Rendahnya Kualitas guru, penghambat perkembangan pendidikan

Waktu saya masih berada di bangku SD, saya sering kali menemukan guru yang hanya menyuruh siswa-siswinya untuk melakukan sesuatu tanpa memberikan contoh yang riil.

Sebut saja saat latihan gerak jalan, guru mengatakan ”kalau jalan itu tangan harus lurus, pandangan ke depan, kaki dihentak dan bla, bla, bla’‘. Sebagai murid kami sangat antusias mengikuti arahan guru tersebut, kami berusaha mengikutinya semaksimal mungkin karna kami pun ingin terlihat sempurna dimata guru, meskipun kami merasa bahwa apa yang dilakukan sudah sempurna, namun pada kenyataanya kami tetap saja salah dan tidak bisa melakukan seperti apa yang guru perintahkan. Nahasnya, saat melakukan kesahan, kami pun dimarahi bahkan tidak jarang kaki-kaki kami dijadikan sebagai bola untuk kemudian mereka tendang. Setelah itu guru lagi-lagi mengatakan, “tangannya diluruskan, dada dibusungkan, kaki dihentak!! Apa-apaan jalan begitu kayak gak ada tulang saja.”

Kami pun berjalan lagi dan mencoba melakukan seperti yang guru arahkan, tapi tetap saja gak bisa, kami masih juga berjalan seperti manusia tidak bertulang.

Coba kita pikirkan, apa iya cara yang dilakukan guru tersebut dapat menjadi latihan yang optimal untuk peserta didik? Apa mungkin latihan semacam itu dapat melahirkan anak yang unggul?  

Rasanya sangat tidak mungkin, cara seperti itu hanya akan menyisakan kebingungan kepada peserta didik, seberapa sering pun intensitas latihan itu dilakukan apabila caranya masih seperti itu maka siswa tidak akan pernah bisa menjadi yang terbaik. Jangankan anak SD, anak kuliahan pun saya rasa akan kesulitan mempraktikan konsep yang semacam itu, apa lagi anak SD.

Memahami konsep sangatlah mudah, tapi mempraktekan konsep itu jauh lebih susah. Jangankan tidak ada contoh yang akan diikuti, ada contoh di depan mata saja anak SD masih salah dalam melakukannya, hal itu harusnya disadari oleh guru.

Dalam hal ini saya bukannya ingin mengatakan bahwa guru tidak berhasil dalam mendidik siswa-siswinya, sama sekali tidak, saya hanya ingin menitipkan pesan kepada guru agar dapat menyeimbangkan antara teori dan praktek, bukan hanya pada urusan gerak jalan tapi dalam berbagai hal, guru harus mampu memberikan contoh kepada siswanya, baik itu contoh tindakan maupun perkataan.

Cerita diatas hanya sebagai gambaran dari kebingungan saya ketika masih berada di bangku sekolah dasar dulu, yang mana guru tidak mampu  memberikan contoh nyata dalam berbuat.

Saya pikir tipe guru yang seperti itu hanya ada pada zaman saya saja dan sudah tidak akan saya temui lagi di zaman now, tapi ternyata bibit-bibit pendidik yang seperti itu masih bertahan hidup dan berlalu lalang sampai sekarang.

Beberapa kali pernah saya lihat hal yang sama di sekolah yang berbeda, nampak jelas kebingungan dari wajah siswa saat mendapat arahan dari guru, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana yang benar, dan apa yang salah dari mereka. Siswa hanya mendapat petunjuk kata-kata sedangkan tidak mendapat petunjuk tindakan.

Harapan saya, semoga guru mulai menyadari bahwa tugas mereka bukan sekedar menyampaikan konsep yang tertuang didalam buku, tetapi juga guru berkewajiban untuk membimbing dan melatih peserta didiknya. Membimbing dalam artian, menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai moral, serta melatih yang bermakna menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan yang ada dalam diri anak didiknya.

Ini tentunya merupakan sebuah masalah krusial dunia pendidikan, bagaimana tidak! Guru yang menjadi icon kemajuan pendidikan ternyata masih sangat minim keterampilannya. Padahal harapan terbesar pendidikan itu adalah guru, sebagaimana yang pernah di ungkapkan oleh salah satu kaum intelektual dunia, yaitu Bpk Anis Rasyid Baswedan, “kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru, secanggih apapun sebuah kurikum, sekuat apapun financialnya apabila kualitas guru rendah makan kualitas pendidikanpun akan rendah, begitu juga sebaliknya.” Ungkap beliau.

Untuk kualitas guru di negri ini masih sangat rendah, faktanya nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75 dan Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara, pada pemetaan kualitas pendidikan, menurut lembaga The Learning Curve.

Akhir kata : Siswa itu bukanlah malaikat yang mampu menangkap serta mempraktekkan semua arahan guru dengan mudah, siswa itu manusia yang butuh bangat dengan bimbingan. Dari itu guru dituntut untuk memberikan pembelajaran dengan optimal kepada peserta didiknya.

Kontributor : Kawan Sekolah Literasi Indonesia

Makmal Penddikan Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Tujuan Pendidikan; Impian atau Angan-Angan?

Menyoal masalah pendidikan memang tidak akan ada habisnya. Di balik sederet prestasi akademik yang membanggakan, nyatanya masih ada hal mendasar yang belum terselesaikan.

Pertanyaan paling mendasar untuk mengukur keberhasilan pendidikan adalah: Apakah tujuan pendidikan sudah tercapai? Kalaupun belum tercapai sepenuhnya, apakah ada tanda-tanda kita akan mencapainya? Pertanyaan ini tentu saja tidak bisa dijawab hanya dengan jawaban ya atau tidak.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional, sesuai yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 adalah “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Berdasarkan kalimat tersebut, bisa disimpulkan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Kompetensi lainnya adalah sebagai penyempurna.

Iman menurut para ulama adalah perkataan dalam lisan, keyakinan dalam hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Sedangkan takwa adalah melaksanakan semua perintah Allah, menjauhi semua larangan-Nya, serta menjaga diri agar terhindar dari api neraka atau murka Allah SWT. Banyaknya kasus tawuran pelajar (202 anak di tahun 2017-2018), penyalahgunaan narkoba (5,9 juta anak dari 87 juta populasi anak)*, pornografi, prostitusi, hingga penganiayaan terhadap guru sendiri mengindikasikan bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja. Lebih dari itu, pendidikan kita masih jauh dari tujuan yang dicita-citakan. Alat ukurnya jelas, yaitu iman, taqwa, serta akhlak mulia.

Sejatinya, pendidikan kita sudah memiliki pijakan yang sangat baik, berupa tujuan mulia yang termaktub dalam undang-undang dasar negara. Hanya saja, pada praktinya tujuan tersebut belum dijabarkan dan diimplementasikan ke dalam langkah nyata. Orientasi terbesar pendidikan kita masih terfokus pada aspek kognitif semata. Kurikulum belum benar-benar dirancang untuk menjadikan peserta didik beriman dan bertakwa. Bukan iman dan takwa yang sekadar sebagai pengetahuan, tetapi juga terwujud dalam sikap dan perbuatan.

