Pengumuman Akhir Seleksi KAWAN SLI 3

Bismillahirrahmaanirrahiim,

Setelah melalui tahapan seleksi berkas dan direct assessment yang meliputi wawancara, Focus Group Discussion (FGD), dan Microtraining, panitia seleksi Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Angkatan 3 menetapkan 17 orang yang dinyatakan LOLOS seleksi. Adapun peserta seleksi yang dinyatakan lolos adalah sebagai berikut:

No. Nama Lengkap Asal Daerah
1 Akbar Kurniadi Lampung Selatan
2 Alivia Choirun Nisak Nganjuk
3 Cut Indah Putri Pidie
4 Darfin Kendari
5 Firman Siswanto Bima
6 Hairunnisah Mataram
7 Hasyim Bogor
8 Inayatul Asmaiyah Gresik
9 Musyawir S. Dunggu Gorontalo
10 Nur Husni Agam
11 Nurcahyaning Samsi Pertiwi Surabaya
12 Pelangi Apriliandini Salsabila Indramayu
13 Piska Yunita Padang
14 Putri Ria Utami Bandar Lampung
15 Yuyun Kurniawati Mojokerto
16 Irpa Sopiana Ramdani* Ciamis
17 Mita Seftyaningrum* Kediri

*Seleksi lokal kerjasama dengan Dompet Dhuafa Yogyakarta untuk program SLI wilayah Yogyakarta

Keputusan ini ditetapkan berdasarkan pertimbangan yang matang, bersifat mengikat dan tidak bisa diganggu gugat.

Ditetapkan di Bogor,

Pada 20 Agustus 2019

Mulyadi Saputra

Manajer Program



KOMED MAIN SAINS

Serunya KOMED Main Sains

Tangerang – Tak seperti biasanya, pada sabtu ini tepatnya tanggal 03 Agustus 2019 kami harus berangkat pagi sekali menuju salah satu sekolah di daerah Tanjungkait Mauk. Kami berangkat bertiga bersama bu Yuni, miss Zubaedah, bu Umi dan bu Rohmah. Perjalanan ini kami lakukan dalam rangka pelaksanaan acara main sains. Main sains merupakan kegiatan bersenang – senang dalam praktik sains sederhana yang biasa terjadi di keseharian kita.  Terdapat beberapa demonstrasi main sains oleh pembicara dan kegiatan main sains yang dilakukan oleh peserta. Acara ini terselenggara oleh KOMED (Komunitas Media Pembelajaran) yang bekerjasama dengan PKG PAUD Kec.  Mauk – Tangerang.

Sepanjang perjalanan menuju lokasi seisi mobil bertambah ramai karena kami berdiskusi mempersiapkan acara diselingi dengan adu argumentasi dan canda tawa tak berkesudahan, sangat luar biasa suara di dalam mobil yang hingar bingar sehingga tak terasa perjalanan berlalu secepat kilat.

Pukul 09.15 kami pun tiba di lokasi PAUD AN NAJAH Kecamatan MAUK disambut oleh Kepala Sekolah An Najah ibu Munajah. Alhamdulillah kelas tempat main sains sudah dipenuhi oleh peserta yang berasal dari beberapa PAUD yang tergabung di PKG PAUD Kecamatan Mauk.

Main sains dimulai dengan pembukaan oleh bu Munajah sebagai tuan rumah penyelenggara, dilanjutkan selayang pandang KOMED oleh saya sendiri. Dalam sesi ini saya memperkenalkan program-program dan kegiatan-kegiatan KOMED ke peserta main sains yang dihadiri sekitar 50 peserta. Para peserta antusias mendengarkan dan memperhatikan materi tentang KOMED.

Materi yang dinantikan akhirnya dimulai dengan penampilan pemateri yang sudah handal yaitu ibu Umi Barokah. Senyum hangat dan semangatnya yang membara membuat peserta terkesima menyimak materi yang disampaikan. Demo sains yang pertama yaitu belalai gajah dengan alat dan bahan sederhana namun dengan hasil yang keren dilanjut percobaan memecahkan balon dengan hanya mengusapkan tangan ke balon, menusukkan jarum ke balon dan mencampurkan cairan kimia yang dapat menyerupai lava gunung berapi. Semua percobaan sains diikuti dan dipraktekkan oleh para peserta dengan antusias yang tinggi, semua ingin mencobanya dengan semangat.

Kegiatan selanjutnya dipandu oleh bude Yuni yang diawali dengan perkenalan dan sedikit penjelasan tentang manfaat main sains untuk anak usia dini. Kit atau peralatan main sains dibagikan ke peserta, untuk tiap peserta mendapatkan 1 kantong yang di dalamnya terdapat peralatan dan bahan 10 macam percobaan sains.

Satu demi satu percobaan dilakukan oleh peserta dipandu dengan apik dan menarik oleh bude Yuni. Tak sendiri, kegiatan ini dibantu oleh para relawan yang gesit seperti  bu Roro, bu Rohmah dan miss Zubaedah.  Beberapa percobaan berhasil kami buat seperti membuat baling-baling kertas, ulat menggeliat, baling-baling sentrifugal, pesan rahasia, roket, tabung, dan gelas tertawa. Peserta aktif maju ke depan kelas untuk mempresentasikan hasil pengamatan mereka terhadap percobaan sains yang sudah dilakukan.

Akhirnya kegiatan main sains ditutup dengan memberikan apresiasi untuk para peserta terbaik, terajin, tersemangat, serta sekolah yang paling banyak mengirimkan gurunya. Alhamdulillah main sains selesai ditutup dengan pesan dari bu Umi bahwa guru yang baik adalah yang amanah, yang siap berbagi ilmu yang telah didapatnya ke teman-teman maupun ke anak didiknya.

Sebelum perjalanan pulang kami mampir ke perkampungan nelayan yang tak jauh dari lokasi main sains. Di sana kami bertemu ibu- ibu dan anak-anak yang sedang mengupas kerang hijau , juga para nelayan yang sedang memperbaiki perahu, jala serta peralatan untuk menangkap ikan. Kamipun kembali pulang dengan perasaan bahagia karena bisa bertemu dan berbagi dengan guru-guru hebat disana.

Kontributor : Euis (Pengurus Komunitas Media Pembelajaran)

Pengumuman seleksi Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia 3

Pengumuman Hasil Seleksi Tahap I KAWAN SLI 3

Setelah melalui proses seleksi tahap I yang mencakup penilaian data diri, pengalaman, serta esai, Sekolah Literasi Indonesia menetapkan 65 calon Kawan SLI Angkatan 3 yang lolos seleksi tahap I. Nama-nama yang lolos bisa dilihat di www.makmalpendidikan.net.

Seleksi selanjutnya adalah Direct Assessment, yang akan dilaksanakan pada rentang waktu 7-15 Agustus 2019. Seleksi meliputi wawancara, FGD, dan microtraining. Informasi selengkapnya mengenai seleksi akan disampaikan melalui email masing-masing.

