Ravika Kawan SLI

3 Alasan Menjadi KAWAN SLI

Tak pernah terfikirkan saat ini bisa menginjakan kaki di Bumi Sriwijaya. Pernah ketika ditanya oleh teman “setelah kuliah mau kemana?” dan dengan spontannya menjawab “ke Palembang”. Tidak terlintas sama sekali untuk ke Bumi Sriwijaya, tapi Tuhan berkehendak lain, Dia mengabulkan ucapan pertama yang disebutkan. Dan sekarang telah hampir 10 purnama berada di Bumi Sriwijaya.

KAWAN SLI (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia), Dompet Dhuafa, kata-kata yang sangat asing untuk didengar dan dengan persepsi awal akan bekerja apalah itu “dhuafa”. Tetapi dengan semangat optimis tetap berani melanjutkan pendaftaran untuk menjadi KAWAN SLI 2. Sampai saat ini masih ada kenangan dan terpatri di sudut memori tentang seleksi pendaftaran yang sangat menarik, baru seleksi saja sudah kenal orang satu Sumatra Barat, apalagi kalau lolos ya pasti kenal se-Indonesia.

KAWAN SLI merupakan pemuda pemudi pilihan yang dipilih oleh lembaga Dompet Dhuafa untuk meningkatkan kualitas sekolah, yang diilih secara profesional melalui proses seleksi secara nasional. Menjadi KAWAN SLI merupakan bagian terunik yang pernah dilalui, baik susah, senang, lelah maupun bahagia sebahagianya. Menjadi KAWAN SLI itu sangat menarik untuk dilalui, ketika harus mengikuti pelatihan intesif bahkan ketikan menghitung purnama di penempan.

Satu yang menjadi penekanan di dalam diri dan itu akan tersimpan untuk waktu yang tak terhingga dari ucapan seorang pengelola ketika pelatihan intensif yaitu jadilah karyawan Allah, karena semuanya dari Allah dan akan kembali kepada Allah. Ketika memperoleh apa yang diharapkan maka bersyukurlah, sedangkan ketika belum memperolehnya maka selalu berusaha dan jangan berburuk sangka kepada Allah. Dan aku selalu bersyukur sudah menjadi KAWAN SLI, hingga mampu merangkai mimpi-mimpi satu per satu.

Menjadi KAWAN SLI adalah pilihan awal yang benar setelah melewati beberapa halangan. Karena dengan menjadi KAWAN SLI bukan hanya KAWAN “teman” se-Indonesia yang dimiliki, tetapi ilmu-ilmu baru juga didapat dengan melalui pembekalan secara intensif 2 bulan. Dengan KAWAN SLI, saya tau pendidikan, suku, bahasa maupun kearifan lokal daerah penempatan yaitu Bumi Sriwijaya. Dan masih banyak lagi, hingga merangkum menjadi 3 alasan menjadi KAWAN SLI yaitu:

  1. Menjadi KAWAN SLI saya bisa menjadi bersyukur. Karena tidak semua orang bisa lolos menjadi KAWAN SLI. Dan bahkan tanpa KAWAN SLI saya tidak akan mampu menginjakan kaki di Bumi Sriwijaya. Selain itu, saya tau ternyata masih ada pola pendidikan unik yang dilakukan setiap daerah sesuai dengan kearifan lokal yang dimiliki. Saya bersyukur masih mendapatkan rahmatNya, hingga mampu melewati 10 purnama dengan berbagai cerita dan pengalaman unik disini.
  2. Menjadi KAWAN SLI saya melewatkan batas yang dibuat sendiri. Hal yang paling susah untuk pendiam yaitu berbicara, sedangkan diam paling susah untuk pembicara. Saya seorang yang pendiam, dan misi saya dari awal program SLI yaitu mampu public speaking.  Walaupun saya belum mampu dan sebaik KAWAN yang lain, tapi saya mampu melampaukan batas dan keluar dari zona nyaman untuk berani bicara di depan umum. Deg-degkan wajar untuk menit-menit awal, tapi lama kelamaan itu menjadi candu untuk bisa public speaking, dimana KAWAN SLI harus mampu mengisi pelatihan bersama guru, kepsek dan orangtua siswa.
  3. Menjadi KAWAN SLI saya mampu menambah pengalaman dan belajar lagi. Baik itu pengalaman pahit maupun pengalaman manis itu akan tetap terkenang. Kata ayah “carilah pengalaman selagi kamu masih muda, dan setelah tua maka ceritakan pengalamanmu untuk memotivasi anak cucumu”. Meskipun awalnya saya dinyatakan tidak lolos KAWAN SLI 2, tetapi saya dapat pengalaman bahwa untuk menjadi bagian suatu lembaga harus melewati seleksi yang profesional. Dan ketika dinyatakan lolos itu akan menjadi pengalaman terbaru buat saya untuk menginjakan kaki di pulau Jawa. Serta ketika di penempatan saya belajar banyak hal yang tak akan saya temui di bangku pendidikan formal dan karifan lokal setiap daerah itu unik untuk pelajari.

Tidak ada paksaan ketika memilik menjadi KAWAN SLI. Semua mengalir seperti air, dan setiap saat memiliki cerita unik seperti gelombang lautan. Dan sepertinya ini candu untuk menjadi karyawan Allah. Mimpi saya mulai terwujud dengan menjadi KAWAN SLI dapat memajukan pendidikan Indonesia, dan mimpi itu masih akan tetap berkibar hingga saatnya tiba.

