Minat Belajar Bagi Siswa Makmal Pendidikan

Kapan Mulai Meningkatkan Minat Baca Anak?

Setiap orang dilahirkan memiliki kemampuan komunikasi agar orang lain mampu mengetahui apa yang di sampaikan. Komunikasi  mulai diajarkan oleh orang tua dari umur satu tahun dengan cara orang tua menyebutkan apa saja yang terdapat disekitarnya. Perkembangan komunikasi anak bertambah sesuai dengan tingkatan umur dari anak tersebut. Umur 5 tahun biasanya orang tua akan memasukkan anak ke sekolah TK, disana anak belajar bermain sambil belajar, karena usia anak lima tahun keatas cendrung lebih menyukai dunia bermain. Selain anak bermain, guru-guru yang ada TK biasanya akan memulai anak untuk belajar membaca, Mengenal huruf-huruf abjad, Menghitung dan lainnya.

Ketika anak masuk sekolah dasar, anak akan diajarkan kembali mengenal huruf, mengeja bacaan sehingga menjadi satu kalimat, Berhitung, dan Menggambar. Guru adalah penggerak yang akan memainkan peranan tersebut. Guru akan mendesain bagaimana cara anak menyukai dunia membaca, dari hal-hal yang sederhana.

Meningkatkan daya minat baca peserta didik harus dilakukan sejak dini dan di mulai dari anak sekolah dasar kelas rendah, minat baca pada anak tidak akan tumbuh sendiri tanpa dimulai tanpa diajarkan betapa pentingnya membaca dan dilakukan setiap harinya selama dalam kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan secara berulang-ulang.

Anak-anak yang masih duduk dibangku kelas rendah akan tertarik dengan membaca buku yang tidak banyak teksnya, lebih suka bergambar dan banyak warna, hurufnya lebih besar dan cerita dongeng, yang akan mendorong minat baca peserta didik lebih meningkat. Maka dari itu guru-guru perlu memilih buku yang sesuai dengan tingkatan usia anak, sehingga anak-anak akan lebih tertarik untuk membaca buku.

Masa anak-anak adalah masa yang  paling cepat untuk mengahafal, lebih mudah anak-anak akan menceritakan kembali apa yang mereka baca, maka dari itu guru-guru perlu mereview kembali buku yang dibaca oleh anak-anak.

Lima belas menit sebelum belajar adalah salah satu cara untuk meningkatkan minat baca untuk anak-anak, dengan cara yang seperti ini yang dilakukan setiap hari anak akan bisa menuntaskan beberapa buku bacaan dalam  satu semester. Anak yang sudah berakali-kali membeca buku yang sama mereka akan bosan. Guru harus bisa memperbaharui buku, sehingga minat baca anak-anak terus meningkat dan selalu semangat dalam membacanya.

Buku adalah jendela dunia yang akan mengahantaarkan anak-ank ke masa depan yang lebih baik. Guru adalah penyokong anak untuk mewujudkan masa depan, yang dumulai dari meningkatkan minat baca anak-anak dimasa duduk dibangku sekolah dasar. “Guru Menginspirasi, Karena Guru Adalah Inspirasi” teruslah berkarya mencetak generasi-genearsi perdaban masa depan yang akan dimulai dari dini, dengan cara meningkatkan anak-anak menyukai dunia membaca.

Kontributor : Piska Yunita (KAWAN SLI Angkatan 2)

Dimana engkau Permainan Tradisional?

Seiring perkembangan zaman, maka banyak hal-hal baru yang menjadi sebuah patokan jikalau seseorang tidak ingin disebut sebagai makhluk kuno. Orang-orang mulai beralih mencari hal-hal baru yang mereka anggap bahwa itu adalah sebuah pencapaian maksimal diantara pergantian waktu. Hal itu sontak membuat segalanya menjadi sesuatu yang modern, terutama tentang teknologi. Teknologi canggih saat ini sudah menyelimuti bumi bahkan mungkin mencapai planet lain, banyak hal yang tidak masuk akal bisa terjadi dan terkadang memang di luar nalar manusia. Mungkin kalau disebut salah satu hal yang mempengaruhi dunia yaitu, gadget. Gadget menjadi sebuah media penghubung yang saat ini mempermudah segala hal yang diinginkan makhluk paling pintar di bumi, fungsinya beragam, mulai dari media komunikasi yang sudah paling canggih, tempat berbelanja, order kendaraan, order makanan, dan banyak lagi.

