Pelatihan Media Pembelajaran Bersama Makmal Pendidikan

Bogor- Pada Senin (20/08)  Makmal Pendidikan kembali mengadakan Pelatihan Media Pembelajaran guna membangun semangat kreativitas guru dalam proses belajar mengajar. Pelatihan yang dihadiri oleh Komunitas Media Pembelajaran (KOMED) dan umum ini rutin diadakan stiap 3 bulan sekali & diisi oleh pakar di bidang media pembelajaran.

Pada pelatihan kali ini ditekankan pada penggunaan bahan disekitar kita termasuk barang bekas untuk membuat media pembelajaran, karena ternyata banyak barang bekas yang bisa digunakan sebagai bahan pengembangan media pembelajaran di sekolah.

Dengan modal yang tidak banyak, para guru dapat mengembangkan media pembelajaran yang mumpuni, dengan memanfaatkan barang bekas secara tidak langsung para guru juga mengajarkan gerakan ramah lingkungan pada para siswa & siswinya. Para guru juga dapat melibatkan para siswa/inya untuk ikut membuat media pembelajarannya sendiri.

Media pembelajaran mengajarkan guru untuk lebih kreatif, membuat anak aktif, dan membuat sekolah semakin inovatif & produktif (AR).

#KOMED #MembentangKebaikan

Peringatan HUT RI ke-71 di Sekolah Tapal Batas

tapalbatas

Kemerdekaan hanya milik mereka orang-orang Indonesia yang berada di wilayah NKRI. Mungkin ungkapan ini yang cocok untuk menggambarkan kisah para TKI yang ada di wilayah Bergosong dan Bernyoko Malaysia. Mereka yang bekerja sebagai buruh kelapa sawit di negeri Jiran. Pasalnya tidak ada jatah libur bagi mereka selain hari Minggu. Mereka akan terus dituntut untuk bekerja selama 6 hari kerja dalam seminggu. Tidak peduli perayaan apapun yang sedang diperingati oleh negaranya. Selain hari Minggu, mereka tidak boleh libur ataupun mengambil jatah cuti. Sebab ketika mereka melanggar atau ketahuan oleh perusahaan, bisa berdampak yang tidak bagus terhadap keberlanjutan pekerjaan mereka nantinya.

Tujuh puluh satu tahun sudah usia bangsa Indonesia. Sebuah usia yang seharusnya sudah mapan jika ditinjau dari ukuran angka. Hari ini, seluruh masyarakat Indonesia dari Sabang hingga Merauke merayakan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan segala kemeriahan dan pernak perniknya, semua ditampilkan dalam perayaan dan peringatan hari bersejarah ini. Sebagai sebuah bentuk penghargaan atas jasa para founding father kita yang telah memperjuangkan dan merebut kemerdekaan dari penjajah yang menindas. Pengorbanan yang telah mereka lakukan patut untuk dihargai. Menghargai dan memperingatinya sebagai wujud kepedulian kita terhadap bangsa tercinta ini. Melalui perayaan ini, kita hendaknya bisa mengingat kembali perjuangan para pendahulu dan membangkitkan semangat nasionalisme untuk melanjutkan dan mengisi kemerdekaan. Setiap kita mempunyai hak yang sama untuk mengisi dan memperjuangkannya. Sebab sadar atau tidak, perjuangan itu merupakan sebuah keniscayaan yang harus dihadapi oleh setiap individu.

Hari ini Sekolah Tapal Batas turut merayakan dan memperingati hari bersejarah lahirnya bangsa Indonesia. Bukan hanya sekedar upacara pengibaran bendera merah putih saja, namun juga beberapa agenda pendukung lainnya. Ada lomba-lomba, nonton bareng film Naga Bonar jadi 2 yang turut memeriahkan peringatan HUT RI ke-71 di Sekolah Tapal Batas. Lomba-lomba yang menumbuhkan pengetahuan terkait wawasan kebangsaan dan keagamaan serta permainan-permainan yang memupuk jiwa sosialisasi anak. Permainan yang melatih anak untuk kompak, saling kerjasama, saling adu strategi, saling menghargai dan berjiwa besar untuk menerima kemenangan yang tertunda. Sedangkan acara nonton bareng, ditujukan untuk memupuk semangat nasionalisme anak di daerah perbatasan yang aksesnya masih terbilang terbatas juga.

