Perubahan Media Pembelajaran di Masa Revolusi Industri 4.0

Perubahan Media Pembelajaran di Masa Revolusi Industri 4.0

Oleh: Khabib Anwari, Penerima Manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA)

 

Perkembangan zaman menuntut manusia untuk selalu siap menghadapi perubahan dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu aspek kehidupan manusia yang mengalami perubahan adalah kebutuhan mendapatkan pendidikan. Saat ini pendidikan sudah masuk ke dalam kebutuhan pokok/primer manusia yang harus dipenuhi. Hal tersebut sebagai dampak kesadaran manusia bahwa pendidikan mampu meningkatkan kualitas diri seseorang dan mempengaruhi masa depan.

 

 

Maka dalam penyusunan dasar konstitusi Negara Kesatuan Republik Indonesia dicantumkan tentang jaminan negara kepada rakyat untuk mendapatkan akses pendidikan. Tujuan pendidikan nasional sebagaimana dicantumkan dalam Undang – Undang No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional Pemerintah adalah untuk mengembangkan kemampuan, karakter, dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (Maswan dan Muslimin, 2017: 3).

 

 

Pemerintah sebagai pelaksana kekuasaan negara melakukan berbagai kebijakan dan penanganan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional secara komperhensif. Mulai dari aspek insfrastruktur hingga aspek kebijakan. Salah satu aspek yang diperhatikan oleh pemerintah adalah kurikulum pendidikan. Imam Machali (2014 : 71) menyatakan bahwa perubahan kurikulum pendidikan di Indonesia telah dimulai sejak awal kemerdekaan. Kemudian kurikulum pendidikan yang masih sangat sederhana terus mengalami perubahan dan penyempurnaan yaitu pada tahun 1947, 1952, 1964, 1968, 1975, 1984, 2004, 2006, dan terakhir tahun 2013. Berbagai perubahan tersebut dilakukan berdasarkan analisis, evaluasi, prediksi, serta kemungkinan tantangan internal maupun eksternal yang akan dihadapi di masa depan.

 

 

Kebijakan implementasi kurikulum 2013 yang menggantikan kurikulum 2006 atau sering disebut sebagai kurikulum KTSP nyatanya masih banyak menimbulkan pro dan kontra. Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk mendukung implementasi kurikumum 2013 seperti Bimtek (Bimbingan Teknis), diklat, workshop, bahkan pendampingan kepada guru, pelaksanaan kurikulum 2013 masih belum optimal. Dikutip dari OkeZone.com, Staf khusus Mendikbud Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKMP3) menyatakan bahwa ada tiga hal yang menjadi masalah guru dalam implementasi kurikurum 2013. Salah satunya adalah guru mengalami kesulitan dalam membuat siswa pro aktif karena guru dituntut untuk menjadi fasilitator agar siswa bertanya.

 

 

Di sisi lain, Imam Machali (2014 : 71) juga menyatakan hal yang hampir senada yaitu kurikulum 2013 menuntut siswa mampu menyelesaikan dirinya dengan lingkungan fisik maupun sosial yang terus berubah. Dari fenomena di atas bisa disimpulkan bahwa guru dituntut mengubah cara pendekatan pembelajaran, yaitu dari TCL (Teacher Center Learning) menjadi SCL (Student Center Learning).

 

 

Salah satu hambatan guru dalam mengimplementasikan kurikulum 2013 dengan pendekatan SCL adalah ketersediaan media pembelajaran yang menarik dan mampu mengakomodir siswa untuk berfikir kreatif, inovatif, dan mandiri. Media pembelajaran merupakan alat yang berfungsi untuk menyampaikan pesan pembelajaran (Sanaky Hujair AH, 2015:3). Dengan menggunakan media pembalajaran, guru dapat menyampaikan informasi kepada siswa guna mencapai tujuan pembelajaran dengan efektif dan efisien.

 

 

Para pakar pendidikan menganjurkan untuk menggunakan media yang lengkap dan mampu menyentuh berbagai indra agar membentuk pembelajaran yang berkesan (Nunuk Suryani, dkk. 2018 : 196). Salah satu media tersebut adalah multimedia. Menurut Smaldino, dkk (2008) menyatakan bahwa multimedia merupakan media yang menggabungkan unsur teks, audio, dan visual secara terintegrasi. Pembelajaran berbasis multimedia melibatkan hampir semua unsur indra sehingga siswa dapat belajar dengan mudah dan dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.