Sekolah Literasi Indonesia mengucapkan terima kasih dan apresiasi kepada para pendaftar dan semua pihak yang telah ikut berkontribusi dalam proses seleksi ini. Semoga ini menjadi ikhtiar kita bersama dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.

No. Nama Asal Daerah Asal Perguruan Tinggi
1 Aan Hendiana, M.Sos. Purwokerto IAIN Purwokerto
2 Agustia Bima Universitas Halu Oleo
3 Ahmadi Batang Hari Universitas Jambi
4 Akbar Kurniadi Lampung Selatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
5 Akida Nganjuk STKIP Muhammadiyah Bulukumba
6 Alfianti Polewali Mandar Univ Al As’ariyah Mandar
7 Alivia Choirun Nisak Nganjuk Universitas Negeri Surabaya
8 Amin Sinun Dasi Flores Timur Universitas Muhammadiyah Makassar
9 Amsalludin Konawe Selatan Universitas Halu Oleo
10 Andini Elsa Putri Prabumulih Universitas Sriwijaya
11 Asep Syaepul Anwar Majalengka Universitas Majalengka
12 Bustamin Buton Tengah Universitas Halu Oleo
13 Cut Indah Putri Pidie Universitas Jabal Ghofur
14 Darfin Kendari Universitas Halu Oleo
15 Dina Marlita Serang STIK Wangsa Jaya Banten
16 Dwi Agustin Handayani Deli Serdang Universitas Muslim Nusantara
17 Edi Sugianto Pamekasan IAIN Madura
18 Eka Nurmanudin Majalengka Universitas Indraprasta PGRI Jakarta
19 Elsa Mulyani Bandung Universitas Pendidikan Indonesia
20 Era Aulia Putri Bogor Universitas Diponegoro
21 Firman Siswanto Bima IAI Muhammadiyah Bima
22 Fitriani Mataram Universitas Sriwijaya
23 Giffari Muslih Surabaya ITS Surabaya
24 Hairunnisah Bima UIN Mataram
25 Hasyim Bogor STAINDO Jakarta
26 Idayani Lombok Barat UIN Mataram
27 Inayatul Asmaiyah Gresik Universitas Negeri Surabaya
28 Ira Pane Deli Serdang Universitas Negeri Medan
29 Irsan Nur Gowa UIN Alauddin Makassar
30 Julhan Rongga Muna Universitas Negeri Gorontalo
31 Junaidi Lampung Selatan Universitas Lampung
32 Khairi Wahyuna Aceh Tamiang Universitas Syiah Kuala
33 Kusdarmawan Nur Ilham Madiun Universitas Brawijaya
34 Luthfia Azmi Oktasari Nasution Semarang IAIN Sumatera Utara
35 Mabrur Salatiga UIN Alauddin Makassar
36 Mahtida Demak STKIP Kusumanegara
37 Muhammad Muhyidin Medan Kota UIN Sultan Syarif Kasim Riau
38 Muhammad Riwaldi Pekanbaru UIN Sultan Syarif Kasim Riau
39 Muhammad Salmin Bima UIN Alaudin Makassar
40 Muhammad Yunus Bukittinggi UIN Imam Bonjol Padang
41 Musyawir S Dunggu Gorontalo IAIN Palu
42 Nur Hikmah Maros Universitas Negeri Malang
43 Nur Husni Agam IAIN Bukittinggi
44 Nurahmah Semarang Universitas Muhammadiyah Makassar
45 Nurcahyaning Samsi Pertiwi Surabaya Universitas Negeri Surabaya
46 Nurul Hasanah Palu Universitas Tadulako
47 Pelangi Apriliandini Salsabila Indramyu IKIP PGRI Bali
48 Piska Yunita Konawe Selatan Universitas Negeri Padang
49 Puput Diana SIAK Universitas Riau
50 Putri Ria Utami Bandar Lampung Institut Pertanian Bogor
51 Putri Wulansari Palembang UIN Raden Fatah Palembang
52 Ramona Intan Sari Padang Universitas Negeri Padang
53 Ratnah Kurniati MA Makassar Universitas Negeri Malang
54 Reni Rahardika Ogan Komering Ilir Universitas Sriwijaya
55 Ridha Haspian Indrawan Bandung Universitas Pendidikan Indonesia
56 Rosanti Bima STKIP BIMA
57 Rudi Andriana Sukabumi Universitas Terbuka
58 Samsul Kamal Sigli Universitas Jabal Ghofur
59 Siska Dewi Pasaman Universitas Negeri Padang
60 Sri Niningsih Bima Universitas Muhammadiyah Mataram
61 Sumarni Bombana STKIP Muhammadiyah Bone
62 Syahdan Syam Konawe Selatan UIN Alaudin Makassar
63 Veranisah Nasution Sidikalang Universita Sumatera Utara
64 Widad Zahira Palu Universitas Tadulako
65 Yuyun Kurniawati Mojokerto Universitas Negeri Surabaya

Keterangan :

  • Keputusan panitia seleksi bersifat mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
  • Informasi lengkap mengenai Direct Assessment akan disampaikan langsung melalui email dan telepon ke pendaftar yang lolos seleksi berkas .

Bogor, 3 Agustus 2019

Mulyadi Saputra

Manajer Sekolah Literasi Indonesia



Ratulil Fatihah, Jagoan Sains dari Tanah Mbojo (Bima)

Ratulil Fatihah, Jagoan Sains dari Tanah Mbojo (Bima)

Ratulill Fatihah, siswa kelas 2 MIS Yasim Belo Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat berhasil lolos ke Babak Final Olimpiade Sains Kuark (OSK) 2019 di Jakarta pada tanggal 06 sampai 07 Juli di Jakarta tepatnya di Gedung Titan centre. Olimpiade Sains yang digelar sejak tahun 2008 ini selalu mengalami peningkatan jumlah peserta dari tahun ke tahun. Tahun ini diikuti oleh 93.000 peserta dari seluruh Indonesia pada babak penyisihan dan akhirnya hanya 304 peserta yang lolos ke babak Final di Jakarta. Ada tiga level dalam Olimpiade Sains ini yakni level 1 (Kelas 1 dan 2), Level 2 (Kelas 3 dan 4) dan level 3 (Kelas 5 dan 6). Babak penyisihan dan semifinal dilaksanakan di kabupaten masing-masing salah satunya di Kabupaten Bima. Ada enam sekolah dampingan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa yang mengikuti seleksi Olimpiade Sains ini salah satunya adalah MIS Yasim Belo.


Ratu tidak pernah menyangka akan lolos Olimpiade Sains Kuark hingga Babak final ke Jakarta, soal-soal olimpiade yang dia kerjakan saat babak penyisihan sangat membingungkan apalagi untuk level 1 ini. Banyak di antara teman-temannya masih mengeja soal-soal Olimpiade Sains tersebut ditambah lagi dengan lembar jawaban yang diperiksa menggunakan sistem komputerisasi harus benar-benar diisi dengan rapi. Ketika pengumuman peserta yang lolos ke babak semifinal, salah satu nama yang muncul adalah Ratulil Fatihah untuk level 1 dan ada juga beberapa siswa MIS Yasim Belo baik level 2 maupun level 3.