Upacara bendera yang dilaksanakan di Sekolah Tapal Batas tahun ini berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Ibu Hj Suraidah selaku pendiri Sekolah Tapal Batas. “Hari ini perayaannya lebih meriah. Tahun sebelumnya upacara benderanya hanya dilaksanakan oleh staf dewan guru dan siswa-siswi saja. Sedangkan tahun ini, masyarakat dan orang tua siswa dilibatkan dalam perayaan dan pelaksanaan upacara bendera di sekolah ini”, tuturnya. Selain itu diikuti pula oleh anggota TNI Pengaman Perbatasan (Pamtas) Bukit Keramat yang sekaligus bertindak sebagai Pembina upacara. Juga dihadiri oleh mahasiswa KKN Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY), Komunitas Jendela Nusantara (KJN), dan Guru Konsultan Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa yang tengah melakukan pendampingan sekolah di Sekolah tapal Batas.

Upacara hari ini berlangsung cukup hikmad, walaupun peralatan dan perlengkapannya cukup sederhana. Lapangan upacaranya tidak begitu luas. dan permukaan tanahnya tidak begitu rata. Kami mengkondisikan seadanya, disesuaikan dengan letak dan posisi lahan yang ada di samping sekolah. Ada rangka rumah yang berdiri di tengah-tengah lapangan upacara hari ini. Sempat diusahakan untuk di geser, namun terbilang susah karena tiang-tiangnya tertancap kokoh di tanah. Sehingga rangka tersebut dibiarkan tetap pada posisinya. Sampai akhirnya didapatkan ide agar tiang untuk pengibaran bendera nantinya dibuat dari sebatang bambu yang diikatkan pada salah satu tiang rangka rumah tersebut.

Walaupun cuaca pagi ini tidak begitu cerah, tidak menyurutkan semangat peserta upacara. Kebetulan semalam, hujan mengguyur desa Sungai Limau yang juga mengakibatkan lapangan upacara becek dan menyisakan tanah pada alas kaki. Sempat ada perasaan pesimis akan perayaan hari ulang tahun RI hari ini di sekolah tapal batas. Terutama tentang keikutsertaan orang tua dan masyarakkat. Sebab ini pertama kali mereka dilibatkan, belum lagi cuaca pagi yang kurang bersahabat. Namun itu ternyata hanya asumsi kami saja, sebab mereka tidak begitu memedulikan cuaca. Terlihat para orang tua siswa dan masyarakat berduyung-duyung dating dan sangat antusias mengikuti semua rangkaian pelaksanaan upacara peringatan HUT RI ke-71 yang dilaksanakan di sekolah tapal batas. Terlihat juga semangat tiga orang siswa kelas tiga yang bertindak sebagai penggerek bendera. Walaupun mereka baru pertama kalinya tampil, tidak membuat mereka gugup. Gumpalan tanah yang melengket di dasar sepatu mereka pun tidak terlalu dihiraukan. Padahal semua sepatu dari mereka telah berubah menjadi sepatu hak.

Upacara peringatan HUT RI tahun ini begitu berarti bagi saya, karena bisa merasakan dan melewatinya di daerah perbatasan RI-Malaysia. Termasuk ketika bisa melihat semangat masyarakat, orang tua, dan para siswa yang begitu menjiwai pelaksanaan upacara hari ini. Padahal perlengkapan dan kondisi lapangannya sangat sederhana. Hanya saja ada yang terasa kurang bagi saya dalam pelaksanaan upacara bendera hari ini. Saya tidak bisa melihat ekspresi semangat yang serupa dari para orang tua siswa yang tinggal di Bergosong dan Bernyoko Malaysia. Mereka tidak bisa mengikuti upacara bendera karena bertepatan dengan hari kerja mereka. Padahal sebelumnya kami telah menyampaikan ajakan untuk ikut serta dan hadir dalam perayaan melalui anak-anak mereka yang bersekolah di sekolah ini. Cukup miris juga bagi saya ketika mengetahui ada warga Negara Indonesia yang tidak bisa merayakan hari kemerdekaannya hanya karena tengah bekerja mengumpul ringgit di negara tetangga. Atau mungkin karena belum adanya aturan jelas yang menyentuh permasalahan ini. Padahal peringatan HUT RI ini bagian dari upaya membangkitkan semangat nasionalisme dalam bekerja dan berkarya untuk mengisi kemerdekaan.

