Tekad Kuat Ini Harus Dimiliki Seorang Guru

Tekad Kuat Ini Harus Dimiliki Seorang Guru

 

Pendidikan, sudah menjadi wacana umum untuk dibicarakan khususnya di Indonesia membahas pendidikan memiliki makna yang sangat luar biasa. Baik dalam ruang lingkup Nasional hingga lokal daerah, dalam hal ini tentunya adalah mekanisme yang sifatnya berpusat sampai pada turunan tingkat daerah sudah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Namun ada hal yang unik apabila kita lihat fakta di lapangan, ada hal banyak perbedaan ketika kita lihat sistem atau mekanisme pendidikan yang diterapkan belumlah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan faktor turunan di setiap daerah yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan pada setiap daerah sulit untuk menyesuaikan standar Nasional. Contoh kasus misalnya adalah Pemerintah pusat menetapkan nilai standar ujian Nasional rata untuk seluruh Indonesia, hal seperti ini menjadi sebuah beban bagi Sekolah-sekolah di setiap daerah terlebih adalah guru-guru.

Di sisi lain misalnya, fakta siswa kelas enam di suatu daerah yang belum bisa membaca sama sekali harus tetap diikutsertakan dalam ujian Nasional. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, siswa mendapat sebuah tekanan, pendidik menjadi sebuah pacuan dan Sekolah mendapatkan ancaman. Artinya pemerintah pusat boleh saja melakukan standar pendidikan nasional, namun harus mempertimbangkan hal-hal lain. Khususnya adalah tentang standar atau karakter yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru, meskipun pemerintah sudah memiliki standar bagi para pendidik namun fakta di lapangan sangat berbeda untuk bisa disesuaikan. Dalam hal ini tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh para pendidik sesuai perundang-undangan yang ada diantaranya:

1. Keterampilan paedagogik,

2. Kepribadian, dan

3. Sosial.

Tiga hal mendasar itulah yang menjadi landasan bagi para pendidik, namun ada hal yang harus ditambahkan ketika empat hal tersebut sudah bisa dijalankan dengan baik yaitu; kesadaran dan komitmen yang tinggi. Sebab  menjadi pendidik saat ini seperti hanya menjadi sebuah batu loncatan saja, maksudnya adalah keterpaksaan dikarenakan keterbatasan lowongan pekerjaan misalnya sehingga menjadi pendidik adalah pilihan yang tepat meskipun terkadang fakta di lapangan tidak memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pendidik tanpa harus dilatih terlebih dahulu. Hal ini tentunya akan berdampak meskipun hal sepele, namun sekali lagi kembali kepada kesadaran dan komitmen yang tinggi untuk bisa menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas.

Maka, pada hakikatnya adalah ketika seseorang sudah terjun menjadi seorang pendidik pada saat itu harus sudah memiliki tekad yang bulat tidak setengah-setengah untuk menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas. Karakter guru yang berkualitas bisa kita lihat dari 4 tahapan

1. Persiapan yang matang,

2. Pelaksanaan penuh dengan ketelitian,

3. Evaluasi dalam meningkatkan mutu atau kualitas diri,

4. Dukungan masyarakat dan efektifitas manajemen sekolah yang baik.

Apabila empat hal tahapan tersebut dijalankan dengan baik dimungkinkan para pendidik menjadi guru yang berkualitas sehingga menciptakan generasi yang cerdas, standar pendidikan nasionalpun bukan menjadi sebuah hambatan tapi menjadi sebuah tantangan. (Noly)