Game Effect

Salah satu hal yang paling membuat orang-orang menjadi betah berlama-lama dengan gadget mereka adalah game. Para pecandu game sekarang tidak akan bersusah payah untuk pergi ke rental PS atau Warnet. Sekarang game di gadget sudah menyediakan sesuatu yang membuat orang-orang terhipnotis untuk tidak bisa jauh dari gadget mereka. Dan bicara tentang Games, itu tidak akan jauh dari hobi anak-anak generasi milineal saat ini. Jikalau generasi X Y Z disaat umur anak – anak masih bermain tali dan kelereng, generasi milineal sekarang malah menghabiskan waktu mereka untuk bermain game di handphone yang sengaja di fasilitasi oleh orang tua mereka. Terkadang orang tua tidak memberikan batasan untuk penggunaan gadget bagi anak-anak mereka.

Bandung menjadi tempat bagi saya sebagai konsultan relawan untuk mempersembahkan diri agar bermanfaat bagi orang lain. Tentu saja tidak menjadi rahasia umum kalau Bandung sudah menjadi wadah bagi anak – anak maupun remaja-remaja untuk mengeksplore diri mereka sesuai perkembangan zaman. Dan fakta yang terlihat memang ketika melihat anak-anak seusia sekolah dasar berkumpul, masing-masing mereka sibuk dengan memfokuskan diri mereka untuk bermain gadget.

Yang Harus Kita Benahi

Saat ini saya tinggal didaerah urban, daerah padat penduduk kelas menengah, dengan profesi kebanyakan sebagai buruh pabrik dan pedagang asongan yang berpenghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu tentu saja membuat sebagian mereka tidak dapat membelikan teknologi secanggih gadget untuk anak-anak mereka. Dan faktanya, lingkungan tersebut masih melestarikan permainan tradisional. Mereka bermain seperti layaknya generasi X Y Z dimana disaat itu permainan silih berganti alias permainan musiman, mulai musim gambar, main kelereng, main sondah, main karet gelang, dan lain-lain. Dan disini saya melihat bahwa kehidupan sosial mereka berjalan sebagaimana mestinya. Perkumpulan mereka bukan hanya untuk sebuah teknologi, namun lebih kepada aktivitas yang saya anggap bermutu dan mampu mengalahkan gadget. Terkadang kita sebagai orang dewasa perlu memilah seperti apa pergaulan dan perkembangan anak yang tepat, sehingga semasa hidup tidak hanya diperbudak oleh teknologi. Semoga tidak akan hilang permainan tradisional dibumi ini. Tetaplah ada dan jangan pernah hilang diterpa ombak yang menenggelamkan.

Kontributor : Reni Rahayu (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Makmal Penddidikan Maluku - Sekolah Baru Semangat Baru 1

Sekolah Baru, Semangat Baru

Alhamdulillah, di 1 Desember 2018 menjadi hari terakhir Ulangan Akhir Semester Ganjil bagi anak-anak di MI Al-Azhar Saumlaki. Sebelum ulangan dimulai, anak-anak sudah bersiap untuk beres-beres peralatan dan perlengkapan yang ada di sekolah lama. Lho kok diberesi? Iya. Karena, anak-anak akan pindah ke gedung sekolah baru. Setelah ulangan, dengan semangat 45, mereka bekerjasama membantu para ibu guru untuk packing segala peralatan yang ada di sekolah lama.

“Katong su mau pindah ke gedung sekolah baru, kalian senang ka seng?” Tanya kepala madrasah kepada anak-anak.

“Beta senang sekali, Ibu Guru. Katong su punya gedung sekolah baru,” ucap salah satu siswa.

Memang sejak tahun 2016, MI Al-Azhar Saumlaki mengontrak 3 ruangan di Jl. Bukit Duri Saumlaki dengan biaya sewa sekitar 21 juta per tahun. Dua tahun sudah pemasukan yang diperoleh madrasah diotak-atik guna membayar biaya sewa gedung yang tak murah. Tak heran jika peralatan dan perlengkapan yang mendukung kegiatan guru dan siswa di sekolah masih sangat terbatas.

