Employee Gathering DD Pendidikan

DD Pendidikan Berikan Kesempatan Perempuan Menjadi Pemimpin

Bogor,(24-4). Teruslah kamu bermimpi, teruslah untuk bermimpi, bermimpilah selama kamu bisa bermimpi! Jika tanpa mimpi, apakah jadinya hidupmu! Kehidupan yang sebenarnya sangatlah kejam itulah pesan R.A. Masih dalam suasana peringatan Hari Kartini Dompet Dhuafa Pendidikan membagikan infografis bulan April 2019 dengan tema kartini Muda 2019. Menurut rilis yang dikirimkan oleh Marketing Komunikasi DD Pendidikan Nurhayati Rospitasari kepada redaksi, DD Pendidikan merupakan lembaga yang mendorong perempuan untuk berkarir, menjadi pemimpin dan berkontribusi bagi masyarakat.

” DD Pendidikan merupakan lembaga yang mendorong perempuan untuk berkarir dan berkontribusi bagi masyarakat. Karyawan DD Pendidikan berjumlah 139 orang dengan 39 diantaranya perempuan. Dua perempuan diantaranya memegang jabatan strategis sebagai general manager dan kepala sekolah yang memimpin puluhan laki-laki, ungkap Nur.

“ Bahkan direktur DD Pendidikan dan GM Pendidikan DD sebelumnya disandang oleh perempuan. DD Pendidikan berkomitmen untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada perempuan untuk memberikan kontribusi terbaik tanpa harus meninggalkan tugas utamanya sebagai istri, ibu bagi anak-anaknya. DD Pendidikan menyediakan fasilitas yang mendukung perempuan yang bekerja diantaranya ruangan khusus menyusui, tempat penyimpanan ASI sementara, daycare dan PAUD untuk anak-anak,” jelas Nur.

“ Kata-kata Kartini banyak memberikan inspirasi dan momentum bagi kaum wanita untuk menyejajarkan hak untuk maju dan mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum pria. Seseorang yang berani mendobrak tradisi pada masanya dan membawanya hingga masa kini,” ujar Nurhayati Rospitasari Supervisor Marketing Komunikasi Dompet Dhuafa Pendidikan.

“Kini, kaum perempuan mendapatkan ruang yang sama untuk beraktualisasi dan berkarya serta memiliki peran penting di dunia luar. Salah satunya di lembaga sosial kemanusiaan Dompet Dhuafa Pendidikan,” kata Nur panggilan akrab ibu dua anak ini.

DD Pendidikan merupakan salah satu jejaring Dompet Dhuafa yang mengelola program pendidikan dengan penerima manfaat di seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri. (AEM)

Cara untuk tingkatkan kedisiplinan guru

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, semua pihak perlu terlibat aktif dalam pelaksanaannya. Bukan hanya sekolah beserta staff di sekolah saja yang terlibat namun perlu melibatkan masyarakat sekitar dan pemerintah. Komitmen dan semangat kesemua pihak tersebutlah yang akan menentukan seberapa jauh perbaikan pendidikan yang dapat kita lakukan. Kita semua harus sama-sama merasakan, sama-sama berpikir, dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan negara kita.

Sudah sebulan lamanya kami berada di Kabupaten Halmahera Selatan, kabupaten yang memiliki pemandangan indah ini. Kami adalah dua orang Kawan SLI yang dipindahtugaskan dari lokasi penempatan sebelumnya yakni di perbatasan Indonesia-Malaysia, Sanggau di Kalimantan Barat dan penempatan Indragiri Hulu di Riau. Setelah melaksanakan program Sekolah Literasi Indonesia di penempatan kami sebelumnya yang lamanya sekitar 6 bulan, kami dipindahkan ke Halmahera Selatan untuk melaksanakan program baru yakni SLI transformasi. Dengan adanya kami berdua di kabupaten yang terkepung lautan ini, total ada tiga orang Kawan yang menjadi konsultan pendidikan di sini. Membersamai seorang Kawan yang telah duluan hadir di sini.

Selama enam bulan ke depan kami akan melaksanakan serangkaian kegiatan peningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten ini. Tahapan kegiatan program SLI Transformasi adalah:melaksanakan pendaftaran dan sosialisasi kepada calon sekolah dampingan, melaksanakan school visit (kunjungan ke sekolah), melakukan pembinaan, serta melakukan pendampingan kepada sekolah dampingan.

Pekan ini kami masih berada pada tahap kunjungan ke sekolah. Mulai dari pagi hingga sore hari kami akan mengunjungi sejumlah sekolah untuk melihat kesungguhan dan komitmen sekolah dalam memajukan pendidikan di sekolah. Rutinitas harian yang demikian membuat kami dapat menyaksikan sendiri program-program yang ditawarkan sekolah dalam mencerdaskan anak bangsa. Beberapa contoh di antaranya adalah SDN 73 Halmahera Selatan yang melaksanakan program yang disebut pembiasaan “salam semut” yakni kegiatan membiasakan siswa untuk melakukan salim cium tangan kepada orang yang lebih tua seperti guru dan orangtua.

Pembiasaan lain juga dilakukan oleh SDN 12 Halmahera Selatan. Untuk mendidik siswa-siswi supaya menjadi anak yang religius, sekolah membiasakan siswa untuk membaca surat pendek al-Quran dan dzikir sesaat sebelum pulang sekolah. Pembiasaan-pembiasaan seperti inilah yang merupakan contoh usaha kita di dalam menciptakan generasi yang berakhlak baik dan religius.

Tidak hanya itu, ternyata pemerintah setempat juga membuat sebuah gebrakan dengan menjalankan program yang kiranya bertujuan untuk mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang disiplin. Program tersebut adalah apel kedisiplinan. Selama seminggu kami rutin melakukan kunjungan ke sekolah, kami jadi sering melihat pelaksanaan program yang dicanangkan pemerintah ini.

Setiap pagi dan siang hari, sekolah diminta untuk melaksanakan apel bersama seluruh staff sekolah dan siswa. Saat pelaksanaan apel kedisiplinan ini, sekolah diminta untuk mendokumentasikan pelaksanaannya lalu dikirim ke grup koordinasi dinas terkait. Dalam pelaksanaan apel ini, sekolah harus mengirimkan foto dokumentasi tidak melebihi waktu yang telah ditentukan. Tidak sampai di situ, semua dokumentasi yang dikirim harus dijadikan laporan yang tercetak. Jika ditemukan ASN dalam hal ini staff sekolah yang sering terlambat maka dinas terkait akan melakukan tindakan terhadap ASN bersangkutan.

