Iqra Makmalian!

Iqra Makmalian!

Oleh Dini Wikartaatmadja

Iqra! Read! Lesen! Lire! Letto! Yomu! Il-gi! Chitat’! Artinya adalah Bacalah! Kata yang mengandung perintah yang menghendaki sebuah perubahan dari pasif menjadi aktif,dari diam menjadi bergerak, dari tidak bisa menjadi bisa dan dari tidak tahu menjadi tahu. Perubahan ini menunjukkan telah terjadinya sebuah kemajuan dengan bukti bertambahnya ilmu dan keahlian. Dengan demikian, siapapun yang ingin ilmu dan keahliannya bertambah berarti ia harus membaca.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia [KBBI] baca,membaca adalah melihat serta memahami isi dari apa yang tertulis (dengan melisankan atau hanya dalam hati). Selain itu, baca membaca juga diartikan sebagai mengeja atau melafalkan apa yang tertulis,mengucapkan, meramalkan dan menduga.

Dengan kata lain, kegiatan membaca terbukti bukan sebuah kegiatan pasif yang menangkap serangkaian huruf kata dan kalimat melainkan secara aktif memasukkan kata dan serangkaian kalimat tersebut ke dalam otak. Ada proses yang rumit ketika seseorang membaca. Setidak-tidaknya minimal ada tiga indera yang berperan dalam melakukan aktifitas ini, yakni mata untuk menangkap kata dan kalimat, mulut yang terkadang ikut melafalkan terutama saat menemukan kata yang sulit dipahami dan telinga ikut melakukan kerjanya,mendengarkan lalu tangan yang sibuk membalikkan ke halaman berikutnya.

Setelah semua indera itu selesai kemudian ada otak yang mengolah semua informasi yang masuk dengan kerja syaraf yang tentu saja begitu ajaib. Otak kemudian menghubung-hubungkan berbagai sensasi seperti kabel-kabel dan transistor menghubungkan aliran listrik. Karena itu tidak heran saat membaca buku yang sedih,sang pembaca pun bisa ikut menangis, atau saat menemukan bacaan yang lucu,sang pembaca pun bisa tertawa hingga terpingkal-pingkal. Dengan demikian, membaca juga tidak hanya sekedar aktivitas otak saja melainkan hati yang ikut tersambung di dalamnya. Karena itu, tidaklah heran, saat seseorang telah mengahabiskan satu bacaaan maka sang pembaca akan memperoleh “pencerahan” baik secara intelektualitas maupun mentalitas.

 

Pemimpin dan Membaca

‘Not all readers are leaders, but all leaders are readers.’ [Harry S. Truman]

Tidak berlebihan jika presiden Amerika yang ke 33 ini mengatakan demikian. Jika ditilik lebih jauh memang semua pemimpin besar baik di Indonesia maupun di dunia adalah seorang yang gila baca.

Sebut saja, Bung Karno yang begitu piawai berpidato berkat kegemarannya melahap pemikiran mulai dari timur hingga barat. Bung Hatta yang begitu cintanya dengan buku sampai mengatakan bahwa buku sebagai istri pertamanya. Juga ada Karl Marx seorang gila baca yang mampu bertahan di kamar selama 12 jam hanya untuk membaca tanpa makan dan minum.

Selanjutnya ada, Mahatma Gandhi yang merupakan seorang yang kutu buku yang suka merenung dan menuangkan pikirannya ke dalam tulisan yang jika dikumpulkan dapat mencapai 80 jilid. Tak ketinggalan, Barrack Obama yang disebutkan saat masih menjadi mahasiswa di Universitas Harvard, Obama adalah seorang kutu buku yang mendalami masalah kemiskinan dan hukum. Ia mendalami pemikiran para mantan hakim agung seperti John Marshall, seorang negarawan tersohor AS, Oliver Wendell Holmes. Pendek kata ia menjadi seorang yang rakus membaca. Lalu, Steve Jobs, seorang inovator yang berhasil mengawinkan sastra dengan teknologi. Semua inspirasinya datang karena kesukaannya membaca karya sastra dan seni.

Dari beberapa pemimpin besar di dunia tersebut ada lagi kesamaan mereka selain menjadi pembaca yang gila adalah pengenalan aktivitas membaca sejak usia dini. Mereka dikenalkan buku baik oleh orangtua maupun teman di lingkungannya. Kemudian, membaca menjadi sebuah kebiasaan dan kebutuhan dalam menemukan jati diri dan inspirasi dalam kehidupan.

Demikianlah yang akan dilakukan oleh Pusat Sumber Belajar Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa dalam programnya yakni Gemari Baca (Gerakan Masyarakat Cinta Literasi Dengan Membaca). Program ini akan ada di tengah masyarakat melalui Pendampingan Perpustakaan Sekolah,Edukasi Pentingnya Membaca,Dongeng Ceria, Wisata Literasi,Tebar Kebaikan Dengan Buku serta Pusat Sumber Belajar Keliling. Gemari Baca adalah upaya aktif dari Yayasan Pendidikan Dompet Dhuafa dalam menyiapkan generasi bangsa dan melahirkan pemimpin besar nantinya untuk bangsa ini. Bergabung Yuk!

[1] Pegiat literasi dan Pustakawan di Makmal Pendidikan, Dompet Dhuafa. Menamatkan Sarjana di Program Studi Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Universitas Indonesia.

Anak Adalah Amanah, Sudahkah Makmalian Jaga?

Oleh: Abdul Kodir

Anak merupakan titipan dari Allah Swt. yang harus dirawat dengan sebaik-baiknya, karena dengan merawatnya akan mengantarkan kita pada surga-Nya, namun sebaliknya jika kita menyia-nyiakannya maka tunggulan pertanggungjawaban kita di hadapan Allah Swt.

Salah satu cara orangtua merawat amanah ini salah satunya dengan mendidiknya agar menjadi pribadi yang berakhlak. Tentu, mendidik anak bukanlah perkara yang sepele, bukan pekerjaan yang dilakukan dengan asal-asalan, mendidik anak sama halnya dengan kebutuhan pokok yang harus terpenuhi karenanya dibutuhkan ilmu agar penanganan yang dilakukan tepat dan memberikan dampak yang positif. Ditambah lagi dengan pengaruh negatif dari luar yang dapat merusak pertumbuhan anak.

