat Negara tidak terlepas bagaimana bimbingan dan pendidikan yang diajarkan di Sekolah, maka sudah saatnya ciptakan Sekolah untuk tempat siswa dan siswi untuk terus berkarya menciptakan hasil nyata agar bisa dilihat dunia. Tidak ada tempat untuk melakukan hal-hal yang bisa membuat siswa-siswi anak bangsa untuk berkarya tanpa adanya ruang baca tempat untuk mereka bisa berkarya. (Noly)

Perubahan Media Pembelajaran di Masa Revolusi Industri 4.0

Perubahan Media Pembelajaran di Masa Revolusi Industri 4.0

Oleh: Khabib Anwari, Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA)

 

Perkembangan zaman menuntut manusia untuk selalu siap menghadapi perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek kehidupan manusia yang mengalami perubahan adalah kebutuhan mendapatkan pendidikan. Saat ini pendidikan sudah masuk ke dalam kebutuhan pokok/primer manusia yang harus dipenuhi. Hal tersebut sebagai dampak kesadaran manusia bahwa pendidikan mampu meningkatkan kualitas diri seseorang dan mempengaruhi masa depan.

 

 

Maka dalam penyusunan dasar konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia dicantumkan tentang jaminan negara kepada rakyat untuk mendapatkan akses pendidikan. Tujuan pendidikan nasional sebagaimana dicantumkan dalam Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pemerintah adalah untuk mengembangkan kemampuan, karakter, dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Maswan dan Muslimin, 2017: 3).

 

 

Pemerintah sebagai pelaksana kekuasaan negara melakukan berbagai kebijakan dan penanganan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional secara komperhensif. Mulai dari aspek insfrastruktur hingga aspek kebijakan. Salah satu aspek yang diperhatikan oleh pemerintah adalah kurikulum pendidikan. Imam Machali (2014 : 71) menyatakan bahwa perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia telah dimulai sejak awal kemerdekaan. Kemudian kurikulum pendidikan yang masih sangat sederhana terus mengalami perubahan dan penyempurnaan yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 2004, 2006, dan terakhir tahun 2013. Berbagai perubahan tersebut dilakukan berdasarkan analisis, evaluasi, prediksi, serta kemungkinan tantangan internal maupun eksternal yang akan dihadapi di masa depan.

 

 

Kebijakan implementasi kurikulum 2013 yang menggantikan kurikulum 2006 atau sering disebut sebagai kurikulum KTSP nyatanya masih banyak menimbulkan pro dan kontra. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung implementasi kurikumum 2013 seperti Bimtek (Bimbingan Teknis), diklat, workshop, bahkan pendampingan kepada guru, pelaksanaan kurikulum 2013 masih belum optimal. Dikutip dari OkeZone.com, Staf khusus Mendikbud Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKMP3) menyatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi masalah guru dalam implementasi kurikurum 2013. Salah satunya adalah guru mengalami kesulitan dalam membuat siswa pro aktif karena guru dituntut untuk menjadi fasilitator agar siswa bertanya.

 

 

Di sisi lain, Imam Machali (2014 : 71) juga menyatakan hal yang hampir senada yaitu kurikulum 2013 menuntut siswa mampu menyelesaikan dirinya dengan lingkungan fisik maupun sosial yang terus berubah. Dari fenomena di atas bisa disimpulkan bahwa guru dituntut mengubah cara pendekatan pembelajaran, yaitu dari TCL (Teacher Center Learning) menjadi SCL (Student Center Learning).

 

 

Salah satu hambatan guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan pendekatan SCL adalah ketersediaan media pembelajaran yang menarik dan mampu mengakomodir siswa untuk berfikir kreatif, inovatif, dan mandiri. Media pembelajaran merupakan alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran (Sanaky Hujair AH, 2015:3). Dengan menggunakan media pembalajaran, guru dapat menyampaikan informasi kepada siswa guna mencapai tujuan pembelajaran dengan efektif dan efisien.