Hari ini bahkan tidak ada yang bisa menjamin apakah anak lulusan SMA yang beragama Islam sudah benar akidahnya, sudah baik sholatnya, serta lancar mengajinya. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin. Barangkali kita masih ingat hasil survei yang dilakukan salah satu universitas ternama di Aceh terhadap mahasiswa baru di kampusnya, tahun 2015 silam. Sebanyak 82% mahasiswa baru tidak bisa membaca Alquran. Artinya, hanya 1% saja yang bisa membaca Al-Quran. Dan itupun barangkali bukan karena andil dari pendidikan formalnya, bisa jadi karena belajar dari guru ngaji atau orang tuanya di rumah.

Hal tersebut terjadi karena memang kurikulum pendidikan di Indonesia tidak dirancang sedemikian rupa, sehingga mampu menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa. Kurikulum pendidikan hari ini lebih menitikberatkan pada pengetahuan umum saja. Misalnya, lulusan SD harus bisa membaca, mahir operasi bilangan matematika, serta menguasai beberapa ilmu umum lainnya. Bagaimana ibadahnya kepada Sang Maha Pencipta, bukan menjadi prioritas utama.

Jika kita benar-benar ingin mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan, yakni membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, maka (pemerintah) kita harus berani melakukan perubahan besar di tubuh pendidikan kita.

Berbicara masalah pendidikan, ada empat aspek penting yang sangat menentukan; tujuan, kurikulum, program, serta evaluasi. Tujuan pendidikan kita sudah sangat baik, rasanya tidak perlu lagi diotak-atik. PR selanjutnya adalah bagaimana merancang kurikulum, program, serta evaluasi yang selaras dengan tujuan, sehingga menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan.

Merancang Kurikulum yang Tepat

Kurikulum harus mampu menjadi kendaraan yang tepat dalam upaya menuju tujuan. Dan tujuan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia akan bisa tercapai manakala kurikulumnya dirancang berlandaskan keimanan dan ketakwaan. Dengan kurikulum yang berlandaskan iman dan takwa, maka orientasi terpenting dari pendidikan adalah menjadikan peserta didik semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa.

Dalam bukunya “Pendidikan Islam; Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 204”’ Dr. Adian Husaini mengatakan bahwa kurikulum yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan menekankan pada penanaman adab serta penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional. Adab dan iIlmu-ilmu fardhu ain seperti akidah, ibadah, syariah, akhlak, dan lain-lain diletakkan sebagai kurikulum inti (kurikuler). Ko-kurikulernya adalah serangkaian praktik ibadah, zikir, shadaqah, dan lain-lain, untuk menguatkan target kurikulernya. Sementara ilmu-ilmu fardhu kifayah seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, sains, dan ilmu-ilmu lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat ditempatkan sebagai ekstra-kurikuler.

Lalu, bagaimana dengan sekolah yang memiliki latar belakang agama berbeda? Pada prinsipnya sama, keimanan dan ketakwaan harus menjadi orientasi utama. Tinggal disesuaikan implementasinya berdasarkan tuntunan agama masing-masing.

Setelah kurikulumnya sudah selaras, maka perlu dirancang program yang mampu menumbuhkan dan menguatkan keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia. Program-program tersebut harus dibuat terpadu antara pengajaran, pengamalan/pembiasaan, serta keteladanan. Untuk detailnya, pemerintah bisa meminta para ulama/cendekiawan muslim untuk merumuskan program yang lebih rinci dan operasional, sehingga hasilnya bisa lebih optimal.

Pentingnya Sistem Evaluasi

Selanjutnya, untuk memastikan agar tujuan pendidikan bisa tercapai, perlu dirancang sistem evaluasi yang terpadu, yang tidak hanya mengukur kemampuan kognitif saja. Mengukur keberhasilan pendidikan hanya pada aspek koginitif akan berampak buruk pada kehidupan bangsa ini. Betapa banyak orang pintar di negeri ini, tetapi jauh dari Tuhannya. Dan ujung dari semua itu adalah lahirnya para akademisi yang sekuler, pejabat-pejabat yang korup, pemimpin-pemimpin yang tidak amanah, dan rakyat yang kurang beradab.

Iman, takwa, akhlak, tidak bisa dievaluasi secara kognitif semata. Memang benar bahwa tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang hanya Tuhan yang mengetahuinya. Namun setidaknya bisa diukur dari ciri-ciri yang nampak, mengacu pada ciri-ciri orang beriman dan bertaqwa yang dijelaskan dalam Alquran dan Alhadits.

Aplikasi sederhananya misalnya, siswa muslim jenjang SLTP/SLTA yang melalaikan sholat lima waktu, buta aksara Alquran, maka tidak bisa lulus, sampai ia benar-benar mampu menjaga sholat dan bisa membaca Alquran. Siswa yang durhaka kepada guru, curang dalam ujian, terlibat tawuran, pecandu miras/narkoba, dan lain-lain, tidak bisa lulus sampai ia benar-benar bertaubat. Tidak peduli sepintar apapun anaknya. Dengan demikian, orientasi belajar tidak lagi sekadar untuk mendapatkan nilai akademik yang baik.

Kesimpulan

Kesimpulannya, untuk membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sesuai dengan tujuan pendidikan, maka kurikulum, program, dan evaluasinya harus diselaraskan. Tujuan pendidikan adalah amanat undang-undang yang harus ditunaikan, dan menjadikan pendidikan sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah amanat Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Wallahu a’lam.

Sumber dan Referensi:

Buku Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-202-anak-tawuran-dalam-dua-tahun
https://kumparan.com/@kumparannews/kpai-5-9-juta-anak-indonesia-jadi-pecandu-narkoba
http://aceh.tribunnews.com/2015/07/28/82-mahasiswa-baru-tak-bisa-baca-quran

Kontributor : Andi Ahmadi (Aktivis Sekolah Literasi Indonesia – Dompet Dhuafa Pendidikan)

Anak Disleksia (Mutiara Yang Belum Tergali)

Anak Disleksia (Mutiara Yang Belum Tergali)

“Sungguh, alangkah hebatnya kalau tiap – tiap guru didalam perguruan taman siswa itu satu persatu adalah rasul kebangunan ! hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan yang dapat “menurunkan” kebangunan kedalam jiwa sang anak (presiden soekarno).

Dari kutipan sang orator ulung bapak bangsa kita presiden soekarno dapat diambil kesimpulan bahwa guru mempunyai peranan penting dalam membentuk pribadi seorang anak karena, guru adalah orang tua kedua bagi  anak setelah ibu dan bapaknya.

