KAWAN SLI: Pentingnya Sekolah Melakukan Cara Ini Agar Sekolah Lebih Baik

KAWAN SLI: Pentingnya Sekolah Melakukan Cara Ini Agar Sekolah Lebih Baik

Oleh: Darfin KAWAN SLI penempatan Bima
Pada Selasa (07/01) Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) melaksanakan pengukuran performa sekolah dengan menggunakan Metode Uswah setelah sebelumnya kepala sekolah mengikuti pelatihan dan dikenalkan dengan konsep serta cara pengukuran performa sekolah dengan Metode Uswah. Sebagai proses awal pengukuran, SDN Panda menjadi sekolah pertama yang dilakukan pengukuran. Sebelum SDN Panda diukur terlebih dahulu mempersiapkan dokumen-dokumen fisik yang diperlukan seperti dokumen serta mempersiapkan kelengkapan lain yang dibutuhkan.
Bapak H. Fahri, Kepala MIN 1 Bima, didapuk sebagai observer dan KAWAN SLI sebagai Asesor untuk mengukur tiga ruang lingkup tersebut digunakan instrumen Metode Uswah. Dalam proses wawancara dengan kepala sekolah dan guru, ruang lingkup yang menjadi pertanyaan yaitu lingkup kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah.
Selama diwawancara observer para kepala sekolah ditanya seputar butir-butir dari kepemimpinan sekolah secara umum sudah terpenuhi oleh sekolah atau belum,  sedangkan KAWAN SLI juga menanyakan lebih dalam mengenai butir-butir tersebut lebih mendalam lagi. Pengukuran selanjutnya mengenai sistem pembelajaran dan budaya sekolah. KAWAN SLI melakukan observasi langsung terhadap guru dengan melihat proses pembelajaran di kelas dan wawancara dengan guru. Khusus siswa KAWAN melakukan pengukuran PETA TAKTI, menyisir semua sisi sekolah dengan melihat fisik seperti display kelas,  pencahayaan kelas, toilet, perpustakaan.
Di tahap akhir KAWAN SLI bersama kepala sekolah melaksanakn forum grup diskusi yang bertujuan mengklarifikasi hasil wawancara dan observasi serta menanyakan hal-hal lain yang belum jelas. Hasil pengukuran sekolah SDN Panda selanjutnya akan diolah dan diinput oleh KAWAN SLI ke dalam website Makmal Pendidikan untuk ditetapkan level sekolahnya. Level sekolah menurut Makmal Pendidikan terdiri dari level satu sampai lima, level lima adalah level sekolah model dan ini merupakan level sekolah terbaik, perbaikannya pun hanya pada sisi tertentu yang dianggap perlu sedangkan level 1 adalah sekolah yang masih perlu banyak perbaikan dari semua sisinya baik kepeimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah.

KAWAN SLI: Permulaan untuk Berubah dengan Metode Uswah

KAWAN SLI: Permulaan untuk Berubah dengan Metode Uswah

Oleh: Inayatul Asmaiyah, KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Bima

 

Bima – Selasa (07/01) menjadi awal untuk sebuah perubahan bagi kepala sekolah di Kabupaten Bima, untuk pertama kalinya Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) mengadakan pelatihan dengan menggunakan Metode Uswah di  SDN Panda, Desa Panda Kecamatan Palibelo, Kabupaten Bima.

 

 

Tujuan dari adanya pelatihan metode uswah ini adalah untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan baru kepada kepala sekolah-kepala sekolah yang menginginkan perbaikan dan perubahan dalam dunia pendidikan, nah pengetahuan baru dan metode terbaik yang KAWAN SLI tawarkan adalah Metode Uswah.

 

 

Sebuah metode yang paling mudah digunakan untuk mengukur sampai di mana sebenarnya performa dari sebuah sekolah. Metode uswah merupakan produk dari laboratorium makmal pendidikan, Dompet Dhuafa Pendidikan yang terus mengalami perbaikan dan revisi untuk kemajuan dan peningkatan mutu pendidikan.