Kontributor : Ravika (KAWAN SLI penempatan Ogan Ilir)

Ingin seperti Ravika yang mampu mengabdi sekaligus mengembangkan kapasitas diri?
.
Daftarkan dirimu segera menjadi KAWAN SLI angkatan 3 di http://www.makmalpendidikan.net/kawan-sli/Masih ada waktu sampai tanggal 31 juli 2019.

Belajar Literasi mencegah Hoax

Kemampuan Literasi bisa cegah hoax

Dalam bahasa latin, istilah literasi disebut sebagai literatus, artinya adalah orang yang belajar. Selanjutnya, National Institut for Literacy menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan literasi adalah kemampuan seseorang untuk membaca, menulis, berbicara, menghitung dan memecahkan masalah pada tingkat keahlian yang diperlukan dalam pekerjaan, keluarga dan masyarakat. Kata “literasi” adalah kata serapan, seiring berkembangnya zaman makna tersebut juga semakin berkembang ada yang mendefinisikan literasi adalah melek baca dan tulis, ada juga yang mendefinisikan bahwa literasi adalah kemampuan membaca dan mengimplementasikan apa yang dibacanya dalam kehidupan sehari-hari guna untuk memecahkan suatu masalah yang sedang terjadi di suatu lingkungan.

Literasi menjadi sangat penting seiring dengan perkembangan zaman yang serba cepat dan instan, semua information mudah didapatkan tidak perlu lagi menunggu koran atau menonton televisi dirumah. Namun, dengan gadget pribadi dapat mengakses berjuta-juta informasi. Hal ini membuat timbulnya berita yang tak bertanggung jawab, simpang siur bahkan menjadi hoax. Kejadian ini sering sekali dirasakan oleh masyarakat terlebih mereka tidak mengecek kebenerannya terlebih dahulu dan hanya langsung membagikan tanpa menelaah terlebih dahulu. Ketika mendapatkan informasi salah maka akan menjadi masalah pagi pembaginya akibat kurangnya pemahaman budaya literasi di masyarakat.

Pemerintah sudah mulai bergerak untuk mengatasi persoalan minat baca dan literasi tersebut. Hasil sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2015 yang merupakan tahun pertama Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015—2019 memperlihatkan jumlah penduduk dengan buta aksara di Indonesia tinggal 5.629.943 orang atau 3,49%. Sementara itu, data BPS dan PDSPK tahun 2015 memperlihatkan tingkat melek aksara masyarakat Indonesia usia 15—59 tahun sebesar 96,51%. Dengan berbagai program pemberantasan buta aksara yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud)

Pemerintah pusat maupun daerah telah mengiatkan kegiatan Gerakan literasi nasional (GLN). Gerakan ini meliput gerakan literasi sekolah, gerakan literasi keluarga dan gerakan literasi masyarakat. Budaya literasi juga dapat kita implementasikan pada kehidupan sehari-hari. Sebagai masyarakat pembaca berita, kita harus cerdas menyeleksi dan menganalisis bahan bacaan yang ada, membaca dari media resmi yang berkualitas tinggi dan mempunyai nilai pengetahuan yang tinggi.

 Dalam pelaksanaannya diperlukan peran pemerintah dalam menyediakan sarana dan prasarana yang memadai dalam menunjang keberlangsungan budaya literasi di masyarakat. Dengan ini, pemerintah dan lembaga yang terkait diharapkan agar mendukung penuh dan memfasilitasi masyarakat agar mau dan mudah untuk mendapatkan sumber bacaan dan tulisan yang baik. Seperti halnya Dompet Dhuafa Pendidikan menyediakan inkubasi bagi para penggiat Literasi. Program inkubasi tersebut bertujuan untuk membina para pegiat literasi. Dengan demikian, jika semua berperan, maka akan lebih mudah menyelesaikan permasalahan budaya literasi di masyarakat, sehingga angka hoax bisa ditekan. (BZ)

Bunda Namira, sang penakluk hati

Bunda Namira, sang penakluk hati

“Bun, Bunda Namira sudah datang, belum?”

“Bun, hari ini Bunda Namira kan yang ngajar kami?”

“Bun, Bunda Namira masuk kan, Bun?”

Pertanyaan bernada sama biasanya akan terulang lagi kurang dari waktu tiga menit. Hampir setiap hari kantor kepala sekolah akan menerima pertanyaan seperti itu dari murid kelas III.B MIS Azrina yang terkenal ‘istimewa’. Hampir semua guru yang pernah masuk ke kelas ini mengeluh pusing menghadapi siswa-siswanya. Bahkan ada yang mengaku trauma dan tidak mau lagi bila diminta mengisi kelas III.B. Tantangan pertama masuk di kelas ini adalah ‘penolakan nyata’ dari beberapa siswa yang tidak mau belajar kecuali dengan Bunda mereka. Terkadang ada juga seorang siswi menangis di pojokan kelas. Entah apa sebabnya dan ia tidak mau ditenangkan. Beberapa siswa lainnya sibuk dengan dunia masing-masing. Ada yang bising berdebat di dalam kelompoknya. Suasana kelas menjadi riuh tak terkendali hingga pemilik kelas datang. “Bundaaaaa,” sorak mereka penuh bahagia.  

Ya, beliaulah Bunda Namira, peraih hati siswa kelas III.B, kelas istimewa MIS Azrina. Saat ditanya bagaimana tips menghadapi siswa dengan beragam perangai, Bunda Namira mengaku tak ada hal spesial yang dilakukannya.

