Si Kulit Bundar Penyatu Perbedaan

Perbedaan merupakan hal yang lumrah dalam kebersamaan, bahkan kita telah sepakat pelangi indah karena beraneka ragam perbedaan warna. Lantas kenapa kita terlalu fokus pada perbedaan yang sering kali justru mengkotak-kotakkan antara kelompok yang satu dengan yang lain. Perbedaan tak lantas menjadi alasan kita untuk saling bermusuhan bahkan dalam Alquran telah gamblang dijelaskan yaitu pada surat Al Hujurot ayat ke 13 bahwa kita diciptakan bersuku-suku dan berbangsa untuk saling mengenal. Saling mengenal merupakan cara kita memahami bahwa kita semua memiliki persamaan diantara banyaknya perbedaan salah satunya sama-sama mahluk ciptaan Allah SWT. Sudah sepatutnya persamaan inilah menjadi fokus pandangan kita, untuk menciptakan kedamaian dan ketentraman dalam kebersamaan.

Sudah lima purnama saya sebagai Konsultan Sekolah Literasi Indonesia hidup dalam kebersamaan masyarakat Desa Engkerengas Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu Provinsi Kalimantan Barat, untuk hubungan sosial saya pribadi dengan masyarakat desa tak menemui kendala sebab pada dasarnya sikap terbuka dan memuliakan tamu atau orang baru dari masyarakat desa sangat saya rasakan tak jarang hari-hari masyarakat silih berganti memberikan lauk maupun makanan kepada saya, bahkan saya telah memiliki orang tua angkat Pak Marzuki namanya.

Namun hal ini justru berbeda yang tampak pada kehidupan sosial masyarakat antara yang satu dengan yang lain, hidup berkubu-kubu masih terlihat diantara mereka, saling menggunjing dan menyalahkan satu pihak menjadi hal biasa. Terlebih lagi persoalan ketidakpuasan terhadap pemerintah desa yang paling besar menyumbang ketidak harmonisan masyarakat desa. Akan tetapi walaupun begitu kegiatan gotong royong masih menjadi budaya disini, segala kegiatan yang ada di masyarakat diputuskan melalui musyawarah dan dikerjakan dengan bergotong royong.

Walaupun sering terjadi perbedaan dan selisih paham yang merupakan hal biasa dalam bermasyarakat namun ada hal yang membuat mereka bisa tertawa bersama, yaitu permainan sepak bola. Di desa Engkerengas tak memandang wanita dan pria baik anak-anak hingga kakek-kakek sering membahas permainan ini. Menjadi hal mudah untuk membaur dengan masyarakat disini cukup pandai bermain bola dan tahu seluk beluk permainan ini.

Pada 3 bulan pertama saya mengadakan pertandingan futsal untuk desa, selama ini mereka hanya bermain sepakbola belum pernah melakukan pertandingan futsal, ku buka pendaftaran banyak yang mendaftar karena penasaran namun ada juga yang malu untuk mendaftar karena malu jika nanti ditertawakan dalam pertandingan. Hingga pertandingan dimulai ramai penonton yang datang bahkan ada yang berjualan disekitar lapangan sorak sorai penonton tua muda baik wanita maupun pria, tak jarang gelak tawa pecah membahana jika ada salah satu pemain yang terjatuh, semua larut dalam tawa lupa akan segala perbedaan dan peselisihan.

Itulah kehebatan si kulit bundar menyatukan masyarakat desa ini, bahkan jika ditanya anak-anak sekolah yang laki-laki tentunya kebanyakan mereka suka dan bercita-cita menjadi pemain sepak bola terkenal. Sehingga akupun terinspirasi untuk mengadakan latihan sepak bola sekali sepekan setiap usai shalat ashar, akupun tak pandai dan tahu banyak teknik permainan sepak bola namun semua itu bisa berjalan sambil belajar banyak konten you tube dan aku telah memesan buku teknik-teknik dasar bermain sepak bola yang bisa ku ajarkan pada mereka yang belum tentu juga teknik itu aku kuasai sendiri, tapi melihat antusiasme mereka dalam latihan membuat aku malu jika menyia-nyiakan semangat mereka.

