Diskusi Panel : Pendidikan Berkeadilan Pada Level Perguruan Tinggi

Sesi pamungkas Simposium Pendidikan pada Rabu (30/10) adalah Diskusi Panel bertajuk “Pendidikan Berkeadilan Pada Level Perguruan Tinggi”. Diskusi ini menghadirkan Ketua BEM Universitas Indonesia (UI), Direktur Kemahasiswaan UI, juga presentasi paper dari peserta Call For Paper. Hadir sebagai moderator, Redaktur Pendidikan Harian Umum Republika, Zaki Al-Hamzah.

Pjs Direktur Kemahasiswaan UI, Arman Nefi, menjelaskan bahwa kebijakan Biaya Operasional Pendidikan Biaya Berkeadlian (BOPB) di UI dimulai pada 2007, diwujudkan dengan mahasiswa membayar SPP sesuai dengan kemampuan orangtua masing-masing, dari seratus ribu hingga 7,5 juta rupiah. “Memang ada permasalahan di tahun-tahun pertama, namun kami terus melakukan perbaikan. Setelah enam tahun mulai stabil,” jelas Arman.

Ali Abdillah, Ketua BEM UI, yang aktif mengadvokasi biaya berkeadilan untuk mahasiswa, mengemukakan temuannya, bahwa pelaksanaan BOPB di tahun 2008-2009 masih terjadi penyelewengan, serta masih kurangnya sosialisasi kepada mahasiswa baru mengenai pembayaran BOPB. Di tahun 2010, mulai adanya evaluasi BOPB, namun masalah sosialisasi dan publikasi mengenai sistem pembayaran masih terjadi di tahun 2011-2013. “Ketika BOPB dijadikan standar nasional, maka ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Harus ada persamaan persepsi tentang BOPB, jangan sampai ada mahasiswa tidak bisa kuliah karena masalah biaya,” ungkap Ali.

Pada sesi ini juga disampaikan presentasi paper terbaik karya peserta Call For Papers. Kali ini karya Mar’atus Shalihat berjudul “Pengaruh Adanya Sistem UKT (Uang Kuliah Tunggal) Terhadap Beban Biaya Kuliah Mahasiswa Universitas Airlangga”. Mar’atus Sholihah melakukan penelitiannya bersama Fani Lailatu Hikmah, sejawatnya. Keduanya merupakan mahasiswi Fakultas Keperawatan Universitas Airlangga.

“Pada penelitian yang kami lakukan, kami mendapat kesimpulan bahwa sistem UKT dapat berperan sebagai sistem yang membuat beban biaya kuliah di awal tidak banyak dan secara tidak langsung mahasiswa kaya dapat meringankan biaya mahasiswa kurang mampu, dengan adanya beberapa golongan biaya kuliah sesuai kondisi ekonomi,” papar Mar’atus. Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa ada dampak positif dan negative dari sistem UKT. Dampak positifnya, dapat meringankan biaya kuliah dengan adanya kesempatan membayar di awal dengan cara diangsur setiap semesternya. Sedangkan dampak negatifnya adalah mahasiswa di kalangan menengah merasakan biaya kuliahnya lebih mahal.

“Salah satu cara memecahkan masalah dari dampak negatif adalah dengan meningkatkan interval pendapatan setiap penggolongan biaya kuliah agar mahasiswa kalangan menengah tidak merasa keberatan dengan UKT,” pungkas Mar’atus. [siska]

{loadposition related}

{fcomment}

10 Catatan Itje Chodijah Untuk Pendidikan Indonesia

Tajam dan dalam, begitulah gaya Itje Chodijah saat memberikan Orasi pada Simposium Pendidikan Berkeadilan, Rabu (30/10). Tajam saat ia ungkapkan masih banyak ketidaksesuaian praktik pendidikan kita dengan konstitusi. Dalam saat ia ajak audiens untuk mengenali problematikan pendidikan Indonesia dan tawaran solusi yang diberikannya.

