Guru Honorer Oh Guru Honorer

Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) dan Komisi II DPR RI  menyepakati untuk menghapus tenaga honorer dengan alasan hal ini diperlukan untuk mendapatkan sumber daya manusia atau SDM berkeahlian.

Pemerintah berasalan bahwa saat ini jumlah PNS Indonesia mencapai 4.286.918 orang, dan sekitar 70 persen berada di Pemerintah Daerah (Pemda). Dimana maka total tenaga honorer sebanyak 1.070.092 orang. Sehingga, jumlah keseluruhan dinilai tidak imbang karena 1/3 dari total. Lalu, bagaimana nasib tenaga honorer jika dihapus?

Mereka harus mengikuti tes untuk menjadi Pegawai Pemerintan dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Selain itu juga sesuai porsi jabatan yang dibutuhkan setiap instansi. Bagi pegawai honorer yang tidak lulus mengikuti seleksi PPPK, nasibnya akan diserahkan ke Pemerintah Daerah (Pemda) yang bersangkutan. Jika instansi tetap memerlukan, tenaga pegawai honorer masih bisa dipekerjakan.

Salah satu permasalahan yang terjadi adalah pada guru honorer yang mendapat upah yang tidak layak, yaitu Rp 300 ribu per bulan padahal tenaga honorer yang diangkat resmi seharusnya penghasilannya sesuai Upah Minimum Regional (UMR) wilayah. Kendala utama pengangkatan tenaga kerja honorer menjadi PNS. Salah satunya adalah keengganan pemerintah daerah (Pemda) menanggung gaji tenaga honorer usai diangkat menjadi PNS. Pemda justru meminta hal itu menjadi kewajiban pusat.

 

Penghapusan tenaga honorer di seluruh instansi pemerintah pusat dan daerah membuat cemas para pegawai honorer. Mereka dibayangi ketidakpastian kerja. Banyak guru honorer yang dipekerjakan selama puluhan tahun yang hingga kini belum ada pertanda dirinya akan diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Pemerintah tidak memberikan solusi yang jelas bagi pegawai honorer. Lantas bagaimana nasib tenaga honorer? Bagaimana kelak mereka diputus kontrak?

Literasi dalam Dimensi Masa

Oleh: Achmad Salido

 

Masa merupakan salah satu modal berharga bagi setiap manusia. Siapapun dan dalam kondisi apapun dia. Tua ataupun muda, kaya ataupun miskin, atasan ataupun bawahan, masa menjadi sesuatu yang tak terpisahkan baginya. Masa menjadi sebuah misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini. Bahkan para ilmuwan dunia menjadikan masa sebagai obsesi penemuan mereka. Salah satu tokohnya adalah Stephen Hawking yang sangat getol dalam mengkaji tentang masa. Teori-teori kontroversialnya semua bermuatan tentang bagaimana upaya untuk melepaskan diri dari yang namanya masa. Ia pun kemudian menafikkan akan keberedaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Bahwa gaya gravitasilah yang menjadikan bumi ini ada. Menurutnya, jika manusia tidak ingin musnah maka harus berpindah dari planet bumi. Olehnya itu, salah satu teorinya adalah lubang cacing yang berada disekeliling manusia yang tidak terlihat secara kasat mata. Dalam teorinya, lubang cacing ini memiliki kekuatan yang mampu memindahkan sebuah benda pada kecepatan yang tinggi.

Ilmuwan lainnya ketika mengkaji tentang masa, obsesi utamanya adalah agar mampu melintasi masa. Sebab ketika misteri masa ini terpecahkan, maka mereka berharap bisa kembali ke masa lalunya untuk memperbaiki semua hal sia-sia yang telah dikerjakan. Saat ini obsesi melintasi waktu sebenarnya telah ditularkan dalam fantasi berpikir anak. Salah satu tokohnya adalah Doraemon yang datang dari dunia abad 21. Seorang tokoh yang memiliki kantong ajaib berisi semua hal yang dibutuhkan. Ia mampu melintasi ruang dan waktu dalam waktu yang relatif singkat.

Masa akan tetap menjadi misteri hingga kapanpun. Keberadaannya sangat berharga dan tidak dapat diperjualbelikan. Sekali ia melintas, maka tidak akan pernah lagi kembali. Sehingga Allah Swt. mengingatkan manusia akan masa dengan bersumpah atas namanya. Dalam Q.S Al Ashr ayat 1-2 Allah berfirman, “demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian”. Masa menjadi begitu sangat misterius bagi manusia, karena kita sublim bersamanya. Setiap saat kita mengalir dalam lintasannya. Ketika detik ini adalah milik kita, maka satu detik kedepan dia hanya akan menjadi sejarah yang tidak akan pernah lagi bisa kita kunjungi. Para ilmuwan membagi masa menjadi 3 bagian, yaitu masa lalu, masa kini dan masa depan. Namun sebenarnya pembagian ini telah ada sejak ratusan tahun yang lalu. Pembagian itu muncul secara tersirat dalam ucapannya. Dialah Rasulullah Muhammad saw. Dalam sabdanya mengatakan: “ manusia yang beruntung adalah yang hari ini lebih baik dari kemarin, manusia yang merugi adalah yang hari ini sama dengan kemarin, sedangkan manusia yang celaka adalah yang hari ini lebih buruk dari kemarin”. Semua perkara ini menunjukan tentang posisi masa yang sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Ia mengisyaratkan manusia agar mampu mengatur waktu secara baik dan bijaksana. Mengelola setiap kegiatannya agar berada dalam lintasan waktu yang diberikan sama kepada setiap makhluk.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar orang merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Alasannya adalah sudah nasibnya seperti itu. Ketika ada seorang yang dekat dengan dia sukses dalam karirnya, dia hanya bisa mengatakan takdirnya memang seperti itu. Walaupun orang itu memiliki latarbelakang yang sama dengannya di masa lalu, Padahal ada jenis takdir yang masih bisa dirubah lewat ikhtiar manusia. Semua tergantung cara penyikapan kita terhadap hidup. Kalaulah ada takdir yang masih bisa dirubah, lalu apakah kita tidak pantas untuk hidup layak sebagaimana yang lainnya? Kita memiliki porsi waktu yang sama dengan yang lainnya. Tidak peduli siapapun dia, porsi 24 jam sehari semalam tetap tercukupi. Masa yang Allah berikan untuk seorang presiden tetap sama dengan pemberiannya kepada rakyat biasa. Ketika seorang presiden memiliki waktu siang dan waktu malam, maka itupun ada pada rakyat biasa. Semua mendapatkan pembagian waktu yang dalam kesehariannya. Tidak terlalu berlebihan jika ada sebuah pepatah yang mengatakan, “jika saya lahir dalam kondisi yang miskin maka itu adalah takdir, namun jika sampai meninggal saya tetap miskin maka itu bukan takdir akan tetapi sebuah kebodohan”. Kebodohanlah yang menjadi masalah utamanya. Ia lah yang membatasi ruang berpikir seseorang. Sehingga butuh sebuah penyikapan bijak yang menyentuh secara tepat pada akar masalahnya.