 

Dirgahayu RI ke-71!

Achmad Salido (Guru Konsultan YPnDD)

Desa Bantarwangi Rayakan Kemerdekaan Indonesia yang Ke-71

20160817_090053

 

Oleh: Siti Sahauni.
Penulis adalah Guru Konsultan Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa
Penempatan Bantarwaru Kec. Cinangka Kab. Serang-Banten

Merayakan kemerdekaan adalah hak setiap warga negara Indonesia. Tanpa terkecuali. Banyak cara dilakukan untuk memeriahkan acara tersebut, pengibaran Sang Saka Merah Putih misalnya, kegiatan sakral yang biasanya hanya dilakukan oleh kalangan tertentu saja. Namun hal ini tidak berlaku untuk masyarakat di Desa Bantarwangi.

Pada Rabu (17/8), peserta gerak jalan santai yang diiringi alunan musik tiba di lapangan sepak bola Kampung Dahu.  Desa Bantarwangi kembali mencatat sejarah, setelah kurang lebih 5 tahun vakum masyarakatnya tidak mengadakan kegiatan perayaan Hari Kemerdekaan kini seluruh masyarakat Desa Bantarwangi, Kecamatan Cinangka menggelorakan nasionalismenya dengan berbondong-bondong untuk ambil bagian menjadi peserta upacara.

Semua masyarakat dari berbagai lapisan terlibat di dalamnya. Antusiasme masyarakat tampak jelas pada saat terutama saat terjadi insiden di mana panitia kekurangan personel pengibar bendera dan paduan suara. Tanpa diminta SMA Plus Baiturrahman Cipanas dan tiga tim kasidah turun tangan mengatasi masalah tersebut, mereka bahu membahu agar perayaan kemerdekaan yang hanya dilakukan setahun sekali ini terlaksana dengan baik.

Kemeriahan tampak jelas kal, bahkan seorang tokoh masyarakat,  H. Sulaeman, yang pernah mengalami masa-masa itu mengungkapkan kekagumannya. Menurutnya masyarakat sekarang sudah memahami makna dari kemerdekaan Indonesia, terlebih mengenai kebebasan seseorang dalam mengenyam pendidikan dan kemakmuran. “Tidak ada pendidikan, subur dan makmur seperti sekarang ini tanpa adanya kemerdekaan. Sehingga dengan acara seperti ini masyarakat bertambah kecintaanya terhadap rasa nasionalisme,” ungkapnya usai pelaksanaan upacara bendera.

Upacara sendiri berlangsung selama kurang lebih satu jam dan berjalan dengan sangatc khidmat meski terik matahari pelan-pelan meninggi di atas kepala. Kehadiran perwakilan dari Kelurahan Bantarwangi, guru dan siswa SDN Bantarwaru, Guru  Konsultan Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, PAUD Al-Ihlas, KKM Kesehatan Masyarakat UMJ, Ketua Komite Sekolah SDN Bantarwaru dan tokoh masyarakat menambah semarak perayaan Hari Kemerdekaan. Untuk menambah kemeriahan Hari Kemerdekaan Indonesia. Jaeni, ketua pelaksana, menarik perhatian masyarakat dengan mengadakan beraneka macam perlombaan yang melibatkan segala usia seperti lomba balap karung, makan kerupuk, tarik tambang, panjat pinang, joget balon, bakiak, balap sendok dengan kelereng, memasukan paku ke botol, dan yang paling dinanti-nantikan yakni perlombaan sepak bola mengenakan daster. Di mana pemainnya adalah laki-laki.

Rosid, pembina upacara dan perwakilan dari kelurahan Bantarwangi, begitu gembira menyaksikan Hari Kemerdekaan tahun ini, ia berharap kegiatan ini membudaya karena masyarakatnya saling bantu, maju dan mandiri.

“Adanya acara semacam ini masyarakat akan menjadi lebih maju, mandiri dan bermartabat sosial tinggi,” harapnya.

Puncak perayaan 17 Agustus dilaksanakan malam hari. Ada pertunjukan seni, nonton film bêrtemakan kemerdekaan bersama-sama, dan masih banyak lagi. Diharapkan kegiatan 17-an ini akan mengingatkan kembali bagaimana Indonesia mendapatkan kemerdekaan dari penjajahan Belanda dan Jepang.

