Proses Amati Tiru Modifikasi yang Keliru

 

Oleh: Pandu Satrio, Pengelola Beasiswa Etos ID

 

Kehidupan bermasyarakat di Indonesia belakangan ini diramaikan oleh kejadian luar biasa berupa Pandemi Covid-19. Alhasil, tidak sedikit aktivitas pekerjaan, pembelajaran bahkan peribadatan terpaksa dilakukan sendiri-sendiri. Tidak kehilangan akal, mereka yang pada akhirnya menggunakan fasilitas teknologi yang sudah semakin berkembang yakni video conference. Sebutlah Zoom, Webex, Google Meeting dan banyak lainnya. Tapi bukan itu yang ingin saya diskusikan di tulisan ini. Melainkan sebuah pertanyaan yang merasuki benak saya belakangan ini, benarkah bangsa Indonesia latah?

 

Ternyata eh ternyata, budaya ikut-ikutan ini sudah ada sejak zaman saya kecil. Dulu, saat masih duduk di bangku sekolah dasar, ada satu program televisi yang cukup populer. Kegiatan utamanya adalah perlombaan menyanyi bernama Indonesian Id*ol. Saat saya kecil dulu, saya  mengagumi program ini. Bahkan saya masih ingat siapa yang juara di season pertama, kedua, dan seterusnya. Sampai waktunya saya sudah berada di tingkat sekolah lebih tinggi, saya menyadari kalau program televisi tadi ternyata sama persis dengan program yang lebih dulu ada di Negeri Paman Sam (Amerika). Budaya ikut-ikutan ini ternyata memang sudah ada sejak dulu sekali ya. Bahkan mungkin sebelum saya lahir.

 

Lebih dari itu, ternyata budaya nge-ekor (ngekor) bukan hanya pada progam televisi semata. Bahkan untuk hal lebih serius, Bangsa Indonesia pun terkenal dengan budaya ngekornya. Sebut saja dalam dunia bisnis, lebih tepatnya jualan. Semasa saya mengenyam bangku perkuliahan, ada satu fenomena minuman dan makanan yang menarik, antara lain Es Kepal Milo, Seblak Pedas, Ceker Mercon dan masih banyak lainnya. Asal muasal makanan ini sebenarnya dari wilayah Indonesia bagian tertentu, tapi karena kemudahan informasi tidak heran banyak teman-teman saya di kampus ngekor untuk berjualan hal serupa. Termasuk saya. Meskipun yang saya jual lebih ke  dompet, power bank dan lainnya.

 

Kalau mau diuraikan lebih dalam contoh-contoh detailnya sebenarnya banyak banget. Semoga dua contoh di atas bisa menggambarkan betapa mirisnya budaya kita dalam hal ikut-ikutan ini. Saya mau disclaimer sedikit ya. Bukan saya tidak setuju kalau ada yang membuka usaha untuk jualan atau membuat kegiatan positif dengann fasilitas yang ada. Bukan itu. Tapi sebagaimana prinsip diri yang harus dimiliki. Saya dan mungkin Anda, harus memiliki keyakinan terlebih dahulu atas apa yang akan dilakukan. Jangan sampai jika orang-orang melakukan kebaikan, maka saya atau mungkin Anda melakukan kebaikan. Sementara, jika orang-orang mulai meninggalkan kebaikan tersebut, lantas saya atau Anda pun melakukan hal yang sama. Maka bukan poin itu yang saya ingin bahas dalam tulisan ini.

 

Lantas apa yang ingin dibahas?

Okey, kita masuk ke intinya. Sebenarnya salah gak sih kita punya kebiasaan copas (copy paste)? Saya ingin jawab dengan bukti sejarah. Semua pasti mengetahui dan bersepakat bahwa perkembangan informasi, teknologi dan kemajuan ekonomi saat ini dipimpin oleh negara-negara barat. Tapi kalau boleh jujur, apakah kemajuan yang diperoleh oleh mereka semata-mata karena kehebatan mereka? sesungguhnya tidak! Karena ada transmigrasi ilmu 1 – Dr. Syamsuddin Arif menyebutnya, yang terjadi.