 

 

Para pakar pendidikan menganjurkan untuk menggunakan media yang lengkap dan mampu menyentuh berbagai indra agar membentuk pembelajaran yang berkesan (Nunuk Suryani, dkk. 2018 : 196). Salah satu media tersebut adalah multimedia. Menurut Smaldino, dkk (2008) menyatakan bahwa multimedia merupakan media yang menggabungkan unsur teks, audio, dan visual secara terintegrasi. Pembelajaran berbasis multimedia melibatkan hampir semua unsur indra sehingga siswa dapat belajar dengan mudah dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

 

Ada dua jenis multimedia, yaitu multimedia linear (satu arah) dan multimedia interakif (dua arah) (Nunuk Suryani, dkk. 2018 : 195). Multimedia linear tidak dilengkapi dengan alat pengendali dan berjalan secara sekuensial (berurutan) seperti video. Sedangkan multimedia interaktif mempunyai alat pengendali yang dapat digunakan oleh pengguna sehingga pengguna dapat menentukan apa yang ingin dilakukan pada proses selanjutnya. Dengan multimedia interaktif partisipasi siswa akan lebih besar sehingga dapat memahami materi lebih dalam sesuai dengan paradigma konstruktivistik.

 

 

Akan tetapi bukan suatu hal yang mudah untuk membuat media pembelajaran baik. Tidak jarang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mengalami keterbatasan dalam membuat media pembelajaran akibat berbagai factor seperti gaptek atau gagap teknologi dan kesibukan mengurus administrasi sekolah. Akibatnya guru membuat media pembelajaran yang sangat sederhana seperti power point atau bahkan tanpa media sama sekali. Padahal di sisi lain pembelajaran di SMK siswa dituntut untuk memahami berbagai materi dan ketrampilan yang melibatkan hampir semua panca indera karena 70% pembelajaran adalah kelas praktikum. Sehingga peran guru sebagai fasilitator siswa sangat tinggi.

 

 

Revolusi industri 4.0 saat ini menuntut dunia pembelajaran untuk ikut berbenah. Pendidikan pada revolusi industry 4.0 mempunyai cirikhas yaitu pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan system siber (cyber system) yang membuat pembelajaran dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa terbatas ruang dan waktu. Salah satu produk pembelajaran dengan cyber system adalah pembelajaran elektronik atau electronic learning (E-Learning). E-Learning merupakan pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer, atau internet baik secara online maupun didistribusikan secara offline seperti menggunakan CD/DVD (Perdana Hevea Bori, dkk. 2004).

 

 

Di sisi lain harus ada standar yang dipenuhi oleh sebuah media pembelajaran agar dapat masuk ke dalam e-learning, yaitu standar SCORM. SCORM atau Sharable Content Object Reference Model adalah standar internasional untuk system pembelajaran media e-learning yang dibentuk oleh United State Departement of Defence (DoD) pada tahun 1999. Dengan kata lain, sebuah media pembelajaran dapat dimasukkan ke dalam system e-learning apabila memenuhi standar SCORM. Ada 3 aspek kriteria utama, yaitu : (1) Interoperability, sistem harus mampu menghubungkan petunjuk – petunjuk yang dapat dimengerti dan diimplementasikan oleh pengembang e-learning. (2)  Accessibility, media dapat diterapkan, dimengerti, dan digunakan oleh banyak pihak. (3) Reuseability, memberikan izin pemetaan/perubahan model yang dikehendaki oleh pengembang.

Benarkah Kejujuran Ialah Wajah Pendidikan Indonesia?

Benarkah Kejujuran Ialah Wajah Pendidikan Indonesia?

Oleh: Purwoudiotomo

 

“BAGAIMANA, Pak, hari ini bisa datang ke sekolah kan?” tanya bu wakil kepala sekolah.

“Mohon maaf, Bu, hari ini saya ada rapat sehingga tidak dapat hadir,” jawabku setengah berkilah. Pagi ini memang ada rapat, tetapi aku sendiri yang mengagendakannya.

“Baik, Pak, terima kasih. Mohon doanya saja,” jawab suara di seberang sana.

Setelah mengucapkan salam, telepon pun ditutup. Giliran aku yang terdiam merenung. Terbayang olehku kesulitan murid-muridku dalam mengerjakan soal, apalagi standar nilai rata-rata setiap mata pelajaran terus naik dari tahun ke tahun. Ingatanku pun kembali ke pembicaraan dengan bu wakasek kurikulum beberapa hari lalu.