Memang terlihat sederhana, hal sederhana inilah yang memberikan dampak yang sangat besar. Guru-guru menjadi lebih rajin untuk hadir tepat waktu. Meminimalisir adanya kesalahpahaman antara guru dan kepala sekolah karena penanganannya langsung ditindak oleh dinas terkait, serta menjadi sarana pengawasan dan kontrol yang hemat biaya dan tenaga bagi dinas terkait. Program-program seperti inilah yang sangat ditunggu kehadirannya dalam melakukan perbaikan pendidikan kita. Program-program yang melibatkan banyak pihak yang diawali dengan kita semua sama-sama merasakan, sama-sama berpikir, dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan negara kita.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian, Kawan SLI Halmahera Selatan

Duta Gemari Baca 5, Literaksi : Bukan Sekadar Narasi

Tentu kamu pernah dengar tentang survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang menyatakan bahwa tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara (Most Literate Nation, 2016). Sedangkan UNESCO mengatakan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,1% atau dengan kata lain dari 1000 orang hanya 1 yang membaca. Realita ini menunjukkan masih rendahnya budaya literat masyarakat Indonesia secara komprehensif. Penyelesaian bagi permasalahan ini tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab stakeholder pendidikan, dibutuhkan peran strategis dari setiap warga negara untuk menumbuhkan kesadaran literasi di masyarakat, tak terkecuali bagi pemuda.

Bertumbuhnya gerakan kerelawanan di Indonesia yang banyak digawangi oleh pemuda rasanya menjadi oase di balik realita rendahnya tingkat literasi di Indonesia ini. Pun di bidang literasi  pemuda sebagai agen perubahan memiliki potensi besar dalam tranfer pendidikan literasi di masyarakat.

Demi memperluas kebermanfaatan dalam memberikan aksesibilitas terhadap kegiatan literasi di berbagai daerah, Jaringan Literasi melalui Duta Gemari Baca hadir untuk mendukung peran pemuda dalam upaya menebarkan semangat literasi dan meningkatkan minat baca masyarakat dengan meningkatkan kapasitas dan kemampuan dalam bidang literasi.

Duta Gemari Baca batch 5 dengan tajuk “Literaksi : Bukan Sekadar Narasi” menjadi wujud aksi nyata pemuda dalam turut berkontribusi dalam meningkatkan minat dan budaya masyarakat Indonesia. Anak-anak muda yang telah mendapatkan pengembangan kapasitas literasi dari Dompet Dhuafa diharapkan mampu menjadi duta-duta yang akan membawa gerakan gemari baca di daerah masing-masing. Oleh karena itu, penguatan di bidang literasi diberikan sebagai bekal bagi masing-masing duta dalam menjalankan perannya dalam mengembangkan literasi di masyarakat.

Selama tiga hari Duta Gemari Baca akan mendapatkan pelatihan intensif yang akan membangun kesadaran, penanaman nilai, enggagement dan keterampilan bidang literasi. Berbagai materi dengan pembicara yang kompeten di bidangnya menjadi kesempatan dalam mengembangkan potensi masing-masing duta, baik di bidang kepenulisan, fun literacy, maupun pengembangan jaringan. Dengan bekal-bekal ini Duta akan membangun inovasi gerakan literasi di daerahnya yang harapannya mampu mendekatkan aksesibilitas literasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Yuk, wujudkan aksi nyatamu dengan bergabung menjadi Duta Gemari Baca di http://bit.ly/DutaGemariBaca5

Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Siswaku adalah Polwan

Mungkin pembaca masih mengingat mengenai dua potong seragam pramuka yang kekecilan. Dua potong seragam pramuka itu jatah bantuan untuk dua orang murid perempuanku. Ukurannya terlalu kecil untuk tubuhnya jadilah seragam itu hanya tergeletak di ruang kelas. Jika diamati maka kita bisa melihat lapisan debu disekitarnya. Ini masih sambungan dari kisah dua potong baju pramuka itu dan pemiliknya.

Aku merasa kasihan dengan dua siswiku itu. Di hari-hari biasa mereka tetap menggunakan pakaian putih merah yang sudah lusuh meskipun bukan hari senin atau selasa. Aku paham hal itu tidak sesuai dengan keadaan mereka bahwa kedua siswiku itu tidak memiliki baju pramuka yang pas. Sama pahamnya aku ketika menyaksikan siswa-siswaku yang lain yang tidak memakai sepatu, kaus kaki, memakai baju putih saja tanpa celana merahnya, memakai kemeja pramuka tanpa celana kain coklatnya, atau bahkan tidak memakai seragam sekalian. Hanya sebuah tas yang digendong di punggung dan dirinya yang dibalut pakaian sehari-hari. Pemandangan unik yang menjadi terasa biasa bagiku.

Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk mengusahakan baju seragam pramuka untuk dua muridku itu. Seperti yang telah kuceritakan pada kisah sebelumnya, aku mengambil dua pasang baju pramuka lalu kubawa ke pasar Soegih Belilas untuk ditukar. Namun sayang ternyata tidak ada yang mau menukarnya dengan seragam yang lebih besar padahal saya sudah menyampaikan bahwa ini untuk siswa pelosok. Aku pulang dengan tangan kosong.

Waktu berlalu lama hingga aku kembali resah dengan dua siswiku itu. Kucoba lagi mengantar dua seragam itu untuk di tukar di hilir. Kali ini di pasar seberida. Pasar yang lebih dekat dengan lokasi penempatanku bahkan masyarakat di penempatan saya selalu berbelanja di sini. Warga pasar dan Dusun Nunusan sudah saling kenal akrab. Awalnya saya menemukan bahwa ada saja yang menolak menerima menukar baju seragam itu. Waktu itu aku datang terlambat ke pasar itu. Beberapa lapak sudah tutup. Keadaannya sudah sepi. Penjual dan pembeli yang masih bertahan bergerak malas.

