Permainan Tradisional Tak Tahu di Mana Rimbanya

Seiring perkembangan zaman, maka banyak hal-hal baru yang menjadi sebuah patokan jikalau seseorang tidak ingin disebut sebagai makhluk kuno. Orang-orang mulai beralih mencari hal-hal baru yang mereka anggap bahwa itu adalah sebuah pencapaian maksimal diantara pergantian waktu. Hal itu sontak membuat segalanya menjadi sesuatu yang modern, terutama tentang teknologi. Teknologi canggih saat ini sudah menyelimuti bumi bahkan mungkin mencapai planet lain, banyak hal yang tidak masuk akal bisa terjadi dan terkadang memang di luar nalar manusia. Mungkin kalau disebut salah satu hal yang mempengaruhi dunia yaitu, gadget. Gadget menjadi sebuah media penghubung yang saat ini mempermudah segala hal yang diinginkan makhluk paling pintar di bumi, fungsinya beragam, mulai dari media komunikasi yang sudah paling canggih, tempat berbelanja, order kendaraan, order makanan, dan banyak lagi.

Game Effect

Salah satu hal yang paling membuat orang-orang menjadi betah berlama-lama dengan gadget mereka adalah game. Para pecandu game sekarang tidak akan bersusah payah untuk pergi ke rental PS atau Warnet. Sekarang game di gadget sudah menyediakan sesuatu yang membuat orang-orang terhipnotis untuk tidak bisa jauh dari gadget mereka. Dan bicara tentang Games, itu tidak akan jauh dari hobi anak-anak generasi milineal saat ini. Jikalau generasi X Y Z disaat umur anak – anak masih bermain tali dan kelereng, generasi milineal sekarang malah menghabiskan waktu mereka untuk bermain game di handphone yang sengaja di fasilitasi oleh orang tua mereka. Terkadang orang tua tidak memberikan batasan untuk penggunaan gadget bagi anak-anak mereka.

Bandung menjadi tempat bagi saya sebagai konsultan relawan untuk mempersembahkan diri agar bermanfaat bagi orang lain. Tentu saja tidak menjadi rahasia umum kalau Bandung sudah menjadi wadah bagi anak – anak maupun remaja-remaja untuk mengeksplore diri mereka sesuai perkembangan zaman. Dan fakta yang terlihat memang ketika melihat anak-anak seusia sekolah dasar berkumpul, masing-masing mereka sibuk dengan memfokuskan diri mereka untuk bermain gadget.

Yang Harus Kita Benahi

Saat ini saya tinggal didaerah urban, daerah padat penduduk kelas menengah, dengan profesi kebanyakan sebagai buruh pabrik dan pedagang asongan yang berpenghasilan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Hal itu tentu saja membuat sebagian mereka tidak dapat membelikan teknologi secanggih gadget untuk anak-anak mereka. Dan faktanya, lingkungan tersebut masih melestarikan permainan tradisional. Mereka bermain seperti layaknya generasi X Y Z dimana disaat itu permainan silih berganti alias permainan musiman, mulai musim gambar, main kelereng, main sondah, main karet gelang, dan lain-lain. Dan disini saya melihat bahwa kehidupan sosial mereka berjalan sebagaimana mestinya. Perkumpulan mereka bukan hanya untuk sebuah teknologi, namun lebih kepada aktivitas yang saya anggap bermutu dan mampu mengalahkan gadget. Terkadang kita sebagai orang dewasa perlu memilah seperti apa pergaulan dan perkembangan anak yang tepat, sehingga semasa hidup tidak hanya diperbudak oleh teknologi. Semoga tidak akan hilang permainan tradisional dibumi ini. Tetaplah ada dan jangan pernah hilang diterpa ombak yang menenggelamkan.

Kontributor : Reni Rahayu (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Membangun Sekolah Literasi Aplikatif

Sampai hari ini, Indonesia masih menyisakan bertumpuk pekerjaan rumah untuk perbaikan dan pemerataan kualitas pendidikan. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pendidikan berkualitas hanya dapat dinikmati oleh sekolah-sekolah elit, sedang sekolah marginal bertahan dengan segala keterbatasan.