Guru, terkhususnya kelas 1, 2 dan 3 senantiasa melihat pertumbuhan dan perkembangan anak  dari waktu kewaktu. Setiap ada kemampuan baru yang dicapai anak merupakan prestasi tak ternilai bagi anak, maupun guru dan orang tua, tapi sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua dan guru. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua dan guru, Apalagi jika si anak mengalami hambatan dalam belajar, sehingga anak mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru dan orang tua harus mengenali penyebab gangguan tersebut.

Hal yang sering penulis temui dilapangan terkhususnya SD N 09 ULAKAN TAPAKIS adalah anak yang tidak bisa membaca atau menulis, yang biasanya disebut dengan disleksia. Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

Adapun tanda-tanda tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru adalah (1) Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya, (2) kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay, (3) Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’, (4) membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”), (5) Daya ingat jangka pendek yang buruk, (6) Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar, (7) Tulisan tangan yang buruk, (8) Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung, (9) Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek, (10) Kesulitan dalam mengingat kata-kata, (11) Kesulitan dalam  diskriminasi visual, (12) Kesulitan dalam persepsi spatial, (13) Kesulitan mengingat nama-nama, (14) Kesulitan / lambat mengerjakan PR, lima belas Kesulitan memahami konsep waktu, enam belas, dan kesulitan membedakan kanan dan kiri, masih banyak lagi gejala yang lainnya.

Namun Tidak semua anak disleksia menampilkan seluruh tanda / ciri /karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat. Selain itu disleksia bukanlah suatu penyakit yang perlu ditakuti karena disleksia hanya merupakan keterlambatan dalam membaca dan menulis karena kebanyakan anak – anak disleksia adalah anak anak yang cerdas seperti  ilmuan terkenal dunia yaitu albert ensteins, Tom Cruise ( actor), Muhammad Ali (petinju), Walt Disney ( pencipta kartun ), Thomas Alfa Edison, penemu bola lampu Winston Chrunchill ( Perdana menteri Inggris) dan John F. Kennedy ( Presiden Amerika Serikat) dan masih banyak lagi yang dulunya merupakan anak disleksia namun akhirnya menjadi orang- orang penting.

Guru dan orang tua sangat berperan untuk perkembangan anak – anak disleksia, karena apabila anak merasa berbeda dan apalagi mendapat lebel-lebel dan cap yang tidak baik, maka hal ini berpengaruh terhadap emosi si anak – anak bisa menjadi pemurung, pendiam, selalu bersedih, menyendiri dan kadang –kadang bersifat brutal.

Kadang guru disekolah merasa serba salah khususnya kelas satu, disatu sisi guru meliat potensi yang lain bagi anak seperti imajinasi yang kuat sehingga menjadi pertimbangan untuk kenaikan kelas namun guru merasa terikat dengan peraturan kalau murid kelas rendah untuk naik kekelas selanjutnya harus bisa baca tulis, hal ini diaminkan oleh wiwik krismita guru SD 09 Ulakan tapakis kelas satu “ saya menjadi dilemma untuk kenaikan kelas ini, ada anak yang menonjol dibidang lain, tapi karena tidak bisa membaca membuat saya bingung….. karena saya paham masa mereka adalah masa bermain, jadi saya tidak terlalu memaksanakan mereka untuk harus bisa menulis baca, jadi waktu ujian bagi yang tidak bisa menulis saya tes dengan lisan, itu yang menjadi pertimbangan saya, agar karakter mereka tidak mati”.

Karena demikian kompleknya keadaan disleksia ini maka guru dan orang tua harus berperan aktif terhadap anak, guru dan orang tua bisa melihat potensi lain dari anak, bisa saja anak lebih berbakat dibidang seni dan olah raga, dan berikanlah  nilai plus untuk mereka untuk potensi ini. Untuk itu diperlukan seorang guru yang kreatif dan inovatif untuk membantu anak-anak disleksia, karena anak adalah hal paling berharga dan merupakan generasi penerus akan kelangsungan bangsa ini.

4 hal wujudkan model pendidikan berkualitas

Siapa yang tidak butuh pendidikan? Sepertinya di zaman modern ini semua orang memerlukan pendidikan. Pengamen jalanan yang masih belia, yang seharusnya menikmati masa kecilnya, jika ditanya apa mau sekolah? Jawabannya pasti mau. Bahkan ada cerita (novel) yang  mengisahkan keyakinan seorang ibu yang tidak pernah mengenyam pendidikan untuk tetap dan gigih menyekolahkan anak-anaknya walaupun, seperti biasa, terkendala masalah uang. Jadi agaknya akan sulit jika kita bertanya pada orang waras pada zaman ini ‘apakah anda tidak butuh pendidikan? Dan dia menjawab tidak’.

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Pendidikan akhir-akhir ini memiliki kemajuan pesat di penjuru dunia. Pendidikan semakin hari semakin maju. Pendidikan dapat diakses langsung maupun tidak langsung, dengan jarak yang sangat jauh. Pendidikan di Era Modern memang berdampak dalam berbagai aspek kehidupan. Namun di negara kita tercinta ini pendidikan terus menuai kontroversi dan permasalahan. Pendidikan formal terbukti belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pengangguran terdidik terjadi dimana-mana. Hal inilah yang membuat proses belajar mengajar harus dikembangkan.

Beban kurikulum yang terlampau banyak katanya menjadikan guru harus berpikir keras supaya semua materi dapat tersampaikan dalam waktu yang tersedia, tanpa mengorbankan pemahaman anak didik. Bayak terlihat guru “mendangkalkan” ilmu, dengan alasan jika memaksakan “lebih dalam” konsekuensinya adalah waktu tidak akan cukup. Dan sepertinya gejala ini dialami oleh banyak rekan kita yang berprofesi sebagai guru, walaupun hal tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan.  Hal tersebut hanya suatu fatamorgana dan kekhawatiran saja, Namur bisa jadi kedepannya jika terus seperti ini, maka orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang bepengetahuan luas tetapi pengetahuannya dangkal. Padahal dalam era globalisasi justru diperlukan orang-orang yang expert dalam satu bidang tertentu, syukur-syukur bisa expert dua bidang sekaligus.

Selama tiga dasawarsa terakhir, dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkembang sangat cepat. Pada tahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233 dengan jumlah murid dan guru sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru (Pusat Informatika, Balitbang Depdikbud, 1999). Jadi dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah SD naik sekitar 300%. Sudah barang tentu perkembangan pendidikan tersebut patut disyukuri. Namun sayangnya, perkembangan pendidikan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan yang sepadan. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat, termasuk yang sangat menonjol adalah: a) ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan, b) ketimpangan kualitas pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar pendudukkaya dan penduduk miskin.

Di samping itu, di dunia pendidikan juga muncul dua problem yang lain yang tidak dapat dipisah dari problem pendidikan yang telah disebutkan di atas, (1) Pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial. (2)  pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang terlalu bersifat text-book saja sehingga pengatahuan seperti dipisahkan dari akar sumbernya maupun aplikasinya.

Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasil yang sifnifikan. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidikan di tanah air kita dapat dikatakan senantiasa gagal dalam menjawab problem masyarakat? Sesungguhnya kegagalan berbagai bentuk pembaharuan pendidikan di tanah air kita bukan semata-mata terletak pada bentuk pembaharuan pendidikannya sendiri yang bersifat erratic, tambal sulam, melainkan lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan penentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam perubahan sosial yang sudah usang. Ketergantungan ini menyebabkan adanya harapan-harapan yang tidak realistis dan tidak tepat terhadap efikasi pendidikan.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi. Mempertimbangkan dan mempersiapkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah kertas putih kosong yang tidak bernoda sedikitpun, tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai dengan implementasi secara maksimal Empat pilar pendidikan yang harus dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) Learning To Know (belajar untuk mengetahui), (2) Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu) (3) Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) dan  (4) Learning To Be (belajar untuk menjadi seseorang)

Learning To Know (Belajar Untuk Mengetahui). 

Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

Mengimplementasikan  “Learning To Know” (belajar untuk mengetahui), Guru seyogyanya dan sejatinya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. Guru dituntut menciptakan suasana yang membangkitkan peserta didik untuk terlibat lebih aktif menemukan, mengolah, dan membentuk pengetahuan atau keterampilan baru. Siswa merupakan subyek belajar (bukan objek belajar) sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.

Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu/berkarya). 

Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan penerapan pembelajaran inovatif, yang dilakukan dengan cara mengakomodir setiap karakteristik dari masing-masing siswa, karena siswa memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar Ada siswa yang mengandalkan kemampuan visual (penglihatan) dalam menyerap materi pembelajaran, juga ada sebagaian siswa yang mengandalkan kemampuan auditory atau kemampuan mendengar, serta kemampuan  kinestetik.  Upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan siswa perlu mendapatkan perhatian lebih, karena hal tersebut diantaranya dapat mengakibatkan proses renovasi mental, yang pada akhirnmya dapat membangun rasa percaya diri siswa.

Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Muatan lokal yang dimaksud diarahkan kepada ketrampilan yang mengetumakan kearifan lokal, karena keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.

Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama).

“Learning To Live Together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) dapat diwujudkan dengan mengimplementasikan kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuh kembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut. Orang yang mengerti bagaimana menjalani “kehidupan”, dia akan paham bagaimana bersikap menjadi orang. Mereka acapkali memakai kejujuran sebagai dasar, menggunakan kebaikan untuk kedamaian. Tidak mempedulikan apakah imbalan “jasa” itu hanya sebuah senyuman, atau hanya sebuah  ucapan “terima kasih” saja, mereka juga akan merasakan puas dan gembira. Persis seperti yang dikatakan pepatah China kuno, “Melakukan hal-hal yang bermakna itu sendiri adalah suatu kenikmatan ter-hadap kehidupan.”

Learning To Be (belajar untuk menjadi seseorang/belajar bertumbuh kembang).

Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

“Learning To Be” (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. Dalam proses belajar, sesuatu harus dilakukan dengan senang hati. Belajar akan efektif, bila dilakukan dalam suasana menyenangkan. Namun, kenyataan yang ada adalah, semakin dewasa seseorang, sekolah ternyata menciptakan sebuah sistem dan situasi belajar tidak menyenangkan

Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. Semoga tahun 2011 menjadi awal kebangkitan dan perubahan dalam dunia pendidikan indonesia, dengan guru menjadi ujung tombak dan agen perubahan terdepan tentunya dengan peran serta dari seluruh komponen masyarakat dan pemerintah indonesia.

pendidikan inklusi

Dompet Dhuafa Pendidikan dan GAPAI ajak semua pihak peduli Pendidikan Inklusi

Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik pada 2016 menunjukkan, dari 4,6 juta anak yang tidak sekolah, satu juta di antaranya adalah anak-anak berkebutuhan khusus dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia mencapai angka 1,6 juta anak. Dari 514 kabupaten/kota di seluruh tanah air, masih terdapat 62 kabupaten/kota yang belum memiliki SLB. Saat ini jumlah anak berkebutuhan khusus yang sudah mendapat layanan pendidikan baru mencapai angka 18 persen, sekitar 115 ribu anak berkebutuhan khusus bersekolah di SLB, sedangkan ABK yang bersekolah di sekolah reguler pelaksana Sekolah Inklusi berjumlah sekitar 299 ribu. Masih ada sekitar 82 % ABK yang belum mendapatkan hak pendidikan.

Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan), salah satu divisi Dompet Dhuafa yang fokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia, merasa terpanggil untuk turut serta memberikan solusi atas permasalah tersebut. Upaya ini dilakukan DD Pendidikan dengan menghelat acara bertajuk Kajian Pendidikan Inklusi “Pendidikan Untuk Berkualitas : Fakta Atau Fatamorgana”.

Acara berformat panel ini dilaksanakan pada Sabtu, 8 Desember 2018. Acara ini diaksanakan dalam rangka memperingati hari Pendidikan Difabel Internasional pada tangggal 3 Desember. Acara dimulai pukul 08.00 hingga 12.00. Agar lebih menyerapi kajian pendidikan inklusi acara pun diadakan diadakan di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof.Dr. Soeharso Jl. Tentara Pelajar Jebres, Surakarta.

Sederet tokoh, profesional di bidangnya serta anak difabel yang berprestasi dan menginspirasi telah hadir untuk menjadi narasumber Kajian Pendidiikan Inklusi ini. Mereka adalah Drs. Hasto Daryanto, MPd, Kepala PLA Surakarta; Bayu Candra Winata (Dompet Dhuafa Pendidikan); Inayah Adi Oktaviana (Founder GAPAI (Gerakan Peduli Indonesia Inklusi); Hanik Puji A (Peraih 2 Medali Emas Balap Kursi Roda Papernas 2018); dan Sri Sugiyanti (Peraih 3 Medali Perak dan 1 Perunggu Parcycling ASIAN Paragames 2018).

Narasumber kajian pendidikan inklusi ini cukup meliputi segenap pihak yang konsern terhadap dunia pendidikan inklusi. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai dari perhelatan ini, yaitu untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pendidikan Inklusi yang ramah terhadap tumbuh kembang anak, Acara ini juga diharapkan dapat memberikan alternatif model pengembangan pendidikan inklusi dan memperkuat peran pemerintah dalam penyelenggaraan dan pengelolalan pendidikan inklusi baik kebijakan maupun kualitas implementasinya.

