Dompet Dhuafa Pendidikan Usulkan Kurikulum Kepemimpinan Bagi Pendidikan Indonesia

Dompet Dhuafa Pendidikan Usulkan Kurikulum Kepemimpinan Bagi Pendidikan Indonesia

Guru adalah ujung tombak dari sistem pendidikan. Merekalah yang menjadi eksekutor dari pencapaian tahapan demi tahapan cita-cita luhur yang disemat dalam sistem pendidikan Indonesia. Namun sayangnya, kualitas dari ujung tombak ini seringkali tidak terperhatikan dengan baik. Hal ini tentu saja berdampak pada output pendidikan negeri ini.

Sebagai bentuk kontribusi terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas guru, Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar event bertajuk “Harmoni Cinta Guru”. Kegiatan ini akan dihelat selama tiga hari, yaitu Jum’at, Sabtu, dan Senin (23-24 dan 26 November 2018). Seluruh kegiatan akan dilaksanakan di Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur. Sasaran dari kegiatan ini adalah para mahasiswa UNJ, guru dan masyarakat umum di wilayah Jabodetabek.

Adapun ragam acara pada kegiatan tersebut adalah talkshow “Harmoni Cinta Guru”, lomba dan workshop media pembelajaran, bazar buku, pembagian buku, juga pembagian bunga. Narasumber yang sudah menyatakan kesediaannya hadir pada kegiatan ini adalah Lendo Novo (Penggagas dan Pendiri Sekolah Alam), Lisnaini Sukaidawati (Konsultan Keluarga dan Parenting dari Rumah Parenting), Tsani Nur Famy (Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar), dan Bayu Chandra Winata (Ketua Center for Education Study & Advocacy Dompet Dhuafa Pendidikan).

Pada kegiatan ini, DD Pendidikan akan melakukan sosialisasi konsep Uswah Leadership yang akan diikuti dengan launching buku dengan judul serupa. Uswah Leadership sendiri merupakan konsep kepemimpinan yang bertumpu pada inti kepemimpinan Muhammad SAW.

“Terdapat 4 sifat yang menjadi pokok dalam Uswah Leadership, yaitu integritas, cendekia, kompeten, dan transformatif. Keempat hal tersebut dianalogikan dalam bentuk pohon leadership. Maka integritas adalah akar yang menghunjam kuat ke dalam bumi dan menjadi tumpuan tumbuhnya pohon yang besar, cendekia adalah batang yang kokoh, dan dahan yang banyak, kompeten adalah ranting-ranting yang menjulang ke langit, dan daun-daun yang rindang lagi meneduhkan, dan transformatif merupakan bunga dan buah-buah yang bermanfaat serta memberikan perubahan besar dalam peradaban setiap saat” jelas Bayu Candra Winata sebagai penulis buku Uswah Leadership.

Perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Segenap pihak harus bersinergi, bekerjasama untuk menuntaskan problematika pendidikan Indonesia yang menggunung. Semoga langkah kecil berupa kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bahwa siapapun bisa ambil bagian untuk membawa perbaikan pada negeri yang kita cintai ini.

Usia Menua tetapi Jiwa dan Semangat Tetap Muda

Usia Menua tetapi Jiwa dan Semangat Tetap Muda

Bapak Nukman H. Maknum lahir pada 26 April 1952. Saat ini usianya menginjak setengah abad tepatnya 66 tahun. Beliau sekarang tinggal bersama istri dan anak bungsunya yang masih mengeyam pendidikan di perguruan tinggi. Beliau memiliki tujuh orang anak dan semuanya sudah hidup mandiri. Semenjak kecil sampai sekarang beliau tinggal di Desa Meranjat Ilir Kecamata Indralaya Utara Kabupaten Ogan Ilir Sumatra Selatan.

Beliau sedari kecil hingga kini beraktivitas di SD Pidua Meranjat, ketika kecil beliau menjadi murid dan kini menjadi guru sekaligus kepala sekolah. SD Pidua Meranjat merupakan yayasan pendidikan yang dikelola oleh keluarga Bapak Nukman H. Maknum dan sudah jadi warisan keluarga besar H. Nukman.

