KAWAN SLI: Tata Surya Desa Belang-Belang

 

Oleh: Pelangi A. Salsabila KAWAN SLI 3 Penempatan Halmahera Selatan

——————————————————————-
Cerita hari ke-24 di bulan Maret 2020
———————————————————————

 

Meski kini dunia sedang dalam kondisi kurang baik. Namun, masih ada sesuatu yang selalu bisa menjadi kisah mengesankan bagi kepekaan jiwa.

 

Tepat sehari sebelum semua sekolah diliburkan. Aku melakukan monitoring dan observasi praktik coaching di SDN 161 Halmahera Selatan.

 

Kali ini membersamai pak Sahmal, dalam agenda supervisi dadakan untuk pembelajaran yang dibawakan pak Munir, salah satu guru model sekolah tersebut. SDN 161 Halmahera Selatan adalah salah satu binaan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Sekolah ini menjadi sekolah dasar satu-satunya bagi penduduk desa Belang-belang, Kec. Bacan, Kab. Halmahera Selatan, Maluku Utara.

 

Letak desa yang berada cukup jauh dari pusat kota membuat perkembangan sekolah ini memiliki kendala tersendiri. Ruang kelas dan sarana prasarana sekolah masih sangat terbatas. Tembok kelas dengan cat yang mulai pudar, beberapa kaca jendela yang pecah, papan tulis yang sudah cukup tua, serta meja kursi yang mungkin jauh dari keadaan sekolah-sekolah di pusat kota. Meski demikian, semangat dari para guru dan peserta didik berbanding terbalik dengan hal itu. Para guru memiliki semangat untuk tetap hadir memberikan ilmu pengetahuannya. Peserta didik pun tak kalah semangat menantikan pengetahuan apa lagi yang akan mereka dapat setiap harinya.

 

“Pelan-pelan tapi pasti dengan selalu bersemangat untuk terus maju,” kata-kata yang selalu diucapkan oleh pak Sahmal sebagai kepala sekolah. Yah, aku memahami betapa menantang apa yang dihadapi sekolah ini. Dengan hanya mengandalkan dana BOS dari 90-an peserta didik, untuk melengkapi segala fasilitas sarana prasarana yang memadai. Bukan semudah membalikkan telapak tangan. Layaknya menemukan sebuah oase diantara gersangnya dunia, yang mulai dipenuhi kehawatiran. Rasa takjub memenuhi ruang hatiku saat itu. Melihat pembelajaran menyenangkan dan realistis yang dipandu pak Munir.

 

Langkahku memasuki pintu kelas enam bersama pak kepsek. Wajah pak Munir yang sedikit kaget menyambut kami. Mungkin tak menyangka bahwa akan disupervisi. Namun, beliau tetap melanjutkan pembelajaran. Materi tentang planet dalam pada tatanan tata surya dipandu apik olehnya. Kulihat empat peserta didik berdiri di depan kelas. Mereka berdiri tepat di atas sebuah lintasan melingkar yang dibuat oleh sang guru dengan kapur warna. Mereka menamakan diri masing-masing dengan nama Matahari, Bumi, Mars dan Merkurius. “Ahh, bermain peran,” gumamku.

 

Sang guru kemudian melanjutkan intruksi agar mereka berjalan mengikuti jalur lintasan yang sudah dibuat. Dengan arahan sang guru mereka pun berjalan, “satu, dua, tiga, empat, satu, dua, tiga, empat”. Terus, hingga mereka kembali ke posisi semula.

 

“Naaahhh, bagaimana? Bertabrakan kah saat kalian berjalan?” tanya pak Munir dengan bahasa khas maluku. Peserta didik pun menjawab serentak, “Tidak pak guruuu”. Pak Munir pun mempersilahkan kepada anak yang lain untuk mencoba. “Mari, semua harus coba supaya faham apa itu planet dalam,” ujarnya. Bermain peran pun dilanjutkan sampai semua anak mencoba.

 

Sangat senang rasanya melihat pemandangan itu. Suasana pembelajaran yang aktif dan menyenangkan, anak-anak diajak untuk melakukan sesuatu untuk memahami materi ajar. Peserta didik yang awalnya tak tertarik, beberapa saat kemudian turut serta dalam pembelajaran itu. Bahkan, aku melihat ada peserta didik kelas lima yang mengikuti diam-diam dari pintu.

 

Aahhh rindunyaaa.

 

Lekaslah pulih dunia, tak sabar kunanti pemandangan seperti itu lagi.

Memberi Tanpa Mengingat, Menerima Tanpa Melupakan

 

By Ahmad Shofwan Syaukani

 

Ada satu pesan baik yang mengatakan, “memberi tanpa mengingat, menerima tanpa melupakan”. Jelas bahwasannya mengambil jalan menjadi aktivis, sama halnya dengan kita menerima peran kepemimpinan dengan berbagai macam resiko dan tantangannya. Berusaha untuk memberikan dan menolong orang lain yang sedang membutuhkan, tanpa harus mengingat serta menghitung-hitung kebaikan yang sudah kita lakukan. Tetapi juga jangan lupa untuk senantiasa mengingat kebaikan yang telah dilakukan oleh orang lain kepada diri kita, karena diri kita hari ini merupakan hasil dari uluran tangan orang-orang baik yang hadir dalam setiap kondisi, fase, dan momentum sehingga diri kita mampu berkembang sampai dengan hari ini.