Aku nyaris menyerah namun di perjalanan menuju pintu keluar aku menemukan lapak baju terakhir. Kucoba kujelaskan mengenai keadaan kami yang memerlukan baju seragam dan lain-lain. Kali ini pedagang baju yang sedang siap-siap untuk menutup lapaknya bergeming sesaat. Dia berpikir beberapa jenak lalu tanggapannya menunjukkan respon positif. Kupikir dia membolehkan aku menukar dua seragam itu dengan seragam yang lebih besar.

Ternyata betul ia mau menukar dua seragam kekecilan itu tapi dengan beberapa syarat berupa tiga pasang seragam pramuka ditukar dengan dua pasang yang lebih besar serta dengan membayar beberapa rupiah. Aku sepakat dan akhirnya kali ini aku berhasil pulang dengan baju seragam yang lebih besar. Siswaku kan memakai seragam yang pas. Untuk ukurannya sendiri ternyata ukuran yang pas adalah seukuran siswa SMP.

Besoknya saya telah berada di Nunusan kembali bertugas dengan mengajari siswa-siswi kesayanganku. Kutaruh dua pakaian pramuka itu di dalam laci kedua siswaku. Kuminta untuk mencarinya lalu mereka kegirangan bukan main mendapati isinya. Langsung mereka coba-coba meski tidak dipakai.

Tahu tidak, beberapa siswaku telah terdaftar sebagai pemilih untuk pemilu presiden 2019. Mereka masih semangat untuk belajar dan semangat itulah yang menjadi motivasi saya yang menyemangati untuk terus mengajar.

Waktu berlalu lagi hingga tiba hari di mana siswa diperkenankan memakai seragam pramuka. Si Isel dan Linda datang. Yang paling besar adalah Isel. Mereka masuk barisan dengan rapi. Kulihat mereka tertangkap mataku hebat sekali seragam itu pas dengan badan mereka. Rapi dan pas sekali. Aku bahagia melihatnya. Kemudian aku terbayang sesuatu mereka mirip polwan dengan seragam kemeja coklat dan berbaris serupa itu. Kemudian aku sedih karena mereka hanya siswa SD yang tidak memiliki kesempatan untuk mengecap SMP dan SMA. Aku bersedih.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian (KAWAN SLI Penempatan Indragiri Hulu)

Memilih-Sekolah-untuk-Anak-Berkebutuhan-Khusus

Tata Krama Memanusiakan ABK lewat Kolaborasi Pendidikan

Percayakah kita bahwa setiap manusia yang dilahirkan di dunia adalah karya agung Tuhan yang dilekatkan pada dirinya label spesial. Percayakah kita bahwa setiap anak yang kakinya  berpijak pada tanah memiliki hak yang sama dengan anak lainnya, tumbuh, berkembang, bermain, disayangi, dan mendapatkan pengakuan sebagai warga negara yang mesti dilindungi dan mengecap rasa pendidikan. Karena pendidikan tidak berbicara perihal manusia normal melulu. Bagaimanapun kondisinya, seperti apa mentalnya tetap saja hak tersebut milik setiap anak. Lebih jelasnya kita menyebut perlakuan ini sebagai tata krama dalam memanusiakan manusia.

“Muara dari pendidikan yaitu untuk memanusiakan manusia,” tak ada yang dapat mengelak kalimat tersebut. Tujuannya semata-mata memuaskan akal-akal manusia akan pengetahuan, menyejukkan hati melalui keteladanan terhadap sesama agar hukum rimba tidak bertengger dan hukum keseimbangan tetap kokoh terjaga. Sederhananya formula keseimbangan yang dikemukakan oleh Newton:  aksi = reaksi. Ruas kiri dan kanan akan terus seirama, seberapa banyak energy yang diberikan pada aksi sebanyak itu pula hasil yang dituai pada reaksi. Seberapa banyak pengetahuan dan keteladanan yang kita berikan, kita berharap sebanyak itu pula tumbuh pada diri manusia laiinnya.

Pemenuhan pengetahuan dan keteladanan ini dapat dijawab melalui kolaborasi pendidikan formal dan Informal. Langkah ini adalah langkah terjitu yang dapat ditempuh. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal dan rumah sebagai madrasah pertama bertanggungjawab seutuhnya mengantarkan anak ke gerbang kondisi terbaik.

Hal-hal diatas  dilakukan orang tua Gaga pada Gaga. Gaga adalah anak berpostur tubuh besar dan tinggi yang di lingkungannya diberi cap ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).  Setiap yang memandangnya sekilas lantas berasumsi Gaga adalah anak yang duduk di bangku kelas tinggi. Termasuk pandangan awal saya saat kunjungan ke-3 dalam agenda pemutaran video kirim budi, September lalu.  Belakangan saya tahu Gaga adalah anak kelas II.

Pada kenyataannya Ia baru satu setengah tahun mengenyam pendidikan formal di SDN 2 Wanasari Kab.Indramayu Jawa Barat. Orang tuanya memilih pendidikan inklusi, jarak sekolah dan rumahnya cukup dekat jadi alternative pilihan saat itu. Alasannya sederhana agar mereka dapat mengontrol perkembangannya. Hari pertama sekolah dan beberapa bulan berkutnya ibunya selalu mengantar ke pintu kelas, menunggu selama proses pembelajaran hingga bel berbunyi pertanda waktu pulang telah tiba.

Suatu waktu, orang tuanya memindahkan Gaga ke SLB (Sekolah Luar Biasa) namun tak bertahan lama, temponya hanya seminggu. Gaga meminta kembali ke SDN 2 Wanasari . Ia tak ingin belajar dengan ABK lainnya, Ia hanya ingin belajar dari ibu Masnaeni guru kelasnya. Di tengah keterbatasan mental yang membelenggu dirinya Gaga masih leluasa menentukan sekolah, nuraninya jujur berbahasa tempat ternyaman belajar. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memaksa Gaga tetap di SLB,  orang tuanya mengikuti keinginannya kembali pindah ke SDN 2 Wanasari.