Pak Nukman meskipun diusianya yang sudah menua, namun secara fisik beliau masih terlihat gagah dengan badan dan kondisi tubuh yang bugar. Jiwa dan semangatnya masih tetap muda untuk memajukan pendidikan. Beliau selalu menerima kritik dan saran dalam pendidikan untuk meningkatkan kualitas sekolah yang dipimpinnya. “Saya mengharapkan saran-saran dari Konsultan SLI untuk meningkat kualitas SD Pidua Meranjat dan kami juga membutuhkan dampingan dalam menjalankannya” jelas Bapak Nukman H. Maknum ketika bercerita dengan Konsultan SLI yang di tempatkan di wilayah Ogan Ilir.

SD Pidua Meranjat merupakan salah satu sekolah penerima manfaat dari Dompet Dhuafa Pendidikan melalui program pendampingan sekolah dari Konsultan Relawan SLI pada tahun kedua. SD Pidua Meranjat salah satu contoh sekolah yang memiliki komitmen bersama untuk memajukan kualitas pendidikan, baik dari kepala sekolah, tenaga kependidikan maupun dari fasilitas sekolah yang dimiliki. Meskipun SD Pidua Meranjat merupakan yayasan keluarga, tetapi pendidikan yang diselenggarakannya tetap untuk umum dalam memajukan pendidikan untuk anak-anak di Desa Meranjat dan sekitarnya.

Usia yang mulai senja tidak mematahkan semangat Bapak Nukman untuk memajukan pendidikan di SD Pidua Meranjat yang dipimpinnya. Beliau memiliki semangat yang tinggi untuk meningkatkan kualitas di sekolah, baik untuk para guru maupun siswa-siswanya. Beliau sering menunaikan saran dari Dinas Pendidikan maupun Kawan SLI dalam meningkatkan kualitas pendidikan di SD Pidua Meranjat. “Jika itu bisa memajukan dan meningkatkan kualitas sekolah, maka saya akan berusaha untuk melakukannya sesuai dengan kemampuan sekolah yang saya pimpin” ungkap Bapak Nukman H. Maknum kepala SD Pidua Meranjat.

Salah satu contoh yang dapat diamati secara langsung yaitu ketika beliau mengikuti kegiatan rapat dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Ogan Ilir, maka ada instruksi dari kepala dinas untuk membuat sanggar sesuai dengan kemampuan sekolah. Esok harinya beliau langsung menggumpulkan dan mensosialisikan kepada seluruh guru bahwa ada instruksi pembuatan sanggar, kemudian dari hasil kesepakatan bersama maka sanggar itu terbentuk dan terlaksana di hari berikutnya. Ini merupakan salah bukti bahwa beliau selalu ingin maju dan mengembangkan kualitas pendidikan sekolah sesuai dengan kemampuan warga sekolahnya. (LR)

Peluncuran Program Kemitraan dan Hibah Inovasi.

Dompet Dhuafa Pendidikan Hadir dalam Peluncuran Program Kemitraan dan Hibah Inovasi

Kegiatan “Peluncuran Program Kemitraan dan Hibah INOVASI” merupakan kegiatan yang yang mempertemukan pihak-pihak / stakeholder yang terlibat dalam Program INOVASI (Inovasi untuk Anak Sekolah Indonesia) dan didalamnya terdapat acara simbolis Peluncuran Program. Pihak-pihak yang terlibat diantaranya adalah Kemendikbud, Kemendagri, Kemenag, Pengurus INOVASI, Kedubes Australia, Pemda dari 4 (empat) provinsi sasaran program, dan 17 Mitra sebagai pelaksana program INOVASI salah satu diantaranya Dompet Dhuafa Pendidikan. Acara ini berlangsung di Hotel JW Marriot Surabaya dari tanggal 7-9 November 2018.