Asaku Hanya Satu, Bisa Pulang Bertemu Ibu

Dan ada beberapa hal yang harusnya kita sadari bahwa kita mesti mengalah dengan waktu, untuk berhenti ditengah perjalanan. Bukan berhenti untuk mengalah dengan kesenangan, namun hanya untuk sejenak menikmati bahwa kekuasaan Tuhan memang layak untuk di pandang dan diresapi sampai ke urat nadi. Kita pasti tidak pernah menyangkal bahwa mengeluh adalah hal yang tidak sengaja telah menjadi sebuah kebiasaan, dalam kata lain lupa  bahwa bersyukur adalah sebuah darma bagi seluruh insan dimuka bumi.

Disaat kita mulai tenggelam dengan aktivitas, seringkali kesibukan memakan waktu luang yang seharusnya dimanfaatkan sebagai berantara untuk melepas rindu dengan kampung halaman. Bernostalogia tentang rumah yang menjadi tujuan akhir dari sebuah perjalan panjang. Ketika memutuskan untuk berjuang melalui jalan berpertualang, maka disaat itulah kita mulai sadar bahwa itu adalah sebuah opsi untuk berpisah sejenak dengan rumah.

Bicara tentang rumah, hal ini mengingatkan saya dengan anak-anak panti asuhan yang banyak bersekolah di MI Muhammadiyah 2 Bandung. Mereka yang bersekolah mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Kebanyakan dari mereka adalah anak yatim piatu, bahkan tidak sedikit juga dari mereka yang masih memiliki ayah dan ibu namun karena sebuah tuntutan hidup dalam hal ekonomi, membuat mereka harus dititipkan oleh kedua orang tua mereka ke Panti Asuhan. Terbayangkah, dikala umur mereka masih kecil, mereka harus dihadapkan dengan sebuah perpisahan, tantangan besar didepan mata menuntut mereka  untuk harus hidup mandiri yang tentunya jauh dari kasih sayang dan lindungan orang tua.

Sebuah kejadian sendu terjadi di MI Muhammadiyah 2 Bandung tepatnya pada tanggal 19 Januari 2019. Saat itu sedang ada kegiatan Parenting dengan tema “Mempersiapkan Anak Menyonsong Masa Depan”, dimana saat itu menghadirkan orang tua dari siswa dan siswi. Di akhir acara ada peampilan dari kelas 6, mereka menyanyikan lagu tentang Ayah dan Ibu. Belum setengah dari lagu yang mereka nyanyikan, suasana langsung berubah menjadi sendu, satu persatu dari mereka mulai meneteskan air mata, begitupun dengan orangtua dan guru-guru. Saat itu aku yang sedang mengabadikan moment, sambil berusaha untuk menahan air mata, namun sayang, rinduku tentang rumah terbawa hanyut oleh setiap lirik lagu yang mereka nyanyikan.. Setelah lagu selesai dinyanyikan, anak-anak langsung bubar, berlari ke orangtua mereka, dekapan peluk ibu dan ayah mereka mengubah suasana menjadi haru. Namun fokusku mulai beralih dengan mereka yang duduk terdiam sambil meneteskan air mata di atas panggung. Iya,mereka adalah anak-anak panti asuhan yang tidak menemukan sosok ibu atau ayahnya. Namun kesedihan mereka sedikit terobati ketika wali kelas dan guru-guru menghampiri dan langsung merangkul mereka, seraya menciptakan sebuah maksud bahwa mereka juga punya orang tua, yaitu guru mereka.

