Jurus Guru menangani siswa bermasalah Makmal Pendidikan

Jurus Guru Menangani Kelas Bermasalah

Dunia anak adalah dunia bermain, penuh kecandaan dan penuh dengan kesenangan. Mereka begitu menikmatinya, sehingga tak jarang keseruan pada saat bermain terbawa di dalam kelas. Sehingga tak ayal pembelajaran pun tidak efisien.         

Anak-anak di SDN 227 Bengkulu Utara Kecamatan Napal Putih pun begitu sangat aktif. Terlebih anak-anak di kelas 4  Ketika pembelajaran dimulai ada yang suka berlari-larian, hilir mudik keluar, sebagian lagi sangat senang mengusili temannya. Ada juga siswa yang membawa mainan gambar sehingga mengalihkan perhatian temannya yang lain. Pokoknya pembelajaran di kelas jauh dari kata optimal. Tidak heran bila setiap selesai mengajar di kelas ini, guru-guru selalu mengeluh dan marah-marah. “ Mengajar di kelas selama seharian itu sangat melelahkan, dan membuat tensi darah saya naik,” ucap bu Wien selaku guru disini yang pernah masuk di kelas 4 untuk mengganti guru kelas 4 yang tidak masuk. Bahkan tidak heran juga bila kelas 4 selalu dicap sebagai kelas paling bermasalah di sekolah.

Syukurnya, Kepala Sekolah memiliki kesabaran dan ketekunan yang begitu luar biasa. Mungkin karena pengalaman yang sudah bertahun-tahun sehingga beliau santai saja dalam menghadapinya. Termasuk ketika menghadapi anak didik seperti di kelas 4 tersebut.

Faktor utama anak – anak di kelas tersebut berprilaku demikian adalah modal belajar dan kecerdasan, tugas kita sebagai seorang guru adalah positif Felling serta sabar,” tanggap Kepala Sekolah. “ Jadi, kita tidak boleh mengecap anak- anak sebagai anak yang nakal.”

Menarik sekali apa yang disampaikan Kepala Sekolah terkait keadaan kelas 4. Tidak ada anak yang nakal melainkan kita sebagai guru yang belum tau modal belajar dan kecerdasan para peserta didik kita. Oleh beliau saya diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas tersebut. Saya diberi amanah untuk mengajar karena wali kelas 4 tidak masuk sekolah. Saya di beri amanah untuk mengajar IPA dan Matematika.

Bertemu dan mengajar siswa-siswa kelaas 4 ini, saya justru tidak menemukan suasana yang sering disampaikan oleh beberapa guru. Saya merasa senang mengajar, dan anak-anak juga merasa hal yang sama dengan saya. Bahkan sebenarnya mereka menginginkan saya untuk menjadi wali kelasnya mereka. Sampai di luar kelas pun, mereka selalu mengejar-ngejar saya sembari menyebutkan pelejaran yang pernah saya sampaikan, ditambah mereka menampakkan wajah senangnya dan berharap saya akan masuk kelas mereka lagi dan mengajar mereka.

Guru-guru terheran-heran dengan apa yang saya lakukan. Mereka heran bisa seperti sahabat seperti itu dengan anak-anak dan dapat membangun energi positif di kelas. Mereka bertanya-tanya kepada saya, “kok bisa sih, Pak? Apa rahasianya? Apa ada trik khusus?”

Tidak ada rahasia atau trik khusus untuk mewujudkan kelas yang menyenangkan. Saya hanya melakukan jurus-jurus sederhana berikut.

Pertama, menegakkan aturan.

Saya membuat kesepakatan aturan sebelum pembelajaran dimulai. Isi aturan ini dibuat bersama siswa dan sudah mendapat persetujuan siswa terlebih dahulu. Kolaborasi seperti ini yang terkadang dilupakan oleh para guru. Dengan adanya kolaborasi ini kemungkinan siswa mematuhi aturan ini lebih besar, berbeda ceritanya jika aturan dibuat secara sepihak dan mucul atas dasar otoriter dari guru.

