Kawan Fajar (Tingkatkan Minat Baca Siswa MI Al-Azhar Saumlaki)

Karena Guru Adalah Garda Terdepan Dalam Proses Pendidikan

Karena Guru Adalah Garda Terdepan Dalam Proses Pendidikan

 

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Rasanya kita masih ingat dan paham dengan peribahasa di atas. Peribahasa tersebut sejatinya sindiran yang sangat keras bagi guru-guru yang tidak layak menjadi guru. Kita tidak memungkiri, jika kita mau jujur, berapa banyak guru yang mestinya diberhentikan menjadi guru. Karena, mereka tidak memiliki kompetensi sebagai guru. Kompetensi utama guru itu dua, yaitu pertama, dia diteladani murid-muridnya karena kemuliaan akhlak dan keistiqamahan ibadahnya; kedua, dia dikagumi murid-muridnya karena keluasan ilmunya.

Mari kita bahas satu persatu. Jika guru tidak mampu mendidik dan mengajar dirinya menjadi manusia baik, maka bagaimana bisa dia mendidik dan mengajari murid-muridnya? Guru haruslah selesai dengan dirinya dalam segi akhlak dan ibadahnya. Hal ini bukan berarti guru dituntut menjadi manusia sempurna dalam aspek akhlak dan ibadah. Tentu saja proses menjadi manusia baik (baca: bertakwa) adalah proses tiada henti. Namun, setidaknya seorang guru haruslah terlihat kemuliaan akhlaknya dan keistiqamahan ibadahnya.

Contoh sederhana, seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya agar salat fardhu berjama’ah ke masjid. Namun, sang guru sendiri di lingkungan masyarakatnya jarang shalat fardhu ke masjid, bagaimana bisa proses pendidikan ini akan berhasil? Seorang guru yang mengajarkan kejujuran kepada murid-muridnya, tetapi dia sendiri berlaku tidak jujur dalam proses administrasi keguruan demi mengejar tunjangan profesi, bagaimana bisa internalisasi kejujuran itu akan berhasil? 

Dalam hal ini, kritik saya terhadap kampus-kampus keguruan adalah kampus terlalu sibuk menyiapkan tenaga guru dari aspek skill, tetapi mengabaikan aspek akhlak dan integritas. Tidak ada intervensi program pembinaan mahasiswa keguruan pada aspek ini. Akibatnya, kampus keguruan hanya menghasilkan tenaga guru yang mungkin kompeten keilmuannya, namun miskin akhlak dan integritasnya.

Kedua, aspek keilmuan. Mari kita telisik secara jujur. Apakah guru-guru kita memiliki kompetensi keilmuan memadai? Hasil penilaian Kemendikbud menyatakan, 77.85% guru SD tidak layak menjadi guru (KOMPAS, 29/10/2009). Tak perlu rumit-rumit menilai guru dari aspek ini. Tanya saja kepada guru berapa buku yang dibacanya dalam sebulan? Jika guru jarang membaca, tidak meng-upgrade pengetahuan dan wawasannya, apa yang akan diajarkan kepada murid-muridnya? Hanya itu-itu saja tiap tahunnya. Mengajar sudah 10 atau 20 tahun, tapi ilmu yang disampaikan tidak bertambah.

Oleh karena itu, perlu ada reorientasi dalam mengkader guru-guru. Karena, guru adalah garda terdepan dalam proses pendidikan dan pengajaran. Baik atau buruknya seorang murid tergantung gurunya. Seorang guru hebat akan melahirkan murid lebih hebat lagi. Namun, seorang guru yang rusak, bisa melahirkan murid yang lebih rusak. 

Kerja Peradaban

Kita mesti menginsyafi bahwa mendidik dan mengajar adalah kerja peradaban. Pekerjaan besar menyiapkan generasi yang siap menjadi pewaris peradaban. Mewarnai zaman dengan rupa-rupa dan lika-liku prestasi dan karya. Maka, perlu guru-guru hebat dengan kompetensi akhlak dan keilmuannya. 

Dalam perspektif pendidikan Islam, guru memiliki posisi dan peran yang sangat strategis. Islam memandang aktifitas mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang mendidik dan mengajar haruslah orang yang mulia kualitas dirinya. Jika mengkaji Alquran, kita akan menemukan bahwa aktifitas mendidik (mengajar) bahkan dinisbatkan kepada Allah dan rasul-Nya.

Kita simak surat Ar-Rahman ayat 1 dan 2, “(Allah) Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Alquran.”

Lalu, saksamailah surat Al-Jumu’ah ayat 2, “Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” 

Bayangkan, aktifitas mendidik dan mengajar dinisbatkan langsung kepada Allah dan rasul-Nya. Setiap apapun yang dinisbatkan kepada Allah, maka aktifitas itu adalah mulia. Dengan demikian, mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang melakukannya haruslah menghiasi dirinya dengan akhlak mulia. Lebih dari itu seorang guru yang menjaga kualitas diri dan kemuliaan akhlaknya, maka kata-katanya akan powerful dan mampu menembus hati murid-muridnya. Nasihatnya mampu mencairkan hati muridnya yang beku.

Dalam konteks inilah kita memahami nasihat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Hanya suara hati yang mampu menembus hati.”

Nasihat Imam Syafi’i rahimahullah kepada gurunya, putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid, Imam Abu Abdisshamad, sangat patut kita resapi.

Mari kita perhatikan kalimat Imam Syafi’i. Kalimat beliau menjadi jawaban mengapa kualitas generasi kita saat ini biasa-biasa saja, tidak istimewa. Ternyata salah satu kuncinya ada pada guru.

“Hendaklah upayamu untuk mendidik anak-anak Amirul Mukminin adalah dengan memperbaiki dirimu sendiri. Karena, pandangan mereka (paradigma dan sikap hidup) terikat pada pandanganmu. Apa-apa yang baik menurut mereka adalah apa-apa yang kau anggap baik. Dan, apa-apa yang dipandang buruk oleh mereka adalah apa-apa yang kau tinggalkan (tidak lakukan)”.

Dengan demikian, upaya pertama memperbaiki kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kualitas gurunya. Tidak boleh lagi ada penerimaan guru asal-asalan. Mal praktik dalam kedokteran saja bisa berakibat fatal bagi nyawa seseorang, terlebih lagi mal praktik dalam pendidikan bisa menghancurkan masa depan anak didik, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Maka, wahai para guru, jadilah pendidik sejati.

Terdidik Itu (Semestinya) Jujur

Terdidik Itu (Semestinya) Jujur

 

Oleh : Purwo Udiutomo (Direktur Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa)

 

“To make your children capable of honesty is the beginning of education” (John Ruskin)

Berdasarkan simulasi dengan data lima tahun terakhir, hanya 30 kabupaten/ kota yang memiliki indeks integritas yang tinggi, artinya tingkat kecurangan kurang dari 5 persen[1]. Terlepas dari indikator pengukurannya seperti apa, angka yang masih sangat memprihatinkan mengingat terdapat 416 kabupaten dan 98 kota (termasuk kabupaten dan kota administratif) di Indonesia. Tak lama berselang, muncul informasi bahwa soal Ujian Nasional (UN) bocor di internet. Tidak tanggung-tanggung, ada 30 paket soal UN yang diunggah dari akun Google Drive dalam format PDF.

