TKQ Uswah Mulya Indonesia dalam Perjuangannya

TKQ Uswah Mulya merupakan salah satu sekolah inisiasi dari Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa. Sebuah  Taman Kanak-kanak Al-Qur’an yang  berada di pinggir kota Bandung. Dikategorikan sebagai sekolah yang berada di daerah urban membuat sekolah ini harus menjadi bagian yang memang butuh perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Awal Tahun 2018 sekolah ini sempat vakum karena tidak ada lagi masyarakat yang mendaftarkan anaknya disekolah tersebut, dan akhirnya menjadi sekolah yang telah ditinggalkan.

Awal kedatangan saya sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia memang sedikit memberi kejutan karena faktanya sekolah ini sudah tidak aktif lagi. Hal itu membuat ekspektasi saya mulai hilang tanpa harapan. Namun akhirnya saya bertekad agar sekolah ini harus diaktifkan kembali, memulainya dari nol. Saya mulai menghubungi kembali tenaga-tenaga pendidik yang mau kembali bergerak mengaktifkan sekolah ini. Dari tiga pendidik yang dulu mengajar, hanya satu orang saja yang akhirnya mau kembali ke sekolah, bu Dedeh namanya

Bersama bu Dedeh  saya mulai melakukan pergerakan, dari menghubungi para perangkat desa hingga mengumpulkan orang-orang yang mau mendukung sekolah ini aktif kembali. Alhamdulillah, masyarakat mendukung niat kami. Akhirnya pertualanganpun dimulai.  Saya dan Bu Dedeh mulai menyebarkan brosur penerimaan Peserta Didik baru, dan dimana pada awalnya sekolah ini bersifat gratis. Setelah melakukan penyebaran brosur sekolah, akhirnya terkumpulah 13 orang siswa, dan itu bagi kami merupakan  sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun semakin hari siswa semakin bertambah, dari awalnya 13 orang sekarang akhirnya jumlah siswa menjadi 23.

Bagi saya Bu dedeh, lebih dari seorang guru biasa, beliau adalah relawan yang ikhlas mengajar anak-anak di TKQ Uswah Mulya. Karena pada dasarnya sekolah ini bersifat gratis, adapun sumber pendanaan dari sekolah ini adalah atas inisiatif orang tua mengumpulka infaq Rp,. 2000 perhari untuk setiap anak. Dan dari dana yang terkumpul dibelikan untuk fasilitas belajar siswa, seperti buku tulis, buku gambar, dan kebutuhan lainnya seperti biaya listrik, iuran sampah, dan lain sebagainya.

Kontributor : Reni Rahayu (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan)

Mari bantu pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Dompet Dhuafa Pendidikan dengan mengirimkan donasi via Rekening BNI Syariah 2881 2881 26 an Yys Dompet Dhuafa Republika

Donasi untuk Rizal Guru Relawan terkenca bencana di Sigi

Bantu Rizal agar kembali tenang mengajar

Dua hari sudah guru relawan Dompet Dhuafa ini tak masuk sekolah. Ia absen bukan tanpa alasan, rumahnya amblas diterjang banjir bandang di Desa Bangga Sulawesi Tengah pada ahad malam (28/4) kemarin. Saat ini Rizal mengais satu persatu barang yang masih bisa diselamatkan dari rumahnya. Saat banjir datang Rizal tak bisa berbuat banyak, yang terpikirkan bagaimana ia bisa selamat.

“Saya ini betul-betul cuman pakaian di badan,” terang Rizal pada kami rekan-rekannya.

“Mohon do’anya, semoga setelah barang-barang bisa kami ambil saya akan kembali masuk sekolah,” sambungnya.

Relawan di SDN Bulubete Sigi ini baru saja menikah, kebahagiaan sebagai pengantin baru perlahan sirna akibat bencana yang melanda kampungnya. Rizal kini membutuhkan uluran tangan, pakaian, juga tempat tinggal sementara agar ia bisa kembali tenang mengajar.

