Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Siswaku adalah Polwan

Mungkin pembaca masih mengingat mengenai dua potong seragam pramuka yang kekecilan. Dua potong seragam pramuka itu jatah bantuan untuk dua orang murid perempuanku. Ukurannya terlalu kecil untuk tubuhnya jadilah seragam itu hanya tergeletak di ruang kelas. Jika diamati maka kita bisa melihat lapisan debu disekitarnya. Ini masih sambungan dari kisah dua potong baju pramuka itu dan pemiliknya.

Aku merasa kasihan dengan dua siswiku itu. Di hari-hari biasa mereka tetap menggunakan pakaian putih merah yang sudah lusuh meskipun bukan hari senin atau selasa. Aku paham hal itu tidak sesuai dengan keadaan mereka bahwa kedua siswiku itu tidak memiliki baju pramuka yang pas. Sama pahamnya aku ketika menyaksikan siswa-siswaku yang lain yang tidak memakai sepatu, kaus kaki, memakai baju putih saja tanpa celana merahnya, memakai kemeja pramuka tanpa celana kain coklatnya, atau bahkan tidak memakai seragam sekalian. Hanya sebuah tas yang digendong di punggung dan dirinya yang dibalut pakaian sehari-hari. Pemandangan unik yang menjadi terasa biasa bagiku.

Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk mengusahakan baju seragam pramuka untuk dua muridku itu. Seperti yang telah kuceritakan pada kisah sebelumnya, aku mengambil dua pasang baju pramuka lalu kubawa ke pasar Soegih Belilas untuk ditukar. Namun sayang ternyata tidak ada yang mau menukarnya dengan seragam yang lebih besar padahal saya sudah menyampaikan bahwa ini untuk siswa pelosok. Aku pulang dengan tangan kosong.

Waktu berlalu lama hingga aku kembali resah dengan dua siswiku itu. Kucoba lagi mengantar dua seragam itu untuk di tukar di hilir. Kali ini di pasar seberida. Pasar yang lebih dekat dengan lokasi penempatanku bahkan masyarakat di penempatan saya selalu berbelanja di sini. Warga pasar dan Dusun Nunusan sudah saling kenal akrab. Awalnya saya menemukan bahwa ada saja yang menolak menerima menukar baju seragam itu. Waktu itu aku datang terlambat ke pasar itu. Beberapa lapak sudah tutup. Keadaannya sudah sepi. Penjual dan pembeli yang masih bertahan bergerak malas.

Aku nyaris menyerah namun di perjalanan menuju pintu keluar aku menemukan lapak baju terakhir. Kucoba kujelaskan mengenai keadaan kami yang memerlukan baju seragam dan lain-lain. Kali ini pedagang baju yang sedang siap-siap untuk menutup lapaknya bergeming sesaat. Dia berpikir beberapa jenak lalu tanggapannya menunjukkan respon positif. Kupikir dia membolehkan aku menukar dua seragam itu dengan seragam yang lebih besar.

Ternyata betul ia mau menukar dua seragam kekecilan itu tapi dengan beberapa syarat berupa tiga pasang seragam pramuka ditukar dengan dua pasang yang lebih besar serta dengan membayar beberapa rupiah. Aku sepakat dan akhirnya kali ini aku berhasil pulang dengan baju seragam yang lebih besar. Siswaku kan memakai seragam yang pas. Untuk ukurannya sendiri ternyata ukuran yang pas adalah seukuran siswa SMP.

Besoknya saya telah berada di Nunusan kembali bertugas dengan mengajari siswa-siswi kesayanganku. Kutaruh dua pakaian pramuka itu di dalam laci kedua siswaku. Kuminta untuk mencarinya lalu mereka kegirangan bukan main mendapati isinya. Langsung mereka coba-coba meski tidak dipakai.

Tahu tidak, beberapa siswaku telah terdaftar sebagai pemilih untuk pemilu presiden 2019. Mereka masih semangat untuk belajar dan semangat itulah yang menjadi motivasi saya yang menyemangati untuk terus mengajar.

Waktu berlalu lagi hingga tiba hari di mana siswa diperkenankan memakai seragam pramuka. Si Isel dan Linda datang. Yang paling besar adalah Isel. Mereka masuk barisan dengan rapi. Kulihat mereka tertangkap mataku hebat sekali seragam itu pas dengan badan mereka. Rapi dan pas sekali. Aku bahagia melihatnya. Kemudian aku terbayang sesuatu mereka mirip polwan dengan seragam kemeja coklat dan berbaris serupa itu. Kemudian aku sedih karena mereka hanya siswa SD yang tidak memiliki kesempatan untuk mengecap SMP dan SMA. Aku bersedih.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian (KAWAN SLI Penempatan Indragiri Hulu)

Memilih-Sekolah-untuk-Anak-Berkebutuhan-Khusus

Tata Krama Memanusiakan ABK lewat Kolaborasi Pendidikan

Percayakah kita bahwa setiap manusia yang dilahirkan di dunia adalah karya agung Tuhan yang dilekatkan pada dirinya label spesial. Percayakah kita bahwa setiap anak yang kakinya  berpijak pada tanah memiliki hak yang sama dengan anak lainnya, tumbuh, berkembang, bermain, disayangi, dan mendapatkan pengakuan sebagai warga negara yang mesti dilindungi dan mengecap rasa pendidikan. Karena pendidikan tidak berbicara perihal manusia normal melulu. Bagaimanapun kondisinya, seperti apa mentalnya tetap saja hak tersebut milik setiap anak. Lebih jelasnya kita menyebut perlakuan ini sebagai tata krama dalam memanusiakan manusia.

“Muara dari pendidikan yaitu untuk memanusiakan manusia,” tak ada yang dapat mengelak kalimat tersebut. Tujuannya semata-mata memuaskan akal-akal manusia akan pengetahuan, menyejukkan hati melalui keteladanan terhadap sesama agar hukum rimba tidak bertengger dan hukum keseimbangan tetap kokoh terjaga. Sederhananya formula keseimbangan yang dikemukakan oleh Newton:  aksi = reaksi. Ruas kiri dan kanan akan terus seirama, seberapa banyak energy yang diberikan pada aksi sebanyak itu pula hasil yang dituai pada reaksi. Seberapa banyak pengetahuan dan keteladanan yang kita berikan, kita berharap sebanyak itu pula tumbuh pada diri manusia laiinnya.

Pemenuhan pengetahuan dan keteladanan ini dapat dijawab melalui kolaborasi pendidikan formal dan Informal. Langkah ini adalah langkah terjitu yang dapat ditempuh. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal dan rumah sebagai madrasah pertama bertanggungjawab seutuhnya mengantarkan anak ke gerbang kondisi terbaik.

Hal-hal diatas  dilakukan orang tua Gaga pada Gaga. Gaga adalah anak berpostur tubuh besar dan tinggi yang di lingkungannya diberi cap ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).  Setiap yang memandangnya sekilas lantas berasumsi Gaga adalah anak yang duduk di bangku kelas tinggi. Termasuk pandangan awal saya saat kunjungan ke-3 dalam agenda pemutaran video kirim budi, September lalu.  Belakangan saya tahu Gaga adalah anak kelas II.

Pada kenyataannya Ia baru satu setengah tahun mengenyam pendidikan formal di SDN 2 Wanasari Kab.Indramayu Jawa Barat. Orang tuanya memilih pendidikan inklusi, jarak sekolah dan rumahnya cukup dekat jadi alternative pilihan saat itu. Alasannya sederhana agar mereka dapat mengontrol perkembangannya. Hari pertama sekolah dan beberapa bulan berkutnya ibunya selalu mengantar ke pintu kelas, menunggu selama proses pembelajaran hingga bel berbunyi pertanda waktu pulang telah tiba.