Membuka orasinya, wanita yang aktif menjadi Trainer Guru Internasional dan Konsultan Pendidikan ini memaparkan tentang landasan konstitusi pendidikan Indonesia. Itje menjabarkan Pasal 31 UUD 1945,  Pasal 1 BAB 1 UU No 20 Tahun 2003 Tentang Sisdiknas, UU No 12 Tahun 2012 Tentang Perguruan Tinggi, hingga 8 Standar Nasional Pendidikan. Itje menilai masih banyak penyimpangan dari implementasi undang-undang dan standar pendidikan tersebut.

Ketidakadilan pendidikan Indonesia adalah pada dua hal besar menurut Itje: akses dan kualitas. Secara kasat mata bisa terlihat bagaimana ketimpangan itu terpampang nyata di Indonesia. Timpangnya pendidikan di kota dengan wilayah pedalaman, ibukota dengan perbatasan Indonesia, juga Indonesia Barat vs Indonesia timur, menjadi bukti tak tertampik.

Selain ketidakadilan pendidikan, dalam orasinya Itje juga menyoroti sistem pendidikan Indonesia yang masih terfokus pada kemampuan kognisi siswa. “Hasil dari produk hukum yang menyangkut pendidikan hanya akan terlihat setelah anak berperan dalam kehidupan luas bukan sekedar ketika mereka lulus dari sekolah atau memenangkan berbagai kejuaraan saja.  Bukan juga statistik dan pernyataan-pernyataan Kementrian Pendidikan dan jajarannya,” demikian ungkap Itje.

Menutup orasinya, Itje menyampaikan sepuluh catatannya untuk perbaikan pendidikan Indonesia. Sepuluh poin Itje adalah : (1) Meninjau kembali ketuntasan perwujudan Standar Nasional Pendidikan secara konkrit di semua sekolah di Kabupaten / Kota agar ketimpangan kualitas masyarakat tidak semakin besar; (2) Mengaktifkan kembali peran Pengawas Sekolah dan Kepala Sekolah sebagai ‘agen’ perubahan yang dapat mempengaruhi kualitas sekolah dengan merujuk pada terpenuhinya standar kompetensi mereka. Tegas memilih dan memilah mereka secara obyektif; (3) Mengubah pola pelatihan guru, kepala sekolah dan pengawas; (4) Merancang sesuai kebutuhan dan dilakukan dalam bentuk nyata peningkatan kompetensi, terencana dan berkesinambunganMenyediakan program pendidikan guru di daerah 3 T (Terdepan, Terluar, Tertinggal) dan daerah terpencil lainnya; (5) Meninjau kembali jenis-jenis sekolah swasta yang didirikan atas inisiatif masyarakat; (6)Mengangkat kearifan lokal sehingga dapat memotivasi orang tua terutama di daerah terpencil untuk menyekolahkan anaknya; (7) Mengubah pola penilaian kinerja guru serta sistem rekrutmennya; (8) Kerjasama antara Dinas Pendidikan di Kabupaten/Kota, Propinsi, dan Kementrian Pendidikan memiliki peranan vital dalam menyediakan pendidikan berkeadilan. Kerjasama dengan Departemen lain dalam rangka menyediakan sarana prasarana; (9) Memonitor secara sungguh-sungguh lembaga pendidikan tinggi yang menyediakan pelatihan untuk calon guru; dan (10) Hentikan UN! [siska]

{loadposition related}

{fcomment}

Ini Dia, Tiga Pemenang Call For Paper Pendidikan Berkeadilan

Acara inti Simposium adalah presentasi paper Pendidikan Berkeadilan. Paper merupakan karya peserta terbaik. Tahun ini, ketiga paper terbaik yang dipresentasikan merupakan karya tiga anak muda hebat. Mereka adalah Ridho Ilahi, Didiq Rosadi Ali, dan Arif Rahman Hakim.

Juara Pertama, Ridho Ilahi adalah mahasiswa S2 di program Magister Statistika Terapan di UNPAD juga PNS di BPS Kabupaten Bangka Tengah. Paper Ridho berjudul “Standar Pembiayaan Pendidikan (Studi Kasus: Pengaruh Jarak Rumah ke Sekolah dan Pengeluaran Rumahtangga Terhadap Partisipasi Sekolah di Provinsi Papua)”. Ridho memfokuskan penelitiannya pada rentang usia 7-15 tahun. Melakukan penelitiannya, Ridho menggunakan metode analisis regresi linear berganda. Dari penelitiannya, Ridho menemukan bahwa semakin jauh jarak rumah ke sekolah maka semakin rendah angka partisipasi sekolah usia 7-15 tahun, dan semakin tinggi pengeluaran rumahtangga per bulan maka semakin tinggi angka partisipasi sekolah.