 

DSC_0271

Full Day School Bukan Solusi Utama Perbaikan Pendidikan

skolah

 

Bogor, 9/8/2016 – Sudah menjadi tradisi pemerintah bahwa pergantian pejabat maka terjadilah pergantian kebijakan. Belum genap satu bulan Prof. Muhajir memimpin nahkoda Kemendikbud menggantikan Anies Baswedan, beliau sudah mengeluarkan pernyataan yang kontroversial yaitu mengenai sekolah fullday.

Wacana dari Mendikbud ini menimbulkan tanggapan beragam, salah satunya dari General Manajer Sekolah SMART Ekselensia Indonesia Dompet Dhuafa Syafi’ie el Bantanie. Syafi’ie menyatakan bahwa perbaikan kualitas pendidikan bukan hanya tentang full day school atau half day school, melainkan juga peningkatan kualitas guru dan perbaikan kurikulum. Dan, yang lebih mendasar lagi adalah menumbuhkan ruh atau semangat mendidik pada diri guru.

“Kelebihan yang dimiliki pendidikan boarding school. Kyai merupakan pimpinan sekaligus guru yang memiliki semangat mendidik. Sehingga, semangat ini tertularkan kepada siswa didik. Hasilnya, proses pendidikan di boarding school menjadi lebih mengena dan bermakna. Proses membentuk akhlak siswa dengan keteladanan dari para pendidik bisa terjadi selama 24 jam,” kata GM sekolah yang 100 persen siswanya masuk perguruan tinggi negeri.

Sudah waktunya bagi pengambil kebijakan pendidikan bangsa ini untuk menerapkan metode berasrama sehingga mampu menangkal dampak negatif lingkungan luar sekolah yang tidak menunjang pendidikan.

Makmal Pendidikan Kembali Adakan Pelatihan Guru

IMG20160802151156-1

SERANG- Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dalam program Optimalisasi Kualitas Sekolah dengan Literasi kembali mengadakan pelatihan guru di SDN Bantarwaru di Jalan Raya Calung Kampung Dahu Desa Bantarwangi Kecamatan Cinangka. Diselenggarakannya pelatihan ini dilatarbelakangi oleh minimnya kemampuan dan kekreatifan guru di daerah. Sehingga tidak dapat mengoptimalkan tugasnya sebagai seorang pendidik di bangku Sekolah Dasar dan PAUD. Terutama dalam mengolah kelasnya menjadi lebih berwarna dan dapat menunjang pengetahuan peserta didiknya. Yang terjadi tidak hanya pada kelas bawah tetapi juga kelas atas.

Perwakilan Unit Pelaksana Tehnik Dinas (UPTD) Kecamatan Cinangka menyambut baik kegiatan yang dilaksanakan selama dua hari kedepan oleh dua Guru Konsultan Dompet Dhuafa. Kehadiran Wasita, pengawas UPTD mampu memompa semangat guru-guru dalam pelaksanaan pelatihan dan workshop tersebut. Ia meyakini bahwa kegiatan yang dilaksanakan akan menjadi angin segar dan napas baru bagi guru-guru di daerah. Yang kurang tersentuh oleh pelatihan pengoptimalan kinerjanya sebagai seorang guru. Sehingga ia menghimbau kepada peserta agar memanfaatkan waktu pada kegiatan tersebut dengan baik. Tanpa mengurangi pengalaman berapa lama mengajar dan melihat usia pematerinya yang cukup jauh di bawah peserta.

“Waktu kita sangatlah berharga. Jadi alangkah baiknya jika kita mengupayakan agar mengikuti kegiatan ini seserius mungkin. Tidak malah menghambur-hamburkan waktu sesukanya. Karena, pelatihan ini bertujuan untuk mengoptimalkan kinerja kita sebagai guru. Seyogianya bahwa menjadi pembelajar tidak ada batasan usianya. Tanpa mengurangi seberapa lama kita mengajar. Sehingga nantinya dapat menerapkannya di kelas ajar kita dengan maksimal.” Papar Wasita disela-sela sambutannya pada Senin (1/8).