Seperti kita ketahui bersama pergaulan anak-anak saat ini sudah dalam titik memprihatinkan, sehingga orang tua dituntut ekstra waspada. Polda Metro Jaya mengatakan kasus kenakalan remaja  mengalami peningkatan yang cukup tinggi.

Keluarga merupakan Madrasatul Ula yang jadi benteng pertama untuk membentuk anak yang kuat; kuat iman, kuat kognisi dan afeksi, untuk mendapatkan hasil yang baik diperlukan proses yang baik pula. Menurut Abdullah Nashih ‘Ulwan ada  lima metode pendidikan anak yang saya singkat dengan Wadah Mahabah; 1. al- QudWAH, 2. Al-‘AaDAH, 3. Al-MulahAdzoh, 4. Al-NashiHAh, 5. Al-UquBAH.

 

Alqudwah (keteladanan)

Children See Children Do, anak adalah peniru yang ulung sehingga membutuhkan sosok yang menjadi teladan dan panutan. Jika yang dilihat prilaku baik maka menjadi baiklah perilaku anak, pun sebaliknya jika yang dilihat buruk maka menirulah anak pada perilaku buruk itu. Seorang ayah akan kesulitan untuk memerintahkan anaknya sholat sementara ayahnya tidak melaksanakan sholat atau contoh lainnya seorang ayah yang perokok besar kemungkinan anaknya perokok juga. Maka dari itu orangtua harus menjadi teladan atau model yang baik untuk pendidikan anaknya. Tahapan ini harus dipenuhi agar proses pendidikan anak dapat berjalan dengan baik sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw.

Keteladanan yang harus dicontohkan pada anak meliputi; aspek ibadah, akidah dan penanaman karakter yang menjadi bekal bagi kehidupannya pada masa yang akan datang.

 

Al-‘Aadah (pembiasaan)

Setelah proses keteladanan berjalan dengan baik, maka metode berikutnya adalah dengan pembiasaan, tanpa pembiasaan, nilai-nilai tidak kuat mengakar dalam benak anak. Islam telah mengajarkan bagaimana proses pembiasaan menjadi penting untuk diperhatikan, agar nilai-nilai yang dibangun dapat menancap kuat.

Menumbuhkan kebiasaan yang baik tentu tidaklah mudah, perlu proses dan waktu yang panjang. Contoh dalam hal pembiasaan shalat, Rasulullah SAW memerintahkan kepada para orang tua agar mereka menyuruh anak mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun dan mulai diberlakukan punishment pada usia 10 tahun. Dari usia 7-10 tahun ada jarak 3 tahun, ini artinya selama tiga tahun tersebut adalah proses pembiasaan anak untuk mengerjakan sholat, hingga akhirnya sholat menjadi kebutuhan bukan kewajiban. Di rentang waktu tersebut orang tua hendaklah bersabar dan berkomitmen untuk mengingatkan anak untuk sholat.

Jadi dalam proses pembentukan akhlak anak tidak diperoleh dengan instan, mesti ada proses pembiasaan sebelumnya, dan tugas orang tua mengawasi proses ini dengan serius.

 

Al-Mulahadzoh (pengawasan)

Untuk menghasilkan padi yang baik, maka Petani melakukan pengawasan yang ketat pada sawahnya, menjaga dari serangan hama, memerhatikan pengairannya, dan memberikannya pupuk agar tumbuh menjadi berkualitas. Begitulah juga orang tua memberikan pengawasan kepada anak-anaknya, orang tua hendaknya mencurahkan perhatiannya pada perkembangan anak, memerhatikan perkembangan aspek akidah, akhlak, akal dan sosialnya.

Begitu banyak anak yang baik namun tanpa pengawasan yang kuat dari orang tuanya terkontaminasi dengan pergaulan bebas dan orang tua baru tersadar ketika anaknya sudah dihadapkan pada masalah. Tentu hal ini tidak kita inginkan, untuk itu berilah pengawasan yang kuat namun jangan sampai mengekangnya sehingga anak menjadi terhambat perkembangannya.

 

Al-Nashihah (Nasihat)

Sebelum orang tua memberikan nasihat pada anaknya, sebaiknya orang tua sudah memberikan teladan terlebih dahulu agar apa yang disampaikan dapat diterima oleh anak. Pemberian nasihat juga harus dilakukan berulang-ulang agar anak merekam dengan baik dan dapat menjadi perisai bagi dirinya, sehingga anak dapat menyaring setiap keburukan yang datang padanya. Dalam memberikan nasihat sebaiknya disampaikan dengan lemah lembut, dan memerhatikan situasi dan kondisi yang ada.

 

Al-‘Uqubah (Hukuman)

Perlu diingat, bahwa metode al-‘Uqubah hanya dapat dilakukan di akhir setelah empat proses sebelumnya sudah dilaksanakan dengan baik, jadi jangan coba-coba dibalik. Sebetulnya jika proses peneladanan, pembiasaan, pengawasan dan nasihat dilaksanakan dengan baik anak tidak akan sampai pada tahapan hukuman, karena dengan empat tahapan tersebut anak sudah terbentuk dengan baik. Namun jika dalam perkembangan sosialnya anak melanggar kesalahan, yang harus diperhatikan adalah bahwa hukuman tidak  harus berupa kekerasan fisik, namun bisa juga dengan cara lain yang lebih lembut, misalnya menghilangkan kegiatan kesukaannya, seperti; anak tidak boleh menonton TV selama seminggu atau uang jajannya dikurangi selama beberapa hari.

Lima metode semoga dapat membentuk anak dengan kepribadian insan kamil sehingga dapat menjadi investasi dunia dan akhirat.

