Tak Ayal Jika Disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Meski terlihat sangat sederhana, menjadi seorang guru bukan pekerjaan yang mudah. Guru memegang amanah besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mana tugas utamanya adalah mengajar, mendidik dan melatih. Anak-anak yang diajar, dididik dan dilatih pun merupakan anak2 yang memiliki perbedaan, baik itu terkait sifat, karakter, kebiasaan maupun cara belajar dan lain sebagainya. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang guru apalagi jumlah siswa yang dihadapi tiap hari itu bukan 3-4 orang, tapi ada puluhan siswa.

Dalam perjalanannya pun guru terkadang menghadapi berbagai tantangan hidup yang dapat menyurutkan semangat dedikasi mereka, seperti jarak sekolah yang jauh dari rumah dengan kondisi jalan yang rusak parah, insentif yang tidak sepadan dengan perjuangannya, fasilitas penunjang belajar mengajar yang sangat minim, sampai pada masalah2 lainnya yang menguras banyak energi dan materi.

Tapi semua rintangan tersebut sama sekali tidak menghalanginya untuk terus menebar ilmu. Seperti kisah pengabdian guru yang satu ini.

Ibu Asifah nama lengkapnya, disapa ibu ifa oleh teman guru dan muridnya sebagai panggilan keakraban. Beliau adalah wanita paruh baya kelahiran sulawesi yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi dan menebar benih kebaikan di MIAS filial Sungai Batang, skarang beliau menjabat sebagai wali kelas 3.

Sebelum sekolah punya gedung sendiri beliau menggelar pendidikan dibawah kolom rumah warga. Beliau mengaku, sempat mentadapat teguran dari pihak kemenag karna aksinya tersebut. Namun proses pembelajaran itu terus beliau lanjutkan demi kebutuhan pendidikan anak-anak yang ada di dusun sungai batang.

Setelah 2 tahun beliau mengajar dibawah kolom rumah bersama dengan sang suaminya, akhirnya beliau berdua bertekad untuk mendirikan sebuah sekolah. Berbagai cara dilakukan oleh sepasang suami istri ini agar dapat mendirikan sekolah yang mereka cita-citakan, akhirnya pada tahun 2006 beliau diberikan rezeki dan kekuatan oleh sang ilahi hingga mampu mendirikan sebuah sekolah. Meskipun sekolah tersebut terbangun seala kadarnya, tapi beliau merasa sangat bahagia karna memiliki tempat yang dapat menampung anak-anak untuk belajar.

Ketika ditanya oleh kawan SLI tentang hal yang melatar belakangi semangat aksinya tersebut, beliau menjawab. ” saya tidak mengharapkan gaji, saya hanya berharap agar anak-anak disini mendapatkan pendidikan seperti anak-anak ditempat lain.” Andaikan saja dulu saya berhenti mengajar saat ditegur oleh pihak kemenag, saya tidak tahu gimana nasib anak-anak hari ini, lanjutnya.

Sampai hari ini, ibu Asifah hanya mendapatkan insentif Rp. 200.000 per tiga bulan, jika dipikir-pikir apa yang beliau peroleh itu sangat tidak sesuai dengan jerih payahnya selama ini. Mungkin bagi orang lain mereka lebih memilih pekerjaan lain daripada menjadi seorang guru, yah mereka beralasankan insentif guru tidak bisa mencukupi biaya kehidupan sehari- hari. Tetapi hal itu tidak terjadi kepada semua orang, buktinya masih banyak juga orang yang menginginkan menjadi seorang guru, seperti halnya dengan Ibu Asifah.

Bukan cuma itu, jarak dari rumahnya ke sekolah adalah lebih dari 1 kilo. Setiap pagi beliau harus berjalan kaki untuk dapat menemui anak didiknya disekolah jika sang suami berhalangan mengantarnya. Jalanan yang dilewati pun bukan aspal, tapi masih berupa jalan tanah. Tidak heran ketika hujan turun beliau harus membuka alas kakinya agar dapat berjalan karna jalanan licin dan berlumpur.