 

Mengambil peran kepemimpinan sama halnya kita berbicara mengenai mengajak orang lain dalam kebaikan, apapun itu bentuknya. Saling menjaga dalam keimanan, merajut ukhuwah satu sama lain, berkata baik dan memberikan teladan, membantu siapa saja yang membutuhkan, sekaligus mewakafkan dirinya untuk berkontribusi dan bermanfaat demi kemashalahatan banyak orang.

 

Last but not least, karakter pemimpin teladan adalah encourage the heart. Senantiasa mendorong, membesarkan hati dan memberi semangat. Ada energi positif seorang pemimpin yang terus memancar sehingga mampu mengikat dan menginspirasi mereka yang dipimpin. Jika kita telaah sirah nabawiyah dan hadist-hadist tentang akhlak Rasulullah memang banyak sekali kita temui kisah menyentuh bagaimana Rasulullah itu penuh dengan kasih sayang. Keluhuran akhlak Rasulullah kian menjadikan beliau sosok pemimpin teladan yang dekat dengan yang dipimpinnya.

 

Keteladanan tersebut juga berlaku bagi laki-laki maupun perempuan yang dimana juga sama-sama mengemban peran sebagai seorang aktivis dalam ruang-ruang kepemimpinannya. Menjadi aktivis akan menuntut banyak hal, dan salah satunya ialah kemampuan untuk dapat berinteraksi dan berkomunikasi dengan banyak orang, baik laki-laki maupun perempuan. Dan interaksi dan komunikasi yang baik ialah yang berasal dari dan kembali ke hati. Ma khoroja minal qolb washola ilal qolb (sesuatu yang keluar dari hati akan sampai ke hati).

 

Kemudian, ketika kita berbicara mengenai hati, sebenarnya hanya diri kita dan Allah saja yang tahu apa-apa yang ada dihati kita. Akan tetapi, fenomena yang sering terjadi ialah interaksi dan komunikasi yang terbangun diantara sesama manusia sangat mudah untuk memunculkan hubungan ganda (dual-relationship), khususnya interaksi yang terbangun diantara laki-laki dengan perempuan, maupun sebaliknya. Akibatnya, lawan bicara kita sering kali salah dalam menafsirkan hubungan yang dibangun dari kebaikan orang lain kepada diri kita. Tidak jarang juga hal tersebut terjadi diantara sesama aktivis, yaitu orang yang harusnya memahami betul batasan interaksi dan komunikasi sesuai dengan kebutuhan dan tidak melebih-lebihkan porsi perannya sebagai hamba milik Tuhan.

 

Mungkin kita lupa, menjadi aktivis sebagaimana yang telah diteladankan oleh Rasulullah, terdapat koridor-koridor yang mengatur tata cara diri kita untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan lawan jenis. Rasulullah berbuat baik, karena memang dirinya merupakan orang baik. Sama halnya dengan diri kita yang sedang sama-sama belajar untuk menjadi orang baik dan berbuat baik. Pemahaman akan hal tersebut alangkah baiknya sudah dipahami oleh setiap aktivis yang sedang menjalankan peran kepemimpinannya.

 

Kemudian, kenapa memangnya disebut dengan aktivis menye-menye? Satu hal yang perlu kita ingat ialah kita tidak bisa mengatur dan mengontrol pikiran, perasaan, dan mulut orang lain. Tetapi kita bisa mengendalikan respon diri kita terhadap hal tersebut. Ini yang menjadi masalah, yaitu ketika kebaikan orang lain kita tafsirkan secara berlebihan. Kita membiarkan diri kita terbawa oleh perasaan mendayu-dayu yang sebenarnya fana, yang sebenarnya orang lain tersebut melakukan kebaikan itu kepada banyak orang lainnya, dan bukan hanya kepada diri kita saja. Kitanya saja terkadang yang kegeeran dan merasa dispesialkan, padahal biasa dan tidak ada apa-apanya.

 

Fenomena tersebut cukuplah menjadi pelajaran bahwasannya untuk berhati-hati dengan hati dan perasaan orang lain. Karena yang dikhawatirkan ialah perbuatan ataupun perilaku yang kita lakukan dapat mempengaruhi keberlangsungan proses diri kita untuk mengajak orang lain dalam kebaikan. Walaupun, kadang-kadang persepsi adalah sebuah perangkap dan tafsir terhadap sesuatu sering keliru.

 

“Karena engkau telah menghukumku tersesat, maka aku benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka (para manusia) dari jalan-Mu yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan, Engkau tidak akan mendapai kebanyakan mereka bersyukur”, Ujar Ibis dalam surat Al-A’raf[7]: 16-17. Mungkin kita lupa bahwasannya Iblis akan senantiasa berusaha menurunkan kadar keimanan dan kapasitas diri kita. Berusaha menggoda diri kita untuk melakukan perbuatan tercela, melancarkan kemaksiatan dan lain sebagainya. Sehingga hanya Allah lah sebaik-baik tempat meminta dan memohon perlindungan dari godaan Iblis yang terkutuk.