Mendidik Anak Adalah Kewajiban

Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Imam adalah pemimpin yang akan diminta pertanggungjawaban atas rakyatnya. Seorang suami adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungjawaban atas keluarganya. Seorang istri adalah pemimpin di dalam urusan rumah tangga suaminya, dan akan dimintai pertanggung jawaban atas urusan rumah tangga tersebut.” (HR. Bukhari – Muslim)

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci ibarat kertas kosong. Secara naluriah, seorang anak akan mengharapkan dan membutuhkan bimbingan dari orang dewasa. Disinilah pendidikan anak memegang peranan penting, untuk mulai mengisi dan mewarnai kertas kosong tersebut. Ketika beranjak dewasa, sang anak mungkin sudah –dan harus– mampu mengambil keputusan dan menentukan jalan hidupnya sendiri, namun sketsa awal yang dibuat pada kertas kosong itu akan sangat memengaruhi pilihan hidup yang kelak diambil. Dan karena kepemimpinan adalah seni memengaruhi orang-orang yang dipimpin, peran pemimpin secara otomatis hinggap di pundak para orang tua dalam mendidik anaknya.

Orang tua adalah pemimpin bagi anak-anaknya, namun pemimpin seperti apa? Sebagai refleksi, ada baiknya kita komparasikan dengan lima level kepemimpinan yang ditulis oleh John C. Maxwell. Maxwell menggunakan 5 level pemimpin (5P) yaitu Position (Posisi), Permission (Perkenanan) , Production (Produksi), People Development (Pengembangan SDM), dan Personhood (ke-Pribadi-an). Masing-masing level ini kemudian dipasangkan dengan dengan produknya, yang disebut Maxwell sebagai 5R, yaitu Rights (hak), Relationships (hubungan), Results (hasil), Reproduction (reproduksi) dan Respect (hormat).

Level kepemimpinan pertama adalah posisi atau jabatan. Seorang anak mengikuti orang tua karena keharusan. Pendidikan anak di level ini ditandai dengan penekanan hak orang tua untuk dituruti karena posisinya sebagai orang tua yang harus dihormati anaknya. Tanpa kemampuan ataupun upaya khusus, jabatan orang tua dan anak sudah ditentukan, tidak akan tertukar. Indoktrinasi bahwa orang tua selalu benar, lebih tahu dari anaknya dan tidak akan mencelakakan anaknya akan kental, sementara ruang dialogis sangat terbatas. Anak akan berpotensi kehilangan jati dirinya, terkekang minat dan bakatnya, serta sekadar menjadi ‘boneka’ orang tuanya. Moralitas relatif turun sementara potensi pemberontakan tinggal menunggu momentumnya saja. Maxwell mengatakan, “A great leader’s courage to fulfill his vision comes from passion, not position”.

Orang tua yang mendidik anaknya di level kepemimpinan pertama ini perlu berbenah, setidaknya naik ke level kepemimpinan selanjutnya yaitu perkenanan yang berorientasi hubungan. Pada level kedua ini, seorang anak menuruti orang tuanya karena rasa sayangnya pada orang tua, bukan karena keharusan semata. Disini orang tua sudah menjadi pribadi yang menyenangkan bagi anak-anaknya sehingga kerja sama antar anggota keluarga dapat lebih terjalin. Anak-anak sudah mulai merasa dihargai dan lingkungan keluarga pun lebih terasa positif. Sayangnya, pendidikan anak di level ini cenderung membuat orang tua populer di mata anak, tetapi pengembangan diri anak kurang terfasilitasi. Pendidikan yang berorientasi membuat nyaman semua anggota keluarga ini kurang mengakomodir kebutuhan anak yang memiliki motivasi tinggi untuk maju.

Pendidikan anak perlu naik ke level kepemimpinan ketiga yang fokus pada kompetensi (pengetahuan, keterampilan dan sikap) serta memberikan hasil nyata dari pendidikan anak. Pada level ini, seorang anak akan patuh pada orang tuanya karena sudah merasakan hal-hal positif bahkan hasil yang dapat dilihat kasat mata, buah dari pendidikan yang dilakukan orang tuanya. Anak-anak sudah merasakan tercapainya tujuan pendidikan, yaitu adanya perubahan kehidupan mereka ke arah yang lebih baik. Anak-anak pun sudah mampu mengatasi masalah dan mengambil keputusan sendiri dalam mencapai cita hidup mereka. Di level ini, orang tua telah mampu menjadi role model yang baik bagi anaknya dan dengan jelas mampu menunjukkan kontribusi mereka bagi keluarga. Teladan orang tua yang produktif akan menghasilkan anak-anak yang produktif.

Pekerjaan terakhir seorang pemimpin adalah memastikan dirinya mewariskan hal-hal yang baik, termasuk ketersediaan kader pengganti. Pada level kepemimpinan keempat, kaderisasi adalah harga mati karena pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu menghasilkan pemimpin lainnya. Di level ini, orang tua sudah mempersiapkan anak-anaknya sebagai pemimpin sekaligus orang tua di masa mendatang. Orang tua mengoptimalkan segala yang dimilikinya untuk pengembangan anak-anak mereka sebagai investasi SDM strategis. Pendidikan di level ini akan menumbuhkan dan memperkuat loyalitas anak kepada orang tua dan keluarganya. Bakat dan minat anak diperhatikan, potensi anak dikembangkan, inisiatif anak didukung, proyeksi masa depan anak dipersiapkan dengan baik. Reproduksi bukan berarti mencetak anak sebagai kloning orang tuanya, karakter kepemimpinan sang anak tetap harus terbentuk.

Level kepemimpinan kelima menyoal kepribadian dan respek, yang disebut Jim Collins sebagai pemimpin dengan professional will dan strategic humility. Bijak dan kharismatik. Di level ini, anak-anak menaruh rasa hormat yang sangat tinggi kepada orang tuanya. Respek ini bahkan sanggup menggerakkan untuk berjuang dan mengorbankan segala yang dimilikinya demi orang tuanya. Tanpa alasan. Bukan karena hubungan darah, rasa kasih sayang ataupun melihat apa yang sudah orang tua berikan. Lebih luhur dari itu. Orang tua menjadi teladan, inspirator, sekaligus pemimpin idola bagi anak-anaknya. Butuh waktu lama dan upaya keras untuk mencapai level ini, bahkan mungkin baru dapat dilihat setelah perannya sebagai orang tua di dunia sudah berakhir.