Saat ini dunia pendidikan sedang ramai memperbincangkan tentang sebuah istilah baru. Pendidikan menjadi masuk dalam ranah pembahasan ini, karena ia adalah obat dari kebodohan. Istilah baru itu namanya literasi. Sebuah kata yang awal munculnya diartikan sebagai kemampuan baca dan tulis. Ia menjadi kata yang mewakili dua kemampuan tadi kala itu. Namun semakin kesini, istilah literasi semakin mengalami perluasan makna. Ia tidak lagi terbatas pada istilah-istilah sempit dan sederhana. Saat ini kata literasi banyak menggadeng kata-kata lain yang kemudian bersanding dan menghasilkan makna tersendiri. Misalnya literasi matematika, literasi computer, literasi internet, literasi virtual dan masih banyak istilah lainnya.

Saat ini istilah literasi semakin diperluas lagi cakupan maknanya. Kirch dan Jungeblut dalam buku Literacy, Profile of America’s Young Adult mendefinisikan literasi sebagai “kemampuan dalam menggunakan informasi tertulis atau cetak untuk mengembangkan pengetahuan, sehingga mendatangkan manfaat bagi masyarakat”. Ketika masyarakat masih bingung mengatasi masalah hari-harinya, maka literasi bisa menjadi salah satu alternatifnya. Dengan literasi masyarakat dapat melakukan terobosan-terobosan baru dalam hidupnya. Sehingga setiap aktifitasnya lahir dari hasil olahan berbagai informasi tertulis yang ia peroleh dari kegiatan membaca. Dalam mengambil sebuah keputusan, pada akhirnya masyarakat tidak lagi asal-asalan. Akan tetapi ia berkaca pada pengalaman masa lalu dan informasi ia dapatkan. Literasi kemudian akan mampu merubah perilaku masyarakat untuk bias memanajemen setiap aktifitasnya. Mereka akan mampu menempatkan setiap agenda dan keputusannya pada tiga dimensi masa. Masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Berkah Bersama Alquran

“Selama Alquran itu masih terpatri dihatimu, Allah Swt tidak akan membiarkanmu hidup menderita Rio  “ ujar Buya Mahmud Pulungan, guru tahfiz di Pesantren Modren Daar al Uluum (PMDU) Kisaran. petuah ini masih terngiang – ngiang di telinga ini sampai saat ini.

Pada tahun 2001, setelah mendaftar di Madarasah Tsanawiyah  PMDU, jauh dari tempat tinggal orangtua.  Saya memulai menghafal Alquran dibawah asuhan Buya Mahmud, Buya Mahmud sendiri sudah menghasilkan Hafiz-hafiz handal, beberapa murid beliau  berhasil menjuarai Musabaqah Hifzil Quran Nasional dan Internasional. Buya dikenal sangat disiplin dan ikhlas, beliau akan marah jika murid-muridnya bermalas-malasan menghafal Al Quran, beliau juga sangat ikhlas belaiau hanya digaji empat hari dalam seminggu, namun beliau bersedia mendengarkan hafalan al Quran setiap hari.

Ketika masih duduk dibangku kelas I Madrasah Tsanawiyah, Suatu hari saya mengaji Alquran dengan pengeras suara di Mesjid PMDU, seorang kakak kelas mendatangi saya seraya berkata “kenapa kamu yang membaca Alquran? bacaan kamu kan belum bagus ”. ucapan ini saya jadikan motivasi supaya lebih giat lagi mempelajari dan menghafal Alquran, alhasil dengan izin Allah Swt., tidak sampai dua tahun, saya telah menghafal Alquran sebanyak 18 juz, kemudian Buya Mahmud memberikan kepercayaan kepada saya sebagai Imam tetap Mesjid PMDU, biasanya seorang Imam harus mempunyai hafalan yang banyak dan minimal beerada di kelas I Madarasah Aliyah, karena surah yang kami baca dalam shalat jahar (magrib, isya, subuh) berurut dari Surah Al Baqarah hingga An Naas, namun berbekal hafalan tadi saya dipercaya sebagai Imam meski masih duduk di kelas II Tsanawiyah. Sampai akhirnya ketika saya sudah mengkhatamkan Alquran saya dipercaya menjadi asisten Buya Mahmud mendengarkan setoran hafalan Alquran, ketika itu saya masih kelas I Aliyah sebagian santri yang setoran waktu itu adalah kakak kelas saya .

PMDU bukanlah Pondok khusus menghafal Alquran, layaknya pesantren Modren, PMDU mempunyai seabrek aktifitas santri dari pagi hingga malam hari, Kegiatan belajar mengajar (KMB) dimulai pukul 7.00 pagi hingga pukul 12.00 siang. Kemudian shalat Zuhur dan makan siang, pukul 2.00-3.00 diisi dengan ketrampilan agama selain menghafal Al Quran. Selepas ashar santri bebas beraktifitas kemudian dimalam hari pukul 8.00-10.00 semua santri kembali ke lokal masiing- masing tuk mengulangi pelajaran (muraja’ah).

Meski  aktivitas santri padat, kami yang terdaftar sebagai murid tahfiz, harus menyetorkan hafalan Alquran setiap harinya, kami mengoptimalkan setiap waktu yang ada, dalam benak kami setiap ada kesempatan kami harus pergunakan waktu itu dengan sebaik-baiknya untuk menghafal Alquran, karena kami tidak mempunyai waktu yang banyak, kami sendiri mengistilahkannya dengan “curi-curi waktu”, namun dengan keuletan Buya Mahmud dan kegigihan santri-santrinya banyak diantara mereka yang khatam mengafal Alquran 30 juz dalam waktu empat, tiga bahkan dua tahun.

Dalam jangka dua setengah tahun, alhamdulilah saya mengkhatamkan Alquran pada Bulan Maret 2014, ketika itu saya masih berumur 14 tahun, seteleah itu saya sering mengikuti even-even Musabaqah Hifzil Quran dan Musabaqah Tafsir Alquran. Dan alhamduliilah saya sering kali menjuarai Kategori 20 dan 30 juz Alquran. Atau kategori 30 juz beserta tafsirannya. Dari Musabaqah ini saya semakin tertarik mendalami tafsir Al Quran dan ilmu –ilmu yang mendukung tafsir itu itu sendiri, Ditambah lagi nasehat-nasehat guru di pondok agar saya mengambil Jurusan tafsir jika sudah masuk perguruan tinggi.

Tibalah saatnya, tahun 2007 kami resmi menjadi wisudawan PMDU, saya dan beberapa teman mendaftarkan diri tes ke Timur Tengah. Tes pertama diadakan di UIN SUMUT sedangkan tes kedua di Kedutaan Besar Mesir tahun depannya. Ketika mengikuti tes lisan (syafawi) di Kedubes, salah satu syeikh bertanya berapa jumlah hafalan Al Quran saya, “30 juz syeikh” timpalku spontan. Setelah itu dia memuji saya dan memanggil Duta Besar Mesir di Indonesia dan beberapa syeikh yang bertugas pada hari itu. Mereka menanya saya beberapa pertanyaan diluar materi ujian seperti pekerjaan ayah dan ibu, pendapat saya tentang Ahmadiyah dan lain lain.