 

 

Ada dua jenis multimedia, yaitu multimedia linear (satu arah) dan multimedia interakif (dua arah) (Nunuk Suryani, dkk. 2018 : 195). Multimedia linear tidak dilengkapi dengan alat pengendali dan berjalan secara sekuensial (berurutan) seperti video. Sedangkan multimedia interaktif mempunyai alat pengendali yang dapat digunakan oleh pengguna sehingga pengguna dapat menentukan apa yang ingin dilakukan pada proses selanjutnya. Dengan multimedia interaktif partisipasi siswa akan lebih besar sehingga dapat memahami materi lebih dalam sesuai dengan paradigma konstruktivistik.

 

 

Akan tetapi bukan suatu hal yang mudah untuk membuat media pembelajaran baik. Tidak jarang guru Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) masih mengalami keterbatasan dalam membuat media pembelajaran akibat berbagai factor seperti gaptek atau gagap teknologi dan kesibukan mengurus administrasi sekolah. Akibatnya guru membuat media pembelajaran yang sangat sederhana seperti power point atau bahkan tanpa media sama sekali. Padahal di sisi lain pembelajaran di SMK siswa dituntut untuk memahami berbagai materi dan ketrampilan yang melibatkan hampir semua panca indera karena 70% pembelajaran adalah kelas praktikum. Sehingga peran guru sebagai fasilitator siswa sangat tinggi.

 

 

Revolusi industri 4.0 saat ini menuntut dunia pembelajaran untuk ikut berbenah. Pendidikan pada revolusi industry 4.0 mempunyai cirikhas yaitu pemanfaatan teknologi dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan system siber (cyber system) yang membuat pembelajaran dapat berlangsung secara berkelanjutan tanpa terbatas ruang dan waktu. Salah satu produk pembelajaran dengan cyber system adalah pembelajaran elektronik atau electronic learning (E-Learning). E-Learning merupakan pembelajaran jarak jauh (distance learning) yang memanfaatkan teknologi komputer, jaringan komputer, atau internet baik secara online maupun didistribusikan secara offline seperti menggunakan CD/DVD (Perdana Hevea Bori, dkk. 2004).

 

 

Di sisi lain harus ada standar yang dipenuhi oleh sebuah media pembelajaran agar dapat masuk ke dalam e-learning, yaitu standar SCORM. SCORM atau Sharable Content Object Reference Model adalah standar internasional untuk system pembelajaran media e-learning yang dibentuk oleh United State Departement of Defence (DoD) pada tahun 1999. Dengan kata lain, sebuah media pembelajaran dapat dimasukkan ke dalam system e-learning apabila memenuhi standar SCORM. Ada 3 aspek kriteria utama, yaitu : (1) Interoperability, sistem harus mampu menghubungkan petunjuk – petunjuk yang dapat dimengerti dan diimplementasikan oleh pengembang e-learning. (2)  Accessibility, media dapat diterapkan, dimengerti, dan digunakan oleh banyak pihak. (3) Reuseability, memberikan izin pemetaan/perubahan model yang dikehendaki oleh pengembang.

Benarkah Kejujuran Ialah Wajah Pendidikan Indonesia?

Benarkah Kejujuran Ialah Wajah Pendidikan Indonesia?

Oleh: Purwoudiotomo

 

“BAGAIMANA, Pak, hari ini bisa datang ke sekolah kan?” tanya bu wakil kepala sekolah.

“Mohon maaf, Bu, hari ini saya ada rapat sehingga tidak dapat hadir,” jawabku setengah berkilah. Pagi ini memang ada rapat, tetapi aku sendiri yang mengagendakannya.

“Baik, Pak, terima kasih. Mohon doanya saja,” jawab suara di seberang sana.

Setelah mengucapkan salam, telepon pun ditutup. Giliran aku yang terdiam merenung. Terbayang olehku kesulitan murid-muridku dalam mengerjakan soal, apalagi standar nilai rata-rata setiap mata pelajaran terus naik dari tahun ke tahun. Ingatanku pun kembali ke pembicaraan dengan bu wakasek kurikulum beberapa hari lalu.

“Mohon maaf, Pak, langsung saja. Bapak tentu bisa menilai kemampuan anak-anak kita. Masih jauh di bawah standar. Hasil Try Out terakhir saja hampir tidak ada yang lulus. Jadi, kami ingin meminta kesediaan Bapak menjadi ‘Tim Sukses’ Ujian Nasional,” jelas bu wakasek kurikulum menjawab kebingunganku setelah sedikit berbasa-basi tentang perkembangan kelas yang aku ajar.

Aku terhenyak. Tiba-tiba saja semuanya menjadi jelas. Siswa-siswa belajar semaunya dan tampak ‘tenang’ walaupun hasil Try Out UN mereka masih sangat memprihatinkan. Sedikitnya siswa yang tidak lulus di sekolah ini, justru membuat guru-gurunya sering tidak masuk dan lebih memilih mengajar di sekolah lain. Belum lagi, bu wakasek yang tiba-tiba meminta bicara empat mata.