KAWAN SLI: Kepala Sekolah Engkaulah Ujung Tombak Sebuah Keberhasilan

KAWAN SLI: Kepala Sekolah Engkaulah Ujung Tombak Sebuah Keberhasilan

Oleh : Darfin, KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Bima
Sekolah merupakan salah satu wadah di mana keseluruhan proses pendidikan dijalankan. Sekolah juga memiliki peranan penting dalam mewujudkan cita-cita bangsa melalui penyelenggaraan pendidikan berbasis kompetensi.
Tantangan yang dihadapi kepala sekolah tentu saja tidak sedikit, mulai dari sistem pembelajaran sekolah, budaya sekolah, dan kepempimpinan sekolah. Kalau sudah begitu maka kepala sekolah harus melakukan proses perbaikan dengan membuat program mumpuni. Beberapa program yang dapat kepala sekolah terapkan diantaranya program khas literasi, program pembiasaan karakter siswa,  program unggulan sekolah,  program learning community, kelompok kerja guru, dan pelatihan-pelatihan pengembangan profesionalisme guru.
Dalam mengubah tatanan sekolah menjadi lebih baik lagi dibutuhkan sutradara sekaligus aktor yang mampu memanajemen sekolah sehingga persoalan-persoalan dibidang pendidikan dapat diselesaikan. Kunci sukses sebuah sekolah terletak pada kepemimpinan kepala sekolah, ia adalah otak dalam merencanakan program dengan melibatkan semua stakeholder, menerima masukan stakeholder, membuat panduan program dengan stakeholder, mensosialisasikan serta memastikan program yang sudah direncanakan berjalan baik, dan melakukan monitoring dan evaluasi program serta tindak lanjut program.
Tak banyak yang paham jika tugas kepala sekolah tak sekadar menjadi kepala di sebuah sekolah, bahkan seorang kepala sekolah juga harus memastikan dokumen perangkat kurikulum yang dimiliki sekolah sudah sesuai dengan standar. Sampai situ saja? Jelas tidak, ia pun harus merencanakan serta melaksanakan pengembangan profesionalisme guru.
Hal terpenting dalam membantu proses percepatan perbaikan pendidikan ialah Tri Sentra Pendidikan (Tiga Sentra Pendidikan), di mana pendidikan melibatkan tiga sentra yakni keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kepala sekolah harus mampu menyinergikan ketiga hal di atas.
Ibarat kapal nahkoda sebuah sekolah adalah kepala sekolah, karena itu penting membenahi sistem dan kebijakan seorang kepala sekolah. Tetap semangat dalam memimpin bapak dan ibu kepala sekolah, engkaulah penggerak dan pembuka jalan pendidikan Indonesia lebih baik.

KAWAN SLI: Kolaborasi Itu Penting Makmalian

KAWAN SLI: Kolaborasi Itu Penting Makmalian

Oleh : Yuyun Kurniawati, KAWAN SLI  Angkatan 3 penempatan Kota Semarang

 

 

Semarang – Sebagai makhluk sosial manusia tidak dapat dipisahkan dari manusia lain, apalagi berdiri sendiri tanpa bantuan dari orang lain karena salah satu kunci sukses menciptakan perubahan adalah dengan bekerja sama.  Kerja sama pada intinya menunjukkan adanya kesepakatan antara dua orang atau lebih yang dilakukan secara terpadu demi mencapai target atau tujuan tertentu.

 

Untuk menciptakan pendidikan terbaik di Indonesia Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI)  menginisiasi Program Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Literasi (PPMBL). Program ini merupakan kerjasama antara Kecamatan Tembalang Kota Semarang, lurah Bulusan, dan komunitas TBM (Taman Bacaan Masyarakat)  Kelurahan Bulusan.

 

“Dengan adanya program PPMBL ini kami yakin komunitas TBM di Kelurahan Bulusan bisa memberikan warna baru terkait literasi di masyarakat. Sebab membaca, menulis dan berkomunikasi menjadi poin penting untuk bersaing di zaman ini,” ujar Yuyun, KAWAN SLI. Program PPMBL akan dikemas menarik sehingga masyarakat dapat berpartisipasi dan mendorong mereka meningkatan produktivitas dalam berliterasi. Kolaborasi KAWAN SLI, pemerintah setempat, dan komunitas TBM digadang mendorong terciptanya hubungan harmonis antar pihak terkait untuk menciptakan masyarakat melek literasi yang mampu bersaing.