 

Dalam tulisannya, ada satu kasus menarik yang ternyata tidak diketahui oleh banyak orang terutama dalam hal budaya meniru ini. Adalah Adelard Bath (hidup antara 1080-1150 M), seorang ilmuwan pertama Inggris yang hidup jauh sebelum Boyle dan Newton. Singkat cerita Adelard ini menimba ilmu sampai ke Antioch (Syiria), Tarsus (Turki) dan Sicily (Itali) – yang hingga 1072 M masih menjadi bagian dari wilayah Islam. Ia menyimpulkan pada akhirnya, kalau Ilmu orang Perancis itu ketinggalan jauh, beku dan bikin otak tumpul. Sayangnya, akan sangat banyak cerita-cerita menarik yang tidak tergali ke permukaan, karena seakan ada sebuah usaha untuk menutupi fakta sejarah yang terang ini. Hubungannya dengan budaya meniru, sebenarnya ada pada proses penerjemahan dari Arab ke Latin yang terjadi secara berangsur-angsur dan memakan waktu selama 400 tahun oleh Ilmuwan dari Barat.

 

Ketertarikan bangsa barat terhadap ilmu yang dikuasai umat islam pada waktu membuat mereka mau tidak mau berusaha keras mernerjemahkan banyak karya para ilmuwan muslim. Sebut saja, Constantinus Aphricanus yang termaktub sebagai seorang inisiator yang berjasa membawa banyak karya para ulama islam ke Eropa untuk selanjutnya diterjemahkan sendiri ke dalam bahasa latin. Maka kembali ke pertanyaan awal, salahkan meniru?

 

Tidak ada yang salah dalam proses amati lantas meniru, atau yang lebih dikenal dengan budaya ATM, amati, tiru, modifikasi. Kalau usaha memerdekakan diri dari penjajah disebut sebagai gerakan meniru negara lain yang sudah mereka sebelumnya, apakah itu salah? Mari lihat perbedaan yang jelas dan mendasar selanjutnya.

 

Ketika proses peniruan itu memiliki unsur akal di dalamnya maka akan menjadi beda hasil dan dampaknya. Sedangkan akal sendiri tidak serta merta diartikan sebagai rasio atau logika belaka. Dr. Ugu Sugiharto menyebukan, bahwa akal bagi manusia seharusnya terdiri dari unsur rasio dan intelektus.2 Jika keduanya memiliki peran seimbang maka akan tercipta sebuah karya yang signifikan pada akhirnya. Sebagaimana para ilmuwan islam dahulu membuktikannya.

 

Sayangnya, kelakar ini akhirnya harus diusaikan. Kalau ada yang bilang Bangsa Indonesia hanya bisanya meniru dan mengekor, saya hanya bisa berdiri di antaranya. Saya tidak bisa menolak karena fakta yang ada saat ini bisa dikatakan seperti itu. Tapi saya juga bisa mengatakan hal sebaliknya, karena buktinya kita pernah membubuhkan sejarah menjadi negara besar yang disegani di awal berdirinya negara ini. Kita juga pernah mencatatkan diri terbebas dari cengkraman kolonialisme dengan ikhtiar dan ketakwaan yang optimal oleh para Founding Fathers dan Pahlawan Indonesia pada waktu itu. Semua tergantung pada insan di dalamnya pada akhirnya. Apakah ingin menggunakan akalnya atau malah asik dengan kenyamanan. Sungguh malang bahwa akal yang ada pada pribadi ini hanya bisa digunakan lewat proses pembelajaran yang panjang. Entah itu rasionya atau inlegensianya.

 

 

Sumber :
1 & 2 : On Islamic Civilization “Menyalakan Kembali Lentera Peradaban Islam yang Sempat Padam”.

 Saat Terbaik untuk Diam

Saat Terbaik untuk Diam

Oleh: Syafie el Bantanie

 

 

Ketika Maryam tengah larut beribadah dalam mihrabnya, tiba-tiba malaikat Jibril datang untuk menyampaikan berita bahwa Maryam akan memiliki seorang anak yang suci yang kelak akan menjadi nabi dan rasul. Sudah pasti Maryam terkejut dan terheran, bagaimana bisa ia akan mendapatkan seorang anak, sedang belum pernah ada seorangpun yang menyentuhnya, dan Maryam adalah perempuan suci. Namun, demikianlah keputusan Allah.

 

Maka, Maryam pun mengandung. Ketika saat melahirkan sudah dekat, Maryam mengasingkan diri ke tempat yang jauh. Ia bersandar pada sebatang pohon kurma. Lalu, lahirlah Isa putra Maryam. Kelahirannya yang tanpa ayah menjadi tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Selepas kelahiran Isa, fitnah dan tuduhan kepada Maryam sudah menanti. Benar saja. Saat Maryam kembali kepada kaumnya dengan menggendong bayi Isa, Bani Israil menuduh dan memfitnah dengan sangat keji.