 

 

Pelatihan Metode Uswah diikuti oleh lima belas orang, dua belas diantaranya adalah kepala sekolah dampingan dari dua kecamatan, yakni Kecamatan Belo (SDN Inp. Cenggu, SDN Renda, MIN 1 Bima, SDN Inp. Lido, SDN Runggu dan MIS Roka) dan Palibelo (SDN Panda, SDN Tonggondoa, SDN Inp. 1 Ntonggu, MIS Nata, MIS Roi dan SDN Roi), tiga orang sisanya adalah Kawan SLI, Darfin (sesi satu) dan aku (sesi dua) bertugas sebagai pelatihan sedangkan mba Aya bertugas sebagai fasilitator. Sungguh di luar ekspektasi kami, kami tidak menyangka yang awalnya di jadwal pelatihan selesai jam 16.00 WITA, namun karena satu dua hal akhirnya molor sampai jam 17.00 WITA dan Alhamdulillah keduabelas kepala sekolah hebat ini masih kuat staminanya, sungguh sangat menyenangkan sekali dan menjadi penyulut bagi semangat kami yang mulai kendor karena rasa lelah, terkhusus buat aku pribadi. Tapi setelah melihat keantusiasan bapak dan ibu kepala sekolah, hilang sudah rasa lelah dan bahkan tidak berbekas.

 

 

Pelatihan pertama ini memang sudah selesai, namun ada satu yang tak pernah lepas dari benak kami Kawan SLI 3, yaitu pesan yang dititipkan bapak Nasaruddin, S.Pd, M.Pd (Kabid Dikdas Kab. Bima), perwakilan Kepala Dinas Dikbudpora Kabupaten Bima dalam kegiatan launching program SLI, ia mengatakan jika mutu pendidikan Indonesia berada di urutan ke 69 dari 76 negara dunia. “Sungguh miris, untuk itu saling merangkul adalah cara terbaik untuk memperbaiki apa yang masih perlu perbaikan dalam dunia pendidikan, marilah kita ubah teori deskriptif (pasrah) dengan teori berkelanjutan,” tegasnya. Inilah pesan yang menjadi cambuk buat kita bertiga untuk terus menjaga semangat dan motivasi dalam menjalankan amanah dan tanggung jawab yang berada di pundak kami.

 

KAWAN SLI: Meriahnya Penyambutan 11 Kepala Sekolah terpilih SLI HALSEL

KAWAN SLI: Meriahnya Penyambutan 11 Kepala Sekolah terpilih SLI HALSEL

oleh Pelangi A. Salsabila
Selasa lalu menjadi momentum sangat penting bagi Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Kabupaten Halmahera Selatan,  Launching Program dan Studium General telah dilaksanakan di Aula SMP N 1 Halmahera Selatan bagi sebelas kepala sekolah terpilih setelah melalui sederet proses perekrutan berupa seleksi berkas dan kunjungan sekolah selama sebulan. Sekitar 45 orang hadir dalam perhelatan ini diantaranya seluruh kepala sekolah didampingi dua orang guru yang antusias hadir sejak pagi, turut hadir  sekertaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera selatan beserta KABID. GTK, KASIE. Kurikulum, Korwil Bacan dan Bacan Selatan.
Launching program dibuka Umar Iskandar Alam, Sekertaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Selatan,  “Program Sekolah Literasi Indonesia dari Dompet Dhuafa Pendidikan sangat bersesuaian, sejalan dengan program pemerintah tentang pembinaan dan peningkatan kompetensi pendidikan, kami dari Diknas dan  bapak ibu sekalian merasa sangat beruntung dan berterimakasih  dapat bekerjasama dengan DD Pendidikan”. Sambutan Umar Iskandar Alam menjadi tanda dimulainya program pendampingan sekolah terpilih.
Pertunjukan Literasi Budaya Tari Dendang dan Tari Dana-dana yang dibawakan empat siswi SMPN 1 Halsel semakin memeriahkan acara. Gerakan gemulai para penari yang menyatu dengan iringan musik khas Bacan membuat hadirin terpukau serta terbawa suasana riang. Kedua tari tersebut merupakan tarian khas Pulau Bacan untuk menyambut tamu.
Dalam kesempatan kala itu Jana, Koordinator Wilayah Bacan mengucapkan selamat kepada sekolah yang lolos dan akan didampingi selama enam bulan ke depan. “Selama ini literasi mungkin mengambang baik di K.13 maupun di sekolah model, tapi Insya Allah dengan pendampingan SLI kami yakin nilai-nilai literasi itu akan lebih kuat, bapak ibu kepala sekolah akan lebih terinspirasi bagaimana menguatkan dan membudayakan literasi di sekolah bapak ibu,” ujarnya.
Penandatanganan MOU antara kepala sekolah terpilih dengan pihak DD Pendidikan menjadi sesi akhir launching program sebelum menuju sesi penjelasan detail program, penyusunan jadwal inkubasi (pembinaan), dan kontrak belajar oleh para KAWAN dalam Studium General yang terlaksana hingga pukul 15.00 WIT.