Juara Kedua, Didiq Rosadi Ali, menuliskan paper berjudul “Daerah Prioritas Untuk Peningkatan Akses Pendidikan Tinggi Bagi Rakyat Miskin Di Indonesia”. Didiq merupakan mahasiswa jurusan Statistika Ekonomi di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik. Penelitian Didik dilakukan untuk mengkaji gambaran kemiskinan Indonesia secara makro yang dikaitkan dengan dimensi pendidikan sebagai faktor yang mempengaruhi kemiskinan tersebut. Didiq melakukan penelitiannya dengan metode analisis deskriptif dan cluster analysis. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa terdapat tiga provinsi dengan kategori prioritas 1 yakni perlu penanganan segera serta mendapatkan kebijakan yang tepat untuk peningkatan akses terhadap pendidikan tinggi bagi masyarakat miskin yaitu Provinsi Papua, Papua Barat, dan Maluku.

Arif Rahman Hakim, peringkat ketiga, adalah mahasiswa Ilmu Perpustakaan dan Informasi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Karya Arif berjudul “Disrelevansi Privatisasi Pendidikan Tinggi Dengan Konsep MP3I Untuk Kelompok Marginal”. Pada penelitian tersebut Arif menemukan bahwa privatisasi pendidikan tinggi tidak relevan dengan rencana pemerintah untuk melakukan pembangunan ekonomi Indonesia dengan MP3I (Masterplan Pembangunan dan Percepatan Ekonomi Indonesia). Di satu sisi, akses masyarakat marginal sangat terbatas dengan adanya privatisasi perguruan tinggi, padahal mereka punya hak yang sama untuk menjadi sumberdaya manusia dengan kecapakan s skill berdaya saing tinggi sehingga mampu menjadi penggerak perekonomian negara. Sedangkan di sisi lain, pemerintah memiliki program untuk perbaikan ekonomi Indonesia melalui beberapa koridor ekonomi, program tersebut tertuang dalam MP3I.

Presentasi ketiga paper tersebut dimoderatori oleh Asep Sapaat, Direktur Sekolah Guru Indonesia. Hadir sebagai penanggap Totok Amin Soefijanto (Deputi Rektor Paramadina) dan Fuad Jabali (Direktur DRPM UIN Syarif Hidayatullah Jakarta). Kedua penanggap juga merupakan juri kompetisi Call For Paper Pendidikan Berkeadilan. Lepas presentasi, sesi tanya jawab dengan audiens dibuka. Sesi ini berlangsung dinamis dan sangat interaktif. [siska]

{loadposition related}

{fcomment}

 

Anies Baswedan: Setiap Tahun, Sekian Juta Anak Kehilangan Kesempatan Bersekolah

Tokoh Pendidikan yang juga menjabat sebagai Rektor Paramadina, Anies Baswedan, hadir memberikan orasinya pada Simposium Pendidikan Nasional, Rabu (30/10). Sesuai dengan tema Simposium, yaitu Pendidikan Berkeadilan, Anies pun memberikan pandangannya tentang timpangnya pendidikan di Indonesia.

“Saudara sekalian, di tahun 2011 kita memiliki 5,6 juta anak yang masuk SD. Anda tahu, berapa anak yang lulus SMA? Hanya 2,3 juta anak. Berarti kita punya 3,3 juta anak yang ‘hilang’ dari pendidikan,” ungkap Anies. “Dari 2,3 juta lulusan SMA itu, hanya 1,1 juta yang bisa masuk ke perguruan tinggi,” lanjutnya.