Kasus kebocoran UN bukan hal baru, sudah mulai dianggap lumrah malah. Paket soal diperbanyak, polisipun dikerahkan. Berbagai upaya yang sudah dilakukan  untuk mengantisipasi kebocoran sepertinya justru menambah kreativitas para pembocor. Untuk kasus terakhir, Mendiknas memang lantas menghubungi pihak Google untuk menghapus unduhan paket soal UN sehingga sekarang file tersebut tidak dapat ditemukan. Namun tetap saja kebocoran sudah terjadi dan tersebar, tidak hanya di satu daerah, melainkan ke pelosok Indonesia bahkan ke penjuru dunia. Kemendiknas boleh mengatakan bahwa yang bocor hanya 0,25 persen soal, namun nyatanya pola paket soal UN tetaplah sama hanya berbeda urutan soalnya saja. Tidaklah mudah membuat variasi soal yang benar-benar berbeda namun memiliki bobot yang sama. Sementara demi keadilan, paket soal harus memiliki bobot yang sama. Sehingga 30 paket soal UN yang bocor bisa jadi merupakan sampel yang cukup untuk menggambarkan populasi seluruh paket soal UN yang dikeluarkan.

Pemerintah mungkin boleh saja menimpakan kesalahan ke pihak percetakan, termasuk membawanya ke jalur hukum, namun pemerintak tidak seharusnya berlepas tangan atas persoalan kejujuran UN dan integritas pendidikan. Tahun ini mulai dilaksanakan UN daring melalui Computer Based Test (CBT) yang diklaim lebih hemat, cepat, dan jujur. Dalam aspek operasional, mungkin bisa ada diskusi pro kontra terkait UN daring ini, namun dalam aspek kejujuran hampir dapat dipastikan para pembocor akan menemukan baru untuk menembus keamanan sistem UN online. Dan jika sistemnya berhasil ditembus, hasil UN se-Indonesia akan invalid. Investasi sistem baru (yang sebenarnya) visioner akan sia-sia jika yang dilakukan hanya mengubah cara dan pendekatan, tanpa menyelesaikan akar masalah.

Apa yang dilakukan pemerintah dengan tidak lagi menjadikan UN sebagai prasyarat kelulusan sudah tepat dalam upaya untuk mereduksi kecurangan dalam penyelenggaraan UN. Namun kedudukan UN sebagai alat pemetaan kualitas pendidikan seharusnya tidak perlu disertai dengan embel-embel menjadi pertimbangan untuk masuk ke jenjang perguruan tinggi yang malah menimbulkan paradoks. Motif kecurangan hanya akan berpindah dari lulus sekolah menjadi lulus masuk ke perguruan tinggi. Selain itu, permasalahan integritas pendidikan belumlah selesai. Dengan tidak dijadikannya UN sebagai syarat kelulusan, integritas sekolah lebih diuji. Katrol nilai secara massal mungkin saja akan terjadi, toh kewenangan adanya di masing-masing sekolah. Kebohongan akan menghasilkan kebohongan baru, kecurangan akan melahirkan kecurangan yang lain.

Pada September 2013, Reader Digest menggelar tes kejujuran bernama Lost Wallet, dimana di beberapa kota besar di dunia dijatuhkan 12 dompet di tempat umum yang berisi kartu nama, nomor telepon, sebuah foto keluarga dan uang setara USD 50 dolar. Hasilnya, Helsinki, ibukota Finlandia menjadi kota paling jujur, dimana 11 dari 12 dompet tersebut kembali ke pemiliknya dengan utuh. Salah satu penemu dompet mengatakan bahwa kejujuran adalah bagian dari kepribadian masyarakat Finlandia. Indeks Persepsi Korupsi di Finlandia memang mencapai 89, sementara Indonesia hanya 34 (skala 100). Budaya jujur yang telah tertanam ini pastinya ada kaitannya dengan kualitas pendidikan Finlandia yang merupakan salah satu yang terbaik di dunia.

Jakarta, Ibu Kota Indonesia memang tidak masuk dalam daftar survei, pun tidak sulit membayangkan hasilnya. Awal tahun 2015 lalu ada survei salah satu media terkemuka Inggris, The Economist, yang menempatkan Jakarta sebagai kota paling tidak aman di dunia. Aspek yang disurvey mencakup keamanan kesehatan, digital, infrastruktur, dan personal. Salah satu indikatornya adalah maraknya penipuan dalam perdagangan online. Kejujuran memang masih jadi tantangan di negara ini. ICW bahkan mengungkapkan bahwa korupsi terbesar ada di institusi pendidikan. Ironis, dunia pendidikan yang mestinya sarat dengan nilai kejujuran, justru terdepan dalam memberi contoh tentang kecurangan.

Permasalahan kejujuran dan integritas memang lebih fundamental dan filosofis. Perlu ada perubahan paradigma, setidaknya dalam hal orientasi pendidikan. Orientasi belajar siswa dan arah pendidikan di Indonesia lebih didominasi oleh ukuran nilai kuantitatif. Hal ini sudah ditanamkan sejak usia dini dan di pendidikan dasar bahwa belajar untuk dapat nilai yang bagus atau dapat ranking baik di sekolahKeberhasilan belajar ditunjukkan dengan nilai yang memuaskan atau indeks prestasi yang tinggi. Padahal orientasi hasil tidak selalu mensyaratkan kebaikan dalam prosesnya. Tidak heran di beberapa negara dengan sistem pendidikan terbaik di dunia, nilai akademis tidak diperkenalkan di tingkat dasar, yang dikuatkan adalah nilai – nilai dalam kehidupan (values), termasuk kejujuran. Alhasil, persoalan integritas dan karakter yang relatif sulit dibentuk seiring bertambahnya usia sudah diselesaikan di awal. Sementara persoalan ilmu pengetahuan yang terus berkembang dikuatkan dan difokuskan kemudian.

Kuantifikasi ukuran keberhasilan tidaklah salah, yang keliru adalah ketika orientasi nilai menjadi tujuan sehingga membenarkan segala proses yang dilakukan. Pejabat korupsi, guru besar plagiat, kepala sekolah menyelewengkan anggaran, guru berbuat curang dan siswa mencontek adalah hasil dari pendidikan yang hanya mengedepankan hasil dan materi yang terukur. Kejujuran seharusnya memang sudah jadi hal yang natural, namun bukan berarti tidak perlu dihargai sebagaimana penghargaan terhadap prestasi akademik. Belum lagi jika kita perdalam mengenai minat dan bakat siswa yang tidak semuanya berdimensi kuantitatif, akan semakin tampak bahwa ukuran nilai an sich kerap memberikan vonis yang tidak adil.

Kejujuran adalah salah satu hal yang pertama harus diajarkan oleh dunia pendidikan. Agar tidak ada lagi siswa yang berbuat curang, guru yang mencontohkan kecurangan, warga yang diusir karena melaporkan kecurangan, atau pendidik dan pemimpin yang hidup bergelimang kebohongan. Agar tidak ada lagi yang beranggapan bahwa hasil buruk hanya bagi mereka yang jujur dan kurang beruntung. Karena memang tidak ada yang bisa dibanggakan dari nilai bagus hasil dari ketidakjujuran. Karena nilai memuaskan yang tidak dapat dibuktikan dengan kualitas tidak akan berarti apa-apa. Karena pada hakikatnya kualitas pendidikan berbanding lurus dengan integritas. Karena orang terdidik memang seharusnya jujur.

[1] http://www.republika.co.id/berita/pendidikan/eduaction/15/04/14/nms0xv-mendikbud-hanya-30-kabupaten-tingkat-integritasnya-tinggi

Sumber: http://kantorberitapendidikan.net/karena-orang-terdidik-itu-harusnya-jujur/#sthash.vTzAvQ0q.dpuf

 

Ing Ngarsa Sung Tulada

Ing Ngarsa Sung Tulada

Oleh : J. Firman Sofyan, S.Pd.