 

KAWAN SLI: Metode Uswah Tingkatkan Antusiasme 12 Kepala Sekolah Kota Semarang Majukan Sekolahnya

KAWAN SLI: Metode Uswah Tingkatkan Antusiasme 12 Kepala Sekolah Kota Semarang Majukan Sekolahnya

Oleh: Putri Ria Utami, KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Semarang

 

Semarang –  Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) mengadakan Pelatihan Metode Uswah di SDN Bulusan Kecamatan Tembalang, Kota Semarang. Kegiatan yang dihadiri dua belas kepala sekolah ini bertujuan mengenalkan cara mengukur peforma sekolah secara efektif.

 

“Tidak semua Kepala Sekolah tahu bagaimana cara meningkatkan peforma sekolah,”tegas KAWAN Putri disambut anggukan para kepala sekolah. “Oleh sebab itu Pelatihan Metode Uswah ini sangatlah penting diberikan untuk para kepala sekolah/madrasah,” tambahnya.

 

Para peserta dibagi ke dalam tiga kelompok, masing-masing kelompok mendiskusikan dan mengklasifikasikan beberapa indikator yang termasuk ke dalam kriteria tiga lingkup Metode Uswah yakni Kepemimpinan Sekolah, Sistem Pembelajaran, dan Budaya Sekolah; Setelah semua lingkup diklasifikasikan, para peserta diajak menyusun indikator dari setiap kriteria Metode Uswah lalu mempresentasikan hasil karya yang telah dibuat sekreatif mungkin di depan peserta lainnya.

 

“Terima kasih KAWAN SLI, ilmunya sangat bermanfaat dan saya jadi lebih bersemangat,” kata Ibu Katwati, Kepala Sekolah SDN Mangunharjo.

 

Dengan mengikuti pelatihan ini para peserta diharapkan mampu mengimplementasikan Metode Uswah di sekolahnya masing-masing.

KAWAN SLI: Karena Kolaborasi Adalah Kunci 

KAWAN SLI: Karena Kolaborasi Adalah Kunci

Oleh: Wahyu Widiyawati KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Kulon Progo

 

Zaman terus berubah dengan membawa kemewahan sekaligus tantangan bagi para pelaku zaman. Teknologi berkembang pesat sehingga arus informasi bergerak cepat dan dapat diakses oleh semua kalangan. Tak terkecuali anak-anak yang tak lagi menggenggam buku melainkan gawai. Gawai yang tidak dimanfaatkan dengan baik dan benar sesuai porsinya akan bermuara pada kecanduan. Tak jarang kita lihat anak-anak sering membawa gawai dan beramai-ramai duduk sambil bermain game. Tentu hal itu menjadi pemandangan yang kurang mengenakkan. Menurut suara.com, kecanduan gawai bukan hanya membuat anak-anak sulit produktif. Psikolog menyebut anak-anak yang kecanduan gawai juga bisa mengalami masalah perilaku hingga menjadi agresif.

 

 

Tak dapat dipungkiri ketetapan semesta berlaku memberi kehidupan dengan dua sisi positif dan negatif. Sisi positif dapat kita pandang sebagai hal baik yang memberi kemudahan dan kelancaran dalam setiap aktivitas. Sisi negatif dapat kita artikan sebagai tantangan yang muncul akibat perkembangan zaman, dan mengarah pada melemahnya tataran nilai serta karakter bangsa.

 

 

Sisi positif negatif dapat disiasti para pelaku zaman melalui ilmu, akhlak, dan pendidikan. Pendidikan akan selalu bersinggungan dengan para generasi emas penerus bangsa ini, karenanya kemajuan pendidikan tidak hanya menjadi kewajiban pemerintah maupun sekolah seperti yang tertuang di dalam Undang-Undang Dasar 1945, melainkan tugas bersama. Sebab itulah Sekolah Literasi Indonesia (SLI) menjadi kepanjangan tangan dalam memajukan pendidikan Indonesia melalui Konsultan Relawan (KAWAN) di  Bima, Halmahera Selatan, Medan, Semarang, dan Kulon Progo. SLI merupakan program Dompet Dhuafa Pendidikan yang berkonsentrasi meningkatlan performa sekolah dalam lingkup kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah dengan kekhasan literasi.