Setelah menunggu beberapa bulan, akhirnya calon mahasiswa yang lulus diumumkan dan saya termasuk salah satu darinya. 28 Desember 2008, saya tiba di Kairo dan resmi menjadi Mahasiswa Al Azhar, Ramadan 2009 saya dipercaya menjadi Imam Mesjid di Daerah Damardays, Kairo. Dan pada 2013-2014 menjadi Imam tetap di daerah Roksi. Mengenai perkuliahan, saya sangat tebantu dengan hafalan Al Quran, karena beberapa mata kuliah di Fakultas Ushuluddin sangat banyak membutuhkan dalil Alquran.

Pada 2011 saya mendapat predikat Jayyid jiddan, lagi- lagi perolehan ini tidak bisa dipisahkan dar nilai mata kuliah Alquran dan tajwid keduanya sama –sama mendapat nilai 100 (Mumtaz). Pada tahun 2012 saya mengikuti Musabaqah Intenasional antar pelajar Al Azhar  dan saya mendapat predikat ke VII waktu itu. Ditahun yang sama saya mengkhatamkan Qiraat Asyrah (varian qiraat yang sepuluh) dan wisuda Universitas Al Azhar bulan September 2012.

2013 -2014 saya dan beberapa teman dipercaya sebagai imam tetap dan guru tahfiz di masjid At At Taqwa Roksi. Pada tahun ini (2016) insyallah saya diberi amanah untuk menjadi Imam selama ramadhan di Negeri Johor malaysia. Ini semua tetunya berkat  hafalan Al Quran.

“ Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezki yang Kami anuge- rahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi”. (Q S Faathir : 39)

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al Quran dan mengajarkannya ” (H.R Muslim)

 

Merdeka dari Keterbatasan Menuju Ranah Pengabdian

Aku terlahir di Lunang, sebuah kampung kecil di Pesisir Selatan Sumatera Barat. Ayah orang Bengkulu, dan ibu asli dari Banjarnegara Jawa Tengah transmigrasi ke Lunang. Tapi, “Nak, ayahmu sudah pergi meninggalkan ibu semenjak engkau dalam kandungan berusia 2 bulan”, ucap ibuku. Ya, sejak aku terlahir tidak bertemu ayahku. Katanya ia tidak meninggal, tapi ‘minggat’ dari rumah meninggalkan ibu. Tak tahu alasan pastinya. Tak ada kabar.

Aku belum punya rumah hingga sekarang. Jadi menumpang hidup dengan kakek nenek, serumah juga dengan paman dan bibi. Alhamdulillah, masih ada tempat berteduh. Namun kehidupan dirumahku tidak harmonis. Sering kudengar cekcok.  Ada saja suara sumbang terdengar disana-sini. Jauh dari kata bahagia.

“Duarr!”, pagi itu kudengar suara pintu dibanting. Diikuti piring yang pecah berserakan. Ibu menangis. Paman pergi. Nenek duduk termenung. Kakek marah. Sering terjadi, dan itu biasa. Aku mulai terbiasa dengan keadaan ini. Sabar. Terkadang juga sedih. Bingung.

Aku tidak bisa fokus belajar dengan keadaan seperti ini. Juga dikeluargaku; ibu yang seorang pembantu rumah tangga tidak pernah sekolah, pamanku tamat Sekolah Dasar (SD), kakek nenek tidak tamat SD zaman penjajahan dulu (jepang), hanya bibi yang tamat Madrasah Tsanawiyah (MTs) setingkat SLTP.

Alhamdulillah masih ada anggota keluarga besarku yang mencicipi pendidikan. Namun, bibiku yang tamat MTs itu setiap hari sibuk membantu kakek nenek ke ladang, tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak ada biaya. Paman juga. Apalagi pada masa kecil ibuku, kakek nenek tidak mampu untuk menyekolahkannya. Jangankan untuk sekolah, makan sehari-hari saja tidak cukup. Zaman itu serba susah. Sekitar tahun 1970-1980-an.

Dan saat aku terlahir 1993, ketika itu Indonesia terkena dampak krisis keuangan Asia yang bermula dari krisis Thailand yang dikenal krisis Tom Yam Gung. Krisis ini dimulai ketika aku lahir, dari 1993 dan puncaknya tahun 1997. Krisis moneter yang menimpa Indonesia terasa dampaknya oleh seluruh penduduk, tapi bagi keluarga kami hal ini sudah biasa. Kami terbiasa hidup serba kekurangan. Dimulai dari saat transmigrasi yang diadakan bapak Soeharto ketika itu. Kakek nenek datang menginjakkan kaki di bumi Andalas (Sumatera) pada tahun 1980. Saat itu ibuku berusia 9 tahun. Keadaan ini berlangsung hingga aku menginjak usia remaja, dan belum baik hingga sekarang.

Makan ubi rebus, sayur pucuk ubi, atau makan talas rebus. Kadang pakai nasi, kadang tidak. Sehari-hari. Hingga kakek membuka ladang. Dan menanaminya dengan padi, palawija, buah-buahan. Baru bisa sedikit menikmati hasil panen. Namun tidak semua panen bisa dikonsumsi sendiri karena lebih banyak untuk dijual. Digunakan membeli peralatan rumah dan keperluan yang lain.

Begitu keadaanku. Bagiku ini adalah perjuangan yang berat. Sedari kecil, belajar sendiri. Hanya terkadang—jika ada waktu luang—paman atau bibi mengajariku selepas bekerja. Keadaan ini berlangsung lama. Namun tidak menyurutkan perjuangan dan pengorbananku. Saat di sekolah aku belajar dengan sungguh-sungguh, karena saat itu ada guru yang mengajari dan menjelaskan pelajaran. Aku simak. Serius. Fokus. Aku terus berusaha menjadi yang terbaik.

Bagiku bisa sekolah adalah karunia yang maha dahsyat dari Tuhan. Kesempatan ini aku gunakan dengan sebaik-baiknya. Dari mulai SD hingga SLTA aku selalu mendapatkan beasiswa dan mendapat juara kelas. Namun pernah sekali di kelas 3 SD tidak mendapat juara kelas meski masih ranking 5 besar. Karena saat itu aku terkena pengaruh teman yang tidak baik; mengajak bolos, mencuri, melawan guru. Itu kisah kelam yang semoga tidak akan terulang lagi.

Hingga masa kuliah, keadaan finansial keluargaku juga tidak membaik. Aku harus berjuang untuk tes masuk PTN. Setelah dinyatakan lulus di Unand, terkendala uang pendaftaran ulang. 100.000,00. Ya, aku masih ingat uang itu. Awalnya aku harus bersabar dengan komentar pahit asisten Wakil Rektor 1 Unand “(dengan uang 100.000,00) untuk ongkosmu pulang ke lunang saja tidak cukup dek”. Tapi dengan uang itu aku masuk Unand. Sebagai jaminan keseriusan untuk kuliah.

Tapi Allah masih sayang padaku. Dia memeberikan jalan dengan lulusnya aku pada Beastudi Etos yang memberikan pembiayaan uang kuliah; uang masuk, uang saku, tempat tinggal, dan yang lebih penting adalah program pembinaan.

“Man jadda wajjadda! Where there is a will there is a way” 2 mantera ini yang aku gigit erat telah membuktikan keampuhannya. Tidak terbayangkan akan bisa terus melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi. Aku akan menjadi sarjana pertama di keluargaku. Ini perjuangan berat, tapi aku yakin bisa!