Indonesia menuju pendidikan inklusi secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 Agustus 2004 di Bandung (Rombot: 2017), membuahkan perubahan dan perkembangan dalam diri Gaga. Saya teringat film Taare Zaman Pare  dari India yang menceritakan seorang ABK yang Imanjinatif, kemudian diberi perlakuan khusus dari guru seninya, dibimbing dan dididik hingga Ia benar-benar percaya pada bidang keahliannya. Hal serupa juga diterapkan pada Gaga, saat duduk dibangku kelas I Ibu Masnaeni memberikannya les khusus dalam tempo 2 atau 3 kali dalam seminggu. Alhasil, perkembangannya semakin meningkat. Walaupun tak 100% dapat mengikuti laju perkembangan  teman kelasnya.

Daya ingat, kejelasan berbicara, ketelitian dan perubahan sikap merupakan suatu prestasi yang membanggakan.  Sekarang, Ia merupakan anak dengan daya ingat yang kuat. Ia menghapal semua motor milik gurunya. Pada waktu pagi, jika ada motor guru yang belum datang Ia menuju menanyakan keberadaan guru   tersebut. Ia hapal, setiap hari Jumat ada mata pelajaran agama, oleh karenanya menanyakan guru mata pelajaran agama. Yang awalnya sering menangis seiring perjalanan waktu sikap itu mulai redup, Saat bel masuk berbunyi Ia mengakomodir teman kelasnya untuk masuk di kelas. Yang awalnya diantar jemput, saat ini hanya di jemput. Jika uang jajannya habis, Ia memilih pulang  meminta kepada ibunya dan kembali lagi ke sekolah dibanding menerima uang dari gurunya. Dan ada 1 hal kebiasaan yang melekat pada dirinya yaitu  menyalami dan mencium tangan guru-gurunya saat bertatap muka.

Melihat langsung dan mendengar kisah perkembangan Gaga dari Ibu  kepala SDN 2 Wanasari kita semakin membuka mata bahwa setiap anak itu berbeda, cepat atau lambat pasti akan bisa, ini hanyalah persoalan waktu. Mereka mempunyai bagiannya masing-masing dalam soal kemampuan. Dalam diri mereka ada harta karun yang terkubur, dan tugas orang-orang dewasa yang membersamainya adalah menggali dan menemukannya. Tokoh-tokoh penemu justru banyak dari penyandang ABK  seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan Wolfgang Amadeus Mozart, misalnya

Dalam lingkungan sekolah anak-anak berkebutuhan khususlah yang akan mengikuti anak-anak normal laiinnya, tidak sebaliknya. Berawal dari sinilah titik perubahan, kolaborasi pendidikan orang tua dan guru menjadi kunci pintu  perkembangannya. Semoga tata krama memanusiakan ABK lewat kolaborasi pendidikan  terus berlangsung dalam proses pendidikan itu sendiri.

Kontributor: Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia DD Pendidikan)

Referensi : Rombot, Olifia. 2017. Pendidikan Inkluisi. (Online) https//pgsd.binus.ac.id/2017/04/10/pendidikan-inklusi. Dikutip 23 Desember 2018

Pic : Google.co.id

Sekolah Ramah Hijau Makmal Pendidikan

3 Hal Penting Wujudkan Sekolah Ramah Hijau

Sekolah adalah rumah kedua bagi guru maupun siswa. Sepertiga dari waktu mereka berada di sekolah. Tiba di sekolah jam tujuh pagi dan kembali pulang ke rumah jam empat sore. Pada jam – jam produktif inilah mereka lebih lama berada disekolah daripada di rumah. Kegiatan belajar mengajar berlangsung aktif pada jam tersebut.

Salah satu pendukung kegiatan KBM adalah lingkungan belajar yang nyaman. Sekolah yang nyaman seperti rumah sendiri. Sehingga kegiatan belajar mengajar bisa optimal berjalan.

Dari itu MI Al Hidayah berupaya membuat lingkungan terlihat teduh, bersih dan sehat, sehingga semua warga sekolah nyaman dan betah berada di sekolah. Persoalan yang harus diselesaikan untuk mewujudkan sekolah bersih, nyaman dan sehat adalah SAMPAH. Untuk meminimalisir persoalan klasik lingkungan ini ada beberapa pembiasaan yang dilakukan di MI Al hidayah untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah hijau, bersih, sehat dan nyaman.

Siswa Menanam dan Menumbuhkan Pohon

Selama ini pemerintah memprogramkan gerakan menanam pohon, namun tidak ada program merawat atau menumbuhkan pohon. Tapi di MI Al Hidayah dilakukan gerakan siswa menanam dan menumbuhkan pohon. Masing – masing siswa diberikan satu buah pohon lalu siswa menanam dan memberi nama pohon tersebut dengan nama si penanam. Agar mereka bertanggungjawab merawat pohon tersebut hingga tumbuh subur.

Sampahku Tanggungjawabku

Masing – masing kita adalah produsen sampah. Setiap hari kita menghasilkan sampah baik berupa sampah organik dan non organik. Sekecil apapun sampah itu bila ada sepuluh orang bahkan lebih membuangnya secara sembarangan maka lingkungan tersebut terlihat kotor. Dari itu di MI Al hidayah dibuat gerakan “sampahku tanggungjawabku”. Bahwa semua warga sekolah bertanggungjawab terhadap sampah masing – masing sehingga dipastikan tidak ada sampah yang bukan pada tempatnya. Ketika salah satu warga sekolah lalai dalam membuang sampahnya maka tugas yang lain mengingatkannya.

Kegiatan 3R (Reduce, Reuse, recycle)

Sampah juga bisa diolah kembali dan digunakan kembali. Kegiatan pengelolaan sampah ini sudah diterapkan di MI Al hidayah salah satunya komposting. Sampah organik yang sudah dipilah dijadikan pupuk untuk merawat pohon yang sudah ditanam siswa. Selain itu barang- barang jenis plastik di-reuse secara sederhana untuk mempercantik dinding dan halaman sekolah. Sehingga bisa terlihat bahwa MI Al hidayah merupakan sekolah berwawasan lingkungan.

Melalui konsisten melakukan kegiatan peduli lingkungan ternyata telah menghantarkan MI Al hidayah meraih penghargaan Adiwiyata Tingkat Kota Medan tahun 2017 dan penghargaan Adiwiyata Tingkat Propinsi Sumatera Utara tahun 2018 yang lalu.  Dan insyaAllah sedang mempersiapkan diri menuju Adiwiyata Tingkat Nasional tahun 2019. Semoga Allah meridhoi.