Tak peduli jalan licin dengan lumpur setinggi mata kaki, ibu Asifah terus melangkahkan kakinya untuk tetap menebar ilmu kepada anak didiknya.

Mari kita renungkan bagaimana perjuangan ibu ini untuk murid- muridnya, dia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan untuk kesuksesan muridnya. tanpa kenal lelah dia memberikan pasokan pengetahuan kepada muridnya. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk beristirahat, dia habiskan untuk memikirkan muridnya. Bahkan perasaanpun tak jarang dia korbankan, ketika ada murid yang membuatnya marah, dia bersabar menghadapi itu semua, dia balas kelakuan muridnya dengan untaian- untaian nasihat.

Ada banyak sekali kisah – kisah guru inspiratif dan bermanfaat bagi kita tentang perjuangannya dalam mendidik. Kita pun dapat menjadi bagian dari cerita yang akan selalu dikenang oleh lain. Saya mengajak kepada semua guru untuk sama-sama mengukir cerita indah yang akan mengharumkan nama kita lewat perjuangan dan pengorbanan kita dalam menebar benih kebermanfaatan kepada anak didik kita.

                                                                                                                                          Kontributor : Anas Ardiansyah (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Menumbuhkan “Dongeng” Kepada Anak-Anak di Kabupaten Bima

Dongeng merupakan bentuk cerita trasional yang memuat tentang nilai-nilai kehidupan yang sekarang sudah mulai ditinggalkan. Dulu, dongeng sangat digemari oleh anak-anak sebab dalam dongeng memuat tentang cerita kehidupan seorang raja, petualangan atau kerja keras anak muda yang dapat menginspirasi anak-anak dan memotivasi anak-anak untuk lebih semangat dalam mengapai impian ataupun berbuat baik dalam kehidupan. Namun karena pengaruh perubahan zaman yang cukup cepat sehingga dongeng mulai dilupakan bukan hanya dikalangan anak-anak namun dikalangan orangtua pun dongeng tidak pernah lagi diperkenalkan kepada anak sehingga banyak anak-anak yang tidak tau tentang cerita rakyat yang penuh dengan nilai dan makna kehidupan. Anak-anak sekarang banyak disuguhi oleh tontonan atau cerita yang dapat merusak pola pikir dan perilaku mereka.

Kejadian tersebut tidak menjadi suatu alasan bagi seorang tenaga pendidik salah satunya guru untuk tidak memperkenalkan atau menerapkan metode dongeng kepada siswa-siswinya di dalam kelas. Hal itu dilakukan oleh ibu Esa, guru kelas II di SDN Inpres Tenga, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Ibu Esa merupakan guru model kelas II dimana SDN Inpres Tenga merupakan salah satu sekolah dampingan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa di Kabupaten Bima. Selama didampingi, ibu Esa sudah banyak perubahan yang beliau lakukan mulai dari kelas yang sempit dan penataan kelas yang krang baik sekarang kelas ibu Esa merupakan kelas yang cukup menarik. Tidak sampai disitu, metode-metode pembelajaran mulai diterapkan oleh ibu Esa  dalam proses KBM salah satunya adalah “Dongeng”, dengan berdongeng perilaku siswa-siswa didalam kelas cukup berbeda dimana seluruh siswa memperhatikan dan mendengarkan dengan baik cerita ibu Esa tentang si ayam dan si ikan, ditambah dengan alat peraga yang mendukung cerita ibu Esa maka ketika ibu Esa mengajukan pertanyaan kepada siswa, semua siswa berebut untuk menjawab. Itulah salah satu metode tradisional namun bisa membius anak-anak untuk mau mendengarkan cerita-cerita yang sarat akan makna dan menumbuhkan karakter baik kepada anak-anak. Maka, harapannya semoga semakin banyak tenaga pendidik yang selalu berinovasi sehingga dapat menginspirasi dan memotivasi siswa untuk menjadi generasi emas yang berkarakter mulia.