 

Menyanyikan lagu Indonesia Raya oleh seluruh peserta dan pembacaan Do’a mengawali kegiatan ini di hari pertama. Sambutan dan arahan dari Direktur Program INOVASI Bapak Mark Heyward serta Konsulat Jenderal Australia Bapak Chris Barnes turut membuat seluruh peserta berantusias mengikuti kegiatan. Setiap Mitra pada hari pertama menyampaikan secara singkat Program Kemitraan INOVASI yang dilakukan pada masing-masing Kabupaten di Provinsi terpilih. Provinsi yang terpilih sebagai sasaran program adalah NTT, NTB, Kaltara dan Jawa Timur. Setiap Mitra menyampaikan program dengan cara yang berbeda-beda, seperti menampilkan drama, menampilkan video, presentasi slide, dan ada pula yang memperagakan cara mengajar kepada siswa. Kegiatan juga dimeriahkan oleh penampilan drama yang partisipannya adalah siswa-siswi SDN 2 Gelam Sidoarjo.

 

Antusias dan respon dari peserta terus bertambah ketika Dialog Interaktif “Kemitraan antara Pemerintah dengan LSM/LPTK untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan Dasar” dilaksanakan. Panelis dan Moderator yang mengisi acara merupakan orang-orang hebat dan tentunya sudah berpengalaman dan berkecimpung di dunia pendidikan.

 

Di hari kedua, seluruh peserta diberikan wawasan dan pengetahuan lebih lagi dengan adanya penyampaian materi “Kemitraan dalam Memperkokoh Demokrasi” yang dibawakan oleh Pendiri dan Anggota Dewan Nasional FITRA). Acara dilanjutkan dengan kegiatan diskusi kelompok kecil yaitu antara Pemda dan Mitra yang digabi ke dalam 3 (tiga) kelompok. Tema yang dibahas adalah “Peran LSM/LPTK dalam Mendukung Peningkatan Kualitas Pendidikan di Indonesia”. Dalam diskusi kecil ini, setiap kelompok diarahkan untuk dapat memecahkan dan mencarikan solusi untuk poin masalah yang diberikan. Hasil dari diskusi tersebut kemudian disampaikan pada diskusi kelompok besar, yaitu seluruh peserta. Pada akhir sesi, seluruh peserta menyepakati akan beberapa poin yang menjadi solusi dari permasalahan yang diberikan.

 

Sebagai kegiatan penutup di hari kedua, diadakanlah pertemuan dan diskusi antara Pemda masing-masing provinsi dan Mitra yang melaksanakan program di provinsi tersebut. Pemaparan program dari Mitra, tanya jawab dan diskusi menjadi rangkaian acara yang pada akhirnya setiap Mitra dan Pemda dapat mengetahui program satu sama lain dan saling memberi masukan dengan harapan program dapat berjalan dengan baik.

 

Hari ketiga sebagai penutup rangkaian kegiatan “Peluncuran Program Kemitraan dan Hibah INOVASI” diisi oleh adanya diskusi lebih mendalam antara pihak INOVASI dengan mitra-mitra pelaksana program. Adapun konten yang didiskusikan adalah terkait isu implementasi di lapangan seperti perihal Keuangan (Finance), Procurement, Komunikasi, MERL dan lain-lain. Rangkaian penutup acara dilengkapi oleh adanya foto bersama seluruh Mitra dan pihak INOVASI.

Kurikulum Kepemimpinan Kunci Melahirkan SDM Unggul

Kurikulum Kepemimpinan Kunci Melahirkan SDM Unggul

Senin kemarin (5/11), Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia saat ini adalah sebesar 5,34% dari total angkatan kerja. Persentase tersebut setara dengan 7,001 juta orang dari total angkatan kerja sebanyak 131,01 juta orang. Semua orang menganggur yang tercatat dalam data itu pernah mengenyam bangku sekolah. Lalu apa yang salah dari pendidikan kita?

 

Penyumbang jumlah pengangguran terbanyak adalah lulusan SMK, yaitu sebesar 11,24%. Ironisnya, justru penganggur lulusan SD lah yang paling sedikit, di angka 2,43%. Sedangkan lulusan universitas sebesar 5,89%, lebih kecil dari lulusan diploma sebesar 6,02%. Sisanya adalah lulusan sekolah menengah. Lulusan SMP sebesar 4,80% dan lulusan SMA sebesar 7,95%.

 

Data di atas selayaknya menjadi evaluasi bersama. Mengapa lulusan sekolah kejuruan yang notabene mengajarkan ketrampilan, malah menduduki posisi jawara dalam jumlah pengangguran? Mengapa pula lulusan universitas dan sarjana juga banyak yang tak terserap dalam dunia kerja?