Kehadiran narasumber dari berbagai latar belakang tersebut juga dimaksudkan untuk membangun sinergi antara pemerintah, komunitas yang bergerak di bidang pendidikan inklusi, juga NGO. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan kuaitas pendidikan untuk semua termasuk pendidikan yang ramah difabel, jelas Aidil Azhari Ritonga sebagai Direktur CESA (Direktur Center for Education Study & Advocacy Dompet Dhuafa Pendidikan)

Perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Segenap pihak harus bersinergi, bekerjasama untuk menuntaskan problematika pendidikan Indonesia yang menggunung. Semoga langkah kecil berupa kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bahwa siapapun bisa ambil bagian untuk membawa perbaikan pada negeri yang kita cintai ini.

Menjadi Guru Idola

5 tips jadi Guru Idola Siswa Jaman Now

Banyak cara menjadi idola. Tidak selalu dengan mengikuti ajang idol yang marak di televisi akhir-akhir ini, seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Indonesia’s Got Talent dan lain sebagainya. Tidak juga dengan mengupload video kita di youtube, seperti yang banyak terjadi sekarang. Sebagai guru kita juga bisa menjadi seorang idola, khususnya idola bagi murid-murid kita. Tapi, tak ada guru yang langsung menjadi idola di hadapan anak didiknya, meskipun guru tersebut berwajah tampan dan cantik. Sebab penampilan fisik semata tidak menjadi jaminan guru itu menjadi guru idola.

Hal yang perlu diperhatikan dan dipraktekkan (dilaksanakan) oleh guru untuk dapat menjadi guru idola antara lain :  Pertama yang perlu kita lakukan adalah dari diri kita sendiri. Kesan pertama apa yang akan kita munculkan ketika pertama kali bertemu dengan mereka? Apakah anda seorang guru yang suka bercerita lucu, tak banyak bercanda, senang memberikan motivasi, belajar lewat cerita motivasi, sangat disiplin dan tegas, senang berbaur dengan mereka, mau terbuka untuk mendengarkan keluh kesah mereka, atau ingin disegani oleh mereka? Maka jadilah diri sendiri. Percaya diri adalah kunci segalanya. Jadilah guru yang selalu unik di mata murid kita . Kedua,murid-murid identik dengan jiwa kekanak-kanakan. Oleh karena itu guru diharapkan mengetahui apa-apa saja yang disenangi murid-muridnya, mengajak mereka bernyanyi sebelum mulai belajar, bisa juga dengan membacakan dongeng kepada mereka. Ketiga, guru itu harus bisa menanamkan sifat disiplin kepada anak muridnya. Disamping itu seorang guru mesti disiplin terlebih dahulu. Jika seorang guru selalu datang terlambat, maka murid-murid tidak akan respek dan tidak akan mau melakukan apa yang disuruh gurunya terkait dengan kedisiplinan. Keempat, seorang guru harus kreatif, tidak sombong, rendah hati, selalu melemparkan senyum termanisnya, tidak pilih kasih, mampu bersabar ketika peserta didiknya bandel, dan senantiasa bersyukur pada Allah SWT

Sayangnya dalam proses belajar mengajar masih ada sebagian guru memiliki sikap  ingin menguasai dan secara otoriter mamaksa murid-murid agar patuh terhadap perintahnya. Kecintaan terhadap anak didik telah berkurang, mengancam anak didik bila melanggar aturan, sehingga pada saat proses belajar mengajar membuat mereka menjadi merasa takut dan membuat suasana  kelas menjadi tegang.  Seorang guru yang baik mestinya harus  bijaksana dalam mempertimbangkan dan memperlakukan siswa sesuai dengan karakternya, karena setiap  peserta didik memiliki keunikan dan kepribadian yang berbeda.

Hal yang harus dipahami oleh guru adalah tidak semua murid punya daya tangkap yang sama ketika menerima pelajaran. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Dengan adanya kondisi ini guru harus bisa memahami kelebihan dan kelemahan muridnya, sehingga muridnya mampu berkompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Untuk menjadi  guru yang diidolakan oleh murid-,muridnya, ia mesti terlebih dahulu menanamkan dalam dirinya untuk tetap komitmen dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai guru. Kecintaan terhadap tugas diwujudkan dalam bentuk curahan tenaga, waktu dan pikiran, dan bersikap professional. Bila guru memahami dan mengenal kepribadian murid-muridnya, maka guru yang bersangkutan akan disenangi oleh murid-muridnya. Itu artinya, jika sudah disenangi maka apa yang disampaikan di kelas akan mudah ditangkap oleh murid-muridnya.  Otomatis dia akan menjadi idola di hadapan murid-muridnya, karena mereka merasa dihargai dan merasakan kenyamanan dalam belajar

Selain itu, guru juga harus mampu menguasai bermacam-macam metode mengajar secara mendalam, karena proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan kepada murid agar dapat mempengaruhi  tujuan dari pendidikan dapat tercapai dengan baik. Guru dituntut untuk terus mengadakan pembaharuan.  Terutama yang berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa harus terus dievaluasi

Sebagai seorang guru maka harus mampu mengamalkan 5 paradigma berikut : (1) Menjadikan 3 sasaran bidang garap pendidikan (koginitif-psikomotor-afektif) berkembang secara optimal, (2) Mengakui dan menghargai kecerdasan anak yangberbeda, (3) Menyesuaikan gaya belajar siswa, (4) Menfokuskan pada aktifitas siswa, (5) Menfokuskan pada penguatan kemampuan bukan ketidakmampuan siswa

Salah satu prinsip belajar adalah aktivitas yang menyenangkan dan menantang. Prinsip ini dapat dipenuhi. Salah satunya dengan kemampuan menghidupkan suasana. Suasana yang menggairahkan dalam belajar dapat ditempuh dengan ice breaking yang bisa kita sisipkan dengan game/permainan dalam pembelajaran di dalam atau di luar kelas. Dengan demikian, kita telah berusaha untuk menyatukan pikiran dan jiwa kita dengan siswa hingga terjalin kebersamaan dan saling memahami satu dengan yang lainnya.  Nah..sebagai guru, marilah kita memberikan pelayanan terbaik dan memuaskan kepada murid agar mereka senang belajar. Usahakan pula mereka mendapat learning by doing atau belajar sambil mempraktikkan sehingga belajar jadi lebih menyenangkan dan menggairahkan.  Selamat berjuang Bapak/Ibu guru. Semoga kita bisa mengantarkan anak didik ke gerbang kesuksesan dan jadilah idola bagi murid-murid kita. Wallahualam

Penulis : Santun Awi Jasica (Guru SDN 07 Nan Sabaris, Padang Pariaman)