Disebuah sekolah yang terletak di sebuah Desa Jampang, Kemang, Bogor, hampir setiap bulan selalu ada pergantian spanduk di halaman sekolah yang berisi prestasi-prestasi yang diraih para siswanya. Berbagai prestasi pernah ditampilkan dalam spanduk tersebut, baik prestasi tingkat regional, nasional, maupun internasional. Padahal, sekolah tersebut adalah sebuah sekolah milik pemerintah, tidak ada huruf  N di belakang setiap jenjang sekolahnya. Tidak jauh dari sekolah tersebut, sekolah lain yang memiliki gerbang dan tentu saja gedung lebih megah pun melakukan hal yang sama. Spanduk bahkan baliho berisi prestasi para siswa dengan mudahnya silih berganti.  Wah, hebat-hebat sekali prestasi para siswa yang menempuh pendidikan disekitar desa tersebut? Jika prestasi siswa desa saja seperti itu, bagaimana prestasi siswa-siswa kota? Pasti lebih fantastis, kan? Jika pergantian spanduk prestasi dilakukan di setiap bulan oleh sekolah di desa, berarti pergantian spanduk prestasi sekolah di kota pasti lebih dari seminggu sekali, kan? Mudah-mudahan!

Terus, apa masalahnya? Toh, tidak ada yang salah dengan sekolah-sekolah tersebut! Penempelan dan pergantian spanduk ataupun baliho tersebut wajar-wajar saja dilakukan oleh sekolah di mana pun. Tujuannya pun searah dengan tujuan spanduk dan baliho tersebut: promosi dan iklan! Jadi, kalau itu bukan masalah, ngapain dibahas? Yang perlu diperhatikan, dibahas, dikritisi, dan direnungkan adalah isi dalam spanduk tersebut! Sudah berapa kali sosok guru muncul dalam spanduk-spanduk tersebut sejak sekolah tersebut didirikan? Berapa banyak prestasi yang pernah diraih para guru sehingga mereka cukup pantas dan layak dijadikan sebagai ajang promosi dan iklan sebuah sekolah atau institusi pendidikan?

Beruntung, sekolah pertama yang saya sebutkan dalam tulisan ini, meski tidak sesering siswanya,  termasuk yang mau dan bangga memasang wajah guru-guru berprestasi dalam spanduk mereka. Padahal, sekolah yang bernama SMART Ekselensia Indonesia tersebut merupakan sebuah sekolah yang dikelola oleh Dompet Dhuafa. Bagaimana dengan sekolah-sekolah lain yang sudah dikelola bertahun-tahun secara profesional, sekolah yang dikelola pemerintah, atau sekolah-sekolah mahal yang katanya berstatus internasional? Berapa kali spanduk dan baliho mereka menampilkan sosok para pendidiknya? Mudah-mudahan pernah atau malah sering sekali! Kalau tidak pernah, semoga penyebabnya bukan karena tidak pernah ada prestasi yang ditoreh oleh para pendidik! Semoga saja, asalannya karena memang ajang promosi hanya diperuntukkan bagi para siswa yang mungkin secara fisik pun lebih “menjual” dengan para pendidik mereka di kelas. Dan, yang jangan sampai terjadi adalah sekolah tidak pernah mengapresiasi prestasi para pendidiknya meski hanya dengan menampilkan sosok mereka pada sehelai kertas berukuran raksasa di halaman sekolah mereka.

Entah sebuah jargon, pepatah, atau dagelan, mungkin kita pernah mendengar ini: GURU berarti yang digugu dan ditiru. Gugu (menggugu) sendiri menurut KBBI berarti mempercayai, menuruti, mengindahkan. Berarti digugu berarti dipercai, dituruti, diindahkan.  Adapun tiru (meniru) berarti melakukan sesuatu seperti yang diperbuat orang lain dsb; mencontoh; meneladan. Ditiru berarti dicontoh dan diteladani. Jika jargon di atas benar, ternyata kata guru adalah sebuah profesi mengandung makna yang sangat dalam. Akan tetapi, coba renungkan! Makna yang tersurat dari kata guru ternyata adalah sebuah tantangan dan tuntutan besar untuk siapa pun yang akhirnya memutuskan atau terpaksa menjadi seorang guru. Akhirnya, muncul berbagai pertanyaan. Bagaimana kondisi guru saat ini? Teladan apa yang bisa diambil dari seorang guru? Sudah sehebat apa sehingga sorang guru bisa dicontoh dan diteladani? Guru memang manusia dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang tidak akan luput dari dosa dan alpa. Guru pun tidak mungkin disejajarkan dengan teladan umat Muslim, Nabi Muhammad saw. sehingga pantas untuk dicontoh dan diteladani. Salah satu cara agar seorang guru bisa digugu dan ditiru adalah dengan meraih prestasi.

Dalam hal ini, mohon maaf, saya kesampingkan dulu masalah akhlak guru yang tentu saja harus lurus dan searah dengan agama yang dianutnya masing-masing karena semua agama pasti mengajarkan segala kebaikan dan menuntut kebajikan. Secara tersirat pun, seorang guru memang sudah seharusnya memiliki akhlak mulia karena guru hal tersebut merupakan kewajiban seorang manusia terhadap Tuhannya. Ironisnya, dewasa ini banyak sekali terdengar berita yang negatif yang dilakukan oleh para guru. Salah satu kata yang kini identik dengan kata guru dalam sebuah berita justru kata maaf,  cabul!

Kasus pencabulan sepertinya tak henti-hentinya mencoreng dunia pendidikan. Di berbagai daerah muncul kasusnya silih berganti, seperti berlomba-lomba ingin memburamkan wajah pendidikan kita yang sudah lusuh. Khususnya di wilayah Kepri, beberapa tahun silam kasus pencabulan anak SMA oleh guru agama di Tanjung Pinang mencuat, kemarin kasus serupa terjadi di Batam. Hornyzon, Kepala sekolah SMP negeri di Batam diduga mencabuli 15 siswanya. Kasus ini terbongkar setelah salah satu korban bercerita kepada temannya. Selanjutnya berita tersebar dari mulut ke mulut dan menjadi perbincangan hangat diantara siswa. Sampailah masalah ini ke telinga wali murid. Usut punya usut, 15 siswi mengaku pernah dicabuli kepala sekolahnya (metro.kompasiana.com/18 April 2013).

Bukannya berlomba-lomba meraih prestasi, para guru dan bahkan kepala sekolah justru malah berlomba-lomba menjadi penghancur negri. “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari!” kata orang bijak menasihati kita. Jika guru dan kepala sekolahnya melakukan tindakan tidak senonoh, maka siswanya akan melakukan tindakan yang jauh lebih tidak senonoh!

Gelar Itu Harus dan Pasti

Sejenak kita lupakan berita-berita di atas. Berita-berita yang tentu dipublikasikan oleh para media. Tidak perlulah kita menyalahkan mereka yang mungkin luput memberitakan berita-berita prestasi-prestasi prestisius yang pernah dibuat oleh para guru di Indonesia. Toh, itu hak mereka. Itu tuntutan mereka agar banyak orang yang membaca.

Kini, sudah saatnya mengintrospeksi diri. Sudah waktunya para guru bangkit dan berdiri. Prestasi yang akan akan menyebabkan guru memang menjadi sosok yang memang layak dicontoh dan diteladani. Prestasi yang akan membuat media-media bangga menjadikan berita seputar guru sebagai topik utama mengalahkan berita-berita utama seputar olahraga.

Lantas, prestasi apa yang bisa diraih oleh seorang guru? Peluang untuk meraih prestasi saya kira selalu ada. Salah ajang pencarian bakat untuk guru adalah Lomba Karya Ilmiah Guru (LKIG) yang setiap tahun diadakan secara rutin. Kalau itu berat, seorang guru bisa memulai prestasi dengan menulis! Bukan menulis di papan tulis, di daftar hadir, atau sekadar membuat administrasi pembelajaran tentu saja. Media, baik cetak maupun elektronik sekarang semakin terbuka untuk dimanfaatkan. Guru, adalah salah satu profesi yang diharapkan untuk mengisi berbagai forum, tulisan, atau jurnal di dalam media-media tersebut karena untuk sekadar menulis sebuah artikel di dalam sebuah koran, misalnya, saya kira semua guru pasti mampu jika mau!