 

Tulisan ini hadir sebagai pengingat dan refleksi, khususnya kepada penulis sendiri dan khalayak umum untuk senantiasa bersikap professional dalam menjalin hubungan baik dengan orang lain, khususnya yang berkaitan langsung pada proses menolong orang-orang yang sedang membutuhkan sesuai dengan porsi dan kemampuan diri kita sendiri. Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang lalai dan membiarkan hati kita terlena dalam ketidakjelasan hubungan diantara dua orang, khususnya hubungan yang bersinggungan langsung dengan lawan jenis. Tidak berlebih-lebihan dalam menanggapi, serta memberikan perhatian dan rasa nyaman sesuai dengan kebutuhannya. Putuskan saja ketidakjelasan hubungan tersebut, apabila sudah melebihi batasan yang sudah disepakati demi kebaikan bersama.

 

Coba tanyakan kembali kepada hati kita,dan yakini, karena setiap orang memiliki persepsinya masing-masing dalam menentukan batasan hatinya sendiri. Bukan maksudnya juga untuk akhirnya membatasi lingkup pergaulan dan pertemanan kita dengan orang lain. Bertemanlah dengan siapapun. Semoga Allah memudahkan sekaligus menjaga orang-orang yang ingin berbuat baik dan menjalin silaturrahim dari bisikan sisi gelap hati manusia untuk melakukan kejahatan. Aamiin.

Menanggulangi Covid-19 Bisa Lewat Social Media Distancing

Menanggulangi Covid-19 Bisa Lewat Social Media Distancing

 

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie
(Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan, Founder Ekselensia Tahfizh School)

 

“al-wahmu nishfu al-da՛i wa al-ithmi՛nanu nishfu al-dawa՛i wa al-shabru bidayatu al-syifa՛i; kecemasan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan,” Ibnu Sina. Pernyataan Ibnu Sina, yang sering disebut sebagai bapak kedokteran Islam, rasanya hari-hari ini menemukan aktualisasinya. Wabah Covid-19 tak bisa dinafikan telah membuat masyarakat merasakan kecemasan dan ketakutan berlebihan.

 

 

Bahkan, sebuah stasiun televisi nasional pernah membahas topik ini. Seorang narasumber acara tersebut, yang berprofesi sebagai dokter kejiwaan (psikiater), menyampaikan bahwa cukup banyak masyarakat yang berkonsultasi karena merasa cemas dan takut akibat wabah Covid-19.

 

 

Kemudian, mereka mengidentifikasikan gejala-gejala Covid-19 kepada dirinya. Ada yang memeriksakan diri karena merasa batuk dan sesak nafas. Namun, ternyata setelah didiagnosa tidak ada peradangan di kerongkongannya dan tidak ada masalah dengan paru-parunya. Mereka mengalami psikosomatis (penyakit fisik akibat tekanan psikis).

 

 

Teman-teman saya pun ada yang mengalami hal demikian. Mereka merasa tertekan secara psikis dan dihantui kekhawatiran berlebihan. Akibatnya, badan terasa lemas dan tidak bergairah. Sebagian ada yang merasa pusing, asam lambungnya naik, dan mual. Padahal, sebenarnya mereka baik-baik saja. Hanya, karena cemas dan tegang memicu gejala-gejala fisik tersebut. Kondisi tersebut sebetulnya merugikan fisik kita. Sistem imun kita akan drop (menurun). Sistem imun akan terhambat memproduksi antibody untuk melawan virus, kuman, dan bakteri yang mungkin masuk ke dalam tubuh. Maka, kemampuan mengelola rasa cemas dan takut berlebihan akibat wabah Covid-19 menjadi penting.

 

 

 

Dari penelusuran penulis, salah satu faktor paling signifikan yang membuat banyak orang merasa cemas berlebihan adalah overload (melewati batas) mengonsumsi informasi seputar Covid-19 melalui media sosial. Masalahnya, informasi seputar Covid-19 yang beredar di media sosial, terutama whatsapp group, tidak sedikit berupa informasi yang justru menimbulkan perasaan horor. Misalnya, sebuah portal berita online pernah menulis dengan judul, virus corona mampu bertahan di udara selama tiga jam, dengan mengutip penjelasan dari WHO (world health organization). Padahal, menurut penjelasan dr. Erlina Burhan, RSUP Persahabatan, pemahamannya tidak seperti itu, kemungkinan tidak membaca utuh penjelasan WHO. Maksud pernyataan WHO bahwa virus corona dapat bertahan tiga jam di udara adalah saat proses intubasi pada pasien Covid-19 untuk pemasangan ventilator terjadi mekanisme aerosol. Maka, WHO mengingatkan para dokter dan tenaga medis agar menggunakan masker N-95, bukan masker bedah untuk perlindungan diri.