Namun hal yang paling penting dari keberadaan sekolah adiwiyata ini adalah terbentuknya karakter anak – anak yang peduli terhadap masa depan bumi. Karena sudah menjadi pembiasaan sehingga lahir ketulusan dan kesadaran menjaga lingkungan agar lebih sehat, bersih dan nyaman.

Kontributor : Sri Ningsih Pardosi,Ssi (Kepala MI Al Hidayah Medan)

Sekolah (Harus) Tanggap Bencana

Dampak Bencana

Sepanjang tahun 2018 Indonesia mengalami banyak bencana alam. Mulai dari Tsunami di Palu, hingga yang terbaru Tsunami di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) malam lalu. Selain itu tercatat dari awal hingga akhir 2018 Indonesia juga banyak dilanda bencana alam lain seperti gempa, longsor, gunung meletus dan sebagainya. Mengutip dari laman resmi Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat telah terjadi 2.308 kejadian bencana yang menyebabkan 4.201 orang meninggal dunia dan hilang. Sementara 9.883.780 lainnya terdampak dan mengungsi akibat bencana alam tersebut. Selain itu bencan alam juga telah mengakibatkan 371.625 rumah mengalami kerusakan

Terjadinya bencana alam tentunya mempengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan. Berdasarkan data yang dikompilasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada bencana gempa yang menimpa Lombok, Nusa Tenggara Barat, terdapat 218.224 peserta didik yang terdampak bencana. 33 di antaranya meninggal dunia, 29 harus menjalani rawat inap, dan 36.902 peserta didik lainnya mengungsi. Selain itu bencana Gempa dan Tsunami di Palu menurut data yang di rilis dari Kemendikbud bahwa sebanyak 2.736 sekolah terkena dampak.

Indonesia berada di kawasan “Cincin Api” yang berarti potensi bencana di Indonesia sangat besar. Faktanya adalah 80% gempa bumi, gunung meletus dan tsunami yang terjadi di seluruh dunia adalah berasal dari kawasan “Cincin Api”. Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dihindarkan tetapi harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya, sehingga sebelum bencana, saat bencana maupun sesudah terjadinya bencana dapat diminimalisir dampak negatif dan resiko kerugiannya. Berada di kawasan “Cincin Api” seperti menunggu bom waktu meledak, karena tidak dapat diprediksi kapan dan dimana bencana tersebut akan terjadi. Pilihannya adalah apakah kita hanya menunggu atau bersiap diri untuk menghadapi ledakan tersebut.

Serius Menanggapi Bencana

Berbicara tentang penanganan bencana alam, Jepang adalah salah satu negara yang sangat fokus memperhatikan persoalan tersebut. Tanggal 17 Januari 1995 merupakan mimpi buruk bagi Jepang karena 6.434 penduduknya menjadi korban keganasan Gempa berkekuatan 6,9 SR. Sadar betul akan dampak destruktif dari gempa bumi, Jepang segera melakukan evaluasi besar-besaran. Para peneliti mengungkap bahwa gempa besar pada 1995 itu disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi. Hal ini, sulit rasanya membayangkan ada sebuah teknologi yang mampu menghentikan aktivitas lempeng bumi yang terus aktif bergerak. Namun, teknologi masih bisa dimaksimalkan untuk melakukan fungsi peringatan dini sehingga risiko bencana dapat dikurangi. Generasi anak-anak Jepang pasca-gempa 1995 akrab dengan latihan mitigasi bencana gempa bumi. Ketika alarm peringatan berbunyi, anak-anak di sekolah mulai mencari tempat berlindung di kolong meja guna melindungi diri dari reruntuhan barang dan material bangunan. Latihan mitigasi tersebut dilakukan setiap bulan, Tujuannya adalah untuk membiasakan anak-anak sekolah merasakan sensasi gempa sehingga ketika gempa terjadi anak-anak lebih cepat mengambil langkah penyelamatan diri. Ada pula aturan yang mewajibkan sekolah dengan dua lantai atau lebih dilengkapi jalur evakuasi yang dapat dipakai anak-anak untuk menuju ke tempat aman. Sekolah juga bisa menjadi penampungan dadakan ketika rumah para siswa rusak akibat gempa. Hal ini yang membuat Jepang menjadi Negara yang paling siap dalam menghadapi bencana.

Misalnya ketika tsunami besar melanda Kamaishi di Prefektur Iwate Jepang pada 11 Maret 2011. Tsunami yang begitu dahsyat, tercatat ketinggian gelombang tsunami tersebut mencapai 40 meter. Hampir 3.000 siswa sekolah dasar dan menengah pertama selamat berkat pendidikan mitigasi bencana. Bahkan dari hampir 1.000 korban jiwa di Kamaishi, hanya lima anak-anak usia sekolah saja yang meninggal dunia. Itu pun karena mereka berada di tempat yang jauh dari sekolah dan tak terjangkau regu penyelamat. Kunci keberhasilan Jepang dalam penanganan bencana adalah integrasi sistem mulai dari pra, saat dan pasca terjadinya bencana. Sebagai contoh, saat seismograf mendeteksi adanya pergerakan lempeng yang menyebabkan terjadinya gempa bumi maka setiap operator seluler dan layanan publik memberikan peringatan dini (Disaster – Early Warning System). Sebagai pelajaran yang dapat diambil dari Negara Jepang adalah bahwa meskipun bencana telah mengakibatkan penderitaan fisik, ekonomi, dan emosional, namun mereka mampu segera bangkit dari keterpurukan melalui penanganan bencana yang cepat dan efektif.