“Double (dua kali) ujian yang Allah berikan untuk kami ini, saya cuman kasian sama maitua (istri), belum lama sama-sama sudah dapat cobaan begini,” tutur Rizal yang ditemui Tim Guru Relawan pada Selasa (30/4).

Mari sahabat, di moment Hari Pendidikan Nasional ini kita bantu Rizal agar ia bisa kembali tenang mengajar. Donasi dapat dikirim melalui BNI Syariah 2881 2881 26 a.n. Yys Dompet Dhuafa Republika. Sertakan kode 41 di akhir nominal transaksi, misalnya 500.041

Dukungan berupa komentar dapat Anda kirimkan dengan mengirimkan emot (like) di kolom komentar
Informasi & Konfirmasi

  • Telp & WA : 0812 8833 8840

Donasi #HariPendidikanNasional2019 #Hardiknas2019 #Pendidikan #DonasiBencana #DDPendidikan #DompetDhuafa #JanganTakutBerbagi

asosiasi pemimpin literat

Open Recruitment Asosiasi Pemimpin Literat

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) merupakan sebuah model sekolah yang berkonsentrasi dalam meningkatkan kualitas sistem instruksional (pembelajaran) dan mengembangkan budaya sekolah berbasis literasi. SLI lahir dari Dompet Dhuafa Pendidikan dengan tujuan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. 

Sejak tahun 2016 sudah 118 sekolah yang telah didampingi (54 Sekolah Reguler dan 64 Sekolah Jaringan). Semakin luasnya sekolah dampingan, maka semakin banyak juga kebutuhan terhadap konsultan yang paham terhadap program SLI. 

Oleh karena itu, kami membuka peluang bagi para Kepala Sekolah yang ada di 10 Wilayah (Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Palembang, Jakarta Selatan, Tangerang, Depok, Bogor, Kota Bandung, Kab. Bandung dan Tegal ) untuk begabung dalam Asosiasi Pemimpin Literat yang merupakan kumpulan para Kepala Sekolah yang berwenang untuk melaksanakan program SLI atau menjadi Konsultan SLI di sekolahnya. 

Syaratnya mudah:
1. Kepala Sekolah (SD/MI sampai SMA/MA)
2. Muslim/Muslimah
3. Pengalaman menjadi Kepala Sekolah minimal 1 tahun
4. Memiliki kemauan untuk belajar dan mengembangkan sekolah yang saat ini dipimpin. 
5. Siap mengikuti pembinaan (offline maupun online)
6. Siap mengimplementasikan konsep dasar Sekolah Literasi Indonesia di sekolahnya. 

Waktu
Pendaftaran : 15-30 April 2019
Interview : 8-9 Mei 2019
Pengumuman Akhir : 13 Mei 2019
Pembinaan : Mei – Juni 2019 (Offline dan Online)
Pelaksanaan Program : Juli-Desember 2019

Untuk Pendaftar silahkan klik link dibawah ini sesuai dengan wilayahnya:
Indragiri Hulu
http://bit.ly/PendaftaranAPL_INHU
PIC : 081214481312 (Dede Agus Salim Rahman, S. Pd. I. ) 

Indragiri Hilir
http://bit.ly/PendaftaranAPL_INHIL
PIC : 085265781291 (Redovan Jamil, S. Pd. )

Palembang
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Palembang
PIC : 082398625233 (Desty Rina Purnamasari, S. Pd. )

Jakarta Selatan
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Jaksel
PIC : 082124019780 (Siti Fathonah, M. Pd. )

Tangerang
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Tangerang
PIC : 081284882168 (Umi Barokah, M. Pd. )

Depok
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Depok
PIC : 081319233642 (Rani Chaerani, M. Pd. )

Bogor
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Bogor
PIC : 081283939278 (Edi Suparto, S.E. M. Pd. )

Kota Bandung
http://bit.ly/PendaftaranAPL_KotaBandung
PIC : 082118694181 (Hj. Yulia Yulianti, M. Pd.) 