Mengupayakan peningkatan kualitas sekolah marginal, memang tidak bisa hanya menunggu pemerintah. Sinergi semua pihak mutlak harus dilakukan.

RCTI Peduli, memberikan kontribusi nyatanya. Dari dana pemirsa yang terkumpul, mereka kekerjasama dengan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dan Dompet Dhuafa Singgalang, memberikan bantuan untuk SDN 14 Labuah, Tanjung Raya, Agam, Sumatera Barat. Bantuan yang diberikan berupa pendampingan sekolah selama satu bulan.

Makmal Pendidikan sendiri adalah salah satu jejaring pendidikan Dompet Dhuafa yang berfokus kepada pengembangan mutu dan peningkatan kualitas pendidikan. Pendampingan sekolah sudah menjadi fokus Makmal sejak 2005, hingga kini telah lebih dari 30 sekolah di lebih dari 20 provinsi yang menerima manfaat program ini. Di Sumbar sendiri, sejak 2010 lalu Makmal telah dampingi 9 sekolah. Sedangkan Dompet Dhuafa Singgalang adalah cabang Dompet Dhuafa untuk wilayah Sumatera Barat.

Pendampingan sekolah yang dilakukan di SDN 14 Labuah ini bertajuk “Literasi Kreatif”. Bertajuk demikian, karena program ini berfokus kepada peningkatan kemampuan literasi siswa melalui pengajaran guru dengan menerapkan Ceruk Ilmu dan Display Kelas.

Jum’at (05/04) ini program pendampingan “Literasi Kreatif” dimulai dengan seremonial Kick Off program. Berkesempatan hadir pada seremonial ini Wakil Bupati Agam, Irwan Fikri. Saat melakukan class touring dan melihat salah contoh Display Kelas dan  Ceruk Ilmu di Kelas VI, ia memberikan apresiasi dan sempat melontarkan pertanyaan pada Sekretaris Dinas Pendidikan Agam, “Bisakah konsep ini menjadi standar di sekolah-sekolah kita?”

Pasca seremonial, langsung dihelat pelatihan perdana untuk guru. Materi yang diberikan pada pelatihan tersebut adalah Ceruk Ilmu. Pelatihan berlangsung selama dua hari Jum’at dan Sabtu (05-06/04) di sekolah. Duo trainer nasional Makmal, Agung Pardini dan Ika Puspita Sari, pemateri pada kesempatan tersebut.

Peserta pelatihan tidak hanya guru di SDN 14 Labuah, namun juga guru-guru di sekolah sekitar. Lebih dari 20 guru peserta terlihat antusias ikuti pelatihan. Bahkan siswa mereka yang mengintip lewat pintu dan jendela turut bersemangat melihat tingkah gurunya. Siska Distiana

{fcomment}

Yuk Belajar Mengolah Sampah

“Sampah Itu Berkah, Bukan Musibah… Pikirkanlah !!!”

Jumat semangat, ya itulah hari dimana para guru SDN Lalareun Desa Pangguh Kecamatan Ibun Kabupaten Bandung kembali memulai harinya dengan belajar membuat bahan kerajinan dari sampah organic dan non organic.

Mungkin, kita masih ingat kejadian banjir yang melanda kabupaten Bandung dan Jakarta beberapa waktu lalu. Hampir semua pelaku lingkungan menyalahkan masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Membuang sampah ke sungai dan sembarangan sudah menjadi habbit bagi warga masyarakat kita ternyata. Dan berangkat dari hal itu,  Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa membuat sebuah program khusus di sekolah yaitu green school atau sekolah hijau.

Salah satu dari program itu adalah pelatihan kegiatan berbasiskan lingkungan. Acara pelatihan itu sendiri di adakan di SDN Lalareun Bandung, serta pesertanya adalah guru dari SDN Lalareun dan Komite sekolah SDN Lalareun. Pada pelatihan tersebut hadir pula perwakilan dari Pertamina yang secara gamblang meminta kepada para peserta pelatihan untuk mengikuti pelatihan dengan semangat dan membagi hasil daripada pelatihan ini kepada siswa dan masyarakat nantinya.