TKQ Uswah Mulya Indonesia dalam Perjuangannya

TKQ Uswah Mulya merupakan salah satu sekolah inisiasi dari Sekolah Literasi Indonesia, Dompet Dhuafa. Sebuah  Taman Kanak-kanak Al-Qur’an yang  berada di pinggir kota Bandung. Dikategorikan sebagai sekolah yang berada di daerah urban membuat sekolah ini harus menjadi bagian yang memang butuh perhatian dari pemerintah dan masyarakat. Awal Tahun 2018 sekolah ini sempat vakum karena tidak ada lagi masyarakat yang mendaftarkan anaknya disekolah tersebut, dan akhirnya menjadi sekolah yang telah ditinggalkan.

Awal kedatangan saya sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia memang sedikit memberi kejutan karena faktanya sekolah ini sudah tidak aktif lagi. Hal itu membuat ekspektasi saya mulai hilang tanpa harapan. Namun akhirnya saya bertekad agar sekolah ini harus diaktifkan kembali, memulainya dari nol. Saya mulai menghubungi kembali tenaga-tenaga pendidik yang mau kembali bergerak mengaktifkan sekolah ini. Dari tiga pendidik yang dulu mengajar, hanya satu orang saja yang akhirnya mau kembali ke sekolah, bu Dedeh namanya

Bersama bu Dedeh  saya mulai melakukan pergerakan, dari menghubungi para perangkat desa hingga mengumpulkan orang-orang yang mau mendukung sekolah ini aktif kembali. Alhamdulillah, masyarakat mendukung niat kami. Akhirnya pertualanganpun dimulai.  Saya dan Bu Dedeh mulai menyebarkan brosur penerimaan Peserta Didik baru, dan dimana pada awalnya sekolah ini bersifat gratis. Setelah melakukan penyebaran brosur sekolah, akhirnya terkumpulah 13 orang siswa, dan itu bagi kami merupakan  sebuah pencapaian yang luar biasa. Namun semakin hari siswa semakin bertambah, dari awalnya 13 orang sekarang akhirnya jumlah siswa menjadi 23.

Bagi saya Bu dedeh, lebih dari seorang guru biasa, beliau adalah relawan yang ikhlas mengajar anak-anak di TKQ Uswah Mulya. Karena pada dasarnya sekolah ini bersifat gratis, adapun sumber pendanaan dari sekolah ini adalah atas inisiatif orang tua mengumpulka infaq Rp,. 2000 perhari untuk setiap anak. Dan dari dana yang terkumpul dibelikan untuk fasilitas belajar siswa, seperti buku tulis, buku gambar, dan kebutuhan lainnya seperti biaya listrik, iuran sampah, dan lain sebagainya.

Kontributor : Reni Rahayu (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan)

Mari bantu pendidikan Indonesia dengan berdonasi ke Dompet Dhuafa Pendidikan dengan mengirimkan donasi via Rekening BNI Syariah 2881 2881 26 an Yys Dompet Dhuafa Republika

Donasi untuk Rizal Guru Relawan terkenca bencana di Sigi

Bantu Rizal agar kembali tenang mengajar

Dua hari sudah guru relawan Dompet Dhuafa ini tak masuk sekolah. Ia absen bukan tanpa alasan, rumahnya amblas diterjang banjir bandang di Desa Bangga Sulawesi Tengah pada ahad malam (28/4) kemarin. Saat ini Rizal mengais satu persatu barang yang masih bisa diselamatkan dari rumahnya. Saat banjir datang Rizal tak bisa berbuat banyak, yang terpikirkan bagaimana ia bisa selamat.

“Saya ini betul-betul cuman pakaian di badan,” terang Rizal pada kami rekan-rekannya.

“Mohon do’anya, semoga setelah barang-barang bisa kami ambil saya akan kembali masuk sekolah,” sambungnya.

Relawan di SDN Bulubete Sigi ini baru saja menikah, kebahagiaan sebagai pengantin baru perlahan sirna akibat bencana yang melanda kampungnya. Rizal kini membutuhkan uluran tangan, pakaian, juga tempat tinggal sementara agar ia bisa kembali tenang mengajar.

