pendidikan inklusi

Dompet Dhuafa Pendidikan dan GAPAI ajak semua pihak peduli Pendidikan Inklusi

Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik pada 2016 menunjukkan, dari 4,6 juta anak yang tidak sekolah, satu juta di antaranya adalah anak-anak berkebutuhan khusus dan berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah anak berkebutuhan khusus (ABK) di Indonesia mencapai angka 1,6 juta anak. Dari 514 kabupaten/kota di seluruh tanah air, masih terdapat 62 kabupaten/kota yang belum memiliki SLB. Saat ini jumlah anak berkebutuhan khusus yang sudah mendapat layanan pendidikan baru mencapai angka 18 persen, sekitar 115 ribu anak berkebutuhan khusus bersekolah di SLB, sedangkan ABK yang bersekolah di sekolah reguler pelaksana Sekolah Inklusi berjumlah sekitar 299 ribu. Masih ada sekitar 82 % ABK yang belum mendapatkan hak pendidikan.

Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan), salah satu divisi Dompet Dhuafa yang fokus pada peningkatan kualitas pendidikan dan sumber daya manusia, merasa terpanggil untuk turut serta memberikan solusi atas permasalah tersebut. Upaya ini dilakukan DD Pendidikan dengan menghelat acara bertajuk Kajian Pendidikan Inklusi “Pendidikan Untuk Berkualitas : Fakta Atau Fatamorgana”.

Acara berformat panel ini dilaksanakan pada Sabtu, 8 Desember 2018. Acara ini diaksanakan dalam rangka memperingati hari Pendidikan Difabel Internasional pada tangggal 3 Desember. Acara dimulai pukul 08.00 hingga 12.00. Agar lebih menyerapi kajian pendidikan inklusi acara pun diadakan diadakan di Balai Besar Rehabilitasi Sosial Bina Daksa (BBRSBD) Prof.Dr. Soeharso Jl. Tentara Pelajar Jebres, Surakarta.

Sederet tokoh, profesional di bidangnya serta anak difabel yang berprestasi dan menginspirasi telah hadir untuk menjadi narasumber Kajian Pendidiikan Inklusi ini. Mereka adalah Drs. Hasto Daryanto, MPd, Kepala PLA Surakarta; Bayu Candra Winata (Dompet Dhuafa Pendidikan); Inayah Adi Oktaviana (Founder GAPAI (Gerakan Peduli Indonesia Inklusi); Hanik Puji A (Peraih 2 Medali Emas Balap Kursi Roda Papernas 2018); dan Sri Sugiyanti (Peraih 3 Medali Perak dan 1 Perunggu Parcycling ASIAN Paragames 2018).

Narasumber kajian pendidikan inklusi ini cukup meliputi segenap pihak yang konsern terhadap dunia pendidikan inklusi. Hal ini dimaksudkan untuk mencapai dari perhelatan ini, yaitu untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pendidikan Inklusi yang ramah terhadap tumbuh kembang anak, Acara ini juga diharapkan dapat memberikan alternatif model pengembangan pendidikan inklusi dan memperkuat peran pemerintah dalam penyelenggaraan dan pengelolalan pendidikan inklusi baik kebijakan maupun kualitas implementasinya.

Kehadiran narasumber dari berbagai latar belakang tersebut juga dimaksudkan untuk membangun sinergi antara pemerintah, komunitas yang bergerak di bidang pendidikan inklusi, juga NGO. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan kuaitas pendidikan untuk semua termasuk pendidikan yang ramah difabel, jelas Aidil Azhari Ritonga sebagai Direktur CESA (Direktur Center for Education Study & Advocacy Dompet Dhuafa Pendidikan)

Perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Segenap pihak harus bersinergi, bekerjasama untuk menuntaskan problematika pendidikan Indonesia yang menggunung. Semoga langkah kecil berupa kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bahwa siapapun bisa ambil bagian untuk membawa perbaikan pada negeri yang kita cintai ini.

Menjadi Guru Idola

5 tips jadi Guru Idola Siswa Jaman Now

Banyak cara menjadi idola. Tidak selalu dengan mengikuti ajang idol yang marak di televisi akhir-akhir ini, seperti Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, Indonesia’s Got Talent dan lain sebagainya. Tidak juga dengan mengupload video kita di youtube, seperti yang banyak terjadi sekarang. Sebagai guru kita juga bisa menjadi seorang idola, khususnya idola bagi murid-murid kita. Tapi, tak ada guru yang langsung menjadi idola di hadapan anak didiknya, meskipun guru tersebut berwajah tampan dan cantik. Sebab penampilan fisik semata tidak menjadi jaminan guru itu menjadi guru idola.

Hal yang perlu diperhatikan dan dipraktekkan (dilaksanakan) oleh guru untuk dapat menjadi guru idola antara lain :  Pertama yang perlu kita lakukan adalah dari diri kita sendiri. Kesan pertama apa yang akan kita munculkan ketika pertama kali bertemu dengan mereka? Apakah anda seorang guru yang suka bercerita lucu, tak banyak bercanda, senang memberikan motivasi, belajar lewat cerita motivasi, sangat disiplin dan tegas, senang berbaur dengan mereka, mau terbuka untuk mendengarkan keluh kesah mereka, atau ingin disegani oleh mereka? Maka jadilah diri sendiri. Percaya diri adalah kunci segalanya. Jadilah guru yang selalu unik di mata murid kita . Kedua,murid-murid identik dengan jiwa kekanak-kanakan. Oleh karena itu guru diharapkan mengetahui apa-apa saja yang disenangi murid-muridnya, mengajak mereka bernyanyi sebelum mulai belajar, bisa juga dengan membacakan dongeng kepada mereka. Ketiga, guru itu harus bisa menanamkan sifat disiplin kepada anak muridnya. Disamping itu seorang guru mesti disiplin terlebih dahulu. Jika seorang guru selalu datang terlambat, maka murid-murid tidak akan respek dan tidak akan mau melakukan apa yang disuruh gurunya terkait dengan kedisiplinan. Keempat, seorang guru harus kreatif, tidak sombong, rendah hati, selalu melemparkan senyum termanisnya, tidak pilih kasih, mampu bersabar ketika peserta didiknya bandel, dan senantiasa bersyukur pada Allah SWT