 

 

 

Lalu, berita ini dibagikan ke group-group whatsapp, termasuk penulis juga memperoleh broadcast berita ini di sebuah group whatsapp. Apa yang terjadi? Banyak orang semakin merasa cemas dan takut terpapar Covid-19 melalui udara. Maka dari itu, langkah efektif yang bisa dilakukan untuk meminimalisir rasa cemas dan takut berlebihan selama wabah Covid-19 adalah social media distancing, menjaga jarak dari media sosial. Kita tidak bisa mengendalikan isi berita dan pembahasan di media sosial, namun kita mesti bisa mengendalikan diri kita untuk menarik diri dan menjaga jarak dari media sosial.

 

 

Kurangilah aktifitas dan waktu kita dalam bermedia sosial. Lebih baik alokasikan waktu untuk aktifitas yang lebih produktif, seperti membaca buku, bercengkrama dengan keluarga, atau berkebun di pekarangan rumah. Berkebun dapat mengurangi tekanan psikis dan menyeimbangkan mental kita. Dalam psikologi warna, dominasi warna hijau memberikan kesan ketenangan dan mengurangi stres.

 

 

Beberapa penelitian ilmiah mengemukakan bahwa aktifitas yang berhubungan dengan alam dan lingkungan mampu membantu pemulihan kesehatan mental, mengurangi tingkat stres, mengembalikan konsentrasi, dan meningkatkan produktivitas (Maller et al, 2005).

 

 

Selain itu, agar media sosial kita sehat, semestinya ada kesadaran kolektif dari seluruh masyarakat Indonesia untuk tidak menyebar atau membagikan berita-berita seputar Covid-19 yang dirasa bisa menimbulkan kecemasan dan ketakutan. Berita tentang kematian pasien Covid-19, keganasan virus corona, dan sejenisnya adalah berita-berita yang bisa menekan psikis pembacanya, lalu menimbulkan kecemasan dan ketakutan.

 

 

Janganlah kita menambah beban para tenaga medis dengan menghadirkan kecemasan dan ketakutan di media sosial. Seperti kata Kang Bima Arya, Wali Kota Bogor, “Virus ini menyerang hati dan jiwa sebelum pernafasan dan paru-paru. Social media itu ibarat ICU raksasa. Runtuh mental semua orang kalau digempur berita Covid-19. Drop imunitas.”

 

 

Maka dari itu, selain social media distancing, menjadi warganet yang baik dan bertanggung jawab adalah upaya solutif untuk turut serta menanggulangi wabah Covid-19. Bayangkan jika banyak orang yang merasa cemas dan takut berlebihan, lalu imunitasnya drop. Maka, mereka akan rentan terpapar Covid-19.

 

 

Sebaliknya, jika semua warganet bertanggung jawab dengan cara hanya menyebarkan atau membagikan berita positif di media sosial seputar Covid-19, semisal berita kesembuhan pasien Covid-19, virus corona bisa dilawan dengan imunitas yang baik, maka psikis masyarakat tidak akan terganggu. Justru bisa menimbulkan ketenangan. Dampaknya imunitas tubuh meningkat, sehingga relatif tahan dan kebal dari paparan virus. Harapannya, ini bisa berdampak positif pada upaya mempercepat penanggulangan wabah Covid-19 di negeri kita tercinta.

 

Ini Rasanya Seharian Pakai APD Makmalian!

Oleh: Muhammad Shirli Gumilang (Supervisor Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI))

Kali ini saya berkesempatan menjadi salah satu relawan tim DMC Dompet Dhuafa dalam penanganan pencegahan Covid-19 di Jakarta. Tugasnya begitu sederhana, yaitu melakukan penyemprotan ke wilayah zona merah Covid-19. Awalnya saya pikir demikian. Yah paling kalau nyemprot-nyemprot sih gampang. Tapi ternyata sungguh pengalaman yang luar biasa khususnya buat saya. Pengalaman ini membuat saya angkat topi terhadap para tenaga kesehatan kita.

 

Awalnya saya berpikir “wah kayanya sih seru nih nyemprot pakai APD”. Tapi baru selang beberapa menit saja rasanya spengap sekali. Kaca mata berembun merusak pandangan, nafas tidak teratur terhalang masker, belum lagi aroma disinfektan yang begitu menyengat. Tangan harus kuat memompa tabung cairan disinfektan supaya bisa keluar dan hasilnya menyembur sempurna.

Badan serasa berada di sauna (walaupun belum pernah masuk sauna) keringat terus bercucuran. Perut sudah mulai mual-mual karena terus mencium aroma disinfektan. Baru setelah itu saya merasa bahwa tenaga kesehatan baik perawat dan dokter yang selalu berjaga menyelamatkan jiwa manusia karena dampak Covid-19 ini sangat luar biasa. Setiap hari mereka selalu menggunakan APD Lengkap, bahkan katanya bisa sampai 3-5 kali berganti-ganti APD.

 


Kalimat yang paling cocok untuk menggambarkan tenaga kesehatan hari ini adalah “Kalian memang PAHLAWAN”.

MANTUL! Solusi KAWAN SLI Halsel Terapkan Belajar di Rumah

MANTUL! Solusi KAWAN SLI Halsel Terapkan Belajar di Rumah

 

Oleh: Pelangi A. Salsabila, KAWAN SLI Angkatan 3 Penempatan Halmahera Selatan

——————————————————————–

Cerita hari ke-28, Maret 2020.