 

 

KAWAN SLI Kulon Progo bertugas melakukan pendampingan di sekolah maupun madrasah di tiga kecamatan yaitu Wates, Pengasih, dan Sentolo, programnya sendiri kini tengah berjalan pada tahap pelatihan bersama sepuluh kepala sekolah dan kepala madrasah.  KAWAN SLI Kulon Progo menyadari bahwa tercapainya tujuan pendidikan perlu adanya kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat. Di sela-sela aktivitas pendampingan sekolah dan madrasah, KAWAN SLI Kulon Progo membangun sinergi dengan Taman Baca Masyarakat (TBM) atau Komunitas Baca (KomBa) di Kecamatan Wates, Pengasih, dan Sentolo.

 

 

Saat ini ada empat  TBM atau KomBa yang sedang melalui tahap penilaian dan pertimbangan antara lain KomBa Ringin Ardi Pengasih, TBM Sari Ilmu Sentolo, TBM Pustaka Pelangi Pengasih, dan KomBa Pondok Santri Zahrotul Jannah Wates. KAWAN SLI Kulon Progo bersama pegiat literasi melakukan kegiatan peningkatan literasi di masyarakat, TBM atau KomBa akan menjadi pelaku utama dan KAWAN  SLI Kulon Progo  sebagai pendamping, pemberi pelatihan, dan konsultan. Kehadiran TBM atau KomBa diharapkan dapat meningkatkan literasi masyarakat, membentuk masyarakat yang berkarakter baik, dan dapat menjadi bagian pelaku kemajuan pendidikan di dusun, desa, maupun Kabupaten Kulon Progo.

KAWAN SLI: Meski Sendiri, Semangat Belajar Pantang Lari

KAWAN SLI: Meski Sendiri, Semangat Belajar Pantang Lari

Oleh: Cut Indah Putri, KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Halmahera Selatan.

 

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) penempatan Halmahera Selatan mendatangi rumah salah satu kepala sekolah guna memberikan pemahaman mengenai Metode Uswah. Ialah bapak Sahmal Yusuf yang tidak sempat hadir dipelatihan Metode Uswah yang diadakan pada Sabtu lalu karena harus mendampingi istrinya yang sedang sakit.

 

 

Pelatihan ini dimulai dari jam 09.00 pagi sampai 17.00 yang bertempat di rumah bapak Sahmal di Kampung Makian, kecamatan Bacan, Halamahera Selatan dan dipandu oleh KAWAN Pelangi, KAWAN Icut, dan KAWAN Edo sebagai pelatih. Meski hanya sendiri dan didampingi oleh tiga kawan, pak Sahmal sangat semangat dan antusias mengikuti pelatihan. Selain bisa leluasa mengutarakan pendapat dan definisi mengenai tiga lingkup, enam kriteria, dan dua belas indikator Metode Uswah. Beliau juga bisa Langsung mensingkronkan butir-butir Metode Uswah dengan keadaan di sekolahnya.

 

 

Semangat yang mengebu-gebu dari bapak Sahmal sendiri menggambarkan betapa besar keinginannya untuk membawa sekolah yang sedang dipimpinnya ke arah yang lebih baik lagi. Pelatihan juga berjalan lancar dan penuh candaan berkat kepiawaian KAWAN Pelangi dalam menjelaskan. Bapak Sahmal pun cepat tanggap menerima penjelasan yang disampaikan, sama sekali tidak menunjukkan rasa bosan ataupun kebingungan.