Makmal Pendidikan yang merupakan patner dari program ini memfasilitasi pelatihan dengan mendatangkan trainer dari Greena, sebuah komunitas di Kecamatan Caringin Bogor yang fokus pada pengelolaan sampah berbasiskan masyarakat dan sekolah.  dijelaskan oleh trainer yaitu Ibu Nina Nuraniyah bahwa pada saat ini masyarakat belum bisa memanfaatkan sampah sebagai bahan yang bisa diubah menjadi berkah.

Trainer pun berbagi cerita dengan para peserta pelatihan tentang perjuangan membangun masyarakat yang sadar akan lingkungan di wilayah beliau sendiri. Dari sampah ini pun beliau bisa pergi di undang oleh Negara Jepang. Cerita beliau ternyata sangat menginspirasi Ibu WIwi Sulastri salah satu guru SDN Lalareun untuk bisa membuat anyaman dari bahan plastik dan membaginya kepada para siswa. meskipun sudah terbilang sepuh, Ibu Wiwi sangat antusias dalam pelatihan kali ini.

Selain beliau, para guru pun tampak tekun dalam mengikuti arahan dari trainer dalam pembuatan bahan anyaman dari bungkus indomie dan kopi. Ada guru yang melipat bungkus plastik menjadi potongan kecil, ada juga yang menjahit anyaman.

Selain membuat anyaman, para guru SDN Lalareun diberikan Pelatihan pembuatan Kompos Takakura. Trainer Ibu Nina menjelaskan akan perbedaan kompos takakuran dengan kompos yang lainnya dalam proses pembuatannya. Para guru pun mempraktekan secara langsung pembuatan kompos takakura sampai selesai.

Pelatihan ini pun disudahi dengan wajah para guru yang gembira dan tersenyum lebar ketika sudah selesai membuat tas pencil dan tas HP dari bahan bekas. Hasil merekapun dipajang di kelas masing-masing sebagai penyemangat mereka kepada para siswa nantinya. Itulah sekelumit  perjalanan pelatihan kegiatanberbasis lingkungan di SDN Lalareun, semoga menginspirasi.

 

Guru Memang Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Meski terlihat sangat sederhana, menjadi seorang guru bukan pekerjaan yang mudah. Guru memegang amanah besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mana tugas utamanya adalah mengajar, mendidik dan melatih. Anak-anak yang diajar, dididik dan dilatih pun merupakan anak2 yang memiliki perbedaan, baik itu terkait sifat, karakter, kebiasaan maupun cara belajar dan lain sebagainya. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang guru apalagi jumlah siswa yang dihadapi tiap hari itu bukan 3-4 orang, tapi ada puluhan siswa.

Dalam perjalanannya pun guru terkadang menghadapi berbagai tantangan hidup yang dapat menyurutkan semangat dedikasi mereka, seperti jarak sekolah yang jauh dari rumah dengan kondisi jalan yang rusak parah, insentif yang tidak sepadan dengan perjuangannya, fasilitas penunjang belajar mengajar yang sangat minim, sampai pada masalah2 lainnya yang menguras banyak energi dan materi.

Tapi semua rintangan tersebut sama sekali tidak menghalanginya untuk terus menebar ilmu. Seperti kisah pengabdian guru yang satu ini.

Ibu Asifah nama lengkapnya, disapa ibu ifa oleh teman guru dan muridnya sebagai panggilan keakraban. Beliau adalah wanita paruh baya kelahiran sulawesi yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi dan menebar benih kebaikan di MIAS filial Sungai Batang, skarang beliau menjabat sebagai wali kelas 3.

Sebelum sekolah punya gedung sendiri beliau menggelar pendidikan dibawah kolom rumah warga. Beliau mengaku, sempat mentadapat teguran dari pihak kemenag karna aksinya tersebut. Namun proses pembelajaran itu terus beliau lanjutkan demi kebutuhan pendidikan anak-anak yang ada di dusun sungai batang.