Contoh aturan yang saya buat dan disepakati siswa adalah membawa mainan dan memainanya di kelas. Siswa yang membawa mainan dan memainkannya di kelas. Namun  siswa yang membawa mainan ke kelas dan memainkannya ketika saya sedang menjelaskan pelajaran, maka mainannya akan bapa ambil.

“Gimana anak-anak? Setujuuuu?” Tanya saya.

Dengan kompak dan diiring suara yang lantang, semua siswa kelas 4 menjawab setuju. Saat aturan ini sudah diberlakukan namun masih ada siswa yang tidak mengindahkan, langsung saya ambil mainan gambar tersebut. Siswa pun menerima dan tidak memberikan perlawanan. Hari-hari berikutnya tidak ada lagi yang membawa mainan ke dalam kelas.

Kedua, menggunakan media pembelajaran.

Media pembelajaran merupakan alat bantu bagi seorang guru, adanya media pembelajaran mampu memberikan rangsangan dan menimbulkan motivasi yang besar dalam belajar kepada anak-anak sehingga pembelajaran begitu menarik dan terkontrol sehingga suasana pembelajaran pun akan kondusif. Antusias belajar pun nampak terlihat dari wajah anak-anak sehingga keceriaan dalam kelas dapat dirasakan bersama. Hal itulah yang nampak terlihat jelas ketika proses pembelajaran berlangsung.

Ketiga, melibatkan semua anak dalam pembelajaran.

Mayoritas siswa kelas 4 memiliki modal belajar kinestetik. Mereka tidak bisa diam dan hanya mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, saya melibatkan semua siswa. Dalam sebuah pembelajaran, alangkah baiknya melibatkan semua elemen yang ada di kelas. Ketika mengajarkan materi tentang fungsi panca indera manusia, dengan bergiliran saya meminta siswa untuk maju satu per satu untuk menunjukkannya dan menjelaskan fungsi berdasarkan apa yang siswa ketahui. Dengan cara seperti ini, alhamdulillah siswa kelas 4 mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan cepat menyerap pelajaran yang disampaikan.

Tiga rahasia yang bukan rahasia inilah yang saya terapkan di kelas 4. Yang jelas, saya senantiasa berusaha untuk memberikan yang terbaik dan para penghuni kelas 4 benar-benar memiliki kegembiraan, kesenangan, dan keceriaan yang megundang tawa saat belajar di kelas. Hal yang paling membahagiakan saya pada saat menyaksikan anak-anak kelas 4 ini tampil penuh antusias dalam pembelajaran.

Kontributor : Adi Setiawan( Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Bengkulu Utara)

Duta Gemari BAca (2)

Menulis untuk Membangun Peradaban

Bogor – Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan mengadakan workshop menulis pada Jumat (05/04) di Bumi Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan yang diikuti oleh 26 Duta Gemari Baca Batch 5 ini dipandu langsung oleh Syafi’ie el-Bantanie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan dan penulis 50 buku, berlangsung selama dua jam dengan materi Asyiknya Menulis.

Syafi’ie membuka sesi training dengan pernyataan bahwa peradaban Islam dibangun dan tegak di atas tradisi ilmu. Masyarakat yang semula ummi (tidak bisa baca tulis) diubah oleh Rasulullah menjadi masyarakat yang cinta dan haus ilmu.

Dalam konteks Duta Gemari Baca, menurut Syafi’ie, kemampuan menulis menjadi penting bagi Duta Gemari Baca (DGB). Karena, DGB bukan hanya dituntut melek literasi, tapi juga mampu menginspirasi masyarakat lewat tulisan.

Karena itu, teruslah mengeksplorasi kemampuan diri dalam menulis. Karena, ala bisa karena biasa,” ucap Syafi’ie.

Selain menyampaikan materi kepenulisan, Syafi’ie turut memberikan tips-tips jitu dalam menulis. Ia memaparkan bahwa langkah pertama dalam latihan menulis ialah menuliskan sebuah kata. Lalu, hubungkan kata tersebut dengan kata-kata lain yang lebih bervariasi, sehingga tulisan dapat terus berkembang.