KAWAN SLI:  Outbond Literasi Banjir Keakraban Saruma Hebat

KAWAN SLI:  HALSEL Banjir Keakraban Karena Outbond Literasi Saruma Hebat

Oleh: Pelangi A. Salsabila
Mentari pagi dan derai ombak pantai Omamoi, seakan menyambut kedatangan sepuluh kepala sekolah dan dua belas guru yang akan bersenang-senang sepanjang kala itu. KAWAN SLI Halsel sukses melaksanakan Outbond Literasi Saruma Hebat, kegitan yang berjalan lancar penuh keakraban, antusiasme, dan canda tawa ini diadakan di Pantai Omamoi, Bumi Perkemahan Samargalila, Dusun Omamoi, Desa Panambuang, Halmahera Selatan, Maluku Utara.
Doa menjadi hal yang selalu dilakukan di awal, kali ini dipimpin oleh Ustaz Alimun, Kepsek SDIT Alkhairaat. Selanjutnya,  pak Andi. Guru SMPN 59 Halsel ditemani KAWAN Edo memandu olahraga bersama dengan meregangkan otot-otot agar tak cedera saat bermain. Kemudian peserta dibagi menjadi enam tim beranggotakan empat orang, mereka saling  berlomba dalam enam permainan mengasah kecepatan, ketepatan, kolaborasi dan kerjasama tim. Nilai SPIRIT (Synergy, Persistence, Innovative, caRe, continous Improvement, Trustworthy) yang menjadi value DD Pendidikan terinternalisasi dalam permainan tersebut dengan arahan tiga KAWAN dibantu dua Mahasiswa Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA). Sebelum memulai dan di sela permainan para tim menampilkan yel-yel semangat untuk membakar jiwa kompetisi.
“Ngaliwet Bareng” menjadi agenda yang tak ketinggalan di sesi makan siang. Bekal nasi, ikan fufu asap, sayur bunga pepaya dan sambal Dabu-dabu serta berbagai makanan yang dibawa oleh para peserta di santap bersama di atas hamparan daun pisang. Semua terlarut dalam gelak tawa, sambil menikmati kebersamaan.
“Seru KAWAN, saya baru ini merasakan ada kegiatan yang bisa mengakrabkan para kepala sekolah dan guru dengan suasana kekeluargaan meski sampai sore tapi tak terasa dan hanya ada di SLI,” ungkap bu Ate, Kepala SMPIT Insan Kamil.
Outbond literasi bertujuan mengakrabkan para kepala sekolah dan guru dari sebelas sekolah terpilih, juga untuk menginternalisasikan nilai-nilai SPIRIT pada diri peserta sehingga mendukung kelancaran pelaksanaan program pendampingan SLI Halmahera Selatan “SARUMA HEBAT”.

Pemimpin Mesti Menghebatkan 

Pemimpin Mesti Menghebatkan

Oleh: Puwoudiutomo

 

“…Someone you know is on your side can set you free. I can do that for you if you believe in me. Why second-guess? What feels so right? Just trust your heart and you’ll see the light…”
(‘True to Your Heart’, 98° feat Stevie Wonder).

 

Kepercayaan adalah hal penting yang harus ada dalam sebuah tim. Rasa percaya merupakan dasar dari kerja tim, dan sifatnya adalah resiprokal (timbal balik) bukan satu arah. Salah satu kriteria penting seorang pemimpin adalah dapat dipercaya. Kepercayaan kepada seorang pemimpin erat kaitannya dengan integritas, keteladanan, keadilan dan konsistensi. Pemimpin yang dapat dipercaya akan memberikan ketenangan dan kenyamanan bagi mereka yang dipimpinnya. Kepercayaan ini merupakan modal dasar bagi seorang pemimpin untuk membangun dan melejitkan tim atau organisasi yang dipimpinnya.

 

Kepercayaan adalah hubungan resiprokal, namun bawahan akan lebih mudah memercayai pemimpinnya dibandingkan sebaliknya. Memiliki integritas, sejalan antara perkataan dengan perbuatan, jujur, adil, serta dapat memberi teladan yang baik sudah menjadi syarat cukup bagi seorang pemimpin untuk memperoleh kepercayaan yang dipimpinnya. Apalagi jika pemimpin tersebut memiliki kompetensi dan pengalaman yang mumpuni, tentunya menjadi nilai tambah untuk meningkatkan kepercayaan dari yang dipimpinnya. Belum lagi kekuasaan dan kewenangan seorang pemimpin bisa memperkuat kewajiban untuk percaya kepadanya, pun terpaksa. Ya, dalam titik ekstrim, seorang pemimpin bisa saja hanya memilih mereka yang memercayainya untuk dipimpin.