Suatu waktu, orang tuanya memindahkan Gaga ke SLB (Sekolah Luar Biasa) namun tak bertahan lama, temponya hanya seminggu. Gaga meminta kembali ke SDN 2 Wanasari . Ia tak ingin belajar dengan ABK lainnya, Ia hanya ingin belajar dari ibu Masnaeni guru kelasnya. Di tengah keterbatasan mental yang membelenggu dirinya Gaga masih leluasa menentukan sekolah, nuraninya jujur berbahasa tempat ternyaman belajar. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memaksa Gaga tetap di SLB,  orang tuanya mengikuti keinginannya kembali pindah ke SDN 2 Wanasari.

Indonesia menuju pendidikan inklusi secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 Agustus 2004 di Bandung (Rombot: 2017), membuahkan perubahan dan perkembangan dalam diri Gaga. Saya teringat film Taare Zaman Pare  dari India yang menceritakan seorang ABK yang Imanjinatif, kemudian diberi perlakuan khusus dari guru seninya, dibimbing dan dididik hingga Ia benar-benar percaya pada bidang keahliannya. Hal serupa juga diterapkan pada Gaga, saat duduk dibangku kelas I Ibu Masnaeni memberikannya les khusus dalam tempo 2 atau 3 kali dalam seminggu. Alhasil, perkembangannya semakin meningkat. Walaupun tak 100% dapat mengikuti laju perkembangan  teman kelasnya.

Daya ingat, kejelasan berbicara, ketelitian dan perubahan sikap merupakan suatu prestasi yang membanggakan.  Sekarang, Ia merupakan anak dengan daya ingat yang kuat. Ia menghapal semua motor milik gurunya. Pada waktu pagi, jika ada motor guru yang belum datang Ia menuju menanyakan keberadaan guru   tersebut. Ia hapal, setiap hari Jumat ada mata pelajaran agama, oleh karenanya menanyakan guru mata pelajaran agama. Yang awalnya sering menangis seiring perjalanan waktu sikap itu mulai redup, Saat bel masuk berbunyi Ia mengakomodir teman kelasnya untuk masuk di kelas. Yang awalnya diantar jemput, saat ini hanya di jemput. Jika uang jajannya habis, Ia memilih pulang  meminta kepada ibunya dan kembali lagi ke sekolah dibanding menerima uang dari gurunya. Dan ada 1 hal kebiasaan yang melekat pada dirinya yaitu  menyalami dan mencium tangan guru-gurunya saat bertatap muka.

Melihat langsung dan mendengar kisah perkembangan Gaga dari Ibu  kepala SDN 2 Wanasari kita semakin membuka mata bahwa setiap anak itu berbeda, cepat atau lambat pasti akan bisa, ini hanyalah persoalan waktu. Mereka mempunyai bagiannya masing-masing dalam soal kemampuan. Dalam diri mereka ada harta karun yang terkubur, dan tugas orang-orang dewasa yang membersamainya adalah menggali dan menemukannya. Tokoh-tokoh penemu justru banyak dari penyandang ABK  seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan Wolfgang Amadeus Mozart, misalnya

Dalam lingkungan sekolah anak-anak berkebutuhan khususlah yang akan mengikuti anak-anak normal laiinnya, tidak sebaliknya. Berawal dari sinilah titik perubahan, kolaborasi pendidikan orang tua dan guru menjadi kunci pintu  perkembangannya. Semoga tata krama memanusiakan ABK lewat kolaborasi pendidikan  terus berlangsung dalam proses pendidikan itu sendiri.

Kontributor: Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia DD Pendidikan)

Referensi : Rombot, Olifia. 2017. Pendidikan Inkluisi. (Online) https//pgsd.binus.ac.id/2017/04/10/pendidikan-inklusi. Dikutip 23 Desember 2018

Pic : Google.co.id

Sekolah Ramah Hijau Makmal Pendidikan

3 Hal Penting Wujudkan Sekolah Ramah Hijau

Sekolah adalah rumah kedua bagi guru maupun siswa. Sepertiga dari waktu mereka berada di sekolah. Tiba di sekolah jam tujuh pagi dan kembali pulang ke rumah jam empat sore. Pada jam – jam produktif inilah mereka lebih lama berada disekolah daripada di rumah. Kegiatan belajar mengajar berlangsung aktif pada jam tersebut.

Salah satu pendukung kegiatan KBM adalah lingkungan belajar yang nyaman. Sekolah yang nyaman seperti rumah sendiri. Sehingga kegiatan belajar mengajar bisa optimal berjalan.

Dari itu MI Al Hidayah berupaya membuat lingkungan terlihat teduh, bersih dan sehat, sehingga semua warga sekolah nyaman dan betah berada di sekolah. Persoalan yang harus diselesaikan untuk mewujudkan sekolah bersih, nyaman dan sehat adalah SAMPAH. Untuk meminimalisir persoalan klasik lingkungan ini ada beberapa pembiasaan yang dilakukan di MI Al hidayah untuk menciptakan lingkungan sekolah yang ramah hijau, bersih, sehat dan nyaman.

Siswa Menanam dan Menumbuhkan Pohon

Selama ini pemerintah memprogramkan gerakan menanam pohon, namun tidak ada program merawat atau menumbuhkan pohon. Tapi di MI Al Hidayah dilakukan gerakan siswa menanam dan menumbuhkan pohon. Masing – masing siswa diberikan satu buah pohon lalu siswa menanam dan memberi nama pohon tersebut dengan nama si penanam. Agar mereka bertanggungjawab merawat pohon tersebut hingga tumbuh subur.

Sampahku Tanggungjawabku

Masing – masing kita adalah produsen sampah. Setiap hari kita menghasilkan sampah baik berupa sampah organik dan non organik. Sekecil apapun sampah itu bila ada sepuluh orang bahkan lebih membuangnya secara sembarangan maka lingkungan tersebut terlihat kotor. Dari itu di MI Al hidayah dibuat gerakan “sampahku tanggungjawabku”. Bahwa semua warga sekolah bertanggungjawab terhadap sampah masing – masing sehingga dipastikan tidak ada sampah yang bukan pada tempatnya. Ketika salah satu warga sekolah lalai dalam membuang sampahnya maka tugas yang lain mengingatkannya.

Kegiatan 3R (Reduce, Reuse, recycle)

Sampah juga bisa diolah kembali dan digunakan kembali. Kegiatan pengelolaan sampah ini sudah diterapkan di MI Al hidayah salah satunya komposting. Sampah organik yang sudah dipilah dijadikan pupuk untuk merawat pohon yang sudah ditanam siswa. Selain itu barang- barang jenis plastik di-reuse secara sederhana untuk mempercantik dinding dan halaman sekolah. Sehingga bisa terlihat bahwa MI Al hidayah merupakan sekolah berwawasan lingkungan.

Melalui konsisten melakukan kegiatan peduli lingkungan ternyata telah menghantarkan MI Al hidayah meraih penghargaan Adiwiyata Tingkat Kota Medan tahun 2017 dan penghargaan Adiwiyata Tingkat Propinsi Sumatera Utara tahun 2018 yang lalu.  Dan insyaAllah sedang mempersiapkan diri menuju Adiwiyata Tingkat Nasional tahun 2019. Semoga Allah meridhoi.

Namun hal yang paling penting dari keberadaan sekolah adiwiyata ini adalah terbentuknya karakter anak – anak yang peduli terhadap masa depan bumi. Karena sudah menjadi pembiasaan sehingga lahir ketulusan dan kesadaran menjaga lingkungan agar lebih sehat, bersih dan nyaman.

