Temnas I KOMPARASI: Tujuh Konsep Mengaqilkan Anak Belum Balig yang Pengasuh Asrama Harus Tahu!

Temnas I KOMPARASI: Tujuh Konsep Mengaqilkan Anak Belum Balig yang Pengasuh Asrama Harus Tahu!

 

 

Bogor – Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temnas I KOMPARASI ajak 230 pengasuh asrama selami fenomena legalitas remaja melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig” bersama Adriano Rusfi, Psikolog,

 

 

Merujuk pada literatur psikologi abad ke-19 tak ada istilah masa remaja (adolescence), karena masa remaja adalah produk abad ke-20 di mana lahir generasi dewasa fisik (balig) namun tak dewasa mental (aqil). Fenomena ini menciptakan fenomena legalitas remaja, seolah-olah anak dibiarkan berlama-lama menjadi anak-anak. Maka, lahirlah generasi yang matang syahwatnya, tetapi tanpa kematangan akal.

 

 

Komunitas Pondok Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) dalam Temu Nasional (Temnas) I KOMPARASI mengajak 230 pengasuh asrama mendalami fenomena ini melalui “Strategi Mengaqilkan Anak yang Sudah Balig Namun Belum Aqil” bersama Adriano Rusfi, Psikolog, yang dilaksanakan Minggu (01/12), di Aula Sinar Cendekian Boarding School, Telaga Sindur, Bogor.

 

 

“Karena masih remaja dan dianggap belum dewasa maka usia remaja dianggap belum matang dan masih belum bisa menentukan sikap hidupnya,” ujar Adriano. Ia menambahkan jika saat ini banyak pemuda sudah balig tapi belum akil. ”Inilah tugas penting seorang pengasuh asrama untuk membimbing siswa binaannya agar mampu berpikir lebih matang, mandiri, dan bisa bertanggung jawab dengan hidupnya,” tegasnya.

 

 

Fenomena legalitas remaja tersebut menimbulkan banyak kerancuan di publik, salah satunya jika pemuda berusia tujuh belas tahun sudah mampu berbuat kejahatan, tetapi karena usianya, status hukumnya masih masuk dalam kategori anak-anak. Menurut Adriano dalam Islam seseorang sudah memasuki tahap balig maka ia dianggap telah dewasa.

 

 

“Ketika pemuda telah balig seharusnya ia dididik sebagai manusia dewasa, sesuai usianya. Hanya saja umat Islam ikut latah dengan pembenaran atas keliru didik yang fatal ini,” ujar Adriano.

 

 

Adriano menjelaskan, pengasuh asrama memiliki tugas besar membawa kehidupan siswa sekolah berasrama dan pondok pesantren kepada situasi ideal. “Pengasuh asrama disarankan tak hanya mencari sumber masalah (trouble shooting), tapi juga sebagai pemecah masalah (problem solving) melalui pendekatan terbaik,” jelasnya.

 

 

Dalam pemaparannya Adriano mengonsep tujuh hal yang dapat dilakukan pengasuh asrama sebagai strategi mengaqilkan anak balig  antara lain

  • Jangan menganggap periode remaja sebagai keniscayaan, karena remaja adalah produk kebudayaan,
  • Didiklah anak-anak menjadi dewasa bukan setengah dewasa, melalui pendekatan diskusi
  • Didik mereka bertanggung jawab atas perbuatan mereka menggunakan pendekatan consequential learning,
  • Libatkan mereka dengan permasalahan hidup; jangan sterilkan mereka dari hidup dan perjuangannya
  • Besarkan mereka di tengah realitas untuk memecahkan masalah
  • Didik mereka belajar untuk mencari nafkah, walaupun hanya sekadar menambah uang jajan,
  • Ajari mereka berorganisasi, berempati terhadap problematika sosial, dan berpikir untuk menemukan solusinya.