Anies menilai ada banyak faktor yang menjadi penyebab ketimpangan pendidikan tersebut. Dari sekian banyak faktor, yang paling krusial adalah faktor ekonomi dan geografis. Bicara tentang faktor geografis, Anies mengatakan masih banyak anak terkendala untuk ke sekolah karena jauh dari rumahnya dan kesulitan untuk mengaksesnya. “Kalau yang dibutuhkan anak adalah pendidikan, kenapa kita tidak hadirkan pendidikan ke tengah mereka? Tidak harus membangun sekolah, pendidikan bisa kita lakukan di mana saja.”

Selain permasalahan ketimpangan pendidikan, dalam orasinya, Anies juga mengkritisi tentang bagaimana sinergi orangtua dalam sebuah proses pendidikan. “Pendidikan mendasar adalah di rumah. Dan pendidik terpenting adalah orangtua. Ada lebih dari 60 juta kepala keluarga. Sudahkah kepala rumah tangga berpikir sebagai kepala sekolah atau guru?”

Satu lagi problematika pendidikan Indonesia yang menurut Anies harus segera dibenahi. Menurutnya pendidikan Indonesia belum berfokus pada pembangunan manusia. Selama ini selalu dibanggakan adalah pembangunan fasilitas dan infrastruktur. Bicara pembangunan manusia, maka proses pendidikan kita masih minim teladan. [siska]

{loadposition related}

{fcomment}

Teatrikal Orasi Ala Guru Agung

“Hey, daerah…ini otonomi..tentukan kebijakan pendidikan kalian sendiri,” ujarnya sambil memperagakan smash layaknya bulutangkis. Kemudian dia berlari ke sisi yang lain, “Tidak Pak, kami belum siap!” katanya sambil melakukan smash lebih keras. Ya, demikian gaya khas Agung Pardini saat memberikan Orasi Pendidikan di Simposium Pendidikan Nasional, Rabu (30/10) lalu.

Lain daripada yang lain, Manager Peningkatan Kualitas Pendidikan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa ini, memadukan orasi dengan seni peran. Pertandingan bulu tangkis di atas, adalah peragaannya untuk menggambarkan fenomena otonomi daerah terutama berkaitan dengan kebijakan pendidikan, lebih khususnya lagi penerapan Kurikulum 2013. Bagi Agung, ketika pemerintah pusat tidak bisa memahami kapasitas daerah dalam

Pria yang lebih senang menyebut dirinya Guru Agung ini, pernah mengajar Sejarah di sebuah sekolah menengah di Bogor. Pada teatrikal orasinya, ia juga peragakan bagaimana interaksi siswa dan guru di kelas. Menutup teatrikal orasinya, Guru Agung mengatakan bahwa ada tiga proses mendasar dalam pendidikan, yaitu peneladanan, pembiasaan, dan pembelajaran.

Agung juga menceritakan tentang kiprah Makmal dalam pembenahan pendidikan Indonesia. Keterlibatan Makmal menunjukkan bahwa pembenahan pendidikan Indonesia membutuhkan sinergi dari berbagai pihak. Agung pun mengakhiri orasi dengan mengucapkan terimakasih pada semua pihak yang telah turut andil dalam perbaikan pendidikan Indonesia.[siska]

{loadposition related}

{fcomment}

Makmal Pendidikan dan BEM UI Helat Simposium “Pendidikan Berkeadilan”

Amanat UUD Republik Indonesia Tahun 1945 menyebutkan bahwa “Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan” (Pasal 31 ayat 1), dan “Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia” (Pasal 28C ayat 1 Amandemen Kedua UUD 1945). Namun, kiranya amanat tersebut belum mampu terealisasi dengan baik, terbukti masih terdapat ketimpangan akses terhadap pendidikan berkualitas yang dirasakan oleh banyak anak negeri ini.

Berangkat dari pemikiran tersebut, Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa menginisiasi event Simposium Pendidikan Nasional 2013. Event tersebut direncanakan akan rutin dihelat setiap tahun. Tahun ini, Makmal gandeng BEM UI untuk bersama helat Simposium yang mengangkat tema “Pendidikan Berkeadilan”. Tujuan utama dari diselenggarakannya Simposium sendiri adalah untuk membahas isu-isu atau permasalahan terkini di bidang pendidikan berdasarkan data dan penelitian yang telah dilakukan oleh peserta, dan menarik kesimpulan yang berguna sebagai masukan atau bahan pengambilan kebijakan oleh pemerintah. Karenanya, sebelum Simposium dihelat, Makmal telah terlebih dulu menggelar kompetisi Call For Papers. Dari kompetisi tersebut, terjaring karya-karya terbaik yang berkesempatan untuk dipresentasikan saat Simposium. Selain presentasi paper terbaik, pada Simposium Pendidikan Nasional 2013 juga akan dilangsungkan Diskusi Panel bertajuk “Pendidikan Berkeadilan Pada Jenjang Perguruan Tinggi”.