2. Makmal Penddidikan Maluku - Sekolah Baru Semangat Baru 2
2. Makmal Penddidikan Maluku – Sekolah Baru Semangat Baru 2

Meskipun demikian, sejak cairnya bantuan dari Kementerian Agama Republik Indonesia, MI Al-Azhar Saumlaki diberi kesempatan untuk membangun 2 buah ruang kelas. Atas musyawarah yang dilakukan oleh pihak madrasah, yayasan, dan panitia pembangunan maka diputuskan untuk membangun 2 ruang kelas dan 1 ruang guru. Pembangunan dimulai sejak Juli 2018 dan rampung di akhir Desember ini.

Kalau dilihat memang pembangunan gedung ini dirasa sangat lama, hal ini bukan tanpa alasan. Kurangnya biaya menjadi kendala utama panitia pembangunan dalam merampungkan gedung sekolah baru. Terlebih ketika perkara pembebasan lahan yang belum juga selesai. Beragam kendala muncul selama pembangunan gedung sekolah baru. Bahkan sampai saat ini, kamar mandi pun belum dibangun.

Meskipun demikian, sejak pindahnya anak-anak ke gedung sekolah baru pada 3 Desember 2018, pancaran kebahagiaan muncul di wajah polos anak-anak. Kebahagiaan terlihat ketika mereka bermain, berlarian ke halaman untuk mencari belalang. Iya, sekolah baru kami memang berada di dekat hutan jati, jadi ketika masuk musim penghujan seperti ini, banyak belalang bermunculan di rumput-rumput tinggi yang mengelilingi sekolah. Selain itu, kebahagiaan anak-anak juga terlihat dari celotehan mereka, “sekolah kita sudah ada lantainya sekarang.”

Kebahagiaan juga tak hanya muncul di wajah anak-anak, para gurupun sudah mulai membuat beragam rencana untuk memperindah kelasnya. Sang kepala madrasah juga berencana untuk memperindah lingkungan sekolah. Sebagai KAWAN yang mendampingi mereka, saya pun ikut berbahagia. Meskipun banyak kendala-kendala yang mengiringi pembangunan gedung sekolah baru ini, cercah-cercah harapan agar MI Al-Azhar Saumlaki menjadi sekolah islam terbaik di Kepulauan Tanimbar terlihat dari semangat pengabdian dan perubahan mereka.

Kontributor : Fajar (Kawan SLI penempatan Kab. Maluku Tenggara Barat)

Literasi di Desa JABI

Inilah Cara KAWAN SLI Populerkan Literasi di Jabi

Mempopulerkan literasi bisa dilakukan dengan berbagai cara kreatif. Seperti yang dilakukan Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia penempatan Bengkulu Utara yang mendesain kegiatan literasi dengan berbagai macam hal-hal yang sangat menyenangkan dan tentunya memberikan berbagai macam edukasi tentang literasi.

Acara ini diberi nama “Bangun Jabi Dengan Berliterasi” dan digelar di SDN 227 Bengkulu Utara pada bulan kemarin. Kegiatan Pesta Literasi ini merupakan salah satu upaya dari Kawan SLI untuk terus menyebarluaskan semangat berliterasi di sekolah dan juga masyarakat Desa Jabi.

Berbagai kegiatan dan lomba yang telah digelar dalam pesta literasi ini diantaranya ada literasi alam dimana guru dan siswa mengeksplor desa Jabi dan menuruni puncak Muarapuyan yang begitu eksotis di desa jabi ini. Selain itu terdapat pula beberapa cabang lomba yang menambah semarak pesta literasi di SDN 227 Bengkulu Utara ini, lomba tersebut diperuntukan untuk siswa dan guru SDN 227 Bengkulu Utara. Cabang lomba yang diikuti oleh siswa adalah, lomba menggambar, lomba baca puisi, lomba menulis cerpen, dan lomba siapa berani. Sedangkan lomba yang diikuti oleh para guru adalah lomba mendongeng dan lomba membuat pohon literasi.

Selain mendapatkan berbagai pengetahuan terkait literasi, pesta literasi ini merupakan kegiatan pertama yang diadakan oleh sekolah, sehingga siswa dan guru begitu antusias dalam melaksanakannya. Lebih hebatnya lagi kegiatan ini diselenggarakan pada hari libur sekolah “ Saya bangga dapat melihat guru dan siswa bahagia saling bekerjasama satu sama lain selain dari pada itu dengan adanya pesta literasi ini saya berharap mampu memberikan pengetahuan kepada anak-anak sebelum mereka libur panjang” ujar Ibu Chusnul selaku Kepala Sekolah SDN 227 Bengkulu Utara.