Disini aku mulai berfikir, bahwa perpisahan adalah sebuah proses untuk menuju pulang. Demi sebuah kerinduan maka bungkuslah diri dengan kekuatan. Ingatlah untuk selalu mendoakan pemilik rumah si penyambut kedatangan ketika kembali. Karena sejauh apapun perjalanan yakinlah doa orangtua akan setia menemani dalam setiap langkah. Menuju 7 Purnama untuk kembali.

“Apakah petualangan adalah tentang mengabaikan rumah untuk dianggap gagah?
Apakah petualangan tentang menyendiri untuk keangkuhan diri?
Apakah petualangan adalah tentang melupakan keindahan kasih sayang orang tua untuk melihat kindahan alam?
Kini aku sadari bahwa petualangan adalah menghilang untuk menemukan, ,melangkah untuk memaafkan, mengalah untuk membahagiakan, dan pergi untuk pulang.” –Fiersa Besari–

Ikuti “Nalar Ayat-Ayat Semesta” bersama Dr. Agus Purwanto

Syaikh Thanthawi, guru besar Al-Azhar Kairo mengulas dalam tafsirnya Al Jawahir, bahwa Al qur’an memuat lebih dari 750 ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fikih. Namun, anehnya para ulama telah menulis ribuan kitab fikih, tetapi nyaris tidak memperhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya.
.
Pernyataan retoris diungkapkan oleh Agus Purwanto dalam karyanya Ayat-Ayat Semesta: Umat dan para ulama banyak menghabiskan waktu untuk membahas persoalan fikih, dan sering sekali berseteru serta bertengkar karenanya. Mereka lalai atas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan, dan kelap-kelipnya bintang. Mereka abaikan gerak awan di langit, kilat yg menyambar, listrik yg membakar, malam yg gelap gulita, dan mutiara yg gemerlap. Mereka juga tak tertarik pada aneka tumbuhan di sekitar, binatang ternak, maupun binatang buas yg bertebaran di muka bumi, dan aneka fenomena serta keajaiban lainnya.
.
Pertanyaannya, apakah sains tidak relevan dalam Islam?. Padahal dalam sejarah keilmuan tercatat bahwa sains modern merupakan sumbangan para ilmuwan muslim terhadap peradaban dunia, terutama ketika Eropa berada dalam dark age. Sebut saja Al-Biruni ahli fisika dan kedokteran, Al-Razi ahli kimia, Al-Khawarizmi ahli matematika, Ibnu Haitsam ahli optik, serta nama-nama seperti Ibnu Sina, Ibnu Farabi, Ibnu Khaldun, Al-Kindi, Ibnu Batutah, Ibnu Rusyd, Al-Saghani, dan masih banyak nama lagi.
.
Pada awal abad 20, geliat kebangkitan Islam mulai muncul. Modernisasi mulai coba dibingkai dalam ajaran Islam, ummat Islam mulai menerima kehidupan modern namun menolak budaya barat yg cenderung materialistik.
.
Sesungguhnya Islam dan Al-Quran tidak bertentangan, apalagi bermusuhan dengan sains. Dalam buku Ayat- Ayat Semesta kita ditunjukkan bagaimana Al-Quran justru menjadi sumber dari sains modern. Sains dikonstruksi berdasarkan inspirasi wahyu Allah SWT dalam bangunan ilmu pengetahuannya.
.
Sains barat pada umumnya cenderung menafikkan Tuhan, yang menjauhkan manusia dari penciptanya, namun sains yang terkandung dalam Ayat-Ayat semesta justru mendekatkan manusia dengan penciptanya, tak lepas dari nilai-nilai agama.