“Untuk menjadi seorang penulis hebat, kita juga harus bisa memposisikan diri sebagai penulis, penyunting, dan pembaca agar tulisan tetap pada jalurnya” Ujar Kak Syaf.

Workshop menulis ini diharapkan mampu membuat DGB menuangkan gagasan dan merefleksikan aktivitas literasi yang telah dilaksanakan ke dalam tulisan untuk mendukung kampanye literasi Duta. (AR)

Eko Duta Gemari Baca Literaksi Bukan sekadar narasi

Bergerak! Masyarakat Membutuhkanmu!

BOGOR – Sebagai rangkaian dari kegiatan Duta Gemari Baca Batch 5, pada Jumat (05/04) sore 26 Duta Gemari baca Batch 5 terpilih mengikuti workshop ‘Social Development Design’ bersama Eko Sriyanto, Manajer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan. Eko mengajak para peserta mengevaluasi komunitas dan Taman Baca Masyarakat (TBM) yang dikelola oleh para Duta di daerahnya, menurutnya penting bagi Duta untuk memahami apa saja masalah yang terjadi di dalam komuntas dan TBM.

“Teman-teman harus memahami terlebih dahulu apa saja masalah yang terjadi di komunitas atau TBM yang teman-teman kelola. Kalau sudah tahu, maka perlu rencana yang ingin dilakukan melalui customer thinking, fleksibiltas, dan validitas ide,” kata Eko.

Validitas ide menurut Eko berpengaruh terhadap perkembangan komunitas dan TBM para Duta, ide tersebut nantinya akan berdampak pada nilai aktivitas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut bisa diinternalisasi untuk membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat.

“Lalu bagaimana agar masyarakat bisa berpartisipasi? Kita harus tahu apa kebutuhan masyarakat, tugas kitalah memberi pengetahuan kepada mereka,” ujarnya.

Ada beragam cara untuk membangun partisipasi dan kesadaran masyarakat karena pegiat kerelawanan butuh pergerakan komunitas.

“Diakui atau tidak diakui oleh masyarakat, kita harus tetap bergerak. Pertahankan konsistensi agar kepercayaan masyarakat muncul karena ide sederhana yang kita buat,” tambah Eko.

Eko berharap para Duta kelak mampu menggali ide serta memaksimalkan potensi komunitas dan TBM di daerah masing-masing.

“Sekarang waktunya kalian bergerak menciptakan desain inovasi kegiatan di komunitas dan TBM yang kalian kelola, buktikan bahwa kalian bisa berkontribusi di masyarakat,” tutup Eko. (AR)

Duta Gemari Baca

Membangun Komunitas, Membangun Peradaban Bangsa

Bogor – Sebagai upaya memasifkan edukasi literasi, Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan menginisiasi gerakan Gemari Baca sebagai cara untuk membangun sistem kerelawanan yang biasa disebut Duta Gemari Baca. Duta Gemari Baca merupakan kumpulan pemuda yang memiliki minat khusus dalam pengembangan literasi dan semangat kontribusi yang tinggi, melalui para Duta diharapkan jangkauan pengembangan literasi masyarakat bisa jauh lebih luas dan efektif, saat ini Duta Gemari Baca telah sampai di Batch 5.

Untuk mengasah kemampuan para Duta Gemari Baca Batch 5 dalam memahami pentingnya membangun komunitas serta menjalin relasi dengan masyarakat dan para pemangku kebijakan, pada Jumat (05/04) para Duta mengikuti Community and Volunteer Management bersama Andi Angger Sutawijaya, Direktur Turun Tangan, yang dilaksanakan di Lembaga Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat.

“Pemuda adalah penggerak, sejak dulu hingga saat ini pemuda memegang peranan penting dalam peradabaah. Salah satu cara yang bisa kita lakukan ialah berkolaborasi membentuk sebuah komunitas. Kenapa? Karena kita, para pemuda, bukan soal jumlah usia, tapi cara dia memandang tentang masa depan,” kata Angger.