Pesta Literasi dapat terselengara berkat adanya dukungan dan kerja sama dari Kepala Sekolah, Guru serta Kawan SLI. Dengan adanya  pesta literasi ini diharapkan, mampu memberikan dampak positif baik bagi para guru dan para siswa dalam berliterasi sehingga kelak dapat tercipta guru yang literat dan juga siswa yang literat pula agar kelak kedepannya desa Jabi ini semakin berkembang.

sedekah-jumat berbagi

Kerennya Jumat Berbagi di MI Darul Huda

Jumat berbagi adalah kegiatan yang digagas dan dipelopori oleh Ketua Yayasan Darul Huda, yakni Bapak Ali Al Bustom. Sesuai dengan namanya kegiatan ini dilaksanakan pada hari Jumat, yang mana bagi umat Islam merupakan hari yang baik. Konsep awal kegiatan ini adalah warung atau kantin yang dikelola oleh yayasan akan memberikan jajanan senilai Rp 1.000,00 untuk setiap siswa MI Darul Huda. Setiap siswa cukup membayar dengan membaca Al Fatihah dan doa untuk kemajuan yayasan dan sekolah, serta doa agar banyak donatur yang sholeh hatinya untuk menyumbang pada yayasan. Dalam rencana yang dirancang oleh Bapak Ali, Jumat berbagi ini dilaksanakan hanya dua kali dalam satu bulan.

Permulaan Jumat Berbagi

            Kegiatan ini pertama kali dilaksanakan pada Jumat, 05 Oktober  2018. Siswa-siwa menyambut antusias kegiatan Jumat Berbagi ini, walaupun awalnya tampak beberapa siswa yang kebingungan dan bertanya-tanya, namun kegiatan ini meninggalkan kesan yang sangat baik bagi para siswa. Jumat berikutnya Bapak Ali kembali mencoba melaksanakan kegiatan Jumat berbagi ini, namun kali ini nominalnya naik menjadi Rp 2.000,00. Menariknya adalah ketika selesai shalat dhuha, Kepala Sekolah yaitu Ibu Titin Suwartini memimpin doa bersama para siswa dan guru-guru yang ditujukan agar semakin banyak donatur yang bersedia menyumbang pada yayasan. Saat kembali ke kantor, Bapak Ali mengabarkan bahwa ada donatur yang menyumbang untuk yayasan dan donatur tersebut ingin agar sumbangannya dibagikan dalam bentuk jajanan seharga Rp 5.000,00 per siswa. Saya, Kepala Sekolah, dan semua guru langsung takjup dan kami langsung mengatakan bahwa ini adalah sebenar-benarnya kekuatan doa.

            Sejak saat itu, kegiatan Jumat Berbagi dapat dilaksanakan secara rutin dengan nominal yang terus meningkat. Penyebaran informasi dilakukan melalui whatsapp dan juga media sosial seperti facebook dan instagram. Setiap hari Kamis, Bapak Ali dan guru-guru secara rutin membagikan info tentang kegiatan Jumat Berbagi ini.  Di Jumat keempat pelaksanaan kegiatan ini, tak hanya jajanan yang dibagikan kepada siswa, namun juga uang tunai yang diperuntukkan bagi siswa yang yatim, piatu, dan dhuafa. Bapak Ali secara rutin membuat video ucapan terima kasih dari seluruh siswa yang ditujukan kepada para donatur.

Target Jumat Berbagi

            Bapak Ali selaku penggagas kegiatan ini berharap agar kegiatan ini dapat terus terlaksana dengan baik dan mengalami peningkatan setiap waktu pelaksanaannya. Kedepannya beliau berharap agar nantinya saat sumbangan dari donatur telah mencukupi, yayasan dan sekolah mampu berbagi pada orang-orang yang membutuhkan yang berada di sekitar wilayah sekolah.

Menggapai Impian

Cara Kita Menggapai Impian

Melompat lebih tinggi adalah bagian dari upaya untuk meraih apa yang kita inginkan. 

Mari, bagi yang sudah melompat, namun belum juga bisa meraih apa yang menjadi impiannya, jangan pernah menyerah, tetaplah melompat dan lompatlah lebih tinggi. 

Belajar dari Belalang

Untuk menumbuhkan semangat dan inspirasi, saya ada sebuah cerita tentang seekor belalang  yang  telah lama terkurung di dalam sebuah kotak.  Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak tersebut.  Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya.