Materi pelatihan yang disampaikan memang bersinggungan dengan peran guru dalam mengelola kelas. Yang juga dirasakan oleh Sekolah dampingan Makmal Pendidikan. Dimana setiap gurunya membutuhkan suntikan energi, misanya mengikuti pelatihan seperti ini. Harapannya setelah 24 guru dari 8 sekolah diantaranya SDN Calung, SDN Cikokol, SDN Bantarwaru, SDN Pasir Menteng, SDN Pasauran 1, SDN Pasauran 2, SDN Cipanas dan Paud Al-Ihlas usai mengikuti kegiatan dapat mengimplementasikan di kelasnya masing-masing.

Setelah pelatihan ini, Siti Sahauni dan Fitri Ayu Indriasari optimis akan adanya perkembangan dari guru-guru di daerah. Menjadi guru kreatif. Melalui pembiasaan tentunya. Menemukan kunci kreatif itu adalah dengan membiasakan sesuatu yang tidak biasa dilakukan. Dan pengaplikasian manajemen kelas dan display kelas keduanya memang memiliki dampak yang cukup besar. Terutama dalam tumbuh dan kembang pengetahuan dan akhlak peserta didik. Karena sesungguhnya tugas seorang guru tidak hanya mengajar saja. Melainkan juga menguasai prinsip dan tugasnya sebagai seorang pendidik.

“Pelatihan ini merupakan pelatihan tahap kedua. Dimana salah satu ouput yang hendak dicapai adalah pengaplikasian mereka usai pelatihan. Yang dalam prakteknya, guru yang akan menghasilkan beberapa tugas sebagai komitmen mereka mengikuti kegiatan pelatihan ini. Tugas manajemen kelas dan display kelas akan menjadi tolak ukur mereka seberapa besar keinginan untuk berubah menjadi guru terbaik di sekolahnya.” Terang Fitri Ayu Indriasari Guru Konsultan Pendidikan Dompet Dhuafa usai workshop kedua tentang Display Kelas Selasa (2/8) dengan percaya diri.*

 

IMG20160802090107

 

Siti Sahauni

Penulis adalah Guru Konsultan Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa #SekolahLiterasiIndonesia #SekolahGuruIndonesia penempatan di Bantarwaru Kec. Cinangka Kab. Serang-Banten

 

 

SLI Kapuas Hulu Adakan Pelatihan Manajemen Kelas dan Display Kelas

IMG-20160807-WA0000

Libur bukan berarti tidak produktif, seperti halnya para Guru Konsultan Sekolah Lirerasi Indonesia (SLI) penempatan Selimbau, Kapuas Hulu, yang mengggelar pelatihan guru. Puluhan guru dari SD, SMP, dan MTs se-Kecamatan Selimbau menghadiri pelatihan ini.

Selama dua hari para guru diajak untuk membahas materi seputar ‘Manejemen Kelas dan Display Kelas’. Pelatihannya sendiri diadakan di Gedung MTs. At-Taqwa Selimbau. Aswan selaku kepala UPT Kecamatan Selimbau dalam sambutannya menghimbau para dewan guru dan peserta untuk dapat mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh.

“Seorang guru tidak kenal berhenti untuk belajar, dengan terus belajar kita banyak tahu, semakin banyak yang kita tahu maka semakin tahu kita bahwa sedikit yang kita tahu, membaca buku haruslah menjadi kebiasaan setiap guru,” paparnya.

Pelatihan guru ini merupakan pelatihan tahap kedua, pelatihan tahap pertama dilaksanakan pada Maret lalu. “Kami merasa senang diadakannya pelatihan seperti ini, melalui  pelatihan ini kami bisa berbagi pengalaman dalam mengatasi permasalahan di dalam kelas,” tutup Utin, salah satu peserta pelatihan dari SDN 16 Kejering.

#SekolahLiterasiIndonesia #MembentangKebaikan

Pelatihan Riset Uji Kelayakan Media Pembelajaran

20160806_151145

06 Agustus 2016

Evaluasi merupakan teman sehari – hari, seseorang yang mempunyai target dalam hidup pasti akan melakukan evaluasi atas setiap pencapaiannya. Dalam dunia pendidikan, evaluasi bahkan sangat sering di dengar. Ada evaluasi mingguan, bulanan atau semester dan ada juga evaluasi guru. Media pembelajaran adalah seperangkat sarana yang sering digunakan guru dalam menyampaikan materipun tidak luput dari keharusan dievaluasi agar dapat diketahui sejauh mana implikasinya dalam pembelajaran, salah satu metode yang digunakan adalah dengan melakukan “Riset Uji Kelakayakan Media Pembelajaran”.