Selama dua jam 26 peserta terpilih akan diajarkan cara berkomunikasi, membangun networking, dan cara mengelola komunitas dan relawan yang baik.

“”Apa sih yang menjadi tantangan saya ketika membangun sebuah kekuatan dalam sebuah komunitas?” Tanyakan kepada diri kalian dan gali potensi diri kalian agar bisa memaksimalkan kemampuan komunitas dan relawan di dalamnya,” jelas Angger.

Selain menjelaskan pentingnya membangun komunitas mumpuni, Angger turut memaparkan berbagai tips dan trik serta cara jitu dalam memaksimalkan kemampuan komunitas serta relawan melalui nilai-nilai kerelawanan yang sudah di internalisasi. Dalam paparannya ia menambahkan jika komunitas yang baik ialah komunitas yang mampu berkolaborasi secara luas, sinergis, dan berkelanjutan.

“Workshop ini akan menjadi bekal untuk para Duta, mereka adalah harapan bangsa ini. Saya yakinmereka mampu membangun komunitas dan jaringan luar biasa kelak. Saya percaya Duta mampu menjadi motor penggerak dalam mengembangkan komunitas dan relawan di komunitasnya masing-masing,” tutupnya. (AR)

Duta Gemari Baca

Duta Gemari Baca Ajak Milenial Melek Literaksi

BOGOR – Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan mengajak generasi milenial untuk mengembangkan peminatan pada dunia literasi sebagai peluang menjanjikan di masa depan melalui Duta Gemari Baca Batch 5. Ajakan tersebut dalam rangka menciptakan generasi milenial yang mampu berkontribusi untuk mengubah kualitas pendidikan di Indonesia.

Pada Jumat (05/04) 26 orang anak muda terpilih dari berbagai kampus serta komunitas literasi dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Inkubasi Duta Gemari Baca yang dilaksanakan di Lembaga Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat

“Tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara (Most Literate Nation in the World, 2016) dan minat baca hanya 0,1% atau dengan kata lain dari 1000 orang hanya 1 yang membaca,” ujar Mulyadi Saputra, Manajer Jaringan Sekolah Indonesia, membuka Inkubasi Duta Gemari Baca.

Menggadang tema “Literaksi: Bukan Sekadar Narasi” Inkubasi Duta Gemari Baca dilaksanakan dalam bentuk gathering, training dan workshop terkait literasi, sharing literacy kepada anak-anak dan masyarakat sekitar, dan ditutup dengan studium generale yang menguatkan motivasi dalam bergerak di bidang literasi. Rangkaian kegiatan dalam inkubasi Duta Gemari Baca berupaya memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengeksplorasi kemampuan dan minat dalam dunia literasi. Peserta juga akan merumuskan rencana tindak lanjut berupa inovasi kegiatan literasi yang akan diimplementasikan di daerahnya masing-masing.

Pada kesempatan yang sama Mulyadi menuturkan, para Duta Gemari Baca merupakan perwakilan generasi milenial dan mereka diharapkan dapat mengetahui serta menebarkan semangat literasi masyarakat dan membangun simpul jejaring komunitas literasi di Indonesia. (AR)

Jikra Pencetus “Meja Bernama”

Setiap siswa memiliki kreativitas yang berbeda, perbedaan itu pula yang kadang tidak dipahami oleh sebagian guru maupun orangtua sehingga siswa kurang percaya diri akan kemampuan yang ia miliki. Berbeda dengan siswa yang saya temui di SDN Inpres Tenga, salah satu sekolah binaan Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa. Sebut saja Jikra haura, siswa kelas V  yang memiliki ide-ide yang sangat luar biasa dalam menata ruang kelasnya. Kunjungan saya pada hari Senin, 20 Januari 2019 di SDN Inpres Pandai, seperti biasa setiap kali berkunjung saya melihat suasana masing-masing kelas dan sampailah saya pada kelas V dimana ketika memasuki kelas tersebut ada yang menarik perhatian saya yaitu setiap meja ditulis nama siswa, lalu saya bertanya kepada guru kelas