“Jadi teknisnya, kita dan beberapa guru yang mengampu mata pelajaran yang di-UN-kan akan berkumpul di ruang kepala sekolah untuk mengerjakan soal, untuk kedua tipe soal, baik IPA maupun IPS. Tidak harus menjawab semua soal sih, yang penting cukup membuat siswa lulus,” lanjut bu wakasek.

Aku terdiam. Sebagai guru bantu sementara mata pelajaran matematika, aku tahu benar ke(tidak)mampuan siswa-siswa salah satu SMA swasta di Jakarta ini. Sepertinya aku terlalu lugu. Strategi menyukseskan siswa lulus UN ini pastinya bukan kali pertama, dan besar kemungkinan keterlibatan dari seluruh komponen sekolah, termasuk kepala sekolah dan pengawas, atau bahkan mungkin struktur di atasnya. Ya, masif dan terstruktur.

“Mohon maaf, sepertinya pada hari itu saya ada rapat, Bu. Nanti saya kabari lagi,” jawabku lirih. Banyak yang berkecamuk di pikiranku. Melihat keraguanku, pun agak kecewa, bu wakasek tampak maklum dan tidak memaksa.

Lamunanku buyar mendapati satu pesan masuk di telepon genggamku. “Ternyata soal tidak dapat dibawa keluar, Pak. Kita doakan semoga lulus semua,” begitu bunyi pesan masuk dari bu wakasek kurikulum.

Aku hanya tersenyum, tidak lagi sepolos sebelumnya. Ketika kuceritakan kejadian ini ke salah seorang temanku yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah negeri di Bogor, dia hanya berujar, “Itu sih mendingan, di sekolah saya jawaban malah ditulis di depan kelas”. Dan aku kembali ternganga.

 

Siapa Bilang Relawan Tidak Dibayar?

Siapa Bilang Relawan Tidak Dibayar?

Oleh: Andi Ahmadi, Pegiat Sekolah Literasi Indonesia
Menjadi relawan itu identik dengan bekerja tanpa bayaran. Bahkan, tak jarang justru uang dari kantong pribadi yang dikeluarkan. Sungguh pekerjaan yang tak banyak orang bisa melakukan.
Jika dilihat dari kacamata materi, relawan memang tak mendapatkan ba
yaran. Karena aktivitasnya murni atas dasar kemanusiaan. Namun, jika dilihat dari sudut pandang yang berbeda, menjadi relawan akan mendapatkan bayaran yang sangat berlimpah. Berikut adalah beberapa bayaran yang bisa didapatkkan oleh seorang relawan.
Lingkaran Kebaikan
Orang baik pasti akan dipertemukan dengan orang baik. Begitulah kata orang bijak. Dan nyatanya, hipotesis itu benar adanya. Dalam menjalankan aktivitas sebagai relawan, ada saja orang baik yang akan ditemui. Entah sekadar menjadi teman diskusi, memberikan hidangan saat bersilaturrahmi, memberikan tumpangan transportasi, hingga ada yang sampai menganggap sebagai keluarga sendiri.
Sebagai relawan, kita harus yakin bahwa dari sekian banyak orang yang kita temui, di antaranya pasti ada orang-orang baik yang sefrekuensi. Namun, jika belum juga dipertemukan dengan orang baik, tak ada salahnya kita instrospeksi diri. Jangan-jangan karena niat kita yang belum sepenuhnya baik.
Jaringan yang Luas
Menjadi relawan sudah pasti akan bertemu dengan banyak orang. Mulai dari sesama relawan, aktivis kemanusiaan, komunitas masyarakat yang memiliki kepedulian, para dermawan, hingga pejabat pemerintahan. Dengan jaringan yang luas tersebut, tentu akan bermanfaat bagi seorang relawan. Bukan hanya saat beraktivitas sebagai relawan, tetapi juga bermanfaat untuk dirinya di masa depan. Percaya atau tidak, tidak sedikit orang mendapat rezeki dari jaringan yang didapatkan saat menjadi relawan.
Pengembangan Diri
Salah satu wadah terbaik untuk mengembangkan kapasitas diri adalah di komunitas kerelawanan. Di sana kita akan belajar cara beradaptasi, cara bersosialisasi, cara bernegosiasi, hingga belajar mengembangkan ide-ide kreatif ketika realita tak sesuai dengan ekspektasi. Dan enaknya, belajar di komunitas kerelawanan kita tak perlu takut salah, berbeda dengan saat kita bekerja di perusahaan atau perkantoran. Bagi seorang pembelajar, kesempatan seperti ini jauh lebih berharga dari sekadar materi.
Kebahagiaan Hakiki
Bagaimana perasaan kita ketika melihat orang merasa bahagia dan terbantu dengan apa yang kita lakukan? Kita ikut bahagia bukan? Nah, seperti itulah yang dirasakan relawan. Bagi relawan, kebahagiaan terbesar adalah ketika ia bisa bermanfaat untuk orang lain. Dan tentu saja kebahagiaan seperti ini tak bisa diukur dengan tumpukan uang.
Aliran Pahala
Bayaran terbesar dari seorang relawan adalah aliran pahala yang tak pernah jeda. Seperti yang kita ketahui, ada tiga amal yang pahalanya akan terus mengalir tanpa henti: sedekah jariyah, amal yang bermanfaat, dan doa anak shaleh. Maka, aktivitas kerelawanan bukan hanya tentang membantu sesama, tetapi juga sebagai tabungan pahala yang kelak akan kembali kepada kita.
Dengan segala manfaat kebaikan yang bisa didapatkan, maka menjadi relawan sejatinya adalah sebuah kebutuhan.
Selamat Hari Relawan Internasional