 

Persoalan klasik muncul ketika sosok pemimpin tidak lagi bisa dipercaya, terus berdusta, mengingkari janji, tidak adil dan transparan, serta gagal memberikan perasaan tenang pada yang dipimpinnya atas segala tindak tanduknya. Opsi menggulingkan kepemimpinan kerap butuh perjuangan keras dan biaya sosial yang tinggi. Sikap apatis seringkali menjadi opsi yang lebih realistis mengingat keterbatasan kemampuan untuk mengubah karakter kepemimpinan. Akhirnya, tim mungkin tidak hancur, namun tanpa kepercayaan tim sudah kehilangan ruhnya. Rutinitas organisasi mungkin masih bisa berjalan, dengan setiap elemen hanya berupaya menyelamatkan diri mereka sendiri. Kepemimpinan tanpa kepercayaan hanyalah sebuah kehampaan dan omong kosong.

 

Masalah juga akan muncul ketika kepercayaan tidak menemukan hubungan timbal baliknya. Seorang pemimpin yang memercayai anggota timnya yang ternyata tidak amanah, bisa saja langsung memberikan treatment atau bahkan mengeluarkan ‘penyakit’ tersebut dari tim. Penyakit ini mudah didiagnosa karena pengaruh kekuasaan pemimpin akan terbantu oleh ketidaknyamanan dari anggota tim yang lain. Persoalan yang lebih rumit akan muncul ketika seorang pemimpin tidak atau kurang memercayai mereka yang dipimpinnya. Bisa jadi semua tanggung jawab dan beban kepemimpinan akan sepenuhnya dipikul oleh sang pemimpin. Padahal kepemimpinan bukan hanya seni memengaruhi orang lain, tetapi juga memercayai orang lain.

 

Tidak sedikit pemimpin dengan potensi yang luar biasa terjebak dalam kondisi ini: gagal sepenuhnya memercayai yang dipimpinnya. Fungsi delegasi hanya jadi formalitas layaknya dalang yang memainkan wayang. Super team tidak terbentuk karena pemimpin mengambil alih seluruh tanggung jawab, toh yang penting tujuan tercapai. Bukannya meringankan kerja anggota tim, pemimpin tanpa sadar justru tengah mengebiri potensi anggota tim. Barangkali tugas memang bisa selesai lebih cepat dan lebih berkualitas jika dikerjakan langsung oleh sang pemimpin, namun ketergantungan besar terhadap sosok pemimpin bukanlah hal ideal dalam kepemimpinan. Dinamika tim, termasuk belajar dari kesalahan, merupakan hal penting untuk terus bisa berkembang dan melakukan perbaikan. Pemimpin kadang lupa bahwa kepercayaan bersifat resiprokal, alih-alih menenangkan anggota tim, memberikan kepercayaan ‘setengah hati’ justru akan berbuah ketidakpercayaan.

 

Pemimpin sejati bukanlah pemimpin yang hebat, namun juga pemimpin yang menghebatkan mereka yang dipimpinnya. Dan memberikan kepercayaan adalah kunci pengembangan potensi anggota tim. Kepemimpinan ada siklusnya, kaderisasi adalah keniscayaan, membangun kepercayaan yang resiprokal antar anggota tim dan antara pemimpin dengan yang dipimpinnya adalah langkah strategis untuk memastikan kesinambungan suatu organisasi. Menjadi pemimpin yang tepercaya (dapat dipercaya) memang penting, namun menjadi pemimpin yang dapat memercaya (memberikan kepercayaan) tidak kalah penting. Karena kepercayaan adalah hubungan timbal baik, keduanya dapat seiring sejalan.

 

“Bukankah kepercayaan itu sebuah rasionalitas ilmiah?” (Tere Liye)

KAWAN SLI: Sambutan Meriah Warga Kulon Progo untuk Program Sekolah Literasi

KAWAN SLI: Sambutan Meriah Warga Kulon Progo untuk Program Sekolah Literasi

Oleh: Irfa Ramadhani (KAWAN SLI Kulon Progo)

 

SDN 1 Sentolo menjadi tuan rumah acara Launching dan Studium General program Sekolah Literasi Indonesia pada Kamis (26/12). Belum lepas dari ingatan, siang itu 31 siswa/i dari tim karawitan membahana di siang hari. Ternyata, mereka tengah menampilkan karyanya dalam rangka menyambut kedatangan para tamu undangan. Hadir pada acara itu, pimpinan cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta beserta tim, 2 Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI), pihak Disdikpora KP (diwakili Kepala Bidang Pembinaan SD, bapak Suharyono), serta Kemenag KP (diwakili kepala Pendidikan Madrasah, ibu Sulasmi). Hadir pula Pimpinan Daerah Muhammadiyah (bapak Jumarin), perwakilan perspustakaan daerah (ibu Nur), Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak dari Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Anak (ibu Woro), bapak dan ibu pengawas SD maupun MI, 10 kepala sekolah/madrasah, dan 20 perwakilan guru dari 10 sekolah/madrasah kecamatan Wates, Sentolo, dan Pengasih.