Diperjalanan, ia bertemu dengan seekor belalang lain, namun ia keheranan, mengapa belalang itu bisa melompat labih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia mengahampiri belalang itu dan bertanya:” mengapa kamu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh? “

Dengan tersenyum belalang lain itu pun menjawabnya dengan pertanyaan lain: ” dimanakah kamu selama ini tinggal? karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan. ”   Akhirnya belalang baru sadar bahwa selama dirinya terkurung di dalam kotak, dan  kotak itulah yang membuat lompatannya tidak sejauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

Kadang-kadang kita sebagai manusia tanpa sadar pernah juga mengalami hal yang sama dengan si belalang.

Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan, dan perkataan atau pendapat teman, seolah membuat kita terkurung dalam kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita.   Tidak ada cara lain, agar kita bisa melewati apa yang selama ini menjadi target impian kita kecuali ‘melompat lebih tinggi dan lebih jauh’  dan singkirkanlah ‘kotak’ itu.

Kontributor : Munzir (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia) 

Kita masih sangat beruntung,  dibekali kemampuan untuk berjuang, tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Dengan segala kelebihan yang kita miliki, dengan segala akal dan pikiran yang kita punya. Karena itu, teruslah berusaha mencapai apa yang ingin kamu capai.

Pelatihan-Guru-DD

Model Pembelajaran di SDN 08 Indralaya Utara

“Dulu, ada guru model keren di sini. Namanya Pak Tris. Namun, sekarang beliau mutasi, diganti guru baru.” Begitu ujar Kak Forta, Kawan SLI penempatan Ogan Ilir angkatan pertama ketika kami sedang silaturahim di SDN 08 Indralaya Utara.

Sebenarnya saya penasaran dengan sosok Pak Tris yang disebut-sebut, yang kata guru sini juga ngajarnya bagus, selalu semangat dalam setiap program, dan aktif. Saya hanya bisa melihat jejak-jejaknya saja di kelas III B berupa beberapa display kelas. Dalam hati saya berdoa, semoga kelas modelnya diwariskan kepada guru model otomatis yang keren, bahkan semoga lebih keren dari Pak Tris.

Sesuai aturan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, setiap tahun guru model dari sekolah dampingan bertambah dua, satu kelas tinggi dan satu kelas rendah. Begitupun fisik kelasnya menyesuaikan. Artinya, kelas model tahun sebelumnya tetap menjadi kelas model dengan diisi oleh guru model. Jadi, guru baru yang mengisi kelas model otomatis menjadi guru model.

Kelas Pak Tris diwariskan kepada Bu Nopa. Beliau orang Sumatra Barat yang mendapat tugas di Ogan Ilir. Pertama kali bertemu Bu Nopa, saya dan rekan saya menilai bahwa beliau guru yang ramah. Beliau satu daerah dengan Kawan Ravika sehingga sangat asyik bertukar cerita tentang Lintau Buo. Hingga, pada suatu hari tibalah saatnya saya dan rekan saya mengobservasi dan supervisi pembelajaran Bu Nopa. Beliau mengampu 14 siswa.

Beliau telah memiliki dasar pengetahuan yang baik dalam mengelola kelas dan melaksanakan pembelajaran K13. Saat berkesempatan diskusi dengan beliau, beliau menyampaikan, “Saya baru mengajar memakai K13, mengandalkan baca-baca dan cari informasi sendiri saja.”

Meski beliau secara otodidak belajar K13 dan menerapkannya, cara mengajar beliau sudah sangat bagus, bahkan hasil supervisi model pembelajaran beliau terkategori sangat baik. Bagaimana tidak? Ketika mengajar beliau telah melibatkan benda-benda kongkret, dan itulah yang anak sekolah dasar butuhkan.

Selama hampir tiga bulan berada di sini dan berinteraksi setidaknya seminggu sekali dengan beliau, aku benar-benar menemukan pribadi pembelajar dan berkarakter dari sosok Bu Nopa. Seorang perempuan Minang ini memiliki motto hidup, “Iman jangan dikurang, dosa jangan ditambah, cinta jangan dibagi, karena hidup hanya sekali.” Beliau pengganti Pak Tris yang kece! Aku tidak bisa membandingkan keduanya karena aku yakin keduanya memiliki keunikan tersendiri.