“Ibu guru yang membuat ini ?”

lalu guru tersebut menjawab

“Bukan ibu Tia, tapi Jikra siswa saya yang memiliki ide ini”

Hal itu sontak membuat saya kaget. Sayapun menanyakan lebih jelasnya kepada guru kelas V dan guru tersebut menjelaskan bahwa Jikra mengajak teman-temannya untuk menuliskan nama mereka dimeja mereka masing-masing diatas kertas lalu ditempel. Tujuanya agar guru lebih mengenal nama setiap siswanya dan tidak ada siswa yang berpindah-pindah tempat duduk, jadi harus duduk dimejanya.            

Mendengar cerita guru kelas V, saya ingin mengenal Jikra lebih banyak lagi sebab saya melihat potensi Jikra sangat luar biasa dalam mengajak teman-temannya untuk ikt berpartisipasi dan juga ide yang ia miliki langsung ia terapkan dalam lingkungan kelasnya. Semoga masih banyak lagi siswa-siswa seperti Jikra yang memiliki ide, kreativitas dan tidak malu untuk mengekplorasikan ide tersebut dan sebagai guru dan orangtua patut menjadi fasilitator dalam mendukung setiap kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh setiap anak.

Menalar Ayat-Ayat Semesta, Membangun Hidup Lebih Baik

Syaikh Thanthawi, guru besar Al-Azhar Kairo mengulas dalam tafsirnya Al Jawahir, bahwa Al Qur’an memuat lebih dari 750 ayat tentang alam semesta, dan hanya sekitar 150 ayat fikih. Namun, para ulama telah menulis ribuan kitab fikih, tetapi nyaris tidak memperhatikan serta menulis kitab tentang alam raya dan isinya.

Hal ini jelas membuat banyak orang bertanya-tanya tentang korelasi sains dan ayat Al-Qur’an dengan hidup manusia. Menjawab pertanyaan tersebut pada Kamis (28/03) Pengembangan Sumber Belajar SMART Ekselensia Indonesia mengadakan Diskusi Produktif Pendidikan bersama Dr. Agus Purwanto,
Kreator SMA Trensains (SRAGEN & Jombang), dengan pembahasan Nalar Ayat-Ayat Semesta yang diadakan di Aula Al insan Dompet Dhuafa Pendidikan, Bogor, Jawa Barat.

Menurut Agus, umat dan para ulama banyak menghabiskan waktu untuk membahas persoalan fikih, dan sering sekali berseteru serta bertengkar karenanya. Mereka lalai atas fenomena terbitnya matahari, beredarnya bulan, dan kelap-kelipnya bintang. Mereka abaikan gerak awan di langit, kilat yang menyambar, listrik yang membakar, malam yang gelap gulita, dan mutiara yang gemerlap. Mereka juga tak tertarik pada aneka tumbuhan di sekitar, binatang ternak, maupun binatang buas yang bertebaran di muka bumi, dan aneka fenomena serta keajaiban lainnya. Padahal di dalam Al-Quran semua sudah dijelaskan secara detail tanpa ada satu unsur pun terlewat di dalamnya.

“Apakah sains tidak relevan dalam Islam? Padahal dalam sejarah keilmuan tercatat bahwa sains modern merupakan sumbangan para ilmuwan muslim terhadap peradaban dunia, terutama ketika Eropa berada dalam dark age,” papar Agus dihadapan 70 peserta.

Selama tiga jam para peserta dikenalkan dan diajak menyelami ayat-ayat semesta di dalam Al Qur’an. Agus menambahkan jika Al-Qur’an dan sains telah melahirkan ilmuan-ilmuan besar seperti Al-Biruni ahli fisika dan kedokteran, Al-Razi ahli kimia, Al-Khawarizmi ahli matematika, Ibnu Haitsam ahli optik, serta nama-nama seperti Ibnu Sina, Ibnu Farabi, Ibnu Khaldun, Al-Kindi, Ibnu Batutah, Ibnu Rusyd, Al-Saghani, dan masih banyak nama besar lainnya.