 

Setelah pentas dari tim karawitan tuan rumah, prosesi penyambutan tamu dilanjutkan oleh 3 siswa MI Muh Kenteng. Mereka menampilkan beladiri tapak suci lengkap dengan properti senjata tajamnya. Penampilan ketiga dari 6 siswi SDN 2 Sentolo yang menampilkan tari topi. Selanjutnya, acara dibuka oleh tilawah dari siswi MI Muh Serangrejo.

 

 

Di samping itu, beberapa kepala sekolah/madrasah juga terlibat sebagai petugas acara. Bu Imma (MIN 2 Kulon Progo) bersama bu Endah (SDN 1 Sentolo) sebagai MC, bu Harni (SDN Giripeni) sebagai dirigen, serta pak Rujito (MI Muh Kenteng) mengisi doa. “Merinding melihat semuanya tergerak untuk menyukseskan acara, padahal kami baru saja dipertemukan dalam satu keluarga baru, Sekolah Literasi Indonesia” ungkap Wahyu, salah satu KAWAN SLI.

 

 

Acara yang diisi sambutan pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Yogyakarta, Kabid Pembinaan SD Disdikpora, dan Kabid Dikmad Kemenag ini merupakan acara Launching program SLI. Launching tersebut ditandai dengan simbolisasi penandatangan MoU diantara ketiganya dan penandatanganan Surat Perjanjian Kerjasama oleh 10 sekolah/madrasah terpilih. Sepuluh sekolah/madrasah yang hadir pada acara launching ini sebelumnya melalui serangkaian tahapan seleksi.

 

 

Sebagaimana yang disebutkan pada artikel https://pendidikan.kulonprogokab.go.id/article-1085-hasil-seleksi-tahap-2-sekolah-literasi-indonesia-kulon-progo-telah-diumumkan.html. Pada sambutannya, Kabid Pembinaan SD Disdikpora Kulon Progo berpesan bahwa “kondisi sekolah tentu berbeda-beda, oleh karena itu kami meminta agar proses pendampingan itu sampai tujuan, bisa mencapai sasaran. Karena ini ada perbedaan usia. Tim Dompet Dhuafa ini dalam segi kreativitas, tenaga, fikiran, mungkin lebih enerjik daripada Ibu Bapak Kepala Sekolah. Suasananya kan nanti ini antara ibu dan anak, bapak dan anak, nggeh boten? Laiya, nek bapak dan anak itu, nanti nek mlayu yo ojo kebanteren”. Penyampaian pesan dari Kabid Pembinaan SD tersebut disambut tawa para kepala sekolah/madrasah, guru-guru beserta tamu undangan yang hadir lainnya.

 

 

Sementara itu, kepala bidang Pendidikan dan Madrasah sebagai perwakilan Kemenag menyampaikan apresiasi terhadap program dampingan SLI dan menyampaikan harapannya agar lebih banyak madrasah yang dapat terdampingi program SLI dikemudian hari.

 

 

Setelah berakhir acara launching, sepuluh kepala sekolah/madrasah, beserta tim guru melanjutkan studium general membahas detail alur dan time line pendampingan intensif program SLI. Forum tersebut dipandu dua KAWAN SLI Kulon Progo (Wahyu dan Irfa). Selanjutnya, mereka akan melalui 3 bulan masa inkubasi untuk mengikuti pelatihan/pembinaan/diskusi bersama berdasarkan kurikulum SLI yang diadakan minimal satu minggu sekali. Kemudian, dua bulan selanjutnya para kepala sekolah/madrasah dan guru model melakukan implementasi dari materi-materi yang telah diperoleh (dengan dampingan KAWAN SLI).

 

 

“Kami optimis program SLI akan terus berjalan lancar. Hal ini mengingat semangat luar biasa dari 10 sekolah/madrasah dampingan, serta atas keberlimpahan dukungan dari berbagai stakeholder lainnya. InsyaAllah.” Papar Wahyu KAWAN SLI Kulon Progo.

KAWAN SLI: SPIRIT; Tanjakan, Tikungan, dan Turunan Akan Mengenal Semangatmu!

KAWAN SLI: SPIRIT; Tanjakan, Tikungan, dan Turunan Akan Mengenal Semangatmu!