“Mohon maaf, Pak, langsung saja. Bapak tentu bisa menilai kemampuan anak-anak kita. Masih jauh di bawah standar. Hasil Try Out terakhir saja hampir tidak ada yang lulus. Jadi, kami ingin meminta kesediaan Bapak menjadi ‘Tim Sukses’ Ujian Nasional,” jelas bu wakasek kurikulum menjawab kebingunganku setelah sedikit berbasa-basi tentang perkembangan kelas yang aku ajar.

Aku terhenyak. Tiba-tiba saja semuanya menjadi jelas. Siswa-siswa belajar semaunya dan tampak ‘tenang’ walaupun hasil Try Out UN mereka masih sangat memprihatinkan. Sedikitnya siswa yang tidak lulus di sekolah ini, justru membuat guru-gurunya sering tidak masuk dan lebih memilih mengajar di sekolah lain. Belum lagi, bu wakasek yang tiba-tiba meminta bicara empat mata.

“Jadi teknisnya, kita dan beberapa guru yang mengampu mata pelajaran yang di-UN-kan akan berkumpul di ruang kepala sekolah untuk mengerjakan soal, untuk kedua tipe soal, baik IPA maupun IPS. Tidak harus menjawab semua soal sih, yang penting cukup membuat siswa lulus,” lanjut bu wakasek.

Aku terdiam. Sebagai guru bantu sementara mata pelajaran matematika, aku tahu benar ke(tidak)mampuan siswa-siswa salah satu SMA swasta di Jakarta ini. Sepertinya aku terlalu lugu. Strategi menyukseskan siswa lulus UN ini pastinya bukan kali pertama, dan besar kemungkinan keterlibatan dari seluruh komponen sekolah, termasuk kepala sekolah dan pengawas, atau bahkan mungkin struktur di atasnya. Ya, masif dan terstruktur.

“Mohon maaf, sepertinya pada hari itu saya ada rapat, Bu. Nanti saya kabari lagi,” jawabku lirih. Banyak yang berkecamuk di pikiranku. Melihat keraguanku, pun agak kecewa, bu wakasek tampak maklum dan tidak memaksa.

Lamunanku buyar mendapati satu pesan masuk di telepon genggamku. “Ternyata soal tidak dapat dibawa keluar, Pak. Kita doakan semoga lulus semua,” begitu bunyi pesan masuk dari bu wakasek kurikulum.

Aku hanya tersenyum, tidak lagi sepolos sebelumnya. Ketika kuceritakan kejadian ini ke salah seorang temanku yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah negeri di Bogor, dia hanya berujar, “Itu sih mendingan, di sekolah saya jawaban malah ditulis di depan kelas”. Dan aku kembali ternganga.

 

Siapa Bilang Relawan Tidak Dibayar?

Siapa Bilang Relawan Tidak Dibayar?