Setelah Ratu mengetahui bahwa dirinya lolos ke babak semifinal, dia sangat senang dan bersemangat untuk terus belajar, dia pun meminta ibunya untuk membelikan majalah Sains Kuark agar bisa belajar lebih banyak lagi tentang Sains dan bisa menjawab soal-soal olimpiade yang ada.
MIS Yasim Belo, salah satu Madrasah Ibtidayah Swasta di Kabupaten Bima milik Yayasan Islam Bima. Bangunan sekolah ini hanya terdiri dari tiga lokal yang semuanya disekat sehingga bisa menjadi enam kelas. Tidak ada ruang perpustakaan apalagi laboratorium untuk melakukan eksperimen Sains, namun hal itu tidak menjadi hambatan dalam proses pembelajaran, keterbatasan tersebut justru menjadi cambuk bagi para guru dan siswa untuk tetap menorehkan prestasi.

Tentu moment ini akan menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi Ratu Karena banyak hal yang dia dapatkan selama dua hari di Jakarta. Bertemu dengan teman-teman baru dari seluruh Indonesia, naik kereta MRT ke bundaran HI, melakukan eksperimen Sains merakit lampu solar dan latihan memainkan Angklung. Semoga kedepannya akan lebih banyak lagi jagoan jagoan Sains yang tidak hanya membanggakan orangtuanya tetapi juga bisa membanggakan sekolah dan kabupatennya bukan hanya di bidang Sains tetapi juga di Bidang-bidang yang lain.

Siap menjadi saksi perjuangan anak-anak Indonesia dalam meraih mimpi? Segera #DaftarKawanSLI3via www.makmalpendidikan.net/kawan-sli/

kasus bully

Sadarkah kita pun sering membully anak Sendiri?

Baru menulis judul saja rasanya sesak sekali dada saya. Ada rasa sedih bercampur iba, marah dan bingung. Tetapi ada harapan sangat besar dari hati saya untuk kita semua supaya lebih berhati-hati untuk mendidik anak, bisa-bisa salah mendidik malah mematikan karakter dan kreativitas anak kita dalam tumbuh kembangnya.

Kasus bully seakan tak lekang oleh waktu, begitu dekat dan seperti yang tidak dapat dihindari lagi. Bully begitu melekat pada lidah kita, dimana tanpa kita sadari kita sedang melakukan hal tersebut.

Jika kita pahami, anak mempunyai kemampuan yang serba terbatas, mereka merupakan pribadi yang sedang belajar untuk mengaktualisasi diri dan mengeksplor diri mereka seperti apa yang mereka inginkan. Terkadang dalam keadaan emosi tertentu kita sebagai orang tua mudah untuk merendahkan serta membandingkan anak sendiri dengan anak orang lain. Kita secara tak langsung sedang merampas rasa percaya diri dan harga diri mereka.

Contoh yang sering ditemukan adalah pada saat pembagian rapor di sekolah. Dimana orang tua sering melakukan bully kepada anak-anaknya. Padahal sejatinya pembagian rapor merupakan ajang kita sebagai orang tua untuk senantiasa mengetahui hasil belajar dan hasil perjuangan anak-anaknya selama satu tahun ini.

Fenomena bully dari orang tua ini sering dilakukan, bentuknya pun beragam dan biasanya orang tua kurang menyadarinya bahwa apa yang dia lakukan adalah tindakan bully. Padahal sebagai orang tua yang bijak hendaknya mereka mengatakan hal-hal yang baik, berikan motivasi baginya serta peluklah mereka dengan pelukan hangat, karena itu dapat membuat mereka tenang dan merasa dihargai.

Katakan pada anak-anak kita apapun hasilnya kami sangat bangga padamu nak, kami mencintaimu dan sangat menyayangimu. Lihatlah dampak yang akan terjadi jika curahan cinta dan kasih sayang mengalir bagi anak, bukan tidak mungkin kelak anak-anak kita menjadi anak yang dapat menaklukan dunia. Ketika orang tua mampu untuk mencurahkan kasih sayangnya terhadap anak maka anak akan senantiasa tumbuh dengan pribadi yang baik.

Sedikit catatan di atas, semoga menjadi muhasabah bagi kita semua agar dapat menghargai putra putri kita dan menghargai segala perjuangannya. Anak sejatinya butuh dihargai, bukan direndahkan atau dibanding-bandingkan. Pahamilah mereka, karena mereka juga tak pernah membandingkan orang tuanya dengan orang tua yang lain. Inilah sebuah pembelajaran bagi kita untuk menjadi orang tua yang peduli terhadap anak bukan orang tua yang mem-bully anak.

Penulis : Adi Setiawan (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia Bengkulu Utara)

Kawan SLI Lutfia

Apa Saja yang Didapatkan Sebagai KAWAN SLI?

Sebuah pengalaman yang tidak ternilai, mewakafkan diri 12 purnama untuk menjadi Konsultan Relawan Pendidikan. Jika ditanyakan, mengapa mau jadi relawan? Dari sekian banyak alasan, satu yang pasti turut di-iya-kan, “menambah nilai diri”, sebab menyadari akan ada kompetensi yang bertumbuh dan bertambah, akan ada kebaikan yang dibagikan, bertambahnya manfaat diri bagi sesama. Hal ini selaras dengan sabda Rasulullah saw.

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia (yang lain).”  [HR.Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni.]

Menantang diri keluar dari zona nyaman, dipilih sebagai langkah awalku, seorang guru yang telah mengabdikan diri selama 3 tahun pada Sekolah Dasar Islam Terpadu ternama di kota Binjai, kota kecil di Sumatera Utara, untuk menggenapi keinginan meluaskan nilai diri, mengambangkan kompetensi, belajar lebih, upaya lebih, serta menempuh tangga-tangga meralisasikan mimpi.

Dua bulan pertama dilalui di kota hujan, Bogor, Pembinaan sebelum konsultan dikirimkan ke wilayah penempatan. Ini sangat membantu, Sebagai bekalan pengetahuan dan arahan pelaksana peran Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia. Dari pembinaan bertambahlah kompetensi diri, aktivitas pelatihan digelar setiap hari, berlatih menjadi trainer, coche, dan mentor, sebagai bekalan konsultan di penempatan. Mengaplikasikan ilmu dikenyataan tidak semudah ketika microtriner pada proses pembinaan, ada beban moral yang diemban, nama baik diri dan lembaga dipertaruhkan, maka persiapan untuk jiwa dan kompetensi keilmuan dimantapkan.

Dari penempatan aku belajar mengaplikasikan keilmuan, menjadi trainer pada kegiatan pelatihan, pertama kali menjadi pemateri di tengah kepala sekolah dan guru-guru, tentu merasa menegangkan dengan khwatir yang berlebihan. Perlahan hitungan bulan berganti, menjadi pusat perhatian, berdiri di depan para kepala sekolah dan guru, telah menjadi hal yang biasa. Kepercayaan diri tumbuh dan berkembang, tidak hanya di hadapan warga sekolah, pada beberapa kesempatan berhadapan dengan puluhan bahkan ratusan wali murid adalah sebuah pengalaman berbeda, menyesuaikan penggunaan bahasa yang mudah dipahami masyarakat umumnya, juga tantangan tersendiri bagi Kawan SLI, yang kemudian menyuntikkan spirit untuk mendalami karakter dan budaya warga setempat.