“Double (dua kali) ujian yang Allah berikan untuk kami ini, saya cuman kasian sama maitua (istri), belum lama sama-sama sudah dapat cobaan begini,” tutur Rizal yang ditemui Tim Guru Relawan pada Selasa (30/4).

Mari sahabat, di moment Hari Pendidikan Nasional ini kita bantu Rizal agar ia bisa kembali tenang mengajar. Donasi dapat dikirim melalui BNI Syariah 2881 2881 26 a.n. Yys Dompet Dhuafa Republika. Sertakan kode 41 di akhir nominal transaksi, misalnya 500.041

Dukungan berupa komentar dapat Anda kirimkan dengan mengirimkan emot (like) di kolom komentar
Informasi & Konfirmasi

  • Telp & WA : 0812 8833 8840

Donasi #HariPendidikanNasional2019 #Hardiknas2019 #Pendidikan #DonasiBencana #DDPendidikan #DompetDhuafa #JanganTakutBerbagi

asosiasi pemimpin literat

Open Recruitment Asosiasi Pemimpin Literat

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) merupakan sebuah model sekolah yang berkonsentrasi dalam meningkatkan kualitas sistem instruksional (pembelajaran) dan mengembangkan budaya sekolah berbasis literasi. SLI lahir dari Dompet Dhuafa Pendidikan dengan tujuan untuk memperbaiki pendidikan di Indonesia. 

Sejak tahun 2016 sudah 118 sekolah yang telah didampingi (54 Sekolah Reguler dan 64 Sekolah Jaringan). Semakin luasnya sekolah dampingan, maka semakin banyak juga kebutuhan terhadap konsultan yang paham terhadap program SLI. 

Oleh karena itu, kami membuka peluang bagi para Kepala Sekolah yang ada di 10 Wilayah (Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Palembang, Jakarta Selatan, Tangerang, Depok, Bogor, Kota Bandung, Kab. Bandung dan Tegal ) untuk begabung dalam Asosiasi Pemimpin Literat yang merupakan kumpulan para Kepala Sekolah yang berwenang untuk melaksanakan program SLI atau menjadi Konsultan SLI di sekolahnya. 

Syaratnya mudah:
1. Kepala Sekolah (SD/MI sampai SMA/MA)
2. Muslim/Muslimah
3. Pengalaman menjadi Kepala Sekolah minimal 1 tahun
4. Memiliki kemauan untuk belajar dan mengembangkan sekolah yang saat ini dipimpin. 
5. Siap mengikuti pembinaan (offline maupun online)
6. Siap mengimplementasikan konsep dasar Sekolah Literasi Indonesia di sekolahnya. 

Waktu
Pendaftaran : 15-30 April 2019
Interview : 8-9 Mei 2019
Pengumuman Akhir : 13 Mei 2019
Pembinaan : Mei – Juni 2019 (Offline dan Online)
Pelaksanaan Program : Juli-Desember 2019

Untuk Pendaftar silahkan klik link dibawah ini sesuai dengan wilayahnya:
Indragiri Hulu
http://bit.ly/PendaftaranAPL_INHU
PIC : 081214481312 (Dede Agus Salim Rahman, S. Pd. I. ) 

Indragiri Hilir
http://bit.ly/PendaftaranAPL_INHIL
PIC : 085265781291 (Redovan Jamil, S. Pd. )

Palembang
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Palembang
PIC : 082398625233 (Desty Rina Purnamasari, S. Pd. )

Jakarta Selatan
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Jaksel
PIC : 082124019780 (Siti Fathonah, M. Pd. )

Tangerang
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Tangerang
PIC : 081284882168 (Umi Barokah, M. Pd. )

Depok
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Depok
PIC : 081319233642 (Rani Chaerani, M. Pd. )

Bogor
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Bogor
PIC : 081283939278 (Edi Suparto, S.E. M. Pd. )

Kota Bandung
http://bit.ly/PendaftaranAPL_KotaBandung
PIC : 082118694181 (Hj. Yulia Yulianti, M. Pd.) 