Ada ungkapan yang mengatakan, “Seratus kambing yang dipimpin oleh seekor singa akan jauh lebih berbahaya daripada seratus singa yang dipimpin oleh seekor kambing”. Ungkapan tersebut barangkali ada benarnya dan relevan dengan pendidikan anak kita. Jika anak-anak kita tidak mampu mengaum, bisa jadi bukan karena mereka lemah, namun karena kita tidak mampu memberikan pendidikan sekuat singa. Orang tua punya peran besar dalam membangun masa depan anak, apalagi di usia keemasannya. Mari sejenak kita renungi level kepemimpinan kita dalam mendidik anak, sebentar saja, untuk kemudian kita berbenah dan memperbaiki diri. Agar kelak anak-anak kita mengenang kita sebagai orang tua terbaik, penuh dedikasi dan keteladanan, bukan hanya orang yang ‘kebetulan’ jadi orang tua. Setiap orang tua adalah pemimpin, setiap anak adalah amanah, mendidik anak adalah kewajiban. Pemimpin, amanah dan kewajiban akan dimintai pertanggungjawabannya.

 “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka.” (QS. An-Nisa: 9)

Guru Harus Sadar Posisi

Oleh: Asep Sapa’at. 

Kita tak akan pernah bisa melupakan guru baik dan inspiratif. Di salah satu forum guru di Sorowako (Sulawesi Selatan), bu Uchie, seorang guru SD berkisah tentang Bu Damawiah, sosok guru kehidupan yang amat berjasa dalam perjalanan hidupnya. Bu Uchie terlahir dari keluarga petani yang hidup pas-pasan. Selain itu, bu Uchie mengalami gangguan pendengaran sejak lahir.  Karena dua sebab itulah, bu Uchie mengasingkan diri dari teman-temannya di sekolah.

 

Meski punya prestasi akademis bagus, bu Uchie tak bisa kalahkan rasa mindernya. Bahkan, bu Uchie kerap menjadi sasaran ejekan teman-teman sekolahnya. Saat rasa percaya dirinya ambruk, bu Damawiah selalu hadir membangkitkan semangat hidupnya. Kata-kata bu Damawiah terekam jelas dalam ingatan bu Uchie, “Jangan dengarkan orang lain yang berkata buruk tentangmu. Mereka hanya iri”.

 

Saat bertutur, bu Uchie tak kuasa menahan tangis dan rasa haru yang membuncah. Fakta tak terbantahkan, bu Damawiah mampu membuat muridnya berani bermimpi dan mengantarkan mereka ke gerbang masa depan yang gemilang. Bu Damawiah telah wafat. Namun, inspirasi hidupnya tak akan pernah lekang ditelan waktu. Bu Uchie mantap memilih jalan hidup sebagai guru karena inspirasi dari bu Damawiah. Hidup adalah sedekah.

 

Rasulullah saw. bersabda, “Setiap Muslim wajib bersedekah. Lalu ada orang yang bertanya: ‘Bagaimana kalau dia tidak sanggup?’ Jawab Nabi saw.: ‘Dia harus bekerja untuk dapat memberi manfaat kepada dirinya sendiri dan supaya dia dapat bersedekah. Tanya: ‘Bagaimana kalau dia tidak sanggup?’ Jawab Nabi saw.: ‘Menolong orang yang membutuhkan pertolongan’.

 

Tanya: ‘Bagaimana kalau dia tidak sanggup juga?’ Jawab: ‘Mengajak kepada kebajikan atau kebaikan’. Tanya: ‘Bagaimana kalau tidak sanggup juga?’ Jawab: ‘Menahan diri dari berbuat kejahatan, itu pun adalah sedekah.” (HR. Muslim).

 

Ilmu, senyum ketulusan, keikhlasan mendidik, kata-kata pembangkit semangat hidup, dan doa tulus Bu Damawiah untuk Bu Uchie, itulah sedekah terbaik seorang guru. Bagi guru kehidupan, mengajar tak hanya sekadar bermakna memindahkan ilmu pengetahuan kepada para murid. Tetapi, mengajar adalah menyentuh kehidupan murid-murid. Menolong dan membantu murid menjadi pribadi yang mandiri, berilmu pengetahuan, dan berakhlakul karimah.

 

Setiap niat, perkataan, dan perbuatan yang mengandung nilai kebaikan dan dengan mengharap ridha Allah Swt. adalah sedekah terbaik guru yang amat bernilai di sisi Allah Swt. (QS An-Nisa: 114). Bicara guru adalah bicara manfaat. Bicara manfaat bukankah itu nilai kehidupan? Maka, guru harus sadar posisi. Guru adalah kehidupan bukan penghidupan. Karena tangan di atas (memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (meminta), maka sedekahkanlah segenap kemampuan terbaik kita sebagai guru untuk mengajar dan mendidik murid-murid.

 

Saat guru merasa lelah berbuat kebaikan, maka renungkanlah kata-kata hikmah dari Khalifah Umar bin Khathab, “Bila kita merasa letih dengan kebaikan, sungguh keletihan itu akan hilang dan kebaikan akan kekal. Bila kita bersenang-senang dengan dosa, maka kesenangan itu akan hilang dan dosa yang akan kekal”. Wallahu a’lam.

Memperbaiki Pendidikan Memperbaiki Indonesia

Oleh: Muhammad Syafi’ie el-Bantanie.

 

“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Rasanya kita masih ingat dan paham dengan peribahasa di atas. Peribahasa tersebut sejatinya sindiran yang sangat keras bagi guru-guru yang tidak layak menjadi guru. Kita tidak memungkiri, jika kita mau jujur, berapa banyak guru yang mestinya diberhentikan menjadi guru. Karena, mereka tidak memiliki kompetensi sebagai guru. Kompetensi utama guru itu dua, yaitu pertama, dia diteladani murid-muridnya karena kemuliaan akhlak dan keistiqamahan ibadahnya; kedua, dia dikagumi murid-muridnya karena keluasan ilmunya.

Mari kita bahas satu persatu. Jika guru tidak mampu mendidik dan mengajar dirinya menjadi manusia baik, maka bagaimana bisa dia mendidik dan mengajari murid-muridnya? Guru haruslah selesai dengan dirinya dalam segi akhlak dan ibadahnya. Hal ini bukan berarti guru dituntut menjadi manusia sempurna dalam aspek akhlak dan ibadah. Tentu saja proses menjadi manusia baik (baca: bertakwa) adalah proses tiada henti. Namun, setidaknya seorang guru haruslah terlihat kemuliaan akhlaknya dan keistiqamahan ibadahnya.