Semarang, Jawa Tengah, dikenal dengan ikon Kota Lumpia, mayoritas penduduk bersuku Jawa, maka inilah bahasa yang digunakan masyarakat pada kesehariannya. Penempatan di kota ini menambahkan kekayaan budaya baru bagiku, budaya sopan santun khususnya. Aku baru tau, bahwa di tanah Jawa, penggunaan Bahasa Jawa itu ada tingkatan tutur bahasanya, dari penggunaan bahasa keseharian ada yang halus, dan tidak halus atau dinamakan tingkatan Ngoko, Madyo, dan Krama. Setiap kosa bahasa jawa memiliki variasi bentuk morfologis yang menunjukkan tingkat rasa hormat atau kesopanan, hal ini bertalian dengan kasta kebangsawanan atau kekeratonannya.

Suatu ketika suasana pertemuan dengan kepala madrasah dan guru-guru yang semula hangat mendadak berubah direspon dingin, hanya sebab aku salah menggunakan bahasa, “sampean” dalam pertemuan formal tersebut, yang dalam bahasa Indonesia diterjemahkan “Kamu atau Anda”, dirasa terdengar terlalu kasar, sementara keseharian para guru menggunakan bahasa “njenengan” untuk menyebutkan orang kedua yang diajak berdialog. Berbulan-bulan telah menyatu dengan budaya setempat membuatku sedikit-banyak memahami kosa kata Bahasa Jawa, namun sejak kejadian lalu, aku belajar untuk berhati-hati, dan memilih menjawab dengan bahasa indonesia saja jika diajak berbicara.

Berperan sebagai Kawan SLI tanpa kusadari juga telah mewujudkan salah satu dari mimpi-mimpiku. “Menjadi gurunya para guru” tulisku satu ketika bertahun-tahun silam pada lembaran kertas yang menghimpun cita-citaku. Tak pernah terbayangkan beginilah cara Allah merealisasikan mimpiku, meskipun sekarang belum berezeki untuk lanjut pendidikan S2, tapi nyatanya Allah mewujudkannya lebih dahulu sekalipun tanpa titel master. Ketika berprofesi menjadi guru adalah cita yang terbangun sejak SMA, lalu aku memimpikan agar kebermanfaatanku dapat dirasakan lebih, maka menjadi gurunya para guru adalah sebuah cita mulia.

Mengelola Sekolah Sendiri, juga bagian dari cita jangka panjang yang pernah kutuliskan, sehingga menjadi Kawan SLI bagiku merupakan tangga-tangga untuk mewujudkan mimpi. Sebab telah dibekali dengan ilmu pengelolaan, pengukuran, dan peningkatan performa sekolah. Dari sana aku belajar bagaiamana cara meng-choching dan me-mentoring para kepala madrasah untuk mengabil solusi menejemen terbaik bagi sekolah mereka. Dari pengalaman penempatan ini aku belajar tantang realitas mengelola manusia dan sistem pendidikan, ini bekal penting untukku. Enam Madrasah Ibtidaiyah Marjinal di tengah Kota Semarang memberikan banyak pembelajaran, dengan corak gaya kepemimpinan, dan pengelolaan madrasah yang berbeda-beda, dengan kelebihan dan kekurangannya.

Menjadi Kawan SLI membuatku terlatih untuk mampu melihat lebih luas arah masa depan sebuah sekolah. Sebab Kawan SLI telah dibekali dengan gambaran sistem ideal sebuah sekolah model. Bahwa sekolah dikatakan berkualitas baik apabila terpenuhinya ketiga lingkup metode uswah, yaitu kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah. Semua erat kaitannya dengan kualitas sumber daya manusianya. Gambaran sejauh apa hasil yang akan dituai sebuah sekolah, dapat diprediksi dari komitmen dan kompetensi kepala madrasah dalam mengelola madrasah serta guru-gurunya, disusul kemudian dengan terpenuhinya sarana prasarana yang memadai.

Hebatnya lagi, menyandang status sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia memudahkan intervensi kepada pihak sekolah dan masyarakat, karena dibawahi oleh lembaga resmi Dompet Dhuafa Pendidikan. Ini memudahkan jalannya pendampingan sekolah, memudahkan menyusupkan nilai-nilai kebaikan, kekhasan literasi, budaya sekolah islami, sebab saran dan pertimbangan Kawan SLI tentu diperhitungkan baik oleh pihak sekolah, masyarakat, maupun di tingkat pengawas sekolah.

Kawan SLI yang umumnya berusia jauh lebih muda dari para kepala madrasah dan guru-guru yang didampinginya, oleh pihak sekolah sering diberikan perlakukan istimewa pada berbagai kegiatan madrasah, disejajarkan dengan pengawas madrasah. Dari sini pembelajaran baru dipetik, di kota Lumpia ini, kesantunan dan pengagungan terahadap tamu diutamakan.

Mengabdikan diri 12 Purnama pada wilayah asing, melatih kepekaan dan mengembangkan kemampuan beradaptasi, sebab tidak ada tempat bergantung selain Allah dan diri sendiri. Di sini aku belajar jeli melihat dan menangkap kesempatan, meluaskan jaringan, mencari berbagai komunitas yang sejalan dengan program.

Banyak hal yang dapat dilakukan selain menjalankan tugas sebagai Kawan SLI di sekolahan. Salah satunya mengembangkan komptensi dalam menulis. Seperti dua tulisan yang telah dimuat oleh Radar Semarang, surat kabar lokal, begitupun bebarapa artikel yang telah dimuat di media elektronik internal, makmalpendidikan.net ataupun jateng.dompetdhuafa.org. Selain itu juga memfasilitasi proyek menulis buku antologi para kepala madrasah dan guru-guru sekolah dampingan SLI Semarang. Bergabung dengan komunitas tertentu, juga telah menimbulkan rasa bertambahnya nilai manfaat diri. Mencoba berbagi, dengan terlibat pada aktivitas remaja setempat, mengisi kegiatan anak kampus UNNES, terlibat bersama komunitas pengajian ibu-ibu hingga menggerakkan kegitan fun literacy untuk anak-anak di  TPQ terdekat.

Menjalankan program ini, artinya mengemban amanah besar, berbulan-bulan dihidupi oleh uang umat, menjaga kepercayaan umat dan janji pada Sang Maha Melihat. Pada pengabdian ini bekerja sebagai kayawan Allah, suka relawan, untuk mewujudkan sebuah visi menebar kebaikan, meningkatkan performa sekolah marginal. Maka berada jauh dari keluarga kian melatih pribadi kerelawanan. Semoga tiap detik yang terlewati terhitung sebagai upaya menggapai keridhoan-Nya.