Setelah 2 tahun beliau mengajar dibawah kolom rumah bersama dengan sang suaminya, akhirnya beliau berdua bertekad untuk mendirikan sebuah sekolah. Berbagai cara dilakukan oleh sepasang suami istri ini agar dapat mendirikan sekolah yang mereka cita-citakan, akhirnya pada tahun 2006 beliau diberikan rezeki dan kekuatan oleh sang ilahi hingga mampu mendirikan sebuah sekolah. Meskipun sekolah tersebut terbangun seala kadarnya, tapi beliau merasa sangat bahagia karna memiliki tempat yang dapat menampung anak-anak untuk belajar.

Ketika ditanya oleh kawan SLI tentang hal yang melatar belakangi semangat aksinya tersebut, beliau menjawab. ” saya tidak mengharapkan gaji, saya hanya berharap agar anak-anak disini mendapatkan pendidikan seperti anak-anak ditempat lain.” Andaikan saja dulu saya berhenti mengajar saat ditegur oleh pihak kemenag, saya tidak tahu gimana nasib anak-anak hari ini, lanjutnya.

Sampai hari ini, ibu Asifah hanya mendapatkan insentif Rp. 200.000 per tiga bulan, jika dipikir-pikir apa yang beliau peroleh itu sangat tidak sesuai dengan jerih payahnya selama ini. Mungkin bagi orang lain mereka lebih memilih pekerjaan lain daripada menjadi seorang guru, yah mereka beralasankan insentif guru tidak bisa mencukupi biaya kehidupan sehari- hari. Tetapi hal itu tidak terjadi kepada semua orang, buktinya masih banyak juga orang yang menginginkan menjadi seorang guru, seperti halnya dengan Ibu Asifah.

Bukan cuma itu, jarak dari rumahnya ke sekolah adalah lebih dari 1 kilo. Setiap pagi beliau harus berjalan kaki untuk dapat menemui anak didiknya disekolah jika sang suami berhalangan mengantarnya. Jalanan yang dilewati pun bukan aspal, tapi masih berupa jalan tanah. Tidak heran ketika hujan turun beliau harus membuka alas kakinya agar dapat berjalan karna jalanan licin dan berlumpur.

Tak peduli jalan licin dengan lumpur setinggi mata kaki, ibu Asifah terus melangkahkan kakinya untuk tetap menebar ilmu kepada anak didiknya.

Mari kita renungkan bagaimana perjuangan ibu ini untuk murid- muridnya, dia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan untuk kesuksesan muridnya. tanpa kenal lelah dia memberikan pasokan pengetahuan kepada muridnya. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk beristirahat, dia habiskan untuk memikirkan muridnya. Bahkan perasaanpun tak jarang dia korbankan, ketika ada murid yang membuatnya marah, dia bersabar menghadapi itu semua, dia balas kelakuan muridnya dengan untaian- untaian nasihat.

Ada banyak sekali kisah – kisah guru inspiratif dan bermanfaat bagi kita tentang perjuangannya dalam mendidik. Kita pun dapat menjadi bagian dari cerita yang akan selalu dikenang oleh lain. Saya mengajak kepada semua guru untuk sama-sama mengukir cerita indah yang akan mengharumkan nama kita lewat perjuangan dan pengorbanan kita dalam menebar benih kebermanfaatan kepada anak didik kita.

                                                                                                                                          Kontributor : Anas Ardiansyah (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

kasus bully

Jangan Merundung, Makmalian

Baru menulis judul saja rasanya sesak sekali dada saya. Ada rasa sedih bercampur iba, marah dan bingung. Tetapi ada harapan sangat besar dari hati saya untuk kita semua supaya lebih berhati-hati untuk mendidik anak, bisa-bisa salah mendidik malah mematikan karakter dan kreativitas anak kita dalam tumbuh kembangnya.

Kasus bully seakan tak lekang oleh waktu, begitu dekat dan seperti yang tidak dapat dihindari lagi. Bully begitu melekat pada lidah kita, dimana tanpa kita sadari kita sedang melakukan hal tersebut.