———————————————————————-

Covid-19. Mungkin awalnya terasa seperti momok menakutkan dan mengancam kehidupan kita. Semua kegiatan menjadi berjalan tidak seperti biasanya. Semua kegiatan mengumpulkan massa tidak diperkenankan, melihat konsep penyebaran virus yang sangat rawan di keramaian. Mari kita berdoa, semoga segera berakhir wabah ini dan dunia kembali aman, aamiin.

 

 

Di rumah aja. Sebagian besar aktivitas dialihkan ke rumah. Begitu pula dengan semua kegiatan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Koordinasi dengan kepala sekolah harus dilakukan para Konsultan Relawan (KAWAN) via telepon, sebagai pengganti kunjungan sekolah secara langsung. Pelatihan guru dan kepala sekolah pun harus dialihkan, dari pelatihan secara langsung menjadi pelatihan online melalui grup Whatsapp.

 

 

Apakah ada tantangan? Ada, pastinya.

 

 

Proses pelatihan dengan beberapa tahapan untuk mencapai tujuan dan target tertentu. Kini, harus bisa dikemas seefektif mungkin. Supaya target pemahaman tercapai, minimal mendekati target tujuan saat pelatihan secara langsung dengan tatap muka. Dengan pertimbangan tersebut, KAWAN SLI Halsel menggunakan video pembelajaran sebagai salah satu metode kelas daring (online). Video ini dapat ditonton peserta sebelum kelas daring berlangsung. Kemudian dilanjut dengan pemaparan dari pelatih dan sesi tanya jawab.

 

 

Sampai saat ini, para KAWAN masih melakukan proses syuting di rumah. Mencoba merampungkan video pembelajaran, dengan segala keterbatasan yang ada. Proses syuting yang memerlukan keheningan membuat KAWAN harus memilih waktu dan kondisi teramat tepat. Menyesuaikan dengan keadaan sekitar rumah yang memang lumayan ramai dengan tetangga dan anak-anak. KAWAN berharap dengan adanya video pembelajaran ini, memudahkan peserta kelas online memahami materi. Dimana, hasil dari pemahaman tersebut akan ditindaklanjuti dengan implementasi di sekolah masing-masing.

 

 

“Semoga video pembelajaran ini semakin memudahkan kepala sekolah dan guru memahami materi pelatihan, meski tidak bisa praktek langsung seperti saat pelatihan tatap muka”, ujar KAWAN Edo, Icut dan Pelangi.

Muslim Kaya Muslim Berdaya

Manusia yang sehat tentu memiliki berbagai perencanaan hidup yang baik. Ia tentu memiliki rencana untuk menjadikan tiap waktu yang dimilikinya menjadi bernilai. Beribadah, mencari nafkah, bersilaturrahim, membantu siapapun kapanpun dan di mana pun, dan banyak peluang kebermanfaatan lainnya. Rasa-rasanya, sebelum membantu kehidupan ummat yang banyak ini, diperlukan kesiapan diri yang tidak sedikit. Seseorang dengan niat dan rencana mulia tadi harus lebih dulu selesai dengan kehidupan pribadinya sendiri. Mulai dari diri sendiri, keluarga kecil, hingga keluarga dan orang-orang terdekatnya yang adalah tanggung jawabnya.

 

Maka selain mendahulukan ruhiyah dan mental dalam berdakwah, finansialpun harus telah tercukupi. Akan sangat baik rasanya jika memiliki passive income sebelum berdakwah. Selain kebutuhan keluarga tercukupi, dapat lebih hemat waktu untuk leluasa berdakwah. Ditambah, bisa mandiri dalam membiayai dakwah itu sendiri. Belum lagi bonus-bonusnya bisa mempekerjakan banyak orang. Menjadi media sambungan Allah dalam melimpahkan rezeki. Aamiin yaaAllah yaaRobbal ‘aalamiin.

 

Balik lagi, finansial menjadi salah satu indikaor penting dalam berdakwah. Kesehatan keuangan menjadi penting, terlebih sebagai #1 Financial Check Up untuk merefleksi apakah diri memiliki hutang kepada orang lain, apakah pengeluaran lebih besar dari pada penghasilan, apakah memiliki dana darurat, pun dana tabungan untuk masa depan. Menurut Mba Prita dari ZAP Finance di acara Sharia Investment Week terdapat 5 Hak Alokasi Rezeki sesuai hadist Rasulullaah saw. sebagai wujud #2 Pengelolaan Arus Kas.

 

  1. Hak Orang Lain (Zakat)
  2. Hak Hidup Masa Sulit (Assurance)
  3. Hak Hidup Hari Ini (Present Consumption)
  4. Hak Hidup Masa Depan (Future Spending)
  5. Hak Masyarakat  (Investment)

Adapun berikut saran  7 Pos Pengeluaran bulanan bersumber gaji dengan acuan 5 hak di atas:

  1. Zakat, Sedekah, dan Sosial (5%)
  2. Dana Darurat (5%)
  3. Premi Asuransi (5%)
  4. Biaya Hidup Bulanan dan Cicilan (60%)
  5. Nabung Pembelian Besar (5%)
  6. Investasi Masa Depan (10%)
  7. Gaya Hidup dan Hiburan (10%)

Terakhir, harus ada #3 Perencanaan Keuangan yang matang dalam sebuah keluarga.