Sayangnya dalam proses belajar mengajar masih ada sebagian guru memiliki sikap  ingin menguasai dan secara otoriter mamaksa murid-murid agar patuh terhadap perintahnya. Kecintaan terhadap anak didik telah berkurang, mengancam anak didik bila melanggar aturan, sehingga pada saat proses belajar mengajar membuat mereka menjadi merasa takut dan membuat suasana  kelas menjadi tegang.  Seorang guru yang baik mestinya harus  bijaksana dalam mempertimbangkan dan memperlakukan siswa sesuai dengan karakternya, karena setiap  peserta didik memiliki keunikan dan kepribadian yang berbeda.

Hal yang harus dipahami oleh guru adalah tidak semua murid punya daya tangkap yang sama ketika menerima pelajaran. Ada yang cepat dan ada yang lambat. Dengan adanya kondisi ini guru harus bisa memahami kelebihan dan kelemahan muridnya, sehingga muridnya mampu berkompetensi sesuai dengan potensinya masing-masing. Untuk menjadi  guru yang diidolakan oleh murid-,muridnya, ia mesti terlebih dahulu menanamkan dalam dirinya untuk tetap komitmen dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai guru. Kecintaan terhadap tugas diwujudkan dalam bentuk curahan tenaga, waktu dan pikiran, dan bersikap professional. Bila guru memahami dan mengenal kepribadian murid-muridnya, maka guru yang bersangkutan akan disenangi oleh murid-muridnya. Itu artinya, jika sudah disenangi maka apa yang disampaikan di kelas akan mudah ditangkap oleh murid-muridnya.  Otomatis dia akan menjadi idola di hadapan murid-muridnya, karena mereka merasa dihargai dan merasakan kenyamanan dalam belajar

Selain itu, guru juga harus mampu menguasai bermacam-macam metode mengajar secara mendalam, karena proses pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilaksanakan oleh guru dalam menyampaikan materi yang diajarkan kepada murid agar dapat mempengaruhi  tujuan dari pendidikan dapat tercapai dengan baik. Guru dituntut untuk terus mengadakan pembaharuan.  Terutama yang berhubungan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Berbagai teknik pembelajaran, baik itu metode, pendekatan, maupun tata cara atau aturan dalam pembelajaran yang dirancang untuk menghasilkan transfer ilmu pengetahuan dari guru ke siswa harus terus dievaluasi

Sebagai seorang guru maka harus mampu mengamalkan 5 paradigma berikut : (1) Menjadikan 3 sasaran bidang garap pendidikan (koginitif-psikomotor-afektif) berkembang secara optimal, (2) Mengakui dan menghargai kecerdasan anak yangberbeda, (3) Menyesuaikan gaya belajar siswa, (4) Menfokuskan pada aktifitas siswa, (5) Menfokuskan pada penguatan kemampuan bukan ketidakmampuan siswa

Salah satu prinsip belajar adalah aktivitas yang menyenangkan dan menantang. Prinsip ini dapat dipenuhi. Salah satunya dengan kemampuan menghidupkan suasana. Suasana yang menggairahkan dalam belajar dapat ditempuh dengan ice breaking yang bisa kita sisipkan dengan game/permainan dalam pembelajaran di dalam atau di luar kelas. Dengan demikian, kita telah berusaha untuk menyatukan pikiran dan jiwa kita dengan siswa hingga terjalin kebersamaan dan saling memahami satu dengan yang lainnya.  Nah..sebagai guru, marilah kita memberikan pelayanan terbaik dan memuaskan kepada murid agar mereka senang belajar. Usahakan pula mereka mendapat learning by doing atau belajar sambil mempraktikkan sehingga belajar jadi lebih menyenangkan dan menggairahkan.  Selamat berjuang Bapak/Ibu guru. Semoga kita bisa mengantarkan anak didik ke gerbang kesuksesan dan jadilah idola bagi murid-murid kita. Wallahualam

Penulis : Santun Awi Jasica (Guru SDN 07 Nan Sabaris, Padang Pariaman)

Sekolah Pendampingan LPI-Dompet Dhuafa

Guru dan Karakter Peserta Didik

Menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia. Berkat jasa-jasa seorang guru telah lahir ilmuwan, praktisi, dokter, pengacara, dan banyak lagi yang lainnya. Seorang presiden sekalipun adalah hasil didikan dari seorang guru. Siapapun tak akan bisa membantah jasa-jasa dari pahlawan tanpa tanda jasa ini. Sampai kapanpun peran guru takkan tergantikan. Maka berbanggalah jika anda adalah seorang guru. Atas perannya pulalah para peserta didiknya bisa cerdas dan berkembang yang semula tidak tahu apa-apa alias buta huruf. Tentu saja tidak hanya itu. Seorang guru berperan dalam membentuk karakter murid-muridnya. Apakah mau dibawa ke arah yang positif ataukah sebaliknya tergantung gurunya. Sebab, apalah artinya jika seorang murid cerdas tapi tidak berakhlak dan sering berkelahi di sekolah. Apa gunanya jika nilai si murid tinggi tapi suka melawan kepada gurunya. Adalah kebahagiaan tersendiri bagi seorang guru bila berhasil mendidik muridnya menjadi orang yang berguna bagi bangsa dan negara serta agama.  Kelelahannya terobati seketika jika ia mengetahui muridnya mendapatkan kesuksesan dalam hidup

Lalu muncul sebuah pertanyaan. Bagaimanakah cara mencapai tujuan mulia tersebut? Tentu saja ada hal yang mesti dipahami betul oleh seorang guru bahwa karakter seorang murid harus dibentuk terlebih dahulu. Lalu seperti apakah peran guru dalam membentuk karakter peserta didiknya? Peran seorang guru bukan hanya dalam hal mentransfer ilmu kepada murid-muridnya. Kalau seperti ini terlalu sempit sekali makna dari pendidikan itu sendiri. Padahal pendidikan juga berarti memberikan pengajaran, suri tauladan, membentuk sikap dan akhlak peserta didik. Inilah yang lebih penting. Sebab seorang murid bila sudah menempuh pendidikan di perguruan tinggi nantinya juga akan terjun ke masyarakat dan menerapkan apa yang telah didapatkannya selama belajar. Jika ia hanya diberikan teori-teori saja tanpa ada asupan nilai-nilai atau norma-norma maka akan terjadi dekadensi moral.