Oleh : Wahyu Widiyawati, Konsultan Relawan SLI Kulon Progo

 

 

Kabut tipis dan udara dingin menjadi hadiah alam yang patut kita syukuri. Jalanan naik-turun pun menjadi daya tarik adrenalin tersendiri bagi Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) wilayah Kulon Progo. 45 menit waktu tempuh kami menuju lokasi Super Outbond di Goa Kiskendo Girimulyo, Kulon Progo. Lelah seketika lenyap sebab mata telah terpesona dengan nuansa pagi keindahan alam di pegunungan. Hal yang membahagiakan pun bertambah ketika mendengar bahwa para peserta Super Outbod yang terdiri dari kepala sekolah/kepala madrasah, guru-guru hebat, dan karyawan tangguh dari 10 sekolah dan madrasah penerima manfaat program SLI telah berada di seperempat perjalanan.

 

 

Semangat peserta Super Outbond memang patut diacungi jempol. Mereka berbondong-bondong datang ada yang menggunakan bis, mobil, dan bahkan kendaraan roda dua. Tak hanya sampai di situ mereka harus menuruni 55 tangga untuk sampai ke lapangan tempat apel dan outbond. Tak nampak terlihat raut wajah lelah dari para orang berjasa di dunia pendidikan ini. Kami pun semakin bergairah untuk menyalurkan dan menginternalisasikan nilai-nilai Dompet Dhuafa Pendidikan yaitu SPIRIT. Nilai-nilai ini akan kita tularkan dalam bentuk permainan. SPIRIT merupakan kepanjangan dari Synergy, Persistence, Innovative, Care, Continuous Improvement, dan Trustworthy. Adapun tujuan diadakannya outbond ini yaitu untuk meningkatkan sinergi antar sekolah/madrasah dampingan, antar guru model, dan antar kepala sekolah/kepala madrasah serta menerapkan nilai-nilai Dompet Dhuafa Pendidikan. Seperti halnya yang disampaikan oleh Dinarti Hastuti selaku guru kelas SDN 1 Kulwaru yang mengatakan, “Sesuai dengan tujuan awal yaitu menghilangkan rasa/sikap bersaing. Kami saat melaksanakan Super Outbond ini benar-benar bisa menyatu-menyatu luar biasa. Kami tidak memandang dari sekolah mana kami berasal demi satu tujuan”. Kita berupaya agar para penerima manfaat program SLI dapat merasa saling memiliki dan mengamalkan nilai-nilai sinergi, ketangguhan, inovatif, peduli, perbaikan berkelanjutan, dan amanah dalam setiap aktivitas. Kita juga berharap antar sekolah penerima manfaat dapat saling bekerjasama untuk meningkatkan performa sekolah/madrasah masing-masing dalam diskusi terarah nanti.

 

 

Kepala sekolah/kepala madrasah, guru-guru, dan karyawan merasa terkesan dengan kegiatan ini. Fauzan Noor Rochmah, guru kelas di SD Muh Sidowayah mengungkapkan, “Kegiatan ini sangat menarik dan menghasilkan banyak manfaat salah satunya membangun tanggungjawab dan melatih kerjasama tim, sehingga kami menjadi cepat akrab dan kompak”. Hubungan baik ini semoga terus berjalan dan menguat bersamaan dengan nilai SPIRIT yang terus tertanam. Upaya tanjakan, tikungan, dan turunan yang dilalui para peserta outbond sampai ke Goa Kiskendo maupun rumah masing-masing menjadi sebuah kenangan yang terus bersemayam karena akhirnya nilai SPIRIT Dompet Dhuafa Pendidikan dapat dibawa pulang dan diamalkan. Lebih khusus lagi, dapat menguatkan keberlangsungan program Sekolah Literasi Indonesia dari Dompet Dhuafa Pendidikan yang berkonsentrasi dalam lingkup kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah dengan kekhasan literasi.