 

 

Metode Uswah merupakan metode tercepat, mudah dalam membantu pembenahan, dan pembentukan kualitas sekolah di Indonesia serta sebuah metode membagun performa sekolah yang ditemukan oleh Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa.

KAWAN SLI: Saatnya Bangun Karakter Punggawa Sekolah dengan Outbond Ceria 

KAWAN SLI: Saatnya Bangun Karakter Punggawa Sekolah dengan Outbond Ceria 

Oleh: Yuyun Kurniawati KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Kota Semarang

 

Untuk mengisi waktu sebelum serangkaian program Sekolah Literasi Indonesia  (SLI) Dompet Dhuafa Pendidikan dimulai kami para Konsultan Relawan (KAWAN) SLI Angkatan 3 mengadakan outbond khusus kepala sekolah/madrasah dan guru yang terpilih dalam pendampingan SLI di Kecamatan Tembalang. Hal ini terkadung dalam maksud untuk memberikan penyegaran rohani dan mengurangi kejenuhan selama satu semester, karena telah bekerja keras dalam memberikan pelayanan pengajaran serta menyusun perangkat pembelajaran berkarakter sebagai wujud peningkatan sumber daya manusia di SD/MI Kecamatan Tembalang.

 

Seluruh peserta outbond berkumpul di Lapangan Tembak Kampus UNDIP. Sesampainya kepala sekolah/madrasah dan guru Setelah diberikan pengarahan oleh salah satu kawan kami. Kemudian seluruh peserta outbond mulai kegiatan dengan pemanasan (senam pramuka dan senam kewer-kewer). Sebelum permainan dimulai setiap kelompok menyampaikan nama kelompok masing-masing, ini untuk mempermudah panitia dalam menjalankan permainan outbond. Setelah senam dilanjutkan permainan pertama yaitu permainan meyusun menara, dalam permainan ini peserta diharapkan dapat menyusun beberapa gelas plastik yang kosong disusun menjadi beberapa tingkat, dalam menyusun menara tersebut tidaklah mudah karena harus memakai empat tali rafia yang sudah diikat dal ujung karet, kemudian bagi kelompok mana saja yang berhasil menyusun gelas plastik lebih tinggi dan sesuai dengan aturan yang dibuat oleh panitia, itu yang dikatakan menang. Selanjutnya akan di coba lagi dalam babak final bagi kelompok pemenang untuk menentukan juara.

 

 

Kemudian dilanjutkan permainan yang kedua yaitu permainan mencari harta karun, para peserta, dalam setiap kelompok diambil empat orang yang di mana jumlah empat orang tersebut masuk dalam sarung yang sudah dipersiapkan kemudian peserta diberikan masing-masing satu spidol warna untuk disembunyikan ke tempat yang paling aman, setelah itu semua kelompok mencari spidol yang sudah disembuyikan dan mencari sebanyak-banyaknya.

 

 

Setelah melalui 2 permainan diatas, para peserta istirahat sejenak sembari menikmati hidangan makanan dan minuman yang sudah ada. Selama break permainan para panitia menyiapkan permianan selanjutnya. Pukul 10.15 WIB kegiatan outbond dilanjutkan kembali dengan permainan simpul tangan yang di mana semua peserta diberikan satu buah tali rafiah yang diikatkan kedua tangan peserta kemudian tali tersebut disimpulkan ke tali pasangan masing-masing. perintah semua peserta diharuskan untuk melepaskan tali yang sudah terikat kedua tangan masing-masing, bagi siapa yang bisa melepakan simpul tangan tersebut, maka peserta tersebut dikatakan menang.

 

 

Permaianan simpul tangan selesai, dilanjutkan permainan mencari bendera. Setiap kelompok dipilih satu orang yang akan ditutup matanya menggunakan slayer, kemudian anggota kelompok yang lain menjadi pengarah agar orang yang ditutup mata tersebut dalam mengambil bendera sebanyak-banyaknya, setelah mendapatkan bendera anggota yang ditutup matanya harus kembali ke panitia untuk dihitung jumlah bendera yang sudah didapatkan.