Cara Sekolah Siaga Hadapi Bencana

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi bencana adalah memberikan pemahaman terhadap masyarakat terkait upaya penyelamatan diri saat terjadinya bencana alam. Dalam hal ini, sekolah memegang peranan penting dalam memberikan pengetahuan tentang kebencanaan terhadap masyarakat. Seperti pepatah yang mengatakan “sedia payung sebelum hujan”. Sekolah di Indonesia harus memiliki standard layanan dalam menghadapi bencana. Standard tersebut setidaknya menjadi acuan bagi sekolah ketika terjadi bencana. Selain pemahaman terhadap langkah penyelamatan diri saat bencana, layanan pendidikan bagi siswa harus tetap diberikan pasca terjadinya gempa. Setidaknya sekolah memiliki empat fungsi dalam menghadapi bencana, yaitu (1) Fungsi Penyadaran – Awareness. Mau tidak mau, suka tidak suka, saat terjadi bencana tidak ada yang dapat untuk negosiasi, pilihannya adalah kita harus betul-betul siap untuk menghadapinya. Kesiapan ini harus diimbangi dengan pemahaman menghadapi bencana alam. Fungsi penyadaran ini adalah sebagai upaya pemberian pemahaman dan kesadaran masyarakat khususnya siswa dalam mempersiapkan diri dalam penghadapi bencana alam. Sehingga saat terjadinya bencana alam, masyarakat tidak gagap untuk melakukan penyelamatan diri. Upaya sekolah dalam melakukan fungsi penyadaran tersebut tidak dapat bekerja sendiri, harus mampu melibatkan berbagai pihak terutama pihak yang mampu dan memahami tentang penanganan bencana alam. (2) Fungsi Penyelamatan (Savety). Sekolah harus siap dalam upaya penyelamatan, untuk itu perlu dibuat sistem penyelamatan diri. Contoh sederhananya adalah pembuatan jalur evakuasi di sekolah dan penentuan titik kumpul saat terjadi bencana. Sehingga sekolah tidak kesulitan untuk mengkoordinir siswa untuk melakukan penyelamatan diri. Selain itu sekolah perlu membuat mekanisme dalam memberikan peringatan dini saat bencana, sehingga dapat meminimalisir korban dan kerugian. (3) Fungsi Pemulihan (Recovery). Hal yang sering terlupakan saat terjadinya bencana adalah proses pemulihan pasca terjadinya bencana alam. Banyak yang beranggapan yang penting adalah selamat dulu, prinsip tersebut bukan tidak benar tetapi kurang tepat. Hal yang sangat berat menghadapi bencana adalah pasca bencana. Pasca bencana semuanya dapat kembali ke nol, orang yang awalnya berdaya, seketika menjadi tidak berdaya. Proses pemulihan ini yang kemudian menjadi aspek penting yang sering terlupakan. Dalam hal ini sekolah memiliki fungsi sebagai pemulihan, tujuannya adalah menormalkan kembali semua aktivitas. (4) Fungsi Layanan (Service). Fungsilayanan ini sangat berkaitan dengan fungsi pemulihan, hal yang harus diperhatikan saat melakukan fungsi pemulihan adalah memastikan saat proses pemulihan semua layanan pendidikan tetap dapat terlaksana. Hak anak untuk mendapatkan pendidikan pasca terjadinya bencana alam adalah sifatnya wajib. Fungsi layanan ini juga memberikan harapan kepada terdampak supaya lebih siap kembali dalam menghadapi kehidupan.

Dari ke-empat fungsi tersebut yang terpenting adalah bagaimana caranya supaya kita selalu mendapat pelajaran berharga dalam menghadapi bencana. Sehingga kita selalu lebih siap dalam menghadapi bencana yang mungkin akan terulang kembali. Karena sesungguhnya bencana bukan untuk dihindari tetapi untuk dihadapi.

Kontributor : Muh. Shirli Gumilang (Spv. Sekolah Literasi Indonesia)

Jangan Pernah Berhenti Belajar Makmal Pendidikan

Jangan Pernah Berhenti Belajar

Pemudi energik asli Desa Engkerengas lahir dan dibesarkan di desa pinggiran sungai yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Letak geografis membuatnya menjadi sosok wanita yang tangguh. Ia merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara yang juga anak seorang kepala desa di Desa Engkerengas. Diapun memiliki saudara kembar yang saat ini sedang melanjutkan kuliah di Pontianak.

Usianya masih terbilang muda yaitu 22 tahun, tetapi kepeduliannya terhadap pendidikan mengalahkan pemuda yang seusia dengannya di desa ini. Keseharian bu Sumi adalah menjadi satu-satunya guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cahaya Bunda dan menjadi salah satu guru MTs Attaqwa Filial Engkerengas. Walaupun pendidikan terakhirnya hanya sebatas SMA dia terus berusaha menjadi sosok guru pembelajar.

Menjadi guru dengan segala keterbatasan tentu banyak menghadapi berbagai rintangan, tak sedikit yang menyepelekan dan meragukan kemampuan, dari sosoknyalah aku sadar bahwa S1 pendidikan bukan jaminan seorang layak menjadi guru melainkan mereka yang tulus berbagi den terus belajarlah yang layak menjadi seorang guru. Tentu kekurangan masih banyak terdapat disana-sini tapi kemauannya untuk terus belajar dan terus tampil percaya diri patut untuk diberi apresiasi.

Bertahan ditengah keterbatasan

Bu Sum biasa beliau disapa sudah aktif mengajar sejak tahun 2015 yaitu tahun pertama berdirinya sekolah MTs Attaqwa Filial Engkerengas, beliau merupakan satu-satunya guru pendiri yang tersisa di sekolah MTs tersebut hingga kini, saat guru-guru lain memilih hengkang mencari penghidupan yang layak beliau masih tetap bertahan sebab ini adalah sekolah satu-satunya dan harapan untuk kemajuan desa kedepan. Kemudian di tahun 2017 beliau aktif mengajar di PAUD Cahaya Bunda yang merupakan tahun pertama PAUD itu didirikan. Jadi bisa disimpulkan bagaimana peran besar beliau terhadap pendidikan di Desa Engkerengas ini.