Sekolah Pendampingan LPI-Dompet Dhuafa

Guru dan Karakter Peserta Didik

Menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia. Berkat jasa-jasa seorang guru telah lahir ilmuwan, praktisi, dokter, pengacara, dan banyak lagi yang lainnya. Seorang presiden sekalipun adalah hasil didikan dari seorang guru. Siapapun tak akan bisa membantah jasa-jasa dari pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sampai kapanpun peran guru takkan tergantikan. Maka berbanggalah jika anda adalah seorang guru. Atas perannya pulalah para peserta didiknya bisa cerdas dan berkembang yang semula tidak tahu apa-apa alias buta huruf. Tentu saja tidak hanya itu. Seorang guru berperan dalam membentuk karakter murid-muridnya. Apakah mau dibawa ke arah yang positif ataukah sebaliknya tergantung gurunya. Sebab, apalah artinya jika seorang murid cerdas tapi tidak berakhlak dan sering berkelahi di sekolah. Apa gunanya jika nilai si murid tinggi tapi suka melawan kepada gurunya. Adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru bila berhasil mendidik muridnya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara serta agama.  Kelelahannya terobati seketika jika ia mengetahui muridnya mendapatkan kesuksesan dalam hidup

Lalu muncul sebuah pertanyaan. Bagaimanakah cara mencapai tujuan mulia tersebut? Tentu saja ada hal yang mesti dipahami betul oleh seorang guru bahwa karakter seorang murid harus dibentuk terlebih dahulu. Lalu seperti apakah peran guru dalam membentuk karakter peserta didiknya? Peran seorang guru bukan hanya dalam hal mentransfer ilmu kepada murid-muridnya. Kalau seperti ini terlalu sempit sekali makna dari pendidikan itu sendiri. Padahal pendidikan juga berarti memberikan pengajaran, suri tauladan, membentuk sikap dan akhlak peserta didik. Inilah yang lebih penting. Sebab seorang murid bila sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi nantinya juga akan terjun ke masyarakat dan menerapkan apa yang telah didapatkannya selama belajar. Jika ia hanya diberikan teori-teori saja tanpa ada asupan nilai-nilai atau norma-norma maka akan terjadi dekadensi moral.

Bisa kita lihat hari ini. Banyak orang yang pintar tapi dengan kepintarannya itulah ia menghalalkan segala cara untuk mengambil yang bukan haknya. Banyak orang yang berdasi tapi pekerjaannya adalah merampok uang negara. Inilah yang akan terjadi jika seorang guru hanya sibuk memberikan teori-teori saja kepada murid-muridnya tanpa dibarengi dengan pembentukan sikap atau karakter. Harus ada keseimbangan diantara keduanya. Apa gunanya punya anak didik tapi akhlaknya bejat. Guru manapun tidak ingin anak didiknya seperti ini. Oleh karena itu guru punya tanggung jawab agar  murid-muridnya menjadi generasi penerus yang cerdas dan berakhlak mulia.

Guru harus memahami betul kebutuhan murid-muridnya. Ada murid yang memiliki daya tangkap yang cepat dan sebaliknya ada pula yang lambat. Oleh karena itu guru harus peka dan mengenali murid-muridnya agar ia mudah dalam menggali potensi yang mereka miliki. Sebab, setiap murid pasti punya potensi yang berbeda-beda. Mungkin ada diantara mereka yang suka meribut di kelas. Bukan berarti murid yang seperti ini langsung divonis yang bukan-bukan. Bisa jadi ia punya kelebihan lain yang mungkin tidak kita sadari.  Kesabaran mutlak dimiliki oleh seorang guru dalam hal mendidik murid-muridnya.  Jika tidak jangan harap akan lahir generasi-generasi unggul yang diharapkan.

Bila ada murid yang nakal dan susah sekali diatur maka jangan sekali-kali membentaknya apalagi jika sampai keluar bahasa yang kasar atau tidak baik untuk didengar. Kata-kata yang kasar akan ditangkap olehnya dan lambat laun  ia akan meniru prilaku kita yang demikian. Berilah nasehat dengan cara yang lemah lembut kecuali memang jika si murid melakukan kesalahan yang fatal atau pelanggaran berat. Jika seorang murid sering dibentak maka lambat laun ia akan minder dan tertekan. Jika seorang murid divonis gurunya bahwa ia bodoh maka ia merasa ia memang bodoh. Inilah yang akan mematikan potensi yang dimiliki oleh murid yang bersangkutan. Efeknya si murid akan sulit berkembang karena ada dinding penghalang antara dia dengan gurunya. Akibatnya dia akan malas mengikuti pelajaran. Kalaupun ia belajar yang ada hanyalah ketidaknyamanan.

Guru hendaknya menjalin kedekatan hati dengan anak didiknya sehingga suasana kekeluargaan bisa di rasakan di dalam kelas. Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif dan Menyenangkan (PAIKEM) sangat perlu diterapkan guna merangsang minat belajar peserta didik. Sebab tidak zamannya lagi metode ceramah dimana murid hanya menjadi pendengar, sementara guru menyampaikan di depan kelas. Jika seperti ini potensi siswa kurang tergali dengan baik karena menggunakan pola satu arah. Kalau dahulu murid adalah objek dalam belajar maka sekarang merekalah subjeknya. Dengan pola pengajaran PAIKEM murid-murid akan lebih terpancing untuk lebih aktiv dalam proses pembelajaran.

Guru juga sedapat mungkin memposisikan murid-muridnya sebagai anak kandungnya sendiri. Seorang ibu kandung tentu akan memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Seperti ini jugalah hendaknya cara berpikir seorang guru terhadap peserta didik. Guru harus menjadi teladan di kelas dan tempat bertanya bagi murid-muridnya. Jika ada yang tidak peduli dengan murid-muridnya bukanlah guru namanya. Kita sedih jika masih ada guru-guru yang mengajar seenak perutnya tanpa ada persiapan. Kita sedih jika ada guru yang tidak memiliki perencanaan pembelajaran. Bagaimana mungkin tujuan dari pendidikan yang tercantum dalam pembukaan UUD Negara RI tahun 1945 itu akan terwujud sementara kita sebagai pendidik tidak berusaha memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Tak hanya itu. Seorang guru dituntut untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya disamping ilmu yang telah ada. Ini dikarenakan ilmu terus berkembang dengan pesat dari waktu ke waktu sehingga mau tidak mau guru harus terus belajar dan belajar. Yang tidak kalah pentingnya adalah guru-guru harus rajin membaca untuk memperkaya wawasannya.

Peran guru dalam membentuk karakter peserta didik sejatinya adalah bagaimana menjadi guru yang baik bagi murid-muridnya. Jika seorang guru sudah memainkan peran seperti ini maka pendidikan yang berkualitas dapat tercapai.

Penulis :

Fauzul Izmi

Pendamping Sekolah Unggul Sumatera Barat

(Sekolah Pendampingan LPI-Dompet Dhuafa)

Guru 14 hari

Guru 14 Hari

“Good morning students!” suara Bu Niar memecah keheningan kelas di pagi itu.

Seperti biasa, pagi itu Bu Niar menjadi lakon tunggal di sebuah petak kecil berdinding papan dan beratapkan seng. Orang menyebutnya sebagai sekolah. Meskipun kondisinya tak seperti sekolah pada umumnya. Hanya ada dua petak kecil di sekolah tersebut. Satu petak untuk kelas bawah, sepetak lagi untuk kelas atas. Mengajar kelas rangkap sudah menjadi makanannya sehari-hari.