 

 

“Anak bukan makhluk bodoh, belajar terpenting bagi mereka ialah belajar menjadi dewasa. Latih mereka dan jadikan asrama tempat berkehidupan,” tutupnya. (AR)

 

 

KOMPARASI Ajak Pengasuh Asrama Melek Penyimpangan Seksual Anak Usia Balig

KOMPARASI Ajak Pengasuh Asrama Melek Penyimpangan Seksual Anak Usia Balig

 

 

Bogor – Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) menggelar Temu Nasional (Temnas) KOMPARASI untuk minimalisasi permasalahan penyimpangan seksual pada anak usia balig dengan mengundang dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK dokter Spesialis Kulit dan Kelamin merangkap Aktivis Profesional Independen.

 

 

Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) menggelar Temu Nasional (Temnas) KOMPARASI perdana setelah sepuluh tahun komunitas pengasuh asrama se-Indonesia ini digagas oleh SMART Ekselensia Indonesia. Sebanyak 230 peserta dari beragam sekolah berasrama dan pondok pesantren di Indonesia mengikuti perhelatan akbar tahunan ini guna meningkatkan kapasitas mereka sebagai pengasuh asrama.

 

 

Tema Transformasi Pengasuhan: Membangun Generasi Peradaban menjadi acuan mencari solusi terhadap permasalahan di asrama. “Di asrama banyak problematika yang membutuhkan solusi terbaik, karena itulah KOMPARASI dihelat agar para pengampu asrama bisa memberikan paradigma baru tentang pengasuhan kepada pengurus asrama lainnya,” kata Hodam Wijaya, Ketua KOMPARASI.

 

 

Hodam mengungkapkan jika salah satu masalah yang ditakutkan terjadi di dalam asrama ialah terjadinya penyimpangan seksual pada anak usia balig. Supaya para pengasuh asrama lebih melek dan bisa minimalisasi permasalahan ini KOMPARASI mengundang dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK., dokter Spesialis Kulit dan Kelamin merangkap Aktivis Profesional Independen.

 

 

“Manusia diciptakan hanya dua jenis kelamin laki laki dan perempuan, derajatnya sama hanya tugasnya yang berbeda,” kata sosok tegas yang dipercaya sebagai Saksi Ahli di Mahkamah Konstitusi untuk Pasal Permisifitas Seksual. Dokter Inong juga mengkritisi maraknya situs-situs porno di internet, menurutnya situs-situs porno menyumbang terjadinya penyimpangan seksual. “Sudah saatnya para pengasuh asrama melek internet, jangan sampai dikelabui oleh siswa binaan. Saya sangat berharap agar ada langkah nyata berupa pemblokiran terhadap seluruh situs porno yang saat ini ada di dunia maya,” ujar dokter Inong, sapaan akrabnya.

 

Perilaku menyimpang pada anak usia balig disinyalir mampu mengakibatkan penurunan moral, harkat, dan martabat pelakunya dalam kehidupan individu hingga sosial. “Bagaimanapun perilaku menyimpang bernama LGBT harus diatasi, tugas para pengasuh asramalah untuk bisa meminimalisasi terjadinya penyimpangan melalui langkah-langkah khusus,” tambahnya.

 

 

Dalam materinya Inong memamparkan langkah khusus agar para pengasuh asrama bisa menerapkan pencegahan dini terjadinya penyimpangan seksual di sekolah berasrama dan pondok pesantren.”Ada lima cara yang bisa pengasuh asrama lakukan agar penyimpangan seksual. Pertama cari penyebab terjadinya penyimpangan seksual, jelaskan akibat penyimpangan seksual kepada siswa binaan, bentuk pencegahan terjadinya penyimpangan seksual dengan melakukan kegiatan positif bersama, cari indikator anak mengalami penyimpangan seksual, dan pahami penanganan anak yang terindikasi penyimpangan seksual,” tutupnya. (AR)

 

 

Tingkatkan Kompetensi Pengurus Asrama se-Indonesia, KOMPARASI Gelar TEMNAS I KOMPARASI

Tingkatkan Kompetensi Pengurus Asrama se-Indonesia, KOMPARASI Gelar TEMNAS I KOMPARASI

 

 

Bogor – Membangun generasi peradaban, Komunitas Pengasuh Asrama se-Indonesia (KOMPARASI) ajak pengasuh asrama dari berbagai pondok pesantren dan sekolah berasrama se-Indonesia ambil bagian guna tingkatkan kompetensi mereka dalam pengasuhan.