 

Negeri ini telah sangat jelas merumuskan tujuan sistem pendidikannya. Hal itu tertuang dalam UUD 1945 pasal 31 huruf c dan pasal 3 UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas. Tersurat dalam undang-undang tersebut bahwa arah pendidikan Indonesia adalah menghasilkan manusia Indonesia yang beriman, bertakwa, berakhlakul karimah, mandiri, dan kompeten.

 

“Masalah pendidikan saat ini adalah sekolah terjebak pada legalitas formal selembar ijazah. Sekolah merasa sudah melaksanakan kewajibannya dengan meluluskan siswa-siswanya berbekal ijazah. Namun, minim integritas, karakter, dan kompetensi,” tutur Muhammad Syafi’ie el-Bantanie, menyampaikan analisanya terhadap permasalahan pendidikan di atas.

 

Syafi’ie, sapaan akrab pria yang menjabat sebagai Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan tersebut, juga mengungkapkan bahwa kunci utama membangun peradaban adalah melalui pendidikan. Pendidikanlah yang menyiapkan sumber daya manusia yang unggul. Namun, tentu saja pendidikan yang bermutu.

 

Sebagai gerakan masyarakat sipil, lembaga yang dipimpinnya pun turut memberikan kontribusinya dalam mengentaskan permasalahan pendidikan di Indonesia. “Dompet Dhuafa Pendidikan melaksanakan program-program pendidikan untuk menghasilkan lulusan yang memiliki integritas, karakter, dan kompetensi,” papar Syafi’ie.

 

Lantas bagaimana caranya mencetak lulusan seperti itu? Ternyata kuncinya ada pada kurikulum. Dompet Dhuafa Pendidikan menerapkan kurikulum kepemimpinan pada setiap program pendidikannya. “Dengan pembinaan yang intensif, peserta didik kami memiliki konsep diri yang matang. Dengan konsep diri yang matang ini mereka bisa merencanakan roadmap masa depannya dan memperjuangkannya dengan modal integritas, karakter, dan kompetensi yang dimilikinya,” pungkas Syafi’ie.

 

Tanggung jawab membangun bangsa ini bukan hanya terletak pada pemerintah saja. Masyarakat pun perlu turut bergerak agar semua permasalahan di negeri ini dapat terselesaikan. Dompet Dhuafa Pendidikan adalah salah satu lembaga yang mewadahi kepedulian masyarakat itu. Anda ingin ikut ambil bagian? Mari berkontribusi!

Sumber Foto : Pixabay.com

Akankah Pendidikan Adab Mampu Membawa Indonesia Menuju Negara Adidaya?

Pertanyaan tersebut pastilah terlintas dalam benak setiap peserta diskusi pagi tadi. Ya, pagi ini, Kamis (01/11) Dompet Dhuafa Pendidikan menggelar diskusi dan bedah buku karya Dr. Adian Husaini. Buku fenomenal tersebut berjudul Reformasi Pendidikan Menuju Negara Adidaya 2045. Pendidikan Adab merupakan konsep yang Adian tawarkan dalam buku tersebut.

 

Buku ini dibedah langsung oleh penulisnya yang berkesempatan hadir ke Bumi Pengembangan Insani, Desa Jampang, Kabupaten Bogor, dimana Dompet Dhuafa Pendidikan berkantor. Acara yang berlangsung sejak pukul 09:00 ini dihadiri oleh 80 orang. Para peserta tersebut berasal dari para aktivis, praktisi, dan pengelola pendidikan. Diskusi pun berlangsung seru dan hangat.

 

“Pendidikan bukan bisnis, pendidikan itu adalah suatu misi,” ungkap penulis buku yang juga menjabat sebagai Ketua Program Doktor Pendidikan Islam, Universitas Ibnu Khaldun Bogor ini. Selanjutnya Adian juga menyebutkan bahwa generasi terhebat yang pernah ada di muka bumi ini ada tiga. “Pertama, generasi para Sahabat Nabi yang mengalahkan Romawi dalam Perang Yarmuk. Kedua, generasi Sholahuddin Al-Ayubi yang spektakuler. Dan ketiga adalah generasi Muhammad Al-Fatih yang merupakan pemimpin suatu generasi emas,” sebut Adian.