 

Allah Maha Mengetahui segalanya. Sebelumnya, Allah telah berpesan kepada Maryam agar jika bertemu dengan seseorang, katakanlah bahwa aku sedang berpuasa untuk tidak berbicara dengan siapapun.

 

“…Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, ‘Sesungguhnya aku bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapapun pada hari ini.’” (QS. Maryam [19]: 26).

 

Mengapa Allah memerintahkan Maryam untuk diam? Karena, meski dijelaskan kisah  sebenarnya, mereka tidak akan percaya. Mereka akan tetap menuduh dan memfitnah Maryam dengan keji. Maka, biarlah Allah yang membungkam mulut-mulut mereka. Kemudian, Allah ilhamkan kepada Maryam agar menunjuk kepada bayinya.

 

Warga Bani Israil terheran-heran, “Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?”

 

Atas kuasa Allah, Isa ‘alaihissalam yang masih dalam buaian itu berbicara dengan fasihnya. Maka, terbantahlah semua tuduhan Bani Israil terhadap Maryam dan terbungkamlah mulut mereka. Inilah cara Allah membungkam mulut Bani Israil yang lancang menuduh dan memfitnah Maryam. Ajaib.

 

Belajar dari Bunda Maryam, pernahkah Anda dituduh melakukan suatu perbuatan tercela, namun sebenarnya Anda tidak pernah melakukannya? Semua sorot mata tertuju kepada Anda dan seolah menghakimi. Anda disudutkan dan seperti tiada celah untuk membela diri. Jika Anda menghadapi situasi seperti itu, bagaimana sikap Anda?

 

Biasanya ketika menghadapi situasi tersebut, kebanyakan orang bereaksi melakukan pembelaan. Berdebat keras untuk membuktikan bahwa tuduhan itu tidak benar, bahkan sebuah fitnah. Ini wajar sebetulnya. Siapa yang rela nama baiknya dicemarkan? Pastinya tidak ada.

 

Namun demikian, dalam menghadapi situasi seperti itu, belajar dari Bunda Maryam, ada kalanya diam lebih baik. Yang penting kita telah menjelaskan duduk persoalan sebenarnya. Jika masih ada yang tidak percaya dengan penjelasan kita, abaikan saja. Tak perlu dilayani dan berdebat dengannya. Biarlah pada waktunya Allah yang akan menyingkap kebenaran sesungguhnya. Tugas Anda adalah tetap istiqamah dalam kebaikan.

 

Makmalian Dilarang Berjualan dengan Cara Ini!

Perjalanan untuk menjadi orang sukses memerlukan banyak usaha Makmalian. Begitu pula menjali bisnis. Banyak sekali orang-orang yang memiliki bisnis terkendala masalah modal. Padahal modal adalah instrumen utama yang harus dimiliki. Mungkin sebagian besar masyarakat mencari modal dengan cara berhutang baik uang ataupun barangnya kepada atasannya. Bahkan yang lebih parah lagi si konsumennya berhutang pula kepada penjual tersebut.

 

Hadis dari Ibnu Umar radhiyallahu, beliau mengatakan Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang jual beli al-Kali’ bil Kali’ (utang dengan utang).

 

Hadis ini diriwayatkan ad-Daruquthni dalam sunannya 3105 dan Baihaqi dalam as-Sughra dari jalur Musa bin Ubaidah ar-Rabadzi dari Abdullah bin Dinar. Walaupun hadis ini dhaif namun sebagian para ulama sepakat bahwa jual beli piutang itu diharamkan. Dikarenakan merugikan salah satu pihak.

 

Imam as-Syafii dalam kitabnya al-Umm pernah membahas hukum menjual barang yang masih dalam tanggungan. Beliau mengatakan, “Kaum muslimin dilarang untuk jual beli utang dengan utang” (al-Umm, 4/30).

 

Pernyataan kesepakatan ulama: Ibnu Qudamah menukil keterangan ijma ulama dari Ibnul Mundzir, Ibnul Mundzir mengatakan, Ulama sepakat bahwa jual beli utang dengan utang tidak boleh. Imam Ahmad mengatakan, “Ulama sepakat dalam masalah ini” (al-Mughni, 4/186).

 

“Jual beli al-Kali bil Kali adalah seseorang (si A) menjual barang miliknya yang masih terutang kepada pembeli (si B) dengan pembayaran yang masih terutang di tempat orang lain (si C).” (Muwatha Malik, 2/659). Kurang lebih contohnya seperti ini lebih baik mempelajari terlebih dahulu sebelum mencoba sesuatu. Karena masih banyak akad-akad kontemporer yang masih awam dikalangan masyarakat. Bukan melarang berbisnis, namun dari pada yang kita lakukan itu sebenarnya salah. Lebih baik menghindar. Produsen juga harus lebih kritis terkait jual beli. Karena kita juga bagian salah satu yang menyebabkan para produsen melakukan akad-akad yang salah.