Kabupaten Bandung
http://bit.ly/PendaftaranAPL_KabBandung
PIC : 085720598992 (Deti Jubaedah, M. Pd. )

Tegal
http://bit.ly/PendaftaranAPL_Tegal
PIC : 087848587456 ( Ali Irfan, S. Pd. )

#dompetdhuafa#sekolahliterasiindonesia#sekolahjaringanliterasiindonesia#literasi#konsultan#pendidikan — bersama Makmal Pendidikan.

Jurus Guru menangani siswa bermasalah Makmal Pendidikan

Jurus Guru Menangani Kelas Bermasalah

Dunia anak adalah dunia bermain, penuh kecandaan dan penuh dengan kesenangan. Mereka begitu menikmatinya, sehingga tak jarang keseruan pada saat bermain terbawa di dalam kelas. Sehingga tak ayal pembelajaran pun tidak efisien.         

Anak-anak di SDN 227 Bengkulu Utara Kecamatan Napal Putih pun begitu sangat aktif. Terlebih anak-anak di kelas 4  Ketika pembelajaran dimulai ada yang suka berlari-larian, hilir mudik keluar, sebagian lagi sangat senang mengusili temannya. Ada juga siswa yang membawa mainan gambar sehingga mengalihkan perhatian temannya yang lain. Pokoknya pembelajaran di kelas jauh dari kata optimal. Tidak heran bila setiap selesai mengajar di kelas ini, guru-guru selalu mengeluh dan marah-marah. “ Mengajar di kelas selama seharian itu sangat melelahkan, dan membuat tensi darah saya naik,” ucap bu Wien selaku guru disini yang pernah masuk di kelas 4 untuk mengganti guru kelas 4 yang tidak masuk. Bahkan tidak heran juga bila kelas 4 selalu dicap sebagai kelas paling bermasalah di sekolah.

Syukurnya, Kepala Sekolah memiliki kesabaran dan ketekunan yang begitu luar biasa. Mungkin karena pengalaman yang sudah bertahun-tahun sehingga beliau santai saja dalam menghadapinya. Termasuk ketika menghadapi anak didik seperti di kelas 4 tersebut.

Faktor utama anak – anak di kelas tersebut berprilaku demikian adalah modal belajar dan kecerdasan, tugas kita sebagai seorang guru adalah positif Felling serta sabar,” tanggap Kepala Sekolah. “ Jadi, kita tidak boleh mengecap anak- anak sebagai anak yang nakal.”

Menarik sekali apa yang disampaikan Kepala Sekolah terkait keadaan kelas 4. Tidak ada anak yang nakal melainkan kita sebagai guru yang belum tau modal belajar dan kecerdasan para peserta didik kita. Oleh beliau saya diberikan kesempatan untuk mengajar di kelas tersebut. Saya diberi amanah untuk mengajar karena wali kelas 4 tidak masuk sekolah. Saya di beri amanah untuk mengajar IPA dan Matematika.

Bertemu dan mengajar siswa-siswa kelaas 4 ini, saya justru tidak menemukan suasana yang sering disampaikan oleh beberapa guru. Saya merasa senang mengajar, dan anak-anak juga merasa hal yang sama dengan saya. Bahkan sebenarnya mereka menginginkan saya untuk menjadi wali kelasnya mereka. Sampai di luar kelas pun, mereka selalu mengejar-ngejar saya sembari menyebutkan pelejaran yang pernah saya sampaikan, ditambah mereka menampakkan wajah senangnya dan berharap saya akan masuk kelas mereka lagi dan mengajar mereka.

Guru-guru terheran-heran dengan apa yang saya lakukan. Mereka heran bisa seperti sahabat seperti itu dengan anak-anak dan dapat membangun energi positif di kelas. Mereka bertanya-tanya kepada saya, “kok bisa sih, Pak? Apa rahasianya? Apa ada trik khusus?”

Tidak ada rahasia atau trik khusus untuk mewujudkan kelas yang menyenangkan. Saya hanya melakukan jurus-jurus sederhana berikut.

Pertama, menegakkan aturan.