 

KAWAN SLI: Bangun Kolaborasi 10 Kepala Sekolah Mengikuti Pelatihan Metode Uswah

KAWAN SLI: Bangun Kolaborasi 10 Kepala Sekolah Mengikuti Pelatihan Metode Uswah

Labuha, pada Sabtu (28/11), sebanyak sepuluh kepala sekolah terpilih mengikuti pelatihan Metode Uswah yang dilaksanakan oleh Kawan SLI 3 Halmahera di Sekolah 68 Halmahera Selatan.
Pelatihan ini merupakan pelatihan pertama dalam pendampingan dua belas sekolah setelah menjalani serangkaian proses admistrasi, selain pelatihan di saat yang sama KAWAN juga menggekar launching program pendampingan sekolah yang menandakan dimulainya kerja sama dengan sebelas pemimpin sekolah. Satu kepala sekolah mengundurkan diri dengan alasan melanjutkan pengobatan intensif atas sakit yang dideritanya.
Pelatihan yang dihadiri sepuluh kepala sekolah berjalan sangat seru berkat kepiawaian KAWAN Pelangi sebagai trainer, KAWAN Icut dan Edo turut menggawangi sesi lain pelatihan. Para kepala sekolah terlihat sangat fokus mengikuti pelatihan dan  berdiskusi mengenai tiga lingkup, enam kriteria dan dua belas Indikator Metode Uswah yang mereka tuangkan dalam selembar kertas manila yang kemudian akan menjadi bahan presentasi  kelompok. Agar pelatihan tak membosankan KAWAN menggunakan metode two stay two stray. Two stay two stray adalah satu metode pembelajaran kooperatif yang memberikan kesempatan kepada kelompok membagikan informasi terhadap kelompok lain dengan cara salah satu anggota kelompok bertugas menjaga stand hasil diskusi sedangkan anggota lainnya berpencar untuk memperoleh informasi dari kelompok lain.
Sedangkan Metode Uswah ialah metode membangun performa sekolah efektif yang ditemukan oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. Metode ini adalah metode tercepat dan mudah dalam membantu pembenahan dan peningkatan kualitas sekolah di Indonesia

KAWAN SLI: Saatnya Segarkan Kembali Semangat Para Guru Setelah Penilaian Akhir Semester

KAWAN SLI: Saatnya Segarkan Kembali Semangat Para Guru Setelah Penilaian Akhir Semester

 

Kulon Progo (MUSERA) – Guru dan karyawan MI Muhammadiyah Serangrejo mengikuti kegiatan Super Outbond yang diselenggarakan oleh Kawan (Konsultan Relawan) dari Dompet Dhuafa program Sekolah Literasi Indonesia, Rabu( 25/12). Outbond yang dilaksanakan di Goa Kiskendo, Girimulyo, Kulon Progo ini diikuti oleh guru dan karyawan dari 10 sekolah/madrasah dampingan Sekolah Literasi Indonesi.  Sepuluh sekolah/madrasah dampingan tersebut diantaranya SDN 1 Sentolo, SD Muh Girinyono, SDN Karangwuni, MI Muh Kenteng, SDN Giripeni, MIN 2 Kulon Progo, SD Muh Sidowayah, SDN 2 Sentolo, SDN 1 Kulwaru dan MI Muh Serangrejo.

 

 

Kegiatan diawali dengan apel pagi sekaligus pembukaan acara outbond oleh E. Satya Rahadi Kurniawan, S.Pd, Staf Kurikulum Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo. Dalam sambutannya, Aan (panggilan akrabnya) menghimbau kepada sekolah/madrasah dampingan agar dapat melaksanakan program ini dengan sebaik-baiknya untuk kemajuan dan tujuan bersama yaitu meningkatkan kualitas kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran dan budaya sekolah yang berbasis literasi.

 

 

Super Outbond yang mengusung tema Internalisasi Nilai-Nilai Dompet Dhuafa Pendidikan ini bertujuan untuk meningkatkan sinergi guru dan karyawan antar sekolah/madrasah dampingan. Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dari sekolah/madrasah yang berbeda, sehingga diharapkan dapat saling mengenal dan tujuan dari kegiatan dapat tercapai. “Ada beberapa nilai yang kami internalisasikan dalam setiap permainan, yakni Synergy (Sinergi), Persistence (Kegigihan), Inovatif (Pembaruan), Care (Kepedulian), Continous Improvemment (Usaha Berkelanjutan), dan Trustworthy (Terpercaya) yang disingkat dengan SPIRIT,” ungkap Irfa, tim dari Kawan.

 

 

“Saya senang sekali dengan adanya outbond sekolah dampingan SLI ini. selain sebagai sarana mempererat sinergi antar sekolah, hal ini juga bisa menjadi sarana refreshing bagi guru-guru setelah Penilaian Akhir Semester dan penyelesaian rapot siswa,” ungkap Istiqomah, S.Pd., salah satu guru model MI Muhammadiyah Serangrejo.

 

 

Hal yang sama diungkapkan oleh Kepala MI Muhammadiyah Serangrejo, Sumarsih, S.Pd.I, M.S.I. Sumarsih juga merasa senang dan berharap agar kegiatan-kegiatan yang sudah maupun belum dilaksanakan terkait dengan program Sekolah Literasi Indonesia ini dapat berjalan dengan baik dan sesuai dengan tujuan mewujudkan model sekolah/madrasah berbasis literasi yang berkualitas.