Bisa kita lihat hari ini. Banyak orang yang pintar tapi dengan kepintarannya itulah ia menghalalkan segala cara untuk mengambil yang bukan haknya. Banyak orang yang berdasi tapi pekerjaannya adalah merampok uang negara. Inilah yang akan terjadi jika seorang guru hanya sibuk memberikan teori-teori saja kepada murid-muridnya tanpa dibarengi dengan pembentukan sikap atau karakter. Harus ada keseimbangan diantara keduanya. Apa gunanya punya anak didik tapi akhlaknya bejat. Guru manapun tidak ingin anak didiknya seperti ini. Oleh karena itu guru punya tanggung jawab agar  murid-muridnya menjadi generasi penerus yang cerdas dan berakhlak mulia.

Guru harus memahami betul kebutuhan murid-muridnya. Ada murid yang memiliki daya tangkap yang cepat dan sebaliknya ada pula yang lambat. Oleh karena itu guru harus peka dan mengenali murid-muridnya agar ia mudah dalam menggali potensi yang mereka miliki. Sebab, setiap murid pasti punya potensi yang berbeda-beda. Mungkin ada diantara mereka yang suka meribut di kelas. Bukan berarti murid yang seperti ini langsung divonis yang bukan-bukan. Bisa jadi ia punya kelebihan lain yang mungkin tidak kita sadari.  Kesabaran mutlak dimiliki oleh seorang guru dalam hal mendidik murid-muridnya.  Jika tidak jangan harap akan lahir generasi-generasi unggul yang diharapkan.

Bila ada murid yang nakal dan susah sekali diatur maka jangan sekali-kali membentaknya apalagi jika sampai keluar bahasa yang kasar atau tidak baik untuk didengar. Kata-kata yang kasar akan ditangkap olehnya dan lambat laun  ia akan meniru prilaku kita yang demikian. Berilah nasehat dengan cara yang lemah lembut kecuali memang jika si murid melakukan kesalahan yang fatal atau pelanggaran berat. Jika seorang murid sering dibentak maka lambat laun ia akan minder dan tertekan. Jika seorang murid divonis gurunya bahwa ia bodoh maka ia merasa ia memang bodoh. Inilah yang akan mematikan potensi yang dimiliki oleh murid yang bersangkutan. Efeknya si murid akan sulit berkembang karena ada dinding penghalang antara dia dengan gurunya. Akibatnya dia akan malas mengikuti pelajaran. Kalaupun ia belajar yang ada hanyalah ketidaknyamanan.

Guru hendaknya menjalin kedekatan hati dengan anak didiknya sehingga suasana kekeluargaan bisa di rasakan di dalam kelas. Pembelajaran Aktif, Interaktif, Kreatif dan Menyenangkan (PAIKEM) sangat perlu diterapkan guna merangsang minat belajar peserta didik. Sebab tidak zamannya lagi metode ceramah dimana murid hanya menjadi pendengar, sementara guru menyampaikan di depan kelas. Jika seperti ini potensi siswa kurang tergali dengan baik karena menggunakan pola satu arah. Kalau dahulu murid adalah objek dalam belajar maka sekarang merekalah subjeknya. Dengan pola pengajaran PAIKEM murid-murid akan lebih terpancing untuk lebih aktiv dalam proses pembelajaran.

Guru juga sedapat mungkin memposisikan murid-muridnya sebagai anak kandungnya sendiri. Seorang ibu kandung tentu akan memberikan yang terbaik kepada anak-anaknya. Seperti ini jugalah hendaknya cara berpikir seorang guru terhadap peserta didik. Guru harus menjadi teladan di kelas dan tempat bertanya bagi murid-muridnya. Jika ada yang tidak peduli dengan murid-muridnya bukanlah guru namanya. Kita sedih jika masih ada guru-guru yang mengajar seenak perutnya tanpa ada persiapan. Kita sedih jika ada guru yang tidak memiliki perencanaan pembelajaran. Bagaimana mungkin tujuan dari pendidikan yang tercantum dalam pembukaan UUD Negara RI tahun 1945 itu akan terwujud sementara kita sebagai pendidik tidak berusaha memberikan yang terbaik bagi peserta didik.

Tak hanya itu. Seorang guru dituntut untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya disamping ilmu yang telah ada. Ini dikarenakan ilmu terus berkembang dengan pesat dari waktu ke waktu sehingga mau tidak mau guru harus terus belajar dan belajar. Yang tidak kalah pentingnya adalah guru-guru harus rajin membaca untuk memperkaya wawasannya.

Peran guru dalam membentuk karakter peserta didik sejatinya adalah bagaimana menjadi guru yang baik bagi murid-muridnya. Jika seorang guru sudah memainkan peran seperti ini maka pendidikan yang berkualitas dapat tercapai.

Penulis :

Fauzul Izmi

Pendamping Sekolah Unggul Sumatera Barat

(Sekolah Pendampingan LPI-Dompet Dhuafa)

Guru 14 hari

Guru 14 Hari

“Good morning students!” suara Bu Niar memecah keheningan kelas di pagi itu.