 

 

Menempati permainan terakhir yaitu volley balon yang menggunakan sarung, setiap regu terdiri dari empat orang yang memainkan volley balon, kemudian setiap lawan tugasnya ada yang menangkap balon yang terisi air dan ada juga melempar balon. Balon yang dilemparkan diharpkan untuk ditangkap dengan tepat dan benar agar tidak pecah. Bagi kelompok yang telah menangkap balon lebih banyak itu salah satu yang  masuk kriteria pemenangnya yang selanjutnya akan di tentutukan dalam babak final.

 

 

Setelah menyelesaikan seluruh permainan antara lain, permainan menyusun menara, permainan mencari harta karun, permainan simpul tangan, permainan menari bendera dan permainan voli balon. Dari kelima permainan tersebut terkandung nilai-nilai dari Dompet Dhuafa Pendidikan di mana nilai-nilai tersebut memberikan kualitas sumber daya manusia lebih maju, unggul dan dapat diterapkan di masyarakat. Dari keseluruhan permainan dapat diselesaikan dengan baik dan memberikan nuansa yang baru dari permainan-permainan yang sudah kami berikan kepada seluruh peserta, tidak hanya mendapatkan penyegaran diri melainkan semua peserta mendapatkan ilmu baru dari sebuah permainan outbond. Harapan ke depannya dari nilai-nilai Dompet Dhuafa Pendidikan yang telah disampaikan, semua peserta dapat mengambil hikmah dari apa yang sudah dilakukan.

 

Si MoBa Rambah Sukabumi, Literasi Mumpuni Bukan Mimpi

Si MoBa Rambah Sukabumi, Literasi Mumpuni Bukan Mimpi

 

 

Sukabumi – Terpuruk tak berarti tak bisa bangkit kembali, meskipun sempat tertatih dengan menempati ranking 60 dari 61 negara dalam hal literasi dan membaca, namun pada 2018 kegemaran membaca masyarakat Indonesia meningkat signifikan dengan menempati posisi ke-17 dari 30 (berdasarkan hasil survei World Culture Index Score 2018). Hal ini menandakan bahwa masyarakat  mulai menyadari pentingnya berliterasi, karena sejatinya kontribusi aktif dalam menumbuhkan semangat berliterasi tak hanya menjadi tanggung jawab segelintir pihak, melainkan semua lapisan masyarakat.

 

 

 

Si Mobil Baca (Si MoBa) bentukan Jaringan Sekolah Indonesia (JSI) Dompet Dhuafa Pendidikan merupakan salah satu cara mengatasi rendahnya kemampuan literasi masyarakat Indonesia dengan menjangkau 22 titik di wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat dengan menyasar sekolah dan masyarakat daerah marginal.

 

 

Pada Kamis (09/01), berkolaborasi dengan sebelas siswa SMART Ekselensia Indonesia dan Ekselensia Tahfiz School dalam Magang Desa yang dilaksanakan di Sukabumi, Jawa Barat, Si MoBa bertandang ke DTA Nurul Huda untuk memperkenalkan diri sekaligus mengajak seratus siswa mengenal literasi lebih dekat dengan cara menyenangkan.

 

 

“Anak-anak diibaratkan tisu yang dapat menyerap informasi dengan cepat, maka pengenalan literasi sudah seharusnya dilakukan sejak dini. Hanya saja tak semua anak memiliki akses untuk mendapatkan buku berkualitas,” tutur Iqbal Muhammad, Koordinator Si MoBa.

 

 

 

Menurut Iqbal kehadiran Si MoBa mampu membuka gerbang akses buku lebih luas untuk masyarakat, sehingga masyarakat -khususnya anak-anak- dapat mendapatkan akses membaca buku yang lebih beragam dan berkualitas. “Tak hanya menyediakan ragam buku dan kegiatan berkualitas, Si MoBa juga dapat digunakan sebagai wahana edukasi serta rekreasi berbasis literasi,” ujar Iqbal.