Bukannya guru saat ini adalah sebuah profesi dengan berbagai tuntutan dan permintaan? Bukankah guru saat ini disibukkan dengan berbagai pekerjaan? Mengajar, mengoreksi, menyiapkan materi, membuat administrasi saja sudah sangat melelahkan, rasanya sudah tidak ada waku luang untuk mengerjakan hal lain lagi. Tidak salah memang. Akan tetapi, saya kira paling tidak dalam waktu 5-8 jam seorang guru di sekolah pasti jika memang mau dan berniat pasti mampu menghasilkan sesuatu. Siswa-siswa  yang dari pagi sampai siang atau sore harus berada di kelas untuk mendapatkan pelajaran dari satu kelas ke kelas lain saja mampu menghasilkan sesuatu. Namun, mengajar dan teman-temannya memang sudah menjadi sebuah kewajiban, keharusan, dan rutinitas, saya kira. Guru, perlu lebih dari sekadar itu agar menjadi individu yang minimal bermanfaat bagi dirinya sendiri. Ibarat pohon yang tentu harus mendapatkan makanan dan minuman, pohon pun wajib mendapatkan pupuk agar bisa memproduksi buah yang unggul.

Berprestasi, kalau kata itu terlalu berat, jauh dari jangkauan, minimal berkaryalah karena manusia akan dikenang dan diabadikan karena karya-karya yang pernah dibuatnya. Berlomba-lomba meraih gelar formal dari berbagai universitas dan institut, baik dalam maupun luar negri tidaklah salah. Gelar memang penting, akan tetapi, maaf, saya katakan itu bukanlah sebuah karya apalagi prestasi karena gelar adalah sebuah kepastian dan keharusan yang harus diraih seorang guru! Faktanya, kini guru di Indonesia memang rata-rata telah minimal bergelar sarjana, apalagi pemerintah memberi waktu hingga akhir 2015 agar para guru telah lulus klasifikasi dibidangnya minimal S1 atau DIV sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Bahkan, tidak sedikit guru yang telah menyelesaikan pendidikan S2 bahkan S3.Akan tetapi, sayang lebih banyak lagi yang tidak pernah berkarya apalagi berprestasi. Akhirnya,  gelar-gelar yang diraihnya bertahun-tahun pun seolah-olah hampa.

Berlomba-lomba mengikuti pelatihan, seminar, dan lokakarya juga, maaf, saya kira itu pun bukanlah sebuah prestasi. Apalagi jika ujung-ujungnya sertifikatlah yang dicari yang kata para pengisi pelatihan bahwa semakin banyak seritifikat yang didapat, maka semakin banyak poin yang akan diraih untuk sertifikasi! Akhirnya, sertifikat sih dapat, namun bagaimana ilmunya? Sayang jika akhirnya semua sekadar pepesan kosong belaka.

Di dalam dunia sepak bola, tidak sedikit  pemain-pemain sepak bola dari berbagai belahan dunia yang digelari ‘Lionel Messinya …….’ karena dianggap memiliki keterampilan dan kehebatan mendekati atau menyerupai salah satu pemain yang dinobatkan sebagai pemain terbaik di dunia tersebut. Di Indonesia sendiri, di dunia perbulutangkisan banyak pemain yang diberi gelar ‘The Next Taufik Hidayat’ karena dianggap memiliki bakat dan kemampuan bermain mirip dengan salah satu pemain bulu tangkis terbaik dunia yang pernah ada itu. Siapa pun yang memangku kedua gelar tersebut pasti akan merasa sangat bangga karena disejajarkan dengan para manusia terbaik dibidangnya masing-maasing.

Di dalam dunia pendidikan, khususnya di Indonesia, kita tentu bukannya tidak memiliki figur yang patut dibanggakan karena prestasi-prestasinya. Kita semua mungkin pernah mendengar nama Ki Hajar Dewantara. Kita juga sepertinya tidak asing dengan semboyan “Tut Wuri Handayani”, atau dalam istilah aslinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Arti dari semboyan ini adalah tut wuri handayani (dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan), ing madya mangun karsa (di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide), dan ing ngarsa sung tulada (di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik). Indonesia saat ini tentu saja merindukan figur-figur guru yang mampu memberikan dorongan dari belakang, menciptakan ide dari tengah, dan memberikan teladan di depan kepada para anak didiknya hingga akhirnya sang guru pun layak diberi gelar ‘Ki Hajar Dewantara Selanjutnya (The Next Ki Hajar Dewantara)’. Salah satu caranya adalah dengan berprestasi. Namun jika itu sulit, jadilah seorang guru yang membuat karya. Kalau itu pun masih tidak bisa, jadilah guru yang menulis karya. Karena dengan menulis, manusia menjadi baka.

Belajar “Semangat Muda”

Badan boleh tua, namun semangat tetap muda, itulah ungkapan untuk membangun semangat dan motivasi dalam hidup. Inipun ternyata berlaku bagi seorang guru yang saya kenal dekat saat ini, Bapak Wawan. Meski sudah berkepala lima, beliau masih tetap giat dan semangat datang ke sekolah setiap hari. seolah tidak lelah dan cape ketika harus berjalan kurang lebih tiga kilometer dari rumahnya selama lebih dari 27 tahun. Suka dan duka dalam mendidik generasi bangsa selalu beliau lalui dengan penuh semangat dan sabar.

Telah banyak beliau luluskan siswa-siswi berprestasi dari sekolah ini. Satu persatu para lulusannya menjadi manusia yang bermanfaat, seperti seorang siswa didiknya menjadi guru di sekolah tempat beliau mengajar saat ini. Ada pula siswa didiknya menjadi pengusaha dan pedagang,kadang pula sesekali waktu, para siswa didiknya yang sudah masuk smp berkunjung ke sekolah untuk sharing tentang pelajaran dengan beliau, dan beliaupun ladeni dengan senyum dan sabar.

Dalam pelatihan yang diadakan oleh PT Pertamina Geotermal Energy Area Kamojang dan Makmal Pendidikan yang bertemakan “ Pembelajaran berbasis Lingkungan dan Training Fro Trainer” yang diadakan hari rabu tanggal 27 Februari 2014, beliau terlihat semangat dalam mengikuti pelatihan. Beliaupun tidak canggung untuk memberikan saran dalam pelatihan tersebut. Beragam pertanyaan beliau sampaikan kepada Trainer dari hari pertama hingga hari kedua pelatihan.

Sosok guru yang tidak mengenal lelah dan mau berubah seakan jarang pada saat ini. Di lain tempat, kita menyaksikan prilaku para oknum oemar bakri memperlakukan anak didiknya secara tidak manusiawi. Salah satu kasus yang menimpa para siswa yakni pencabulan yang dilakukan oknum guru , seolah mereka tidak pernah berkaca bahwa mereka adalah para pendidik yang dengan ilmu dan arahannya bisa mengubah pula arah dan gerak bangsa ini ke depan. Maka, kita tidak heran jika banyak sekali para pejabat saat ini justru lebih banyak melanggar aturan yang mereka buat daripada menegakkannya.

Hampir disetiap sendi kehidupan di negeri ini tidal lepas daripada korupsi. Seolah ini sudah menjadi budaya bagi bangsa ini. Dan mungkin tanpa korupsi bangsa ini tidak akan terkenal. Karena bisa jadi dengan korupsi bangsa ini menjadi terkenal di dunia, meski dengan label buruk. Para pembuat kebijakan di negeri ini seakan segan untuk segera menutup lubang korupsi di segala sendi kehidupan. Mereka pun seolah nyaman dengan berkorupsi, bahkan secara berjamaah. Dalam media, kita menyaksikan lambaian dan senyuman para koruptor yang seolah mengejek rakyat Indonesia karena mudah dibodohi .