Esensi dari Sebuah Pendidikan Adalah Menkader Anak Didik

Esensi dari Sebuah Pendidikan Adalah Mengader Anak Didik

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie

 

Satu hal utama yang kita usahakan dan doakan dalam hidup ini adalah memeroleh keberkahan. Hidup berkah, pasti penuh makna. Harta berkah, pasti banyak memberi manfaat. Pun dengan sekolah berkah, pasti banyak melahirkan anak-anak didik shalih dan shalihah.

Ya, keberkahan adalah permata kehidupan. Namun, seolah keberkahan perlahan-lahan mulai menjauh dari kehidupan umat ini. Saya ingin memfokuskan pembicaraan ini di tataran lembaga pendidikan (baca: sekolah).

“Ustaz, saya sedang galau nih,” demikian curhat seorang guru.

“Antum galau kenapa?” tanya saya.

“Saya mengajar Pendidikan Agama Islam dan Tahfizh di sekolah. Namun, ketika ada olimpiade dan Ujian Nasional, mata pelajaran saya seringkali dikalahkan untuk memberikan tambahan jam pelajaran bagi mata pelajaran yang diolimpiadekan dan di-UN-kan,” tutur si guru.

Saya hanya menjawab, “Saya khawatir sekolah antum kehilangan berkahnya.”

Terkadang kita keliru dalam memprioritaskan suatu hal dalam kehidupan ini. Contoh di atas adalah salah satunya. Padahal, kita bisa membuat mekanisme agar pelajaran PAI dan Tahfizh tidak menjadi “korban”. Contoh lain, ketika anak-anak digenjot habis-habisan aspek intelektualnya, namun ala kadarnya dalam membina aspek iman dan akhlaknya, maka saya khawatir sekolah seperti ini pun kehilangan berkahnya.

Sama halnya dengan sikap sebagian orang tua masa kini. Pengalaman memimpin sebuah sekolah Islam di Tangerang Selatan menampilkan fakta memilukan. Ketika guru kami menyampaikan kepada seorang wali murid bahwa anaknya “bermasalah” dalam mata pelajaran math, sains, dan english, maka si wali murid langsung sigap berkomitmen, “Saya akan memasukkan anak saya ke bimbel, bu guru.”

Namun, ketika guru kami menyampaikan bahwa anaknya “bermasalah” pada kedisiplinan salat dan menghafal Alquran, si wali murid hanya menjawab santai dan kurang serius dalam bekerjasama membina anaknya dalam aspek shalat dan menghafal Alquran. Maka, dalam hal ini, saya khawatir keluarga wali murid itu kehilangan keberkahan.

Demikian halnya, pada sebuah sekolah elit, manajemen sekolah yang lebih menghormati uang orang tua daripada menghormati guru-gurunya. Sehingga, sekolah menuruti apapun kemauan orang tua siswa dan mengabaikan pertimbangan-pertimbangan guru. Saya juga khawatir sekolah seperti ini kehilangan keberkahan.