Contoh sederhana, seorang guru yang mengajarkan kepada murid-muridnya agar shalat fardhu berjama’ah ke masjid. Namun, sang guru sendiri di lingkungan masyarakatnya jarang shalat fardhu ke masjid, bagaimana bisa proses pendidikan ini akan berhasil? Seorang guru yang mengajarkan kejujuran kepada murid-muridnya, tetapi dia sendiri berlaku tidak jujur dalam proses administrasi keguruan demi mengejar tunjangan profesi, bagaimana bisa internalisasi kejujuran itu akan berhasil? 

Dalam hal ini, kritik saya terhadap kampus-kampus keguruan adalah kampus terlalu sibuk menyiapkan tenaga guru dari aspek skill, tetapi mengabaikan aspek akhlak dan integritas. Tidak ada intervensi program pembinaan mahasiswa keguruan pada aspek ini. Akibatnya, kampus keguruan hanya menghasilkan tenaga guru yang mungkin kompeten keilmuannya, namun miskin akhlak dan integritasnya.

Kedua, aspek keilmuan. Mari kita telisik secara jujur. Apakah guru-guru kita memiliki kompetensi keilmuan memadai? Hasil penilaian Kemendikbud menyatakan, 77.85% guru SD tidak layak menjadi guru (KOMPAS, 29/10/2009). Tak perlu rumit-rumit menilai guru dari aspek ini. Tanya saja kepada guru berapa buku yang dibacanya dalam sebulan? Jika guru jarang membaca, tidak meng-upgrade pengetahuan dan wawasannya, apa yang akan diajarkan kepada murid-muridnya? Hanya itu-itu saja tiap tahunnya. Mengajar sudah 10 atau 20 tahun, tapi ilmu yang disampaikan tidak bertambah.

Oleh karena itu, perlu ada reorientasi dalam mengkader guru-guru. Karena, guru adalah garda terdepan dalam proses pendidikan dan pengajaran. Baik atau buruknya seorang murid tergantung gurunya. Seorang guru hebat akan melahirkan murid lebih hebat lagi. Namun, seorang guru yang rusak, bisa melahirkan murid yang lebih rusak. 

Kerja Peradaban

Kita mesti menginsyafi bahwa mendidik dan mengajar adalah kerja peradaban. Pekerjaan besar menyiapkan generasi yang siap menjadi pewaris peradaban. Mewarnai zaman dengan rupa-rupa dan lika-liku prestasi dan karya. Maka, perlu guru-guru hebat dengan kompetensi akhlak dan keilmuannya. 

Dalam perspektif pendidikan Islam, guru memiliki posisi dan peran yang sangat strategis. Islam memandang aktifitas mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang mendidik dan mengajar haruslah orang yang mulia kualitas dirinya. Jika mengkaji Al-Qur’an, kita akan menemukan bahwa aktifitas mendidik (mengajar) bahkan dinisbatkan kepada Allah dan rasul-Nya.

Kita simak surat Ar-Rahman ayat 1 dan 2, “(Allah) Maha Pengasih. Yang telah mengajarkan Al-Qur’an.”

Lalu, saksamailah surat Al-Jumu’ah ayat 2, “Dialah yang mengutus seorang rasul kepada kaum yang buta huruf dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka kitab dan hikmah (sunnah) meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” 

Bayangkan, aktifitas mendidik dan mengajar dinisbatkan langsung kepada Allah dan rasul-Nya. Setiap apapun yang dinisbatkan kepada Allah, maka aktifitas itu adalah mulia. Dengan demikian, mendidik dan mengajar adalah aktifitas mulia. Maka, orang-orang yang melakukannya haruslah menghiasi dirinya dengan akhlak mulia. Lebih dari itu seorang guru yang menjaga kualitas diri dan kemuliaan akhlaknya, maka kata-katanya akan powerful dan mampu menembus hati murid-muridnya. Nasihatnya mampu mencairkan hati muridnya yang beku.

Dalam konteks inilah kita memahami nasihat Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah, “Hanya suara hati yang mampu menembus hati.”

Nasihat Imam Syafi’i rahimahullah kepada gurunya, putra-putra Khalifah Harun Al-Rasyid, Imam Abu Abdisshamad, sangat patut kita resapi.

Mari kita perhatikan kalimat Imam Syafi’i. Kalimat beliau menjadi jawaban mengapa kualitas generasi kita saat ini biasa-biasa saja, tidak istimewa. Ternyata salah satu kuncinya ada pada guru.

“Hendaklah upayamu untuk mendidik anak-anak Amirul Mukminin adalah dengan memperbaiki dirimu sendiri. Karena, pandangan mereka (paradigma dan sikap hidup) terikat pada pandanganmu. Apa-apa yang baik menurut mereka adalah apa-apa yang kau anggap baik. Dan, apa-apa yang dipandang buruk oleh mereka adalah apa-apa yang kau tinggalkan (tidak lakukan).”

Dengan demikian, upaya pertama memperbaiki kualitas pendidikan adalah dengan memperbaiki kualitas gurunya. Tidak boleh lagi ada penerimaan guru asal-asalan. Mal praktik dalam kedokteran saja bisa berakibat fatal bagi nyawa seseorang, terlebih lagi mal praktik dalam pendidikan bisa menghancurkan masa depan anak didik, bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat. Maka, wahai para guru, jadilah pendidik sejati.

Peran Kawan SLI di MIS Azrina

Kontribusi Hanya untuk Allah

Oleh: Syafi’ie el Bantanie 

“…Dan masa kejayaan itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran) dan agar Allah mengetahui orang2 yang beriman dan menjadikan sebagian kamu sebagai syuhada…” (QS. 3: 140).

Pergiliran kejayaan/kekuasaan/jabatan adalah satu keniscayaan. Ini sunnatullah. Cepat atau lambat. Sukarela atau terpaksa. Pasti terjadi pergiliran tersebut. Maka, menurut pandangan awam saya, yang terpenting direnungkan bukanlah berapa lama kita bisa bertahan dalam kekuasaan/jabatan, melainkan berapa banyak amal dan kontribusi yang kita berikan selama diberikan amanah memangku jabatan? Dan, karena siapa kita berkarya dan berkontribusi? Apa sejatinya motif dan niat terdalam dalam hati kita?