Saya membuat kesepakatan aturan sebelum pembelajaran dimulai. Isi aturan ini dibuat bersama siswa dan sudah mendapat persetujuan siswa terlebih dahulu. Kolaborasi seperti ini yang terkadang dilupakan oleh para guru. Dengan adanya kolaborasi ini kemungkinan siswa mematuhi aturan ini lebih besar, berbeda ceritanya jika aturan dibuat secara sepihak dan mucul atas dasar otoriter dari guru.

Contoh aturan yang saya buat dan disepakati siswa adalah membawa mainan dan memainanya di kelas. Siswa yang membawa mainan dan memainkannya di kelas. Namun  siswa yang membawa mainan ke kelas dan memainkannya ketika saya sedang menjelaskan pelajaran, maka mainannya akan bapa ambil.

“Gimana anak-anak? Setujuuuu?” Tanya saya.

Dengan kompak dan diiring suara yang lantang, semua siswa kelas 4 menjawab setuju. Saat aturan ini sudah diberlakukan namun masih ada siswa yang tidak mengindahkan, langsung saya ambil mainan gambar tersebut. Siswa pun menerima dan tidak memberikan perlawanan. Hari-hari berikutnya tidak ada lagi yang membawa mainan ke dalam kelas.

Kedua, menggunakan media pembelajaran.

Media pembelajaran merupakan alat bantu bagi seorang guru, adanya media pembelajaran mampu memberikan rangsangan dan menimbulkan motivasi yang besar dalam belajar kepada anak-anak sehingga pembelajaran begitu menarik dan terkontrol sehingga suasana pembelajaran pun akan kondusif. Antusias belajar pun nampak terlihat dari wajah anak-anak sehingga keceriaan dalam kelas dapat dirasakan bersama. Hal itulah yang nampak terlihat jelas ketika proses pembelajaran berlangsung.

Ketiga, melibatkan semua anak dalam pembelajaran.

Mayoritas siswa kelas 4 memiliki modal belajar kinestetik. Mereka tidak bisa diam dan hanya mendengarkan guru menjelaskan pelajaran, saya melibatkan semua siswa. Dalam sebuah pembelajaran, alangkah baiknya melibatkan semua elemen yang ada di kelas. Ketika mengajarkan materi tentang fungsi panca indera manusia, dengan bergiliran saya meminta siswa untuk maju satu per satu untuk menunjukkannya dan menjelaskan fungsi berdasarkan apa yang siswa ketahui. Dengan cara seperti ini, alhamdulillah siswa kelas 4 mampu mengikuti pelajaran dengan baik dan cepat menyerap pelajaran yang disampaikan.

Tiga rahasia yang bukan rahasia inilah yang saya terapkan di kelas 4. Yang jelas, saya senantiasa berusaha untuk memberikan yang terbaik dan para penghuni kelas 4 benar-benar memiliki kegembiraan, kesenangan, dan keceriaan yang megundang tawa saat belajar di kelas. Hal yang paling membahagiakan saya pada saat menyaksikan anak-anak kelas 4 ini tampil penuh antusias dalam pembelajaran.

Kontributor : Adi Setiawan( Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Bengkulu Utara)

Duta Gemari BAca (2)

Menulis untuk Membangun Peradaban

Bogor – Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan mengadakan workshop menulis pada Jumat (05/04) di Bumi Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat.

Kegiatan yang diikuti oleh 26 Duta Gemari Baca Batch 5 ini dipandu langsung oleh Syafi’ie el-Bantanie, Direktur Dompet Dhuafa Pendidikan dan penulis 50 buku, berlangsung selama dua jam dengan materi Asyiknya Menulis.

Syafi’ie membuka sesi training dengan pernyataan bahwa peradaban Islam dibangun dan tegak di atas tradisi ilmu. Masyarakat yang semula ummi (tidak bisa baca tulis) diubah oleh Rasulullah menjadi masyarakat yang cinta dan haus ilmu.