Hikmah lain dari peran Kawan SLI di penempatan, ialah terjalinnya silaturahim, dan meluasnya jaringan.  Kepala madrasah dan guru-guru dari enam sekolah dampingan di Kota Semarang sejumlah 64 orang, dengan karakter yang berbeda-beda menambahkan syukur bahwa dicipta sedemikian rupa agar saling mengenal. Beberapa guru dan kepala madrasah memperlakukan Kawan SLI selayaknya keluarga sendiri, alhamdulillah mendapatkan keluarga baru lagi disini. Meluasnya jaringan kebaikan pribadi, baik dari lingkungan pendidikan, masyarakat tempat tinggal, pergaulan dengan berbagai komunitas, hingga menjalin silaturahmi kepada pengelola media cetak, koran lokal, kesemua adalah bonus dari menebarkan kebermanfaatan sebagai Konsultan Relawan SLI.

Untuk 12 Purnama pengabdian, begitu banyak yang telah didapatkan sebagai Kawan SLI. Syukur yang tertambat, mewakili begitu banyak nikmat yang telah Allah anugerahkan.

“Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Qs. Lukman: 27]

Kontributor : Lutfia (KAWAN SLI)

Pembinaan Kawan SLI 2 (Tulisan Kawan Nida)

Motivasi, Konsekuensi, dan Manfaat Menjadi Kawan SLI

Ukuran sukses setiap orang itu berbeda-beda. Ada yang melihat dari tinggi jabatan di tempat kerja, bisa kuliah ke mancanegara, atau bisa menikah dengan orang yang dicinta. Tak semua hal itu juga menjadi tolak ukur kebahagiaan seseorang. Ada orang sukses tapi tidak bahagia. Begitulah kehidupan, selalu digemerlapkan dengan berbagai kemilau yang relatif sekali sudut pandangnya.

Mulai semenjak kuliah, pikiran saya sudah terkontaminasi oleh pernyataan Bapak Ridwan Kamil bahwa, “Pekerjaan yang baik adalah hobi yang dibayar.” Semenjak turut menganut paham itu, maka saya berusaha sedemikian rupa agar ketika tiba masanya berkecimpung di dunia pasca kampus, saya mendapatkan pekerjaan yang membahagiakan.

Alhasil, saya selalu bertanya kepada diri saya tentang apa saja hal-hal yang membuat saya bahagia. Beberapa di antaranya adalah membaca, menulis, dan bertandang ke beragam tempat. Kemudian, ketika saya mendapatkan informasi mengenai pendaftaran Kawan SLI di tahun 2018, saya tak banyak pertimbangan lagi untuk segera daftar. Tanggung jawabnya cukup beririsan dengan hal-hal yang saya suka. Meski, ada beberapa konsekuensi yang tentunya nanti akan saya dapatkan. Salah satu konsekuensinya adalah menembus zona nyaman.

Ketika menjalani tahapan wawancara, Bapak Zainal Umuri selaku pengelola program pada zamannya berkali-kali bertanya, “Kamu yakin bersedia? Siap ditempatkan di daerah mana saja? Kalau susah air gimana?” Saya juga agak khawatir sebenarnya waktu itu, akan tetapi Allah memberikan keyakinan dengan amat mudah kepada saya. Satu hal yang ada dalam pikiran saya saat itu, jika orang-orang di daerah marginal dapat hidup, mengapa saya harus khawatir?

Motivasi Menjadi Kawan SLI

Banyak keluarga dan teman-teman saya yang bertanya mengenai motivasi apa yang mendorong saya untuk menjadi seorang Kawan SLI. Selain dari tanggung jawab pekerjaannya yang beririsan dengan hal-hal yang saya sukai, motivasi lainnya adalah menambah pengalaman. Keluar dari daerah asal akan membuat kita belajar untuk melihat kehidupan dari sudut pandang yang berbeda sekaligus menabung pengalaman sebagai bekal hidup. Hal itu pun saya dapatkan selama berada di daerah penempatan. Dahulu, saya kira kesempurnaan hidup tiap orang itu melalui fase yang sama. Akan tetapi tidak, setiap orang punya jalan unik masing-masing. Saya mengamati kehidupan orang-orang di Ogan Ilir serta guru-guru di sekolah yang didampingi. Setiap dari mereka memiliki kisah unik. Ada keluarga guru yang sudah menikah puluhan tahun tapi tak kunjung memiliki putra, ada guru yang hampir pensiun tapi belum bertemu jodoh, ada pula guru yang baru menikah di usia hampir setengah abad. Setiap orang memiliki jalan hidup sekaligus tantangan dari Allah yang unik. Di sini sudut pandang tersebut terbuka.

Motivasi yang tak kalah penting adalah menambah ilmu. Selama dua bulan sebelum penempatan saya banyak mendapatkan ilmu mengenai kurikulum pendidikan, RPP, pembelajaran berbasis literasi, display kelas, menjadi trainer, coaching, dan banyak lagi. Bagi saya, ilmu-ilmu tersebut sangat aplikatif dan bermanfaat. Tak hanya selama saya menjadi konsultan relawan, akan tetapi akan bermanfaat kelak ketika saya menjadi bagian dari masyarakat atau berperan sebagai ibu bagi anak-anak. Betapa baik sekali Dompet Dhuafa Pendidikan, terutama ketika salah satu pemateri pelatihan (kalau tidak salah Pak Syafe’i) menyampaikan bahwa Dompet Dhuafa Pendidikan menganut sistem efek domino. Jadi, meski nanti Kawan SLI sudah lengser dalam tugas, diharapkan agar ilmu-ilmu yang telah didapatkan dapat tertular dan tak henti tersebar.

Konsekuensi Menjadi Kawan SLI

Setelah dinyatakan lolos menjadi Kawan SLI Angkatan 2, saya pun segera membuat list konsekuensi apa saja yang mungkin nanti akan saya dapatkan. Lalu, saya segera memberitahukannya kepada keluarga inti.

Pertama, akan jarang pulang. Ditempatkan di daerah marginal tentu akan membuat Kawan SLI jarang pulang dalam setahun. Biasanya dalam setahun, saya bisa pulang tiga sampai empat kali. Saya beri tahu kemungkinan terburuk kepada keluarga, bisa jadi saya hanya akan pulang sekali salam setahun atau tidak sama sekali. Namun, alhamdulillah, Allah memberikan takdir terbaik kepada saya dengan ditempatkan di Kabupaten Ogan Ilir Sumatra Selatan. Dengan begitu, saya masih dapat memaksimalkan jatah cuti dengan pulang dua kali selama satu tahun.