Meski ayat di atas berbicara dalam konteks perang Uhud, kita bisa menarik maknanya dalam konteks kekinian. Bahwa masa kejayaan/kekuasaan/jabatan itu dipergilirkan di antara manusia agar Allah mengetahui siapa yang beramal dan berkontribusi hanya untuk Allah semata sebagai buah dari keimanannya kepada Allah. Sehingga, Allah memasukkannya ke dalam barisan para syuhada yang layak diganjar surga.

Sejarah panjang peradaban Islam telah memberikan pelajaran berharga bagi kita. Sebakda Rasulullah saw wafat, Sayidina Abu Bakar menjadi khalifatur Rasul memimpin muslimin selama 2 tahun 4 bulan. Lalu, digantikan oleh Sayidina Umar bin Khattab yang memimpin selama 10 tahun 6 bulan. Sesudah wafatnya, digantikan Sayidina Utsman bin Affan yang memimpin selama 12 tahun 5 bulan. Lalu, digantikan oleh Sayidina Ali bin Abi Thalib yang memimpin selama 4 tahun 10 bulan.

Lihatlah, masa kepemimpinan khulafa Ar-Rasyidin berbeda-beda. Sayidina Abu Bakar paling singkat, sedang Sayidina Utsman paling lama memimpin. Namun, sekali lagi bukan singkat atau panjangnya memimpin, namun amal dan kontribusi yang diberikan. Keempat khulafa Ar-Rasyidin telah menorehkan amal dan kontribusi terbaik di masanya masing-masing. Maka, wajar bila Rasulullah mengapresiasi, “Ikutilah oleh kalian sunnahku dan sunnah khulafa Ar-Rasyidin yang mendapat petunjuk.”

Selain keempat sahabat utama tersebut, secara umum generasi sahabat adalah generasi terbaik. Rasulullah saw sendiri yang menyebutnya, “Sebaik-baik generasi adalah generasiku (sahabat), kemudian generasi setelahnya (tabi’in), generasi setelahnya (tabi’it tabi’in)”.

Bahkan, Allah pun memuji sahabat sebagai generasi terbaik. Dalam banyak ayat Allah memuji generasi sahabat ini. Salah satunya dalam surat At-Taubah ayat 100.

“Dan orang-orang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.”

Para sahabat dari Muhajirin dan Anshar adalah generasi yang tidak diragukan lagi keimanannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Terbukti dalam amal dan kontribusinya yang tidak tanggung-tanggung. Semuanya, jiwa, raga, dan harta dilaburkan untuk dakwah Islam karena mengharap rida Allah semata.

Maka, mari kita bertanya ada di barisan mana kita? Karena, ayat di atas memberikan kabar gembira bahwa tidak hanya para sahabat yang diridai Allah dan diganjar surga, melainkan juga al-ladzinat taba’uhum bi ihsan; orang-orang yang istiqamah mengikuti jejak langkah para sahabat dengan baik. Orang-orang yang beramal dan berkontribusi karena Allah semata, bukan untuk pencitraan, apresiasi, atau kepentingan duniawi lainnya.

Kita doakan siapapun yang telah menyelesaikan masa tugasnya sebagai pemangku jabatan, atau purna tugas, semoga termasuk dalam barisan orang-orang beriman dan syuhada yang beramal dan berkontribusi hanya karena Allah. Semoga nantinya bisa berkumpul dengan Rasulullah dan para sahabat mulia.  Allahu A’lam…

Korelasi Karakter dan Penanaman Nilai Aqidah

Korelasi Karakter dan Penanaman Nilai Aqidah

Oleh: Hodam

 

Umar bin Khathab adalah salah satu sahabat Nabi yang sangat teguh pada pendirian. Ia selalu gigih dalam mempertahankan apa yang diyakininya baik sebelum masuk Islam atau sesudahnya. Misalnya kebudayaan suku Quraisy ketika itu, dimulai dari tradisi, ritual peribadatan, hingga sistem sosial ia yakini sepenuh hati. Demi itu semua ia rela mengorbankan seluruh jiwanya. Maka pantas jika ia menentang Islam dengan keras dan kejam pada awal masa dakwah, bahkan sepertinya tidak ada ampun bagi para pengikut agama Islam waktu itu.

 

“Aku ingin mencari orang yang berpindah agama itu (Nabi Muhammad saw.) yang telah memecah belah bangsa Quraisy, menghina impian Quraisy, mencela agama dan menghina tuhan-tuhannya. Aku ingin membunuhnya”.

 

Jiwanya merasa khawatir kalau kedatangan Islam akan meruntuhkan sistem sosial, politik dan budaya Mekah yang sudah mapan. Saat itu, Mekah memang memiliki posisi yang sangat strategis di kalangan bangsa Arab. Di kota ini terdapat rumah Tuhan (Ka’bah), yang selalu dikunjungi oleh orang-orang Arab. Hal inilah yang membuat suku Quraisy memiliki posisi strategis di kalangan bangsa Arab dan menjadikannya memiliki kekayaan spiritual dan material. Hal ini pula yang menjadikan Mekah menjadi maju dan berkembang. Sebab itu orang-orang kaya Mekah menentang keras agama Islam dan menyiksa orang-orang lemah dari pengikutnya. Umar bin Khathab termasuk diantara penduduk Mekah yang paling kejam.

 

Kita selalu berbicara tentang pendidikan karakter hampir setiap saat, sehingga kurikulum pendidikan di Indonesia terus berganti. Tapi jarang sekali dibahas dari mana sumber karakter tersebut dan apa ukuran kebenaran sebuah karakter. Dari kisah Umar bin Khathab di atas setidaknya kita dapat mengambil dua pelajaran yaitu sebagai berikut:

 

Pertama, manusia itu dikendalikan oleh apa yang diyakininya. Kita tahu bahwa manusia adalah unsur pertama dalam pembentukan sebuah negara. Sedang jiwa adalah ruang kendali perasaan dan inderanya manusia. Baik buruknya perjalanan hidup, benar salahnya sikap, kokoh dan lemahnya manusia, tergantung pada kebenaran dan kualitas konsepsi yang tertanam di dalam jiwanya. Seperti akar, ia adalah penentu, seperti apa jiwanya, maka seperti itulah pohon kepribadian dan arah hidup yang terbentuk padanya.