Aku membagi hidupku menjadi 3 fase penting; masa menerima (saat balita hingga SLTA), masa belajar memberi (saat kuliah), masa berbakti dan mengabdi (pasca kuliah, terjun di masyarakat). Dan kini ‘masa menerima’ sudah aku lewati. Semua pemberian; kasih sayang, bantuan, ketulusan telah aku dapatkan. Masa kedua aku harus bisa membalas pemberian itu, meski baru hal kecil.

‘Masa belajar memberi’ ini aku isi dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat bagi diri dan orang lain; membina sekolah desa produkti Beastudi Etos Padang di Desa Jawa Gadut tahun 2011-2014, menjadi mentor pembinaan agama islam di kampus tahun 2012-2016, mendampingi program wirausaha mandiri Dompet Dhuafa Singgalang tahun 2014, membina Mahasiswa Baru Unand di asrama mahasiswa unand dari tahun 2014-2016.

Untuk menghadapi masa ketigaku—masa berbakti dan mengabdi pada masyarakat—aku harus banyak belajar di masa keduaku; aktif di komunitas penulis Lembaga Kajian Ilmiah Mahasiswa (LKIM) Fakultas Peternakan Unand tahun 2011-2014, aktif di badan eksekutif etos padang tahun 2011-2014, aktif di organisasi forum studi islam fakultas peternakan tahun 2011-2014, aktif di lembaga mentoring Unand tahun 2012-2016, aktif di Forum Kajian Islam Rabbani Unand tahun 2013-2015, aktif di Forum Komunikasi Silaturahim Islam Mahasiswa Pesisir Selatan (FKSI MPS) tahun 2013-2016. Selain itu aku menjadi pencetus berdirinya Ikatan Pemuda Pelajar Islam Lunang dan Silaut (IKAPPI LUSI) tahun 2013. Dan sekarang aku sedang merancang Komunitas Cinta Membaca Dan Menulis (KCM2). Semua ini aku lakukan demi masa depanku, masa depan keluargaku, dan masa depan bangsaku. Menjadikan pribadi unggul untuk Indonesia yang gemilang.

Ada di Barisan Mana Kita?

Oleh: Syafi’ie el Bantanie 

“…Dan masa kejayaan itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan agar Allah mengetahui orang2 yang beriman dan menjadikan sebagian kamu sebagai syuhada…” (QS. 3: 140).

Pergiliran kejayaan/kekuasaan/jabatan adalah satu keniscayaan. Ini sunnatullah. Cepat atau lambat. Sukarela atau terpaksa. Pasti terjadi pergiliran tersebut. Maka, menurut pandangan awam saya, yang terpenting direnungkan bukanlah berapa lama kita bisa bertahan dalam kekuasaan/jabatan, melainkan berapa banyak amal dan kontribusi yang kita berikan selama diberikan amanah memangku jabatan? Dan, karena siapa kita berkarya dan berkontribusi? Apa sejatinya motif dan niat terdalam dalam hati kita?

Meski ayat di atas berbicara dalam konteks perang Uhud, kita bisa menarik maknanya dalam konteks kekinian. Bahwa masa kejayaan/kekuasaan/jabatan itu dipergilirkan di antara manusia agar Allah mengetahui siapa yang beramal dan berkontribusi hanya untuk Allah semata sebagai buah dari keimanannya kepada Allah. Sehingga, Allah memasukkannya ke dalam barisan para syuhada yang layak diganjar surga.

Sejarah panjang peradaban Islam telah memberikan pelajaran berharga bagi kita. Sebakda Rasulullah saw wafat, Sayidina Abu Bakar menjadi khalifatur Rasul memimpin muslimin selama 2 tahun 4 bulan. Lalu, digantikan oleh Sayidina Umar bin Khattab yang memimpin selama 10 tahun 6 bulan. Sesudah wafatnya, digantikan Sayidina Utsman bin Affan yang memimpin selama 12 tahun 5 bulan. Lalu, digantikan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib yang memimpin selama 4 tahun 10 bulan.

Lihatlah, masa kepemimpinan khulafa Ar-Rasyidin berbeda-beda. Sayidina Abu Bakar paling singkat, sedang Sayidina Utsman paling lama memimpin. Namun, sekali lagi bukan singkat atau panjangnya memimpin, namun amal dan kontribusi yang diberikan. Keempat khulafa Ar-Rasyidin telah menorehkan amal dan kontribusi terbaik di masanya masing-masing. Maka, wajar bila Rasulullah mengapresiasi, “Ikutilah oleh kalian sunnahku dan sunnah khulafa Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk.”

Selain keempat sahabat utama tersebut, secara umum generasi sahabat adalah generasi terbaik. Rasulullah saw sendiri yang menyebutnya, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi setelahnya (tabi’in), generasi setelahnya (tabi’it tabi’in)”.

Bahkan, Allah pun memuji sahabat sebagai generasi terbaik. Dalam banyak ayat Allah memuji generasi sahabat ini. Salah satunya dalam surat At-Taubah ayat 100.

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Para sahabat dari Muhajirin dan Anshar adalah generasi yang tidak diragukan lagi keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Terbukti dalam amal dan kontribusinya yang tidak tanggung-tanggung. Semuanya, jiwa, raga, dan harta dilaburkan untuk dakwah Islam karena mengharap rida Allah semata.

Maka, mari kita bertanya ada di barisan mana kita? Karena, ayat di atas memberikan kabar gembira bahwa tidak hanya para sahabat yang diridai Allah dan diganjar surga, melainkan juga al-ladzinat taba’uhum bi ihsan; orang-orang yang istiqamah mengikuti jejak langkah para sahabat dengan baik. Orang-orang yang beramal dan berkontribusi karena Allah semata, bukan untuk pencitraan, apresiasi, atau kepentingan duniawi lainnya.

Kita doakan siapapun yang telah menyelesaikan masa tugasnya sebagai pemangku jabatan, atau purna tugas, semoga termasuk dalam barisan orang-orang beriman dan syuhada yang beramal dan berkontribusi hanya karena Allah. Semoga nantinya bisa berkumpul dengan Rasulullah dan para sahabat mulia.  Allahu A’lam…

Residensi Literasi: Sensasi Belajar Bersama Warga Asli

Sepuluh Prinsip Inovasi yang Makmalian Perlu Tahu

 

Makmalian pasti sering sekali mendengar kata inovasi, bahkan mungkin sering digunakan dalam berbagai kesempatan. Namun, maknanya kadang sering tertukar dengan kata kreatif. Untuk membedakan makna Inovasi dengan kreatif, di dalam buku ‘Keep Your Light On BIA’ dijabarkan sepuluh prinsip inovasi yang akan memberikan garis demarkasi dengan makna kreatif. Menurut Yoris inovasi x inofatif itu:

 

  1. Asli

Karya inovatif adalah asli, unik, berbeda dengan yang lain. Asli bukan berarti harus selalu baru, namun ia harus tidak sama dengan yang telah ada sebelumnya. Contohnya helm dan jas hujan bukan sesuatu yang baru, namun jika jas hujan dan helm dimodifikasi dengan menggabungkan kedua benda tersebut menjadi satu desain sehingga lebih fungsional dan lebih efektif maka produk tersebut bisa dikatakan inovatif. Tentunya dengan syarat produk helm plus jas hujan tersebut belum ada yang membuat sebelumnya.