Seperti biasa, pagi itu Bu Niar menjadi lakon tunggal di sebuah petak kecil berdinding papan dan beratapkan seng. Orang menyebutnya sebagai sekolah. Meskipun kondisinya tak seperti sekolah pada umumnya. Hanya ada dua petak kecil di sekolah tersebut. Satu petak untuk kelas bawah, sepetak lagi untuk kelas atas. Mengajar kelas rangkap sudah menjadi makanannya sehari-hari.

Sekolah Bu Niar terletak di sebuah dusun kecil bernama Nunusan. Sebuah dusun kecil di Desa Rantau Langsat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Dusun ini terpisah cukup jauh dari desa induknya. Jarak Desa Rantau Langsat dari kecamatan pun juga sangat jauh, melewati jalan tanah kuning yang licin, membelah barisan pohon sawit dan juga belukar.

Bu Niar sebenarnya bukanlah warga Dusun Nunusan. Ia didatangkan dari desa induk untuk mengajar di kelas jauh dari SD yang ada di Desa Rantau Langsat. Tak banyak orang yang bersedia mengajar di sekolah tersebut. Medan tempuh yang sulit dan letak dusun yang terpencil menjadi alasan utama.

Hanya ada satu jalur menuju dusun Nunusan, yakni jalur sungai. Perjalanan hanya bisa ditempuh dengan perahu mesin menyusuri Sungai Gansal, salah satu sungai besar di Indragiri Hulu. Jika air sedang tinggi, perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 1-1,5 jam.  Tetapi saat musim kemarau, ketika debit air sedang berkurang, maka dibutuhkan waktu sekitar 4-5 jam untuk sampai ke dusun tersebut.

Selain jaraknya yang cukup jauh, dusun ini juga sangat jauh dari sentuhan pembangunan. Hanya ada 17 kepala keluarga yang mendiami. Tak ada listrik yang menerangi, apalagi sinyal telekomunikasi. Aktivitas mandi, bersuci, mencuci, hingga buang hajat pribadi, dilakukan di tepian sungai. Dan saat gelap mulai menyelimuti, seketika dusun ini menjelma menjadi sebuah kampung mati.

Kondisi inilah yang menyebabkan orang enggan mengajar di SD Filial Rantau Langsat. Beberapa kali ada yang mencoba, tapi tak bertahan lama. Kini tinggal dua guru yang bertahan, salah satunya adalah Bu Niar. Sudah enam tahun ia mengabdi di sana.  Meninggalkan keluarga dan juga hiruk pikuk sosial media, demi mengabdi untuk negara, meski gajinya tak seberapa. Saat berkunjung ke sana beberapa hari yang lalu, alhamdulillah saya berkesempatan bertemu dengannya.

Bu Niar adalah guru muda dengan semangat membaja. Usianya baru di bilangan dua puluh dua, tapi sikapnya dalam mengambil keputusan sangatlah dewasa. Meski hanya lulusan SMK, gairah mengabdinya tak kalah dengan mereka yang berstatus sarjana. Atas dasar itulah Dompet Dhuafa Riau memberinya beasiswa lanjut studi di Universitas Terbuka.

Kondisi dusun yang kurang ideal memaksa Bu Niar tidak bisa setiap waktu ada di Nunusan. Ada tanggung jawab lain yang juga harus ia tunaikan, baik tanggung jawab sebagai anak atapun tanggung jawab sebagai mahasiswa. Untuk menyiasatinya, Bu Niar dan satu guru lainnya, Bu Hayati, membagi jadwal mengajarnya. Bu Niar dua minggu pertama, Bu Hayati dua minggu berikutnya. Situasi seperti ini berjalan rutin setiap bulannya.

Akibat pembagian jadwal tersebut, otomatis hanya ada satu guru di sekolah tiap harinya. Kepala sekolah hanya berkunjung sesekali, karena ia harus mengurus sekolah induk dan beberapa sekolah filial lainnya. Bisa dibayangkan betapa rumitnya pekerjaan Bu Niar. Menangani murid satu kelas saja tidaklah mudah, apalagi satu sekolah. Tapi tentu saja ia tak menyerah. Dan alhamdulillah, dengan adanya program pendampingan dari Sekolah Literasi Indonesia yang dimulai sejak 2017 lalu, tugas Bu Niar bisa sedikit terbantu.

Tak ada perjuangan tanpa adanya pengorbanan. Itulah yang Bu Niar-dan juga Bu Hayati-rasakan. Dengan gaji yang hanya 800 ribu perbulan, gajinya nyaris habis hanya untuk biaya perjalanan Rantau Langsat-Nunusan. Biaya sewa sampan berkisar 350-400 ribu untuk sekali jalan. Jika sebulan dua kali menyeberang (PP), maka tidak ada sisa untuk membeli kebutuhan. Untung saja pemilik sampan memberinya sedikit keringanan, sebagai balasan untuk tugas mulia yang ia lakukan.

Bu Niar telah mengajarkan kepada kita tentang ketulusan hati, bahwa menjadi guru adalah soal panggilan hati. Ia tak melulu soal materi. Bukan pula soal berapa rupiah yang masuk ke rekening pribadi. Bagi mereka yang niatnya tulus mengabdi, masa depan anak-anak jauh lebih penting ketimbang angka-angka yang kelak tak dibawa mati.

Selamat Hari Guru Nasional.

Ditulis oleh: Andi Ahmadi (Konsultan Sekolah Literasi Indonesia-Dompet Dhuafa Pendidikan)

Motivasi Hadiah Menguatkan Karakter Anak Didik

Motivasi Hadiah Menguatkan Karakter Anak Didik

Mendidik anak merupakan sebuah kewajiban bagi orang tua. Namun peran itu kian memudar berdalih pada kesibukan orang tua untuk memenuhi tuntutan biaya kehidupan, tidak sedikit orang tua yang menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada pihak tertentu, sebutlah sosok guru dalam lembaga pendidikan. Peran guru bukan hanya sebagai transfer knowladge, menjadi fasilitator untuk perkembangan anak, namun guru berperan penting dalam mendidik, mengarahkan dan menyiapkan anak menjadi pribadi mandiri dan bertaqwa.