  1. Menetapkan Mimpi
  2. Hitung Kebutuhan
  3. Susun Strategi
  4. Pahami & Pilih Produk Keuangan
  5. Implementasi
  6. Monitor & Evaluasi

Maqashid Asy-Syariah dalam buku al-Mutasyfa oleh Imam Ghazali menyatakan pentingnya menjaga keimanan, kehidupan, akal, keturunan dan harta. Inilah bentuk ikhtiar kita untuk menjaga semua nikmat Allah. Berfokus untuk menjaga sumber finansial agar sesuai syariat islam juga harus selalu dilakukan.

 

Bismillaah, semoga kita bisa menjadi muslim kaya muslim berdaya seperti khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq dan sahabat rasulullah lainnya. Aamiin yaaAlllah yaaRobbal ‘aalamiin!

Virus yang Kita Tertawakan, Telah Memakan Banyak Korban

Oleh: M.Atiatul Muqtadir, Presiden Mahasiswa BEM KM UGM 2019. PM BAKTI NUSA

 

Hingga hari ini, kasus Covid-19 di Indonesia terus bertambah. Data yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Indonesia per 27 Maret 2020 di situs resminya, sebanyak 1046 orang telah terkonfirmasi Covid-19 dengan korban mencapai 87 orang, pasien sembuh sebanyakan 46 orang, dan 913 pasien dalam perawatan. Ini adalah sebuah tragedi yang sangat memprihatinkan, di mana kurva kasus Covid-19 senantiasa meningkat dibarengi kemampuan tenaga medis berserta ketersediaan alat untuk melindungi mereka kian menurun. Lantas, apa yang harus kita lakukan?

 

Social distancing yang tidak efektif

 

Ketika akhir Februari Covid-19 semakin menyebar, desakan lockdown pun muncul dari kalangan masyarakat. Namun pemerintah mengambil opsi lain, yakni social distancing. Sejatinya lockdown dan social distancing bukanlah istilah yang dipakai di peraturan kita, yakni UU Nomor 6 Tahun 2018 Tentang Kekarantinaan Kesehatan. Berdasarkan UU tersebut istilah lockdown lebih mirip dengan karantina sedangkan social distancing serupa dengan bagian kelima undang-undang ini yakni pembatasan sosial berskala besar.

 

Sayangnya, social distancing yang dipilih pemerintah sebagai langkah penanggulangan pandemi Covid-19 lebih mirip dengan kampanye daripada sebuah kebijakan. Pasalnya, tak ada peraturan pemerintah yang diterbitkan dengan terminologi yang mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018. Pemerintah justru bekerja mirip dengan lembaga masyarkat: mengumumkan informasi dan membagian bantuan. Tak salah dengan dua hal tersebut, pemerintah memang perlu melakukan itu, tapi lebih dari itu pemerintah adalah penghasil kebijakan. Di mana seharusnya jika memang pemerintah mengambil opsi ‘social distancing’, perlu diterbitkan peraturan mengenai pembatasan sosial berskala besar mengacu pada UU Nomor 6 Tahun 2018 lengkap dengan segala teknis pelaksanaan, cakupan kebijakan, dan sanksinya.

 

Sebagai contoh, dalam pasal 59 ayat (3) dijelaskan bahwa pembatasan sosial berskala besar paling sedikit meliputi: peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, dan pembatasan kegiatan di tempat atau fasilitas umum. Lantas, dalam pelaksanaannya, masih ada daerah yang menyelenggarakan kegiatan keagamaan, masih ada yang berkumpul di kafe, masih ada kantor yang meminta pegawainya bekerja, masih ada guru yang harus masuk sekolah. Ini menimbulkan pertanyaan mendasar, kebijakan apa yang sebenarnya diambil oleh pemerintah? Benarkah pemerintah sedang mengambil kebijakan pembatasan sosial berskala besar? Apakah mereka yang saya contohkan di atas dapat disebut melanggar? Atau Apakah mereka dapat dikenai sanksi? Selama tak ada peraturan yang jelas, penanganan Covid-19 ini menjadi buram. Baik bagi aparat yang bertugas, maupun bagi masyarakat.

 

Selain itu, social distancing pada wilayah masyarakat Indonesia memang sulit dilakukan. Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Universitas Indonesia mengatakan bahwa masyarakat Indonesia ini memiliki karakter yang komunal dan secara kultural merupakan short term society atau masyarakat jangka pendek. Ketergantungan terhadap orang lain sangat tinggi dan memegang prinsip ‘kita hidup untuk hari ini’. Hal ini menjadi salah satu alasan mengapa seharusnya social distancing bukan sekadar ‘kampanye’ melainkan sebuah kebijakan yang mencakup sanksi maupun pemberian insentif.