“Awalnya saya juga merasa kesulitan menghadapi siswa-siswa saya ini, tetapi kemudian saya mencoba mengenal karakter masing-masing anak dan harus berpandai-pandai menarik perhatian, misalnya dengan cara memberikan kejutan-kejutan yang menyenangkan dan mendatangkan kesan bagi mereka. ”

Lebih lanjut beliau menambahkan bila sudah bisa meraih hati anak-anak, maka hal yang perlu dilakukan selanjutnya adalah mengenalkan mereka dengan aturan yang berlaku. “Kalau perlu aturan tersebut dibuat bersama agar mereka berkomitmen dalam melaksanakannya.” Siswa kelas III.B bahkan takut menyakiti perasaan guru kesayangan mereka ini. Setiap mereka merasa melakukan kesalahan maka berbagai upaya akan dilakukan agar Bunda mereka tidak marah, salah satunya dengan menulis surat. Tak heran bila kemudian Bunda Namira sering menerima surat cinta dari siswa kelas III.B. Tidak hanya surat permintaan maaf, banyak juga surat yang berisi ungkapan perasaan sayang mereka.  

Kontributor : Fitriani (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia angkatan 2)

Duta Gemari Baca Terpilih Menjadi Finalis Duta Bahasa Provinsi Banten

Duta Gemari Baca Terpilih Menjadi Finalis Duta Bahasa Provinsi Banten

BOGOR-Acep Lukman Nul Hakim, salah satu Duta Gemari Baca Batch 4 Dompet Dhuafa Pendidikan terpilih menjadi Finalis Duta Bahasa Provinsi Banten 2019. Pada ajang tersebut, Acep hadir sebagai perwakilan dari delegasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pemilihan Duta Bahasa ini berlangsung pada Sabtu-Minggu (15-16/6) di Hotel Puri Kayana Kota Serang.

Pemilihan Duta Bahasa Banten merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Banten. Duta Bahasa yang terpilih diharapkan mampu menjadi pelopor pengutamaan Bahasa Indonesia di ruang publik. Selain itu, dapat memberikan kampanye literasi dan pelestarian bahasa daerah. Hal ini selaras dengan apa yang Acep lakukan selama berperan sebagai Duta Gemari Baca untuk Dompet Dhuafa Pendidikan.

Duta Bahasa dipilih setelah melalui beberapa tahap seleksi. Pertama, pada tahap seleksi administratif, terpilih 40 finalis dari 200 lebih peserta. Tahapan selanjutnya terdiri dari Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI), Uji Wawasan Budaya Banten, Uji Wawasan Kebahasaan, Uji Wawasan Berbahasa Asing, Tes Wawancara, Presentasi Program Kebahasaan, serta Unjuk Bakat.

Tahun ini, Acep Lukman berhasil tembus ke babak lima besar. “Banyak sekali pengalaman yang saya dapatkan dengan mengikuti ajang ini. Saya juga bersyukur sekali dapat memiliki teman-teman satu frekuensi literasi. Serta perjuangan saat memasuki 10 besar hingga 5 besar, sungguh sangat berkesan buat saya. Harapan saya, kegiatan ini dapat memupuk kecintaan kita terhadap dunia literasi dan bahasa,” ungkap Acep.

Selamat ya Acep atas prestasi yang telah diraih! Semoga di masa mendatang Acep dapat meraih kesuksesan dan senantiasa menebar kebaikan juga kemanfaatan. Aamiin.

Pendidikan Indonesia

Peran KAWAN SLI meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia

Apa itu pendidikan?

Menurut UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Kenapa pendidikan itu sangat penting?

Secara singkat pendidikan dinilai sangat penting dan menjadi basic power bagi pertumbuhan bangsa karena pendidikan dapat menciptakan manusia yang berkualitas, berintelektual dan jauh dari kebodohan. Lalu mungkin muncul pertanyaan baru, untuk apa manusia yang berkualitas?. Sumber daya manusia (human capital) merupakan aset utama dalam membangun suatu bangsa. Ketersediaan sumber daya alam yang melimpah tidak akan mempunyai kontribusi yang cukup bagi pertumbuhan bangsa, tanpa didukung oleh adanya sumber daya manusia (human capital) yang berkualitas. Dengan demikian, peningkatan kualitas suatu bangsa sesungguhnya bertumpu pada peningkatan kualitas sumber daya manusianya, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia tersebut hanya dapat peroleh melalui penekanan pada pentingnya pendidikan. Ini pertanda bahwa pendidikan mempunyai kontribusi yang sangat besar dan signifikan dalam meningkatkan kualitas dan mutu suatu bangsa.

Pendidikan merupakan sarana strategis untuk meningkatkan kualitas suatu bangsa, karenanya pendidikan menjadi barometer untuk melihat dan mengukur kualitas bangsa. Oleh sebab itu kualitas dan mutu pendidikan harus diperhatikan.

Berbicara tentang kualitas pendidikan, hari ini kualitas pendidikan kita menurun, karena diserang oleh beberapa masalah, masalah2 tersebut seperti; rendahnya kualitas kepemimpinan sekolah, kurang baiknya kepemimpinan pembelajaran dan budaya sekolah, sarana dan prasarana yang tidak memadai, termasuk kurangnya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak-anaknya. Selain itu rendahnya kualitas guru menjadi masalah serius yang mesti segera diatasi. Guru berperan penting dalam mengajarkan, membimbing, melatih dan memperhatikan perkembangan siswanya dalam belajar. Namun saat ini guru-guru di Indonesia pada umumnya masih kurang kompeten dalam mengajar, mendidik dan melatih siswanya. Sehingga output yang dihasilkan setiap tahun pun sangat rendah.