Jika kita pahami, anak mempunyai kemampuan yang serba terbatas, mereka merupakan pribadi yang sedang belajar untuk mengaktualisasi diri dan mengeksplor diri mereka seperti apa yang mereka inginkan. Terkadang dalam keadaan emosi tertentu kita sebagai orang tua mudah untuk merendahkan serta membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Kita secara tak langsung sedang merampas rasa percaya diri dan harga diri mereka.

Contoh yang sering ditemukan adalah pada saat pembagian rapor di sekolah. Dimana orang tua sering melakukan bully kepada anak-anaknya. Padahal sejatinya pembagian rapor merupakan ajang kita sebagai orang tua untuk senantiasa mengetahui hasil belajar dan hasil perjuangan anak-anaknya selama satu tahun ini.

Fenomena bully dari orang tua ini sering dilakukan, bentuknya pun beragam dan biasanya orang tua kurang menyadarinya bahwa apa yang dia lakukan adalah tindakan bully. Padahal sebagai orang tua yang bijak hendaknya mereka mengatakan hal-hal yang baik, berikan motivasi baginya serta peluklah mereka dengan pelukan hangat, karena itu dapat membuat mereka tenang dan merasa dihargai.

Katakan pada anak-anak kita apapun hasilnya kami sangat bangga padamu nak, kami mencintaimu dan sangat menyayangimu. Lihatlah dampak yang akan terjadi jika curahan cinta dan kasih sayang mengalir bagi anak, bukan tidak mungkin kelak anak-anak kita menjadi anak yang dapat menaklukan dunia. Ketika orang tua mampu untuk mencurahkan kasih sayangnya terhadap anak maka anak akan senantiasa tumbuh dengan pribadi yang baik.

Sedikit catatan di atas, semoga menjadi muhasabah bagi kita semua agar dapat menghargai putra putri kita dan menghargai segala perjuangannya. Anak sejatinya butuh dihargai, bukan direndahkan atau dibanding-bandingkan. Pahamilah mereka, karena mereka juga tak pernah membandingkan orang tuanya dengan orang tua yang lain. Inilah sebuah pembelajaran bagi kita untuk menjadi orang tua yang peduli terhadap anak bukan orang tua yang mem-bully anak.

Penulis : Adi Setiawan (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Bengkulu Utara)

Bapak untuk Kami Semua

“Bapak Guru, Bapak Guru.” Ujar salah satu siswa kelas 5.

“Bapak Guru pilot kah?” Lanjutnya.

Sejak masuk semester genap ini anak-anak punya guru baru. Beliau adalah Pak Nawir M. Taher atau yang akrab dipanggil Pak Nawir. Beliau adalah seorang pegawai di kantor BMKG Kabupaten Maluku Tenggara Barat sejak tahun 2012. Matematika menjadi mata pelajaran yang beliau ampu. Pak Nawir menawarkan diri untuk menjadi guru matematika di MI Al-Azhar Saumlaki karena rasa kepedulian beliau akan pendidikan anak-anak Muslim di Saumlaki.

Kekurangan guru masih menjadi masalah utama di MI Al-Azhar Saumlaki. Hal ini tentu bukan alasan, keinginan yayasan untuk merekrut sarjana pendidikan yang beragama Islam di Sumlaki masih sangat sulit. Minimnya sumber daya manusia yang ada menyebabkan orang-orang yang memiliki kemauan besar untuk mengajar memutuskan untuk bergabung dengan madrasah ini. Sehingga tak sedikit pula guru-guru MI Al-Azhar Saumlaki yang berlatar belakang non-kependidikan.

Pak Nawir sendiri merupakan alumni D4 Geofisika dari STMKG (Sekolah Tinggi Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), salah satu sekolah ikatan dinas di bawah BMKG. Beliau bertugas di Saumlaki sudah sekitar 6 tahun. Keinginan beliau untuk bergabung dengan MI Al-Azhar Saumlaki tentunya bukan tanpa alasan. Setelah beliau melihat pengumuman rekrutmen guru yang dibagikan oleh salah satu guru, beliau mencoba menawarkan diri. Selain itu, beliau juga mengkomunikasikan keinginannya sebagai guru bantu kepada Kepala Kantor. Dan alhamdulillah, Kepala Kantor menyetujui keingingan Pak Nawir untuk menjadi guru.