Sebagai penguat wacana dan motivasi untuk peserta, hadir Tokoh Pendidikan Nasional Anies Baswedan dan Itje Chodijah untuk memberikan Orasi Pendidikan. Orasi juga disampaikan oleh Agung Pardini, Trainer Guru Nasional yang saat ini menjabat sebagai Manager Peningkatan Kualitas Pendidikan-Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

Simposium Pendidikan Nasional 2013 dihelat di Aula Terapung Perpustakaan Pusat Kampus UI Depok pada Rabu 30 Oktober 2013 pukul 08.00 hingga 16.00. Semoga perhelatan ini mampu memberikan kontribusi signifikan untuk perbaikan kualitas pendidikan Indonesia. [siska]

{loadposition related}

{fcomment}

Hadirilah: Simposium Pendidikan Nasional

{fcomment}

Melatih Guru Produksi Media Pembelajaran Sendiri

TANGERANG-Telah dua hari ini (24-25/09), trainer Makmal sambangi Tangerang, Banten. Bukan untuk melancong, tapi berbagi inspirasi dan pengetahuan pada para guru di Cikokol. Kali ini materi yang disampaikan adalah Media Pembelajaran. Harapannya, pasca pelatihan para guru dapat mandiri membuat media pembelajaran.

“Pelatihan ini sengaja kami buat agar para guru dapat mengimplementasikan media pembelajaran sebagai bahan ajar yang efektif dan menyenangkan,” demikian ungkap Lutfiarto Setya, tim Media Pembelajaran Pusat Sumber Belajar (PSB) Makmal Pendidikan. Hal ini didasari karena media pembelajaran merupakan sarana efektif untuk menyampaikan materi pembelajaran pada siswa.

Bertempat di SDN Cikokol 02, sebanyak 33 orang guru dari 5 sekolah dasar dan UPTD Cikokol menjadi peserta pelatihan ini. Mereka berasal dari SDN Cikokol 01, SDN Cikokol 02, SDN Cikokol 03, SDN Cikokol 04, dan SDK Penabur. Meski pelatihan berlangsung dari pagi hingga sore, namun para peserta selalu bersemangat karena pelatihan diseting aktif dan menyenangkan.

Empat orang Trainer profesional Makmal bergantian mengisi empat sesi pelatihan yang berlangsung selama dua hari. Hari pertama, diawali oleh Agung Pardini yang memberikan materi tentang Menjadi Guru Kreatif dan Inovatif, Sesi berikutnya dilanjutkan oleh Iwan Sahrudin, dengan materi Implemetasi Media Pembelajaran Sebagai Bahan Ajar Yang Efektif Dan Menyenangkan. Hari kedua, Suwarno menyampaikan tentang Eksplorasi Penggunaan Benda-Benda Di Lingkungan Sekitar Menjadi Alat Peraga Sederhana. Pelatihan ditutup oleh Eri Priatna yang menyampaikan materi Kreatif Menciptakan Media Pembelajaran sesuai dengan Bidang Studi.

Sengaja PSB Makmal menghelat pelatihan dengan sedikit peserta, agar materi pelatihan dapat diterima dengan baik, mendalam, dan menyeluruh oleh semua peserta. Di samping itu agar para peserta dapat langsung berkonsultasi dengan trainer apabila ada hal-hal yang dirasa kurang paham.