 

 

Karantina wilayah seharusnya sejak awal

 

Jauh sebelum Covid-19 menyebar antar wilayah, seharusnya pemerintah secara tegas mengambil opsi karantina wilayah. Sebagaimana tercantum dalam pasal 53 ayat (2) UU Nomor 6 Tahun 2018, “karantina wilayah dilaksanakan kepada seluruh anggota masyarakat di suatu wilayah apabila dari hasil konfirmasi laboratorium sudah terjadi penyebaran penyakit antar anggota masyarakat”. Dari pasal ini kita mengetahui, bahwa karantina wilayah dilakukan ketika penyakit telah menyebar antar masyarakat. Tujuannya agar penyakit ini tidak menyebar ke wilayah lainnya. Berbeda dengan karantina rumah yang dilakukan ketika penyakit hanya terjadi hanya di dalam satu rumah (pasal 50).

 

Sebagai contoh, ketika kasus ini telah terkonfirmasi di Jakarta, dengan kasus yang terjadi tidak hanya dalam satu rumah, seharusnya akses keluar masuk Jakarta ditutup sehingga tak menyebar ke wilayah lain. Kita telah mengetahui bersama, kasus Covid-19 yang terjadi di berbagai daerah rata-rata berasal dari orang yang memiliki riwayat perjalanan ke daerah yang telah terjadi penularan antar masyarakat.

 

Melihat situasi hari ini, di mana social distancing tidak berjalan efektif dan angka kematian dan penyebaran Covid-19 terus meningkat, karantina wilayah harus segera diberlakukan. Pemerintah harus segera menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah terutama wilayah yang telah terjadi penyebaran Covid-19 antar masyarakat. Belajar dari kampanye social distancing, efektivitas pelaksanaan karantina wilayah bergantung pada peraturan pemerintah yang dibentuk. Jika masih bersifat umum, tidak rinci, dan tidak tegas, karantina wilayah justru dapat menimbulkan kekacauan di tengah masyarakat. Pemerintah perlu menyiapkan aturan yang memuat skema karantina wilayah lengkap dengan teknis pelaksanaan serta pemberian insentif ataupun bantuan kebutuhan hidup dasar bagi orang di wilayah karantina sebagaimana UU Nomor 6 Tahun 2018. Pasalnya efektif

 

 

Saat ini kesehatan masyarakat Indoenesia bergantung pada ketegasan pemerintah. Sejak awal Covid-19 masuk ke Indonesia, kebijakan yang diambil pemerintah cenderung lamban dan tak tegas. Pada awal kasus ini terjadi, alih-alih memberikan peringatan kepada masyarakat, pemerintah justru menganggap enteng kasus ini bahkan hingga menjadikannya bahan bercandaan. Kini, virus yang sempat kita tertawakan, telah memakan banyak korban. Cukup belajar dari kesalahan, sebelum terlalu jauh terlambat, karantina wilayah perlu segera diberlakukan.

 

 

Saatnya Berdiskusi Bersama Teman Berpikir Lawan Covid-19!

 

Dalam tiga bulan terakhir, dunia dilanda oleh COVID-19. Per tanggal 3 April 2020 Pukul 13:47 terdapat 1,016,424 kasus positif dan sekitar 53,241 orang meninggal dunia. Di Indonesia sendiri, ada kasus sebesar 1,790 yang mana 170 orang di antaranya telah tiada. Berbagai aktivitas warga terhenti. Semuanya diminta untuk menjaga jarak dan kebersihan diri. Situasi yang penuh dengan ketidakpastian dan abnormal seperti ini biasanya dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu untuk mengambil keuntungan. Diskusi daring ini akan mendiskusikan apa-apa yang bisa kita lakukan sebagai rakyat untuk melawan para penunggang gelap sekaligus merespons isu-isu terkini dari perspektif masing-masing.

 

 

Makmalian yuk ikut diskusi santai ini lewat kanal Live Instagram @fathuurr_ dan @alfathindonesia pada Sabtu, 4 April 2020 Pukul 20.00 WIB.

 

Karena kita #TemanBerpikir.

 

====

Diskusi ini membuka donasi lawan COVID-19 lewat https://kitabisa.com/campaign/gerakbersihincorona

Indonesia Akan Berjuang Kembali! Bangkit!

Indonesia Akan Berjuang Kembali! Bangkit!

INDONESIAKUAT

Indonesia Akan Berjuang Kembali! Bangkit!

Duka kembali merundung ibu pertiwi. Setelah
rangkaian bencana alam yang meluluh lantakkan
sebagian wilayah, kini Indonesia dihadapkan
pada wabah corona.

Sekolah sepi, jalanan lengang, kantor kosong,
semua orang berdiam di rumah, menjaga jarak,
menjaga corona tak makin merebak. Dari Sabang
sampai Merauke, semua berjaga.

“Kami punya ratusan rencana merangkai mimpi ini
Kami punya sejuta upaya mencerdaskan bangsa ini
Kami punya milyaran semangat membangun negeri ini

Izinkan kami berjuang kembali,
Melanjutkan cita dan asa membangun negeri
Membangun manusia”

Namun kami yakin, kita kuat, Indonesia kuat!
Maka Saudaraku, mari eratkan solidaritas.
Saling dukung, saling jaga. Seraya tak putus
doa, agar wabah corona segera berakhir, agar
kita bisa maksimalkan bakti kembali untuk
negeri ini.