Kabupaten Bandung
http://bit.ly/PendaftaranAPL_KabBandung
PIC : 085720598992 (Deti Jubaedah, M. Pd. )

Tegal
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Tegal
PIC : 087848587456 ( Ali Irfan, S. Pd. )

#dompetdhuafa#sekolahliterasiindonesia#sekolahjaringanliterasiindonesia#literasi#konsultan#pendidikan — bersama Makmal Pendidikan.

Duta Gemari BAca (2)

Menulis untuk Membangun Peradaban

Bogor – Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan mengadakan workshop menulis pada Jumat (05/04) di Bumi Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan yang diikuti oleh 26 Duta Gemari Baca Batch 5 ini dipandu langsung oleh Syafi’ie el-Bantanie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan dan penulis 50 buku, berlangsung selama dua jam dengan materi Asyiknya Menulis.

Syafi’ie membuka sesi training dengan pernyataan bahwa peradaban Islam dibangun dan tegak di atas tradisi ilmu. Masyarakat yang semula ummi (tidak bisa baca tulis) diubah oleh Rasulullah menjadi masyarakat yang cinta dan haus ilmu.

Dalam konteks Duta Gemari Baca, menurut Syafi’ie, kemampuan menulis menjadi penting bagi Duta Gemari Baca (DGB). Karena, DGB bukan hanya dituntut melek literasi, tapi juga mampu menginspirasi masyarakat lewat tulisan.

Karena itu, teruslah mengeksplorasi kemampuan diri dalam menulis. Karena, ala bisa karena biasa,” ucap Syafi’ie.

Selain menyampaikan materi kepenulisan, Syafi’ie turut memberikan tips-tips jitu dalam menulis. Ia memaparkan bahwa langkah pertama dalam latihan menulis ialah menuliskan sebuah kata. Lalu, hubungkan kata tersebut dengan kata-kata lain yang lebih bervariasi, sehingga tulisan dapat terus berkembang.

“Untuk menjadi seorang penulis hebat, kita juga harus bisa memposisikan diri sebagai penulis, penyunting, dan pembaca agar tulisan tetap pada jalurnya” Ujar Kak Syaf.

Workshop menulis ini diharapkan mampu membuat DGB menuangkan gagasan dan merefleksikan aktivitas literasi yang telah dilaksanakan ke dalam tulisan untuk mendukung kampanye literasi Duta. (AR)

Eko Duta Gemari Baca Literaksi Bukan sekadar narasi

Bergerak! Masyarakat Membutuhkanmu!

BOGOR – Sebagai rangkaian dari kegiatan Duta Gemari Baca Batch 5, pada Jumat (05/04) sore 26 Duta Gemari baca Batch 5 terpilih mengikuti workshop ‘Social Development Design’ bersama Eko Sriyanto, Manajer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan. Eko mengajak para peserta mengevaluasi komunitas dan Taman Baca Masyarakat (TBM) yang dikelola oleh para Duta di daerahnya, menurutnya penting bagi Duta untuk memahami apa saja masalah yang terjadi di dalam komuntas dan TBM.

“Teman-teman harus memahami terlebih dahulu apa saja masalah yang terjadi di komunitas atau TBM yang teman-teman kelola. Kalau sudah tahu, maka perlu rencana yang ingin dilakukan melalui customer thinking, fleksibiltas, dan validitas ide,” kata Eko.

Validitas ide menurut Eko berpengaruh terhadap perkembangan komunitas dan TBM para Duta, ide tersebut nantinya akan berdampak pada nilai aktivitas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut bisa diinternalisasi untuk membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat.

“Lalu bagaimana agar masyarakat bisa berpartisipasi? Kita harus tahu apa kebutuhan masyarakat, tugas kitalah memberi pengetahuan kepada mereka,” ujarnya.

Ada beragam cara untuk membangun partisipasi dan kesadaran masyarakat karena pegiat kerelawanan butuh pergerakan komunitas.