Pelatihan serupa pernah juga diberikan di Sorong, Papua awal tahun 2013 lalu. Semoga ke depan, semakin banyak guru yang dapat menerima manfaat dari pelatihan ini, sehingga semakin baik pula kualitas guru di negeri ini. Amin.. [siska]

{fcomment}

SDN Lalareun, “Sekolah Berwawasan Lingkungan” Berikutnya

BANDUNG-Senin (24/09), Makmal Pendidikan menghelat seremonial Launching Program Sekolah Berwawasan Lingkungan di SDN Lalareun, Bandung. Sekolah ini merupakan penerima manfaat kedua setelah SDN Kamojang yang baru ‘dilepas’ awal September lalu. Targetnya sama, menjadikannya menjadi sekolah rujukan aplikasi green school untuk sekolah-sekolah di sekitarnya.

Program pendampingan Sekolah Berwawasan Lingkungan merupakan program CSR PT Pertamina Geotermal Energy Area Kamojang, yang bekerjasama dengan PT Daya Dinamika Corpora (DD Corpora) beserta Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Kini kerjasama  terebut telah memasuki tahun kedua. Di tahun pertama, kerjasama yang dibangun antara PT Pertamina dengan DD Corpora dan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa telah memberikan kemanfaatan kepada SDN Kamojang, Kecamatan Ibun, Bandung.

Sekolah ini telah banyak mengalami perubahan yang cukup signifikan dalam hal pengelolaan lingkungan hidup dan penghijauan setelah dilakukannya pendampingan selama satu tahun. Hampir semua lahan di SDN Kamojang terpakai untuk penanaman apotik hidup dan warung hidup. Dengan melihat hasil dari program pendampingan di SDN Kamojang tersebut, Pertamina kembali menyalurkan dana CSR-nya untuk sekolah yang lain. Maka terpilihlah SDN Lalareun.

SDN Lalareun berada di Desa Pangguh, satu kecamatan dengan SDN Kamojang. SDN Lalareun berlokasi di tengah-tengah industri tekstil. Hampir di sisi kanan dan kiri SDN Lalareun berdiri Pabrik tenun kain sarung dan sebagainya. “Ada banyak pabrik berdiri di sekitar SDN Lalareun ini, dan akan banyak polusi udara yang dihasilkan oleh pabrik tersebut. Sedangkan anak-anak kita memerlukan keadaan yang nyaman ketika ada dalam ruang kelas dan salah satu cara untuk mengatasi hal itu adalah dengan memprogramkan sekolah berbasiskan lingkungan (ramah lingkungan.ed),” ungkap Kepala UPTD TK-SD Disdikbud Kecamatan Ibun, Mochammad Cuarliman Kahyo saat memberikan sambutan.

Di kabupaten Bandung khususnya kawasan yang berada di wilayah Ibun, Majalaya, Ciparay, Solokan Jeruk dan Cicalengka sudah banyak berdiri pabrik-pabrik industri. Pabrik-pabrik tersebut tentu saja akan mengeluarkan polusi yang tidak baik bagi udara di wilayah tersebut. Bagaikan dua sisi mata uang, kehadiran pabrik menghadirkan banyak lapangan kerja untuk warga sekitar dan menumbuhkan perekonomian masyarakat, namun disisi lain ada bahaya polusi udara dari asap pabrik dan limbah industrinya. Oleh sebab itu, kehadiran Sekolah Berwawasan Lingkungan akan sangat membantu dalam pengelolaan lingkungan hidup yang lebih baik.

Seremonial Launching Program SDN Lalareun dihadiri oleh Permadi, Humas PT Pertamina Geotermal Energy Area Kamojang, juga perwakilan dari DD Corpora dan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Acara dimulai dengan rangkaian sambutan. Sebagai bukti komitmen sekolah, dilakukan penandatanganan komitmen bersama, dilanjutkan dengan pemotongan tumpeng sebagai rasa syukur sekolah yang mendapatkan bantuan dari PT Pertamina.