Oleh karena itu, kita harus meluruskan kembali paradigma pendidikan agar keberkahan itu hadir di sekolah-sekolah kita. Supaya keberkahan itu juga menyertai anak didik kita. Juga agar keberkahan itu melingkupi semua yang terlibat dalam lembaga pendidikan kita. Beberapa upaya yang bisa dilakukan adalah:

Pertama, utamakan ilmu-ilmu agama. Tujuan kita diciptakan ke bumi adalah untuk beribadah kepada Allah. Menjadi hamba yang ta’at. Maka, bina dan didik anak-anak agar menjadi hamba yang ta’at kepada Tuhannya. Menjaga ibadah dan menampilkan akhlak mulia. Karena itu, ajarkan iman dan tauhid, akhlak dan ibadah, serta ilmu-ilmu agama lainnya. Alquran dan Hadis sebagai fondasinya.

Setelah itu, baru ajarkan ilmu pengetahuan dan skill kepada mereka untuk menjadi khalifah. Karena, tujuan kedua keberadaan kita di bumi setelah beribadah adalah menjadi khalifah. Ajarkan dan latih anak-anak kita agar menjadi expert dibidangnya masing-masing. Dengan demikian, ia bisa berperan memberikan kemaslahatan bagi umat sesuai bidangnya. Berkarir pada profesi apapun nantinya anak-anak kita, ekonom, pengusaha, pejabat, teknokrat, dan lainnya, mereka adalah seorang hamba yang ta’at.

Kedua, menghormati guru (baca: pendidik sejati). Seorang murid harus diajarkan adab dan sopan santun kepada guru. Bukankah kita pernah mendengar sebuah nasihat, “Hormatilah gurumu jika kau menghendaki ilmu yang bermanfaat.” Demikianlah tradisi dari generasi salih terdahulu. Mereka memuliakan para ahli ilmu.

Satu ketika, guru dari putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid mengunjungi istana khalifah karena diundang oleh Khalifah Harun Al-Rasyid. Ketika sang guru tiba, putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid, yakni Al-Makmun dan Al-Amin, bergegas saling berebut membawakan sandal sang guru. Seorang pejabat istana melarang Al-Makmun dan Al-Amin. Dia berpikir tidak pantas putra khalifah melakukan hal seperti itu. Khalifah Harun Al-Rasyid marah dengan ulah pejabat istana itu.

“Jangan kau halangi, putra-putraku untuk menghormati gurunya. Adab kepada guru itulah yang akan mendatangkan keberkahan bagi putra-putraku,” tegas Khalifah Harun Al-Rayid.

Inilah yang mesti kita sadari bahwa esensi dari sebuah pendidikan adalah mengader anak-anak didik yang ta’at kepada Allah dan memiliki akhlak mulia, serta mampu mengemban amanah khalifah. Dengan demikian, semoga keberkahan hadir di lembaga pendidikan kita. Ketika Allah melimpahkan keberkahan bagi kita, niscaya berlapis-lapis manfaat dan kebaikan akan menghampiri kita.

Semoga hidup kita penuh berkah. Semoga sekolah kita penuh berkah.

 

KAWAN SLI: Membaca Bukan Sekadar Membaca

KAWAN SLI: Membaca Bukan Sekadar Membaca

 

 

Kita sering mendengar bahwa kemampuan literasi siswa Indionesia berada pada peringkat 70 dari 72 negara. Salah satu komponen dari kemampuan literasi adalah kemampuan membaca. Kendala yang dihadapi oleh sebagian besar guru di sekolah di Kabupaten Asahan adalah kemampuan membaca siswa sangat rendah. Bagaimana mungkin, padahal pelajaran membaca dipaksakan, bahkan di usia balita?Bagaimana mungkin, saat banyak buku dan informasi media menyajikan banyak cerita dan fenomena? Lantas, apa yang salah dari pendidikan kita?

 

 

Kemampuan membaca dalam literasi tidak hanya berbicara tentang kemampuan mengeja dan membaca siswa. Terdapat suatu hal yang lebih dalam daripada itu yaitu memahami apa yang dibaca dan mengaplikasikan dalam kehidupan nyata. Dunia pendidikan memang tidak bisa dilihat sederhana. Namun, sering kali guru terpaku pada perhitungan seberapa banyak buku yang siswa baca bukan seberapa paham siswa dengan buku yang dibaca. Gerakan literasi sekolah (GLS) yaitu membaca lima belas menit menjadi rutinitas yang kurang bermakna karena siswa hanya sekadar membaca namun tidak memahami apa yang dibaca. GLS hanya sebatas siswa diberikan waktu lima belas menit untuk membaca, kemudian mengisi judul buku dan halaman berapa yang dibaca.