 

 

Kehadiran Si MoBa kali ini sedikit berbeda karena ada banyak kegiatan seru bersama sebelas peserta Magang Desa dari SMART dan Ekselensia Tahfiz School diantaranya ranking satu, mewarnai sambil bercerita, mengulas buku, dan permainan literasi lainnya.

 

 

 

“Kehadiran peserta Magang Desa membuat Si MoBa lebih berwarna, ragam aktivitas yang mereka helat membuat anak-anak riang,” kata Iqbal, “Si MoBa sangat terbuka dengan kesempatan berkolaborasi dengan berbagai pihak, tujuannya agar  dapat memberikan dampak berkesinambungan (multiplier effect),” tambahnya.

 

 

Kehadiran Si MoBa di tengah-tengah masyarakat diyakini mampu menjadi sarana pendidikan menyenangkan serta edukasi dan rekreasi berbasis literasi, bersama si MoBa optimasi fungsi perpustakaan dan taman baca masyarakat dapat lebih maksimal dan menyenangkan sehingga kebiasaan membaca dan berliterasi di masyarakat bukan wacana semata. (AR)

 

 

 

 

KAWAN SLI: Bekali Kepala Sekolah Langkah Cerdas dalam Meningkatkan Performa Sekolah

KAWAN SLI: Bekali Kepala Sekolah Langkah Cerdas dalam Meningkatkan Performa Sekolah

Kepala sekolah menjadi pemeran penting dalam sebuah sekolah. Kehadirannya mampu membuat sekolah mengalami perubahan, karena itulah kepala sekolah butuh penempaan ilmu baru untuk meningkatkan performa sekolah.
Asahan – Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) penempatan Asahan mengawali tahun baru dengan membawa semangat baru dengan mengadakan pelatihan menggunakan Metode Uswah.  Pelatihan yang diadakan di SDN 013864 Lubuk Palas ini dihadiri oleh sepuluh kepala sekolah dampingan SLI Kabupaten Asahan. Meskipun masih dalam suasana liburan, para kepala sekolah terlihat sangat antusias mengikuti pelatihan.
Bersama KAWAN Alivia, pelatihan dibuka dengan surah Al-Fatihah. Supaya semakin diberkahi oleh Sang Pemberi Kehidupan. KAWAN Alivia juga mengajak peserta bermain-main sejenak, supaya semangat peserta lebih berkobar. Sebut saja namanya Permainan Berhitung tiga level. Permainan yang mengajak para peserta menyanyikan lagu berhitung dengan berbagai gaya.
Pelatihan Metode Uswah dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama dibawakan oleh KAWAN Nisa yang dimulai pukul 10.30 WIB. Sesi ini mengenalkan kepala sekolah mengenai alasan hadirnya Metode Uswah. Selain itu, peserta juga diajak untuk mengenali definisi Metode Uswah, beserta Kriteria dan Indikatornya. Dalam pengenalan tersebut, pemateri mengajak peserta belajar sambil bermain-main.
“Siapa saya? Kepala sekolah hebat. Bagaimana saya? Bersemangat. Ngapain kita hari ini? Bersenang-senang”.
Begitulah sesi dua dimulai. Sesi ini dibawakan oleh KAWAN Luthfia. Peserta diajak untuk mengenali butir-butir yang ada dalam Metode Uswah. Pemateri mengajak peserta untuk memilah butir-butir ke dalam indikator. Lagi-lagi, materi dibawakan dengan berbagai permainan yang cukup membuat semangat kepala sekolah kembali berkobar meski hari sudah siang.
“Harapannya, materi-materi yang telah didapatkan hari ini dapat kita terapkan di sekolah masing-masing”.
Begitulah kesan dari ibu Sri Muliana. Metode Uswah memberikan gambaran kepada sekolah mengenai langkah yang perlu dilakukan dalam membenahi sekolahnya. Tiga lingkup yang perlu kepala sekolah perbaiki, yaitu Kepemimpinan, Sistem Pembelajaran, dan Budaya Sekolah. Ketiga lingkup tersebut yang mampu membantu kepala sekolah dalam mengambil langkah cerdas untuk meningkatkan performa sekolah.