Untuk memberikan pengetahuan kepada para guru bagaimana melakukan Riset Uji Kelakayakan Media Pembelajaran maka KOMED (Komunitas Media Pembelajaran) bersama  KASGI (Keluarga Alumni Sekolah Guru Indonesia) bersinergi memberikan pelatihan yang dilaksanakan pada  06 Agustus 2016 minggu lalu di kantor UPT Kec. Legok Tagerang Banten. Pelatihan ini dihadiri oleh 46 guru dari berbagai sekolah dan disambut baik oleh pejabat pendidikan setempat. Kepala UPT Kec. Legok Drs. Widayati Wardani, M.Pd memberikan sambutan sebelum pelatihan tersebut dimulai, suntikan semangat dari beliau membuat peserta yang hadir cukup antusias.

Pelatihan ini disampaikan oleh Pedri Haryadi yang merupakan Koordinator Litbang Dompet Dhuafa Pendidikan, pengalamannya dalam melakukan riset media pembelajaran membuat beliau ingin berbagi. Metode pelatihan ditekankan pada praktik, penugasan, diskusi dan presentasi  dengan harapan guru mudah menyerap materi. Masing – masing kelompok peserta mempresentasikan hasil kerja kelompok secara bergiliran dan hasilnya cukup mengejutkan, para guru cukup mudah memahami materi yang mereka pelajari selama kurang lebih enam jam tersebut. Ditutup dengan pembagian hadiah pelatihan inipun berakhir dengan meriah.

 

20160806_105903 20160806_093654 20160806_084029

Kunjungan SLI ke Bergosong Malaysia

IMG-20160808-WA0005

Ini kali ketiga kami berkunjung ke Bergosong, Malaysia, untuk menyambangi tempat tinggal siswa-siswa Sekolah Tapal Batas. Sebenarnya hari ini kami hanya menemani anak-anak KKN UMY yang mau meliput jalan yang sering dilewati siswa-siswa Sekolah Tapal Batas.

Sekitar jam 10 pagi kami sampai di Kongsi, mereka tengah asyik bermain di Sungai Milo yang dekat dengan tempat tinggal mereka. Ya, Sungai Milo namanya karena warnanya yang sama dengan warna susu coklat kesukaan anak-anak. Mereka segera menghampiri kami sambil bertanya”Mau belajar sudah ustadz?”

Memang, sebelumnya kami sempat janji pada mereka untuk mengadakan Istana Anak di wilayah ini. Kebetulan teman-teman KKN UMY membawa kamera sambil mewawancarai beberapa anak. Setelah prosesi wawancara selesai, kami arahkan beberapa anak untuk bermain peran. Ada yang bertindak sebagai reporter dan sebagai nara sumber. Mereka sangat menjiwainya. Sedangkan beberapa yang lain main permainan tradisional. Ada permainan boy dan lomba balap hewan kecil yang kalau disentuh, biasanya dia langsung menggulung tubuhnya.

Senang rasanya melihat senyum anak-anak Sekolah Tapal Batas. Doakan kami agar kami bisa konsisten memberi yang terbaik.

#SekolahLiterasiIndonesia #MembentangKebaikan

Makmal Pendidikan Gelar Training Pengembangan Masyarakat dan Parenting

13662544_1315178791843469_549636139_o-300x225

Memasuki triwulan ke dua Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa bekerjasama dengan SDN Bantarwaru di Jalan Raya Calung Kampung Dahu Desa Bantarwangi Kecamatan Cinangka menggelar dua Training sekaligus. Yakni Training Pengembangan Masyarakat dan Parenting tahap dua. Pada kegiatan tersebut dihadiri oleh kurang lebih 105 wali murid dari kelas 1 hingga kelas 6. Hadir pula tokoh masyarakat, komite sekolah dan kepala desa setempat.

Fitri Ayu Indriasari mengungkapkan alasannya mengapa diadakan dua kegiatan dalam waktu yang bersamaan. Selain karena kegiatan sekolah memasuki tahun ajaran baru. Juga karena kegiatan tersebut memiliki keterkaitan baik dengan wali murid, komite sekolah, dan sekolah itu sendiri.