 

  1. Relevan dengan Kebutuhan

Pada contoh HelJa (helm dan jas hujan) dibuat untuk memenuhi kebutuhan pengendara motor yang membutuhkan jas efektif. Ketika dalam perjalanan tiba-tiba hujan, ia tidak perlu turun untuk memakai jas hujan, cukup memencet tombol yang ada di helm, jas hujan akan terpasang dengan sendirinya di badan.

 

  1. Layak Jual

Produk yang baik adalah yang bisa diproduksi dalam jumlah banyak kemudian laku dijual.

 

  1. Praktis

Menggunakan HelJa orang bisa menghemat waktu, tidak perlu turun cukup dengan memencet tombol, jas hujan bisa dikenakan.

 

  1. Efisien

Misal harga helm standar Rp150.000, sedangkan jas hujan Rp100.000. Maka untuk membeli dua benda tersebut, kita mengeluarkan uang Rp250.000. Namun jika ada HelJa mungkin kita bisa mendapatkan harga yang lebih murah dengan kualitas yang sama.

 

  1. Kompetitif

Produk tersebut mampu bersaing dengan produk lainnya, dalam artian nilai jualnya tidak kalah dengan helm dan jas hujan dengan merk ternama.

 

  1. Up to Date

Produk harus sesuai dengan perkembangan zaman. Misal jika sekarang alat komunikasi sudah beralih ke smartphone, maka hindari menginovasi telepon rumah (misal telepon rumah dijadikan layar sentuh, namun tetap terhubung dengan kabel telepon).

 

  1. Available

Produk saat ini harus menggunakan dan mengoptimalkan bahan yang ada disekitar.

 

  1. Jangka Panjang

Produk inovatif tidak hanya akan sekali pakai. Produk juga berguna selama satu tahun atau lebih bahkan masih bisa dipergunakan di masa mendatang.

 

  1. Ramah Lingkungan

Produk tidak berbahaya baik untuk pemakai, orang lain maupun lingkungan.

 

Dibalik Senyum Ceria Anggi

“Biar saya duluan pak yang maju“ teriak Anggi saat lomba memperingati Hari Kartini pekan lalu. Ia melangkah perlahan ke depan, menarik napas sejenak, ruangan riuh suara anak-anak yang masih tak menyangka Anggi akan maju, anak laki-laki yang tempramental ketika hal yang tak diinginkannnya tak terwujud. “Silahkan Anggi,“ ucapku pelan. Ia tersenyum, suara emasnya mengalaun, seisi ruangan bertepuk tangan. Aku terdiam, terdiam mendengar suara emasnya, terdiam dengan makna lagu yang dinyanyikannya dengan penuh penghayatan. Lagu berjudul Ibu itu pun terus mengalun, mengantarkanku ke cerita Anggi yang ia tulis dibuku diarinya, diari rutin setiap hari anak-anak didikku yang setiap hari aku baca dan periksa. Lagu Ibu itu terus mengalun, “Kaulah ibuku cinta kasihku,“ anak-anak mulai ikut bernyanyi. Namanya Anggi Aderiana Husni, seorang anak laki-laki berumur sembilan tahun, kelas tiga di tempatku mengabdi, MI Cibengang. Anak laki-laki yang saat berumur dua tahun ditinggal pergi ibunya entah ke mana, Anggi kecil tinggal bersama ayah dan diasuh neneknya ketika ayahnya merantau.

 

 

 

Kalimat yang masih teringat  dan cukup menyayat hati “Pak saya belum pernah melihat wajah ibu saya“. Hari itu, hari yang mengingatkanku secara tidak langsung apa kabar ibu di rumah. Anggi kecil yang belum tahu apa-apa, tak pernah lepas dari senyum khasnya.

 

 

Di tulisannya, ia bercerita bahwa ayahnya sampai harus meminta maaf tidak bisa mempertemukan ia dengan ibunya walaupun ia menangis setiap malam, betapa rindu itu sudah bertumpuk untuk anak berumur sembilan tahun. Lagu ibu yang dilantunkan Anggi semakin membuat riuh ruangan, tidak malu-malu, Anggi bernyanyi dengan gerakan yang mengisyaratkan betapa ia rindu dengan ibunya, di sudut-sudut kelas, aku melihat beberapa anak perempuan menangis, menghayati lagu ini.

 

 

Di akhir suratnya, kalimat yang terbang melayang ke segala penjuru semesta dan aku hanya bisa berkata “aamiin” kalimat penuh harap dari seorang anak yang berjuang dibalik rindu yang mendalam, “ Saya selalu ingat ibu saya pak, saya selalu berdoa, Ya allah semoga saya berjumpa dengan ibu saya, saya tidak sabar ingin bertemu ibu.. Ya Allah, Ma.. Anggi hoyong papanggih.. (Ma, Anggi ingin bertemu)“. Lagu ibu itu berakhir, lagu yang menyinari kami di ruangan penuh haru yang dibawakan Anggi. Riuh tepuk tangan untuk Anggi, ia tersenyum dan kembali duduk. Sekuat apapun kita, sejauh apapun melangkah, doa ibumu adalah yang utama, kebahagiaan ibumu adalah harta yang paling berharga, bapak akan berdoa terus untuk Anggi, untuk semua anak di sini, setiap hari di sini selalu memberi pelajaran baru buat bapak, kalian senja yang tak pernah pudar.

Ibu Kangenkah Kau Padaku

Oleh: Suni Ahwa

Hanya satu pintuku tuk memandang langit biru
dalam dekap seorang ibu
Hanya satu pintuku tuk bercanda dan tertawa
dipangkuan seorang ayah

 

(Mocca)

 

“Purwita udah nggak sanggup lagi, bu”. Lirih suara Purwita dari dalam kamarnya. Kedua tangannya gemetar saat ia memegang selembar foto ibunya yang sedang berdiri di samping Ka’bah lama sekali. Tiba-tiba bulir airmatanya berkejaran. Ia tersedu-sedu. Airmatanya mengenai seragam merah putih yang masih dikenakannya.

 

 

Kejadian beberapa waktu lalu melintas lagi. Memenuhi pikiran Purwita. Gunjingan teman-temannya di sekolah dan masyarakat di rumah masih jelas terngiang di telinganya. Dan mengganggunya.

 

 

“Kenapa harus aku bu yang mengalami semua ini. Kenapa hanya aku yang lebih banyak diuji dibandingkan orang lain.” Purwita menghentikan menulisnya. Hanya pada sebuah surat cinta ia mengutarakan segala perasaannya. Seperti perasaan yang sedang menguasainya kala itu.

 

 

Surat cinta yang ditulis Purwita kelak ketika ibunya pulang akan dibaca. Sudah tak terbilang lagi berapa banyak surat yang dibuatnya. Surat cinta dari anak kepada seorang ibu yang begitu dirindukannya. Ia meremas pulpen pemberian Ibunya kuat-kuat. Pulpen yang dibelikan ibunya masih disimpan baik-baik oleh Purwita. Ibunya tahu kalau Purwita menyukai tulis menulis.