Tetap semangat menjadi guru pembelajar, Bu Nopa! Teruslah mengajar dari hati, karena apa-apa yang tulus dari hati akan diterima oleh hati. Tetaplah menjadi kebanggaan murid-murid kelas III B dan seluruh civitas SDN 08 Indralaya Utara.

Kotributor : Nida Fadlilah (Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Reportase : Pesta Literasi SLI Semarang

“Menumbuhkan Semangat Berliterasi Melalui Eksplorasi Budaya dan Sejarah” adalah tema yang dipilih oleh Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) penempatan kota Semarang. Acara ini diselenggarakan untuk mengisi masa liburan sekolah. Acara pesta yang biasanya identik dengan sukaria kini dihadirkan berbeda oleh KAWAN SLI. Acara yang dilaksanakan di Museum Ranggawarsita pada Senin 17 Desember 2018 ini sarat makna, bersuka cita dengan santapan keilmuan, bergembira dengan kompetisi karya.

Pesta Literasi Sekolah Literasi Indonesia

Acara semacam ini tentu menghasilkan pengalaman berbeda bagi anak-anak dan guru-guru  Madrasah Ibtidaiyah, salah satu dampingan SLI di wilayah Semarang. Anak-anak sangat bergembira ketika mereka ditantang untuk menciptakan yel-yel kelompok. Selain itu juga anak-anak diajak menonton Film animasi 3D, berkeliling museum sembari mengikat ilmu dengan mencatat informasi yang dituturkan pemandu, kemudian membubuhkan kesan dari aktivitas Eksplorasi Budaya dan Sejarah di Museum Ranggawarsita. Kesan literasi sangat kental dengan adanya lomba jurnalis, reporter cilik, dan lomba true fals literasi game membuat semakin meriah pesta literasi ini.

Kegiatan ini diikuti puluhan peserta dari berbagai sekolah. Dari Madrasah Ibtidaiyah kota Semarang mengutus 5-8 siswa untuk berpartisipasi dalam kegiatan pesta literasi ini. Banyak siswa yang senang dengan diadakan acara ini, diantaranya siswi MI Gisikdrono, Aisyah.

“Saya senang ikut pesta literasi, karena dapat pengalaman baru” ungkap Aisyah.

Sependapat dengan hal itu salah seorang guru menimpali, “Rangkaian acaranya menarik.” Kata Bu Yuyun guru pendamping utusan MI Al-Amin.

Liburan sekolah telah tiba, bukan berarti siswa-siswi libur juga untuk belajar. Ketika pemandu acara meneriakkan yel-yel “kenapa kita di sini?”, peserta serentak menjawab dengan penuh semangat “Kami memburu Ilmu!”. Semoga semangat berliterasi terus tumbuh dalam diri peserta, serta dapat menularkan pada teman-temannya.

Reporter : Luthfia Azmi & Maria Ulfah (KAWAN SLI Kota Semarang)

Talkshow Suku Akit

Baru tau, ternyata ini asal-usul suku pedalaman Akit

Dalam rangka mengisi hari libur Dompet Dhuafa Pendidikan, melalui Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesi (KAWAN SLI) penempatan SDN 12 Sokop Lokal Jauh Kab. Kepulauan Meranti menggelar Pesta Literasi dengan tema “Asal Usul Suku Pedalaman Akit dan Pendidikannya” yang dilaksanakan hari Sabtu (22/12).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat suku pedalaman  Akit akan pentingnya pendidikan dan juga untuk mengingat kembali sejarah suku pedalaman Akit. Kegiatan ini dipandu oleh Munzir dari Konsultan Sekolah Literasi (SLI) dan Luthfi Irawan dari BAKTI NUSA. Talk show ini disampaikan oleh Pak Nardi (Kepala Suku), Pak Aheng (Kepala Dusun) dan Ibu Riyati (Tokoh Pendidikan).

Talk show dimulai dengan pengulasan sejarah suku pedalaman Akit oleh Pak Nardi dan Pak Aheng. ” Sumatera merupakan tempat tinggal bagi suku-suku besar yang mempunyai tradisi budaya terkenal seperti Aceh, Batak, Minangkabau dan Melayu. Selain itu terdapat juga sejumlah suku-suku minoritas dan nyaris tidak dikenal, salah satunya adalah suku pedalaman Akit. Sebagian besar suku ini terdapat di dataran rendah Sumatera sebelah timur dimana mereka pernah hidup secara tradisional di kawasan hutan luas diantara sungai-sungai penting maupun rawa-rawa pantai dan pulau-pulau lepas pantai. ” Ujar Pak Nardi.