Selain rasa kepedulian yang tinggi, pertimbangan beban pekerjaan di kantor juga menjadi alasan beliau menjadi guru. Sebagai pegawai shift, jam kerja beliau kebanyakan dimulai siang atau sore hari. Sehingga di pagi hari beliau bisa mewakafkan waktunya untuk anak-anak.

Pak Nawir sadar kalau beliau bukan seorang sarjana pendidikan, tapi kemauan beliau untuk mengamalkan ilmu yang beliau miliki kepada anak-anak sangatlah tinggi. Beliau sangat berbesar hati untuk menerima masukan-masukan dari para guru berkenaan dengan hal-hal yang perlu diperhatikan dan dipelajari sebagai seorang guru.

Madrasah sangat bersyukur dengan bergabungnya Pak Nawir. Setidaknya dengan adanya beliau, anak-anak akan lebih semangat lagi untuk belajar matematika. Madrasah tidak menuntut banyak hal dari beliau karena beliau memang memiliki tugas utama sebagai seorang pegawai BMKG.

“Bukan, Nak. Bapak Guru bukan pilot. Bapak guru kerja di kantor BMKG.” Jawab Pak Nawir.

“Ooohhhh…” Sahut anak-anak.

Dwi Wahyu Alfajar – Kawan SLI Penempatan Kab. Maluku Tenggara Barat

Kurikulum Keunikan SMART Tampil di Forum Internasional

Kurikulum Keunikan SMART Tampil di Forum Internasional

Solo – Ajang The 3rd International Conference on Learning Innovation and Quality Education 2019 (ICLIQE) telah di gelar di Solo pada tanggal 7 September 2019. Acara ini dihadiri oleh peserta dari berbagai negara seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, Rumania serta Indonesia. Sebanyak 240 presenter hadir menyampaikan berbagai makalah terkait peningkatan kualitas pendidikan melalui literasi dan teknologi untuk menghadapi Revolusi Industri 4.0.
Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) sebagai lembaga yang berkhidmat pada peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pemberdayaan dana zakat, infaq, shodaqoh, wakaf (ZISWAF) dan dana halal lainnya dalam bidang pendidikan aktif berkontribusi pada acara tersebut. Dezya S Prawira sebagai peneliti dari DD Pendidikan mempresentasikan penelitian tentang “Pengaruh Kurikulum Keunikan pada Kesejahteraan Psikologis yang Dimiliki oleh Siswa dan Alumni SMART Ekselensia Indonesia”.
Penelitian ini berbicara tentang membandingkan tingkat Kesejahteraan Psikologis baik siswa dan alumni dari SMART Ekselensia Indonesia. Seperti diketahui SMART Ekselensia Indonesia merupakan program DD Pendidikan, sekolah menengah jenjang SMP dan SMA bebas biaya dan berasrama dengan program percepatan sistem kredit semester (SKS) dan pendidikan kepemimpinan yang diperuntukan bagi anak-anak pilihan dari seluruh Indonesia.
Dari hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa Kurikulum Keunikan yang diterapkan di SMART Ekselensia Indonesia membawa efek positif bagi siswa mereka.
Tantangan dari revolusi industri 4.0 dalam sektor pendidikan harus dijawab oleh berbagai pihak. Maka kehadiran DD Pendidikan dalam acara ICLIQE menjadi bentuk kepedulian Dompet Dhuafa dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Residensi Literasi: Sensasi Belajar Bersama Warga Asli

Residensi Literasi: Sensasi Belajar Bersama Warga Asli

Barangkali kita masih asing dengan istilah residensi. Namun kita pasti akrab dengan istilah magang. Dimana seseorang tinggal dan turut merasakan pengalaman langsung di lapangan. Pengalaman residensi baru saja dirasakan oleh Joana Zettira, Duta Gemari Baca Batch 5 yang baru saja mengikuti Residensi Penggiat Literasi 2019 di Lampung Selatan. Kegiatan yang berlangsung dari tanggal 25 sampai 28 Juni 2019 ini bertempat di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Tunas Harapan.