Dalam konteks Duta Gemari Baca, menurut Syafi’ie, kemampuan menulis menjadi penting bagi Duta Gemari Baca (DGB). Karena, DGB bukan hanya dituntut melek literasi, tapi juga mampu menginspirasi masyarakat lewat tulisan.

Karena itu, teruslah mengeksplorasi kemampuan diri dalam menulis. Karena, ala bisa karena biasa,” ucap Syafi’ie.

Selain menyampaikan materi kepenulisan, Syafi’ie turut memberikan tips-tips jitu dalam menulis. Ia memaparkan bahwa langkah pertama dalam latihan menulis ialah menuliskan sebuah kata. Lalu, hubungkan kata tersebut dengan kata-kata lain yang lebih bervariasi, sehingga tulisan dapat terus berkembang.

“Untuk menjadi seorang penulis hebat, kita juga harus bisa memposisikan diri sebagai penulis, penyunting, dan pembaca agar tulisan tetap pada jalurnya” Ujar Kak Syaf.

Workshop menulis ini diharapkan mampu membuat DGB menuangkan gagasan dan merefleksikan aktivitas literasi yang telah dilaksanakan ke dalam tulisan untuk mendukung kampanye literasi Duta. (AR)

Eko Duta Gemari Baca Literaksi Bukan sekadar narasi

Bergerak! Masyarakat Membutuhkanmu!

BOGOR – Sebagai rangkaian dari kegiatan Duta Gemari Baca Batch 5, pada Jumat (05/04) sore 26 Duta Gemari baca Batch 5 terpilih mengikuti workshop ‘Social Development Design’ bersama Eko Sriyanto, Manajer Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa Pendidikan. Eko mengajak para peserta mengevaluasi komunitas dan Taman Baca Masyarakat (TBM) yang dikelola oleh para Duta di daerahnya, menurutnya penting bagi Duta untuk memahami apa saja masalah yang terjadi di dalam komuntas dan TBM.

“Teman-teman harus memahami terlebih dahulu apa saja masalah yang terjadi di komunitas atau TBM yang teman-teman kelola. Kalau sudah tahu, maka perlu rencana yang ingin dilakukan melalui customer thinking, fleksibiltas, dan validitas ide,” kata Eko.

Validitas ide menurut Eko berpengaruh terhadap perkembangan komunitas dan TBM para Duta, ide tersebut nantinya akan berdampak pada nilai aktivitas di masyarakat. Nilai-nilai tersebut bisa diinternalisasi untuk membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat.

“Lalu bagaimana agar masyarakat bisa berpartisipasi? Kita harus tahu apa kebutuhan masyarakat, tugas kitalah memberi pengetahuan kepada mereka,” ujarnya.

Ada beragam cara untuk membangun partisipasi dan kesadaran masyarakat karena pegiat kerelawanan butuh pergerakan komunitas.

“Diakui atau tidak diakui oleh masyarakat, kita harus tetap bergerak. Pertahankan konsistensi agar kepercayaan masyarakat muncul karena ide sederhana yang kita buat,” tambah Eko.

Eko berharap para Duta kelak mampu menggali ide serta memaksimalkan potensi komunitas dan TBM di daerah masing-masing.

“Sekarang waktunya kalian bergerak menciptakan desain inovasi kegiatan di komunitas dan TBM yang kalian kelola, buktikan bahwa kalian bisa berkontribusi di masyarakat,” tutup Eko. (AR)

Duta Gemari Baca

Membangun Komunitas, Membangun Peradaban Bangsa

Bogor – Sebagai upaya memasifkan edukasi literasi, Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan menginisiasi gerakan Gemari Baca sebagai cara untuk membangun sistem kerelawanan yang biasa disebut Duta Gemari Baca. Duta Gemari Baca merupakan kumpulan pemuda yang memiliki minat khusus dalam pengembangan literasi dan semangat kontribusi yang tinggi, melalui para Duta diharapkan jangkauan pengembangan literasi masyarakat bisa jauh lebih luas dan efektif, saat ini Duta Gemari Baca telah sampai di Batch 5.