Menghadirkan prilaku anak mandiri dan bertaqwa tentu butuh pembiasaan yang terpola dan terprogramkan. Beririsan dengan hal tersebut Jairingan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan, melalui program Sekolah Literasi Indonesia memiliki program yang mendukung pembentukan karekter anak, terdapat tiga lingkup  yang dikembagkan untuk optimalisasi kualitas sekolah, yaitu Lingkup Kepemiminan Sekolah, Lingkup Budaya Sekolah, dan Lingkup Sistem Pembelajaran. Penegakan pembiasaan yang baik melalui pengelolaan lingkungan kelas, berupa budaya positif dapat mendorong anak tetap termotivasi berprilaku sesuai harapan,  salah satu hal yang dapat dilakukan melalui pemberian hadiah.

Dengan sebuah janji akan diberikannya hadiah, anak akan termemotivasi  untuk melakukan sebuah perbuatan baik. Namun, tetap harus diingat bahwa ada tata cara tersendiri dalam hal pemberian hadiah agar tidak menjadi bumerang yang merugikan diri sendiri. (Irawati Istadi:2016)

Sejalan dengan pendapat tersebut, penanaman karakter pada perilaku anak dapat dikuatkan melalui motovasi hadiah, namun perlu dicermati tatacara memberikan hadiah pada anak sedikitnya dapat memperhatikan enam hal berikut yaitu: Menghargai Perilaku Anak. Berilah anak hadiah karena perilakunya bukan sifatnya, seperti keberhasilan mereka untuk selalu membuang sampah pada tempatnya, berbagi makanan kepada temannya, atau ketika anak mau mengakui kesalahannya dengan jujur.

Tidak Untuk Selamanya. Bahwa pemberian hadiah hanya bersifat sementara, hanya sebagai perangsang motivasi saja, tegaskan pada anak bahwa suatu saat kelak, ketika anak pandai tanpa hadiah juga harus melakukan hal-ha itu. Pengertian tersebut sebaiknya disampaikan ketika anak dalam kondisi hati sedang gembira.

Dimusyawarakhan Perjanjiannya. Buat kesepakatan bersama hal apa yang jadi aturan bagi kebaikannya, ditulis secara jelas, perilaku yang diharapkan bisa ditumbuhkan pada anak. Berapa jangka waktunya, dan apa hadiahnya.

Bukan Berupa Barang. Bukan berupa barang adalah alternatif  bentuk hadiah terbaik bagi anak. Jadi, bisa berupa perhatian, pujian,  atau bentuk-bentuk kasih sayang lainnya seperti belaian, pelukan, dan sebagainya. Model hadiah ini disesuaikan dengan tingkat usianya. Untuk anak sekolah dasar, lebih tepat diberi banyak pujian, perhatian, dan komunikasi aktif.

Hadiah bintang prestasi, tertangkap dalam pikiran anak adalah kebanggaan karena perhatian dan pujian guru baginya. Misalnya pada rentang waktu yang disepakati, apresiasi dari akumulasi bintang dapat berupa piagam penghargaan yang merekam nama anak dan perikalu baik yang berhasil dicapainya.

Bila Berupa Barang. Nilainya, bukan harganya. Ditekankan kepada anak tentang manfaatnya. Pilih barang yang edukatif dan mungkin dibutuhkan anak. Rancang peristiwa pemberian hadiah tersebut menjadi istimewa, berikan dengan cara istimewa. Meskipun hanya sebatang pensil seharga lima ratus rupiah, namun diberi pita indah dan diberikan dengan memuji terus menerus keitimewaan hadiah dan alasan pemberiannya, bagi anak sudah sangat membanggakan.

Bertahap. Dicanangkan program tahapan capaian perilaku yang diharapkan serta pemberian hadianya. Hadiahnya bisa digabung antara non-barang dan hadiah barang. Misalnya guru ingin anak mampu menegakkan kebersihan.  Ajak anak membuat perjanjian dengan beberapa tahapan. Pertama setiap anak membuang sampah pada tempatnya mendapatkan satu bintang, ketika jumlah bintang mencapai 50, ia dijanjikan hadiah sebingkisan jajanan menarik. Tahap kedua, anak mampu menjaga kebersihan kelas dengan terlibat piket pada jadwalnya, yang melaksanakanya mendapat dua bintang,  ketika jumlah bintang mencapai 50 dijanjikan hadiah sebingkisan jajanan menarik dan mendapatkan kesempatan menonton kisah menarik diperpustakaan.

Agar hadiah dapat mejadi motivasi bukan bumerang bagi diri dengan memperhatikan tatacaranya. Melalui hal ini menjadikan upaya memotivasi anak didik berjalan dengan mudah dan menyenangkan. Sehingga pola yang tepat menggunakan hadiah sebagai motivasi dapat mengutkan karakter positif yang diinginkan terbentuk pada anak. (AL)

 

 

____________

*Penulis adalah Konsultan Relwan Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa Pendidikan.

 

Daftar Pustaka:

Istadi, Irawati. 2016. Mendidik dengan Cinta. Yogyakarta:Pro-U Media

Dompet Dhuafa Pendidikan Usulkan Kurikulum Kepemimpinan Bagi Pendidikan Indonesia

Dompet Dhuafa Pendidikan Usulkan Kurikulum Kepemimpinan Bagi Pendidikan Indonesia

Guru adalah ujung tombak dari sistem pendidikan. Merekalah yang menjadi eksekutor dari pencapaian tahapan demi tahapan cita-cita luhur yang disemat dalam sistem pendidikan Indonesia. Namun sayangnya, kualitas dari ujung tombak ini seringkali tidak terperhatikan dengan baik. Hal ini tentu saja berdampak pada output pendidikan negeri ini.