Bersama 20 penggiat literasi lainnya, Joana selaku perwakilan dari TBM Delima secara aktif mendiskusikan literasi numerasi finansial dan pengaplikasiannya dalam kehidupan. Peserta yang hadir merupakan perwakilan dari Taman Bacaan Masyarakat (TBM), Sanggar Kegiatan Belajar (SKB), dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) dari seluruh Indonesia. Tahun ini, titik penyelenggaraan residensi mengalami peningkatan dari semula enam menjadi delapan titik yang tersebar di: Lombok Utara, Banten, Lubuk Linggau, Balikpapan, Yogyakarta, Manado, Jawa Timur, dan Lampung Selatan.

Selama empat hari peserta dibekali materi dari narasumber lokal terkait dasar literasi numerasi, perkembangan Literasi di Lampung, tips membangun jejaring literasi, dan teknik penulisan. Peserta diajak merasakan secara langsung sensasi menjadi warga asli dengan tinggal di gedung PAUD milik PKBM yang berada di tengah pemukiman. Proses sosialisasi yang baik menjadikan masyarakat dan peserta membaur menjadi satu selama kegiatan.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Direktorat Bindiktara, Ditjen PAUD dan Dikmas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ini sukses mempersatukan para penggiat literasi dalam satu forum diskusi kebhinekaan. Sebelum pulang, seluruh peserta diminta untuk menuliskan catatan perjalanan yang akan dibukukan dalam sebuah antologi tulisan. Tak lupa peserta diwajibkan untuk menyusun rencana tindak lanjut yang akan dijalankan di daerah masing masing setelah pulang dari kegiatan. Dalam sambutan penutupan, Kasubdit Keaksaraan dan Budaya Baca Dr. Kastum, M.Pd berpesan “Jangan jadikan TBM sebagai Tempat Buku Menumpuk. TBM harus inovatif dan mampu menggerakan”.

Dalam residensi, tak hanya dibekali pengetahuan seputar literasi, peserta juga diajak untuk mengenal Lampung Selatan lebih dekat lagi. Pada hari ketiga, peserta mendapat kesempatan untuk mengunjungi Dekranasda. Tempat unjuk hasil kerajinan tangan Lampung. Mulai dari kain tapis, siger, hingga rajutan unik, semuanya ada. Tentunya ini merupakan salah satu wujud dari literasi. Mencakup literasi numerasi, finansial, budaya, dan lintas sektoral lainnya. Tak hanya itu, peserta juga diajak berkeliling ke tempat peternakan lebah Simpur, Rumah Akar Raja Baca, Perpustakaan Daerah Lampung Selatan, dan mengakhiri perjalanan di Pantai Kunjir yang tetap mempesona meski baru saja ditimpa tsunami beberapa waktu sebelumnya.

Joana berharap, setelah mengikuti residensi ini para penggiat literasi dapat semakin gencar membumikan virus literasi kepada masyarakat di seluruh Indonesia. Ia pun telah menyusun rancangan program untuk diterapkan di TBM Delima dan Komunitas Pecinta Sastra Indonesia (KOMPENSASI) yang saat ini tengah ia pelopori. Baginya, literasi adalah kunci untuk mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih baik lagi. Melalui literasi, Indonesia dapat lebih berdaya dan menjadi negara yang “adi”.

Prosesi penyambutan kepada Bupati Lampung Selatan dan peserta residensi

Upacara pembukaan Residensi Penggiat Literasi 2019 di halaman PKBM Tunas Harapan

Seluruh peserta bersama narasumber Qori Nilwan, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Lampung Selatan

TERUSLAH TEBAR VIRUS KEBERMANFAATAN

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) telah menyelesaikan masa pengabdiannya selama satu tahun. Sebagai bentuk apresiasi, DD Pendidikan menghelat acara Purna Juang bagi 24 Kawan SLI yang ditempatkan di 17 kota dan kabupaten diberbagai wilayah Indonesia.