Tak Pernah Berhenti Belajar

Saat awal-awal sekolah MTs berjalan yang saat itu hanya Bu Sumi saja guru yang ada, tentu banyak rintangan dan hambatan. Kegiatan belajar mengajar diadakan di Kantor Desa Engkerengas karena belum memiliki bangunan sendiri. Fasilitas penunjang belajarpun belum memadai, bahkan setiap usai mengajar baju dan celana menjadi kotor akibat debu kapur tulis yang digunakan menjadi hal yang biasa dirasakan oleh bu Sumi. Menjalankan sekolah seorang diri dengan bekal ilmu yang tidak ada belum lagi ditambah gunjingan para masyarakat yang mengatakan tak layak menjadi seorang guru karena hanya tamatan SMA, sering membuatnya putus asa. Bahkan beliau pernah ingin berhenti mengajar dan bahkan terkadang beliau tidak masuk mengajar karena begitu beratnya dan kebingungan bagaimana menjalankan sekolah. Hingga akhirnya datanglah tim dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melakukan asesmen sekolah yang kelak akan mendapatkan pendampingan dari Konsultan Sekolah Literasi Indonesia. Sejak kedatangan merekalah sekolah kembali memiliki arah dan tujuan, apalagi sejak dikirimkan 2 orang konsultan untuk mendampingi sekolah MTs Attaqwa Filial Engkerengas membuat bu Sumi kembali bersemangat. Hingga suatu hari ia diberangkatkan menuju bogor untuk mendapatkan pelatihan tentang bagaimana menjadi seorang guru pada program Sekolah Guru Indonesia (SGI). Bukan perkara mudah membujuk bu Sumi untuk ikut pelatihan di Bogor, sebab selain anak bungsu diapun belum pernah pisah sejauh itu dengan orang tua. Ia merupakan anak yang paling dekat dengan kedua orang tuanya. Bahkan ini menjadi kali pertama beliau naik mobil dan pesawat. Namun demi keinginannya untuk menjadi guru beliau memberanikan diri untuk pergi ke Bogor, dan setibanya disana beliau tersadar dan tercerahkan bahwa menjadi seorang guru memang butuh perjuangan dan pengorbanan.

Bertemu dengan berbagai guru dari seluruh penjuru nusantara begitu banyak memberikan pelajaran yang berarti bagi beliau. Hingga itu memberikan bekal kepercayaan diri baginya untuk tetap berkecimpung di dunia pendidikan hingga kini. Segala keraguan masyarakat sekitar dijawabnya dengan penampilan penuh percaya diri, bahkan ia selalu siap dan mengambil bagian dalam agenda-agenda yang ada di desa. Itulah sosok pahlawan masa kini yang dimiliki Indonesia, teruslah belajar, karena tiada kata berhenti belajar bagi seorang guru.

Melejitkan Semangat siswa ala guru Jabi

Melejitkan Semangat Belajar Siswa Ala Guru Jabi

Banyak guru yang berhasil menghadapi masalah-masalah terkait dengan semangat belajar, tapi tidak jarang ada guru yang cuek bahkan cenderung apatis terhadap semangat siswanya. Akibatnya, hasil proses pembelajaran tidak maksimal atau cenderung gagal. Semangat belajar menjadi salah satu modal utama dalam sebuah pembelajaran, karena dengan adanya semangat pembelajaran pun menjadi sangat menyenangkan.

Sebenarnya di dalam sebuah pembelajaran hal yang paling penting adalah pola interaksi antara guru dan peserta didik. Sebaik apapun pemahaman dan penguasaan materi yang dimiliki guru, jika gagal dalam menerapkan pola interaksi kepada peserta didik maka akan menghambat proses pembelajaran. Pola interaksi di sini mengharuskan komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik.

Dalam pola komunikasi efektif harus ada pertukaran informasi, ide, perasaan yang menghasilkan perubahan sikap hingga terjalin sebuah hubungan baik antara pemberi dan penerima. Selain ini perlu adanya respek dan empati terhadap lawan bicara kita. Respek adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran bicara kita. Sementara empati adalah sebuah kemampuan individu untuk menempatkan diri pada sebuah situasi yang dihadapi oleh orang lain. Untuk memberikan respek dan empati yang baik dalam pembelajaran, dapat diawali dengan guru menyapa para peserta didik.

Selama proses pendampingan sekolah di SDN 227 Bengkulu Utara ini saya kerap menemui  permasalahan yang diawali dengan kegagalan pola interaksi yang dilakukan guru kepada peserta didik, terutama di kelas 1. Ketika guru sedang memberikan materi, bukan hal yang aneh ada peserta didik yang berlari kesana kemari untuk bermain, berteriak-teriak, berkelahi, dan ada pula peserta didik yang diam,  saking pendiamnya seperti yang tidak bersemangat belajar.

Solusi Sederhana Lejitkan Semangat

Untuk mengatasi situasi seperti ini, langkah sederhana yang saya lakukan adalah memberikan yel-yel sapaan kepada siswa dan mengenalkan serta mendorong guru untuk membiasakan mengawali pembelajaran dengan  menyapa siswa-siswanya. Hasilnya seperti sapaan Ibu Chusnul, sang kepala sekolah yang dilakukan setiap mengawali jumat ceria, “Apa kabarnya hari ini siswa-siswi SDN 227 Bengkulu Utara?” Lalu dengan lantang siswa pun menjawab, “ Alhamdulillah, luar biasa, selalu ceria, Allohuakbar,eeeee……yaaaaaaa…eeee…eee…yaaa!” Cara serupa diterapkan juga oleh guru-guru dengan berbagai inovasi yang mereka lakukan.

Hal sederhana ini ternyata sanggup meningkatkan semangat para siswa dalam belajar. Secara tidak langsung cara ini memberikan nilai pembiasaan budaya saling menyapa antara guru dan peserta didik. Harapan besar dari pembiasaan ini tidaklah berhenti pada sapaan guru ke peserta didik ketika sedang bersamaan di kelas saja, namun jauh dari pada itu juga ke peserta didik secara perorangan baik di sekolah maupun di luar sekolah secara perorangan. Semangat yang ditunjukkan oleh para peserta didik ini mampu memberikan dampak positif bagi gurunya, dimana sang guru menjadi semakin semangat dalam mengajar, dan semakin membangun kedekatan emosional dengan para peserta didik.

Hasilnya Melejitkan Semangat SIswa

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan pendampingan di SDN 227 Bengkulu Utara ini, ada perubahan yang signifikan di kelas 1. Ibu Helpy Permatasari, wali kelas 1, secara rutin memberikan sapaan dan yel-yel kepada peserta didiknya. Begitu bersemangat dan begitu ceria ketika Ibu Helpy mengucapkan yel-yel kepada para peserta didiknya, rasa nyaman tergambar sebelum melaksanakan pembelajaran. Yel-yel juga memiliki fungsi untuk mengatur dan mengkondisikan kelas serta mengalihkan energi berlebih yang ada pada sebagian siswa. Energi yang biasanya mereka gunakan untuk berlari dan berkelahi saat belajar mampu dialihkan untuk meneriakan dan mengungkapkan yel-yel penuh semangat dan keceriaan. Sehingga kelas pun lebih kondusif dan menyenangkan untuk belajar.