 

Inilah salah satu hikmah mengapa ketika hendak membangun masyarakat baru di atas puing-puing jahiliyah, Rasulullah saw. tidak mengawali perubahan itu dari perbaikan infrastruktur atau kekuatan politik. Sebab kelak ia bisa menjadi pemicu terjadinya benturan antar peradaban. Tapi pembangunan itu diawali dengan mengubah apa yang ada di dalam jiwa mereka. Rasulullah saw. menanam konsepsi sempurna yang sering kita sebut aqidah, ke dalam jiwa mereka, mengarahkan pandangan dan pikirannya, membangkitkan akal dan mengingatkan fitrahnya, serta merawat  tanaman itu dengan pendidikan dan pengembangan hingga mencapai kesuksesan.

 

Aqidah adalah mata air yang mengalirkan kebaikan. Seperti yang dijelaskan oleh Sayyid Sabiq dalam Aqidah Islamiyah, aqidah adalah sumber berbagai perasaan yang mulia, lahan untuk menanam berbagai perasaan yang baik, dan tempat tumbuhnya perasaan yang luhur. Tidak ada satupun keutamaan dan kebaikan, kecuali pasti bersumber darinya.

 

Tidak ada karakter yang kokoh tanpa aqidah yang benar. Jika aqidah atau keimanan itu hilang maka yang akan terjadi adalah krisis moral. Salah seorang ulama pernah mengatakan, krisis yang menimpa bangsa Indonesia adalah krisis keimanan dan ketaqwaan. Berawal dari krisis yang fundamental tersebut, maka terjadilah krisis susulan, seperti pembunuhan manusia tanpa hak, pemerkosaan, perzinahan, seks bebas dan aborsi, penggunaan narkotika dan minuman keras, pencurian hutan dan perusakan alam, perampasan hak orang lain, korupsi, penganiayaan dan kezaliman serta pelanggaran lainnya. Oleh karenanya penghentian atas krisis tersebut dimulai dari akar krisis dan akar permasalahannya. Jadi mari pendidikan karakter itu kita mulai dari penanam aqidah yang benar ke dalam jiwa anak didik kita.

 

Kedua, ukuran benar atau tidaknya suatu karakter adalah wahyu. Bagaimana cara kita hidup dan atas nama apa menjalaninya tidak bisa dinilai dengan ukuran manusia atau cara pandang manusia karena akal manusia yang tak sempurna. Itulah yang terjadi pada Umar bin Khathab sebelum masuk Islam ia bersikap atas cara pandangnya. Dalam konteks pembangunan karakter manusia muslim proses ditempuh melalui konsep-konsep Ilahiyah. Hanya Dia-lah yang memiliki kebenaran mutlak dan seluruh konsepsinya secara pasti akan sesuai dengan fitrah manusia serta seluruh kebutuhannya. Saya kira sudah saatnya kurikulum pendidikan nasional berdasarkan atas wahyu membentuk generasi sesuai dengan yang diinginkan oleh Sang Pencipta. Keberhasilan kurikulum tersebut sudah dibuktikan oleh generasi Islam terdahulu. Nah, sekarang kita bisa membedakan bagaimana Umar bin Khathab sebelum dan setelah masuk Islam, karakternya sama tapi nilainya berbeda. Wallahu’alam

KAWAN SLI: Alasan Kenapa Kita Harus Mengukur Performa Sekolah

KAWAN SLI: Alasan Kenapa Kita Harus Mengukur Performa Sekolah

Oleh : Alivia Choirun Nisak  KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Asahan

 

Sekolah merupakan wadah pemaknaan pendidikan bagi seorang anak setelah pendidikan di dalam keluarga. Sekolah juga menjadi tempat pembentukan karakter anak agar kelak ia bisa menjadi kebanggaan bangsa. Tapi apakah sekolah sudah memaknai pendidikan sebenarnya? Lalu, apakah ada sekolah yang belum mampu memaknai pendidikan yang dimaksud?

 

 

Menurut Rodrigo Chaves, Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia, dilansir dari cnnindonesia.com, kualitas pendidikan rendah tercermin dari peringkat Indonesia yang masih berada di posisi tertinggi dari negara-negara tetangga. Indikator peringkat kualitas pendidikan ini tercermin dalam jumlah kasus buta huruf.

 

 

Lagi-lagi data berbicara bahwa kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah, menyiratkan pemaknaan pendidikan dalam sekolah belum mampu dirasakan. Sebagai bangsa (yang katanya) berjiwa nasionalis, apa yang bisa kita kontribusikan dalam dunia pendidikan? Pengukuran performa sekolah jawabannya.

 

 

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) menggembleng punggawa sekolah agar mampu menjembatani harapan dan tujuan sekolah melalui penggunaan Metode Uswah. Pengukuran tersebut dilakukan bukan untuk mencari kesalahan sekolah, melainkan untuk mencari hal yang perlu dikembangkan dalam pengelolaan sekolah. Pengukuran performa sekolah perlu dilakukan supaya sekolah tahu langkah cerdas apa yang perlu dilakukan. Dengan menggunakan Metode Uswah, observasi performa sekolah menjadi lebih mudah dilakukan.

 

 

Brubah menjadi lebih baik, itulah yang diajarkan Allah kepada umatnya. Seperti yang termaktub dalam QS. Ar Ra’d: 11 yang artinya: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”.

 

KAWAN SLI: Capai Tujuan Bersama Agar Sekolah Lebih Baik

KAWAN SLI: Capai Tujuan Bersama Agar Sekolah Lebih Baik

Oleh: Nur Husni KAWAN SLI 3 penempatan Kota Semarang

 

 

Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) Kota Semarang adakan pelatihan SSD (School Strategic Discussion) di aula kantor Kecamatan Tembalang. Kegiatan yang diikuti oleh dua belas kepala sekolah/madrasah yang menjadi sekolah dampingan SLI, difokuskan pada metode penyusunan rencana pengembangan strategis sekolah melalui diskusi partisipatif melibatkan semua elemen-elemen pendidikan yang terkait dengan sekolah. Tahapan pelaksanaan SSD ini adalah pemetaan sekolah, analisis kondisi, alternatif solusi, langkah perbaikan dan komitmen bersama.