KAWAN SLI: SLI Kulon Progo. Menyatu Menyatu Luar Biasa! Menyatu Menyatu Istimewa!

KAWAN SLI: SLI Kulon Progo. Menyatu Menyatu Luar Biasa! Menyatu Menyatu Istimewa!

Oleh : Irfa Ramadhani (KAWAN SLI KP)

 

 

Sepuluh sekolah/madrasah Kulon Progo mengikuti kegiatan “Super Outbound” Sekolah Literasi Indonesia Kulon Progo (SLI KP) di Gua Kiskendo, Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Kegiatan yang dilaksanakan hari Rabu (25/12) pagi ini bertujuan untuk menguatkan interaksi antar kepala sekolah/madrasah, guru-guru, beserta karyawan dari SDN 1 Sentolo, SDN 2 Sentolo, SD Muh Sidowayah, MI Muh Kenteng, SD Muh Girinyono, SDN Karangwuni, SDN 1 Kulwaru, SDN Giripeni, MIN 2 Kulon Progo, serta MI Muh Serangrejo.

 

 

Kegiatan dibuka oleh E. Satya Rahadi K. (Pengembang Teknologi Pembelajaran) pada apel pagi Super Outbound. Laki-laki yang akrab dipanggil Aan ini mewakili Disdikpora Kulon Progo menyampaikan apresiasinya  terhadap program pendampingan yang diberikan SLI. Beliau juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada Bapak dan Ibu guru yang telah bersemangat dalam memaksimalkan potensi, memaksimalkan diri, serta berterima kasih atas semangat para guru dalam meningkatkan kualitas sekolahnya.

 

 

Program pendampingan SLI sendiri merupakan program Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) bersama Dompet Dhuafa Yogyakarta (DD Yogya), sebagai salah satu upaya peningkatan mutu pendidikan Indonesia. Tahun ini, sejumlah 14 Konsultan Relawan (KAWAN) SLI disebarkan ke lima wilayah Indonesia untuk mendampingi sekolah/madrasah dalam meningkatkan performanya. Kulon Progo menjadi salah satu Kabupaten penerima manfaat SLI. Dalam hal ini, Dompet Dhuafa bersinergi dengan Disdikpora Kulon Progo dan Kemenag Kulon Progo.

 

 

Selain untuk penguatan interaksi antar sepuluh sekolah/madrasah terpilih di Kecamatan Wates, Sentolo, dan Pengasih, pengenalan dan internalisasi nilai-nilai DD Pendidikan juga menjadi tujuan diadakannya outbound. Dua orang KAWAN SLI KP dengan bantuan 2 pengelola DD Yogya, 2 KAWAN SLI Gunung Kidul, dan 4 orang TNI, berkolaborasi dalam merancang 6 permainan untuk total 102 peserta. Enam permainan tersebut memiliki 6 pesan, antara lain Sinergy, Persistent, Innovative, Care, Continuous Improvement, dan Trustworthy, yang selanjutnya disingkat menjadi SPIRIT. Internalisasi nilai DD Pendidikan tersebut disampaikan pada akhir sesi outbound oleh KAWAN SLI KP.

 

 

“Secara teknis, KAWAN SLI KP membentuk pengelompokkan guru berdasarkan fungsinya. Kelompok pertama adalah kelompok kepala sekolah/madrasah, kelompok ke-2 dan ke-3 merupakan kelompok yang dibentuk dari ‘guru model’ masing-masing sekolah/madrasah. Tiga kelompok tersebut selanjutnya akan mendapatkan pelatihan dan pembinaan dari KAWAN SLI KP. Sementara itu, tujuh kelompok lainnya merupakan gabungan dari guru-guru dan karyawan 10 sekolah/madrasah yang akan menerima materi pelatihan SLI melalui tiga kelompok sebelumnya” papar Irfa salah satu KAWAN SLI KP.

 

 

Irfa selanjutnya menjelaskan gambaran dan harapan pasca outbound, “Guru baru hingga guru-hampir-pensiun terlebur menjadi satu keluarga baru. Tawa dan canda tercurah dari insan-insan mulia itu. Terharu melihat senyum terkembang pada figur bijak nan syahdu. Semoga keluarga baru ini semakin menyatu untuk mewujudkan pendidikan Indonesia yang kian bermutu”, pungkasnya dengan senyum ceria.

 

 

SLI Kulon Progo. Menyatu Menyatu Luar Biasa! Menyatu Menyatu Istimewa!