 

Generasi-generasi inilah prototype dari mereka yang mendapatkan Pendidikan Adab secara paripurna. Pendidikan kita sudah selayaknya memiliki misi membentuk generasi-generasi seperti ketiga generasi pendahulu tersebut.

 

Dalam buku tersebut juga, Adian merumuskan konsep reformasi pendidikan nasional di era disrupsi ini. Reformasi yang Adian maksudkan adalah pendidikan konstitusional yang adil dan beradab. Berbagai pertanyaan kemudian disampaikan oleh audiens terhadap konsep yang Adian tawarkan tersebut.

 

Iwan Syahrudin sebagai praktisi pendidikan mempertanyakan bagaimana menanamkan konsep pendidikan Islam yang digagas oleh pembicara dalam menghadapi Era Revolusi 4.0? Dr. Adian menyampaikan

 

“Dalam Era Revolusi 4.0 terdapat peluang sekaligus tantangan dalam mengimplementasikan konsep Pendidikan Islam. Justru hal ini membuat saya semakin terpacu untuk membuktikan bahwa Konsep Pendidikan Islam dapat diimplementasikan dalam berbagai zaman” paparnya.

 

Beliau juga menambahkan “Era revolusi 4.0, memudahkan orang untuk belajar dimanapun. Namun perlu dipahami juga bahwa salah satu hal yang penting dalam Konsep Pendidikan Islam adalah Adab. Adab ini mengharuskan adanya interaksi tatap muka secara langsung antara guru dengan muridnya. Maka perlu dibuat perancangan kurikulum yang tepat, agar revolusi 4.0 tetap sejalan dengan Konsep Pendidikan Islam”

 

Diskusi dan bedah buku ini dimoderatori oleh Aidil Azhari Ritonga, Koordinator CESA (Center for Education Study and Advocacy). CESA sendiri merupakan laboratorium pemikiran yang objek kajiannya berfokus pada isu-isu strategis pendidikan. Baik melalui penggalian model pendidikan yang terbaik dan tepat di masa keemasan Islam maupun perkembangan kontemporer saat ini serta relevansi di masa mendatang.

 

Serunya Belajar Literasi di Batang Pohon Saumlaki

Di MI Al-Azhar Saumlaki, ada sebatang pohon yang digemari anak-anak. Mereka senang bermain di pohon itu. Melihat hal tersebut, Dwi Wahyu Alfajar, Kawan SLI yang bertugas di sekolah itu, menjadikan si batang pohon sebagai tempat belajar.

“Saya membebaskan anak-anak untuk belajar di tempat yang membuat mereka nyaman. Ini sudah menjadi kebiasaan saya saat mengajar. Biasanya sore hari, anak-anak belajar literasi di pohon ini,” kata Dwi.

Dwi juga menyatakan bahwa membebaskan anak-anak belajar dengan cara mereka masing-masing adalah tantangan tersendiri bagi pengajar. “Tapi sebisa mungkin kami coba untuk dapat mengatasi tantangan itu,” lanjut Dwi.

Sudah satu tahun Dwi bertugas di Saumlaki, ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat, Kepulauan Maluku. Dwi adalah satu dari 30 orang Kawan SLI yang bertugas di seluruh penjuru Indonesia. Tugas utama mereka adalah mendampingi para guru di sekolah penempatan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

SLI sendiri merupakan program Dompet Dhuafa Pendidikan yang berkonsentrasi pada peningkatan kualitas pembelajaran dan pengembangan kultur sekolah dengan pendekatan khas literasi. Tahun ini program SLI berjalan di 30 sekolah secara bersamaan.

Program ini akan berlangsung selama tiga tahun, hingga 2021 mendatang. Program ini telah dilaksanakan sejak tahun 2017 lalu. Hingga kini telah ada 100 sekolah yang merasakan kemanfaatan program ini. Sekolah-sekolah tersebut tersebar di seluruh provinsi nusantara.