Kontributor : Sri Ningsih Pardosi,Ssi (Kepala MI Al Hidayah Medan)

Sekolah (Harus) Tanggap Bencana

Dampak Bencana

Sepanjang tahun 2018 Indonesia mengalami banyak bencana alam. Mulai dari Tsunami di Palu, hingga yang terbaru Tsunami di Banten dan Lampung pada Sabtu (22/12/2018) malam lalu. Selain itu tercatat dari awal hingga akhir 2018 Indonesia juga banyak dilanda bencana alam lain seperti gempa, longsor, gunung meletus dan sebagainya. Mengutip dari laman resmi Badan nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tercatat telah terjadi 2.308 kejadian bencana yang menyebabkan 4.201 orang meninggal dunia dan hilang. Sementara 9.883.780 lainnya terdampak dan mengungsi akibat bencana alam tersebut. Selain itu bencan alam juga telah mengakibatkan 371.625 rumah mengalami kerusakan

Terjadinya bencana alam tentunya mempengaruhi berbagai sektor, termasuk pendidikan. Berdasarkan data yang dikompilasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada bencana gempa yang menimpa Lombok, Nusa Tenggara Barat, terdapat 218.224 peserta didik yang terdampak bencana. 33 di antaranya meninggal dunia, 29 harus menjalani rawat inap, dan 36.902 peserta didik lainnya mengungsi. Selain itu bencana Gempa dan Tsunami di Palu menurut data yang di rilis dari Kemendikbud bahwa sebanyak 2.736 sekolah terkena dampak.

Indonesia berada di kawasan “Cincin Api” yang berarti potensi bencana di Indonesia sangat besar. Faktanya adalah 80% gempa bumi, gunung meletus dan tsunami yang terjadi di seluruh dunia adalah berasal dari kawasan “Cincin Api”. Kondisi seperti ini bukanlah sesuatu yang dapat dihindarkan tetapi harus dihadapi dan dicari jalan keluarnya, sehingga sebelum bencana, saat bencana maupun sesudah terjadinya bencana dapat diminimalisir dampak negatif dan resiko kerugiannya. Berada di kawasan “Cincin Api” seperti menunggu bom waktu meledak, karena tidak dapat diprediksi kapan dan dimana bencana tersebut akan terjadi. Pilihannya adalah apakah kita hanya menunggu atau bersiap diri untuk menghadapi ledakan tersebut.

Serius Menanggapi Bencana

Berbicara tentang penanganan bencana alam, Jepang adalah salah satu negara yang sangat fokus memperhatikan persoalan tersebut. Tanggal 17 Januari 1995 merupakan mimpi buruk bagi Jepang karena 6.434 penduduknya menjadi korban keganasan Gempa berkekuatan 6,9 SR. Sadar betul akan dampak destruktif dari gempa bumi, Jepang segera melakukan evaluasi besar-besaran. Para peneliti mengungkap bahwa gempa besar pada 1995 itu disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi. Hal ini, sulit rasanya membayangkan ada sebuah teknologi yang mampu menghentikan aktivitas lempeng bumi yang terus aktif bergerak. Namun, teknologi masih bisa dimaksimalkan untuk melakukan fungsi peringatan dini sehingga risiko bencana dapat dikurangi. Generasi anak-anak Jepang pasca-gempa 1995 akrab dengan latihan mitigasi bencana gempa bumi. Ketika alarm peringatan berbunyi, anak-anak di sekolah mulai mencari tempat berlindung di kolong meja guna melindungi diri dari reruntuhan barang dan material bangunan. Latihan mitigasi tersebut dilakukan setiap bulan, Tujuannya adalah untuk membiasakan anak-anak sekolah merasakan sensasi gempa sehingga ketika gempa terjadi anak-anak lebih cepat mengambil langkah penyelamatan diri. Ada pula aturan yang mewajibkan sekolah dengan dua lantai atau lebih dilengkapi jalur evakuasi yang dapat dipakai anak-anak untuk menuju ke tempat aman. Sekolah juga bisa menjadi penampungan dadakan ketika rumah para siswa rusak akibat gempa. Hal ini yang membuat Jepang menjadi Negara yang paling siap dalam menghadapi bencana.

Misalnya ketika tsunami besar melanda Kamaishi di Prefektur Iwate Jepang pada 11 Maret 2011. Tsunami yang begitu dahsyat, tercatat ketinggian gelombang tsunami tersebut mencapai 40 meter. Hampir 3.000 siswa sekolah dasar dan menengah pertama selamat berkat pendidikan mitigasi bencana. Bahkan dari hampir 1.000 korban jiwa di Kamaishi, hanya lima anak-anak usia sekolah saja yang meninggal dunia. Itu pun karena mereka berada di tempat yang jauh dari sekolah dan tak terjangkau regu penyelamat. Kunci keberhasilan Jepang dalam penanganan bencana adalah integrasi sistem mulai dari pra, saat dan pasca terjadinya bencana. Sebagai contoh, saat seismograf mendeteksi adanya pergerakan lempeng yang menyebabkan terjadinya gempa bumi maka setiap operator seluler dan layanan publik memberikan peringatan dini (Disaster – Early Warning System). Sebagai pelajaran yang dapat diambil dari Negara Jepang adalah bahwa meskipun bencana telah mengakibatkan penderitaan fisik, ekonomi, dan emosional, namun mereka mampu segera bangkit dari keterpurukan melalui penanganan bencana yang cepat dan efektif.

Cara Sekolah Siaga Hadapi Bencana

Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi bencana adalah memberikan pemahaman terhadap masyarakat terkait upaya penyelamatan diri saat terjadinya bencana alam. Dalam hal ini, sekolah memegang peranan penting dalam memberikan pengetahuan tentang kebencanaan terhadap masyarakat. Seperti pepatah yang mengatakan “sedia payung sebelum hujan”. Sekolah di Indonesia harus memiliki standard layanan dalam menghadapi bencana. Standard tersebut setidaknya menjadi acuan bagi sekolah ketika terjadi bencana. Selain pemahaman terhadap langkah penyelamatan diri saat bencana, layanan pendidikan bagi siswa harus tetap diberikan pasca terjadinya gempa. Setidaknya sekolah memiliki empat fungsi dalam menghadapi bencana, yaitu (1) Fungsi Penyadaran – Awareness. Mau tidak mau, suka tidak suka, saat terjadi bencana tidak ada yang dapat untuk negosiasi, pilihannya adalah kita harus betul-betul siap untuk menghadapinya. Kesiapan ini harus diimbangi dengan pemahaman menghadapi bencana alam. Fungsi penyadaran ini adalah sebagai upaya pemberian pemahaman dan kesadaran masyarakat khususnya siswa dalam mempersiapkan diri dalam penghadapi bencana alam. Sehingga saat terjadinya bencana alam, masyarakat tidak gagap untuk melakukan penyelamatan diri. Upaya sekolah dalam melakukan fungsi penyadaran tersebut tidak dapat bekerja sendiri, harus mampu melibatkan berbagai pihak terutama pihak yang mampu dan memahami tentang penanganan bencana alam. (2) Fungsi Penyelamatan (Savety). Sekolah harus siap dalam upaya penyelamatan, untuk itu perlu dibuat sistem penyelamatan diri. Contoh sederhananya adalah pembuatan jalur evakuasi di sekolah dan penentuan titik kumpul saat terjadi bencana. Sehingga sekolah tidak kesulitan untuk mengkoordinir siswa untuk melakukan penyelamatan diri. Selain itu sekolah perlu membuat mekanisme dalam memberikan peringatan dini saat bencana, sehingga dapat meminimalisir korban dan kerugian. (3) Fungsi Pemulihan (Recovery). Hal yang sering terlupakan saat terjadinya bencana adalah proses pemulihan pasca terjadinya bencana alam. Banyak yang beranggapan yang penting adalah selamat dulu, prinsip tersebut bukan tidak benar tetapi kurang tepat. Hal yang sangat berat menghadapi bencana adalah pasca bencana. Pasca bencana semuanya dapat kembali ke nol, orang yang awalnya berdaya, seketika menjadi tidak berdaya. Proses pemulihan ini yang kemudian menjadi aspek penting yang sering terlupakan. Dalam hal ini sekolah memiliki fungsi sebagai pemulihan, tujuannya adalah menormalkan kembali semua aktivitas. (4) Fungsi Layanan (Service). Fungsilayanan ini sangat berkaitan dengan fungsi pemulihan, hal yang harus diperhatikan saat melakukan fungsi pemulihan adalah memastikan saat proses pemulihan semua layanan pendidikan tetap dapat terlaksana. Hak anak untuk mendapatkan pendidikan pasca terjadinya bencana alam adalah sifatnya wajib. Fungsi layanan ini juga memberikan harapan kepada terdampak supaya lebih siap kembali dalam menghadapi kehidupan.