 

 

KAWAN Husni mengatakan jika KAWAN SLI mencoba mengkolaborasikan antara pengimplementasian sistem sekolah dengan Metode Uswah. “Kegiatan ini merupakan lanjutan dari sesi sebelumnya, karena itu kepala sekolah/madrasah kembali diminta untuk membuka instrumen pengukuran Metode Uswah,” jelasnya.

 

 

Kepala sekolah/madrasah diminta untuk menuliskan serta menggambarkan mimpi mereka masing-masing di dalam sebuah kertas HVS. Kemudian kepala sekolah secara bergantian maju ke depan menyampaikan apa mimpi yang telah mereka tuliskan. Berbagai mimpi dan keinginan kepala sekolah/madrasah untuk memajukan sekolah/madrasah yang sedang mereka pimpin. “Setelah mengetahui mimpi masing-masing, para peserta dibagi menjadi tiga kelompok yakni kelompok kepemimpinan, kelompok sistem pembelajaran, dan kelompok budaya sekolah. Kepala sekolah kami berikan waktu beberapa menit untuk membaca dan menganalisis cerita yang sudah dibagikan lalu mengisikan kondisi sekolah yang diceritakan kedalam tools penilaian metode uswah untuk kepala sekolah/madrasah,” kata KAWAN HUSNI. Menurutnya sesi ini penting bagi kepala sekolah/madrasah agar mereka paham kondisi riil di lapangan.

 

 

Setelah mengetahui kondisi riil di lapangan kepala sekolah/madrasah diminta mencari masalah yang paling krusial dari cerita yang telah mereka analisis, setelah mengetahui akar permasalahan kepala sekolah/madrasah mencari dan menentukan solusi permasalahan dari akar permasalahan yang telah ditetapkan. “Kami mengajak para kepala sekolah/madrasah menentukan langkah perbaikan dengan menyusun secara detail pelaksanaan dari solusi yang sudah ditetapkan dan membuat komitmen bersama agar semua program yang dibuat bisa disepakati,” papar KAWAN Husni.

Menjadi Guru Berkualitas Memerlukan Komitmen Tinggi 

Menjadi Guru Berkualitas Memerlukan Komitmen Tinggi

 

Pendidikan, sudah menjadi wacana umum untuk dibicarakan khususnya di Indonesia membahas pendidikan memiliki makna yang sangat luar biasa. Baik dalam ruang lingkup Nasional hingga lokal daerah, dalam hal ini tentunya adalah mekanisme yang sifatnya berpusat sampai pada turunan tingkat daerah sudah menjadi satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Namun ada hal yang unik apabila kita lihat fakta di lapangan, ada hal banyak perbedaan ketika kita lihat sistem atau mekanisme pendidikan yang diterapkan belumlah sesuai dengan apa yang diharapkan. Hal ini dikarenakan faktor turunan di setiap daerah yang berbeda-beda, sehingga memungkinkan pada setiap daerah sulit untuk menyesuaikan standar Nasional. Contoh kasus misalnya adalah Pemerintah pusat menetapkan nilai standar ujian Nasional rata untuk seluruh Indonesia, hal seperti ini menjadi sebuah beban bagi Sekolah-sekolah di setiap daerah terlebih adalah guru-guru.

Disisi lain misalnya, fakta siswa kelas 6 di suatu daerah yang belum bisa membaca sama sekali harus tetap diikutsertakan dalam ujian Nasional. Tentunya hal ini sangat memprihatinkan, siswa mendapat sebuah tekanan, pendidik menjadi sebuah pacuan dan Sekolah mendapatkan ancaman. Artinya pemerintah pusat boleh saja melakukan standar pendidikan nasional, namun harus mempertimbangkan hal-hal lain. Khususnya adalah tentang standar atau karakter yang harus dimiliki oleh pendidik atau guru, meskipun pemerintah sudah memiliki standar bagi para pendidik namun fakta di lapangan sangat berbeda untuk bisa disesuaikan. Dalam hal ini tiga kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh para pendidik sesuai perundang-undangan yang ada diantaranya:

1. Keterampilan paedagogik,

2. Kepribadian,

3. Sosial dan

 

Tiga hal mendasar itulah yang menjadi landasan bagi para pendidik, namun ada hal yang harus ditambahkan ketika empat hal tersebut sudah bisa dijalankan dengan baik yaitu; kesadaran dan komitmen yang tinggi. Sebab  menjadi pendidik saat ini seperti hanya menjadi sebuah batu loncatan saja, maksudnya adalah keterpaksaan dikarenakan keterbatasan lowongan pekerjaan misalnya sehingga menjadi pendidik adalah pilihan yang tepat meskipun terkadang fakta di lapangan tidak memenuhi kriteria untuk menjadi seorang pendidik tanpa harus dilatih terlebih dahulu. Hal ini tentunya akan berdampak meskipun hal sepele, namun sekali lagi kembali kepada kesadaran dan komitmen yang tinggi untuk bisa menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas.

 

Maka, pada hakikatnya adalah ketika seseorang sudah terjun menjadi seorang pendidik pada saat itu harus sudah memiliki tekad yang bulat tidak setengah-setengah untuk menjadi guru yang berkualitas agar menciptakan generasi yang cerdas. Karakter guru yang berkualitas bisa kita lihat dari  empat tahapan:

1. Persiapan yang matang,

2. Pelaksanaan penuh dengan ketelitian,

3. Evaluasi dalam meningkatkan mutu atau kualitas diri,

4. Dukungan masyarakat dan efektifitas manajemen sekolah yang baik. Apabila empat hal tahapan tersebut dijalankan dengan baik dimungkinkan para pendidik menjadi guru yang berkualitas sehingga menciptakan generasi yang cerdas, standar pendidikan nasionalpun bukan menjadi sebuah hambatan tapi menjadi sebuah tantangan.