“Diakui atau tidak diakui oleh masyarakat, kita harus tetap bergerak. Pertahankan konsistensi agar kepercayaan masyarakat muncul karena ide sederhana yang kita buat,” tambah Eko.

Eko berharap para Duta kelak mampu menggali ide serta memaksimalkan potensi komunitas dan TBM di daerah masing-masing.

“Sekarang waktunya kalian bergerak menciptakan desain inovasi kegiatan di komunitas dan TBM yang kalian kelola, buktikan bahwa kalian bisa berkontribusi di masyarakat,” tutup Eko. (AR)

Duta Gemari Baca

Membangun Komunitas, Membangun Peradaban Bangsa

Bogor – Sebagai upaya memasifkan edukasi literasi, Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan menginisiasi gerakan Gemari Baca sebagai cara untuk membangun sistem kerelawanan yang biasa disebut Duta Gemari Baca. Duta Gemari Baca merupakan kumpulan pemuda yang memiliki minat khusus dalam pengembangan literasi dan semangat kontribusi yang tinggi, melalui para Duta diharapkan jangkauan pengembangan literasi masyarakat bisa jauh lebih luas dan efektif, saat ini Duta Gemari Baca telah sampai di Batch 5.

Untuk mengasah kemampuan para Duta Gemari Baca Batch 5 dalam memahami pentingnya membangun komunitas serta menjalin relasi dengan masyarakat dan para pemangku kebijakan, pada Jumat (05/04) para Duta mengikuti Community and Volunteer Management bersama Andi Angger Sutawijaya, Direktur Turun Tangan, yang dilaksanakan di Lembaga Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat.

“Pemuda adalah penggerak, sejak dulu hingga saat ini pemuda memegang peranan penting dalam peradabaah. Salah satu cara yang bisa kita lakukan ialah berkolaborasi membentuk sebuah komunitas. Kenapa? Karena kita, para pemuda, bukan soal jumlah usia, tapi cara dia memandang tentang masa depan,” kata Angger.

Selama dua jam 26 peserta terpilih akan diajarkan cara berkomunikasi, membangun networking, dan cara mengelola komunitas dan relawan yang baik.

“”Apa sih yang menjadi tantangan saya ketika membangun sebuah kekuatan dalam sebuah komunitas?” Tanyakan kepada diri kalian dan gali potensi diri kalian agar bisa memaksimalkan kemampuan komunitas dan relawan di dalamnya,” jelas Angger.

Selain menjelaskan pentingnya membangun komunitas mumpuni, Angger turut memaparkan berbagai tips dan trik serta cara jitu dalam memaksimalkan kemampuan komunitas serta relawan melalui nilai-nilai kerelawanan yang sudah di internalisasi. Dalam paparannya ia menambahkan jika komunitas yang baik ialah komunitas yang mampu berkolaborasi secara luas, sinergis, dan berkelanjutan.

“Workshop ini akan menjadi bekal untuk para Duta, mereka adalah harapan bangsa ini. Saya yakinmereka mampu membangun komunitas dan jaringan luar biasa kelak. Saya percaya Duta mampu menjadi motor penggerak dalam mengembangkan komunitas dan relawan di komunitasnya masing-masing,” tutupnya. (AR)

Duta Gemari Baca

Duta Gemari Baca Ajak Milenial Melek Literaksi

BOGOR – Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan mengajak generasi milenial untuk mengembangkan peminatan pada dunia literasi sebagai peluang menjanjikan di masa depan melalui Duta Gemari Baca Batch 5. Ajakan tersebut dalam rangka menciptakan generasi milenial yang mampu berkontribusi untuk mengubah kualitas pendidikan di Indonesia.