Fenomena di atas mungkin tidak akan terjadi jika para guru pun memberikan keteladanan dan  sikap yang bijak dalam mendidik para siswanya. Guru merupakan kunci kemajuan peradaban bangsa ini. Bangsa yang rindu akan keadilan, rindu akan kesejahteraan, rindu akan keamanan dan kedaulatan serta terbebas dari penderitaan yang diakibatkan oleh penjajahan bangsa sendiri.

Para guru yang memiliki mental baja dan semangat kerja keras yang tinggi seperti beliau memang sangat langka. Namun, beliau sudah membuktikan bahwa dengan kerja keras dan kejujuran yang ditanamkan pada para siswanya telah membuat sebagain siswa didiknya menjadi manusia yang bermanfaat. Guru adalah kunci pembangunan manusia Indonesia, tanpa guru yang inspiratif dan cerdas, mungkin bangsa ini akan mengukir kembali prestasi buruk di mata dunia, semoga hal itu tidak terjadi. Karena dari sebuah desa kecil pinggiran kota Bandung, masih ada sesosok guru yang arif dan bijak serta semangat dalam mendidik para tunas bangsa.

Generasi muda pun sepantasnya harus meniru semangat muda beliau, meski sudah berkepala lima, namun masih memiliki semangat muda dalam berkarya dan mengabdi untuk bangsa ini, merdeka!

Membangun Sekolah Literasi Aplikatif

Sampai hari ini, Indonesia masih menyisakan bertumpuk pekerjaan rumah untuk perbaikan dan pemerataan kualitas pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pendidikan berkualitas hanya dapat dinikmati oleh sekolah-sekolah elit, sedang sekolah marginal bertahan dengan segala keterbatasan.

Mengupayakan peningkatan kualitas sekolah marginal, memang tidak bisa hanya menunggu pemerintah. Sinergi semua pihak mutlak harus dilakukan.

RCTI Peduli, memberikan kontribusi nyatanya. Dari dana pemirsa yang terkumpul, mereka kekerjasama dengan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dan Dompet Dhuafa Singgalang, memberikan bantuan untuk SDN 14 Labuah, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat. Bantuan yang diberikan berupa pendampingan sekolah selama satu bulan.

Makmal Pendidikan sendiri adalah salah satu jejaring pendidikan Dompet Dhuafa yang berfokus kepada pengembangan mutu dan peningkatan kualitas pendidikan. Pendampingan sekolah sudah menjadi fokus Makmal sejak 2005, hingga kini telah lebih dari 30 sekolah di lebih dari 20 provinsi yang menerima manfaat program ini. Di Sumbar sendiri, sejak 2010 lalu Makmal telah dampingi 9 sekolah. Sedangkan Dompet Dhuafa Singgalang adalah cabang Dompet Dhuafa untuk wilayah Sumatera Barat.

Pendampingan sekolah yang dilakukan di SDN 14 Labuah ini bertajuk “Literasi Kreatif”. Bertajuk demikian, karena program ini berfokus kepada peningkatan kemampuan literasi siswa melalui pengajaran guru dengan menerapkan Ceruk Ilmu dan Display Kelas.

Jum’at (05/04) ini program pendampingan “Literasi Kreatif” dimulai dengan seremonial Kick Off program. Berkesempatan hadir pada seremonial ini Wakil Bupati Agam, Irwan Fikri. Saat melakukan class touring dan melihat salah contoh Display Kelas dan  Ceruk Ilmu di Kelas VI, ia memberikan apresiasi dan sempat melontarkan pertanyaan pada Sekretaris Dinas Pendidikan Agam, “Bisakah konsep ini menjadi standar di sekolah-sekolah kita?”

Pasca seremonial, langsung dihelat pelatihan perdana untuk guru. Materi yang diberikan pada pelatihan tersebut adalah Ceruk Ilmu. Pelatihan berlangsung selama dua hari Jum’at dan Sabtu (05-06/04) di sekolah. Duo trainer nasional Makmal, Agung Pardini dan Ika Puspita Sari, pemateri pada kesempatan tersebut.

Peserta pelatihan tidak hanya guru di SDN 14 Labuah, namun juga guru-guru di sekolah sekitar. Lebih dari 20 guru peserta terlihat antusias ikuti pelatihan. Bahkan siswa mereka yang mengintip lewat pintu dan jendela turut bersemangat melihat tingkah gurunya. Siska Distiana

{fcomment}

Guru Berkualitas, Ciptakan Generasi Cerdas

 

Pendidikan, sudah menjadi wacana umum untuk dibicarakan khususnya di Indonesia membahas pendidikan memiliki makna yang sangat luar biasa. Baik dalam ruang lingkup Nasional hingga lokal daerah, dalam hal ini tentunya adalah mekanisme yang sifatnya berpusat sampai pada turunan tingkat daerah sudah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Namun ada hal yang unik apabila kita lihat fakta di lapangan, ada hal banyak perbedaan ketika kita lihat sistem atau mekanisme pendidikan yang diterapkan belumlah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan faktor turunan di setiap daerah yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan pada setiap daerah sulit untuk menyesuaikan standar Nasional. Contoh kasus misalnya adalah Pemerintah pusat menetapkan nilai standar ujian Nasional rata untuk seluruh Indonesia, hal seperti ini menjadi sebuah beban bagi Sekolah-sekolah di setiap daerah terlebih adalah guru-guru.

Disisi lain misalnya, fakta siswa kelas 6 di suatu daerah yang belum bisa membaca sama sekali harus tetap diikutsertakan dalam ujian Nasional. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, siswa mendapat sebuah tekanan, pendidik menjadi sebuah pacuan dan Sekolah mendapatkan ancaman. Artinya pemerintah pusat boleh saja melakukan standar pendidikan nasional, namun harus mempertimbangkan hal-hal lain. Khususnya adalah tentang standar atau karakter yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru, meskipun pemerintah sudah memiliki standar bagi para pendidik namun fakta di lapangan sangat berbeda untuk bisa disesuaikan. Dalam hal ini empat kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh para pendidik sesuai perundang-undangan yang ada diantaranya: 1. Keterampilan paedagogik, 2. Kepribadian, 3. Sosial dan 4. ……………….

Empat hal mendasar itulah yang menjadi landasan bagi para pendidik, namun ada hal yang harus ditambahkan ketika empat hal tersebut sudah bisa dijalankan dengan baik yaitu; kesadaran dan komitmen yang tinggi. Sebab  menjadi pendidik saat ini seperti hanya menjadi sebuah batu loncatan saja, maksudnya adalah keterpaksaan dikarenakan keterbatasan lowongan pekerjaan misalnya sehingga menjadi pendidik adalah pilihan yang tepat meskipun terkadang fakta di lapangan tidak memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pendidik tanpa harus dilatih terlebih dahulu. Hal ini tentunya akan berdampak meskipun hal sepele, namun sekali lagi kembali kepada kesadaran dan komitmen yang tinggi untuk bisa menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas.