Dari ke-empat fungsi tersebut yang terpenting adalah bagaimana caranya supaya kita selalu mendapat pelajaran berharga dalam menghadapi bencana. Sehingga kita selalu lebih siap dalam menghadapi bencana yang mungkin akan terulang kembali. Karena sesungguhnya bencana bukan untuk dihindari tetapi untuk dihadapi.

Kontributor : Muh. Shirli Gumilang (Spv. Sekolah Literasi Indonesia)

Jangan Pernah Berhenti Belajar Makmal Pendidikan

Jangan Pernah Berhenti Belajar

Pemudi energik asli Desa Engkerengas lahir dan dibesarkan di desa pinggiran sungai yang jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Letak geografis membuatnya menjadi sosok wanita yang tangguh. Ia merupakan anak bungsu dari 5 bersaudara yang juga anak seorang kepala desa di Desa Engkerengas. Diapun memiliki saudara kembar yang saat ini sedang melanjutkan kuliah di Pontianak.

Usianya masih terbilang muda yaitu 22 tahun, tetapi kepeduliannya terhadap pendidikan mengalahkan pemuda yang seusia dengannya di desa ini. Keseharian bu Sumi adalah menjadi satu-satunya guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Cahaya Bunda dan menjadi salah satu guru MTs Attaqwa Filial Engkerengas. Walaupun pendidikan terakhirnya hanya sebatas SMA dia terus berusaha menjadi sosok guru pembelajar.

Menjadi guru dengan segala keterbatasan tentu banyak menghadapi berbagai rintangan, tak sedikit yang menyepelekan dan meragukan kemampuan, dari sosoknyalah aku sadar bahwa S1 pendidikan bukan jaminan seorang layak menjadi guru melainkan mereka yang tulus berbagi den terus belajarlah yang layak menjadi seorang guru. Tentu kekurangan masih banyak terdapat disana-sini tapi kemauannya untuk terus belajar dan terus tampil percaya diri patut untuk diberi apresiasi.

Bertahan ditengah keterbatasan

Bu Sum biasa beliau disapa sudah aktif mengajar sejak tahun 2015 yaitu tahun pertama berdirinya sekolah MTs Attaqwa Filial Engkerengas, beliau merupakan satu-satunya guru pendiri yang tersisa di sekolah MTs tersebut hingga kini, saat guru-guru lain memilih hengkang mencari penghidupan yang layak beliau masih tetap bertahan sebab ini adalah sekolah satu-satunya dan harapan untuk kemajuan desa kedepan. Kemudian di tahun 2017 beliau aktif mengajar di PAUD Cahaya Bunda yang merupakan tahun pertama PAUD itu didirikan. Jadi bisa disimpulkan bagaimana peran besar beliau terhadap pendidikan di Desa Engkerengas ini.

Tak Pernah Berhenti Belajar

Saat awal-awal sekolah MTs berjalan yang saat itu hanya Bu Sumi saja guru yang ada, tentu banyak rintangan dan hambatan. Kegiatan belajar mengajar diadakan di Kantor Desa Engkerengas karena belum memiliki bangunan sendiri. Fasilitas penunjang belajarpun belum memadai, bahkan setiap usai mengajar baju dan celana menjadi kotor akibat debu kapur tulis yang digunakan menjadi hal yang biasa dirasakan oleh bu Sumi. Menjalankan sekolah seorang diri dengan bekal ilmu yang tidak ada belum lagi ditambah gunjingan para masyarakat yang mengatakan tak layak menjadi seorang guru karena hanya tamatan SMA, sering membuatnya putus asa. Bahkan beliau pernah ingin berhenti mengajar dan bahkan terkadang beliau tidak masuk mengajar karena begitu beratnya dan kebingungan bagaimana menjalankan sekolah. Hingga akhirnya datanglah tim dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melakukan asesmen sekolah yang kelak akan mendapatkan pendampingan dari Konsultan Sekolah Literasi Indonesia. Sejak kedatangan merekalah sekolah kembali memiliki arah dan tujuan, apalagi sejak dikirimkan 2 orang konsultan untuk mendampingi sekolah MTs Attaqwa Filial Engkerengas membuat bu Sumi kembali bersemangat. Hingga suatu hari ia diberangkatkan menuju bogor untuk mendapatkan pelatihan tentang bagaimana menjadi seorang guru pada program Sekolah Guru Indonesia (SGI). Bukan perkara mudah membujuk bu Sumi untuk ikut pelatihan di Bogor, sebab selain anak bungsu diapun belum pernah pisah sejauh itu dengan orang tua. Ia merupakan anak yang paling dekat dengan kedua orang tuanya. Bahkan ini menjadi kali pertama beliau naik mobil dan pesawat. Namun demi keinginannya untuk menjadi guru beliau memberanikan diri untuk pergi ke Bogor, dan setibanya disana beliau tersadar dan tercerahkan bahwa menjadi seorang guru memang butuh perjuangan dan pengorbanan.

Bertemu dengan berbagai guru dari seluruh penjuru nusantara begitu banyak memberikan pelajaran yang berarti bagi beliau. Hingga itu memberikan bekal kepercayaan diri baginya untuk tetap berkecimpung di dunia pendidikan hingga kini. Segala keraguan masyarakat sekitar dijawabnya dengan penampilan penuh percaya diri, bahkan ia selalu siap dan mengambil bagian dalam agenda-agenda yang ada di desa. Itulah sosok pahlawan masa kini yang dimiliki Indonesia, teruslah belajar, karena tiada kata berhenti belajar bagi seorang guru.

Melejitkan Semangat siswa ala guru Jabi

Melejitkan Semangat Belajar Siswa Ala Guru Jabi

Banyak guru yang berhasil menghadapi masalah-masalah terkait dengan semangat belajar, tapi tidak jarang ada guru yang cuek bahkan cenderung apatis terhadap semangat siswanya. Akibatnya, hasil proses pembelajaran tidak maksimal atau cenderung gagal. Semangat belajar menjadi salah satu modal utama dalam sebuah pembelajaran, karena dengan adanya semangat pembelajaran pun menjadi sangat menyenangkan.

Sebenarnya di dalam sebuah pembelajaran hal yang paling penting adalah pola interaksi antara guru dan peserta didik. Sebaik apapun pemahaman dan penguasaan materi yang dimiliki guru, jika gagal dalam menerapkan pola interaksi kepada peserta didik maka akan menghambat proses pembelajaran. Pola interaksi di sini mengharuskan komunikasi yang baik antara guru dan peserta didik.

Dalam pola komunikasi efektif harus ada pertukaran informasi, ide, perasaan yang menghasilkan perubahan sikap hingga terjalin sebuah hubungan baik antara pemberi dan penerima. Selain ini perlu adanya respek dan empati terhadap lawan bicara kita. Respek adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi sasaran bicara kita. Sementara empati adalah sebuah kemampuan individu untuk menempatkan diri pada sebuah situasi yang dihadapi oleh orang lain. Untuk memberikan respek dan empati yang baik dalam pembelajaran, dapat diawali dengan guru menyapa para peserta didik.