“Momentum seperti ini tak ubahnya sebuah tali. Tali-tali inilah yang dapat menguatkan setiap niat seseorang. Salah satunya niat untuk mengoptimalkan sekolah. Yang pada kenyataanya pemahaman akan pengoptimalan sekolah masih sangat minim.

Padahal, tugas mengoptimalkan sekolah tidak melulu dilakukan oleh komponen di dalam sekolah saja. Namun juga perlu adanya sinergi antara masyarakat, yang tak lain merupakan wali murid. Juga komite sekolah. Peran aktif komite sekolah sangat dibutuhkan kala ini. Mengapa demikian? Karena dari komite sekolahlah jembatan penghubung dari aspirasi wali murid tersampaikan ke sekolah. Sehingga usai acara ini, kontribusi sekolah dalam sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan oleh sekolah tersebut.” Ungkap Fitri Ayu Indriasari Guru Konsultan Dompet Dhuafa usai menyampaikan materi, Kamis (28/7).

H. Sulaeman menanggapi apa yang telah disampaikan oleh pemateri. Mengenai peran sekaligus tugasnya sebagai komite sekolah periode 2010 hingga sekarang di SDN Bantarwaru. “Saya akan sangat senang sekali. Jika memang ada kejelasan terkait apapun yang bersinggungan dengan sekolah. Apalagi untuk kemajuan sekolah. Tetapi, saya meminta agar Kepala Sekolah transparan dalam hal apapun. Tidak ada yang ditutup-tutupi. Jujur, selama jabatan itu saya seperti tidak ada artinya. Jika memang saya terpilih kembali. Saya ingin sekali memberi kontribusi sebagai orang yang telah diberi kepercayaan untuk menjembatani aspirasi wali murid.” Papar H. Sulaeman di akhir training.

Setelah melalui serangkaian acara, akhirnya terpilihlah 13 orang yang menjadi bagian dari Komite Sekolah. Kesediaan untuk kembali berkumpul pun kemudian tercetus. Akan ada diskusi yang panjang untuk program selama setahun ke depan antara Komite Sekolah dan Kepala Sekolah dalam memperbaiki mutu pendidikan. Yang tidak hanya berlandaskan kecerdasan semata namun juga berakhlak mulia. Sebagai tindaklanjutnya, kegiatan ini akan kembali dilangsungkan di minggu kedua di bulan Agustus mendatang.(Sauni)

Sumber: http://koranrumahdunia.com/2016/08/02/makmal-pendidikan-gelar-training-pengembangan-masyarakat-dan-parenting/

Sinergitas Sekolah dan Masyarakat

123

Ratusan masyarakat Engkerengas, Selimbau, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat,  berkumpul di Gedung Serba Guna Desa Engkerengas yang akan diresmikan pada hari itu.

Acara peresmian gedung baru ini agak berbeda dengan peresmian gedung-gedung sebelumnya yang hanya dihadiri beberapa orang saja. Perbedaan yang paling mencolok adalah dirangkaikannya acara peresmian ini dengan Pelatihan Parenting yang diselenggarakan oleh Makmal Pendidikan Dompet dhuafa.

Pelatihan parenting yang mengangkat tema ‘Sinergitas Sekolah dan Masyarakat’ ini menarik perhatian masyarakat yang baru-baru ini mulai menyekolahkan anaknya ke Sekolah Menengah Pertama (SMP) sederajat.

Ada yang khas dalam peresmian gedung yang sejak awal direncakan untuk ruang belajar MTs Filial yang masih menumpang di kantor desa ini yakni adanya prosesi “tepung tawar”, ritual adat Melayu yang bertujuan untuk memohon do’a selamat dan menolak bala. Tepung tawar dilakukan dengan memercikkan tepung beras yang telah diberi campuran air tawar menggunakan daun-daun tertentu yang melambangkan keselamatan. Tepung tawar dilakukan di muka pintu gedung serba guna. Bergiliran tokoh adat dan tokoh masyarakat yang telah ditentukan  melakukan prosesi ini. Seraya mendo’akan agar orang yg menggunakan gedung serba guna tidak diganggu oleh makhluk halus.

Gedung serba guna dibangun menggunakan dana dari desa, dikerjakan hanya dalam kurun waktu dua minggu. Puluhan warga desa bersama-sama menyelesaikan pembangunan gedung ini, agar bisa di unakan untuk sekolah ketika ajaran baru.