 

 

Purwita menyeka air matanya. Saat pintu kamarnya diketuk berulang kali dari luar. Ia bergegas menaruh surat cinta yang baru ditulisnya pada kotak biru di bawah lemari bajunya. Sejurus kemudian ia mengganti pakaiannya. Menggantungkan pakaiannya di lemari kayu yang telah usang.

 

 

“Wita mau salat Zuhur dulu ya oyot.” Seru Purwita dari dalam kamar. Ia buru-buru menuju kamar mandi di dapur. Mengambil air wudhu. Dan menunaikan salat dhuzur yang telah 15 menit berlalu.

 

 

Purwita berdiri mematung di depan pintu masuk warung. Pintu masuk warung yang hanya dibatasi selembar kain tipis. Sehingga ia dapat menyaksikan perempuan senja yang telah membantu proses kelahirannya lama. Tiba-tiba pikirannya kembali ditumbuhi berderet pertanyaan. Yang getir. Dan menyakitkan.

 

Mungkinkah ini adalah balasan Tuhan pada seorang ibu yang telah mencampakkan anaknya beberapa waktu lalu.

 

“Kenapa harus aku, bu.” Lirih Purwita. Matanya berair.

 

“Enek,” Oyot memanggil cucunya yang sedang berdiri mematung menyaksikan oyotnya. Purwita tersentak mendengar panggilan oyotnya. Ia langsung menghampiri oyotnya. Dua piring dengan lauk pauk seadanya dibawa Purwita cepat. Waktu telah menunjukkan pukul 12.45 WIB. Itu artinya dia harus menggantikan oyotnya menjaga warung.

 

“Ayo makan siang dulu, oyot.” Purwita tersenyum hampa sembari menyodorkan sepiring nasi pada oyotnya yang sedang duduk. Kedua tangan oyot begitu cekatan membereskan barang dagangan yang belum rapi.

 

Tangan kanan oyot melayang ke kepala Purwita. Ia mengusap lembut sembari memandangi Purwita. Cucu semata wayangnya yang sudah mengenakan kerudung. Oyot mengembangkan senyuman simpul. Purwita membalasnya. Di bawah terik matahari mereka begitu menikmati santap siang meski dengan ikan asin dan sayur asem.

 

**

 

Sudah lebih dari lima tahun kejadian itu berlalu. Namun, bayangan masa lalu itu bagai luka yang membekas di tubuh Purwita. Bekas luka yang tidak hanya dirasakan oleh ibunya tetapi juga dirinya. Kerinduan pada ibunya seketika menjelma menjadi mimpi buruk. Seperti malam itu. Mimpinya seolah nyata tergambar di depan matanya untuk kesekian kalinya.

 

“Rek sampe iraha aya di imah, akang. Dua tahun deui anak urang makin gede. Pasti ngabutuhkeun biaya gede.”1 Papar Wati pada suaminya yang sedari tadi asyik menonton televisi. Tidak ada tanggapan apa-apa yang keluar dari mulut suaminya. Wati geram. Kemudian ia menghampiri suaminya. Dengan langkah cepat remote kontrol televisi yang berada di genggaman suaminya berpindah tangan. Dia menekan tombol off.

 

 

“Kang!” Seru Wati. “dengerin saya ngomong nggak sih.” Katanya sekali lagi seolah memastikan.

 

“Ari dia kunaon?! Balik ti sawah marah-marah. Geura masak! Aing lapar! Ti tadi nungguan dia.”2 Samani membaringkan tubuhnya di kursi ruang tamu. Tanpa memedulikan pertanyaan dari isterinya.

 

Wati melihat lelaki yang sudah 6 tahun hidup bersama. Melewati masa-masa suka dan duka. Hingga seorang anak perempuan lahir ke dunia. Kelahiran anak pertama, Purwita seolah melengkapi kebahagiaan rumah tangganya. Ia meremas remote kontrol yang dipegangnya kuat-kuat. Penglihatanya sedikit kabur saat keringat sebiji jagung menetes bersamaan buih airmata yang ikut mengalir di pipi cekungnya. Bau lumpur bercampur keringat menyenguk ruang tamu.

 

PRAKK.

 

Wati membanting remote kontrol dari genggamannya ke ubin. Samani tersentak dari baringnya. Kedua bola matanya langsung melesat pada perempuan yang membelakanginya. Ia membalikkan badan isterinya dengan kencang.

 

“Kamu!” Samani melayangkan telunjuknya tinggi-tinggi. Giginya bergemeretak. Matanya memerah.

 

“Saya nggak kuat lagi sama akang. Saya udah nggak sanggup lagi, kang. Lebih baik kita cerai saja.” Wati menghempaskan kedua tangan yang mencengkram bahunya.

 

“Kamu berani minta cerai sama saya! Kenapa? Apakah karena saya tidak menafkahi keluarga ini lagi. Begitu!” Samani mencengkram bahu isterinya untuk kedua kalinya. Kini cengkramannya bertambah kuat. Ia memandang wajah isterinya dengan sorot mata tajam.

 

“Karena akang sudah berubah! Menjadi seseorang yang tidak lagi saya kenal.” Wati membuang pandangannya. Airmatanya jatuh satu persatu mengenai pipi yang tak lagi tampak terawat semenjak ia memutuskan menjadi pesuruh di sawah.

 

“Berubah!” Samani mengulang kata-kata isterinya. “kamu tahu kenapa saya sekarang berubah?! Itu semua karena kamu! Karena kamu!?” Samani berang.

 

“Karena saya? Maksud akang apa?” Wati berhenti menangis. Ia menyeka airmatanya cepat.

 

“Karena kamu tidak memberikan apa yang saya inginkan!”

 

Kedua mata Wati membelalak mendengar ucapan suaminya. Ia mengelus dadanya perlahan. Ia benar-benar tidak menyangka jika suaminya masih mengungkit permintaan yang menurutnya tidak masuk diakal. Permintaan paling bodoh dikeluarkan dari mulut seseorang yang pada saat itu biaya rumah tangga dan putrinya seharusnya dinomor satukan.

 

“Jadi, kamu masih mengharapkan permintaan tolol itu! Masih kepikir kesana rupanya,” Wati mendengus. Tiba-tiba tubuhnya seperti tersulut api. Kepalanya panas. Darahnya bergolak. Ia mengambil langkah seribu. Menghampiri meja makan. Ia meraih sebilah pisau.

 

“Kenapa tidak bunuh saja saya, kang!” Ia melantangkan suaranya sembari mengacungkan sebilah pisau peranti memasak di depan wajah suaminya.

 

“Kamu sudah berani ya sekarang sama suamimu.” Samani melihat Wati dengan tatapan nanar. Kedua bola matanya seperti akan melompat keluar. Benda yang terangkat di depan matanya segera ditepis. Samani kalut. Ia mendorong Wati kencang. Seketika Wati tersungkur ke tanah. Pertengkeran semakin hebat. Suasana semakin panas dan tegang. Tiba-tiba terdengar suara Purwita dari balik gorden. Ia menangis sejadi-jadinya. Menyaksikan kedua orang tuanya yang saling menyakiti satu sama lain. Tanpa berpikir panjang Wati berlari menghampiri Purwita. Memeluk Purwita yang tersedu-sedu. Samani bergegas melangkah keluar rumah. Meninggalkan dua perempuan yang dirundung kesedihan. Purwita menatap lepas punggung bapaknya dengan sorot mata berkilat.