Selama proses pendampingan sekolah di SDN 227 Bengkulu Utara ini saya kerap menemui  permasalahan yang diawali dengan kegagalan pola interaksi yang dilakukan guru kepada peserta didik, terutama di kelas 1. Ketika guru sedang memberikan materi, bukan hal yang aneh ada peserta didik yang berlari kesana kemari untuk bermain, berteriak-teriak, berkelahi, dan ada pula peserta didik yang diam,  saking pendiamnya seperti yang tidak bersemangat belajar.

Solusi Sederhana Lejitkan Semangat

Untuk mengatasi situasi seperti ini, langkah sederhana yang saya lakukan adalah memberikan yel-yel sapaan kepada siswa dan mengenalkan serta mendorong guru untuk membiasakan mengawali pembelajaran dengan  menyapa siswa-siswanya. Hasilnya seperti sapaan Ibu Chusnul, sang kepala sekolah yang dilakukan setiap mengawali jumat ceria, “Apa kabarnya hari ini siswa-siswi SDN 227 Bengkulu Utara?” Lalu dengan lantang siswa pun menjawab, “ Alhamdulillah, luar biasa, selalu ceria, Allohuakbar,eeeee……yaaaaaaa…eeee…eee…yaaa!” Cara serupa diterapkan juga oleh guru-guru dengan berbagai inovasi yang mereka lakukan.

Hal sederhana ini ternyata sanggup meningkatkan semangat para siswa dalam belajar. Secara tidak langsung cara ini memberikan nilai pembiasaan budaya saling menyapa antara guru dan peserta didik. Harapan besar dari pembiasaan ini tidaklah berhenti pada sapaan guru ke peserta didik ketika sedang bersamaan di kelas saja, namun jauh dari pada itu juga ke peserta didik secara perorangan baik di sekolah maupun di luar sekolah secara perorangan. Semangat yang ditunjukkan oleh para peserta didik ini mampu memberikan dampak positif bagi gurunya, dimana sang guru menjadi semakin semangat dalam mengajar, dan semakin membangun kedekatan emosional dengan para peserta didik.

Hasilnya Melejitkan Semangat SIswa

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan pendampingan di SDN 227 Bengkulu Utara ini, ada perubahan yang signifikan di kelas 1. Ibu Helpy Permatasari, wali kelas 1, secara rutin memberikan sapaan dan yel-yel kepada peserta didiknya. Begitu bersemangat dan begitu ceria ketika Ibu Helpy mengucapkan yel-yel kepada para peserta didiknya, rasa nyaman tergambar sebelum melaksanakan pembelajaran. Yel-yel juga memiliki fungsi untuk mengatur dan mengkondisikan kelas serta mengalihkan energi berlebih yang ada pada sebagian siswa. Energi yang biasanya mereka gunakan untuk berlari dan berkelahi saat belajar mampu dialihkan untuk meneriakan dan mengungkapkan yel-yel penuh semangat dan keceriaan. Sehingga kelas pun lebih kondusif dan menyenangkan untuk belajar.

Inilah cara sederhana yang diharapkan mampu menciptakan pola interaksi yang baik antara guru dan peserta didik, karena ini merupakan sebuah syarat dalam melakukan proses pembelajaran. Adanya penyemangat di awal pembelajaran menjadi dorongan bagi peserta didik bahwasanya belajar itu menyenangkan. Tiadanya penyemangat di awal, bisa jadi akan mendorong peserta didik untuk malas belajar serta ogah-ogahan untuk mendengarkan gurunya. Sehingga bukan tidak mungkin para peserta didik pergi ke sekolah terpaksa untuk menghindari masalah, pekerjaan-pekerjaan berat yang ada di rumah, atau bahkan hanya ingin bermain dan merasakan kebebasan dari rumah. Untuk itu, hanya satu hal yang mereka harapkan dari gurunya ketika berada di sekolah yakni sapaan dari guru. Apa jadinya kalau para siswa tidak mendapatkan hak-haknya di sekolah walau hanya sekedar hak sapaan yang bisa membangkitkan gairah belajarnya? Jadi, jangan pernah sungkan untuk menyapa para peserta didik kita, karena bisa jadi hal sederhana seperti itu justru sangat didambakannya.

Rendahnya Kualitas guru, penghambat perkembangan pendidikan

Waktu saya masih berada di bangku SD, saya sering kali menemukan guru yang hanya menyuruh siswa-siswinya untuk melakukan sesuatu tanpa memberikan contoh yang riil.

Sebut saja saat latihan gerak jalan, guru mengatakan ”kalau jalan itu tangan harus lurus, pandangan ke depan, kaki dihentak dan bla, bla, bla’‘. Sebagai murid kami sangat antusias mengikuti arahan guru tersebut, kami berusaha mengikutinya semaksimal mungkin karna kami pun ingin terlihat sempurna dimata guru, meskipun kami merasa bahwa apa yang dilakukan sudah sempurna, namun pada kenyataanya kami tetap saja salah dan tidak bisa melakukan seperti apa yang guru perintahkan. Nahasnya, saat melakukan kesahan, kami pun dimarahi bahkan tidak jarang kaki-kaki kami dijadikan sebagai bola untuk kemudian mereka tendang. Setelah itu guru lagi-lagi mengatakan, “tangannya diluruskan, dada dibusungkan, kaki dihentak!! Apa-apaan jalan begitu kayak gak ada tulang saja.”

Kami pun berjalan lagi dan mencoba melakukan seperti yang guru arahkan, tapi tetap saja gak bisa, kami masih juga berjalan seperti manusia tidak bertulang.

Coba kita pikirkan, apa iya cara yang dilakukan guru tersebut dapat menjadi latihan yang optimal untuk peserta didik? Apa mungkin latihan semacam itu dapat melahirkan anak yang unggul?  

Rasanya sangat tidak mungkin, cara seperti itu hanya akan menyisakan kebingungan kepada peserta didik, seberapa sering pun intensitas latihan itu dilakukan apabila caranya masih seperti itu maka siswa tidak akan pernah bisa menjadi yang terbaik. Jangankan anak SD, anak kuliahan pun saya rasa akan kesulitan mempraktikan konsep yang semacam itu, apa lagi anak SD.

Memahami konsep sangatlah mudah, tapi mempraktekan konsep itu jauh lebih susah. Jangankan tidak ada contoh yang akan diikuti, ada contoh di depan mata saja anak SD masih salah dalam melakukannya, hal itu harusnya disadari oleh guru.

Dalam hal ini saya bukannya ingin mengatakan bahwa guru tidak berhasil dalam mendidik siswa-siswinya, sama sekali tidak, saya hanya ingin menitipkan pesan kepada guru agar dapat menyeimbangkan antara teori dan praktek, bukan hanya pada urusan gerak jalan tapi dalam berbagai hal, guru harus mampu memberikan contoh kepada siswanya, baik itu contoh tindakan maupun perkataan.

Cerita diatas hanya sebagai gambaran dari kebingungan saya ketika masih berada di bangku sekolah dasar dulu, yang mana guru tidak mampu  memberikan contoh nyata dalam berbuat.

Saya pikir tipe guru yang seperti itu hanya ada pada zaman saya saja dan sudah tidak akan saya temui lagi di zaman now, tapi ternyata bibit-bibit pendidik yang seperti itu masih bertahan hidup dan berlalu lalang sampai sekarang.

Beberapa kali pernah saya lihat hal yang sama di sekolah yang berbeda, nampak jelas kebingungan dari wajah siswa saat mendapat arahan dari guru, mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan, bagaimana yang benar, dan apa yang salah dari mereka. Siswa hanya mendapat petunjuk kata-kata sedangkan tidak mendapat petunjuk tindakan.

Harapan saya, semoga guru mulai menyadari bahwa tugas mereka bukan sekedar menyampaikan konsep yang tertuang didalam buku, tetapi juga guru berkewajiban untuk membimbing dan melatih peserta didiknya. Membimbing dalam artian, menumbuhkan dan mengembangkan nilai-nilai moral, serta melatih yang bermakna menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan yang ada dalam diri anak didiknya.