Sepertinya Indonesia belum menganggap pendidikan sebagai faktor kunci keberhasilan sebagaimana negara lain. Ini terbukti dari lambatnya kemajuan pendidikan yang disebabkan karena kurang perhatian terhadapnya. Pendidikan sebagai kunci peningkatan kualitas bangsa masih di pandang sebelah mata oleh pihak-pihak pengambil keputusan. Banyak pihak yang mengkhutbahkan esensi pendidikan dalam kehidupan bernegara tapi hanya sedikit yang mau bergerak untuk peningkatan kualitas pendidikan tersebut. Para politisi di Indonesia seringkali menyebut pendidikan sebagai kebutuhan pokok negara, tapi ungkapan itu hanyalah sebuah lips service (omongan belaka). Pemerintah masih setengah hati untuk berpihak pada sektor pendidikan, dan kurang mau belajar dari negara-negara tetangga untuk menumbuhkembangkan bidang pendidikan di tanah air.

Untuk mengoptimalkan kontribusi pendidikan terhadap peningkatan kualitas bangsa Indonesia, semua pihak mempunyai kontribusi yang penting, apakah pengelola pendidikan itu sendiri, termasuk swasta, pemerintah, atau masyarakat pada umumnya. Mantan menteri pendidikan Bpk. Anies Rasyid Baswedan mengatakan,

“mendidik bukan saja tugas guru, tapi tugas semua insan yang pernah terdidik”.

Dalam hal pengelola pendidikan selayaknya industri pendidikan harus dipandang sebagai noble industry (industri mulia), yang harus dikelola secara profesional dengan berorientasi pada kualitas pendidikan dan sesuai dengan tujuan mulia pendidikan itu sendiri, yaitu untuk menciptakan manusia yang bermartabat dan berakhlak mulia. Pemerintah di sisi lain harus pula mempunyai komitmen kesungguhan untuk berpihak pada kemajuan pendidikan, demikian pula dengan masyarakat harus menyadari akan pentingnya pendidikan bagi masa depan bangsa ini. Pendidikan merupakan investasi jangka panjang yang sangat bernilai bagi peningkatan kualitas bangsa Indonesia. Dengan demikian bidang pendidikan merupakan tanggung jawab dari semua pihak yang berkepentingan, dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan secara berkesinambungan, guna mewujudkan bangsa ini agar menjadi bangsa yang lebih maju.

Peran Sekolah Literasi Indonesia

Berawal dari besarnya perhatian dan kepeduliannya terhadapa pendidikan bangsa ini, Sekolah Literasi Indonesia hadir untuk melakukan ikhtiar dalam mewujudkan model sekolah berkualitas yang berkonsentrasi pada peningkatan; kepemimpinan sekolah, system pembelajaran dan budaya sekolah dengan kekhasan literasi.

Diharapkan dengan melakukan perbaikan pada tiga hal diatas akan mampu menciptakan kualitas pendidikan yang baik bagi bangsa ini. Sekolah literasi Indonesia meyakini bahwa perbaikan pada kualitas pendidikan merupakan awal kemajuan bangsa.

Dalam rangka upaya peningkatan kualitas pendidikan tersebut sekolah literasi Indonesia melakukan pengkaderan pendamping sekolah atau yang biasa disebut KAWAN SLI, yaitu konsultan relawan Sekolah Literasi Indonesia yang akan ditempatkan di wilayah program selama satu tahun, Kawan SLI adalah para sarjana yang telah diseleksi dari berbagai daerah dan mereka telah mendapatkan pembinaan / pembekalan selama lebih kurang 2 bulan dari pengelola SLI agar mereka mempunyai kompetensi dan keahlian dalam menjalankan program SLI yang diamanahkan kepada mereka.

Untuk saat ini Sekolah Literasi Indonesia sedang  melakukan  pendampingan kepada 48 sekolah yang tersebar di 23 kota-kabupaten seluruh Indonesia. Pendampingan tersebut semata-mata bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dengan memberikan pelatihan pelatihan dan pembinaan kepada kepala sekolah dan guru di sekolah program.

Sejarah membuktikan bahwa negara-negara maju seperti Amerika, Inggris, Rusia, Jepang, Cina, dan juga India menjadi maju karena negara-negara tersebut membangun pondasi pembangunannya melalui sektor pendidikan. Mereka membangun sistem pendidikan yang berkualitas. Cina dan India sekarang telah menjadi negara besar yang tumbuh berkembang setelah kualitas sumber daya manusianya maju (Muhammad Surya dalam Pikiran Rakyat 28 Juni 2003). Di lain sisi, pendidikan di Indonesia belum memberikan perhatiannya kepada peningkatan sumber daya guru.

Tidak ada suatu negara maju di dunia ini yang tidak menitikberatkan sektor pendidikan dalam membangun negara dan bangsanya. Negara-negara maju telah membuktikan bahwa, pendidikan mempunyai kontribusi yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas bangsanya. Pendidikan merupakan sumber dari segala sumber kemajuan suatu bangsa, karena dengan melalui pendidikan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa tersebut dapat ditingkatkan.

Keberhasilan negara-negara lain untuk melepas diri dari ketertinggalan dan keterbelakangan tersebut mestinya dijadikan pelajaran oleh bangsa Indonesia. Jika negara-negara lain menjadi kuat dan maju dengan menitik beratkan serta mengutamakan kualitas pendidikan, maka Indonesia pun harusnya melakukan hal yang sama. Jika bangsa ini menjadikan sektor pendidikan sebagai kunci keberhasilannya, maka Indonesia akan mendapatkan kesempatan yang sama seperti negara-negara lain yaitu menjadi bangsa maju dan bermutu tinggi.