Inilah cara sederhana yang diharapkan mampu menciptakan pola interaksi yang baik antara guru dan peserta didik, karena ini merupakan sebuah syarat dalam melakukan proses pembelajaran. Adanya penyemangat di awal pembelajaran menjadi dorongan bagi peserta didik bahwasanya belajar itu menyenangkan. Tiadanya penyemangat di awal, bisa jadi akan mendorong peserta didik untuk malas belajar serta ogah-ogahan untuk mendengarkan gurunya. Sehingga bukan tidak mungkin para peserta didik pergi ke sekolah terpaksa untuk menghindari masalah, pekerjaan-pekerjaan berat yang ada di rumah, atau bahkan hanya ingin bermain dan merasakan kebebasan dari rumah. Untuk itu, hanya satu hal yang mereka harapkan dari gurunya ketika berada di sekolah yakni sapaan dari guru. Apa jadinya kalau para siswa tidak mendapatkan hak-haknya di sekolah walau hanya sekedar hak sapaan yang bisa membangkitkan gairah belajarnya? Jadi, jangan pernah sungkan untuk menyapa para peserta didik kita, karena bisa jadi hal sederhana seperti itu justru sangat didambakannya.

Rendahnya Kualitas guru, penghambat perkembangan pendidikan

Waktu saya masih berada di bangku SD, saya sering kali menemukan guru yang hanya menyuruh siswa-siswinya untuk melakukan sesuatu tanpa memberikan contoh yang riil.

Sebut saja saat latihan gerak jalan, guru mengatakan ”kalau jalan itu tangan harus lurus, pandangan ke depan, kaki dihentak dan bla, bla, bla’‘. Sebagai murid kami sangat antusias mengikuti arahan guru tersebut, kami berusaha mengikutinya semaksimal mungkin karna kami pun ingin terlihat sempurna dimata guru, meskipun kami merasa bahwa apa yang dilakukan sudah sempurna, namun pada kenyataanya kami tetap saja salah dan tidak bisa melakukan seperti apa yang guru perintahkan. Nahasnya, saat melakukan kesahan, kami pun dimarahi bahkan tidak jarang kaki-kaki kami dijadikan sebagai bola untuk kemudian mereka tendang. Setelah itu guru lagi-lagi mengatakan, “tangannya diluruskan, dada dibusungkan, kaki dihentak!! Apa-apaan jalan begitu kayak gak ada tulang saja.”

Kami pun berjalan lagi dan mencoba melakukan seperti yang guru arahkan, tapi tetap saja gak bisa, kami masih juga berjalan seperti manusia tidak bertulang.

Coba kita pikirkan, apa iya cara yang dilakukan guru tersebut dapat menjadi latihan yang optimal untuk peserta didik? Apa mungkin latihan semacam itu dapat melahirkan anak yang unggul?  

Rasanya sangat tidak mungkin, cara seperti itu hanya akan menyisakan kebingungan kepada peserta didik, seberapa sering pun intensitas latihan itu dilakukan apabila caranya masih seperti itu maka siswa tidak akan pernah bisa menjadi yang terbaik. Jangankan anak SD, anak kuliahan pun saya rasa akan kesulitan mempraktikan konsep yang semacam itu, apa lagi anak SD.

Memahami konsep sangatlah mudah, tapi mempraktekan konsep itu jauh lebih susah. Jangankan tidak ada contoh yang akan diikuti, ada contoh di depan mata saja anak SD masih salah dalam melakukannya, hal itu harusnya disadari oleh guru.

Dalam hal ini saya bukannya ingin mengatakan bahwa guru tidak berhasil dalam mendidik siswa-siswinya, sama sekali tidak, saya hanya ingin menitipkan pesan kepada guru agar dapat menyeimbangkan antara teori dan praktek, bukan hanya pada urusan gerak jalan tapi dalam berbagai hal, guru harus mampu memberikan contoh kepada siswanya, baik itu contoh tindakan maupun perkataan.

Cerita diatas hanya sebagai gambaran dari kebingungan saya ketika masih berada di bangku sekolah dasar dulu, yang mana guru tidak mampu  memberikan contoh nyata dalam berbuat.

Saya pikir tipe guru yang seperti itu hanya ada pada zaman saya saja dan sudah tidak akan saya temui lagi di zaman now, tapi ternyata bibit-bibit pendidik yang seperti itu masih bertahan hidup dan berlalu lalang sampai sekarang.

Beberapa kali pernah saya lihat hal yang sama di sekolah yang berbeda, nampak jelas kebingungan dari wajah siswa saat mendapat arahan dari guru, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana yang benar, dan apa yang salah dari mereka. Siswa hanya mendapat petunjuk kata-kata sedangkan tidak mendapat petunjuk tindakan.

Harapan saya, semoga guru mulai menyadari bahwa tugas mereka bukan sekedar menyampaikan konsep yang tertuang didalam buku, tetapi juga guru berkewajiban untuk membimbing dan melatih peserta didiknya. Membimbing dalam artian, menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai moral, serta melatih yang bermakna menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan yang ada dalam diri anak didiknya.

Ini tentunya merupakan sebuah masalah krusial dunia pendidikan, bagaimana tidak! Guru yang menjadi icon kemajuan pendidikan ternyata masih sangat minim keterampilannya. Padahal harapan terbesar pendidikan itu adalah guru, sebagaimana yang pernah di ungkapkan oleh salah satu kaum intelektual dunia, yaitu Bpk Anis Rasyid Baswedan, “kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru, secanggih apapun sebuah kurikum, sekuat apapun financialnya apabila kualitas guru rendah makan kualitas pendidikanpun akan rendah, begitu juga sebaliknya.” Ungkap beliau.

Untuk kualitas guru di negri ini masih sangat rendah, faktanya nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75 dan Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara, pada pemetaan kualitas pendidikan, menurut lembaga The Learning Curve.

Akhir kata : Siswa itu bukanlah malaikat yang mampu menangkap serta mempraktekkan semua arahan guru dengan mudah, siswa itu manusia yang butuh bangat dengan bimbingan. Dari itu guru dituntut untuk memberikan pembelajaran dengan optimal kepada peserta didiknya.

Kontributor : Kawan Sekolah Literasi Indonesia