Kedua, fisik berubah. Bagi orang-orang yang memiliki adaptasi yang cukup atau sangat baik, sepertinya hal ini tak terlalu menjadi masalah. Namun, bagi saya yang memiliki alergi debu dan sensitivitas kulit yang tinggi, membuat saya harus lebih ikhlas untuk membiarkan jika kelak fisik saya berubah. Ternyata benar saja, di daerah penempatan tempat saya bertugas merupakan daerah rawa, perkembunan karet, dan masih lengang suasananya. Rumah yang saya tempati berada di tengah-tengah kebun sehingga banyak sekali nyamuk besar-besar setiap hari. Alhasil, setiap hari pula saya digigit nyamuk. Saya sudah memakai lotion anti-nyamuk dan minyak telon plus longer protection yang melindungi dari gigitan nyamuk selama 8 jam. Kedua produk itu sia-sia, nyamuk di sini sudah resisten. Membakar obat nyamuk bukan menjadi pilihan, karena saya akan sesak napas. Pilihannya hanya ikhlas jika kulit memiliki bekas gigitan nyamuk yang sukar hilang.

Kondisi air dan debu di Indralaya membuat wajah saya juga bermasalah. Wilayah di sini mayoritas rawa. Airnya tak sejernih air di Garut, kampung halaman saya. Cuaca panas (kalau sedang tinggi bisa sampai 36 derajat celcius) dan tanah merah berdebu membuat kulit wajah saya mudah sekali terpapar. Padahal, saat datang ke Ogan Ilir ini kulit wajah saya sedang masa penyembuhan pasca ekspedisi dari salah satu pulau. Ternyata, kondisi di sini tidak lebih baik. Tak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain rela menerima. Toh, suatu saat nanti pun kulit yang rusak akan menjalani masa pengobatan dan mudah-mudahan Allah memberi kesembuhan. Take it easy.

Ketiga, jarang senang-senang. ‘Senang-senang’ ini ialah dalam arti sudut pandang masing-masing orang. Setiap orang tentu berbeda definisi kesenangannya. Kalau bagi saya, senang-senang adalah pergi ke Gramedia lalu membaca dan membeli buku, pergi nonton ke bioskop, makan makanan khas Sunda, dan jajan cilung (aci gulung). Lagi-lagi, yang patut dilakukan adalah men-setting otak, hati, dan fisik kita untuk rela ‘jarang senang-senang’ selama penempatan. Saya yakin, dengan ‘jarang senang-senang’ kita akan menjadi amat bersyukur saat menjumpai kembali kesenangan masing-masing kita.

Ada sebuah kutipan yang pernah saya baca dari tulisan seseorang, “Bisa jadi, kondisi yang sekarang kita jalani adalah kondisi yang orang lain harapkan. Maka, bersyukurlah.” Setidaknya, setelah direnungkan, kondisi di daerah penempatan Ogan Ilir tidak terlalu buruk jika dibandingkan dengan kondisi daerah penempatan Kawan SLI yang berada di pulau Kalimantan atau Riau. Mereka harus berjalan sekian kilometer untuk mendapat air bersih. Ada pula yang harus rela menahan kebosanan akibat tak kunjung makan nasi, yang ada hanya singkong sebagai makanan sehari-hari. Kita semua memiliki cara untuk bersyukur dengan cara masing-masing. Dengan itu, kita dapat lebih menghargai hidup.

Manfaat Menjadi Kawan SLI

Saya merasa banyak sekali manfaat yang didapat selama menjadi Kawan SLI. Hampir setahun di daerah tempat pengabdian, bagi saya, tak sia-sia. Ada banyak hikmah kehidupan yang saya ambil dan menjadikan diri menjadi lebih terbuka serta lebih banyak bersyukur.

Manfaat pertama, mendapat ilmu dan pengalaman hidup. Tentang ini, sudah saya jelskan sebelumnya di bagian motivasi. Ternyata, apa yang menjadi tujuan saya sesuai dengan manfaat yang saya perloleh.

Manfaat kedua, mengenal keunikan daerah penempatan. Hampir setahun di sini, saya sudah mencicipi makanan khas Sumatra Selatan seperti pempek, tempoyak, lenggang, pindang, tekwan, dan lain-lain. Ada salah satu sekolah yang setiap pekan mengenalkan makanan-makanan khas Sumsel. Saya dan rekan saya pun mencicipinya secara gratis. Kemudian, ketika datang masa monev dan jalan-jalan perpisahan kelas VI, menjadi kesempatan Kawan SLI untuk berkunjung ke daerah-daerah wisata dan tempat-tempat menarik di Sumsel. Ada Pulau Kemaro, Alquran Akbar, Masjid Ching-Ho, Gor Jakabaring, Punti Kayu, De-Matto, dan lain-lain. Kesempatan ini menjadi ajang wisata literasi.

Manfaat ketiga, memperluas relasi/jaringan. Salah satu tujuan SLI adalah agar programnya berkelanjutan, sehingga Kawan SLI dituntut untuk membuka jaringan yang luas sekaligus memberdayakan agar ketika Kawan SLI usai masa jabatan, program masih dapat berjalan tanpa pendampingan langsung. Sungguh, realisasi hal ini amat berat di Ogan Ilir. Akan tetapi telah ada contoh di SLI Angkatan 1, yang mana ada sekolah yang dapat berdaya dan justru sekolah tersebut memberi dampak kepada sekolah lain di Musirawas Utara.

Adapun di Ogan Ilir, telah berusaha membuka jalan kerjasama dengan FLP Ogan Ilir. Meski sistem kerjasamanya masih belum optimal, setidaknya Kawan SLI memiliki relasi dengan orang-orang yang sama bergiat terhadap bidang literasi. Selain itu, di Ogan Ilir pula berdisi universitas negeri yaitu UNSRI. Saya dan rekan saya pun memiliki kenalan mahasiswa-mahasiswa yang hebat dan siap sedia membantu kelancaran agenda kami jika dibutuhkan. Menjadi Kawan SLI membukan jalan untuk berteman dengan banyak orang.

Akan banyak kebaikan yang didapatkan selama mewakafkan diri untuk menjadi Kawan SLI. Meski bukan keuntungan materi, menjadi Kawan SLI akan memberi pengalaman yang berarti. Kelak, akan menjadi bekal kehidupan kita di kemudian hari jika kita benar-benar rela menjalaninya. Ada satu kutipan yang saya dapatkan dari Kawan SLI ketika ia dimonev oleh pengelola, “Apa pun yang terjadi tetaplah mendampingi.” Jika kelak banyak hal yang terjadi dan itu tak sesuai ekspekstasi, kembalilah ke niat awal kita (motivasi). Karena motivasilah yang akan menjadi kekuatan selama berada di daerah perempatan.

Kontributor Nida Fadlilah (KAWAN SLI Angkatan 2

Anak Nakal, ini sumbernya sekolah literasi indonesia

Anak nakal?, ini sumbernya..

Anak tidak dapat memilih di keluarga mana ia dilahirkan. Jika anak dapat memilih di keluarga mana ia dapat dilahirkan, tentunya ia akan memilih di keluarga yang penuh limpahan kasih sayang. Tidak pula semua anak di dunia ini terlahir dengan memiliki keluarga yang utuh. Ada yang disebabkan oleh perceraian hidup, kematian yang merenggut salah satu orangtua, ada yang memiliki ayah atau ibu yang lebih dari 1. Bahkan ada pula yang ditinggalkan oleh orangtua kandungnya dengan dalih tak memiliki kemampuan untuk merawat anaknya sendiri sehingga dititipkan kepada orang lain.