 

 

Pentingnya kesadaran bahwa peran pendidikan tidak hanya membuat anak bisa membaca. Tapi juga mampu membuat anak mahir menulis dan mewarnai pemikiran global sehingga mampu menoreh prestasi yang mampu mengubah dunia. Lalu bagaimana mungkin mampu mengubah dunia, jika yang tersaji adalah buku usang dengan perpustakaan yang seperti gudang? Padahal rasio perbandingan bangunan perpustakaan kita dengan penduduk adalah salah satu yang terbaik di dunia. Di saat pemerintah mulai menggencarkan usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Ada satu fobia yang menjangkiti siswa kita. Fobia itu adalah kutu buku. Siswa takut dibei gelar kutu buku padahal, sebagian besar manusia yang mengubah dunia adalah dari kaum kutu buku. Kutu buku bukanlah jaminan mutu jika hanya terpaku pada lembaran kertas dan layar.

 

 

Dekat dengan buku merupakan hal yang mutlak untuk mampu mengubah dunia. Karena sebagian besar manusia yang mengubah dunia adalah para kaum kutu buku. Kutu buku bukanlah jaminan mutu jika hanya terpaku pada lembaran kertas dan layar. Bermimpi besar dan berjalan jauh agar kebermanfaatan sebagai khalifah menjadi utuh.

Kawan Fajar (Tingkatkan Minat Baca Siswa MI Al-Azhar Saumlaki)

Belajar dari Bola Mata Berwarna Coklat

Belajar dari Bola Mata Berwarna Coklat

Oleh: Agung Rakhmad Kurniawan, S.T.  

 

 

 

Salah satu tugas guru adalah menangkap pesan yang tidak langsung tersirat, belajar dari bola-bola mata berwarna coklat yang setiap pagi menatap hangat. Kadang mereka tak berhenti berlari, melompat sampai memanjat pohon cengkeh di depan sekolah di atas bukit ini. Senyuman-senyuman setiap pagi ini juga yang menambah semangat berbagi pelajaran kehidupan. Pelajaran pagi yang kutemui, ketika motor itu meluncur dari turunan setengah curam berbatu kali. Ya, anak-anak kami di sini dengan luwes membawa sepeda motor sendiri, jarak yang berkilo meter memaksa mereka menomortigakan keselamatan.

 

 

 

Kedua kakak beradik itu turun dari motor hijau nan kusam itu, memberi salam kepadaku yang rutin tiap pagi duduk di samping mushola di sekolah kami. Berjalan agak jauh, si kecil Sofi mengeluarkan uang Rp2000, mengulurkan ke tangan kakaknya. Mata Sofi tak lekang dari tukang es krim yang sepagi ini sudah mempromosikan enaknya es krim buatnya, Lutfi tahu persis apa yang diinginkan adiknya, si kecil yang jarang diam. Terdengar samar olehku, “ambillah untukmu, biar kakak makan nanti di rumah saja”. Si kecil Sofi tanpa tawar menawar langsung tancap gas ke tukang es krim. Mataku masih terarah ke Lutfi, senyum abadi seorang kakak ke adik, senyum ikhlas di pagi ini yang mengalahkan mentari. Dengan gaya kalemnya, ia berjalan ke kelas. Jejak langkah yang memberikan sebuah cerita indah di pagi yang berkabut ini. Lutfi, si kakak yang bercita-cita menjadi pengusaha sukses dengan hati ikhlasnya.

 

 

 

Lutfi, bola mata bapak yang sekarang sudah berubah coklat sekejap terpejam, menikmati sebuah arti di pagi ini. Lutfi menjadi guru bapak di pagi ini, mengajarkan sebuah pelajaran lewat gaya khas kalemmu itu. Seperti kata Buya Hamka, ikhlas dan sejati akan bertemu di dalam senyuman anak kecil, senyum yang sebenernya senyum, senyum yang tidak disertai apa-apa. Terima kasih nak, hari ini akan penuh warna selayak pelangi di balik bukit nan jauh di sana.

Temnas I KOMPARASI: Adab Jangan Pernah Diabaikan!

Temnas I KOMPARASI: Adab Jangan Pernah Diabaikan!

 

 

Bogor – Krisis adab, KOMPARASI menggelar Kajian pengasuhan seputar metode implementasi kurikulum adab dalam gelaran Temnas I KOMPARASI bersama Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, Pengasuh Pesantren At Taqwa Depok.

 

 

Anak dianalogikan seperti kertas putih yang bisa ditulis dengan tulisan apa saja, sebab itulah peran orang tua sangatlah vital karena keberhasilan dalam mendidik anak tergantung dari pendidikan yamg diberikan orang tuanya, namun untuk mereka yang bersekolah asrama atau pondok pesantren keberhasilan mendidik anak ditentukan oleh orang tua (pengasuh asrama) di tempat mereka belajar saat ini. Tujuan pendidikan Islam adalah untuk memproduksi manusia yang baik secara agama (good man), tak sekadar menjadi masyarakat baik (good citizen). Elemen terpenting dalam pendidikan Islam adalah penanaman adab.