Mari bersama, kita menemukan relevansi perubahan & makna sains dalam kandungan Ayat-Ayat Semesta.
.
🗓 Kamis, 28 Maret 2019
🕰 Pukul 08.30 s.d. 11.00
🏢 Aula Al insan Dompet Dhuafa Pendidikan (Jl.Raya Parung KM.42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab.Bogor

Free hanya dengan mendaftar di http://bit.ly/DAFTARDISKUSIPRODUKTIF

Informasi lebih lanjut
089650970373 atau 081288338840 (Markom Dompet Dhuafa Pendidikan)

SHARING FOR INSPIRING

Sebagai lembaga yang bergerak di bidang pemberdayaan pendidikan dan SDM, kami, Dompet Dhuafa Pendidikan didukung oleh para profesional yang berkarya secara penuh waktu. Selain memiliki kompetensi sesuai pekerjaannya, beberapa dari mereka juga memiliki keahlian khusus yang sering dibagi dalam bentuk training, workshop juga kajian, baik yang kami selenggarakan sendiri maupun diundang oleh lembaga atau perusahaan lain.

Kali ini kami membuka kesempatan bagi perusahaan, sekolah atau majelis taklim yang Anda kelola untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki para trainer dan ustaz kami. Sharing ini kami berikan secara *GRATIS* alias tidak ada beban biaya.

Trainer dan ustaz yang tersedia untuk kesempatan ini adalah:

– Titik Maryani (Trainer Hypnoparenting)
– M. Syafi’ie El Bantanie (Trainer Pemuda Pembangun Peradaban)
– Aang Hudaya (Trainer Gemar Rapi)
– Ustad Fauzan (Da’i Muda)

Keempatnya telah naik banyak panggung dan memberikan inspirasi pada ribuan orang. Apakah panggung berikutnya di tempat Anda? Tunggu apalagi?! Segera kontak narahubung kami, 081288338840 (Markom Dompet Dhuafa Pendidikan), hanya lewat Whatsapp ya… Sampai jumpa di panggung Anda!

#sharing #caring #pembicara # berbagi #training #hypnosis #kajian #ceramah #hypnoparenting #trainingperusahaan #pendidikan #trainingsiswa #majelistaklim #trainingsekolah #traininggratis #seminar #jakarta #bogor #depok #bekasi #tangerang #dompetdhuafa #ddpendidikan

KAWAN SLI dan DD Riau turun bantu masyarakat terdampak asap

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) dan Dompet Dhuafa Riau kembali melakukan aksi pembagikan masker dan obat-obatan kepada masyarakat Dusun Bandaraya, Desa Sokop di SDN 12 Sokop Lokal Jauh. Selasa,12/03/2019.

Aksi membagikan masker dan obat-obatan ini adalah bentuk kepedulian yang dilakukan Dompet Dhuafa Riau terhadap masyarakat yang terkena dampak dari bencana asap yang membakar hutan seluas 216,4 hektare di Kepulauan Meranti.

Sebelum tim Dompet Dhuafa membagikan masker dan obat-obatan secara gratis di SDN 12 Sokop Lokal Jauh tersebut. Munzir selaku KAWAN SLI mengatakan, pembagian masker N95 dan obat-obatan ini untuk mengantisipasi terjadinya penyakit ISPA yang disebabkan asap kebakaran hutan/lahan.

Pada kesempatan yang sama, Ali Bastoni, selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Riau mengatakan bahwa ini bentuk kepeduliannya terhadap bencana asap yang sudah lama terjadi di Kepulauan Meranti, minimal kita memberikan bentuk aksi nyata kepada masyarakat, seperti yang kita lakukan sekarang ini, memberikan masker dan pengobatan secara gratis.

“Sebanyak 500 masker dan obat-obatan diberikan kepada anak-anak sekolah dan juga masyarakat yang kami berikan secara cuma Cuma,” tutupnya.

Ayo bersama Tika gabung Gemari Baca

Gartika atau yang kerap disapa Tika merupakan Duta Gemari Baca batch 3 yang kini sedang berkuliah di UPI Purwakarta. Di tengah kesibukan kuliahnya, Tika juga aktif dalam mengembangkan literasi anak-anak di Purwakarta melalui Rumah Impian.