 

Semoga saja kedepannya kita lebih mencintai produk yang halal dan cara yang halal pula. Supaya dalam diri kita tidak ada mengalir darah-darah kejelakan yang tak sengaja kita perbuat dan keberkahan Allah selalu bersama kita. Pastinya kita bosankan dengan musibah yang diturunkan kepada kita. Makanya, yuk sama-sama ingatin saudara kita. Supaya kita dapat pahala dan terhindar dari dosa. Hidup senang dan insyaallah masuk syurga.

Karakter Adalah Wahyu

Umar bin Khathab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu, dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

 

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad saw.) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya”.

 

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk diantara penduduk Mekah yang paling kejam.

 

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran yaitu sebagai berikut:

 

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

 

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan mengubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah saw. menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut aqidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

 

Aqidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, aqidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satupun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

 

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa aqidah yang benar. Jika aqidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

 

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

Guru Honorer Oh Guru Honorer

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) dan Komisi II DPR RI  menyepakati untuk menghapus tenaga honorer dengan alasan hal ini diperlukan untuk mendapatkan sumber daya manusia atau SDM berkeahlian.

Pemerintah berasalan bahwa saat ini jumlah PNS Indonesia mencapai 4.286.918 orang, dan sekitar 70 persen berada di Pemerintah Daerah (Pemda). Dimana maka total tenaga honorer sebanyak 1.070.092 orang. Sehingga, jumlah keseluruhan dinilai tidak imbang karena 1/3 dari total. Lalu, bagaimana nasib tenaga honorer jika dihapus?

Mereka harus mengikuti tes untuk menjadi Pegawai Pemerintan dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Selain itu juga sesuai porsi jabatan yang dibutuhkan setiap instansi. Bagi pegawai honorer yang tidak lulus mengikuti seleksi PPPK, nasibnya akan diserahkan ke Pemerintah Daerah (Pemda) yang bersangkutan. Jika instansi tetap memerlukan, tenaga pegawai honorer masih bisa dipekerjakan.

Salah satu permasalahan yang terjadi adalah pada guru honorer yang mendapat upah yang tidak layak, yaitu Rp 300 ribu per bulan padahal tenaga honorer yang diangkat resmi seharusnya penghasilannya sesuai Upah Minimum Regional (UMR) wilayah. Kendala utama pengangkatan tenaga kerja honorer menjadi PNS. Salah satunya adalah keengganan pemerintah daerah (Pemda) menanggung gaji tenaga honorer usai diangkat menjadi PNS. Pemda justru meminta hal itu menjadi kewajiban pusat.

 

Penghapusan tenaga honorer di seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah membuat cemas para pegawai honorer. Mereka dibayangi ketidakpastian kerja. Banyak guru honorer yang dipekerjakan selama puluhan tahun yang hingga kini belum ada pertanda dirinya akan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pemerintah tidak memberikan solusi yang jelas bagi pegawai honorer. Lantas bagaimana nasib tenaga honorer? Bagaimana kelak mereka diputus kontrak?

Paradoks Bernama “Jangan!”

Oleh: Nurul Aeni, Founder Komunitas Media Pembelajaran (KOMED)

 

Sering sekali para psikologi mengingatkan kepada orang tua tentang bagaimana berkomunikasi dengan anak, utamanya cara melarang anak melakukan sesuatu yang tidak diperbolehkan. 2014 lalu, sering saya membaca buku parenting bahwa orang tua baiknya menghindari kata “jangan!” kepada anak dengan beragam alasan. Tetapi pada 2018, muncul beragam artikel bahwa kata “jangan” tentu boleh digunakan sesuai konteksnya.

 

Pernah saya dan suami membahas hal ini, kata “jangan” menjadi paradoks dalam pola pengasuhan. Memang betul dalam beberapa hal, kata ini membatasi gerak gerik anak, tapi di sisi lain memang tidak semua hal boleh dilakukan oleh anak, artinya perlu memikirkan cara berkomunikasi efektif agar anak tahu bahwa sesuatu itu dilarang karena berbahaya untuk dirinya.