Penulis : Anas Ardiansyah (KAWAN SLI)

Employee Gathering DD Pendidikan

DD Pendidikan Berikan Kesempatan Perempuan Menjadi Pemimpin

Bogor,(24-4). Teruslah kamu bermimpi, teruslah untuk bermimpi, bermimpilah selama kamu bisa bermimpi! Jika tanpa mimpi, apakah jadinya hidupmu! Kehidupan yang sebenarnya sangatlah kejam itulah pesan R.A. Masih dalam suasana peringatan Hari Kartini Dompet Dhuafa Pendidikan membagikan infografis bulan April 2019 dengan tema kartini Muda 2019. Menurut rilis yang dikirimkan oleh Marketing Komunikasi DD Pendidikan Nurhayati Rospitasari kepada redaksi, DD Pendidikan merupakan lembaga yang mendorong perempuan untuk berkarir, menjadi pemimpin dan berkontribusi bagi masyarakat.

” DD Pendidikan merupakan lembaga yang mendorong perempuan untuk berkarir dan berkontribusi bagi masyarakat. Karyawan DD Pendidikan berjumlah 139 orang dengan 39 diantaranya perempuan. Dua perempuan diantaranya memegang jabatan strategis sebagai general manager dan kepala sekolah yang memimpin puluhan laki-laki, ungkap Nur.

“ Bahkan direktur DD Pendidikan dan GM Pendidikan DD sebelumnya disandang oleh perempuan. DD Pendidikan berkomitmen untuk memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada perempuan untuk memberikan kontribusi terbaik tanpa harus meninggalkan tugas utamanya sebagai istri, ibu bagi anak-anaknya. DD Pendidikan menyediakan fasilitas yang mendukung perempuan yang bekerja diantaranya ruangan khusus menyusui, tempat penyimpanan ASI sementara, daycare dan PAUD untuk anak-anak,” jelas Nur.

“ Kata-kata Kartini banyak memberikan inspirasi dan momentum bagi kaum wanita untuk menyejajarkan hak untuk maju dan mendapatkan pendidikan yang sama dengan kaum pria. Seseorang yang berani mendobrak tradisi pada masanya dan membawanya hingga masa kini,” ujar Nurhayati Rospitasari Supervisor Marketing Komunikasi Dompet Dhuafa Pendidikan.

“Kini, kaum perempuan mendapatkan ruang yang sama untuk beraktualisasi dan berkarya serta memiliki peran penting di dunia luar. Salah satunya di lembaga sosial kemanusiaan Dompet Dhuafa Pendidikan,” kata Nur panggilan akrab ibu dua anak ini.

DD Pendidikan merupakan salah satu jejaring Dompet Dhuafa yang mengelola program pendidikan dengan penerima manfaat di seluruh wilayah Indonesia dan luar negeri. (AEM)

Cara untuk tingkatkan kedisiplinan guru

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia, semua pihak perlu terlibat aktif dalam pelaksanaannya. Bukan hanya sekolah beserta staff di sekolah saja yang terlibat namun perlu melibatkan masyarakat sekitar dan pemerintah. Komitmen dan semangat kesemua pihak tersebutlah yang akan menentukan seberapa jauh perbaikan pendidikan yang dapat kita lakukan. Kita semua harus sama-sama merasakan, sama-sama berpikir, dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan negara kita.

Sudah sebulan lamanya kami berada di Kabupaten Halmahera Selatan, kabupaten yang memiliki pemandangan indah ini. Kami adalah dua orang Kawan SLI yang dipindahtugaskan dari lokasi penempatan sebelumnya yakni di perbatasan Indonesia-Malaysia, Sanggau di Kalimantan Barat dan penempatan Indragiri Hulu di Riau. Setelah melaksanakan program Sekolah Literasi Indonesia di penempatan kami sebelumnya yang lamanya sekitar 6 bulan, kami dipindahkan ke Halmahera Selatan untuk melaksanakan program baru yakni SLI transformasi. Dengan adanya kami berdua di kabupaten yang terkepung lautan ini, total ada tiga orang Kawan yang menjadi konsultan pendidikan di sini. Membersamai seorang Kawan yang telah duluan hadir di sini.

Selama enam bulan ke depan kami akan melaksanakan serangkaian kegiatan peningkatkan kualitas pendidikan di kabupaten ini. Tahapan kegiatan program SLI Transformasi adalah:melaksanakan pendaftaran dan sosialisasi kepada calon sekolah dampingan, melaksanakan school visit (kunjungan ke sekolah), melakukan pembinaan, serta melakukan pendampingan kepada sekolah dampingan.

Pekan ini kami masih berada pada tahap kunjungan ke sekolah. Mulai dari pagi hingga sore hari kami akan mengunjungi sejumlah sekolah untuk melihat kesungguhan dan komitmen sekolah dalam memajukan pendidikan di sekolah. Rutinitas harian yang demikian membuat kami dapat menyaksikan sendiri program-program yang ditawarkan sekolah dalam mencerdaskan anak bangsa. Beberapa contoh di antaranya adalah SDN 73 Halmahera Selatan yang melaksanakan program yang disebut pembiasaan “salam semut” yakni kegiatan membiasakan siswa untuk melakukan salim cium tangan kepada orang yang lebih tua seperti guru dan orangtua.

Pembiasaan lain juga dilakukan oleh SDN 12 Halmahera Selatan. Untuk mendidik siswa-siswi supaya menjadi anak yang religius, sekolah membiasakan siswa untuk membaca surat pendek al-Quran dan dzikir sesaat sebelum pulang sekolah. Pembiasaan-pembiasaan seperti inilah yang merupakan contoh usaha kita di dalam menciptakan generasi yang berakhlak baik dan religius.