Kemampuan?, Ya.. saat orang tua tak lagi mampu membesarkan mereka dengan dalih apapun, maka anak tumbuh dipelihara oleh anggota keluarga lain. Tentu saja oleh keluarga yang mampu memeliharanya. Sehingga anak akan merasakan perbedaan karena tidak dirawat oleh orang tua kandungnya sendiri.

Sama halnya dengan guru, mereka memiliki kadar kemampuan yang berbeda-beda. Baik dalam pembelajaran, komunikasi, untuk menatap wajah peserta didik, mengusap rambut, ataupun menyentuh bahunya bahkan dalam memberikan kalimat-kalimat pujian dan mengucapkan kalimat-kalimat positif. Ini menjadi bahan renungan pada diri kita sendiri, mari kita tanyakan ke diri sendiri seberapa sering kita mampu melakukannya?

Mungkin kita sering mendengar istilah anak itu seperti kertas putih yang kosong ketika pertama kali dilahirkan, tinggal bagaimana kita sebagai orang dewasa mampu mengarahkan. Anak pada dasarnya belum tahu apa-apa. Dia pun tak meminta dilahirkan dalam keadaan keluarga yang tak lengkap. Dia hanya butuh kehadiran orang yang memperhatikan, dan orang yang mampu memberikan curahan kasih sayang untuknya.

Jika di dalam rumah belum dia dapatkan, anak pasti akan berpikir dia harus menemukan dan dapat mengambil bentuk kasih sayang dari yang lain. Seperti mengekspresikan dirinya ke dalam cara yang orang dewasa anggap kurang baik (menjadi  anak nakal). Itu dia lakukan hanya sekedar untuk mendapatkan sebentuk perhatian dan kasih sayang.

Baginya, dengan dia berbuat nakal maka guru akan mendekat kepadanya, mau menyapa dan berbicara padanya. Dengan label nakal tersebut dia merasa mendapatkan perhatian. Guru akan sering memanggilnya, dan dekat-dekat berada di sisinya. Sehingga timbul di benaknya,

“oh jadi dengan berbuat itu, dengan aku nakal, guruku akan terpusat perhatiannya padaku”.

Atau,

“Mengapa ya kalau saya bisa membaca satu kalimat, guru tidak mau memuji saya? Padahal, susah payah saya berjuang untuk selalu berlatih mengeja huruf per huruf, kata demi kata“

Pertama kali saya hadir sebagai konsultan relawan di salah satu sekolah di daerah Bengkulu Utara sangat kaget, karena hampir semua guru bercerita anak-anak disini hampir semua nakal-nakal.
“Saat belajar saja tidak mau memperhatikan pak, sukanya main-main.“ Perlu kesabaran dan perhatian yang sangat ekstra terhadap anak-anak seperti ini gumam saya dalam hati. Namun saya percaya jika kita terus menciptakan suasana yang positif, mampu berkawan dengan mereka, dan mampu membangun kedekatan dengan mereka bukan hal mustahil mereka akan berubah.

Berangkat dari cerita tersebut saya coba untuk sering-sering mendekati peserta didik, memberikan berbagai macam permainan. Tanpa ragu saya yang memulai dan duduk bersama mereka ketika mereka sedang beristirahat atau sedang kumpul-kumpul. Saya coba pandang kedua matanya.

Menciptakan pola pendekatan terhadap peserta didik bukanlah hal yang mudah perlu ketekunan dan perubahan pola pikir yang berbeda, apa lagi di daerah masih saja ada guru yang beranggapan biarlah anak orang lain ini, untuk apa kita mati-matian mencurahkan segala perhatian yang kita punya kepadanya. Ahhhh,,, tak habis pikir saya, kok masih saja ada seorang guru yang berpikiran seperti itu.

Beberapa bulan saya disini hampir setiap hari mata saya tertuju kepada sosok anak bernama  Prawira namun anak-anak disini sering memanggilnya dengan sebutan cilik. Dia adalah siswa anak kelas 3 yang terkenal sangat sulit diatur. Cilik terkenal anak yang tidak mau menulis bahkan membaca dan berdiam diri di kelas pun ia enggan.

Suatu ketika anak kelas 3 mendapatkan tugas untuk menulis, namun cilik seperti biasanya tidak mau menulis dah bahkan sering berlari-lari ke luar kelas. Saat cilik melakukan hal seperti ini dan dia tak mau menulis, sering terdengar ucapan dari guru, “ Masa seperti itu saja tidak mau, susah sekali kamu ini untuk belajar”. Kalimat yang menusuk hatinya secara bertubi-tubi pada cilik. Semestinya, perhatikan lebih baik anak, cari tahu mengapa dia tidak mau menulis, adakah kesukaran yang dialaminya?

Mari biasakan mendekati siswa, berjalan ke arahnya, duduk disampingnya dan menanyakan tentang kesehariannya dan apa yang kita bisa bantu terhadapnya. Jangan gengsi untuk melemparkan pujian kepadanya atas segala yang sudah dia kerjakan, sampaikan padanya, “Hebat, kamu Nak, bapak bangga terhadapmu.” Bila dia tetap seperti itu dan tidak mau, berikan sentuhan lembut di kepala atau pundak sang anak. Ajak dia untuk menjadi kawan atau sahabat kita.

Terus berikan usapan lembut di kepala dan bahunya. Juga sampaikan selalu kalimat positif kepadanya. Sebagai seorang pendidik carilah terus sisi baik yang dimiliki anak itu, tentu ada dan pastinya banyak sekali. Karena itu adalah tugas kita, dengan kemauan dan kemampuan sebagai pendidik, kitalah yang berhak mendidik dengan penuh kasih sayang siswa. Sentuhlah siswa dengan hati dan lakukan semuanya dari hati karena apa yang berawal dari hati maka akan kembali ke hati.

Kontributor Adi Setiawan – Kawan SLI Bengkulu Utara

Tak Ayal Jika Disebut Pahlawan Tanpa Tanda Jasa

Meski terlihat sangat sederhana, menjadi seorang guru bukan pekerjaan yang mudah. Guru memegang amanah besar dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, yang mana tugas utamanya adalah mengajar, mendidik dan melatih. Anak-anak yang diajar, dididik dan dilatih pun merupakan anak2 yang memiliki perbedaan, baik itu terkait sifat, karakter, kebiasaan maupun cara belajar dan lain sebagainya. Tentu ini bukanlah pekerjaan yang mudah bagi seorang guru apalagi jumlah siswa yang dihadapi tiap hari itu bukan 3-4 orang, tapi ada puluhan siswa.

Dalam perjalanannya pun guru terkadang menghadapi berbagai tantangan hidup yang dapat menyurutkan semangat dedikasi mereka, seperti jarak sekolah yang jauh dari rumah dengan kondisi jalan yang rusak parah, insentif yang tidak sepadan dengan perjuangannya, fasilitas penunjang belajar mengajar yang sangat minim, sampai pada masalah2 lainnya yang menguras banyak energi dan materi.