Rumah Impian merupakan wadah bagi mahasiswa yang ingin mengembangkan diri sekaligus mengabdi dengan mengembangkan potensi dan meningkatkan minat baca anak-anak di sekitar kampus UPI Purwakarta. Berbagai kegiatan menarik dilaksanakan setiap minggunya, seperti Giat Sholeh Sholihah, Senam Membaca Yuk, Sinau Inggris, Cooking Fun, Nobar (Nonton Bareng), Mencari Jejak Sampah, Drawing Fun, Bermain Peran, dan bermain berbagai permainan tradisional.

Relawan Rumah Impian juga kerap mengadakan ekspedisi literasi dengan membawa buku bacaan ke daerah pedalaman. Kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan dan memotivasi relawan untuk bisa mengemas kegiatan literasi dengan lebih menarik sehingga mampu diterima oleh masyarakat.

Tika mengajak kamu, generasi muda yang memiliki ketertarikan dalam mengembangkan literasi di sekitarmu untuk bergabung menjadi Duta Gemari Baca batch 5 dengan klik bit.ly/DutaGemariBaca5

membaca #ayomembaca #marimembaca #indonesiamembaca #gemaribaca #gemarmembaca #budayakanmembaca #literasi #literasi15detik #literasiindonesia #literasimedia #duta #dutabacaindonesia #relawan #relawannusantara #relawanindonesia #bogor #jakarta #pendidikan #dompetdhuafa #ddpendidikan

Bapak Guru Pilot Kah?

“Bapak Guru, Bapak Guru.” Ujar salah satu siswa kelas 5.

“Bapak Guru pilot kah?” Lanjutnya.

Sejak masuk semester genap ini anak-anak punya guru baru. Beliau adalah Pak Nawir M. Taher atau yang akrab dipanggil Pak Nawir. Beliau adalah seorang pegawai di kantor BMKG Kabupaten Maluku Tenggara Barat sejak tahun 2012. Matematika menjadi mata pelajaran yang beliau ampu. Pak Nawir menawarkan diri untuk menjadi guru matematika di MI Al-Azhar Saumlaki karena rasa kepedulian beliau akan pendidikan anak-anak Muslim di Saumlaki.

Kekurangan guru masih menjadi masalah utama di MI Al-Azhar Saumlaki. Hal ini tentu bukan alasan, keinginan yayasan untuk merekrut sarjana pendidikan yang beragama Islam di Sumlaki masih sangat sulit. Minimnya sumber daya manusia yang ada menyebabkan orang-orang yang memiliki kemauan besar untuk mengajar memutuskan untuk bergabung dengan madrasah ini. Sehingga tak sedikit pula guru-guru MI Al-Azhar Saumlaki yang berlatar belakang non-kependidikan.

Pak Nawir sendiri merupakan alumni D4 Geofisika dari STMKG (Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), salah satu sekolah ikatan dinas di bawah BMKG. Beliau bertugas di Saumlaki sudah sekitar 6 tahun. Keinginan beliau untuk bergabung dengan MI Al-Azhar Saumlaki tentunya bukan tanpa alasan. Setelah beliau melihat pengumuman rekrutmen guru yang dibagikan oleh salah satu guru, beliau mencoba menawarkan diri. Selain itu, beliau juga mengkomunikasikan keinginannya sebagai guru bantu kepada Kepala Kantor. Dan alhamdulillah, Kepala Kantor menyetujui keingingan Pak Nawir untuk menjadi guru.

Selain rasa kepedulian yang tinggi, pertimbangan beban pekerjaan di kantor juga menjadi alasan beliau menjadi guru. Sebagai pegawai shift, jam kerja beliau kebanyakan dimulai siang atau sore hari. Sehingga di pagi hari beliau bisa mewakafkan waktunya untuk anak-anak.

Pak Nawir sadar kalau beliau bukan seorang sarjana pendidikan, tapi kemauan beliau untuk mengamalkan ilmu yang beliau miliki kepada anak-anak sangatlah tinggi. Beliau sangat berbesar hati untuk menerima masukan-masukan dari para guru berkenaan dengan hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipelajari sebagai seorang guru.