Ini tentunya merupakan sebuah masalah krusial dunia pendidikan, bagaimana tidak! Guru yang menjadi icon kemajuan pendidikan ternyata masih sangat minim keterampilannya. Padahal harapan terbesar pendidikan itu adalah guru, sebagaimana yang pernah di ungkapkan oleh salah satu kaum intelektual dunia, yaitu Bpk Anis Rasyid Baswedan, “kualitas pendidikan sangat bergantung pada kualitas guru, secanggih apapun sebuah kurikum, sekuat apapun financialnya apabila kualitas guru rendah makan kualitas pendidikanpun akan rendah, begitu juga sebaliknya.” Ungkap beliau.

Untuk kualitas guru di negri ini masih sangat rendah, faktanya nilai rata-rata kompetensi guru di Indonesia hanya 44,5. Padahal, nilai standar kompetensi guru adalah 75 dan Indonesia masuk dalam peringkat 40 dari 40 negara, pada pemetaan kualitas pendidikan, menurut lembaga The Learning Curve.

Akhir kata : Siswa itu bukanlah malaikat yang mampu menangkap serta mempraktekkan semua arahan guru dengan mudah, siswa itu manusia yang butuh bangat dengan bimbingan. Dari itu guru dituntut untuk memberikan pembelajaran dengan optimal kepada peserta didiknya.

Kontributor : Kawan Sekolah Literasi Indonesia

Makmal Penddikan Mewujudkan Tujuan Pendidikan

Tujuan Pendidikan; Impian atau Angan-Angan?

Menyoal masalah pendidikan memang tidak akan ada habisnya. Di balik sederet prestasi akademik yang membanggakan, nyatanya masih ada hal mendasar yang belum terselesaikan.

Pertanyaan paling mendasar untuk mengukur keberhasilan pendidikan adalah: Apakah tujuan pendidikan sudah tercapai? Kalaupun belum tercapai sepenuhnya, apakah ada tanda-tanda kita akan mencapainya? Pertanyaan ini tentu saja tidak bisa dijawab hanya dengan jawaban ya atau tidak.

Tujuan Pendidikan Nasional

Tujuan pendidikan nasional, sesuai yang tercantum dalam UU No. 20 tahun 2003 adalah “untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.” Berdasarkan kalimat tersebut, bisa disimpulkan bahwa tujuan utama dari pendidikan adalah mencetak peserta didik yang beriman, bertaqwa, dan berakhlak mulia. Kompetensi lainnya adalah sebagai penyempurna.

Iman menurut para ulama adalah perkataan dalam lisan, keyakinan dalam hati, dan pengamalan dengan anggota badan. Sedangkan takwa adalah melaksanakan semua perintah Allah, menjauhi semua larangan-Nya, serta menjaga diri agar terhindar dari api neraka atau murka Allah SWT. Banyaknya kasus tawuran pelajar (202 anak di tahun 2017-2018), penyalahgunaan narkoba (5,9 juta anak dari 87 juta populasi anak)*, pornografi, prostitusi, hingga penganiayaan terhadap guru sendiri mengindikasikan bahwa pendidikan kita tidak sedang baik-baik saja. Lebih dari itu, pendidikan kita masih jauh dari tujuan yang dicita-citakan. Alat ukurnya jelas, yaitu iman, taqwa, serta akhlak mulia.

Sejatinya, pendidikan kita sudah memiliki pijakan yang sangat baik, berupa tujuan mulia yang termaktub dalam undang-undang dasar negara. Hanya saja, pada praktinya tujuan tersebut belum dijabarkan dan diimplementasikan ke dalam langkah nyata. Orientasi terbesar pendidikan kita masih terfokus pada aspek kognitif semata. Kurikulum belum benar-benar dirancang untuk menjadikan peserta didik beriman dan bertakwa. Bukan iman dan takwa yang sekadar sebagai pengetahuan, tetapi juga terwujud dalam sikap dan perbuatan.

Hari ini bahkan tidak ada yang bisa menjamin apakah anak lulusan SMA yang beragama Islam sudah benar akidahnya, sudah baik sholatnya, serta lancar mengajinya. Sekali lagi, tidak ada yang bisa menjamin. Barangkali kita masih ingat hasil survei yang dilakukan salah satu universitas ternama di Aceh terhadap mahasiswa baru di kampusnya, tahun 2015 silam. Sebanyak 82% mahasiswa baru tidak bisa membaca Alquran. Artinya, hanya 1% saja yang bisa membaca Al-Quran. Dan itupun barangkali bukan karena andil dari pendidikan formalnya, bisa jadi karena belajar dari guru ngaji atau orang tuanya di rumah.

Hal tersebut terjadi karena memang kurikulum pendidikan di Indonesia tidak dirancang sedemikian rupa, sehingga mampu menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa. Kurikulum pendidikan hari ini lebih menitikberatkan pada pengetahuan umum saja. Misalnya, lulusan SD harus bisa membaca, mahir operasi bilangan matematika, serta menguasai beberapa ilmu umum lainnya. Bagaimana ibadahnya kepada Sang Maha Pencipta, bukan menjadi prioritas utama.

Jika kita benar-benar ingin mencapai tujuan pendidikan yang dicita-citakan, yakni membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, maka (pemerintah) kita harus berani melakukan perubahan besar di tubuh pendidikan kita.

Berbicara masalah pendidikan, ada empat aspek penting yang sangat menentukan; tujuan, kurikulum, program, serta evaluasi. Tujuan pendidikan kita sudah sangat baik, rasanya tidak perlu lagi diotak-atik. PR selanjutnya adalah bagaimana merancang kurikulum, program, serta evaluasi yang selaras dengan tujuan, sehingga menjadi satu kesatuan yang saling berkaitan.

Merancang Kurikulum yang Tepat

Kurikulum harus mampu menjadi kendaraan yang tepat dalam upaya menuju tujuan. Dan tujuan membentuk manusia yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia akan bisa tercapai manakala kurikulumnya dirancang berlandaskan keimanan dan ketakwaan. Dengan kurikulum yang berlandaskan iman dan takwa, maka orientasi terpenting dari pendidikan adalah menjadikan peserta didik semakin dekat kepada Yang Maha Kuasa.

Dalam bukunya “Pendidikan Islam; Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 204”’ Dr. Adian Husaini mengatakan bahwa kurikulum yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan menekankan pada penanaman adab serta penguasaan ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah secara proporsional. Adab dan iIlmu-ilmu fardhu ain seperti akidah, ibadah, syariah, akhlak, dan lain-lain diletakkan sebagai kurikulum inti (kurikuler). Ko-kurikulernya adalah serangkaian praktik ibadah, zikir, shadaqah, dan lain-lain, untuk menguatkan target kurikulernya. Sementara ilmu-ilmu fardhu kifayah seperti bahasa Inggris, bahasa Arab, sains, dan ilmu-ilmu lain yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat ditempatkan sebagai ekstra-kurikuler.

Lalu, bagaimana dengan sekolah yang memiliki latar belakang agama berbeda? Pada prinsipnya sama, keimanan dan ketakwaan harus menjadi orientasi utama. Tinggal disesuaikan implementasinya berdasarkan tuntunan agama masing-masing.

Setelah kurikulumnya sudah selaras, maka perlu dirancang program yang mampu menumbuhkan dan menguatkan keimanan, ketakwaan, serta akhlak mulia. Program-program tersebut harus dibuat terpadu antara pengajaran, pengamalan/pembiasaan, serta keteladanan. Untuk detailnya, pemerintah bisa meminta para ulama/cendekiawan muslim untuk merumuskan program yang lebih rinci dan operasional, sehingga hasilnya bisa lebih optimal.