Maka, pada hakikatnya adalah ketika seseorang sudah terjun menjadi seorang pendidik pada saat itu harus sudah memiliki tekad yang bulat tidak setengah-setengah untuk menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas. Karakter guru yang berkualitas bisa kita lihat dari 4 tahapan, 1. Persiapan yang matang 2. Pelaksanaan penuh dengan ketelitian, 3. Evaluasi dalam meningkatkan mutu atau kualitas diri 4. Dukungan masyarakat dan efektifitas manajemen sekolah yang baik. Apabila empat hal tahapan tersebut dijalankan dengan baik dimungkinkan para pendidik menjadi guru yang berkualitas sehingga menciptakan generasi yang cerdas, standar pendidikan nasionalpun bukan menjadi sebuah hambatan tapi menjadi sebuah tantangan. (Noly)

Panggil Saja Ia Jodi

Adem, rambut merah, tubuh bongsor dan kalau tertawa terlihat gigi putih yang menonjol, itulah kata kata yang tepat untuk menggambarkan sosok murid ku Jodi. Jodi, merupakan salah satu muridku yang paling menonjol diantara siswa lain yang ikut belajar dengan ku. setiap kali belajar selalu bilang “ibuk,… beta pintar ko… su bisa baca,… ya diantara murid lain, jodi yang paling cepat dan paling gigih untuk membaca, disaat murid lain pengen cepat selesai untuk belajar, jodi masih tekun menatap buku yang diberikan, mengeja setiap kata yang tertulis, setelah siswa lain selesai membaca langsung pulang, jodi masih ingin membaca buku yang diberikan, dengan tertatih dan semangat menyelesaikan bacaan yang diberikan.

Salah satu hal yang membuatku senang dengan sosok Jodi adalah sikapnya yang sopan dan selalu ingin menjadi terdepan. Walaupun Jodi masih muda, tetapi ia bisa menjadi pemimpin dan berani menegur teman teman nya yang lebih tua jika ada yang salah, bahkan alasan sakit pun tidak menghalanginya untuk tetap hadir belajar, 3 kali dalam seminggu.

Semangat belajar anak – anak Papela untuk bisa membaca tidak bisa diremehkan, karena pada dasarnya mereka pada semangat untuk belajar, namun hanya karena perhatian orang tua yang tidak perduli dengan pendidikan mereka menyebabkan mereka tidak bersekolah, termasuk Jodi.

Kadang dibutuhkan tenaga yang ekstra untuk mengajar mereka, dibutuhkan kesabaran dan ketekunan untuk melatih mereka, mengecek sholat, mandi, gosok gigi bahkan mengaji, karena orang tua mereka tidak mendidik mereka untuk membentuk kepribadian mereka. Mereka lebih senang mencari ikan, bermain dan berenang sepanjang hari. Namun hal itu tidak menjadi alasan untuk maju, karena kemajuan Papela berada ditangan mereka.

Guru! Saatnya Bangun Percaya Diri Melalui Cara ini

Oleh: Zayd Sayfullah

Salah satu modal keberhasilan guru dalam mengemban amanahnya sebagai pendidik adalah kepercayaan diri.

Bagaimana mungkin seorang guru mampu mendidik siswanya menjadi anak-anak yang berprestasi jika gurunya tidak memiliki kepercayaan diri untuk bisa membentuk anak-anak juara? Tulisan ini merupakan pengalaman saya ketika mengawal Training For Triner (TFT) beberapa tahun silam.

Apabila guru memiliki kepercayaan diri, bahwa mereka mampu mengajar dan mendidik dengan baik, maka insya Allah dia akan seperti itu. Jika guru memiliki keyakinan bahwa dia bisa menjadi guru yang mampu berkomunikasi dengan cara yang baik, maka dia akan bisa melakukannya. Jika guru optimis dia mampu mendidik anak-anak yang menurut orang lain dianggap “bandel”, maka dia akan bisa melakukannya. Namun, kondisi bisa terjadi sebaliknya jika guru mengidap penyakit inferior alias tidak percaya diri.

Rasa inferior ini tidak disadari oleh guru, apalagi sampai mereka mengatakannya. Namun, dari ucapan dan tindakan mereka, tercermin akan hal itu. Sebagian besar guru sekolah dampingan ketika diajak untuk menjadi guru terbaik, mereka langsung menyatakan kemustahilan.

Di sinilah dibutuhkannya kepercayaan diri bagi guru, baik ketika dia mengajar dan mendidik siswa maupun ketika dia harus mengemukakan pendapat dan gagasannya di hadapan orang lain, bahkan ketika dia harus membagi ilmu kepada yang lain dalam bentuk pelatihan, seminar atau acara public speaking lainnya. Untuk itulah, salah satu target Makmal Pendidikan dalam program pendampingan adalah menjadikan guru yang cerdas-inspiratif. Cerdas karena ia memiliki kompetensi dasar guru yang memadai. Inspiratif karena ia mampu mendidik siswa dengan pendekatan manusiawi serta mampu berbagi kepada yang lain.

Salah satu penampakan kepercayaan diri guru terlihat ketika dia tampil di depan publik. Tampil di depan publik ternyata merupakan sebuah momok menakutkan bagi kebanyakan guru. Saking menakutkannya, para guru yang mengikuti sesi Training for Trainer (TFT) di sekolah dampingan banyak yang “kabur” dengan berbagai macam alasan sebelum sesi tampil ke depan dimulai.

Pada suatu sesi pelatihan TFT guru-guru sekolah dampingan, saya menyampaikan bahwa setiap guru harus tampil ke depan untuk mempresentasikan materi pelatihan. Namun, untuk membuat guru mau tampil di depan dan menyampaikan materi kepada guru-guru lainnya ternyata merupakan perkara yang sulit. Hal ini karena mereka merasa tidak mampu untuk tampil. Tampil di depan bagi sebagian besar guru ternyata memang benar-benar pekerjaan menakutkan.

Melihat keadaannya seperti ini, saya mengambil langkah praktis guna menghilangkan rasa tidak percaya diri dan grogi mereka. Sebagai langkah awal untuk menghilangkan ketakutan tampil di depan publik, secara berurutan satu per satu peserta pelatihan saya minta untuk lari cepat ke depan kelas kemudian mengucapkan dengan keras kalimat: “Saya siap menjadi trainer!” sambil mengepalkan tangan di depan dada diikuti gaya masing-masing guru. Sesuatu yang sederhana dan mudah dilakukan. Ternyata efeknya luar biasa.

Tampak rasa grogi para guru pun sedikit demi sedikit hilang. Teknik seperti ini berfungsi sebagai upaya penceburan diri peserta untuk melakukan aktivitas tanpa berpikir terlalu lama. Aktivitas ini juga sebagai penghangatan, sehingga ketika tiba gilirannya maju untuk menyampaikan materi di depan, rasa grogi sudah berkurang dibandingkan ketika awal kali mereka tampil.

Selanjutnya, untuk semakin menanamkan rasa percaya diri tampil di depan publik dan menghilangkan rasa grogi, saya menerapkan teknik menyemangati (motivating). Ketika seorang guru akan tampil ke depan, saya memanggilnya dengan penuh penghargaan seperti seorang pembawa acara memanggil tokoh ternama yang akan tampil di panggung utama di hadapan ribuan penggemarnya.

“Kita sambut seorang trainer yang memiliki pengalaman mengajar lebih dari 10 tahun di sekolah dasar, inilah dia ……!” Seru saya seraya menyebutkan nama guru yang tampil.

Setelah itu, saya mengarahkan audiens untuk memberikan tepuk tangan kepada guru tersebut. Tepuk tangan ini meskipun terlihat sepele, ternyata mampu membangun kepercayaan dan mental sukses guru yang tampil. Contohnya seorang guru muda asal Luwu Timur yang awalnya terlihat grogi ketika harus tampil pertama kali di depan para rekan seniornya. Melalui tepuk tangan dan kata-kata penyemangat, rasa groginya pun menghilang seiring ramainya tepuk tangan.

Selain tepuk tangan, jalan untuk membuat para guru memiliki kepercayaan diri adalah dengan menunjukkan ketertarikan penuh saat dia berbicara di depan. Mengobrol atau sibuk dengan aktivitas pribadi (misalnya ber-SMS ria) saat seorang guru presentasi di depan membuatnya merasa tidak dihargai. Rasa tidak dihargai ini berakibat pada timbulnya rasa pesimis dan tidak percaya diri.