Talkshow Suku Akit2

Orang Akit atau orang Akik, adalah kelompok sosial yang berdiam di daerah Hutan Panjang dan Kecamatan Rangsang Pesisir di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Sebutan “Akit” diberikan kepada masyarakat ini karena sebagian besar kegiatan hidup mereka berlangsung di rakit. Dengan rakit tersebut mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain di pantai laut dan muara sungai. Mereka juga membangun rumah-rumah sederhana di pinggir-pinggir pantai untuk dipergunakan ketika mereka mengerjakan kegiatan di darat, ucap Pak Nardi selaku pemateri.

Mata pencaharian pokok orang Akit adalah menangkap ikan, mengumpulkan hasil hutan, berburu binatang, dan meramu sagu. Orang Akit tidak mengenal sistem perladangan secara menetap. Pengambilan hasil hutan yang ada di tepi-tepi pantai biasanya disesuaikan dengan jumlah kebutuhan. Penangkapan ikan atau binatang laut lainnya mereka lakukan dengan cara sederhana, misalnya dengan memasang perangkap ikan (bubu). Hasil meramu sagi biasanya dapat memenuhi kebutuhan akan sagu selama beberapa bulan.

Tradisi suku pedalaman Akit adalah Joget yang dipertunjukkan pertama kali pada tahun 1960-an dalam acara pesta perkawinan. Sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang, mereka masih memelihara tradisi Joget. Tradisi joget tentu saja terdapat perpaduan antara gerakan tubuh, alat musik, dan juga nyanyian yang dilantunkan serupa syair utuh, sesuai bahasa mereka. Syair tersebut menceritakan kehidupan, alam, dan kebiasaan sehari-hari suku mereka.

Gelap datang, para penjoget naik ke darat. Lengkap dengan kostum joget: kebaya pendek, kain dan selendang panjang. Mak penjoget pun bersiap. Duduk di sudut ruang. Persis di samping pemusik. Ada gendang pendek dan biola. ‘’Dang kung… dang kung.. dang kung…’’ Tarian dimulai. Bukan tari biasa. Tangan kiri seiras dengan kaki kiri. Begitu juga tangan kanan, seiras dengan kanan. Maka, penjoget tegelek-gelek, tegelek-tegelek.

Joget berlangsung lama. Panjang. Sampai para lelaki berdiri mencari pasangannya. Ikut menari, ikut tegelek-gelek. Terlebih saat selendang panjang disangkutkan ke leher lelaki itu. Semakin tegelek. Kecantikan para penjoget sungguh menawan. Para lelaki tak hendak lepas dari lilitan selendang. Bahkan sampai joget usai, penjoget kembali ke laut, kembali ke rakit, para lelaki turut masuk ke dalam lumpur tepian.

Tari ini terciptanya di Desa Sonde maka diberilah nama dengan sebutan Tari Joget Sonde. Sejarah Desa Sonde itu sendiri adalah pada zaman dahulu pohon sonde hanya terdapat di daerah kampung tersebut, di mana getah pohon sonde tersebut bisa dijual dengan harga yang tinggi. Karena banyak orang yang pergi mengambil kayu sonde dan daerah tersebut tidak memiliki nama maka masyarakat setempat memberi nama Sonde, ucap pak aheng.

Salah satu tradisi lain yang menjadi ikon suku pedalaman Akit adalah tradisi Perang Air (Cian Cui) dan mandi bunga dimalam tahun baru untuk membuang sial.

Setelah pengulasan sejarah suku pedalaman Akit sudah dipaparkan, talk show dilanjutkan dengan pemaparan mengenai kondisi pendidikan di suku pedalaman Akit oleh Ibu Riyati. Puluhan anak-anak suku pedalaman Akit yang berada di Dusun Bandaraya, Desa Sokop, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kepulauan Meranti tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (SMP).

Talkshow Suku Akit3

Pengelola SDN 12 Sokop Lokal Jauh selaku tokoh pendidikan didusun bandaraya, Riyati, mengungkapan, puluhan anak-anak Suku Akit yang tidak melanjutkan sekolah disebabkan tidak adanya sekolah tingkat menengah pertama (SMP) di dusun mereka.