Oleh: Andi Ahmadi, Pegiat Sekolah Literasi Indonesia
Menjadi relawan itu identik dengan bekerja tanpa bayaran. Bahkan, tak jarang justru uang dari kantong pribadi yang dikeluarkan. Sungguh pekerjaan yang tak banyak orang bisa melakukan.
Jika dilihat dari kacamata materi, relawan memang tak mendapatkan ba
yaran. Karena aktivitasnya murni atas dasar kemanusiaan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, menjadi relawan akan mendapatkan bayaran yang sangat berlimpah. Berikut adalah beberapa bayaran yang bisa didapatkkan oleh seorang relawan.
Lingkaran Kebaikan
Orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik. Begitulah kata orang bijak. Dan nyatanya, hipotesis itu benar adanya. Dalam menjalankan aktivitas sebagai relawan, ada saja orang baik yang akan ditemui. Entah sekadar menjadi teman diskusi, memberikan hidangan saat bersilaturrahmi, memberikan tumpangan transportasi, hingga ada yang sampai menganggap sebagai keluarga sendiri.
Sebagai relawan, kita harus yakin bahwa dari sekian banyak orang yang kita temui, di antaranya pasti ada orang-orang baik yang sefrekuensi. Namun, jika belum juga dipertemukan dengan orang baik, tak ada salahnya kita instrospeksi diri. Jangan-jangan karena niat kita yang belum sepenuhnya baik.
Jaringan yang Luas
Menjadi relawan sudah pasti akan bertemu dengan banyak orang. Mulai dari sesama relawan, aktivis kemanusiaan, komunitas masyarakat yang memiliki kepedulian, para dermawan, hingga pejabat pemerintahan. Dengan jaringan yang luas tersebut, tentu akan bermanfaat bagi seorang relawan. Bukan hanya saat beraktivitas sebagai relawan, tetapi juga bermanfaat untuk dirinya di masa depan. Percaya atau tidak, tidak sedikit orang mendapat rezeki dari jaringan yang didapatkan saat menjadi relawan.
Pengembangan Diri
Salah satu wadah terbaik untuk mengembangkan kapasitas diri adalah di komunitas kerelawanan. Di sana kita akan belajar cara beradaptasi, cara bersosialisasi, cara bernegosiasi, hingga belajar mengembangkan ide-ide kreatif ketika realita tak sesuai dengan ekspektasi. Dan enaknya, belajar di komunitas kerelawanan kita tak perlu takut salah, berbeda dengan saat kita bekerja di perusahaan atau perkantoran. Bagi seorang pembelajar, kesempatan seperti ini jauh lebih berharga dari sekadar materi.
Kebahagiaan Hakiki
Bagaimana perasaan kita ketika melihat orang merasa bahagia dan terbantu dengan apa yang kita lakukan? Kita ikut bahagia bukan? Nah, seperti itulah yang dirasakan relawan. Bagi relawan, kebahagiaan terbesar adalah ketika ia bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan tentu saja kebahagiaan seperti ini tak bisa diukur dengan tumpukan uang.
Aliran Pahala
Bayaran terbesar dari seorang relawan adalah aliran pahala yang tak pernah jeda. Seperti yang kita ketahui, ada tiga amal yang pahalanya akan terus mengalir tanpa henti: sedekah jariyah, amal yang bermanfaat, dan doa anak shaleh. Maka, aktivitas kerelawanan bukan hanya tentang membantu sesama, tetapi juga sebagai tabungan pahala yang kelak akan kembali kepada kita.
Dengan segala manfaat kebaikan yang bisa didapatkan, maka menjadi relawan sejatinya adalah sebuah kebutuhan.
Selamat Hari Relawan Internasional

Esensi dari Sebuah Pendidikan Adalah Menkader Anak Didik

Esensi dari Sebuah Pendidikan Adalah Mengader Anak Didik

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

Satu hal utama yang kita usahakan dan doakan dalam hidup ini adalah memeroleh keberkahan. Hidup berkah, pasti penuh makna. Harta berkah, pasti banyak memberi manfaat. Pun dengan sekolah berkah, pasti banyak melahirkan anak-anak didik shalih dan shalihah.

Ya, keberkahan adalah permata kehidupan. Namun, seolah keberkahan perlahan-lahan mulai menjauh dari kehidupan umat ini. Saya ingin memfokuskan pembicaraan ini di tataran lembaga pendidikan (baca: sekolah).

“Ustaz, saya sedang galau nih,” demikian curhat seorang guru.

“Antum galau kenapa?” tanya saya.

“Saya mengajar Pendidikan Agama Islam dan Tahfizh di sekolah. Namun, ketika ada olimpiade dan Ujian Nasional, mata pelajaran saya seringkali dikalahkan untuk memberikan tambahan jam pelajaran bagi mata pelajaran yang diolimpiadekan dan di-UN-kan,” tutur si guru.

Saya hanya menjawab, “Saya khawatir sekolah antum kehilangan berkahnya.”

Terkadang kita keliru dalam memprioritaskan suatu hal dalam kehidupan ini. Contoh di atas adalah salah satunya. Padahal, kita bisa membuat mekanisme agar pelajaran PAI dan Tahfizh tidak menjadi “korban”. Contoh lain, ketika anak-anak digenjot habis-habisan aspek intelektualnya, namun ala kadarnya dalam membina aspek iman dan akhlaknya, maka saya khawatir sekolah seperti ini pun kehilangan berkahnya.