Pentingnya Sistem Evaluasi

Selanjutnya, untuk memastikan agar tujuan pendidikan bisa tercapai, perlu dirancang sistem evaluasi yang terpadu, yang tidak hanya mengukur kemampuan kognitif saja. Mengukur keberhasilan pendidikan hanya pada aspek koginitif akan berampak buruk pada kehidupan bangsa ini. Betapa banyak orang pintar di negeri ini, tetapi jauh dari Tuhannya. Dan ujung dari semua itu adalah lahirnya para akademisi yang sekuler, pejabat-pejabat yang korup, pemimpin-pemimpin yang tidak amanah, dan rakyat yang kurang beradab.

Iman, takwa, akhlak, tidak bisa dievaluasi secara kognitif semata. Memang benar bahwa tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang hanya Tuhan yang mengetahuinya. Namun setidaknya bisa diukur dari ciri-ciri yang nampak, mengacu pada ciri-ciri orang beriman dan bertaqwa yang dijelaskan dalam Alquran dan Alhadits.

Aplikasi sederhananya misalnya, siswa muslim jenjang SLTP/SLTA yang melalaikan sholat lima waktu, buta aksara Alquran, maka tidak bisa lulus, sampai ia benar-benar mampu menjaga sholat dan bisa membaca Alquran. Siswa yang durhaka kepada guru, curang dalam ujian, terlibat tawuran, pecandu miras/narkoba, dan lain-lain, tidak bisa lulus sampai ia benar-benar bertaubat. Tidak peduli sepintar apapun anaknya. Dengan demikian, orientasi belajar tidak lagi sekadar untuk mendapatkan nilai akademik yang baik.

Kesimpulan

Kesimpulannya, untuk membentuk peserta didik yang beriman, bertakwa, dan berakhlak mulia, sesuai dengan tujuan pendidikan, maka kurikulum, program, dan evaluasinya harus diselaraskan. Tujuan pendidikan adalah amanat undang-undang yang harus ditunaikan, dan menjadikan pendidikan sebagai sarana meningkatkan keimanan dan ketakwaan adalah amanat Tuhan yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Wallahu a’lam.

Sumber dan Referensi:

Buku Pendidikan Islam Mewujudkan Generasi Gemilang Menuju Negara Adidaya 2045

http://www.kpai.go.id/berita/kpai-202-anak-tawuran-dalam-dua-tahun
https://kumparan.com/@kumparannews/kpai-5-9-juta-anak-indonesia-jadi-pecandu-narkoba
http://aceh.tribunnews.com/2015/07/28/82-mahasiswa-baru-tak-bisa-baca-quran

Kontributor : Andi Ahmadi (Aktivis Sekolah Literasi Indonesia – Dompet Dhuafa Pendidikan)

Anak Disleksia (Mutiara Yang Belum Tergali)

Anak Disleksia (Mutiara Yang Belum Tergali)

“Sungguh, alangkah hebatnya kalau tiap – tiap guru didalam perguruan taman siswa itu satu persatu adalah rasul kebangunan ! hanya guru yang dadanya penuh dengan jiwa kebangunan yang dapat “menurunkan” kebangunan kedalam jiwa sang anak (presiden soekarno).

Dari kutipan sang orator ulung bapak bangsa kita presiden soekarno dapat diambil kesimpulan bahwa guru mempunyai peranan penting dalam membentuk pribadi seorang anak karena, guru adalah orang tua kedua bagi  anak setelah ibu dan bapaknya.

Guru, terkhususnya kelas 1, 2 dan 3 senantiasa melihat pertumbuhan dan perkembangan anak  dari waktu kewaktu. Setiap ada kemampuan baru yang dicapai anak merupakan prestasi tak ternilai bagi anak, maupun guru dan orang tua, tapi sebaliknya, setiap hambatan dalam tumbuh kembangnya merupakan hal yang sangat merisaukan orang tua dan guru. Kemunduran dalam prestasi belajar termasuk salah satu diantara hal yang cukup mengkhawatirkan orang tua dan guru, Apalagi jika si anak mengalami hambatan dalam belajar, sehingga anak mengalami stress atau depresi akibat masalah yang dihadapi. Oleh karena itu guru dan orang tua harus mengenali penyebab gangguan tersebut.

Hal yang sering penulis temui dilapangan terkhususnya SD N 09 ULAKAN TAPAKIS adalah anak yang tidak bisa membaca atau menulis, yang biasanya disebut dengan disleksia. Disleksia berasal dari bahasa Greek, yakni dari kata “dys” yang berarti kesulitan, dan kata”lexis” yang berarti bahasa. Jadi disleksia secara harafiah berarti “kesulitan dalam berbahasa”. Anak disleksia tidak hanya mengalami kesulitan dalam membaca, tapi juga dalam hal mengeja, menulis dan beberapa aspek bahasa yang lain. Disleksia (atau disebut juga sebagai gangguan membaca spesifik) pada anak dilaporkan pertama kali pada tahun 1896 dan merupakan salah satu bentuk gangguan belajar yang paling sering, yaitu mengenai sekitar 80% dari kelompok individu dengan gangguan belajar.

Adapun tanda-tanda tanda disleksia yang mungkin dapat dikenali oleh orang tua atau guru adalah (1) Kesulitan mengenali huruf atau mengejanya, (2) kesulitan membuat pekerjaan tertulis secara terstruktur misalnya essay, (3) Huruf tertukar tukar, misal ’b’ tertukar ’d’, ’p’ tertukar ’q’, ’m’ tertukar ’w’, ’s’ tertukar ’z’, (4) membaca lambat lambat dan terputus putus dan tidak tepat misalnya menghilangkan atau salah baca kata penghubung (“di”, “ke”, “pada”), (5) Daya ingat jangka pendek yang buruk, (6) Kesulitan memahami kalimat yang dibaca ataupun yang didengar, (7) Tulisan tangan yang buruk, (8) Mengalami kesulitan mempelajari tulisan sambung, (9) Ketika mendengarkan sesuatu, rentang perhatiannya pendek, (10) Kesulitan dalam mengingat kata-kata, (11) Kesulitan dalam  diskriminasi visual, (12) Kesulitan dalam persepsi spatial, (13) Kesulitan mengingat nama-nama, (14) Kesulitan / lambat mengerjakan PR, lima belas Kesulitan memahami konsep waktu, enam belas, dan kesulitan membedakan kanan dan kiri, masih banyak lagi gejala yang lainnya.

Namun Tidak semua anak disleksia menampilkan seluruh tanda / ciri /karakteristik seperti yang disebutkan di atas. Oleh karena itu terdapat gradasi mulai dari disleksia yang bersifat ringan, sedang sampai berat. Selain itu disleksia bukanlah suatu penyakit yang perlu ditakuti karena disleksia hanya merupakan keterlambatan dalam membaca dan menulis karena kebanyakan anak – anak disleksia adalah anak anak yang cerdas seperti  ilmuan terkenal dunia yaitu albert ensteins, Tom Cruise ( actor), Muhammad Ali (petinju), Walt Disney ( pencipta kartun ), Thomas Alfa Edison, penemu bola lampu Winston Chrunchill ( Perdana menteri Inggris) dan John F. Kennedy ( Presiden Amerika Serikat) dan masih banyak lagi yang dulunya merupakan anak disleksia namun akhirnya menjadi orang- orang penting.

Guru dan orang tua sangat berperan untuk perkembangan anak – anak disleksia, karena apabila anak merasa berbeda dan apalagi mendapat lebel-lebel dan cap yang tidak baik, maka hal ini berpengaruh terhadap emosi si anak – anak bisa menjadi pemurung, pendiam, selalu bersedih, menyendiri dan kadang –kadang bersifat brutal.