 

Menurut saya, sangat sederhana mengapa kata “jangan” baiknya dihindari. Pertama, biasanya setelah kata jangan muncul kata berlawanan yang dimaksudkan oleh si pelarang (orang tua). Sebagai contoh, “jangan berdiri!” (artinya: anak diminta untuk duduk). Anak pasti bingung, karena bisa jadi tidak memahami apa arti dari “jangan” sehingga ia akan melakukan sesuatu yang dia pahami yaitu “berdiri”.

 

Kedua, kata apa yang biasanya anak ucapkan ketika kita mengajarinya sebuah kalimat? Sering kali untuk anak yang baru belajar bicara, ia hanya akan mengulangi kata terakhir dari kalimat yang ia dengar. Sebagai contoh, kita minta mereka mengulangi kalimat ini “jangan makan sambil berdiri!”, seorang anak cenderung mudah mengingat akhir kata dari kalimat tersebut, yaitu “berdiri” dan itulah yang akan ia lakukan.

 

Sebagaimana saat kita pertama kali mengajarkan anak hafalan ayat pendek, dia hanya akan mengulangi kata akhirnya. Misalkan kita minta anak mengucapkan “qul huwallahu ahad”, kebanyakan dari mereka akan mengulanginya dengan kata “ahad”. Anak sangatlah cerdas, masa golden age itu tentu harus kita manfaatkan dengan stimulus yang tepat, artinya sesuai porsinya. Bisa jadi di usia itu, kemampuan mengulang kembali belum bisa mengulang sebuah kalimat, apalagi kalimat kompleks. Sehingga jika ingin memberikan intruksi, maka gunakan bahasa yang sederhana dan langsung dipahami, kita bisa mengubah kata “jangan berdiri!” dengan kata “yuk duduk!”, begitupun dengan kata/kalimat lainnya.

Stay at Home Zahra

Oleh: Dewi Kurnia Putri, Fasilitator Beasiswa Cikal Muamalat Bersama SGI di SDN 04 Batu Balang, Sumatera Barat

Zahra Rapiatul Adawiyah salah satu siswa yang cukup pintar di SDN 04 Batu Balang Kecamatan Harau Kabupaten Lima Puluh Sumatera Barat. Sudah lebih dari dua bulan Zahra belajar di rumah sejak ditetapkannya School from Home karena pandemi Covid 19. Tempat tinggal Zahra memang termasuk zona merah penyebran Covid 19. Pertambahan pasien positif covid menambah perpanjang masa belajar siswa dirumah. Zahra hanya tinggal dengan mama nya karena diusia balita ditinggal cerai ayahnya. Sementara mama Zahra harus menghidupi dua orang anaknya sebagai single parent. Kesempatan dirumah saja digunakan oleh Zahra untuk membantu mamanya berternak bebek.

 

Pagi hari setelah bangun tidur dan melaksanakan Salat Subuh Zahra langsung menuju kandang bebeknya untuk memeriksa telur-telur yang ada di kandang. Sementara itu mama Zahra mengaduk makanan bebek yang terdiri dari campuran sayur dan dedak yang diberi air. Kemudian Zahra membantu memasukkan makanan dan juga minuman bebek ke dalam wadah. Setelah makanan siap saji, mereka mengeluarkan bebek dari kandang dan memberikan makan para bebek dengan riang gembira. Terkadang Zahra bersama mamanya menggiring bebek -bebek mereka keluar kandang atau ke sawah yang siap dipanen. Zahra dan mamanya juga rutin mengumpulkan sayuran liar untuk makanan bebek yang tumbuh di di pematang sawah dan kebun warga.

 

Setelah mengurus bebek di pagi hari, Zahra melanjutkan kegiatannya dengan belajar dan mengaji di rumah. Sore harinya Zahra kembali memberi makan dan minum para bebek dan memasukkan bebek ke dalam kandang. Begitulah aktivitas Zahra selama belajar di rumah.

 

Zahra merupakan salah satu penerima manfaat program Beasiswa Cikal Muamalat bersama DD Pendidikan yang merupakan program pendayagunaan dana Zakat untuk siswa SD, SMP, SMA sederajat dari asnaf fakir, miskin dan mualaf. Zahra merupakan siswa dari keluarga sederhana yang berkarakter dan berprestasi. Zahra senang membantu orang tua, selalu bersikap sederhana, memiliki tatakrama dan baik dan berprestasi. Salah satu prestasi Zahra yang membanggakan adalah mendapatkan rangking ke 12 dari ribuan peserta pada ajang Olimpade Sains tingkat Propinsi Sumatera Barat. Maa Syaa Allah.