Untuk mengasah kemampuan para Duta Gemari Baca Batch 5 dalam memahami pentingnya membangun komunitas serta menjalin relasi dengan masyarakat dan para pemangku kebijakan, pada Jumat (05/04) para Duta mengikuti Community and Volunteer Management bersama Andi Angger Sutawijaya, Direktur Turun Tangan, yang dilaksanakan di Lembaga Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat.

“Pemuda adalah penggerak, sejak dulu hingga saat ini pemuda memegang peranan penting dalam peradabaah. Salah satu cara yang bisa kita lakukan ialah berkolaborasi membentuk sebuah komunitas. Kenapa? Karena kita, para pemuda, bukan soal jumlah usia, tapi cara dia memandang tentang masa depan,” kata Angger.

Selama dua jam 26 peserta terpilih akan diajarkan cara berkomunikasi, membangun networking, dan cara mengelola komunitas dan relawan yang baik.

“”Apa sih yang menjadi tantangan saya ketika membangun sebuah kekuatan dalam sebuah komunitas?” Tanyakan kepada diri kalian dan gali potensi diri kalian agar bisa memaksimalkan kemampuan komunitas dan relawan di dalamnya,” jelas Angger.

Selain menjelaskan pentingnya membangun komunitas mumpuni, Angger turut memaparkan berbagai tips dan trik serta cara jitu dalam memaksimalkan kemampuan komunitas serta relawan melalui nilai-nilai kerelawanan yang sudah di internalisasi. Dalam paparannya ia menambahkan jika komunitas yang baik ialah komunitas yang mampu berkolaborasi secara luas, sinergis, dan berkelanjutan.

“Workshop ini akan menjadi bekal untuk para Duta, mereka adalah harapan bangsa ini. Saya yakinmereka mampu membangun komunitas dan jaringan luar biasa kelak. Saya percaya Duta mampu menjadi motor penggerak dalam mengembangkan komunitas dan relawan di komunitasnya masing-masing,” tutupnya. (AR)

Duta Gemari Baca

Duta Gemari Baca Ajak Milenial Melek Literaksi

BOGOR – Jaringan Sekolah Indonesia Dompet Dhuafa Pendidikan mengajak generasi milenial untuk mengembangkan peminatan pada dunia literasi sebagai peluang menjanjikan di masa depan melalui Duta Gemari Baca Batch 5. Ajakan tersebut dalam rangka menciptakan generasi milenial yang mampu berkontribusi untuk mengubah kualitas pendidikan di Indonesia.

Pada Jumat (05/04) 26 orang anak muda terpilih dari berbagai kampus serta komunitas literasi dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti Inkubasi Duta Gemari Baca yang dilaksanakan di Lembaga Pengembangan Insani, Bogor, Jawa Barat

“Tingkat literasi Indonesia berada pada peringkat 60 dari 61 negara (Most Literate Nation in the World, 2016) dan minat baca hanya 0,1% atau dengan kata lain dari 1000 orang hanya 1 yang membaca,” ujar Mulyadi Saputra, Manajer Jaringan Sekolah Indonesia, membuka Inkubasi Duta Gemari Baca.

Menggadang tema “Literaksi: Bukan Sekadar Narasi” Inkubasi Duta Gemari Baca dilaksanakan dalam bentuk gathering, training dan workshop terkait literasi, sharing literacy kepada anak-anak dan masyarakat sekitar, dan ditutup dengan studium generale yang menguatkan motivasi dalam bergerak di bidang literasi. Rangkaian kegiatan dalam inkubasi Duta Gemari Baca berupaya memberikan kesempatan bagi peserta untuk mengeksplorasi kemampuan dan minat dalam dunia literasi. Peserta juga akan merumuskan rencana tindak lanjut berupa inovasi kegiatan literasi yang akan diimplementasikan di daerahnya masing-masing.

Pada kesempatan yang sama Mulyadi menuturkan, para Duta Gemari Baca merupakan perwakilan generasi milenial dan mereka diharapkan dapat mengetahui serta menebarkan semangat literasi masyarakat dan membangun simpul jejaring komunitas literasi di Indonesia. (AR)