“Dusun kami hanya punya SD, sebab itu banyak anak-anak yang hanya sampai SD saja. Hampir seratusan anak,” ujar Riyati.

Ibu Riyati mengatakan, sebenarnya ada SMP di desa tetangga, Desa Repan. Namun, akses transportasi dari Dusun Bandaraya, Desa Repan sangat jauh. Untuk sekolah ke Desa Repan, mereka harus berjalan sekitar 20 km. Tapi tidak semua warga memiliki motor. “Hanya sedikit saja warga yang punya motor, hanya para pekerja jauh saja,” ujarnya.

Sebelum talk show berakhir Ibu Riyati juga memberikan motivasi kepada warga suku pedalaman Akit bahwa pendidikan itu penting dan harus diperjuangkan. ” Kuncinya adalah berani, kita harus berani melewati batas, walau orangtua hanya lulusan SD atau bahkan tidak sekolah, anak-anak kita harus sekolah, minimal harus sarjana “, ujarnya. (Munzir – KAWAN SLI)

Talkshow Suku Akit4

Dompet Dhuafa Pendidikan Usulkan Kurikulum Kepemimpinan Bagi Pendidikan Indonesia

Dompet Dhuafa Pendidikan Usulkan Kurikulum Kepemimpinan Bagi Pendidikan Indonesia

Guru adalah ujung tombak dari sistem pendidikan. Merekalah yang menjadi eksekutor dari pencapaian tahapan demi tahapan cita-cita luhur yang disemat dalam sistem pendidikan Indonesia. Namun sayangnya, kualitas dari ujung tombak ini seringkali tidak terperhatikan dengan baik. Hal ini tentu saja berdampak pada output pendidikan negeri ini.

Sebagai bentuk kontribusi terhadap upaya untuk meningkatkan kualitas guru, Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) bekerjasama dengan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar event bertajuk “Harmoni Cinta Guru”. Kegiatan ini akan dihelat selama tiga hari, yaitu Jum’at, Sabtu, dan Senin (23-24 dan 26 November 2018). Seluruh kegiatan akan dilaksanakan di Kampus UNJ, Rawamangun, Jakarta Timur. Sasaran dari kegiatan ini adalah para mahasiswa UNJ, guru dan masyarakat umum di wilayah Jabodetabek.

Adapun ragam acara pada kegiatan tersebut adalah talkshow “Harmoni Cinta Guru”, lomba dan workshop media pembelajaran, bazar buku, pembagian buku, juga pembagian bunga. Narasumber yang sudah menyatakan kesediaannya hadir pada kegiatan ini adalah Lendo Novo (Penggagas dan Pendiri Sekolah Alam), Lisnaini Sukaidawati (Konsultan Keluarga dan Parenting dari Rumah Parenting), Tsani Nur Famy (Pengajar Muda Gerakan Indonesia Mengajar), dan Bayu Chandra Winata (Ketua Center for Education Study & Advocacy Dompet Dhuafa Pendidikan).

Pada kegiatan ini, DD Pendidikan akan melakukan sosialisasi konsep Uswah Leadership yang akan diikuti dengan launching buku dengan judul serupa. Uswah Leadership sendiri merupakan konsep kepemimpinan yang bertumpu pada inti kepemimpinan Muhammad SAW.

“Terdapat 4 sifat yang menjadi pokok dalam Uswah Leadership, yaitu integritas, cendekia, kompeten, dan transformatif. Keempat hal tersebut dianalogikan dalam bentuk pohon leadership. Maka integritas adalah akar yang menghunjam kuat ke dalam bumi dan menjadi tumpuan tumbuhnya pohon yang besar, cendekia adalah batang yang kokoh, dan dahan yang banyak, kompeten adalah ranting-ranting yang menjulang ke langit, dan daun-daun yang rindang lagi meneduhkan, dan transformatif merupakan bunga dan buah-buah yang bermanfaat serta memberikan perubahan besar dalam peradaban setiap saat” jelas Bayu Candra Winata sebagai penulis buku Uswah Leadership.

Perbaikan kualitas pendidikan di negeri ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja. Segenap pihak harus bersinergi, bekerjasama untuk menuntaskan problematika pendidikan Indonesia yang menggunung. Semoga langkah kecil berupa kegiatan ini dapat menjadi inspirasi bahwa siapapun bisa ambil bagian untuk membawa perbaikan pada negeri yang kita cintai ini.