Sama halnya dengan sikap sebagian orang tua masa kini. Pengalaman memimpin sebuah sekolah Islam di Tangerang Selatan menampilkan fakta memilukan. Ketika guru kami menyampaikan kepada seorang wali murid bahwa anaknya “bermasalah” dalam mata pelajaran math, sains, dan english, maka si wali murid langsung sigap berkomitmen, “Saya akan memasukkan anak saya ke bimbel, bu guru.”

Namun, ketika guru kami menyampaikan bahwa anaknya “bermasalah” pada kedisiplinan salat dan menghafal Alquran, si wali murid hanya menjawab santai dan kurang serius dalam bekerjasama membina anaknya dalam aspek shalat dan menghafal Alquran. Maka, dalam hal ini, saya khawatir keluarga wali murid itu kehilangan keberkahan.

Demikian halnya, pada sebuah sekolah elit, manajemen sekolah yang lebih menghormati uang orang tua daripada menghormati guru-gurunya. Sehingga, sekolah menuruti apapun kemauan orang tua siswa dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan guru. Saya juga khawatir sekolah seperti ini kehilangan keberkahan.

Oleh karena itu, kita harus meluruskan kembali paradigma pendidikan agar keberkahan itu hadir di sekolah-sekolah kita. Supaya keberkahan itu juga menyertai anak didik kita. Juga agar keberkahan itu melingkupi semua yang terlibat dalam lembaga pendidikan kita. Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:

Pertama, utamakan ilmu-ilmu agama. Tujuan kita diciptakan ke bumi adalah untuk beribadah kepada Allah. Menjadi hamba yang ta’at. Maka, bina dan didik anak-anak agar menjadi hamba yang ta’at kepada Tuhannya. Menjaga ibadah dan menampilkan akhlak mulia. Karena itu, ajarkan iman dan tauhid, akhlak dan ibadah, serta ilmu-ilmu agama lainnya. Alquran dan Hadis sebagai fondasinya.

Setelah itu, baru ajarkan ilmu pengetahuan dan skill kepada mereka untuk menjadi khalifah. Karena, tujuan kedua keberadaan kita di bumi setelah beribadah adalah menjadi khalifah. Ajarkan dan latih anak-anak kita agar menjadi expert dibidangnya masing-masing. Dengan demikian, ia bisa berperan memberikan kemaslahatan bagi umat sesuai bidangnya. Berkarir pada profesi apapun nantinya anak-anak kita, ekonom, pengusaha, pejabat, teknokrat, dan lainnya, mereka adalah seorang hamba yang ta’at.

Kedua, menghormati guru (baca: pendidik sejati). Seorang murid harus diajarkan adab dan sopan santun kepada guru. Bukankah kita pernah mendengar sebuah nasihat, “Hormatilah gurumu jika kau menghendaki ilmu yang bermanfaat.” Demikianlah tradisi dari generasi salih terdahulu. Mereka memuliakan para ahli ilmu.

Satu ketika, guru dari putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid mengunjungi istana khalifah karena diundang oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Ketika sang guru tiba, putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid, yakni Al-Makmun dan Al-Amin, bergegas saling berebut membawakan sandal sang guru. Seorang pejabat istana melarang Al-Makmun dan Al-Amin. Dia berpikir tidak pantas putra khalifah melakukan hal seperti itu. Khalifah Harun Al-Rasyid marah dengan ulah pejabat istana itu.

“Jangan kau halangi, putra-putraku untuk menghormati gurunya. Adab kepada guru itulah yang akan mendatangkan keberkahan bagi putra-putraku,” tegas Khalifah Harun Al-Rayid.

Inilah yang mesti kita sadari bahwa esensi dari sebuah pendidikan adalah mengader anak-anak didik yang ta’at kepada Allah dan memiliki akhlak mulia, serta mampu mengemban amanah khalifah. Dengan demikian, semoga keberkahan hadir di lembaga pendidikan kita. Ketika Allah melimpahkan keberkahan bagi kita, niscaya berlapis-lapis manfaat dan kebaikan akan menghampiri kita.

Semoga hidup kita penuh berkah. Semoga sekolah kita penuh berkah.