KAWAN SLI: Teruslah Bertumbuh Duhai Kepala Sekolah, Sebarkan Terus Kebermanfaatan

KAWAN SLI: Teruslah Bertumbuh Duhai Kepala Sekolah, Sebarkan Terus Kebermanfaatan

Oleh: Irfa Ramadhani, KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Kulon Progo

 

Apa jadinya jika pohon memiliki akar yang tidak sehat? Batang, ranting, daun, buah, apa kabar kondisi mereka? Akankah semuanya sehat-sehat saja? Tentu tidak bukan? Mereka yang berada di atas permukaan tanah merupakan refleksi dari apa yang terdapat di dalamnya. Jika saja pohon kita analogikan sebagai sekolah/madrasah, maka guru, karyawan, siswa/i, ataupun sekolah/madrasah secara keseluruhan adalah refleksi dari kepala sekolah/madrasahnya.

 

 

Kepala sekolah/madrasah seumpama ‘akar’, sosok penentu kebijakan. Tidak secara mutlak memang, karena ia adalah kepanjangan tangan kebijakan pemerintah dan penghimpun beragam inisiasi dari setiap warga sekolah yang ada. Ya, berada di tengah-tengah kebijakan pemerintah dan kondisi realita mengasah mereka untuk terus menyelaraskan kebijakan antara keduanya.

 

 

Selanjutnya, setelah menentukan kebijakan dan menjaga keselarasan, mereka bertugas untuk mengomunikasikan dan membumikan rencana strategis kepada setiap warga sekolah/madrasah, memotivasi, serta membentuk tim yang solid dalam setiap perjalanannya. Sehingga semuanya dapat bahu membahu dalam menyongsong cita dan harap yang satu, “kemajuan sekolah/madrasah”.

 

 

Mungkin saja masih ada diantara warga sekolahnya yang terlelap dalam kenyamanan atau bahkan merasakan hidup dalam keterpaksaan. Mungkin saja masih ada yang saling menyalahkan atas ketidakpuasan dari proses pendidikan yang telah dilalui. Mungkin saja masih ada yang memandang bahwa pendidikan hanya pada aktivitas pembelajaran di kelas semata. Mungkin saja masih ada yang mencukupkan diri pada perolehan nilai-nilai tinggi dan limpahan prestasi sebagai  tujuan utamanya.

 

 

Bukankah proses pendidikan lebih dari itu? Tujuanya bukan hanya memunculkan output unggulan, tetapi outcome yang berkepanjangan. Bukan terbatas pada aktivitas pembelajaran di kelas, pendidikan terhampar pada seluruh lekukan proses pendidikan yang dilalui. Bukan hanya berfokus pada masa lalu, pendidikan juga mengenai  rancangan untuk meraih masa depan. Bukan nilai tinggi ataupun limpahan prestasi yang menjadi tujuan, melainkan bahagia dalam proses pembelajaran, keinginan untuk terus belajar (baik selama proses pendidikan di sekolah atau di luar sekolah), serta keinginan untuk dapat membagikan keilmuan yang telah didapatkan.

 

 

Terus merambatlah wahai kepala sekolah, cengkram keyakinanmu untuk menguatkan yang lain. Sehingga bertumbuh bersama untuk terus berkontribusi pada sesama.

 

 

Semoga “Pelatihan Metode Uswah” Sekolah Literasi Indonesia yang terlaksana di SDN Giripeni pada Selasa (7/01) Allah perkenankan menjadi bagian dari penguatan keteguhan para pemimpin sekolah/madrasah di Kulon Progo dan para konsultan relawan yang tergabung di dalamnya.