Sekolah Bu Niar terletak di sebuah dusun kecil bernama Nunusan. Sebuah dusun kecil di Desa Rantau Langsat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Dusun ini terpisah cukup jauh dari desa induknya. Jarak Desa Rantau Langsat dari kecamatan pun juga sangat jauh, melewati jalan tanah kuning yang licin, membelah barisan pohon sawit dan juga belukar.

Bu Niar sebenarnya bukanlah warga Dusun Nunusan. Ia didatangkan dari desa induk untuk mengajar di kelas jauh dari SD yang ada di Desa Rantau Langsat. Tak banyak orang yang bersedia mengajar di sekolah tersebut. Medan tempuh yang sulit dan letak dusun yang terpencil menjadi alasan utama.

Hanya ada satu jalur menuju dusun Nunusan, yakni jalur sungai. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan perahu mesin menyusuri Sungai Gansal, salah satu sungai besar di Indragiri Hulu. Jika air sedang tinggi, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 1-1,5 jam.  Tetapi saat musim kemarau, ketika debit air sedang berkurang, maka dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam untuk sampai ke dusun tersebut.

Selain jaraknya yang cukup jauh, dusun ini juga sangat jauh dari sentuhan pembangunan. Hanya ada 17 kepala keluarga yang mendiami. Tak ada listrik yang menerangi, apalagi sinyal telekomunikasi. Aktivitas mandi, bersuci, mencuci, hingga buang hajat pribadi, dilakukan di tepian sungai. Dan saat gelap mulai menyelimuti, seketika dusun ini menjelma menjadi sebuah kampung mati.

Kondisi inilah yang menyebabkan orang enggan mengajar di SD Filial Rantau Langsat. Beberapa kali ada yang mencoba, tapi tak bertahan lama. Kini tinggal dua guru yang bertahan, salah satunya adalah Bu Niar. Sudah enam tahun ia mengabdi di sana.  Meninggalkan keluarga dan juga hiruk pikuk sosial media, demi mengabdi untuk negara, meski gajinya tak seberapa. Saat berkunjung ke sana beberapa hari yang lalu, alhamdulillah saya berkesempatan bertemu dengannya.

Bu Niar adalah guru muda dengan semangat membaja. Usianya baru di bilangan dua puluh dua, tapi sikapnya dalam mengambil keputusan sangatlah dewasa. Meski hanya lulusan SMK, gairah mengabdinya tak kalah dengan mereka yang berstatus sarjana. Atas dasar itulah Dompet Dhuafa Riau memberinya beasiswa lanjut studi di Universitas Terbuka.

Kondisi dusun yang kurang ideal memaksa Bu Niar tidak bisa setiap waktu ada di Nunusan. Ada tanggung jawab lain yang juga harus ia tunaikan, baik tanggung jawab sebagai anak atapun tanggung jawab sebagai mahasiswa. Untuk menyiasatinya, Bu Niar dan satu guru lainnya, Bu Hayati, membagi jadwal mengajarnya. Bu Niar dua minggu pertama, Bu Hayati dua minggu berikutnya. Situasi seperti ini berjalan rutin setiap bulannya.

Akibat pembagian jadwal tersebut, otomatis hanya ada satu guru di sekolah tiap harinya. Kepala sekolah hanya berkunjung sesekali, karena ia harus mengurus sekolah induk dan beberapa sekolah filial lainnya. Bisa dibayangkan betapa rumitnya pekerjaan Bu Niar. Menangani murid satu kelas saja tidaklah mudah, apalagi satu sekolah. Tapi tentu saja ia tak menyerah. Dan alhamdulillah, dengan adanya program pendampingan dari Sekolah Literasi Indonesia yang dimulai sejak 2017 lalu, tugas Bu Niar bisa sedikit terbantu.

Tak ada perjuangan tanpa adanya pengorbanan. Itulah yang Bu Niar-dan juga Bu Hayati-rasakan. Dengan gaji yang hanya 800 ribu perbulan, gajinya nyaris habis hanya untuk biaya perjalanan Rantau Langsat-Nunusan. Biaya sewa sampan berkisar 350-400 ribu untuk sekali jalan. Jika sebulan dua kali menyeberang (PP), maka tidak ada sisa untuk membeli kebutuhan. Untung saja pemilik sampan memberinya sedikit keringanan, sebagai balasan untuk tugas mulia yang ia lakukan.

Bu Niar telah mengajarkan kepada kita tentang ketulusan hati, bahwa menjadi guru adalah soal panggilan hati. Ia tak melulu soal materi. Bukan pula soal berapa rupiah yang masuk ke rekening pribadi. Bagi mereka yang niatnya tulus mengabdi, masa depan anak-anak jauh lebih penting ketimbang angka-angka yang kelak tak dibawa mati.

Selamat Hari Guru Nasional.

Ditulis oleh: Andi Ahmadi (Konsultan Sekolah Literasi Indonesia-Dompet Dhuafa Pendidikan)

Motivasi Hadiah Menguatkan Karakter Anak Didik

Motivasi Hadiah Menguatkan Karakter Anak Didik

Mendidik anak merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua. Namun peran itu kian memudar berdalih pada kesibukan orang tua untuk memenuhi tuntutan biaya kehidupan, tidak sedikit orang tua yang menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada pihak tertentu, sebutlah sosok guru dalam lembaga pendidikan. Peran guru bukan hanya sebagai transfer knowladge, menjadi fasilitator untuk perkembangan anak, namun guru berperan penting dalam mendidik, mengarahkan dan menyiapkan anak menjadi pribadi mandiri dan bertaqwa.

Menghadirkan prilaku anak mandiri dan bertaqwa tentu butuh pembiasaan yang terpola dan terprogramkan. Beririsan dengan hal tersebut Jairingan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan, melalui program Sekolah Literasi Indonesia memiliki program yang mendukung pembentukan karekter anak, terdapat tiga lingkup  yang dikembagkan untuk optimalisasi kualitas sekolah, yaitu Lingkup Kepemiminan Sekolah, Lingkup Budaya Sekolah, dan Lingkup Sistem Pembelajaran. Penegakan pembiasaan yang baik melalui pengelolaan lingkungan kelas, berupa budaya positif dapat mendorong anak tetap termotivasi berprilaku sesuai harapan,  salah satu hal yang dapat dilakukan melalui pemberian hadiah.