Pada Jumat (05/04) 26 orang anak muda terpilih dari berbagai kampus serta komunitas literasi dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Inkubasi Duta Gemari Baca yang dilaksanakan di Lembaga Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat

“Tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara (Most Literate Nation in the World, 2016) dan minat baca hanya 0,1% atau dengan kata lain dari 1000 orang hanya 1 yang membaca,” ujar Mulyadi Saputra, Manajer Jaringan Sekolah Indonesia, membuka Inkubasi Duta Gemari Baca.

Menggadang tema “Literaksi: Bukan Sekadar Narasi” Inkubasi Duta Gemari Baca dilaksanakan dalam bentuk gathering, training dan workshop terkait literasi, sharing literacy kepada anak-anak dan masyarakat sekitar, dan ditutup dengan studium generale yang menguatkan motivasi dalam bergerak di bidang literasi. Rangkaian kegiatan dalam inkubasi Duta Gemari Baca berupaya memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengeksplorasi kemampuan dan minat dalam dunia literasi. Peserta juga akan merumuskan rencana tindak lanjut berupa inovasi kegiatan literasi yang akan diimplementasikan di daerahnya masing-masing.

Pada kesempatan yang sama Mulyadi menuturkan, para Duta Gemari Baca merupakan perwakilan generasi milenial dan mereka diharapkan dapat mengetahui serta menebarkan semangat literasi masyarakat dan membangun simpul jejaring komunitas literasi di Indonesia. (AR)

Jikra Pencetus “Meja Bernama”

Setiap siswa memiliki kreativitas yang berbeda, perbedaan itu pula yang kadang tidak dipahami oleh sebagian guru maupun orangtua sehingga siswa kurang percaya diri akan kemampuan yang ia miliki. Berbeda dengan siswa yang saya temui di SDN Inpres Tenga, salah satu sekolah binaan Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa. Sebut saja Jikra haura, siswa kelas V  yang memiliki ide-ide yang sangat luar biasa dalam menata ruang kelasnya. Kunjungan saya pada hari Senin, 20 Januari 2019 di SDN Inpres Pandai, seperti biasa setiap kali berkunjung saya melihat suasana masing-masing kelas dan sampailah saya pada kelas V dimana ketika memasuki kelas tersebut ada yang menarik perhatian saya yaitu setiap meja ditulis nama siswa, lalu saya bertanya kepada guru kelas

“Ibu guru yang membuat ini ?”

lalu guru tersebut menjawab

“Bukan ibu Tia, tapi Jikra siswa saya yang memiliki ide ini”

Hal itu sontak membuat saya kaget. Sayapun menanyakan lebih jelasnya kepada guru kelas V dan guru tersebut menjelaskan bahwa Jikra mengajak teman-temannya untuk menuliskan nama mereka dimeja mereka masing-masing diatas kertas lalu ditempel. Tujuanya agar guru lebih mengenal nama setiap siswanya dan tidak ada siswa yang berpindah-pindah tempat duduk, jadi harus duduk dimejanya.            

Mendengar cerita guru kelas V, saya ingin mengenal Jikra lebih banyak lagi sebab saya melihat potensi Jikra sangat luar biasa dalam mengajak teman-temannya untuk ikt berpartisipasi dan juga ide yang ia miliki langsung ia terapkan dalam lingkungan kelasnya. Semoga masih banyak lagi siswa-siswa seperti Jikra yang memiliki ide, kreativitas dan tidak malu untuk mengekplorasikan ide tersebut dan sebagai guru dan orangtua patut menjadi fasilitator dalam mendukung setiap kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh setiap anak.

Menalar Ayat-Ayat Semesta, Membangun Hidup Lebih Baik

Syaikh Thanthawi, guru besar Al-Azhar Kairo mengulas dalam tafsirnya Al Jawahir, bahwa Al Qur’an memuat lebih dari 750 ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fikih. Namun, para ulama telah menulis ribuan kitab fikih, tetapi nyaris tidak memperhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya.