 

Pondok pesantren dan sekolah berasrama kini sudah menjadi bagian dari sistem pendidikan di Indonesia. Pondok pesantren sendiri telah ada sejak abad ke enam belas dan memiliki kurikulum serta sistem pembelajaran sendiri, banyak tokoh pendiri bangsa lahir dari sistem pendidikan pondok pesantren. Sementara sekolah berasrama muncul pada pertengahan 1990-an sebagai upaya mengawinkan pendidikan umum dan pesantren. Baik pondok pesantren dan sekolah berasrama berupaya memadukan antara kehangatan keluarga dan suasana Islami.

 

“Salah satu bagian penting dan ujung tombak dalam proses pendidikan di pondok pesantren dan sekolah berasrama adalah kehangatan pengasuhan oleh wali asrama. Merekalah pengganti peran orang tua bagi siswa, peran yang begitu besar dan strategis,” kata Hodam Wijaya, Ketua KOMPARASI.

 

Menurut Hodam membentuk generasi unggul yang mampu membangun peradaban pendidikan bisa dimulai dari rumah, hanya saja untuk anak-anak yang mengenyam pendidikan di sekolah berasrama atau pondok pesantren pihak sekolah perlu memberikan contoh baik dari karakter orang tua. “Di dalam sekolah berasrama seorang wali asrama wajib menciptakan suasana kekeluargaan sehingga kedekatan bisa terbangun, dan anak-anak yang jauh dari orang tua bisa merasakan kasih sayang orang tua mereka. Namun bagian ini tidak begitu mendapatkan perhatian yang serius di beberapa pondok dan sekolah berasrama,” tambahnya

 

.

Sebagai upaya membangun generasi peradaban serta menciptakan ikatan yang kuat antara wali asrama dan siswa, KOMPARASI menghelat Temu Nasional (TEMNAS) I KOMPARASI di Sinar Cendekia Boarding School, Gunung Sindur, Jawa Barat. Mengusung tema Transformasi Pengasuhan: Membangun Generasi Peradaban, selama dua hari (30/11-01/12) 230 peserta dari berbagai pondok pesantren dan sekolah berasrama se-Indonesia ambil bagian guna meningkatkan kompetensi mereka dalam pengasuhan.

 

“Kami memfasilitasi peserta dengan berbagai bentuk kegiatan supaya insight seputar dunia pengasuhan semakin kaya, kegiatannya antara lain kajian pengasuhan bersama pakar di bidangnya, lokakarya pengasuhan bersama pembicara yang berpengalaman, dan diskusi ringan terkait persoalan pengasuhan termasuk di dalamnya solusi serta ide-ide baru terkait pengasuhan,” jelas Hodam.

 

 

Selain menggelar ragam kegiatan mumpuni, TEMNAS I KOMPARASI juga menekankan pada kompetensi peserta dengan mengundang Drs. Adriano Rusfi, S.Psi., Dr. Adian Husaini, dr. Dewi Inong Irana, Sp.KK.; Fitria Laurent, Founder Sahabat Edukasi; dan Aang Hudaya, Co-founder Gema Rapi bahasa.