Sekolah Literasi Indonesia Berbagi Ilmu Dalam Festival Literasi Sekolah

Jakarta-Sekolah Indonesia Indonesia berkesempatan untuk berbagi dalam acara Festival Literasi Sekolah, sebuah ajang literasi yang diadakan setiap tahunnya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dalam kesempatan ini Sekolah Literasi Indonesia berkesempatan untuk menyebarkan informasi terkait apa itu SLI dan bagaimana berjalannya program SLI.

Acara Festival Literasi Sekolah ini berlangsung selama 4 hari (28-31/10) di Plaza Insan Berprestasi Kemendikbud, Senayan. Acara ini dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan dilanjutkan oleh beberapa rangkaian acara yang berkaitan dengan literasi. Acara yang mengangkat tema Literasi Membangun Pembelajar Sepanjang Hayat ini menghadirkan beberapa Lembaga dan sekolah yang fokus dalam bidang literasi.

Sekolah Literasi Indonesia menampilkan beberapa media pembelajaran dan produk pembelajaran yang pernah dibuat. Selain itu Febri, yang berkesempatan menjaga stand SLI banyak menjelaskan kepada pengunjung stand SLI terkait beragam program dan kegiatan yang ada di SLI. Hal ini juga Febri jelaskan kedalam praktek game yang menyenangkan sehingga stand SLI ramai dikunjungi oleh banyak orang.

Cara Kreatif MI Hasanuddin Menyemarakkan Gerakan “Semarang Membaca”

Oleh : Luthfia Azmi O. Nasution dan Maria Ulfah (Konsulan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Dalam memperingati bulan literasi, Dinas Pendidikan kota Semarang mengajak seluruh warga sekolah dan masyarakat terlibat aktif dalam kegiatan “Semarang Membaca”. Acara tersebut dilaksanakan serentak  hari rabu, 26 September 2018 pukul 09.00-10.00 WIB.

Menyambut gembira imbauan tersebut,  Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (Kawan SLI) Semarang melasanakannya dengan cara kreatif. Selain aktivitas membaca buku oleh guru dan siswa Madrasah Ibtidaiyah Hasanuddin kec. Semarang Utara, acara tersebut melibatkan siswa-siswi sebagai “Relawan Semarang Membaca MI Hasanuddin”. Mereka menjajakan kardus berisi buku pinjaman. Sasarannya adalah orang tua siswa maupun pedagang kaki lima yang mengais rezeki di sekitar lingkungan sekolah.

Menanggapi hal tersebut, ibu Rukmini selaku kepala sekolah Madrasah MI Hasanuddin mengungkapkan, “Membaca belum dianggap sesuatu yang penting dimasyarakat. Adanya gawai semakin menepikan ketertarikan terhadap buku. Padahal seperti pepatah yang masyur kita dengar, ‘Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia’. Sehingga saya sangat mendukung gerakan ini, semoga dapat menanamkan budaya membaca yang dengannya kita akan perolah banyak informasi.”

Eksistensi Madrasah Tua di Kota Semarang

Oleh : Maria Ulfa (Kawan SLI angkatan 2 penempatan Semarang)

Akhir-akhir ini asumsi masyarakat tentang madrasah mulai berubah. Masyarakat mulai enggan menyekolahkan anaknya di madrasah karena dianggap kualitas pendidikan madrasah tidak menjanjikan jika dibandingkan dengan sekolah umum. Asumsi ini merata hampir di seluruh Indonesia, begitu juga di kota Semarang, kota yang memiliki ratusan madrasah.

Enam madrasah yang mendapatkan program pendampingan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa adalah madrasah yang umurnya rata-rata sudah mencapai setengah abad. Seirama dengan usianya, madrasah-madrasah ini layaknya orang tua yang dihinggapi banyak penyakit. Bahkan satu dari enam sekolah yang didampingi SLI di kota Semarang ada yang sudah mengalami sakaratul maut.

Tidak salah dengan usia yang semakin tua. Seharusnya semakin tua justru eksistensinya semakin menguat. Saat ini diperlukan  adanya pembenahan dari dalam, para stakholder madrasah harus memiliki jiwa muda yang mampu dan berkomitmen mengubah madrasah tradisional menjadi madrasah modern, mampu menjadikan potensi madrasah sebagai program unggulan khas yang ditawarkan. Madrasah bergaya kekinian tentu akan lebih banyak dilirik dibandingkan madrasah bergaya kuno. Madrasah modern adalah madrasah yang memiliki nilai jual. Ibarat pedagang yang mampu melihat peluang dan dapat menjawab kebutuhan masyarat di sekitar madrasah, sehingga madrasah tidak lagi dianggap lembaga pendidikan biasa.