Sebagai bentuk kontribusi terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas guru, Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar event bertajuk “Harmoni Cinta Guru”. Kegiatan ini akan dihelat selama tiga hari, yaitu Jum’at, Sabtu, dan Senin (23-24 dan 26 November 2018). Seluruh kegiatan akan dilaksanakan di Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur. Sasaran dari kegiatan ini adalah para mahasiswa UNJ, guru dan masyarakat umum di wilayah Jabodetabek.

Adapun ragam acara pada kegiatan tersebut adalah talkshow “Harmoni Cinta Guru”, lomba dan workshop media pembelajaran, bazar buku, pembagian buku, juga pembagian bunga. Narasumber yang sudah menyatakan kesediaannya hadir pada kegiatan ini adalah Lendo Novo (Penggagas dan Pendiri Sekolah Alam), Lisnaini Sukaidawati (Konsultan Keluarga dan Parenting dari Rumah Parenting), Tsani Nur Famy (Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar), dan Bayu Chandra Winata (Ketua Center for Education Study & Advocacy Dompet Dhuafa Pendidikan).

Pada kegiatan ini, DD Pendidikan akan melakukan sosialisasi konsep Uswah Leadership yang akan diikuti dengan launching buku dengan judul serupa. Uswah Leadership sendiri merupakan konsep kepemimpinan yang bertumpu pada inti kepemimpinan Muhammad SAW.

“Terdapat 4 sifat yang menjadi pokok dalam Uswah Leadership, yaitu integritas, cendekia, kompeten, dan transformatif. Keempat hal tersebut dianalogikan dalam bentuk pohon leadership. Maka integritas adalah akar yang menghunjam kuat ke dalam bumi dan menjadi tumpuan tumbuhnya pohon yang besar, cendekia adalah batang yang kokoh, dan dahan yang banyak, kompeten adalah ranting-ranting yang menjulang ke langit, dan daun-daun yang rindang lagi meneduhkan, dan transformatif merupakan bunga dan buah-buah yang bermanfaat serta memberikan perubahan besar dalam peradaban setiap saat” jelas Bayu Candra Winata sebagai penulis buku Uswah Leadership.

Perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Segenap pihak harus bersinergi, bekerjasama untuk menuntaskan problematika pendidikan Indonesia yang menggunung. Semoga langkah kecil berupa kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bahwa siapapun bisa ambil bagian untuk membawa perbaikan pada negeri yang kita cintai ini.

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Dara yang berusia 19 tahun ini bernama Nuri Rahmah anak pertama dari tiga saudara ini merupakan salah satu guru sekaligus staf administrasi yang membantu mengajar di MIS maupun di MTs Istiqomah Entikong. Bu Nuri begitu ia kerap disapa di sekolah baik oleh anak-anak maupun guru-guru. Bu Nuri baru tiga bulan mengabdikan dirinya di sekolah ini. Bu Nuri hanyalah tamatan Madrasah Aliah Negeri. Tamat sekolah dia di tawari pihak sekolah untuk bergabung di MIS dan MTs Istiqomah, awalnya ia hanya diminta membantu sekolah untuk menjadi wali kelas 2 dan guru bahasa arab, tetapi karena sumber daya manusia di sekolah yang terbatas akhirnya dia juga diminta untuk menjadi staf sekaligus guru didua sekolah itu. Bu Nuri pernah bercerita kepada saya bahwa dia ingin sekali kuliah dan menargetkan untuk bisa kuliah di tahun berikutnya. Hanya saja saat ini semuanya terbatas karena ibunya yang juga sakit stroke dan pendapatan Bapaknya yang tidak menentu setiap harinya. Ditambah kebutuhan hidup yang cukup mahal dan untuk membiayai sekolah adiknya membuat dia harus menunda dulu keinginannya untuk kuliah. Dia pernah bercerita sejak MAN dia sempat sekolah di Kabupaten Sanggau menumpang di keluarga dekatnya. Ibu Nuri merupakan guru termuda yang ada di MIS maupun MTs tetapi semangat dan kinerjanya tidak diragukan dalam mengajar dan mengemban amanah sebagai guru sekaligus staf administrasi di dua sekolah ini, padahal gajinya tidaklah seberapa itupun dihitung perjam ngajar yang mana terkadang kalau ada guru yang tidak masuk maka dialah yang akan masuk menggantikan guru tersebut.

“Sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah dengan mengambil jurusan pariwisata namun karena keterbatasan dan keadaan yang ada akhirnya saya memilih untuk mengabdi dulu di sekolah ini”, pungkas Bu Nuri.

Bu Nuri datang ke sekolah sejak pukul 07.00 Wib sampai pukul 12.00 Wib dilanjut mengajar di MTs setiap harinya sejak pukul 13.00 Wib-17.00 Wib. Terkadang dia mengeluhkan rasa capek dengan jadwalnya begitu padat, akan tetapi dia berharap semoga dengan pengabdian ini dapat membuka jalan kemudahan baginya untuk menyambung pendidikan lagi dibangku kuliah seperti teman-temannya.

Bu Nuri merupakan salah satu patner kawan SLI yang cukup membantu dalam pendampingan MTs Istiqomah Entikong. Beliau cukup kooperatif dan profesional dalam membantu berjalannya program SLI untuk kemajuan sekolah MTs. Mari teman-teman kita do’akan semoga Bu Nuri dimudahklan langkahnya untuk dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi dan semoga penyakit Ibunya segera diangkat dan disembuhkan. (AS)

Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya. Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau. Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi. “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.” Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang, Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa sebagai Bocah Buta Hilang. “Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Si Bocah Buta Hilang dari Indramayu

Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan  nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya.

Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau.  Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi.  “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.”

Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang,

Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan  kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya  pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa  sebagai Bocah Buta Hilang.

“Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas  kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat  ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Usia Menua tetapi Jiwa dan Semangat Tetap Muda

Usia Menua tetapi Jiwa dan Semangat Tetap Muda

Bapak Nukman H. Maknum lahir pada 26 April 1952. Saat ini usianya menginjak setengah abad tepatnya 66 tahun. Beliau sekarang tinggal bersama istri dan anak bungsunya yang masih mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Beliau memiliki tujuh orang anak dan semuanya sudah hidup mandiri. Semenjak kecil sampai sekarang beliau tinggal di Desa Meranjat Ilir Kecamata Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir Sumatra Selatan.

Beliau sedari kecil hingga kini beraktivitas di SD Pidua Meranjat, ketika kecil beliau menjadi murid dan kini menjadi guru sekaligus kepala sekolah. SD Pidua Meranjat merupakan yayasan pendidikan yang dikelola oleh keluarga Bapak Nukman H. Maknum dan sudah jadi warisan keluarga besar H. Nukman.

Pak Nukman meskipun diusianya yang sudah menua, namun secara fisik beliau masih terlihat gagah dengan badan dan kondisi tubuh yang bugar. Jiwa dan semangatnya masih tetap muda untuk memajukan pendidikan. Beliau selalu menerima kritik dan saran dalam pendidikan untuk meningkatkan kualitas sekolah yang dipimpinnya. “Saya mengharapkan saran-saran dari Konsultan SLI untuk meningkat kualitas SD Pidua Meranjat dan kami juga membutuhkan dampingan dalam menjalankannya” jelas Bapak Nukman H. Maknum ketika bercerita dengan Konsultan SLI yang di tempatkan di wilayah Ogan Ilir.

SD Pidua Meranjat merupakan salah satu sekolah penerima manfaat dari Dompet Dhuafa Pendidikan melalui program pendampingan sekolah dari Konsultan Relawan SLI pada tahun kedua. SD Pidua Meranjat salah satu contoh sekolah yang memiliki komitmen bersama untuk memajukan kualitas pendidikan, baik dari kepala sekolah, tenaga kependidikan maupun dari fasilitas sekolah yang dimiliki. Meskipun SD Pidua Meranjat merupakan yayasan keluarga, tetapi pendidikan yang diselenggarakannya tetap untuk umum dalam memajukan pendidikan untuk anak-anak di Desa Meranjat dan sekitarnya.

Usia yang mulai senja tidak mematahkan semangat Bapak Nukman untuk memajukan pendidikan di SD Pidua Meranjat yang dipimpinnya. Beliau memiliki semangat yang tinggi untuk meningkatkan kualitas di sekolah, baik untuk para guru maupun siswa-siswanya. Beliau sering menunaikan saran dari Dinas Pendidikan maupun Kawan SLI dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SD Pidua Meranjat. “Jika itu bisa memajukan dan meningkatkan kualitas sekolah, maka saya akan berusaha untuk melakukannya sesuai dengan kemampuan sekolah yang saya pimpin” ungkap Bapak Nukman H. Maknum kepala SD Pidua Meranjat.

Salah satu contoh yang dapat diamati secara langsung yaitu ketika beliau mengikuti kegiatan rapat dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir, maka ada instruksi dari kepala dinas untuk membuat sanggar sesuai dengan kemampuan sekolah. Esok harinya beliau langsung menggumpulkan dan mensosialisikan kepada seluruh guru bahwa ada instruksi pembuatan sanggar, kemudian dari hasil kesepakatan bersama maka sanggar itu terbentuk dan terlaksana di hari berikutnya. Ini merupakan salah bukti bahwa beliau selalu ingin maju dan mengembangkan kualitas pendidikan sekolah sesuai dengan kemampuan warga sekolahnya. (LR)

Agar Murid Mudah Diarahkan, Lima Hal Ini yang Harus Dilakukan

Agar Murid Mudah Diarahkan, Lima Hal Ini yang Harus Dilakukan

Siapa yang tak miris hatinya saat melihat video viral tentang pembullyan murid terhadap gurunya di Kabupaten Kendal. Meskipun hanya candaan, kejadian itu tentu saja menjadi pukulan bagi kita, bukan hanya yang berstatus sebagai pendidik, tetapi semua yang dalam hatinya masih ada hari nurani.

 

Kejadian ini menambah panjang daftar catatan hitam pendidikan kita. Tentu kita belum lupa tragedi yang menimpa Guru Budi beberapa waktu yang lalu. Juga kasus-kasus lain yang sering menimpa guru. Semua rentetan tragedi tersebut memberikan sinyal bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja.

 

Kita harus berani mengakui bahwa banyaknya kasus degradasi moral dari peserta didik merupakan kegagalan dari pendidikan kita. Di balik sederet prestasi dan riuh tepuk tangan, ada hal mendasar yang nyatanya belum terselesaikan. Dengan adanya tragedi Guru Joko dan Guru Budi, sudah sepantasnya sistem pendidikan kita dievaluasi. Tragedi tersebut bukan tiba-tiba muncul tanpa sebab, melainkan akibat dari akumulasi proses pendidikan yang kurang tepat.

 

Setidaknya ada lima hal penting yang tidak boleh dilupakan dalam proses pendidikan, agar murid memiliki akhlak baik seperti yang dicita-citakan.

 

Menumbuhkan Keimanan Sebelum Pengetahuan

Sudah sepatutnya pendidikan diarahkan sesuai dengan fitrah manusia; belajar untuk mengenal Yang Maha Kuasa. Jika kita lihat kondisi hari ini, murid lebih dituntut memperoleh nilai akademik tinggi, ketimbang mengenal dan mengamalkan sifat-sifat ilahi.  Padahal, ketika keimanan sudah tertancap kuat di dalam dada, anak akan mampu memilah antara yang haq dan batil, sehingga akhlak dan perilakunya bisa terjaga. Selain itu, hati yang telah diterangi cahaya iman akan lebih mudah menerima ilmu pengetahuan, karena segala ilmu pengetahuan sumbernya adalah dari Allah Sang Maha ‘Aliim.