 

“Meski TEMNAS I KOMPARASI baru dilaksanakan perdana, tapi kami yakin mampu menciptakan konsolidasi dan revitalisasi para pengasuh asrama se-Indonesia. Ini menjadi solusi terhadap permasalahan di asrama karena para pengampunya bisa memberikan paradigma baru tentang pengasuhan kepada pengurus asrama lainnya,” tutup Hodam. (AR)

KAWAN SLI: Menjadi Guru Merupakan Tugas Mulia Namun Sulit

KAWAN SLI: Menjadi Guru Merupakan Tugas Mulia Namun Sulit

Pada Jumat (29/11) Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) Angkatan 3 penempatan Bima mengikuti upacara dalam memperingati HUT PGRI ke-74,  HUT Korpri ke-48 dan Hari Ikan Nasional ke-6 di Lapangan Kantor Bupati Bima. Upacara juga diikuti oleh kapolres bima,  danrem kabupaten bima, kadis dikbudpora kabupaten bima,  para eselon, kepala UPT tiap kecamatan, kepala sekolah, dan guru sekolah dasar di Kabupaten Bima.
Sebelum memulai upacara yang dilaksanakan di SDN  Kecamatan Palibelo, siswa siwi SDN PANDA menampilkan sebuah tarian untuk menghibur para tamu undangan.  Bupati bima sebagai pembina upacara menyampaikan amanat Presiden Republik Indonesia untuk HUT KORPRI “Terima kasih kepada Korpri yang sudah berjuang dipelosok negeri,  wilayah terisolasi dan terdepan untuk kemajuan bangsa”.
Indah Damayanti Putri, KAWAN SLI, menyampaikan kutipan dari Nadiem Makarim, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, bahwa menjadi guru merupakan tugas mulia namun sulit. “Guru membentuk masa depan bangsa, tetapi banyak aturan bukan pertolongan, dan lebih banyak mengurus administrasi sekolah,  di sisi lain kurikulum menutup pintu petualangan sehingga anak tidak bisa belajar di lingkungan sekitar. Perubahan berawal dan berakhir dari guru, jangan tunggu aba-aba dan perintah, lakukan perubahan di kelas, lakukan perubahan kecil di kelas yaitu ajak siswa berdiskusi di dalam kelas bukan hanya mendengar, berilah kesempatan siswa mengajar di kelas, cetuskan proyek bakti sosial yang melibatkan semua kelas,temukan bakat murid yang kurang percaya diri dan tawarkan bantuan kepada guru yg kesulitan. Jika kita melakukan hal ini kapal besar yang bernama Indonesia akan bergerak,” paparnya.
Setelah pelaksanaan upacara, KAWAN SLI didampingi kepala UPT Kecamatan Belo bertemu dengan orang nomor satu dan paling berpengaruh di Bima yaitu bupati dan wakil bupati Bima untuk bersilaturahmi dan memperkenalkan program dari SLI.
“SLI merupakan program dari Dompet Dhuafa Pendidikan yang bertujuan mewujudkan sekolah model berkualitas yang berkonsetrasi pada peningkatan kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah dengan kekhasan literasi melalui pelatihan kepala sekolah,  pendampingan, dan konsultasi selama setahun dan enam bulan pertama untuk sembilan sampai dua belas SD,” tutur KAWAN Darfin.

KOMED Tantang Guru Kreatif Bandung Ikuti Lomba Cipta Media Pembelajaran Nasional

KOMED Tantang Guru Kreatif Bandung Ikuti Lomba Cipta Media Pembelajaran Nasional

 

 

Kreativitas sangat dibutuhkan guru di era milenial agar kegiatan belajar mengajar di kelas lebih menarik dan menyenangkan, banyak hal dapat dilakukan salah satunya melalui pengembangan media pembelajaran. Dengan memanfaatkan bahan bekas berharga murah, guru dapat mengasah kreativitas siswanya melalui ragam permainan sambil belajar.

 

 

“Kreativitas harus bisa mendorong dan memotivasi guru memperbaiki kualitas pengajaran, melalui media pembelajaran guru memiliki alternatif murah untuk memaksimalkan kegiatan belajar mengajar,” ujar Nurul Aeni, Supervisor Komunitas Guru Media Pembelajaran (KOMED).