“SDN Lalareun ini sekolah desa kualitas kota, fasilitasnya sudah bagus, semoga manajemennya juga sudah baik. Program pendampingan Sekolah Berwawasan Lingkungan ini menjadi pelengkap agar sekolah semakin baik. Maka, mari kita semua bersinergi mensukseskan program ini,” ajak Agung Pardini saat menyampaikan sambutannya. Yuk, sukseskan bersama. [Irman/ed: Siska]

{fcomment}

Tiga Tahun Mendampingi SDN 09 Ulakan Tapakis

Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, selasa 17 September 2013 kemarin mengadakan selamatan 3 tahun berjalannya program pendampingan sekolah di SDN 09 Ulakan Tapakis, Padang Pariaman. Acara tersebut sekaligus menandakan berakhirnya program pendampingan yang telah diberikan kepada sekolah selama 3 tahun belakangan dari Makmal Pendidikan.

Turut hadir di acara tersebut perwakilan dari PT. Trakindo Utama, perusahaan yang mensupport penuh keberlangsungan program pendampingan di sana. Tidak ketinggalan, sekitar 15 kepala  sekolah dasar dari sekolah sekitar turut hadir dalam acara tersebut, serta pihak dinas pendidikan Kabupaten Padang Pariaman yang saat itu diwakili oleh kepala UPTD Ulakan Tapakis turut mendukung kesuksesan acara pada hari itu.

Dalam sambutannya, PT. Trakindo Utama yang diwakili Branch Manager Cabang Padang, Bapak Alimuddin menyampaikan rasa terimakasihnya yang mendalam kepada pihak SDN 09 Ulakan Tapakis yang telah secara cooperative dan bersemangat dalam menjalankan program pendampingan yang telah diberikan oleh Makmal Pendidikan Selama 3 tahun terakhir. Beliau pun berharap agar apa yang telah dicapai selama ini tidak malah menjadi menurun setelah berakhirnya masa pendampingan.

Ibu Latifah Faray Manager Persekolahan Divisi Pendidikan Dompet Dhuafa, yang berkesempatan mewakili Dompet Dhuafa untuk hadir pada kegiatan kali ini pun mengarapakan hal yang serupa. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan bahwa SDN 09 Ulakan Tapakis mempunyai potensi yang cukup hebat karena guru-gurunya yang berdedikasi tinggi. Hal ini merupakan modal yang penting bagi sebuah sekolah, beliau berharap kedepannya SDN 09 Ulakan Tapakis dapat menjadi model sekolah yang ideal bagi sekolah-sekolah sekitar, bahkan tingkat Provinsi Sumatera Barat.

Para siswa dan dewan guru dari SDN 09 Ulakan Tapakis pun tidak mau kalah untuk ambil bagian dikesempatan kali ini. Mereka dengan sangat bersemangat untuk menampilkan beberapa pertunjukan seni dari sekolah mereka. Mulai dari tari tradisional khas tanah minang, tari kreasi hingga puisi. Decak kagum pun tidak bisa disembunyikan dari wajah para hadirin yang datang saat itu.

Program pendampingan sekolah yang dilakukan oleh Makmal Pendidikan di SDN 09 Ulakan Tapakis dimulai saat Dompet Dhuafa merasa perlu untuk merecovery pendidikan di Sumatera Barat pasca gempa hebat yang mengguncang tahun 2009 lalu. SDN 09 Ulakan Tapakis merupakan satu dari delapan sekolah yang didampingi untuk wilayah Sumatera Barat

Pada sekolah-sekolah tersebut, Makmal Pendidikan melakukan pendampingan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas manajemen sekolah, kualitas pembelajaran dan SDM guru, juga meningkatkan partisipasi dan kontribusi masyarakat di sekitar sekolah, sehingga pada akhirnya sekolah dampingan dapat menjadi sekolah rujukan bagi sekolah-sekolah di sekitarnya. Agar target pendampingan sekolah tercapai, pada setiap sekolah dampingan, Makmal Pendidikan menempatkan seorang pendamping sekolah. Setiap tiga bulan sekali, trainer Makmal Pendidikan hadir ke sekolah untuk memberikan pelatihan terhadap guru sekaligus memonitoring jalannya pendampingan sekolah.

Tiga tahun memang waktu yang singkat untuk sebuah upaya perbaikan kualitas pendidikan. Apa yang dilakukan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa juga belum menyentuh seluruh Sumatera Barat. Namun, semoga upaya ini mampu memberikan inspirasi agar semakin banyak orang bersedia memberikan kontribusinya untuk pendidikan negeri ini.

{fcomment}