 

**

 

“Ibu, ibu, ibu….” Purwita memanggil-manggil ibunya dari dalam kamar. Perempuan tua yang tengah khusyuk bertafakur di sepertiga malam itu bergegas menghampiri sumber suara. Ia tertatih-tatih menghampiri kamar Purwita yang bersebelahan. Oyotnya sudah paham betul dengan teriakan itu. Teriakan yang tidak hanya sekali namun hingga berkali-kali. Itu merupakan sebuah pertanda. Tanda bahwa saat itu cucunya sedang dilanda mimpi buruk.

 

“Enek, enek.” Oyot mengelap keringat yang membasahi wajah Purwita pelan. Tangannya gemetar meraih tangan Purwita yang dingin. Ia segera membangunkan Purwita cepat. Bibir oyot tak kunjung berhenti melafalkan ayat-ayat Allah. Beberapa menit kemudian Purwita tersadar dari tidurnya. Ia memeluk oyotnya penuh haru erat.

 

Sudah tidak terhitung lagi berapa kali Purwita terjerembab dalam mimpi panjang masa lalunya. Seperti malam itu, dan entah mengapa mimpi buruk itu datang tepat di hari kelahiran Purwita. Dan di hari kelahiranya yang ke 11 tahun. Naluri seorang ibu memang kuat. Telepon genggam Purwita berdering. Tertulis di layar telepon genggamnya nama ibu. Ia langsung menjawab teleponnya.

 

“Assalamualaikum.”

 

“Waalaikumsalam.”

 

“Selamat ulang tahun ya anak ibu yang cantik. Semoga bertambahnya usia Wita semakin bertambah pula ilmunya. Makin sholehah dan membanggakan ibu di sini ya, sayang.” Tutur perempuan paruh baya dari seberang jalan. Tutur katanya tampak sekali diselimuti kebahagiaan.

 

“Bu….” Purwita memanggil dengan suara sendu.

 

“Iya anakku sayang. Maafkan ibu ya nak. Ibu nggak bisa pulang tahun ini. Insya Allah tahun depan jika diizinkan. Oh ya, ibu nggak bisa lama-lama meneleponnya ya. Sedang sibuk di sini. Assalamualaikum.” Wati menutup teleponnya cepat.

 

Kebahagiaan yang sempat menyelimuti Purwita seketika menghilang. Senyum simpul Puwita yang mengembang berganti muram. Ketidakpulangan ibunya ke Indonesia tiba-tiba mengundang tanya. Pertanyaan itu muncul berlompatan dari kepalanya.

 

Kejadian tempo hari itu melintas lagi. Apakah ada hubungannya dengan masalah di rumahnya. Tapi bagaimana bisa kabar buruk itu tersiar hingga ke telinga ibu. Purwita menafsirkan jawabannya sendiri. Kalau bukan dari seseorang yang sudah lama tidak menampakkan batang hidungnya itu, siapa lagi yang bisa menyampaikan kabar ini.

 

“Masih dapatkah lidah ini sanggup memanggilmu, ayah.” Lirih Purwita dalam hati. Gagang teleponnya masih menempel di telinga. Disepertiga malam itu airmatanya pecah. Ia tergugu pilu.

 

***

 

[1] “Rek sampe iraha aya di imah, akang. Dua tahun deui anak urang makin gede. Pasti ngabutuhkeun biaya gede

[2] “Ari dia kunaon?! Balik ti sawah marah-marah. Geura masak! Aing lapar! Ti tadi nungguan dia.”

[1] Mau sampai kapan ada di rumah kang. Dua tahun lagi anak kita makin besar. Pasti membutuhkan biaya yang besar.

[2] Kamu kenapa? Pulang dari sawah marah-marah. Cepat masak sana! Saya sudah lapar! Daritadi nungguin kamu!

Membredel Peran Orang Tua dari Sudut Pandang John C. Maxwell yuk Makmalian

Membredel Peran Orang Tua dari Sudut Pandang John C. Maxwell yuk Makmalian

 

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut.” (HR. Bukhari – Muslim)

 

 

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci ibarat kertas kosong. Secara naluriah, seorang anak akan mengharapkan dan membutuhkan bimbingan dari orang dewasa. Di sinilah pendidikan anak memegang peranan penting, untuk mulai mengisi dan mewarnai kertas kosong tersebut. Ketika beranjak dewasa, sang anak mungkin sudah -dan harus- mampu mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya sendiri, namun sketsa awal yang dibuat pada kertas kosong itu akan sangat memengaruhi pilihan hidup yang kelak diambil. Dan karena kepemimpinan adalah seni memengaruhi orang-orang yang dipimpin, peran pemimpin secara otomatis hinggap di pundak para orang tua dalam mendidik anaknya.

 

 

Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya, namun pemimpin seperti apa? Sebagai refleksi, ada baiknya kita komparasikan dengan lima level kepemimpinan yang ditulis oleh John C. Maxwell. Maxwell menggunakan 5 level pemimpin (5P) yaitu Position (Posisi), Permission (Perkenanan) , Production (Produksi), People Development (Pengembangan SDM), dan Personhood (ke-Pribadi-an). Masing-masing level ini kemudian dipasangkan dengan dengan produknya, yang disebut Maxwell sebagai 5R, yaitu Rights (hak), Relationships (hubungan), Results (hasil), Reproduction (reproduksi) dan Respect (hormat).

 

 

Level kepemimpinan pertama adalah posisi atau jabatan. Seorang anak mengikuti orang tua karena keharusan. Pendidikan anak di level ini ditandai dengan penekanan hak orang tua untuk dituruti karena posisinya sebagai orang tua yang harus dihormati anaknya. Tanpa kemampuan ataupun upaya khusus, jabatan orang tua dan anak sudah ditentukan, tidak akan tertukar. Indoktrinasi bahwa orang tua selalu benar, lebih tahu dari anaknya dan tidak akan mencelakakan anaknya akan kental, sementara ruang dialogis sangat terbatas. Anak akan berpotensi kehilangan jati dirinya, terkekang minat dan bakatnya, serta sekadar menjadi ‘boneka’ orang tuanya. Moralitas relatif turun sementara potensi pemberontakan tinggal menunggu momentumnya saja. Maxwell mengatakan, “A great leader’s courage to fulfill his vision comes from passion, not position”.

 

 

Orang tua yang mendidik anaknya di level kepemimpinan pertama ini perlu berbenah, setidaknya naik ke level kepemimpinan selanjutnya yaitu perkenanan yang berorientasi hubungan. Pada level kedua ini, seorang anak menuruti orang tuanya karena rasa sayangnya pada orang tua, bukan karena keharusan semata. Disini orang tua sudah menjadi pribadi yang menyenangkan bagi anak-anaknya sehingga kerja sama antar anggota keluarga dapat lebih terjalin. Anak-anak sudah mulai merasa dihargai dan lingkungan keluarga pun lebih terasa positif. Sayangnya, pendidikan anak di level ini cenderung membuat orang tua populer di mata anak, tetapi pengembangan diri anak kurang terfasilitasi. Pendidikan yang berorientasi membuat nyaman semua anggota keluarga ini kurang mengakomodir kebutuhan anak yang memiliki motivasi tinggi untuk maju.