 

 

KOMED ialah wadah bagi guru kreatif yang ingin memantapkan sistem pembelajaran melalui medium media pembelajaran. Sejak 2014 KOMED telah memberikan pelatihan, lokakarya, pembelajaran daring (online), dan riset media pembelajaran untuk para guru di Malang, Bandung, Yogyakarta, Banten, Jabodebek, Indragiri Hulu, dan Lampung. Meningkatkan keterampilan, membuat inovasi, serta menuntasan masalah kegiatan belajar mengajar di sekolah masing-masing menjadi sasaran utama KOMED.

 

 

 

Sebagai bentuk apresiasi kreativitas guru di seluruh Indoesia, pada Sabtu (23/11) KOMED kembali menggelar Lomba Cipta Media Pembelajaran Nasional di Kota Bandung, Jawa Barat, setelah sukses dengan kegiatan serupa di Banten dan Bogor. Perhelatan akbar ini diikuti enam puluh guru kreatif dari berbagai sekolah, mereka siap bersaing menyabet media pembelajaran terbaik.

 

 

“Tahun ini kami mengusung tema ”Guru Kreatif Kunci Pembelajaran Aktif” sebagai pemecut semangat supaya para guru bisa terus mengasah kemampuannya,” kata Nurul. Selama kurang lebih dua jam para peserta akan membuat ragam media pembelajaran seperti board game, APE, flash card, dan media sederhana/digital dari bahan-bahan bekas yang telah disiapkan. Menurut Nurul hasil karya para guru harus bermanfaat untuk guru lainnya, terutama guru di daerah marginal.

 

 

”Banyak hal harus guru perhatikan ketika membuat media pembelajaran mulai dari Rencana Pembuatan Media Pembelajaran (RPMP) secara sistematis dengan bahasa yang mudah dimengerti dan harus sesuai prinsip ACTTION (Acces, Cost, Target, Technology, Interactive, Organization dan Novelty). Semua tahapan harus diikuti sebaik mungkin karena berpengaruh terhadap hasil serta penggunaannya di lapangan,” tandasnya.

 

 

Media pembelajaran karya peserta akan dipresentasikan di depan juri, presentasi tersebut menjadi penentu keunggulan media pembelajaran ketika di praktikkan di lapangan. “Motivasi tertinggi di sekolah ada di tangan guru, kami yakin dengan hadirnya KOMED para guru sanggup memperbaiki kualitas pengajaran melalui media pembelajaran,” tutup Nurul. (AR)

KAWAN SLI: Saatnya Menggelorakan Semangat di Kabupaten Asahan

KAWAN SLI: Saatnya Menggelorakan Semangat di Kabupaten Asahan

Oleh: Luthfia Azmi O. Nasution (KAWAN SLI angkatan 3 penempatan Kabupaten Asahan)

 

Silaturahmi, Meminta Saran,  Urusan Dimudahkan

Seminggu telah dilalui  Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) Asahan, sejak lokakarya yang digelar pada Rabu lalu, (06/11) di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten Asahan, belum ada satu sekolahpun yang mengembalikan formulir pendaftaran. Beberapa upaya telah dilakukan, dari pembuatan brosur, dilempar di grup WA, dibagikan pada grup Kementrian Agama (Kemenag)  Kabupaten Asahan, Dinas Pendidikan, dan Koordinator Wilayah (Korwil) kecamatan, masih belum juga membuahkan hasil.

 

 

 

KAWAN SLI Asahan mulai merasakan kekahawatiran, “Waktu kita tersisa lima hari lagi hingga batas waktu pengumpulan formulirnya, apa yang bisa kita lakukan?” tanya KAWAN Alivia, kepada tim SLI Asahan.

 

 

 

Jadwal yang kami buat untuk dapat menjumpai sekretaris dinas dan kasi madrasah cukup menantang, pada hari yang telah diagendakan mendadak  diundur karena satu dan lain hal Kondisi ini sempat membuat KAWAN SLI merasa bimbang.

 

 

 

“Bagaimana kalau kita ke UPT Air Joman saja?” usul KAWAN Luthfia sembari berkoordinasi via WhatsApp (WA) kepada Korwil Air Joman dan korwil Silau Laut. “Oke, tidak ada pilihan guys, semua yang terjadwal hari ini telah  dibatalkan,” jawab KAWAN Nisa, seusai berkoordinasi via WA kepada pihak Dinas dan Kemenag sembari terus mengajukan  jadwal pertemuan yang baru.