Dalam metode uswah, ada tiga hal yang secara garis besar perlu adanya perubahan dalam suatu lembaga pendidikan yang ingin bertransformasi menjadi sekolah lirikan atau sekolah model. Pertama adalah pada bagian kepemimpinan, kedua bagian sistem pembelajaran dan ketiga bagian budaya sekolah.

Hendaknya kinerja sumberdaya manusia dalam suatu madrasah serta program-program yang ada di dalamnya terukur dan terus dievaluasi sesuai standarisasi. Saya pribadi yakin madrasah memiliki potensi besar dan eksistensi madrasah bisa jauh lebih baik dibandingkan dengan sekolah umum. Tidak ada yang tidak mungkin, jika semua pihak memiliki kesadaran yang sama dan komitmen yang kuat untuk mengembangkan madrasah dan membenahi pada ketiga bagian yang disebutkan di atas.*

KAWAN SLI Kenalkan Pentingnya Melakukan Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di MI Al-Ikhlas

KAWAN SLI Kenalkan Pentingnya Melakukan Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) di MI Al-Ikhlas

Bogor – Sekolah Literasi Indonesia (SLI) diinisiasi untuk mewujudkan sekolah berbasis masyarakat yang berkonsentrasi pada peningkatan kualitas sistem instruksional (pembelajaran) dan pengembangan kultur sekolah, mencuci tangan salah satunya.
Mencuci tangan dengan sabun adalah salah satu tindakan sanitasi dengan membersihkan tangan dan jari jemari menggunakan air dan sabun untuk memutuskan mata rantai kuman. Mencuci tangan dengan sabun dikenal  sebagai salah satu upaya pencegahan penyakit. Hal ini dilakukan karena tangan seringkali menjadi media pembawa kuman penyakit, baik dengan kontak langsung ataupun kontak tidak langsung (menggunakan permukaan-permukaan lain seperti handuk, gelas).
Anak usia sekolah dasar merupakan kelompok usia yang rawan akan penularan penyakit. Kebiasaan kurang menjaga kebersihan dan sering kali makan jajanan di pinggir jalan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu membuat mereka sangat mudah terserang penyakit, dari sakit yang ringan hingga berat. Jika terus dibiarkan tanpa adanya perbaikan maka akan menjadi kebiasaan kurang baik, inilah yang menjadi dasar keprihatinan dari Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) untuk melakukan praktik sekaligus gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun bersama siswa-siswi Kelas 4,5, dan 6 MI Al-Ikhlas Kampung Gunung Putri Desa Sukatani pada Rabu, 01 Agustus 2018.
Acara dimulai dengan pembukaan oleh KAWAN Hajra melalui apersepsi guna menggali pengalaman dan pemahaman siswa mengenai Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS). Hajra turut memaparkan tata cara mencuci tangan yang baik. Dalam praktik dan gerakan CTPS ini, ia menjadi pemateri tunggal sehingga praktik berfokus dari komando yang diberikan. Siswa kelas 4,5 dan 6  MI Al-Ikhlas sangat aktif dan antusias selama kegiatan berlagsung, hal tersebut terlihat dari keaktifan mereka dalam memberikan respon. Tidak lupa setelah memberikan penjelasan tentang CTPS, Hajra memberikan ice breaking untuk membuat siswa tidak jenuh dengan memberikan yel-yel CTPS. Baru setelahnya, siswa diajak untuk mempraktikkan CTPS sesuai dengan aturan yang telah dijelaskan di dalam ruangan.
Bapak Asep, Wakil Kepala Sekolah MI Al-Ikhlas mengatakan jika praktik dan gerakan CTPS memang sangat diperlukan oleh para siswa agar menjadi sebuah kebiasaan baik sejak dini. Kami berharap ke depannya para siswa akan terbiasa hidup bersih dan bisa terhindar dari penyakit.