Dalam penjelasannya Agus menekankan bahwa sesungguhnya Islam dan Al-Quran tidak pernah bertentangan apalagi bermusuhan dengan sains. Dalam buku Ayat- Ayat Semesta yang ia karang, dan lewat diskusi produktif pendidikan ia ingin menunjukkan bagaimana Al-Quran justru menjadi sumber dari sains modern. Sains dikonstruksi berdasarkan inspirasi wahyu Allah Swt. dalam bangunan ilmu pengetahuannya.

“Al-Quran bukan sekadar basis, Al-Quran mengandung 800 ayat alam, sains dan teknologi, integritas sains dan agama, dan epistimologi yang bisa kita jadikan sumber inspirasi dalam kehidupan. Penting diingat jika kita lupa pada sang pencipta maka hidupnya tak akan seimbang. Karena dalam hidup yang utama adalah Allah, maka penting bagi manusia untuk selalu membangkitkan kesadaran akan kebesaran-Nya dalam setiap aktivitas,” tutupnya (AR)

Peran Kawan SLI di MIS Azrina

Peran KAWAN SLI meningkatkan kualitas MIS Azrina

Madrasah Ibtidaiah Azrina, merupakan sekolah mungil berkonsep rumah, terletak di Jalan Marelan Raya Pasar II Nomor 287 B, Kecamatan Rengas Pulau, Medan Marelan. Lebih tepatnya di samping Irian Swalayan. Didirikan tahun 2012 oleh Alm. Muhammad Arif dengan visi-misi yang sangat sederhana, yaitu menjadi wadah bagi anak-anak kurang mampu untuk tetap bisa menikmati bangku sekolah. Ketua Yayasan Pendidikan Islam Azrina, Drs. Wahyudi, merealisasikan niat tulus tersebut melalui berbagai beasiswa yang tersedia, diantaranya adalah Beasiswa Yatim, yaitu beasiswa untuk siswa yatim, bebas SPP dari kelas satu hingga kelas enam.

Selanjutnya ada Beasiswa Separuh, peruntukannya bagi siswa yang orangtuanya masih utuh namun berpenghasilan kecil. Menjadi pertanyaan, bukan? Mengapa tidak disamakan saja, bebas SPP, misalnya? Ternyata, dibalik itu, MIS Azrina ingin menempa orangtua siswanya untuk tetap bertanggungjawab terhadap kewajibannya terhadap anak, sesuai Hadits Riwayat Bukhari Nomor 2278 bahwa

Setiap kalian adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Seorang imam adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawabannya dan demikian juga seorang pria adalah seorang pemimpin bagi keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Harapannya, dengan dibantu separuh, orangtua siswa bisa lebih semangat mencari nafkah. Ada pula Beasiswa Prestasi, yaitu beasiswa untuk tiga siswa yang mendapatkan nilai tertinggi di setiap kelasnya, persemester. Berupa bebas SPP selama tiga bulan. Tujuannya agar menjadi penyemangat siswa untuk rajin belajar. Dari 207 siswa, yang tercatat menerima manfaat beasiswa tersebut adalah 48 siswa. Semoga Allah SWT melimpahkan keberkahan di dalamnya. Aamiin.

MIS Azrina memiliki dua belas tenaga pendidik. Sepuluh guru kelas dan dua guru bidang studi (Olahraga dan Bahasa Arab). Muda-muda, penyayang dan pembelajar. Kepala Madrasah pun masih muda. Wilfa Hayati, S.Pd.I, perempuan kuat dan murah senyum, serta pembelajar yang ulung. Saat ini, MIS Azrina menjadi sekolah penerima manfaat dari Dompet Dhuafa Pendidikan melalui program pendampingan oleh Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia. Analoginya seperti ini, Kepala Madrasah adalah akar, maka Konsultan Relawan adalah pupuk dan airnya.