Tapi semua rintangan tersebut sama sekali tidak menghalanginya untuk terus menebar ilmu. Seperti kisah pengabdian guru yang satu ini.

Ibu Asifah nama lengkapnya, disapa ibu ifa oleh teman guru dan muridnya sebagai panggilan keakraban. Beliau adalah wanita paruh baya kelahiran sulawesi yang sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi dan menebar benih kebaikan di MIAS filial Sungai Batang, skarang beliau menjabat sebagai wali kelas 3.

Sebelum sekolah punya gedung sendiri beliau menggelar pendidikan dibawah kolom rumah warga. Beliau mengaku, sempat mentadapat teguran dari pihak kemenag karna aksinya tersebut. Namun proses pembelajaran itu terus beliau lanjutkan demi kebutuhan pendidikan anak-anak yang ada di dusun sungai batang.

Setelah 2 tahun beliau mengajar dibawah kolom rumah bersama dengan sang suaminya, akhirnya beliau berdua bertekad untuk mendirikan sebuah sekolah. Berbagai cara dilakukan oleh sepasang suami istri ini agar dapat mendirikan sekolah yang mereka cita-citakan, akhirnya pada tahun 2006 beliau diberikan rezeki dan kekuatan oleh sang ilahi hingga mampu mendirikan sebuah sekolah. Meskipun sekolah tersebut terbangun seala kadarnya, tapi beliau merasa sangat bahagia karna memiliki tempat yang dapat menampung anak-anak untuk belajar.

Ketika ditanya oleh kawan SLI tentang hal yang melatar belakangi semangat aksinya tersebut, beliau menjawab. ” saya tidak mengharapkan gaji, saya hanya berharap agar anak-anak disini mendapatkan pendidikan seperti anak-anak ditempat lain.” Andaikan saja dulu saya berhenti mengajar saat ditegur oleh pihak kemenag, saya tidak tahu gimana nasib anak-anak hari ini, lanjutnya.

Sampai hari ini, ibu Asifah hanya mendapatkan insentif Rp. 200.000 per tiga bulan, jika dipikir-pikir apa yang beliau peroleh itu sangat tidak sesuai dengan jerih payahnya selama ini. Mungkin bagi orang lain mereka lebih memilih pekerjaan lain daripada menjadi seorang guru, yah mereka beralasankan insentif guru tidak bisa mencukupi biaya kehidupan sehari- hari. Tetapi hal itu tidak terjadi kepada semua orang, buktinya masih banyak juga orang yang menginginkan menjadi seorang guru, seperti halnya dengan Ibu Asifah.

Bukan cuma itu, jarak dari rumahnya ke sekolah adalah lebih dari 1 kilo. Setiap pagi beliau harus berjalan kaki untuk dapat menemui anak didiknya disekolah jika sang suami berhalangan mengantarnya. Jalanan yang dilewati pun bukan aspal, tapi masih berupa jalan tanah. Tidak heran ketika hujan turun beliau harus membuka alas kakinya agar dapat berjalan karna jalanan licin dan berlumpur.

Tak peduli jalan licin dengan lumpur setinggi mata kaki, ibu Asifah terus melangkahkan kakinya untuk tetap menebar ilmu kepada anak didiknya.

Mari kita renungkan bagaimana perjuangan ibu ini untuk murid- muridnya, dia rela mengorbankan waktu, tenaga, bahkan perasaan untuk kesuksesan muridnya. tanpa kenal lelah dia memberikan pasokan pengetahuan kepada muridnya. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk beristirahat, dia habiskan untuk memikirkan muridnya. Bahkan perasaanpun tak jarang dia korbankan, ketika ada murid yang membuatnya marah, dia bersabar menghadapi itu semua, dia balas kelakuan muridnya dengan untaian- untaian nasihat.

Ada banyak sekali kisah – kisah guru inspiratif dan bermanfaat bagi kita tentang perjuangannya dalam mendidik. Kita pun dapat menjadi bagian dari cerita yang akan selalu dikenang oleh lain. Saya mengajak kepada semua guru untuk sama-sama mengukir cerita indah yang akan mengharumkan nama kita lewat perjuangan dan pengorbanan kita dalam menebar benih kebermanfaatan kepada anak didik kita.

                                                                                                                                          Kontributor : Anas Ardiansyah (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Menumbuhkan “Dongeng” Kepada Anak-Anak di Kabupaten Bima

Dongeng merupakan bentuk cerita trasional yang memuat tentang nilai-nilai kehidupan yang sekarang sudah mulai ditinggalkan. Dulu, dongeng sangat digemari oleh anak-anak sebab dalam dongeng memuat tentang cerita kehidupan seorang raja, petualangan atau kerja keras anak muda yang dapat menginspirasi anak-anak dan memotivasi anak-anak untuk lebih semangat dalam mengapai impian ataupun berbuat baik dalam kehidupan. Namun karena pengaruh perubahan zaman yang cukup cepat sehingga dongeng mulai dilupakan bukan hanya dikalangan anak-anak namun dikalangan orangtua pun dongeng tidak pernah lagi diperkenalkan kepada anak sehingga banyak anak-anak yang tidak tau tentang cerita rakyat yang penuh dengan nilai dan makna kehidupan. Anak-anak sekarang banyak disuguhi oleh tontonan atau cerita yang dapat merusak pola pikir dan perilaku mereka.

Kejadian tersebut tidak menjadi suatu alasan bagi seorang tenaga pendidik salah satunya guru untuk tidak memperkenalkan atau menerapkan metode dongeng kepada siswa-siswinya di dalam kelas. Hal itu dilakukan oleh ibu Esa, guru kelas II di SDN Inpres Tenga, Kecamatan Woha, Kabupaten Bima. Ibu Esa merupakan guru model kelas II dimana SDN Inpres Tenga merupakan salah satu sekolah dampingan Sekolah Literasi Indonesia Dompet Dhuafa di Kabupaten Bima. Selama didampingi, ibu Esa sudah banyak perubahan yang beliau lakukan mulai dari kelas yang sempit dan penataan kelas yang krang baik sekarang kelas ibu Esa merupakan kelas yang cukup menarik. Tidak sampai disitu, metode-metode pembelajaran mulai diterapkan oleh ibu Esa  dalam proses KBM salah satunya adalah “Dongeng”, dengan berdongeng perilaku siswa-siswa didalam kelas cukup berbeda dimana seluruh siswa memperhatikan dan mendengarkan dengan baik cerita ibu Esa tentang si ayam dan si ikan, ditambah dengan alat peraga yang mendukung cerita ibu Esa maka ketika ibu Esa mengajukan pertanyaan kepada siswa, semua siswa berebut untuk menjawab. Itulah salah satu metode tradisional namun bisa membius anak-anak untuk mau mendengarkan cerita-cerita yang sarat akan makna dan menumbuhkan karakter baik kepada anak-anak. Maka, harapannya semoga semakin banyak tenaga pendidik yang selalu berinovasi sehingga dapat menginspirasi dan memotivasi siswa untuk menjadi generasi emas yang berkarakter mulia.