Suasana hangat dari pengelola pusat program Sekolah Literasi Indonesia sangat terasa dalam acara ini, seperti sambutan dari Mulyadi Saputra sebagai Manajer Sekolah Literasi Indonesia.

“Luar biasa, kami mengapresiasi perjuangan rekan-rekan selama 12 purnama di daerah penempatan. Teruslah menjadi pribadi yang menebar virus-virus kebermanfaatan, terutama bagi peningkatan kualitas pendidikan kaum marginal” ucap Mulyadi dalam sambutannya. .
.

Adapun acara Purna Juang akan dilaksanakan selama 3 hari dari tanggal 30 Agustus 2019 sampai 01 September 2019 yang bertempat di Aula DD Pendidikan

Minat Belajar Bagi Siswa Makmal Pendidikan

Kira-Kira Kapan ya Mulai Meningkatkan Minat Baca Anak Makmalian?

Setiap orang dilahirkan memiliki kemampuan komunikasi agar orang lain mampu mengetahui apa yang di sampaikan. Komunikasi  mulai diajarkan oleh orang tua dari umur satu tahun dengan cara orang tua menyebutkan apa saja yang terdapat disekitarnya. Perkembangan komunikasi anak bertambah sesuai dengan tingkatan umur dari anak tersebut. Umur 5 tahun biasanya orang tua akan memasukkan anak ke sekolah TK, disana anak belajar bermain sambil belajar, karena usia anak lima tahun keatas cendrung lebih menyukai dunia bermain. Selain anak bermain, guru-guru yang ada TK biasanya akan memulai anak untuk belajar membaca, Mengenal huruf-huruf abjad, Menghitung dan lainnya.

Ketika anak masuk sekolah dasar, anak akan diajarkan kembali mengenal huruf, mengeja bacaan sehingga menjadi satu kalimat, Berhitung, dan Menggambar. Guru adalah penggerak yang akan memainkan peranan tersebut. Guru akan mendesain bagaimana cara anak menyukai dunia membaca, dari hal-hal yang sederhana.

Meningkatkan daya minat baca peserta didik harus dilakukan sejak dini dan di mulai dari anak sekolah dasar kelas rendah, minat baca pada anak tidak akan tumbuh sendiri tanpa dimulai tanpa diajarkan betapa pentingnya membaca dan dilakukan setiap harinya selama dalam kegiatan proses belajar mengajar yang dilakukan secara berulang-ulang.

Anak-anak yang masih duduk dibangku kelas rendah akan tertarik dengan membaca buku yang tidak banyak teksnya, lebih suka bergambar dan banyak warna, hurufnya lebih besar dan cerita dongeng, yang akan mendorong minat baca peserta didik lebih meningkat. Maka dari itu guru-guru perlu memilih buku yang sesuai dengan tingkatan usia anak, sehingga anak-anak akan lebih tertarik untuk membaca buku.

Masa anak-anak adalah masa yang  paling cepat untuk mengahafal, lebih mudah anak-anak akan menceritakan kembali apa yang mereka baca, maka dari itu guru-guru perlu mereview kembali buku yang dibaca oleh anak-anak.

Lima belas menit sebelum belajar adalah salah satu cara untuk meningkatkan minat baca untuk anak-anak, dengan cara yang seperti ini yang dilakukan setiap hari anak akan bisa menuntaskan beberapa buku bacaan dalam  satu semester. Anak yang sudah berakali-kali membeca buku yang sama mereka akan bosan. Guru harus bisa memperbaharui buku, sehingga minat baca anak-anak terus meningkat dan selalu semangat dalam membacanya.

Buku adalah jendela dunia yang akan mengahantaarkan anak-ank ke masa depan yang lebih baik. Guru adalah penyokong anak untuk mewujudkan masa depan, yang dumulai dari meningkatkan minat baca anak-anak dimasa duduk dibangku sekolah dasar. “Guru Menginspirasi, Karena Guru Adalah Inspirasi” teruslah berkarya mencetak generasi-genearsi perdaban masa depan yang akan dimulai dari dini, dengan cara meningkatkan anak-anak menyukai dunia membaca.

Kontributor : Piska Yunita (KAWAN SLI Angkatan 2)