 

KAWAN SLI: Membaca Bukan Sekadar Membaca

KAWAN SLI: Membaca Bukan Sekadar Membaca

 

 

Kita sering mendengar bahwa kemampuan literasi siswa Indionesia berada pada peringkat 70 dari 72 negara. Salah satu komponen dari kemampuan literasi adalah kemampuan membaca. Kendala yang dihadapi oleh sebagian besar guru di sekolah di Kabupaten Asahan adalah kemampuan membaca siswa sangat rendah. Bagaimana mungkin, padahal pelajaran membaca dipaksakan, bahkan di usia balita?Bagaimana mungkin, saat banyak buku dan informasi media menyajikan banyak cerita dan fenomena? Lantas, apa yang salah dari pendidikan kita?

 

 

Kemampuan membaca dalam literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan mengeja dan membaca siswa. Terdapat suatu hal yang lebih dalam daripada itu yaitu memahami apa yang dibaca dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Dunia pendidikan memang tidak bisa dilihat sederhana. Namun, sering kali guru terpaku pada perhitungan seberapa banyak buku yang siswa baca bukan seberapa paham siswa dengan buku yang dibaca. Gerakan literasi sekolah (GLS) yaitu membaca lima belas menit menjadi rutinitas yang kurang bermakna karena siswa hanya sekadar membaca namun tidak memahami apa yang dibaca. GLS hanya sebatas siswa diberikan waktu lima belas menit untuk membaca, kemudian mengisi judul buku dan halaman berapa yang dibaca.

 

 

Pentingnya kesadaran bahwa peran pendidikan tidak hanya membuat anak bisa membaca. Tapi juga mampu membuat anak mahir menulis dan mewarnai pemikiran global sehingga mampu menoreh prestasi yang mampu mengubah dunia. Lalu bagaimana mungkin mampu mengubah dunia, jika yang tersaji adalah buku usang dengan perpustakaan yang seperti gudang? Padahal rasio perbandingan bangunan perpustakaan kita dengan penduduk adalah salah satu yang terbaik di dunia. Di saat pemerintah mulai menggencarkan usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ada satu fobia yang menjangkiti siswa kita. Fobia itu adalah kutu buku. Siswa takut dibei gelar kutu buku padahal, sebagian besar manusia yang mengubah dunia adalah dari kaum kutu buku. Kutu buku bukanlah jaminan mutu jika hanya terpaku pada lembaran kertas dan layar.

 

 

Dekat dengan buku merupakan hal yang mutlak untuk mampu mengubah dunia. Karena sebagian besar manusia yang mengubah dunia adalah para kaum kutu buku. Kutu buku bukanlah jaminan mutu jika hanya terpaku pada lembaran kertas dan layar. Bermimpi besar dan berjalan jauh agar kebermanfaatan sebagai khalifah menjadi utuh.

Kawan Fajar (Tingkatkan Minat Baca Siswa MI Al-Azhar Saumlaki)

Belajar dari Bola Mata Berwarna Coklat

Belajar dari Bola Mata Berwarna Coklat

Oleh: Agung Rakhmad Kurniawan, S.T.  

 

 

 

Salah satu tugas guru adalah menangkap pesan yang tidak langsung tersirat, belajar dari bola-bola mata berwarna coklat yang setiap pagi menatap hangat. Kadang mereka tak berhenti berlari, melompat sampai memanjat pohon cengkeh di depan sekolah di atas bukit ini. Senyuman-senyuman setiap pagi ini juga yang menambah semangat berbagi pelajaran kehidupan. Pelajaran pagi yang kutemui, ketika motor itu meluncur dari turunan setengah curam berbatu kali. Ya, anak-anak kami di sini dengan luwes membawa sepeda motor sendiri, jarak yang berkilo meter memaksa mereka menomortigakan keselamatan.

 

 

 

Kedua kakak beradik itu turun dari motor hijau nan kusam itu, memberi salam kepadaku yang rutin tiap pagi duduk di samping mushola di sekolah kami. Berjalan agak jauh, si kecil Sofi mengeluarkan uang Rp2000, mengulurkan ke tangan kakaknya. Mata Sofi tak lekang dari tukang es krim yang sepagi ini sudah mempromosikan enaknya es krim buatnya, Lutfi tahu persis apa yang diinginkan adiknya, si kecil yang jarang diam. Terdengar samar olehku, “ambillah untukmu, biar kakak makan nanti di rumah saja”. Si kecil Sofi tanpa tawar menawar langsung tancap gas ke tukang es krim. Mataku masih terarah ke Lutfi, senyum abadi seorang kakak ke adik, senyum ikhlas di pagi ini yang mengalahkan mentari. Dengan gaya kalemnya, ia berjalan ke kelas. Jejak langkah yang memberikan sebuah cerita indah di pagi yang berkabut ini. Lutfi, si kakak yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses dengan hati ikhlasnya.