 

Para pelaku pendidikan harus meyakini bahwa akhlak lebih utama dari ilmu. Karena syarat keberkahan ilmu adalah akhlak yang baik. Sehingga yang perlu ditanamkan kuat sejak dini kepada murid adalah akhlaknya. Sebagaimana pesan Imam Malik kepada anaknya “Pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu”. Hal ini juga sesuai dengan tujuan utama pendidikan; memanusiakan manusia. Karena sebaik-baik manusia adalah mereka yang baik akhlaknya.

 

Menunjukkan Keteladanan

Akhlak tak cukup hanya dengan diajarkan, melainkan perlu diteladankan. Salah satu faktor pembentuk akhlak murid adalah lingkungannya, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Murid akan lebih mudah melakukan apa yang mereka lihat di lingkungan sekitar ketimbang apa yang mereka dengar.

 

Seorang guru harus memahami bahwa keteladanan adalah sebaik-baik pengajaran. Ketika seorang guru menginginkan muridnya rajin membaca buku, maka ia harus memulainya terlebih dahulu. Ketika seorang guru menginginkan muridnya baik perangainya, maka ia harus terlebih dahulu mencontohkannya. Begitu seterus dan seterusnya. Maka ketika ada murid yang buruk perangainya, seorang guru yang baik akan lebih memilih instrospeksi diri ketimbang sekadar menghakimi, karena bukan tidak mungkin perangainyalah yang sedang diikuti.

 

Memotivasi dan Memberi Dukungan

Apa perbedaan mendasar antara dikejar anjing dengan mengejar anjing? Meskipun aktivitasnya sama-sama lari, namun rasanya berbeda. Orang yang dikejar anjing akan mudah merasakan capek dan lelah, meskipun baru lari beberapa langkah. Berbeda halnya saat mengejar anjing. Sejauh apapun berlari, semangat seakan terus terisi. Bahkan belum akan berhenti jika tujuannya belum tercapai.

 

Seorang guru harus mampu menumbuhkan motivasi dalam diri muridnya. Jika murid belajar karena keterpaksaan, mereka akan mudah mencari aktivitas pelarian, akibatnya kelas menjadi tak terkondisikan, hingga guru pun tak lagi dihiraukan. Namun ketika murid belajar karena adanya motivasi kuat dari dalam dirinya, maka ia akan serius menjalaninya. Jika ada murid yang tidak serius mengikuti pelajaran, sesekali boleh direnungkan, jangan-jangan gurunya yang kurang memotivasi dan terasa membosankan.

 

Selain motivasi, yang juga teramat penting bagi murid adalah dukungan. Guru adalah teman murid bertumbuh dan berkembang, dan penopangnya adalah dukungan. Saat murid melakukan kebaikan, hendaknya guru mendukungnya agar terus berkelanjutan. Jika murid melakukan kesalahan, ia juga perlu dukungan. Dukungan yang mampu mengembalikannya pada kesadaran dan kebaikan.

 

Adil dan Sabar Dalam Memberi Pengarahan

Tantangan terbesar bagi seorang guru adalah mampu bersikap adil terhadap muridnya. Dalam sebuah komunitas sekolah atau kelas, ada murid yang cepat dalam menangkap pelajaran, ada juga yang pelan. Ada murid yang berperangai baik, ada juga yang kurang baik. Kenyataan yang sering terjadi, murid yang pintar dan berperangai baik cenderung sering mendapat pujian yang kadang sampai berlebihan, sementara yang lambat dan berperangai kurang baik sering mendapat teguran atau bahkan hukuman.

 

Jika sudah demikian, maka yang muncul adalah kecemburuan, perasaaan tidak senang, hilangnya perhatian, hingga sikap perlawanan. Di sinilah sering menjadi awal mula guru dan murid terlibat perseteruan.  Maka yang dibutuhkan adalah sikap adil guru dalam setiap perkataan dan tindakan.

 

Adil dan sabar adalah dua hal yang saling berkaitan. Seorang guru akan sulit berlaku adil jika tidak dibarengi dengan kesabaran. Dalam menghadapi murid yang berperangai kurang baik misalnya, seorang guru hendaknya sabar dalam memberikan pengarahan, bukan menjudge dan menghujaninya dengan celaan. Ketika memberi teguran, hendaknya dengan kelembutan dan didasari rasa kasih sayang, dengan niat untuk meluruskan. Tentu saja ini tidak semudah yang dibayangkan. Diperlukan kesabaran yang luasnya tak bertepian.

 

Ikhlas dan Selalu Mendoakan

Pangkal yang sekaligus ujung dari pengabdian seorang guru adalah keikhlasan. Ikhlas adalah kunci untuk mendapat keridhoan, sehingga upaya guru dalam mendidik muridnya bisa menemui kemudahan. Jika semua didasari dengan keikhlasan, semoga Allah akan membantu mengarahkan murid kepada jalan kebaikan.

 

Dan yang tidak kalah penting, hendaknya guru selalu mendoakan kebaikan bagi murid-muridnya. Barangkali ini yang sering terlupakan. Jika hari ini ada murid yang prestasi dan perangainya tidak sesuai harapan, pertanyaannya adalah sudah seberapa sering gurunya mendoakan? Sekuat apapaun manusia berusaha, Allah-lah yang memutuskan. Maka, memohon kepada-Nya adalah sebuah keniscayaan.

 

Kelima hal di atas hakikatnya tidak hanya ditujukan bagi  guru di sekolah, melainkan juga untuk guru di rumah, yakni orangtua. Orangtua adalah guru pertama bagi anak-anak, jauh sebelum mereka mengenal sekolah. Maka dalam membentuk akhlak anak diperlukan kerjasama yang baik antara orangtua dan sekolah. (AA)