Setelah tepuk tangan dan menunjukkan ketertarikan pada aktivitas yang dilakukan oleh guru di depan, teknik membentuk kepercayaan diri menjadi public speaker yang saya lakukan berikutnya adalah dengan reward. Hadiah ternyata ampuh untuk membangun semangat dan kepercayaan diri. Hadiah, meskipun sekadar sebuah pulpen, memberikan efek dahsyat untuk terciptanya rasa dihargai akan keberhasilannya tampil di depan. Apabila tepuk tangan membuat
guru yang tampil ke depan menjadi semangat dan yakin bahwa dia bisa, hadiah membuatnya semakin merasa dihargai. Reward tidak mesti berupa materi, pujian pun bisa menjadi reward yang baik.

Kepercayaan diri tampil di depan publik saat pelatihan ini ternyata mempunyai efek besar terhadap kepercayaan diri guru dalam setiap kesempatan tampil di depan khalayak.

Seorang guru dari Makassar, Ibu Sri Rahayu, mengungkapkan perasaannya dalam sebuah testimoninya:

“Pada saat itu tiba-tiba muncul perasaan lebih berani mengeluarkan pendapat. Aku lebih percaya diri berpendapat walaupun tidak ditunjuk. Tangan ini spontan saja mengacung dan mengajukan pendapat dan pertanyaan. Aku sebenarnya paling takut jika harus tampil di hadapan orang banyak. Rasa grogi atau demam panggung selalu menghantui, tapi pada waktu itu akumengajukan pertanyaan dengan berani. Trainer pun memberikan jawaban sekaligus memotivasi keberanianku yang tiba-tiba muncul. Aku bahkan tampil mewakili kelompokku untuk membawakan pidato singkat tanpa ada teks atau rencana sebelumnya!”

Ada cerita lain dari seorang guru di daerah Mimika, Pak Chrisbiantoro, yang sudah mengikuti materi pelatihan TFT pada Mei 2013. Selang beberapa bulan kemudian, tepatnya Oktober 2013 saya kembali berkunjung ke sekolah ini. Saat saya datang dan melihat-lihat kondisi lingkungan sekolah, beliau menghampiri saya dengan wajah penuh kegembiraan. Sambil menjabat tangan saya, beliau mengucapkan terima kasih.

“Terima kasih untuk apa, Pak?” tanya saya heran.

“Saya mengucapkan terima kasih karena Bapak sudah memberikan kepercayaan diri kepada saya untuk bisa tampil di depan umum. Dari ilmu yang Bapak berikan saat TFT yang lalu, saya menjadi orang yang berani dan pede tampil di depan untuk menjadi perwakilan orangtua siswa pada saat acara pelepasan lulusan SMPN 4 Mimika,” paparnya dengan penuh gembira.

“Saat itu,” lanjut Pak Chrisbiantoro, “hadir juga para pejabat Dinas Pendidikan Kabupaten. Hadirnya para pejabat ini membuat para orangtua siswa tidak ada satu pun yang mau tampil ke depan. Akhirnya saya memberanikan diri untuk ke depan dan memberikan sambutan dan kesan pesan.”

“Wah, luar biasa. Bapak memang hebat!” ucap saya mengalir penuh gembira.

“Terima kasih, Pak. Saya juga tidak menyangka ternyata penampilan saya itu membuat para hadirin, khususnya pejabat dinas, takjub. Pejabat dari dinas itu kemudian menghampiri saya dan bertanya tentang asal saya. Saya kemudian menjawab saya adalah pengajar di salah satu SD inpres di Mimika. Mereka lalu bertanya kembali kenapa saya bisa tampil dengan penuh pede dan menarik audiens. Saya pun menjawab, saya mendapatkan ilmunya dari pelatihan TFT yang saya ikuti. Kemudian pejabat tersebut berpesan kalau ada pelatihan TFT lagi tolong diundang.” Papar Pak Chris dengan penuh semangat.

 

 

Sepenggal Cerita di Tanah Rote

Papela, daerah yang dulunya tak pernah ku tahu keberadaannya di Indonesia, daerah yang masih asing ditelingaku, bahkan setelah ku lihat di peta daerahnya punyang sangat kecil dan terluar dari NTT, daerah yang pendudukmuslimnya sangat minoritas. Namun sadar atau tidaknya sekarang aku telah berada dan menginjakkan kaki di daerah ini. Sebuah program Makmal yang telah membawa ku di sini, sebuah visi yang ku emban untuk pemberdayaan masyarakat khususnya dibidang pendidikan yaitu pemberantasan buta huruf.

Oktober 2013, aku tak teringat persis tanggalnya, yang jelas itulah awalnya aku menginjakkan kaki di NTT, untuk mencapai Papela daerah rote, aku harus menempuh perjalanan 4 jam melalui laut, rasanya terasa beda, karena selama ini aku tak pernah merasakan bagaimana naik kapal laut, hamparan laut yang indah kini ada dihadapanku. Dalam perjalanan aku menikmati keindahan pantai nan eksotis, airnya jernih dan udaranya pun segar. Perasaan ku harap harap cemas menghantuiku, karena takut program ini tidak terlaksana sesuai dengan harapan yang diharapkan, namun aku tetap optimis menghadapi tantangan ini..

Setelah beberapa Minggu di Papela, baru lah aku tahu seperti apa dan bagaimananya Papela, hasil dari Asesment yang ku lakukan. Rote NTT, salah satu propinsi dengan tingkat kemiskinan tertinggi  di Indonesia, dan menurut beberapa survey yang dilakukan, masih banyak penyandang buta huruf. Jadi tidak heran tingkat kemiskinan tinggi disinikarena biasanya rendahnya pendidikan berbanding lurus dengan tingkat ekonomi masyarakatnya.

Kehidupan masyarakat di NTT, khususnya Papela yang merupakan salah satu daerah di Rote rata – rata bermata pencarian nelayan, yang berbatasan dengan langsung dengan negara Australia. Dengan  pendapatan dibawah UMR, mereka berlayar dengan kapal yang mereka sewa dari para rentenir yang ada didaerah mereka, sehingga kemiskinan tidak jauh dari kehidupan mereka. Mungkin, Berangkat dari itulah Makmal pendidikan Dompet dhuafa membuat program pemberantasan buta huruf.

Langkah awal yang ku tempuh untuk pelaksanaan program ini adalah sosialisasi dengan masyarakat Papela, melalui pertemuan musyawarah RT/RW, terlihat wajah – wajah penasaran dari warga dengan kehadiran ku, setelah aku memperkenalkan diri barulah mereka tahu, apa visi dan misi yang ku emban.

Kadang aku harus mendatangi rumah – rumah penduduk untuk mencari peserta program ini. Mendata satu persatu riwayat kehidupan mereka, dan hasilnya sesuai dengan survey yang telah dilakukan masih ada anak – anak yang tidak sekolah, warga yang tidak bisa membaca, bahkan tidak peduli dengan pendidikan, bagi mereka waktu adalah uang, semua nya diukur dengan uang, itulah tantangan terbesar ku dalam program ini.

Namun hal itu tidak membuatku putus asa, aku terus mendatangi mereka menanyakan apakah mau ikut atau tidak, walhasil sekarang aku sudah mempunyai peserta didik, walaupun tidak banyak namun aku tidak semangat dan optimis, sekarang peserta didik ku ada anak – anak, ibuk – ibuk dan bapak – bapak.