Tenaga pendidik dan kependidikan MIS Azrina adalah pembelajar terbukti dari sikap antusias mereka setiap mengikuti Pelatihan Guru. Seperti yang pernah dilakukan di semester satu, Pelatihan Guru Tahap I dengan dua tema yaitu Pengantar Kurikulum, serta Strategi dan Model-Model Pembelajaran Aktif. Terlihat mereka ingin belajar untuk meningkatkan kompetensi dirinya sebagai guru di dalam kelas agar lebih professional. Jika belum memahami, maka mereka bertanya. Jika memiliki informasi, maka mereka sharing. Pada semester dua ini dilakukan Pelatihan Guru Tahap II dengan tema Desain Pembelajaran Aktif dan Media Pembelajaran. Pemateriannya tidak lagi diisi oleh Konsultan Relawan, tetapi oleh guru model. Tentu dengan lebih dulu dilatih oleh Konsultan Relawan dan dirangkul serta disemangati oleh Kepala Madrasah. Suasana pelatihan lebih hidup, aktif dan menyenangkan. Begitu juga dengan Kepala Madrasah, beliau mengisi kegiatan Pelatihan Pengembangan Keluarga dengan tema Mewujudkan Anak Cerdas dan Sholeh. Dibawakan dengan santai, hangat dan menyenangkan. Keilmuannya mengenai keislaman pun menjadikan kegiatan tersebut lebih hidup sehingga orangtua siswa yang hadir mendapatkan ilmu baru. Benar-benar potensial.

Sekolah dapat dikatakan baik — tidak semata terukur dari fasilitas. Karena yang lebih penting dari itu adalah kualitas SDM di dalamnya. Untuk bisa mengkualitaskan diri, maka diperlukan “kemauan”. Mau memperbaiki diri, mau belajar, mau berkembang. Jika sudah memiliki kesadaran tersebut maka pelayanan terhadap siswa dan orangtua/wali siswa pun akan prima. Siswa senang datang ke sekolah. Orangtua senang bersinergi dengan sekolah. Sehingga tercipta kepuasan dari berbagai pihak.

“Jadikan anak-anak sebagai generasi pembelajar. Dengan perasaan senang datang ke sekolah dan pulang sekolah.” –Anies Baswedan.

Pengumuman Duta Gemari Baca

Pengumuman Peserta Lulus Duta Gemari Baca 5

Selamat kepada 26 peserta yang berhasil lulus seleksi Duta Gemari Baca Batch 5. Seluruh peserta yang lulus akan mengikuti program Inkubasi Duta Gemari Baca pada 5-7 April 2019.

Duta Gemari Baca merupakan program pembinaan dan pengembangan kapasitas bagi generasi muda yang memiliki passion dan talenta dalam mengembangkan literasi di masyarakat

Berikut adalah daftar nama peserta yang lulus seleksi Duta Gemari Baca Batch 5 :

NamaSekolah/UniversitasAsal Daerah
Aisyah Mutiara ElfianaUIN Syarif Hidayatullah JakartaDKI Jakarta
Ardhi RidwansyahUPN Veteran JakartaDKI Jakarta
BahriannorUniversitas Lambung MangkuratKalimantan Selatan
Beddu HafidzUniversitas Bandar LampungLampung
Cahya Karisma PertiwiUPI Kampus PurwakartaJawa Barat
FatimahUniversitas TadulakoSulawesi Tengah 
Fitrotun NisaUniversitas Islam Negeri WalisongoJawa Tengah
Joana Maria Zettira Da CostaUIN Sunan Kalijaga YogyakartaYogyakarta
Karan HavinasUniversitas Kader BangsaSumatera Selatan
Linda DwiyantiUniversitas Negeri JakartaDKI Jakarta
Mahvira Fitra ApriliaUniversitas Ibn Khaldun BogorJawa Barat
Muhammad Afrizal Indra PratamaUniversitas Islam IndragiriRiau
Murnia SariUIN Sunan Ampel SurabayaJawa Timur
NadiyahUIN Sultan Maulana HasanudinBanten
Nur HolifahSMK Negeri 3 DepokJawa Barat
NurhayatiMA Mu’alimat NW PancorNTB
Putri Mutiara Nafisah NasutionUniversitas Muhammadiyah Sumatera UtaraSumatera Utara
Radika Cahya PermanaUniversitas Sultan Ageng Tirtayasa (UNTIRTA)Banten
Rana Indah SetiawatiSMK NU UngaranJawa Tengah
Rery AfiantoUniversitas DiponegoroJawa Tengah
RismayantiUniversitas MataramNTB
Sinta Gisthi ArdhianiUniversitas Pendidikan IndonesiaJawa Barat
Siti Inna HummaUniversitas PadjadjaranJawa Barat
Taufik HidayatSMK Negeri 2 KlatenJawa Tengah
Ulfatur RohmanUniversitas Pendidikan Indonesia Jawa Barat
Vita Siti ZulaehaUniversitas Pendidikan IndonesiaJawa Barat