Tidak hanya itu, ternyata pemerintah setempat juga membuat sebuah gebrakan dengan menjalankan program yang kiranya bertujuan untuk mewujudkan Aparatur Sipil Negara (ASN) yang disiplin. Program tersebut adalah apel kedisiplinan. Selama seminggu kami rutin melakukan kunjungan ke sekolah, kami jadi sering melihat pelaksanaan program yang dicanangkan pemerintah ini.

Setiap pagi dan siang hari, sekolah diminta untuk melaksanakan apel bersama seluruh staff sekolah dan siswa. Saat pelaksanaan apel kedisiplinan ini, sekolah diminta untuk mendokumentasikan pelaksanaannya lalu dikirim ke grup koordinasi dinas terkait. Dalam pelaksanaan apel ini, sekolah harus mengirimkan foto dokumentasi tidak melebihi waktu yang telah ditentukan. Tidak sampai di situ, semua dokumentasi yang dikirim harus dijadikan laporan yang tercetak. Jika ditemukan ASN dalam hal ini staff sekolah yang sering terlambat maka dinas terkait akan melakukan tindakan terhadap ASN bersangkutan.

Memang terlihat sederhana, hal sederhana inilah yang memberikan dampak yang sangat besar. Guru-guru menjadi lebih rajin untuk hadir tepat waktu. Meminimalisir adanya kesalahpahaman antara guru dan kepala sekolah karena penanganannya langsung ditindak oleh dinas terkait, serta menjadi sarana pengawasan dan kontrol yang hemat biaya dan tenaga bagi dinas terkait. Program-program seperti inilah yang sangat ditunggu kehadirannya dalam melakukan perbaikan pendidikan kita. Program-program yang melibatkan banyak pihak yang diawali dengan kita semua sama-sama merasakan, sama-sama berpikir, dan sama-sama bekerja untuk meningkatkan kualitas pendidikan negara kita.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian, Kawan SLI Halmahera Selatan

Duta Gemari Baca 5, Literaksi : Bukan Sekadar Narasi

Tentu kamu pernah dengar tentang survei yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) yang menyatakan bahwa tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara (Most Literate Nation, 2016). Sedangkan UNESCO mengatakan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,1% atau dengan kata lain dari 1000 orang hanya 1 yang membaca. Realita ini menunjukkan masih rendahnya budaya literat masyarakat Indonesia secara komprehensif. Penyelesaian bagi permasalahan ini tentu bukan hanya menjadi tanggung jawab stakeholder pendidikan, dibutuhkan peran strategis dari setiap warga negara untuk menumbuhkan kesadaran literasi di masyarakat, tak terkecuali bagi pemuda.

Bertumbuhnya gerakan kerelawanan di Indonesia yang banyak digawangi oleh pemuda rasanya menjadi oase di balik realita rendahnya tingkat literasi di Indonesia ini. Pun di bidang literasi  pemuda sebagai agen perubahan memiliki potensi besar dalam tranfer pendidikan literasi di masyarakat.

Demi memperluas kebermanfaatan dalam memberikan aksesibilitas terhadap kegiatan literasi di berbagai daerah, Jaringan Literasi melalui Duta Gemari Baca hadir untuk mendukung peran pemuda dalam upaya menebarkan semangat literasi dan meningkatkan minat baca masyarakat dengan meningkatkan kapasitas dan kemampuan dalam bidang literasi.

Duta Gemari Baca batch 5 dengan tajuk “Literaksi : Bukan Sekadar Narasi” menjadi wujud aksi nyata pemuda dalam turut berkontribusi dalam meningkatkan minat dan budaya masyarakat Indonesia. Anak-anak muda yang telah mendapatkan pengembangan kapasitas literasi dari Dompet Dhuafa diharapkan mampu menjadi duta-duta yang akan membawa gerakan gemari baca di daerah masing-masing. Oleh karena itu, penguatan di bidang literasi diberikan sebagai bekal bagi masing-masing duta dalam menjalankan perannya dalam mengembangkan literasi di masyarakat.

Selama tiga hari Duta Gemari Baca akan mendapatkan pelatihan intensif yang akan membangun kesadaran, penanaman nilai, enggagement dan keterampilan bidang literasi. Berbagai materi dengan pembicara yang kompeten di bidangnya menjadi kesempatan dalam mengembangkan potensi masing-masing duta, baik di bidang kepenulisan, fun literacy, maupun pengembangan jaringan. Dengan bekal-bekal ini Duta akan membangun inovasi gerakan literasi di daerahnya yang harapannya mampu mendekatkan aksesibilitas literasi bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Yuk, wujudkan aksi nyatamu dengan bergabung menjadi Duta Gemari Baca di http://bit.ly/DutaGemariBaca5

Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Siswaku adalah Polwan

Mungkin pembaca masih mengingat mengenai dua potong seragam pramuka yang kekecilan. Dua potong seragam pramuka itu jatah bantuan untuk dua orang murid perempuanku. Ukurannya terlalu kecil untuk tubuhnya jadilah seragam itu hanya tergeletak di ruang kelas. Jika diamati maka kita bisa melihat lapisan debu disekitarnya. Ini masih sambungan dari kisah dua potong baju pramuka itu dan pemiliknya.