Kadang guru disekolah merasa serba salah khususnya kelas satu, disatu sisi guru meliat potensi yang lain bagi anak seperti imajinasi yang kuat sehingga menjadi pertimbangan untuk kenaikan kelas namun guru merasa terikat dengan peraturan kalau murid kelas rendah untuk naik kekelas selanjutnya harus bisa baca tulis, hal ini diaminkan oleh wiwik krismita guru SD 09 Ulakan tapakis kelas satu “ saya menjadi dilemma untuk kenaikan kelas ini, ada anak yang menonjol dibidang lain, tapi karena tidak bisa membaca membuat saya bingung….. karena saya paham masa mereka adalah masa bermain, jadi saya tidak terlalu memaksanakan mereka untuk harus bisa menulis baca, jadi waktu ujian bagi yang tidak bisa menulis saya tes dengan lisan, itu yang menjadi pertimbangan saya, agar karakter mereka tidak mati”.

Karena demikian kompleknya keadaan disleksia ini maka guru dan orang tua harus berperan aktif terhadap anak, guru dan orang tua bisa melihat potensi lain dari anak, bisa saja anak lebih berbakat dibidang seni dan olah raga, dan berikanlah  nilai plus untuk mereka untuk potensi ini. Untuk itu diperlukan seorang guru yang kreatif dan inovatif untuk membantu anak-anak disleksia, karena anak adalah hal paling berharga dan merupakan generasi penerus akan kelangsungan bangsa ini.

4 hal wujudkan model pendidikan berkualitas

Siapa yang tidak butuh pendidikan? Sepertinya di zaman modern ini semua orang memerlukan pendidikan. Pengamen jalanan yang masih belia, yang seharusnya menikmati masa kecilnya, jika ditanya apa mau sekolah? Jawabannya pasti mau. Bahkan ada cerita (novel) yang  mengisahkan keyakinan seorang ibu yang tidak pernah mengenyam pendidikan untuk tetap dan gigih menyekolahkan anak-anaknya walaupun, seperti biasa, terkendala masalah uang. Jadi agaknya akan sulit jika kita bertanya pada orang waras pada zaman ini ‘apakah anda tidak butuh pendidikan? Dan dia menjawab tidak’.

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Pendidikan akhir-akhir ini memiliki kemajuan pesat di penjuru dunia. Pendidikan semakin hari semakin maju. Pendidikan dapat diakses langsung maupun tidak langsung, dengan jarak yang sangat jauh. Pendidikan di Era Modern memang berdampak dalam berbagai aspek kehidupan. Namun di negara kita tercinta ini pendidikan terus menuai kontroversi dan permasalahan. Pendidikan formal terbukti belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pengangguran terdidik terjadi dimana-mana. Hal inilah yang membuat proses belajar mengajar harus dikembangkan.

Beban kurikulum yang terlampau banyak katanya menjadikan guru harus berpikir keras supaya semua materi dapat tersampaikan dalam waktu yang tersedia, tanpa mengorbankan pemahaman anak didik. Bayak terlihat guru “mendangkalkan” ilmu, dengan alasan jika memaksakan “lebih dalam” konsekuensinya adalah waktu tidak akan cukup. Dan sepertinya gejala ini dialami oleh banyak rekan kita yang berprofesi sebagai guru, walaupun hal tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan.  Hal tersebut hanya suatu fatamorgana dan kekhawatiran saja, Namur bisa jadi kedepannya jika terus seperti ini, maka orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang bepengetahuan luas tetapi pengetahuannya dangkal. Padahal dalam era globalisasi justru diperlukan orang-orang yang expert dalam satu bidang tertentu, syukur-syukur bisa expert dua bidang sekaligus.

Selama tiga dasawarsa terakhir, dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkembang sangat cepat. Pada tahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233 dengan jumlah murid dan guru sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru (Pusat Informatika, Balitbang Depdikbud, 1999). Jadi dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah SD naik sekitar 300%. Sudah barang tentu perkembangan pendidikan tersebut patut disyukuri. Namun sayangnya, perkembangan pendidikan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan yang sepadan. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat, termasuk yang sangat menonjol adalah: a) ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan, b) ketimpangan kualitas pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar pendudukkaya dan penduduk miskin.

Di samping itu, di dunia pendidikan juga muncul dua problem yang lain yang tidak dapat dipisah dari problem pendidikan yang telah disebutkan di atas, (1) Pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial. (2)  pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang terlalu bersifat text-book saja sehingga pengatahuan seperti dipisahkan dari akar sumbernya maupun aplikasinya.

Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasil yang sifnifikan. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidikan di tanah air kita dapat dikatakan senantiasa gagal dalam menjawab problem masyarakat? Sesungguhnya kegagalan berbagai bentuk pembaharuan pendidikan di tanah air kita bukan semata-mata terletak pada bentuk pembaharuan pendidikannya sendiri yang bersifat erratic, tambal sulam, melainkan lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan penentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam perubahan sosial yang sudah usang. Ketergantungan ini menyebabkan adanya harapan-harapan yang tidak realistis dan tidak tepat terhadap efikasi pendidikan.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi. Mempertimbangkan dan mempersiapkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah kertas putih kosong yang tidak bernoda sedikitpun, tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai dengan implementasi secara maksimal Empat pilar pendidikan yang harus dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) Learning To Know (belajar untuk mengetahui), (2) Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu) (3) Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) dan  (4) Learning To Be (belajar untuk menjadi seseorang)

Learning To Know (Belajar Untuk Mengetahui). 

Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

Mengimplementasikan  “Learning To Know” (belajar untuk mengetahui), Guru seyogyanya dan sejatinya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. Guru dituntut menciptakan suasana yang membangkitkan peserta didik untuk terlibat lebih aktif menemukan, mengolah, dan membentuk pengetahuan atau keterampilan baru. Siswa merupakan subyek belajar (bukan objek belajar) sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.

Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu/berkarya). 

Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan penerapan pembelajaran inovatif, yang dilakukan dengan cara mengakomodir setiap karakteristik dari masing-masing siswa, karena siswa memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar Ada siswa yang mengandalkan kemampuan visual (penglihatan) dalam menyerap materi pembelajaran, juga ada sebagaian siswa yang mengandalkan kemampuan auditory atau kemampuan mendengar, serta kemampuan  kinestetik.  Upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan siswa perlu mendapatkan perhatian lebih, karena hal tersebut diantaranya dapat mengakibatkan proses renovasi mental, yang pada akhirnmya dapat membangun rasa percaya diri siswa.

Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Muatan lokal yang dimaksud diarahkan kepada ketrampilan yang mengetumakan kearifan lokal, karena keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.

Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama).

“Learning To Live Together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) dapat diwujudkan dengan mengimplementasikan kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuh kembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut. Orang yang mengerti bagaimana menjalani “kehidupan”, dia akan paham bagaimana bersikap menjadi orang. Mereka acapkali memakai kejujuran sebagai dasar, menggunakan kebaikan untuk kedamaian. Tidak mempedulikan apakah imbalan “jasa” itu hanya sebuah senyuman, atau hanya sebuah  ucapan “terima kasih” saja, mereka juga akan merasakan puas dan gembira. Persis seperti yang dikatakan pepatah China kuno, “Melakukan hal-hal yang bermakna itu sendiri adalah suatu kenikmatan ter-hadap kehidupan.”

Learning To Be (belajar untuk menjadi seseorang/belajar bertumbuh kembang).

Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

“Learning To Be” (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. Dalam proses belajar, sesuatu harus dilakukan dengan senang hati. Belajar akan efektif, bila dilakukan dalam suasana menyenangkan. Namun, kenyataan yang ada adalah, semakin dewasa seseorang, sekolah ternyata menciptakan sebuah sistem dan situasi belajar tidak menyenangkan

Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. Semoga tahun 2011 menjadi awal kebangkitan dan perubahan dalam dunia pendidikan indonesia, dengan guru menjadi ujung tombak dan agen perubahan terdepan tentunya dengan peran serta dari seluruh komponen masyarakat dan pemerintah indonesia.