Terkait teknis dan lain-lain akan dihubungi oleh panitia pusat.

Relawan-Konsultan-Sekolah-Literasi-Indonesia

Emangnya Jadi Relawan Enak?

Banyak orang bertanya emangnya jadi relawan enak? Jawabannya ya enak!. Menyoal tentang kerelawanan, berbagai konsep dan definisi terkait makna kerelawanan banyak ditawarkan. Sederhananya relawan adalah seseorang/sekelompok orang yang melakukan sesuatu dengan kerelaan. Seperti halnya terobosan dari Sekolah Literasi Indonesia Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, yang telah mengamanahkan Konsultan Relawan untuk didistribusikan ke 18 wilayah di Indonesia.

            Apa sih yang dilakukan relawan di tempat tugas? Banyak. Selain datang membawa misi, mereka juga harus survive di lingkungan baru yang sedikit banyak pasti ada gejolak. Dalam menjalankan misi pun rasanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak tantangan baik internal maupun eksternal. Menebar kebaikan adalah misinya. Namun pernahkah merasa krisis kebermanfaatan? Jawabnya pernah. Ketika keberadaan kita kurang mendapatkan respon positif, maka disitulah kebermanfaatan relawan dipertanyakan.

            Tantangan wilayah, baik dari segi geografis maupun sosial, culture shock, dan penerimaan yang relatif “dingin” merupakan segelintir permasalahan yang harus diatasi oleh seorang relawan. Itu baru sekelumit permasalahan survive untuk diri sendiri, belum lagi harus survive ketika menjalankan tugas di sekolah. Berbagai teori menyebutkan bahwa salah satu cara agar bisa masuk dalam bagian sekolah maupun guru adalah dengan pendekatan non formal dan non struktural. Faktanya disini justru mengalami anomali. Pendekatan non formal dan non struktural yang terjalin hingga terbentuk suatu kedekatan nyatanya tidak berbanding lurus dengan keberhasilan program. Lantas apa yang dilakukan relawan? “Sabar, relawan bukan Hero yang mampu menyelesaikan semua permasalahan”. Mungkin kalimat tersebut terasa begitu klise untuk didengar.

            Menyerah? Tentu tidak. Luruskan niat, yakin apa yang dilakukan adalah sebuah ketulusan untuk menebar kebaikan. Semangat yang fluktuatif merupakan hal yang lumrah terjadi. Jika ditanya kembali “emangnya jadi relawan enak”, tentu jawabannya tak berubah. Enak. Bagaimana tidak, jika menjadi seorang relawan kita dapat banyak belajar sabar, belajar survive, belajar manajemen hati, dan juga belajar menahan rindu. Tak perlu berbagai teori untuk mengenal atau mempelajari suatu hal. Cukup masuklah dalam lingkungan tersebut. Bukankah kehidupan merupakan universitas terbesar tempat kita belajar? Maka cukuplah menjadi relawan dengan tulus dan ikhlas maka kita akan dapatkan ilmu yang tidak kita dapatkan di universitas manapun.