 

Zahra dan mamanya sangat berterima kasih kepada para donatur dan pengelola program beasiswa yaitu DD Pendidika dan Baitumal Muamalat. Beasiswa tersebut sangat membantu untuk memenuhi kebutuhan sekolah Zahra. Seragam sekolah Zahra yang dulunya kucel sekarang sudah kinclong diganti dengan yang baru, bahkan Zahra bisa membeli tas baru, baju batik dan baju pramukanya. Mari kita tiru kebaikan, semangat dan prestasi Zahra.

 

 

KAWAN SLI: SDN Giripeni Menggerakkan PerubahaN Para Guru

KAWAN SLI: SDN Giripeni Menggerakkan PerubahaN Para Guru

Oleh: Harni Astuti, S.Pd.,M.Pd. (Kepala SD Negeri Giripeni)

 

Semua lembaga pasti menginginkan sebuah citra yang baik untuk masyarakat di sekitarnya. Begitupula SD Negeri Giripeni memiliki visi-misi menjadi sekolah yang berkualitas dan berprestasi, baik dari segi proses maupun hasilnya. Guru-guru sebagai penggerak pendidikan diberi ruang belajar agar senantiasa “hidup” dan dapat menggerakkan perubahan. Hal tersebut menjadi sebuah harapan besar agar sekolah bisa menebar manfaat lebih banyak lagi, sehingga masyarakat semakin semangat untuk bergabung bersama meraih cita-cita pendidikan bangsa Indonesia.

 

SD Negeri Giripeni sebagai sekolah penerima manfaat program Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dari Dompet Dhuafa Pendidikan dan Dompet Dhuafa Yogyakarta berusaha untuk mencari hal-hal baru dalam rangka mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Hal baru tersebut diwujudkan dalam kegiatan Small Learning Community (SLC). SLC merupakan suatu komunitas belajar dalam skala kecil. Pesertanya ialah guru-guru dalam lingkup sekolah dengan tujuan membangun budaya belajar. Guru membangun sendiri pengetahuannya bersama jejaring di sekitarnya. Guru adalah pembelajar yang secara terus-menerus harus belajar untuk meningkatkan kualitas dirinya. Kepala Sekolah dalam hal ini bertugas sebagai pendamping dan teman belajar para guru.

 

SLC dilaksanakan melalui beberapa langkah. Langkah pertama adalah merencanakan program. Kepala sekolah dan para guru telah merencanaan program pada Senin, 6 April 2020 untuk menganalisis kekurangan kompetensi guru dan kebutuhan dalam hal pemenuhan kompetensi untuk mengupgrade diri. Kemudian langkah selanjutnya yaitu pemilihan koordinator program. Ibu Nurul Utami, S.Pd.,M.Pd. (Guru Kelas 1) telah terpilih sebagai koordinator yang bertanggung jawab atas pelaksanaan program agar berjalan secara rutin. Selanjutnya membuat jadwal pelaksanaan, penentuan tema/materi dan guru yang bertugas sebagai pemateri, moderator, dan juga notulis. Teknis kegiatan SLC beragam, bisa dalam bentuk bedah buku, sharing pengalaman mengajar, pembuatan aplikasi pembelajaran, pemilihan metode pembelajaran, atau penyampaian materi yang sebelumnya telah disesuaikan dengan kebutuhan sekolah.

 

Sampai saat ini SLC telah dilakukan sebanyak 5 kali, berjalan seminggu sekali setiap hari Senin secara offline dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Semua kegiatan berjalan lancar, pemateri SLC yang notabene guru SDN Giripeni sigap dan semangat menyampaikan materi. Materi yang disampaikan berdasarkan analisis kekurangan maupun kebutuhan. Materi berdasarkan analisis kekurangan yaitu model-model pembelajaran, penyusunan aplikasi pembelajaran, pemanfaatan TI untuk penyusunan soal, dan pembuatan alat peraga/media pembelajaran. Materi berdasarkan analisis kebutuhan diambil dari materi yang diperoleh melalui pelatihan SLI yaitu Fun Reading Activities (FRA), Fun Literacy Activities (FLA), Gerakan Ayo Bercita-Cita, dan Display Kelas. Materi dari SLI disampaikan oleh guru model secara bergantian, sedangkan materi berdasarkan analisis kekurangan disampaikan oleh guru non model. Tidak hanya sampai di situ, evaluasi kegiatan juga dilaksanakan untuk menjamin bahwa apa yang sudah dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Kegiatan evaluasi ini pula akhirnya dapat mengidentifikasi kendala-kendala yang dihadapi dan memberikan umpan balik tindak lanjut perbaikan.