Madrasah sangat bersyukur dengan bergabungnya Pak Nawir. Setidaknya dengan adanya beliau, anak-anak akan lebih semangat lagi untuk belajar matematika. Madrasah tidak menuntut banyak hal dari beliau karena beliau memang memiliki tugas utama sebagai seorang pegawai BMKG.

“Bukan, Nak. Bapak Guru bukan pilot. Bapak guru kerja di kantor BMKG.” Jawab Pak Nawir.

“Ooohhhh…” Sahut anak-anak.

Dwi Wahyu Alfajar – Kawan SLI Penempatan Kab. Maluku Tenggara Barat

Kebakaran Hutan, KAWAN SLI bagi-bagi Masker

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia dari Dompet Dhuafa membagikan masker gratis kepada warga Sokop Kecamatan Rangsang Pesisir Kabupaten Kepulauan Meranti, Sabtu (2/3/2019) pagi. Sebanyak 400 masker dibagikan kepada setiap warga yang melintas di desa Sokop.

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia dari Dompet Dhuafa disambut antusias oleh warga. Ratusan masker yang dibagikan pun ludes dalam sekejap.

Aksi yang dimulai dari pukul 07.00 itu hanya berlangsung sekitar 2 jam. Munzir, salah satu Konsultan Relawan  SLI yang turut dalam aksi simpati tersebut mengatakan, kegiatan ini kemungkinan akan terus berlanjut hingga kabut asap reda.

Dari pantauan, kondisi kabut asap yang menyelimuti Desa Sokop semakin meningkat dibanding sehari sebelumnya. Abu bekas terbakarnya lahan terlihat sangat jelas jatuh berguguran. Abu tersebut sangat jelas terlihat di kendaraan yang sedang terparkir.

Desa Sokop diguyur abu tipis akibat kebakaran lahan gambut yang terjadi sejak hari Kamis (27/2/2019) yang lalu. Selain itu kabut asap dampak dari kebakaran yang berawal dari Desa Bungur, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kabupaten Kepulauan Meranti belum diketahui penyebab api.

Konsultan Relawan Sekolah literasi Indonesia,  mengimbau agar masyarakat tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar.

“Dampak dari kebakaran lahan dapat mengganggu masyarakat sekitar, mengingat lokasi kebakaran dekat dengan perumahan warga. Selain itu, asap dari kebakaran lahan juga akan berdampak pada kesehatan masyarakat. Jadi semua akan dirugikan” ujar Munzir.

LITERAKSI: Bukan Sekadar Narasi

li.te.ra.si // kemampuan individu dalam mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup

ak.si // tindakan

Pasti kamu sudah tidak asing dengan kata LITERASI! Lalu bagaimana dengan LITERAKSI?

Bagi sebagian orang, literasi sudah menjadi bahan obrolan yang sering didengar. Survey tentang minat baca di Indonesia pun sering disampaikan. Tapi tidak banyak yang kemudian memutuskan untuk mewujudkannya dalam aksi nyata. Berangkat dari realita ini, Duta Gemari Baca batch 5 mengusung tema yang bisa jadi merupakan wujud pengharapan bagi generasi muda yang ingin membawa perubahan bagi literasi di Indonesia.

Literaksi diambil dari 2 kata yang berbeda yaitu Literasi dan Aksi. Sebagaimana artinya, Literaksi merupakan wujud tindakan nyata pemuda untuk turut berkontribusi mendorong minat dan budaya baca dalam upaya mewujudkan masyarakat yang literat. Alih-alih banyak bicara dan berdebat, baik di dunia nyata maupun maya, Duta Gemari Baca diharapkan mampu menciptakan perubahan nyata melalui aksi literasi bagi lingkungan sekitarnya. Harapan ini pula yang nantinya tersemat bagi seluruh masyarakat Indonesia untuk sama-sama bergotong royong menyelesaikan permasalahan bangsa ini.