Dengan sebuah janji akan diberikannya hadiah, anak akan termemotivasi  untuk melakukan sebuah perbuatan baik. Namun, tetap harus diingat bahwa ada tata cara tersendiri dalam hal pemberian hadiah agar tidak menjadi bumerang yang merugikan diri sendiri. (Irawati Istadi:2016)

Sejalan dengan pendapat tersebut, penanaman karakter pada perilaku anak dapat dikuatkan melalui motovasi hadiah, namun perlu dicermati tatacara memberikan hadiah pada anak sedikitnya dapat memperhatikan enam hal berikut yaitu: Menghargai Perilaku Anak. Berilah anak hadiah karena perilakunya bukan sifatnya, seperti keberhasilan mereka untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, berbagi makanan kepada temannya, atau ketika anak mau mengakui kesalahannya dengan jujur.

Tidak Untuk Selamanya. Bahwa pemberian hadiah hanya bersifat sementara, hanya sebagai perangsang motivasi saja, tegaskan pada anak bahwa suatu saat kelak, ketika anak pandai tanpa hadiah juga harus melakukan hal-ha itu. Pengertian tersebut sebaiknya disampaikan ketika anak dalam kondisi hati sedang gembira.

Dimusyawarakhan Perjanjiannya. Buat kesepakatan bersama hal apa yang jadi aturan bagi kebaikannya, ditulis secara jelas, perilaku yang diharapkan bisa ditumbuhkan pada anak. Berapa jangka waktunya, dan apa hadiahnya.

Bukan Berupa Barang. Bukan berupa barang adalah alternatif  bentuk hadiah terbaik bagi anak. Jadi, bisa berupa perhatian, pujian,  atau bentuk-bentuk kasih sayang lainnya seperti belaian, pelukan, dan sebagainya. Model hadiah ini disesuaikan dengan tingkat usianya. Untuk anak sekolah dasar, lebih tepat diberi banyak pujian, perhatian, dan komunikasi aktif.

Hadiah bintang prestasi, tertangkap dalam pikiran anak adalah kebanggaan karena perhatian dan pujian guru baginya. Misalnya pada rentang waktu yang disepakati, apresiasi dari akumulasi bintang dapat berupa piagam penghargaan yang merekam nama anak dan perikalu baik yang berhasil dicapainya.

Bila Berupa Barang. Nilainya, bukan harganya. Ditekankan kepada anak tentang manfaatnya. Pilih barang yang edukatif dan mungkin dibutuhkan anak. Rancang peristiwa pemberian hadiah tersebut menjadi istimewa, berikan dengan cara istimewa. Meskipun hanya sebatang pensil seharga lima ratus rupiah, namun diberi pita indah dan diberikan dengan memuji terus menerus keitimewaan hadiah dan alasan pemberiannya, bagi anak sudah sangat membanggakan.

Bertahap. Dicanangkan program tahapan capaian perilaku yang diharapkan serta pemberian hadianya. Hadiahnya bisa digabung antara non-barang dan hadiah barang. Misalnya guru ingin anak mampu menegakkan kebersihan.  Ajak anak membuat perjanjian dengan beberapa tahapan. Pertama setiap anak membuang sampah pada tempatnya mendapatkan satu bintang, ketika jumlah bintang mencapai 50, ia dijanjikan hadiah sebingkisan jajanan menarik. Tahap kedua, anak mampu menjaga kebersihan kelas dengan terlibat piket pada jadwalnya, yang melaksanakanya mendapat dua bintang,  ketika jumlah bintang mencapai 50 dijanjikan hadiah sebingkisan jajanan menarik dan mendapatkan kesempatan menonton kisah menarik diperpustakaan.

Agar hadiah dapat mejadi motivasi bukan bumerang bagi diri dengan memperhatikan tatacaranya. Melalui hal ini menjadikan upaya memotivasi anak didik berjalan dengan mudah dan menyenangkan. Sehingga pola yang tepat menggunakan hadiah sebagai motivasi dapat mengutkan karakter positif yang diinginkan terbentuk pada anak. (AL)

 

 

____________

*Penulis adalah Konsultan Relwan Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

Daftar Pustaka:

Istadi, Irawati. 2016. Mendidik dengan Cinta. Yogyakarta:Pro-U Media

Dompet Dhuafa Pendidikan Usulkan Kurikulum Kepemimpinan Bagi Pendidikan Indonesia

Dompet Dhuafa Pendidikan Usulkan Kurikulum Kepemimpinan Bagi Pendidikan Indonesia

Guru adalah ujung tombak dari sistem pendidikan. Merekalah yang menjadi eksekutor dari pencapaian tahapan demi tahapan cita-cita luhur yang disemat dalam sistem pendidikan Indonesia. Namun sayangnya, kualitas dari ujung tombak ini seringkali tidak terperhatikan dengan baik. Hal ini tentu saja berdampak pada output pendidikan negeri ini.

Sebagai bentuk kontribusi terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas guru, Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar event bertajuk “Harmoni Cinta Guru”. Kegiatan ini akan dihelat selama tiga hari, yaitu Jum’at, Sabtu, dan Senin (23-24 dan 26 November 2018). Seluruh kegiatan akan dilaksanakan di Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur. Sasaran dari kegiatan ini adalah para mahasiswa UNJ, guru dan masyarakat umum di wilayah Jabodetabek.

Adapun ragam acara pada kegiatan tersebut adalah talkshow “Harmoni Cinta Guru”, lomba dan workshop media pembelajaran, bazar buku, pembagian buku, juga pembagian bunga. Narasumber yang sudah menyatakan kesediaannya hadir pada kegiatan ini adalah Lendo Novo (Penggagas dan Pendiri Sekolah Alam), Lisnaini Sukaidawati (Konsultan Keluarga dan Parenting dari Rumah Parenting), Tsani Nur Famy (Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar), dan Bayu Chandra Winata (Ketua Center for Education Study & Advocacy Dompet Dhuafa Pendidikan).

Pada kegiatan ini, DD Pendidikan akan melakukan sosialisasi konsep Uswah Leadership yang akan diikuti dengan launching buku dengan judul serupa. Uswah Leadership sendiri merupakan konsep kepemimpinan yang bertumpu pada inti kepemimpinan Muhammad SAW.

“Terdapat 4 sifat yang menjadi pokok dalam Uswah Leadership, yaitu integritas, cendekia, kompeten, dan transformatif. Keempat hal tersebut dianalogikan dalam bentuk pohon leadership. Maka integritas adalah akar yang menghunjam kuat ke dalam bumi dan menjadi tumpuan tumbuhnya pohon yang besar, cendekia adalah batang yang kokoh, dan dahan yang banyak, kompeten adalah ranting-ranting yang menjulang ke langit, dan daun-daun yang rindang lagi meneduhkan, dan transformatif merupakan bunga dan buah-buah yang bermanfaat serta memberikan perubahan besar dalam peradaban setiap saat” jelas Bayu Candra Winata sebagai penulis buku Uswah Leadership.

Perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Segenap pihak harus bersinergi, bekerjasama untuk menuntaskan problematika pendidikan Indonesia yang menggunung. Semoga langkah kecil berupa kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bahwa siapapun bisa ambil bagian untuk membawa perbaikan pada negeri yang kita cintai ini.