 

 

 

Lutfi, bola mata bapak yang sekarang sudah berubah coklat sekejap terpejam, menikmati sebuah arti di pagi ini. Lutfi menjadi guru bapak di pagi ini, mengajarkan sebuah pelajaran lewat gaya khas kalemmu itu. Seperti kata Buya Hamka, ikhlas dan sejati akan bertemu di dalam senyuman anak kecil, senyum yang sebenernya senyum, senyum yang tidak disertai apa-apa. Terima kasih nak, hari ini akan penuh warna selayak pelangi di balik bukit nan jauh di sana.

Temnas I KOMPARASI: Adab Jangan Pernah Diabaikan!

Temnas I KOMPARASI: Adab Jangan Pernah Diabaikan!

 

 

Bogor – Krisis adab, KOMPARASI menggelar Kajian pengasuhan seputar metode implementasi kurikulum adab dalam gelaran Temnas I KOMPARASI bersama Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, Pengasuh Pesantren At Taqwa Depok.

 

 

Anak dianalogikan seperti kertas putih yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja, sebab itulah peran orang tua sangatlah vital karena keberhasilan dalam mendidik anak tergantung dari pendidikan yamg diberikan orang tuanya, namun untuk mereka yang bersekolah asrama atau pondok pesantren keberhasilan mendidik anak ditentukan oleh orang tua (pengasuh asrama) di tempat mereka belajar saat ini. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk memproduksi manusia yang baik secara agama (good man), tak sekadar menjadi masyarakat baik (good citizen). Elemen terpenting dalam pendidikan Islam adalah penanaman adab.

 

 

Pentingnya menanamkan adab di sekolah berasrama dan pondok pesantren merupakan standar tersendiri yang harus dipahami pengasuh asrama, oleh sebab itu Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI menggelar kajian pengasuhan seputar metode implementasi kurikulum adab di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor, pada Sabtu (30/11).

 

 

Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, Pengasuh Pesantren At Taqwa Depok, secara tegas mengatakan  jika adab jangan pernah diabaikan, mengingat sekolah berasrama dan pondok pesantren adalah tempat paling tepat untuk menumbuhkan adab. “Ini PR bagi  para pengasuh asrama karena saat ini dunia mulai krisis adab,” tegas Ardi. “Krisis adab tersebut ditandai dengan munculnya kezhaliman di mana manusia gemar meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, maraknya kedunguan-melakukan sesuatu karena satu tujuan hanya saja caranya salah, dan kegilaan yang tak terkontrol melalui ide dengan tujuan keliru,” tambahnya

 

 

Penanaman adab dapat  pengasuh asarama lakukan melalui dua cara yakni melalui Ta’dib (penanaman adab) dan Ta’lim (pengajaran ilmu). “Ada tujuh ,etode penanaman adab yang bisa pengasuh asrama lakukan antara lain sampaikan ilmu tentang adab, kaitkan adab dengan keimanan, jadilah sosok teladan, jangan bosan dengan oembiasaaan, amalkan dengan penuh keikhlasan, berikan penegakakkan disiplin, jangan lupa berdoa,” jelas Ardi.

 

 

Menurut Ardi poin lain yang harus diutamakan oleh pengasuh asrama ialah ubah framework atau cara pandang untuk ditekankan pada murid-murid. “Dunia pendidikan akan mengalami banyak perubahan, pengasuh asrama harus mampu mengejar perubahan yang ada dengan membuat terobosan, dengan catatan adab harus tetap dijaga

 

 

Menutup kajian pengasuhan, Ardi berpesan, bahwa pengasuh asrama harus bisa menghasilkan orang-orang cerdas dan beradab, yang tahu bagaimana menyiapkan masa depan  mereka dalam mengonsep dan mengaplikasikan ilmu disertai adab baik. (AR)