 

 

Pendidikan anak perlu naik ke level kepemimpinan ketiga yang fokus pada kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta memberikan hasil nyata dari pendidikan anak. Pada level ini, seorang anak akan patuh pada orang tuanya karena sudah merasakan hal-hal positif bahkan hasil yang dapat dilihat kasat mata, buah dari pendidikan yang dilakukan orang tuanya. Anak-anak sudah merasakan tercapainya tujuan pendidikan, yaitu adanya perubahan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Anak-anak pun sudah mampu mengatasi masalah dan mengambil keputusan sendiri dalam mencapai cita hidup mereka. Di level ini, orang tua telah mampu menjadi role model yang baik bagi anaknya dan dengan jelas mampu menunjukkan kontribusi mereka bagi keluarga. Teladan orang tua yang produktif akan menghasilkan anak-anak yang produktif.

 

 

Pekerjaan terakhir seorang pemimpin adalah memastikan dirinya mewariskan hal-hal yang baik, termasuk ketersediaan kader pengganti. Pada level kepemimpinan keempat, kaderisasi adalah harga mati karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menghasilkan pemimpin lainnya. Di level ini, orang tua sudah mempersiapkan anak-anaknya sebagai pemimpin sekaligus orang tua di masa mendatang. Orang tua mengoptimalkan segala yang dimilikinya untuk pengembangan anak-anak mereka sebagai investasi SDM strategis. Pendidikan di level ini akan menumbuhkan dan memperkuat loyalitas anak kepada orang tua dan keluarganya. Bakat dan minat anak diperhatikan, potensi anak dikembangkan, inisiatif anak didukung, proyeksi masa depan anak dipersiapkan dengan baik. Reproduksi bukan berarti mencetak anak sebagai kloning orang tuanya, karakter kepemimpinan sang anak tetap harus terbentuk.

 

 

Level kepemimpinan kelima menyoal kepribadian dan respek, yang disebut Jim Collins sebagai pemimpin dengan professional will dan strategic humility. Bijak dan kharismatik. Di level ini, anak-anak menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada orang tuanya. Respek ini bahkan sanggup menggerakkan untuk berjuang dan mengorbankan segala yang dimilikinya demi orang tuanya. Tanpa alasan. Bukan karena hubungan darah, rasa kasih sayang ataupun melihat apa yang sudah orang tua berikan. Lebih luhur dari itu. Orang tua menjadi teladan, inspirator, sekaligus pemimpin idola bagi anak-anaknya. Butuh waktu lama dan upaya keras untuk mencapai level ini, bahkan mungkin baru dapat dilihat setelah perannya sebagai orang tua di dunia sudah berakhir.

 

 

Ada ungkapan yang mengatakan, “Seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa akan jauh lebih berbahaya daripada seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing”. Ungkapan tersebut barangkali ada benarnya dan relevan dengan pendidikan anak kita. Jika anak-anak kita tidak mampu mengaum, bisa jadi bukan karena mereka lemah, namun karena kita tidak mampu memberikan pendidikan sekuat singa. Orang tua punya peran besar dalam membangun masa depan anak, apalagi di usia keemasannya. Mari sejenak kita renungi level kepemimpinan kita dalam mendidik anak, sebentar saja, untuk kemudian kita berbenah dan memperbaiki diri. Agar kelak anak-anak kita mengenang kita sebagai orang tua terbaik, penuh dedikasi dan keteladanan, bukan hanya orang yang ‘kebetulan’ jadi orang tua. Setiap orang tua adalah pemimpin, setiap anak adalah amanah, mendidik anak adalah kewajiban. Pemimpin, amanah dan kewajiban akan dimintai pertanggungjawabannya.

 

 

 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An Nisa: 9)

Pengumuman Sekolah Dampingan KAWAN SLI Asahan

Pengumuman Sekolah Dampingan KAWAN SLI Asahan

 

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) penempatan Kabupaten Asahan pada Kamis (12/12) mengumumkan hasil seleksi tahap dua, seleksi ini dilakukan sebagai upaya mencari sekolah yang tepat dan potensial untuk dikembangkan melalui program Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Seleksi sekolah dilaksanakan di Kecamatan Air Joman dan Silau Laut, keduanya dipilih sebagai wilayah sasaran penerima manfaat program SLI.

 

Pada Prosesnya, terdapat tiga alur program. Pertama seleksi sekolah, kedua masa inkubasi kepala sekolah, ketiga masa implementasi dan pendampingan.

 

 

Di alur pertama, seleksi dilakukan dua tahap. Tahap pertama, berupa pengisian formulir yang diberikan kepada pihak sekolah dinilai secara administrasi, dan kedua tahap School Visit (kunjungan sekolah) secara umum bertujuan untuk melihat kondisi sekolah dan komitmen kepala sekolah serta para guru dalam menjalankan program SLI.

 

 

Sekolah yang masuk ke tahap school visit di kabupaten Asahan sebanyak 24 sekolah dari 40 sekolah, yang terdiri dari Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtida’iyah. School visit  dimulai Jum’at (23/11) hingga Jum’at (6/12). Selama proses school visit, KAWAN SLI Asahan menuai beberapa tantangan. Salah satunya yaitu akses jalan ke sekolah pada musim penghujan ini, tergenang air, berlumpur, dan  menyebabkan jalanan licin, bahkan beberapa kali hampir tergelincir. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat, melainkan lebih termotivasi, sebab Allah izinkan menjadi saksi perjuangan para guru-guru hebat, yang telah puluhan tahun menjalaninya dengan penuh keikhlasan.

 

 

Hasil school visit dijadikan acuan untuk menetapkan 12 sekolah yang akan didampingi. Memilih 12 sekolah dari 24 sekolah dengan berbagai ciri khas dan perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing sekolah tidaklah mudah. Banyak pertimbangan yang dipikirkan dan tidak bisa terselesaikan dengan hanya berdiskusi antara KAWAN. Koordinasi dengan pengelola SLI dilakukan. Koordinasi pun tidak bisa menyelesaikan kebimbangan kami jika hanya lewat chat. Kami meminta kesediaan mas Andi, Koordinator SLI, yang berpusat di Bogor untuk berdiskusi lewat telepon. Akhirnya beliau menyanggupi dan dilakukan Selasa (10/12) dini hari setelah Salat Subuh.

 

 

KAWAN SLI Asahan memutuskan untuk mendampingi 12 sekolah dari 24 sekolah yang lolos ke tahap school visit. 12 sekolah tersebut terdiri 7 sekolah dasar dan 5 madrasah ibtida’iyah dari kedua kecamatan tersebut. 12 sekolah terpilih akan mengikuti tahap inkubasi dan implementasi program serta pendampingan. Selamat kepada 12 sekolah yang lolos untuk didampingi KAWAN SLI. Untuk mengetahui nama-nama 12 sekolah terpilih, berikut kami lampirkan di sini