 

Begitulah upaya kami, semoga melalui Small Learning Community pengetahuan guru semakin bertambah, bisa mengupgrade diri dalam menyampaikan ilmu yang dimiliki, meningkatkan keterampilan berbicara, dan seni menyampaikan materi yang menyenangkan serta menggugah. Dengan demikian, akan tercipta lingkungan belajar bagi para guru yang lebih personal untuk mengembangkan diri dengan cara saling berbagi pengetahuan dan pengalaman.

 

Berguru kepalang ajar, bagai bunga kembang tak jadi. Menuntut ilmu di manapun tempatnya, siapapun gurunya, manfaatnya akan terasa hanya jika ilmu itu dipahami dengan seluruh kesadaran diri dan diamalkan dalam kehidupan. Jika tidak, maka ilmu yang kita miliki tak akan pernah membawa manfaat dan pengaruh baik pada pribadi kita.

 

SD N Giripeni telah berupaya memberi sarana bagi para guru untuk menjadi guru pembelajar. Pembelajar sejati akan selalu bisa beradaptasi dengan perubahan. Mereka akan selalu bergerak untuk menjalani fitrahnya yaitu menemukan jawaban atas segala rasa keingintahuannya. Jika pendidikan telah berhasil memampukan manusia untuk tidak pernah berhenti berpikir, tidak pernah berhenti belajar, tidak pernah berhenti bertindak, maka itulah hakikat pendidikan yang sesungguhnya; hidup dan menggerakkan perubahan. Guru yang semakin berkembang dan mandiri dalam mengupdate ilmu dapat menuntun peserta didik menghadapi zaman yang semakin berkembang. Mari saatnya bertemu dengan para guru kami. Yuk sekolah di SD Negeri Giripeni, bersama menggenggam asa.

 

Bangga Jadi Guru, Guru Berkarakter Menggenggam Indonesia”

 

 

 

KAWAN SLI

KAWAN SLI: Semua Berawal dari Dampingan SLI

 

Oleh: Rizco Ardian Saputro, S.Pd (guru MI Muhammadiyah Kenteng)

 

Kulon Progo (MIM Kenteng) Literasi dapat dilakukan dengan berbagai cara. Banyak kegiatan literasi yang sekarang menjadi sebuah hal yang sangat menarik untuk semua umur, baik mulai dari anak-anak hingga yang dewasa. Selain membaca dan menulis, salah satu cara berliterasi adalah dengan bercerita (membacakan sebuah cerita dari buku/ majalah dan lain sebagainya).   Seperti yang dilakukan oleh salah satu guru MI Muhammadiyah Kenteng. Rizco Ardian Saputro,S.Pd dengan mengikuti sebuah tantangan bercerita secara live bertema “Cerita Guruku”  dengan membawakan  e-book dari laman lieracycloud.org yang berjudul “Klinting-Klinting”

 

Heni Wardatur Rohmah selaku pengelola Komunitas/Taman Baca Mata Aksara menjelaskan bahwa  “Kegiatan ini merupakan salah satu kegiatan literasi yang digagas olah mata Aksara, dilaksanakan pada  hari Sabtu, 6/6/2020 secara live Instagram lewat akun @mataaksara mulai pukul 16.00-16.30 WIB. Bentuk kegiatan ini adalah bercerita atau membaca cerita berdasarkan e-book yang ada di website literacycloud.org .Setiap guru yang mengikuti wajib memilih satu judul lalu diceritakan kembali dengan durasi waktu kurang lebih 10 menit setiap orangnya. Kegiatan ini diikuti pula oleh banyak partisipan secara online baik siswa, guru, mahasiswa, orang tua dan lain sebagainya.”

 

“Adapun kegiatan ini diikuti oleh 6 peserta diantaranya Bibit Wijiani (SD N Berbah 1), Kristiana Dewi (SD N Umbulwidodo), Pak Jamin (SD N Pendowoharjo), Dwi Astuti (SD N 1 Ngempak), Imas Widiastuti  (SD N 1 Turi) dan Rizco Ardian Saputro (MI Muhammadiyah Kenteng) semua terdapat 5 perwakilan sekolah dari Kabupaten Sleman dan 1 perwakilan sekolah dari Kabupaten Kulon Progo. Semua guru membawakan cerita dengan intonasi, ekspresi dan kreativitas masing-masing, sangat seru dan menginspirasi. Sedangkan untuk chalange  bercerita di minggu depan akan dibuat lebih  menantang dan pastinya berbeda dengan chalange perdana ini,” tambah Rizco

 

“Alhamdulillah’ dengan adanya kegiatan literacy online ini semakin menambah ghirah  dan semangat para pendidik dan orang tua tentunya dalam mendampingi belajar selama masa pandemi covid-19  ini, apalagi banyak e-book yang bagus-bagus dan keren di laman litertacycloud.org yang dapat dijadikan bahan bercerita.