Awal dari mengajar kata – kata yang sering ku dengar ‘ ibuk… beta sonde (tidak) membaca…… sering terucap di mulut peserta didik, namun sekarang secara berlahan tidak terdengar lagi, karena mereka secara berangsur sudah mulai mengenal huruf – huruf vokal dan abjad, mereka begitu semangat untuk belajar, kadang aku iseng bertanya kenapa mau belajar, mereka menjawab“ biar bisa SMS ibuk, kalau su (sudah) pergi, dan bisa membuat nama kalau dapat bantuan. Bagiku apapun alasan mereka, yang penting mereka mau ikut belajar. Karena kehidupan tidak akan berubah kalau mereka tidak bisa menulis dan membaca. Rote… sekarang daerah yang ku cintai karena ada anak – anak yang menanti kedatanganku untuk belajar.

 

Semangat Itu Masih Ada di Sekolah Kami

 

Pada saat sekarang sedang ngetren pemimpin muda. Kinerja pemimpin muda yang semangat, visioner dan progresif membuat berbagai gebrakan dalam kepemimpinan di negeri ini. sebut  saja pemimpin muda itu Ridwan Kamil, Walikota Kota Kembang Bandung yang sedang giat-giatnya membangun wajah kota bandung dengan program Bandung juara. Salah satu programnya yaitu membuat taman-taman kota yang layak untuk warga kota Bandung.

Begitupun di sekolah kami, SDN Lalareun Bandung. Sosok guru muda yang aktif dan progresif bagaikan oase di gurun sahara yang kering akan air. Kehadiran mereka sungguh membuat saya kagum akan gerakan guru muda yang aktif dan pekerja keras. dalam berbagai kegiatan program green school di sekolah SDN Lalareun, guru muda ini merespon dengan cepat berbagai kegiatan yang disodorkan kepada mereka.

Namun, dibalik itu semua ternyata ada seorang guru yang memiliki komitmen tinggi dan kerja keras tinggi dalam memajukan sekolah, dan beliaulah menjadi kiblatan para guru muda dalam bekerja di sekolah. dialah Ibu Imas Teti S.Pd.SD.

Menurut mereka (red- guru muda) yang saya ajak wawanacara mengenai keadaan sekolah pada saat ini. hampir semuanya menunjuk kepada beliau, “ dulu, sekolah ini tidak seperti sekarang pak, gedung sekolahnya pun tidak seperti sekarang, masih kumuh. Kemudian Ibu Imas datang pada tahun 2000 dan mengabdi di sekolah ini, kemudian sekolah ini terus membangun sampai sekarang” ujar seorang guru.

Sosok guru muda yang murah senyum namun tegas dan pekerja keras terlihat dalam keseharian beliau di sekolah. setiap hari beliau mengajar di kelas 2. Dalam berbagai hal, beliau selalu mengajak siswanya untuk belajar di luar kelas. Semisal belajar matematika, Ibu Imas mengajak anak-anaknya untuk mengumpulkan kerikil kecil untuk dijadikan media belajar penjumlahan. Dan anak-anakpun terlihat  enjoy tanpa diceramahi seperti di sekolah-sekolah klasikal.

Dalam manajemen sekolah pun, beliau  tidak pernah takut kepada siapa pun termasuk kepada kepala sekolah dalam merencanakan kebijakan sekolah. “ selama kita berbuat baik dan niatan kita baik untuk kepentingan sekolah serta tidak memiliki kepentingan pribadi, kenapa kita harus takut” kata kata itulah yang selalu beliau katakana ketika berdiskusi dengan saya di sela-sela istirahat sekolah. dan kata-kata itulah yang membuat saya merenung akan sebuah kebanaran yang hilang di negeri ini. sesuatu yang benar kadang disamarkan menjadi tidak benar, pun demikian sebaliknya, yang tidak benar disamarkan menjadi benar.

Ketika istirahat tiba, biasanya saya ngobrol dengan para guru termasuk dengan beliau, dan Beliau pun  menceritakan suka dukanya membangun sekolah dari kumuh menjadi sekolah yang hijau, bersih dan bagus seperti sekarang. “pak Irmanm, untuk membangun sekolah ini saja, berbagai LSM dan wartawan datang untuk meliput kegiatan pembangunan gedung baru di sekolah ini. tapi saya hadapi dengan penuh kejujuran sehingga LSM dan wartawan yang meliput mengetahui dengan jelas pengeluaran biaya untuk pembangunan sekolah” ucapnya.

Salah seorang rekan guru beliau pun pernah berkata “Ketika sekolah ini masih membangun, beliau selalu standby di sekolah dari pagi sampai sore hari untuk menunggui para pekerja yang membangun sekolah. tidak ada kelelahan yang beliau tampakkan setiap hari ketika membangun sekolah, yang ada adalah semangat dan kerja keras yang beliau lakukan untuk sekolah. bahkan sampai malam hari beliau belum pulang ke rumah. Semua beliau lakukan untuk sekolah SDN Lalareun”.

“ kalau bukan oleh kita, terus oleh siapa sekolah ini akan diurus?” selalu keluar dari ucapan beliau kepada guru-guru ketika rapat sekolah. menurut saya, hal ini tentu berkaitan dengan manajemen kalau keluar kata urus mengurus sesuatu. Dan sebuah manajemen perlu seorang leader yang menggerakkan agar sekolah ini tertata dengan baik dan sesuai dengan keinginan pendiri bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa.

Leadership dan membangun tim work sekolah yang solid, itulah yang menjadi titik tolak dari kemajuan sekolah di negri ini. meskipun beliau bukan seorang kepala sekolah, namun kalimat atau kata-kata yang terucap dari beliau bagaikan ucapan seorang pemimpin. Dan beliau memang pemimpin di kelasnya dan bukan pemimpin di sekolah. Berbagai kebijakan sekolah selalu datang dari ide dan saran beliau, sehinggga guru-guru yang lain dan kepala sekolah menyetujuinya.

Kasus-kasus yang terjadi di negeri ini, seperti korupsi dan bencana alam bisa jadi merupakan sebuah isyarat bagi kita bahwa ada yang kurang beres dalam pendidikan di negeri ini. ketidak beresan itu bisa jadi muncul dari sikap para pembuat kebijakan pendididikan kita yang cendrung acuh tak acuh dalam mengelola pendidikan di negeri ini. namun di sekolah ini, saya melihat, beliau benar-benar menjaga sekolah dan anak-anak daripada berbuat yang menyimpang dari ajaran pancasila dan agama.

Dalam hal trasparansi keuangan pun beliau sering tunjukan kepada saya perihal pengeluaran sekolah dari bulan ke bulan. Tidak ada satupun yang beliau tutupi dalam hal pengelolaan keuangan, karena selain menjadi guru kelas 2, beliaupun diamanahi sebagai bendahara BOS di sekolah. berbagai laporan keuangan bertumpuk di sekolah, sehingga siapapun bisa mengecek pengeluaran sekolah dari hari ke hari. hal ini mungkin yang belum bisa dilakukan sekolah lain, sehingga ketika keterbukaan dalam pengelolaan dana tidak dipublikasikan ke public sering menimbulkan kecurigaan dari public terhadap sekolah tersebut.

Ketika keterbukaan dalam segala hal telah dipublikasikan, membuat public semakin percaya akan kinerja sekolah ini. sehingga berbagai bantuan datang silaih berganti ke sekolah ini, mulai dari bantuan computer, leptop dan infokus serta sekolah iklusif dan green school.

Walhasil, Perkataan yang tidak diikuti dengan perbuatan dan hati yang ikhlas hanya akan membuat seseorang kecewa. Itulah yang tidak tampak dari beliau. Begi beliau, bekerja keras dan memajukan sekolah menjadi prioritasnya kali ini. tidak ada kepentingkan pribadi, namun kepentingan bersama yang menjadi ukurannya. Selamat bekerja keras kawan-kawan.