Aku merasa kasihan dengan dua siswiku itu. Di hari-hari biasa mereka tetap menggunakan pakaian putih merah yang sudah lusuh meskipun bukan hari senin atau selasa. Aku paham hal itu tidak sesuai dengan keadaan mereka bahwa kedua siswiku itu tidak memiliki baju pramuka yang pas. Sama pahamnya aku ketika menyaksikan siswa-siswaku yang lain yang tidak memakai sepatu, kaus kaki, memakai baju putih saja tanpa celana merahnya, memakai kemeja pramuka tanpa celana kain coklatnya, atau bahkan tidak memakai seragam sekalian. Hanya sebuah tas yang digendong di punggung dan dirinya yang dibalut pakaian sehari-hari. Pemandangan unik yang menjadi terasa biasa bagiku.

Hingga akhirnya aku berinisiatif untuk mengusahakan baju seragam pramuka untuk dua muridku itu. Seperti yang telah kuceritakan pada kisah sebelumnya, aku mengambil dua pasang baju pramuka lalu kubawa ke pasar Soegih Belilas untuk ditukar. Namun sayang ternyata tidak ada yang mau menukarnya dengan seragam yang lebih besar padahal saya sudah menyampaikan bahwa ini untuk siswa pelosok. Aku pulang dengan tangan kosong.

Waktu berlalu lama hingga aku kembali resah dengan dua siswiku itu. Kucoba lagi mengantar dua seragam itu untuk di tukar di hilir. Kali ini di pasar seberida. Pasar yang lebih dekat dengan lokasi penempatanku bahkan masyarakat di penempatan saya selalu berbelanja di sini. Warga pasar dan Dusun Nunusan sudah saling kenal akrab. Awalnya saya menemukan bahwa ada saja yang menolak menerima menukar baju seragam itu. Waktu itu aku datang terlambat ke pasar itu. Beberapa lapak sudah tutup. Keadaannya sudah sepi. Penjual dan pembeli yang masih bertahan bergerak malas.

Aku nyaris menyerah namun di perjalanan menuju pintu keluar aku menemukan lapak baju terakhir. Kucoba kujelaskan mengenai keadaan kami yang memerlukan baju seragam dan lain-lain. Kali ini pedagang baju yang sedang siap-siap untuk menutup lapaknya bergeming sesaat. Dia berpikir beberapa jenak lalu tanggapannya menunjukkan respon positif. Kupikir dia membolehkan aku menukar dua seragam itu dengan seragam yang lebih besar.

Ternyata betul ia mau menukar dua seragam kekecilan itu tapi dengan beberapa syarat berupa tiga pasang seragam pramuka ditukar dengan dua pasang yang lebih besar serta dengan membayar beberapa rupiah. Aku sepakat dan akhirnya kali ini aku berhasil pulang dengan baju seragam yang lebih besar. Siswaku kan memakai seragam yang pas. Untuk ukurannya sendiri ternyata ukuran yang pas adalah seukuran siswa SMP.

Besoknya saya telah berada di Nunusan kembali bertugas dengan mengajari siswa-siswi kesayanganku. Kutaruh dua pakaian pramuka itu di dalam laci kedua siswaku. Kuminta untuk mencarinya lalu mereka kegirangan bukan main mendapati isinya. Langsung mereka coba-coba meski tidak dipakai.

Tahu tidak, beberapa siswaku telah terdaftar sebagai pemilih untuk pemilu presiden 2019. Mereka masih semangat untuk belajar dan semangat itulah yang menjadi motivasi saya yang menyemangati untuk terus mengajar.

Waktu berlalu lagi hingga tiba hari di mana siswa diperkenankan memakai seragam pramuka. Si Isel dan Linda datang. Yang paling besar adalah Isel. Mereka masuk barisan dengan rapi. Kulihat mereka tertangkap mataku hebat sekali seragam itu pas dengan badan mereka. Rapi dan pas sekali. Aku bahagia melihatnya. Kemudian aku terbayang sesuatu mereka mirip polwan dengan seragam kemeja coklat dan berbaris serupa itu. Kemudian aku sedih karena mereka hanya siswa SD yang tidak memiliki kesempatan untuk mengecap SMP dan SMA. Aku bersedih.

Kontributor : Oki Dwi Ramadian (KAWAN SLI Penempatan Indragiri Hulu)

Memilih-Sekolah-untuk-Anak-Berkebutuhan-Khusus

Tata Krama Memanusiakan ABK lewat Kolaborasi Pendidikan

Percayakah kita bahwa setiap manusia yang dilahirkan di dunia adalah karya agung Tuhan yang dilekatkan pada dirinya label spesial. Percayakah kita bahwa setiap anak yang kakinya  berpijak pada tanah memiliki hak yang sama dengan anak lainnya, tumbuh, berkembang, bermain, disayangi, dan mendapatkan pengakuan sebagai warga negara yang mesti dilindungi dan mengecap rasa pendidikan. Karena pendidikan tidak berbicara perihal manusia normal melulu. Bagaimanapun kondisinya, seperti apa mentalnya tetap saja hak tersebut milik setiap anak. Lebih jelasnya kita menyebut perlakuan ini sebagai tata krama dalam memanusiakan manusia.

“Muara dari pendidikan yaitu untuk memanusiakan manusia,” tak ada yang dapat mengelak kalimat tersebut. Tujuannya semata-mata memuaskan akal-akal manusia akan pengetahuan, menyejukkan hati melalui keteladanan terhadap sesama agar hukum rimba tidak bertengger dan hukum keseimbangan tetap kokoh terjaga. Sederhananya formula keseimbangan yang dikemukakan oleh Newton:  aksi = reaksi. Ruas kiri dan kanan akan terus seirama, seberapa banyak energy yang diberikan pada aksi sebanyak itu pula hasil yang dituai pada reaksi. Seberapa banyak pengetahuan dan keteladanan yang kita berikan, kita berharap sebanyak itu pula tumbuh pada diri manusia laiinnya.