 

Ketertarikan akan kegiatan literasi ini bermula melalui pendampingan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) MI Muhammadiyah Kenteng. Rizco sebagai guru model yang mewakili madrasah, semakin bersemangat dan berminat untuk mengimplementasikan kegiatan literasi dengan berbagai variasi, salah satunya Fun Reading Activity sebagaimana yang dilaksanakan oleh Mata Aksara.

 

Hal ini menjadi bekal ilmu dan pengalaman berharga bagi Rizco. “Semoga pembelajaran bisa segera kembali dilaksanakan di madrasah secara langsung. New normal dengan semangat terbarukan pula,” harap Rizco.

 

KAWAN SLI: Manfaat Dampingan SLI Itu Nyata

 

 

 

Oleh: Etik Fadhilah Ihsanti, M.S.I., M.Pd.

 

Kulon Progo (MIN2KP) – MIN 2 Kulon Progo telah mendapatkan dampingan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Terdapat 10 sekolah/madrasah yang mendapatkan dampingan Dompet Dhuafa di Kabupaten Kulon Progo. Selain MIN 2 Kulon Progo, sekolah/madrasah lainnya antara lain SDN Karangwuni, SDN Giripeni, SDN 1 Kulwaru, MI Muh Serangrejo, SDN 1 Sentolo, SDN 2 Sentolo, MI Muh Kenteng, SD Muh Sidowayah, dan SD Muh Girinyono. Beberapa program sudah dijalankan, monitoring/kunjungan untuk mengetahui capaian juga dilaksanakan. Wahyu salah satu KAWAN SLI telah monitoring MIN 2 Kulon Progo, Sabtu (06/06/2020).

 

Kepala MIN 2 Kulon Progo, Etik Fadhilah Ihsanti, telah melaporkan secara tertulis capaian dampingan SLI, mulai dari hasil SSD setelah pengukuran, aktifnya kegiatan paguyuban, kegiatan ceruk ilmu, kegiatan verifikasi administrasi, Learning Community, kegiatan motivasi, adanya buku panduan keagamaan, ceruk ilmu untuk guru dan masih banyak lagi kegiatan yang pada kesempatan ini disampaikan.

 

“Selain melaporkan secara tertulis, kami juga menyampaikan kepada KAWAN, setiap kegiatan dalam bentuk berita baik di portal Website Kankemenag Kulon Progo maupun Kanwil Kemenag DIY,” tutur Etik.

 

Tujuan monitoring hari ini, untuk mengetahui program yang telah berjalan, mendiskusikan tantangan dan solusi yang dapat diambil untuk meningkatkan program, serta sebagai bentuk kepedulian KAWAN. “Kalau sekarang perpustakaan belumm bisa berjalan karena pandemik, bisa merapikan administrasi” tutur Wahyu. “rencana program untuk perpustakaan; misal duta cilik perpustakaan, relawan cilik perpustakaan, dongeng asyik, reward peminjam paling sering berkunjung,” tambahnya.

 

Marhaban, pengelola Perpustakaan MIN 2 Kulon Progo memaparkan perjalanan dan hasil selama perbaikan perpustakaan madrasahnya. Mulai dari kegiatan penyampaian program SLI, pemantapan paguyuban, kerjasama dalam memperbaiki perpustakaan, sampai kendala pengadministrasian. Proses perbaikan perpustakaan disampaikan dengan santai dan serius. Berbagai kegiatan selama perbaikan disampaikan. “Kegiatan selama dampingan sampai saat ini banyak manfaatnya, paguyuban wali mengikuti perbaikan madrasah dengan penuh semangat, harapan ke depan semua pihak dapat bekerjasama dalam semua bidang,” terang Marhaban.

 

Selain melaporkan kegiatan, Etik juga mengucapkan terima kasih dan sangat mengapresiasi SLI, karena madrasahnya mendapatkan manfaat yang luar biasa. “Banyak manfaat program SLI ini, bermacam kegiatan, tetapi di masa pandemi ini berhenti, sampai batas yang belum ditentukan, semoga masa ini segera berakhir. Saya melihat banyak manfaatnya, selain mendongkrak juga menambah semangat guru,” pungkasnya.