 

 

Pentingnya menanamkan adab di sekolah berasrama dan pondok pesantren merupakan standar tersendiri yang harus dipahami pengasuh asrama, oleh sebab itu Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI menggelar kajian pengasuhan seputar metode implementasi kurikulum adab di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor, pada Sabtu (30/11).

 

 

Dr. Ardiansyah, M.Pd.I, Pengasuh Pesantren At Taqwa Depok, secara tegas mengatakan  jika adab jangan pernah diabaikan, mengingat sekolah berasrama dan pondok pesantren adalah tempat paling tepat untuk menumbuhkan adab. “Ini PR bagi  para pengasuh asrama karena saat ini dunia mulai krisis adab,” tegas Ardi. “Krisis adab tersebut ditandai dengan munculnya kezhaliman di mana manusia gemar meletakkan sesuatu tidak pada tempatnya, maraknya kedunguan-melakukan sesuatu karena satu tujuan hanya saja caranya salah, dan kegilaan yang tak terkontrol melalui ide dengan tujuan keliru,” tambahnya

 

 

Penanaman adab dapat  pengasuh asarama lakukan melalui dua cara yakni melalui Ta’dib (penanaman adab) dan Ta’lim (pengajaran ilmu). “Ada tujuh ,etode penanaman adab yang bisa pengasuh asrama lakukan antara lain sampaikan ilmu tentang adab, kaitkan adab dengan keimanan, jadilah sosok teladan, jangan bosan dengan oembiasaaan, amalkan dengan penuh keikhlasan, berikan penegakakkan disiplin, jangan lupa berdoa,” jelas Ardi.

 

 

Menurut Ardi poin lain yang harus diutamakan oleh pengasuh asrama ialah ubah framework atau cara pandang untuk ditekankan pada murid-murid. “Dunia pendidikan akan mengalami banyak perubahan, pengasuh asrama harus mampu mengejar perubahan yang ada dengan membuat terobosan, dengan catatan adab harus tetap dijaga

 

 

Menutup kajian pengasuhan, Ardi berpesan, bahwa pengasuh asrama harus bisa menghasilkan orang-orang cerdas dan beradab, yang tahu bagaimana menyiapkan masa depan  mereka dalam mengonsep dan mengaplikasikan ilmu disertai adab baik. (AR)

 

KAWAN SLI: Hujan Kenangan di Halmahera

KAWAN SLI: Hujan Kenangan di Halmahera

Hampir dua minggu sejak kedatangan pertama kami di Halmahera Selatan, hari ini adalah hujan pertama yang ku rasakan ketika berada di sini. Secara perlahan dan sedikit demi sedikit butiran air pun mulai membasahi permukaan tanah dan atap-atap rumah warga yang menghasilkan suara sangat kurindukan.
Perasaanku sangat senang mendengarkan suara gemuruh hujan, hujan membuat cuaca panas menjadi teramat sejuk dan nyaman. Namun seketika perasaan senang berubah menjadi sedih, aku teringat akan sahabat-sahabat yang telah membersamaiku kurang lebih dua bulan di Bogor. Hujan yang jatuh seperti membawa satu per satu kenangan yang kami lewati bersama. Teringat senyum, tawa, candaan, keseruan serta tantangan yang pernah kami hadapi. Waktu bersama mereka memang singkat namun sangat membekas, itulah yang kurasakan setelah bersama dengan orang-orang hebat ini.
Kini kami terpisah oleh jarak dan waktu demi tugas mulia, memajukan pendidikan dan menciptakan tenaga pendidik kompeten untuk menghasilkan insan-insan generasi emas penerus bangsa di seluruh penjuru indonesia.
Memang tidak mudah untuk kami lewati, namun teringat jika kami selalu bersama meskipun jarak dan waktu memisahkan, saling mendukung menjadi kunci utama kekompakan kami.
KAWAN, sebesar apapun tantangan yang akan kalian hadapi, percaya saja jika doa, jiwa, dan semangatku akan selalu membersamaimu bahkan bukan hanya diriku, sahabat-sahabat yang lain pun begitu.
Tetaplah semangat dan tegar menerjang segala badai yang ada, jangan biarkan siapapun dan apapun melemahkan mu sobat, setahun lagi kita akan bertemu. Ku harap tujuan kita bersama bisa terwujud.
 KEEP UP YOUR SPIRIT
Saat ini kita sedang menabung karena
Lelahmu hari ini akan terbayarkan di surga nantinya