Pemenuhan pengetahuan dan keteladanan ini dapat dijawab melalui kolaborasi pendidikan formal dan Informal. Langkah ini adalah langkah terjitu yang dapat ditempuh. Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan formal dan rumah sebagai madrasah pertama bertanggungjawab seutuhnya mengantarkan anak ke gerbang kondisi terbaik.

Hal-hal diatas  dilakukan orang tua Gaga pada Gaga. Gaga adalah anak berpostur tubuh besar dan tinggi yang di lingkungannya diberi cap ABK (Anak Berkebutuhan Khusus).  Setiap yang memandangnya sekilas lantas berasumsi Gaga adalah anak yang duduk di bangku kelas tinggi. Termasuk pandangan awal saya saat kunjungan ke-3 dalam agenda pemutaran video kirim budi, September lalu.  Belakangan saya tahu Gaga adalah anak kelas II.

Pada kenyataannya Ia baru satu setengah tahun mengenyam pendidikan formal di SDN 2 Wanasari Kab.Indramayu Jawa Barat. Orang tuanya memilih pendidikan inklusi, jarak sekolah dan rumahnya cukup dekat jadi alternative pilihan saat itu. Alasannya sederhana agar mereka dapat mengontrol perkembangannya. Hari pertama sekolah dan beberapa bulan berkutnya ibunya selalu mengantar ke pintu kelas, menunggu selama proses pembelajaran hingga bel berbunyi pertanda waktu pulang telah tiba.

Suatu waktu, orang tuanya memindahkan Gaga ke SLB (Sekolah Luar Biasa) namun tak bertahan lama, temponya hanya seminggu. Gaga meminta kembali ke SDN 2 Wanasari . Ia tak ingin belajar dengan ABK lainnya, Ia hanya ingin belajar dari ibu Masnaeni guru kelasnya. Di tengah keterbatasan mental yang membelenggu dirinya Gaga masih leluasa menentukan sekolah, nuraninya jujur berbahasa tempat ternyaman belajar. Tanpa berpikir panjang dan tanpa memaksa Gaga tetap di SLB,  orang tuanya mengikuti keinginannya kembali pindah ke SDN 2 Wanasari.

Indonesia menuju pendidikan inklusi secara formal dideklarasikan pada tanggal 11 Agustus 2004 di Bandung (Rombot: 2017), membuahkan perubahan dan perkembangan dalam diri Gaga. Saya teringat film Taare Zaman Pare  dari India yang menceritakan seorang ABK yang Imanjinatif, kemudian diberi perlakuan khusus dari guru seninya, dibimbing dan dididik hingga Ia benar-benar percaya pada bidang keahliannya. Hal serupa juga diterapkan pada Gaga, saat duduk dibangku kelas I Ibu Masnaeni memberikannya les khusus dalam tempo 2 atau 3 kali dalam seminggu. Alhasil, perkembangannya semakin meningkat. Walaupun tak 100% dapat mengikuti laju perkembangan  teman kelasnya.

Daya ingat, kejelasan berbicara, ketelitian dan perubahan sikap merupakan suatu prestasi yang membanggakan.  Sekarang, Ia merupakan anak dengan daya ingat yang kuat. Ia menghapal semua motor milik gurunya. Pada waktu pagi, jika ada motor guru yang belum datang Ia menuju menanyakan keberadaan guru   tersebut. Ia hapal, setiap hari Jumat ada mata pelajaran agama, oleh karenanya menanyakan guru mata pelajaran agama. Yang awalnya sering menangis seiring perjalanan waktu sikap itu mulai redup, Saat bel masuk berbunyi Ia mengakomodir teman kelasnya untuk masuk di kelas. Yang awalnya diantar jemput, saat ini hanya di jemput. Jika uang jajannya habis, Ia memilih pulang  meminta kepada ibunya dan kembali lagi ke sekolah dibanding menerima uang dari gurunya. Dan ada 1 hal kebiasaan yang melekat pada dirinya yaitu  menyalami dan mencium tangan guru-gurunya saat bertatap muka.

Melihat langsung dan mendengar kisah perkembangan Gaga dari Ibu  kepala SDN 2 Wanasari kita semakin membuka mata bahwa setiap anak itu berbeda, cepat atau lambat pasti akan bisa, ini hanyalah persoalan waktu. Mereka mempunyai bagiannya masing-masing dalam soal kemampuan. Dalam diri mereka ada harta karun yang terkubur, dan tugas orang-orang dewasa yang membersamainya adalah menggali dan menemukannya. Tokoh-tokoh penemu justru banyak dari penyandang ABK  seperti Albert Einstein, Thomas Alfa Edison, dan Wolfgang Amadeus Mozart, misalnya

Dalam lingkungan sekolah anak-anak berkebutuhan khususlah yang akan mengikuti anak-anak normal laiinnya, tidak sebaliknya. Berawal dari sinilah titik perubahan, kolaborasi pendidikan orang tua dan guru menjadi kunci pintu  perkembangannya. Semoga tata krama memanusiakan ABK lewat kolaborasi pendidikan  terus berlangsung dalam proses pendidikan itu sendiri.

Kontributor: Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia DD Pendidikan)

Referensi : Rombot, Olifia. 2017. Pendidikan Inkluisi. (Online) https//pgsd.binus.ac.id/2017/04/10/pendidikan-inklusi. Dikutip 23 Desember 2018

Pic : Google.co.id