Hal ini jelas membuat banyak orang bertanya-tanya tentang korelasi sains dan ayat Al-Qur’an dengan hidup manusia. Menjawab pertanyaan tersebut pada Kamis (28/03) Pengembangan Sumber Belajar SMART Ekselensia Indonesia mengadakan Diskusi Produktif Pendidikan bersama Dr. Agus Purwanto,
Kreator SMA Trensains (SRAGEN & Jombang), dengan pembahasan Nalar Ayat-Ayat Semesta yang diadakan di Aula Al insan Dompet Dhuafa Pendidikan, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Agus, umat dan para ulama banyak menghabiskan waktu untuk membahas persoalan fikih, dan sering sekali berseteru serta bertengkar karenanya. Mereka lalai atas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan, dan kelap-kelipnya bintang. Mereka abaikan gerak awan di langit, kilat yang menyambar, listrik yang membakar, malam yang gelap gulita, dan mutiara yang gemerlap. Mereka juga tak tertarik pada aneka tumbuhan di sekitar, binatang ternak, maupun binatang buas yang bertebaran di muka bumi, dan aneka fenomena serta keajaiban lainnya. Padahal di dalam Al-Quran semua sudah dijelaskan secara detail tanpa ada satu unsur pun terlewat di dalamnya.

“Apakah sains tidak relevan dalam Islam? Padahal dalam sejarah keilmuan tercatat bahwa sains modern merupakan sumbangan para ilmuwan muslim terhadap peradaban dunia, terutama ketika Eropa berada dalam dark age,” papar Agus dihadapan 70 peserta.

Selama tiga jam para peserta dikenalkan dan diajak menyelami ayat-ayat semesta di dalam Al Qur’an. Agus menambahkan jika Al-Qur’an dan sains telah melahirkan ilmuan-ilmuan besar seperti Al-Biruni ahli fisika dan kedokteran, Al-Razi ahli kimia, Al-Khawarizmi ahli matematika, Ibnu Haitsam ahli optik, serta nama-nama seperti Ibnu Sina, Ibnu Farabi, Ibnu Khaldun, Al-Kindi, Ibnu Batutah, Ibnu Rusyd, Al-Saghani, dan masih banyak nama besar lainnya.

Dalam penjelasannya Agus menekankan bahwa sesungguhnya Islam dan Al-Quran tidak pernah bertentangan apalagi bermusuhan dengan sains. Dalam buku Ayat- Ayat Semesta yang ia karang, dan lewat diskusi produktif pendidikan ia ingin menunjukkan bagaimana Al-Quran justru menjadi sumber dari sains modern. Sains dikonstruksi berdasarkan inspirasi wahyu Allah Swt. dalam bangunan ilmu pengetahuannya.

“Al-Quran bukan sekadar basis, Al-Quran mengandung 800 ayat alam, sains dan teknologi, integritas sains dan agama, dan epistimologi yang bisa kita jadikan sumber inspirasi dalam kehidupan. Penting diingat jika kita lupa pada sang pencipta maka hidupnya tak akan seimbang. Karena dalam hidup yang utama adalah Allah, maka penting bagi manusia untuk selalu membangkitkan kesadaran akan kebesaran-Nya dalam setiap aktivitas,” tutupnya (AR)

Peran Kawan SLI di MIS Azrina

Peran KAWAN SLI meningkatkan kualitas MIS Azrina

Madrasah Ibtidaiah Azrina, merupakan sekolah mungil berkonsep rumah, terletak di Jalan Marelan Raya Pasar II Nomor 287 B, Kecamatan Rengas Pulau, Medan Marelan. Lebih tepatnya di samping Irian Swalayan. Didirikan tahun 2012 oleh Alm. Muhammad Arif dengan visi-misi yang sangat sederhana, yaitu menjadi wadah bagi anak-anak kurang mampu untuk tetap bisa menikmati bangku sekolah. Ketua Yayasan Pendidikan Islam Azrina, Drs. Wahyudi, merealisasikan niat tulus tersebut melalui berbagai beasiswa yang tersedia, diantaranya adalah Beasiswa Yatim, yaitu beasiswa untuk siswa yatim, bebas SPP dari kelas satu hingga kelas enam.