KAWAN SLI: Pelajaran Hidup Berharga dari Seorang Ayah

KAWAN SLI: Pelajaran Hidup Berharga dari Seorang Ayah

Hari ini aku dan beberapa temanku melaksanakan agenda kunjungan sekolah ke beberapa sekolah yang ada di Kecamatan Tembalang, kegiatan ini merupakan bagian dari program Konsultan Relawan Sekolah literasi Indonesia (KAWAN SLI) yang sedang kujalani.
Hari ini mba Yuyun school visit ke SD Negeri Tandang 03, mba Putri kunjungan sekolah ke SD Negeri Sendangmulyo 01 sedangkan aku ke MI Baiturrahim Kecamatan Tembalang. Kami ke sekolah menggunakan dua motor, aku diantar oleh mba Yuyun dan nanti setelah kunjungan sekolah aku dijemput kembali.
Disela-sela waktu menunggu dijemput mba Yuyun di depan salah satu toko, seorang pengamen pria berparas wanita menemuiku, umurnya sekitar lima puluh tahun. Ia menggunakan baju kuning dengan celana legging coklat sambil membawa kincringan yang sesekali ia mainkan. Setelah selesai satu lagu ia mulai bercerita tentang kondisinya sekarang, ia mengatakan jika memiliki anak yang masih duduk di kelas tiga SMK. Seketika terlintas dibenakku,  “bagaimana tanggapan anak beliau dengan mengetahui kondisi bapaknya seperti ini?”
“Aku punya anak laki-laki yang duduk di bangku kelas tiga di salah satu  SMK di Kota Semarang. Istriku meninggal beberapa tahun lalu ketika anakku masih kelas empat SD,” katanya.
“Lalu mas?” tanyaku.
“Aku mengambil keputusan bekerja sebagai pengamen dan berpenampilan seperti ini agar orang tertarik melihatku dan aku bisa menafkahi putraku,” ucapnya.
Seketika batinku diketuk, apa yang kulihat saat ini bukanlah keinginannya sendiri melainkan usahanya mencari uang. Dia kembali bercerita “suatu ketika seorang teman anakku menyampaikan padanya tentang pekerjaanku saat ini, anakku tidak tahu kardna penampilan seperti ini tidak pernah kuperlihatkan dihadapannya. Aku tampil layaknya seorang ayah, seorang laki-laki tangguh”.
Sejenak aku terpaku dan meneteskan air mata, kulihat matanya juga berkaca-kaca ketika menceritakan kisah pilu yang sedang ia hadapi. Setelah bercerita ia mendoakan agar urusan kami sukses dan lancar. Dalam hati aku berkata “ya Allah sungguh aku tidak menyangka ada orang seperti ini, aku adalah hamba yang masih belum begitu bersyukur atas Rahmat dan Nikmat  yang telah diberikan Allah”.
Alhamdulillah aku bisa belajar banyak dari sosok yang sering dicemooh orang karena penampilannya.

KAWAN SLI: Sejatinya Guru adalah Pemenang

KAWAN SLI: Sejatinya Guru adalah Pemenang

Hari Guru Nasional memang telah lewat, tapi aku tak akan pernah melupakan pengalaman pertamaku melewati Hari Guru di sana. Kala itu seluruh sekolah di Kecamatan Air Joman mengundang perwakilan tiga gurunya memenuhi teras-teras kelas SDN 010250 Binjai Serbangan.
Dengan penuh semangat kemenangan, para guru bersiap mengikuti lomba memasak nasi goreng tingkat sekolah dasar/madrasah se-Kecamatan Air Joman di Lapangan SDN 010250 Binjai Serbangan. Kegiatan yang bertujuan mempererat persaudaraan sesama guru ini mendapatkan sambutan hangat dari pemerintah Kecamatan Air Jorman. Khoiruddin, Koordinator Wilayah (Korwil) Kecamatan Air Joman, mengungkapkan jika kegiatan sejenis layak dicontoh kecamatan lain.
“Meskipun terlihat sengit tapi kami bukan mengajak para guru untuk bersaing, melainkan untuk mengakomodasi paguyuban guru di sini,” tambahnya.
Berbagai alat masak dibawa peserta dari rumah, tak lupa bumbu dapurnya. Ketika lomba dimulai para guru mulai sibuk menyiapkan banyak hal, aroma khas nasi goreng tercium ke berbagai penjuru. Semangat mereka dalam memadukan bumbu hingga hiasan nasi goreng sangatlah hebat.
Kreativitas peserta lomba membuat Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) sebagai juri kesulitan menentukan pemenang.  Namun kami percaya jika menjadi pemenang bukanlah inti kegiatan ini, karena sejatinya guru adalah pemenang. Pemenang di dalam hati anak bangsa.