 

KERABAT KEBAIKAN :

BAKTI NUSA, SMART Ekselensia Indonesia, ETOS ID, Ekselensia Tahfizh School, Sekolah Guru Indonesia, si Mobil Baca, Duta Gemari Baca, Komunitas Media Pembelajaran, Komunitas Filantropi Pendidikan, Sekolah Literasi Indonesia, Pusat Sumber Belajar, YOULEAD

Scoring Music :

@rusdiantopmusa

https://www.youtube.com/watch?v=Q7-x6vvW5sc

Voice Over :

@yuniarwulansari

Script :

@hamdanngabei  @angy_pelangi 

 

Bagaimana Makmalian Menciptakan Sesuatu yang Baru

 

Oleh: Siti Sahauni

Siapapun yang menerjunkan dirinya pada dunia pendidikan, terutama menjadi seorang guru, berarti mereka telah siap lahir dan batin untuk memberikan perubahan di dunia pendidikan. Tentu perubahan yang baik bagi anak-anak didiknya di masa mendatang. Karena menjadi guru adalah panggilan jiwa. Sehingga mereka akan bekerja dengan sepenuh hati untuk mencintai pekerjaannya.


Seiring berjalannya waktu, tugas seorang guru tidak lagi sama. Jika dulu tugas seorang guru hanya mengajar dan dirasa sudah tuntas pekerjaanya. Kini tidak lagi begitu. Dewasa ini, tuntutan seorang guru tidak hanya sebatas mengajar. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan tantangan zaman yang semakin tak terelakkan oleh siapapun. Tanpa ada pengecualian. Terlebih bagi seorang guru, yang dirasa paling mampu dalam segala bidang. Adapun alasan lainnya adalah karena mereka telah mengenyam pendidikan tinggi, sehingga memiliki wawasan yang lebih luas dibandingkan masyarakat yang kurang beruntung.

 

Bicara mengenai seseorang dalam menuntut ilmu tidak akan ada habisnya. Tua, muda, Kaya, miskin, semuanya berlaku bagi siapapun. Tanpa memandang tinggi ataupun rendah profesinya lagi, terlebih bagi seorang guru, yang tak kunjung berhenti memberikan dedikasinya dalam pembelajaran dan pengajaran.

 

Sebuah ungkapan imam besar seolah mengingatkan kita sebagai manusia bahwa menuntut ilmu tidak berhenti hingga pada titik tertentu. Saat dimana posisi atau kedudukan kita telah berada di ambang kejayaan, maka pupuslah tuntutan kita untuk terus belajar.

 

Imam Ahmad menguatkan alasan mengapa seseorang tidak boleh berhenti untuk terus memperbaiki diri. Dalam hal ini adalah belajar. Karena amalan baik seseorang akan putus ketika kita dipanggil oleh-Nya. “Ut lubul ‘ilma minal Mahdi ilallahdi” yang artinya tuntutlah ilmu dari sejak buaiyan (gendongan ibu) sampai liang lahat.
Meninggal dengan membawa amalan yang baik, siapa yang tidak menginginkan itu. Diantara tiga amalan yang dituliskan, salah satu diantaranya adalah ilmu yang bermanfaat. Sehingga ketika ilmu yang kita miliki memberikan manfaat bagi banyak orang, maka itu akan menjadi ladang pahala kita. Karena akan terus mengalir seperti air, sampai ia menemukan muaranya. Hadis riwayat Muslim memaparkan dengan sangat jelas akan siklus hidup manusia. “Bila meninggal seorang manusia maka terputuslah amalnya kecuali tiga hal, yaitu sodakoh jariah (wakaf), ilmu yang bermanfaat, atau anak sholeh yang mendoakannya. (HR. Muslim)

 

Apalah arti pencapaian prestasi pendidikan yang pernah kita tempuh jika pada akhirnya tidak berpengaruh sedikitpun untuk diri kita sendiri, terlebih untuk orang lain. Tak ubahnya seperti onggokan sampah di tepi sungai, yang dibuang pemiliknya sembarang. Karena menganggapnya sudah tidak berarti lagi. Sehingga benar apa yang dikatakan oleh Soe Hok Gie, “Bidang seorang sarjana adalah berpikir dan mencipta yang baru”.

 

Seseorang yang telah mencapai pendidikan tinggi, pikiran mereka akan dipenuhi dengan berbagai pertanyaan, dan pertanyaan yang akan muncul dari kepala adalah ‘bagaimana?’ Pertanyaan “bagaimana” inilah yang dapat menimbulkan keinginan agar menciptakan sesuatu yang baru. Dan bila itu terus diasah dan dicari tahu dengan mengupayakan melalui pengembangan diri, maka yang akan terjadi adalah terbangunnya kesadaran diri agar menjadi guru yang lebih baik lagi ke depannya.

 

Ketuntasan guru dalam melakukan perbaikan diri pada dunia pendidikan yang terus menerus dilakukan, akan berdampak pada dunia pendidikan ke arah yang lebih baik. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh si pendidiknya melainkan juga peserta didiknya. Karena kita telah membuka mata, telinga, dan hati untuk memberikan dedikasi di dunia pendidikan ke jalan yang sebenarnya. Yakni, menjadi guru pembelajar.