Bersama harapan ini Dompet Dhuafa Pendidikan memanggil kamu, generasi muda yang ingin berkontribusi dan mewujudkan aksi nyata dalam meningkatkan literasi masyarakat Indonesia dengan bergabung menjadi Duta Gemari Baca batch 5.

Dengan menjadi Duta Gemari Baca kamu bisa berjejaring dengan relawan literasi dari seluruh Indonesia dan mendapatkan keterampilan dan pengetahuan di bidang literasi. Ilmu yang kamu dapatkan bisa kamu aplikasikan di komunitas, TBM, atau perpustakaan kamu untuk meningkatkan minat dan budaya baca masyarakat Indonesia.

Segera daftarkan diri kamu di http://bit.ly/DutaGemariBaca5

Kecepatan Siswa Kembali Sekolah Pascabencana Tidak Diimbangi Kesiapan Fasilitas dan Pengajar

Arif Haryono, General Manager Pendidikan Dompet Dhuafa menyampaikan pernyataan tersebut saat ia didapuk menjadi salah satu narasumber pada acara Ngobrol Pendidikan Indonesia (NGOPI), Jumat malam (22/2) kemarin. Acara tersebut terlaksana di Upnormal Coffee Roaster, Jl. Raden Saleh, Cikini Jakarta Pusat, dan dihadiri oleh 75 peserta dari berbagai latar belakang.

Pernyataan Arif di atas merupakan kesimpulan dari aktivitas tanggap darurat dan recovery yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa di banyak lokasi bencana. “Saya ingin bicara kasus bencana di Lombok, lalu dilanjutkan Palu, hingga Lampung. Kami menurunkan 17 relawan guru yang kami tempatkan di 11 sekolah selama 6 bulan. Kemudian kami mendapati data yang cukup menarik. Selama 5 bulan pasca bencana, tingkat kehadiran guru dalam sepekan hanya 24%, sedangkan 76% lainnya absen,” papar Arif.

Selanjutnya Arif menjelaskan dengan menyebutkan contoh kasus di Lombok, guru tidak hadir dengan berbagai alasan seperti memperbaiki tempat tinggal, mengurus keluarga, izin sakit dan masih merasa takut untuk mengajar di sekolahnya. “Guru-Guru masih tidak stabil. Mereka masih merasa tidak berenergi, bahkan setelah 6 bulan pascabencana,”sambung alumni UNPAD itu.

Kondisi tersebut berkebalikan dengan siswa. Meski mengalami trauma bencana, namun semangat mereka untuk kembali ke sekolah lebih cepat pulih. “Tiga hari pascabencana anak-anak sudah mau kembali belajar, tetapi kecepatan mereka tidak ditopang dengan kesigapan kita dalam menyediakan tempat dan guru pengajar,” ungkap Arif. Hal ini menjadi sebuah kondisi yang ironis, padahal aktivitas sekolah dapat membantu anak-anak untuk sembuh dari trauma mereka.

Selain Arif, pada acara berformat talkshow dan diskusi ini juga hadir Peneliti Geofisika Laut Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, Nugroho Dwi Hananto, sebagai perwakilan dari unsur pemerintah. Sedangkan dari unsur masyarakat, di samping Dompet Dhuafa juga hadir Koordinator Advokasi dan Akuntabilitas serta Pengembangan Kapasitas, Masyarakat Penanggulangan Bencana Indonesia (MPBI), Iskandar Leman.

Ketiga pembicara tersebut menyampaikan pengantar diskusi sesuai kepakaran mereka masing-masing dalam konteks bencana. Paparan tersebut diharapkan dapat menghantar diskusi mengarah pada tujuannya, yaitu merancang model pendidikan di wilayah bencana, mulai dari respon tanggap darurat, recovery dan mitigasi bencana sejak dini. Diskusi ini juga bertujuan untuk mengadvokasi konsep pendidikan di wilayah bencana agar dapat masuk dalam kurikulum pendidikan nasional.