Selanjutnya ada Beasiswa Separuh, peruntukannya bagi siswa yang orangtuanya masih utuh namun berpenghasilan kecil. Menjadi pertanyaan, bukan? Mengapa tidak disamakan saja, bebas SPP, misalnya? Ternyata, dibalik itu, MIS Azrina ingin menempa orangtua siswanya untuk tetap bertanggungjawab terhadap kewajibannya terhadap anak, sesuai Hadits Riwayat Bukhari Nomor 2278 bahwa

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Harapannya, dengan dibantu separuh, orangtua siswa bisa lebih semangat mencari nafkah. Ada pula Beasiswa Prestasi, yaitu beasiswa untuk tiga siswa yang mendapatkan nilai tertinggi di setiap kelasnya, persemester. Berupa bebas SPP selama tiga bulan. Tujuannya agar menjadi penyemangat siswa untuk rajin belajar. Dari 207 siswa, yang tercatat menerima manfaat beasiswa tersebut adalah 48 siswa. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan di dalamnya. Aamiin.

MIS Azrina memiliki dua belas tenaga pendidik. Sepuluh guru kelas dan dua guru bidang studi (Olahraga dan Bahasa Arab). Muda-muda, penyayang dan pembelajar. Kepala Madrasah pun masih muda. Wilfa Hayati, S.Pd.I, perempuan kuat dan murah senyum, serta pembelajar yang ulung. Saat ini, MIS Azrina menjadi sekolah penerima manfaat dari Dompet Dhuafa Pendidikan melalui program pendampingan oleh Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia. Analoginya seperti ini, Kepala Madrasah adalah akar, maka Konsultan Relawan adalah pupuk dan airnya.

Tenaga pendidik dan kependidikan MIS Azrina adalah pembelajar terbukti dari sikap antusias mereka setiap mengikuti Pelatihan Guru. Seperti yang pernah dilakukan di semester satu, Pelatihan Guru Tahap I dengan dua tema yaitu Pengantar Kurikulum, serta Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif. Terlihat mereka ingin belajar untuk meningkatkan kompetensi dirinya sebagai guru di dalam kelas agar lebih professional. Jika belum memahami, maka mereka bertanya. Jika memiliki informasi, maka mereka sharing. Pada semester dua ini dilakukan Pelatihan Guru Tahap II dengan tema Desain Pembelajaran Aktif dan Media Pembelajaran. Pemateriannya tidak lagi diisi oleh Konsultan Relawan, tetapi oleh guru model. Tentu dengan lebih dulu dilatih oleh Konsultan Relawan dan dirangkul serta disemangati oleh Kepala Madrasah. Suasana pelatihan lebih hidup, aktif dan menyenangkan. Begitu juga dengan Kepala Madrasah, beliau mengisi kegiatan Pelatihan Pengembangan Keluarga dengan tema Mewujudkan Anak Cerdas dan Sholeh. Dibawakan dengan santai, hangat dan menyenangkan. Keilmuannya mengenai keislaman pun menjadikan kegiatan tersebut lebih hidup sehingga orangtua siswa yang hadir mendapatkan ilmu baru. Benar-benar potensial.

Sekolah dapat dikatakan baik — tidak semata terukur dari fasilitas. Karena yang lebih penting dari itu adalah kualitas SDM di dalamnya. Untuk bisa mengkualitaskan diri, maka diperlukan “kemauan”. Mau memperbaiki diri, mau belajar, mau berkembang. Jika sudah memiliki kesadaran tersebut maka pelayanan terhadap siswa dan orangtua/wali siswa pun akan prima. Siswa senang datang ke sekolah. Orangtua senang bersinergi dengan sekolah. Sehingga tercipta kepuasan dari berbagai pihak.

“Jadikan anak-anak sebagai generasi pembelajar. Dengan perasaan senang datang ke sekolah dan pulang sekolah.” –Anies Baswedan.