 

 

 

Pertemuan dengan Zul Panjaitan, Korwil Air Joman di UPT Air Joman menghadirkan solusi baru bagi kemajuan program. “Begini saja, besok akan ada pertemuan untuk koordinasi wilayah Air Joman yang menghadirkan seluruh kepala sekolah dan para pengawas. Bagaimana kalau Tim SLI langsung memberikan penguatan kepada semua peserta, biar jelas urusannya. Jika perlu saya bantu menghubungi korwil Silau Laut untuk mengumpulkan seluruh kepala sekolah di wilayahnya,” usul Zul Panjaitan yang disambut antusias ketiga KAWAN SLI Asahan. Angin segar dari korwil Air Joman membuat semangat KAWAN SLI Asahan  bergelora kembali.

 

 

 

“Karena, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya, sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (QS al-Insyirah: 5-6).

 

 

 

Allah tidak lama-lama membuat kami bimbang, siang itu juga pihak Dinas Pendidikan dan Kemenag memberi kepastian jadwal pertemuan baru. Iya esok pagi! Antara senang dan berdebar kami dibuatnya.

 

 

 

 

Misi Kunjungan “Menjemput Bola” Dilakukan

Alhamdulillah jadwal kami mulai jelas. Kami mulai membagi tugas di tiga wilayah. UPT Air Joman ditangani KAWAN Luthfia, UPT Silau Laut oleh KAWAN Nisa, dan Dinas Pendidikan dan Kemenag disanggupi KAWAN Alivia. Pembagian peran dan tugas ini telah kami bahas matang-matang, hanya saja ada tantangan baru muncul yakni cara menjangkau lokasi pertemuan. Di sini moda tarnsportasi sangat jauh berbeda dengan di kota besar, di Kabupaten Asahan tidak ada transportasi umum selain becak motor, itupun jumlahnya terbatas dan biaya perjalanan setiap harinya cukup menguras dompet kami. Satu kali perjalanan dari Kecamatan Air Joman Ke Dinas Pendidikan di Kota Kisaran dikenakan biaya Rp40.000, pulang dan pergi walaupun seorang diri, sedikitnya uang selembar Rp100.000 hanya menyisakan Rp20.000 atau bahkan tidak sama sekali. Jika terus begini bias-bisa uang kami hanya habis untuk ongkos bebek motor.

 

 

 

Kondisi di atas menuntut KAWAN SLI Asahan berpikir kreatif dengan mengesampingkan rasa sungkan, daripada tidak makan. Kami mulai melobi sana sini, dari berkunjung ke tetangga sejak pukul 06.30 demi meminjam motor, minta dibonceng ke Kota Kisaran menemui sekertaris Dinas Pendidikan dan kasi Madrasah Kemenag. Sementara KAWAN yang lain berharap pada korwil untuk menjemput ke lokasi.

 

 

 

Kehidupan memang telah ditetapkan porsinya, setiap kita akan diuji sampai titik terlemah. Allahul Hakiim, Maha Bijaksananya Allah pada hambanya, ternyata misi yang kami bawa Alhamdulillah selalu tepat sasaran. KAWAN Alivia sukses menghadapi ketidaknyamanan dan kekecewaan pihak Kemenag dengan hasil yang mendamaikan, KAWAN Nisa yang dihujani pertanyaan dengan bijak menjawab segala desakan dan tekanan “atas nama tim, semua layak dipertimbangan bersama.” Pertanyaan tentang pembebanan biaya, manfaat yang didapat sekolah, serta alur program pendampingan adalah salah satu pembahasan yang cukup menghangatkan ruang pertemuan pada wilayah Air Joman.

 

 

 

 

Refleksi Menuai Hikmah Pertemuan

Selama di sini banyak hikmah pertemuan bisa dipetik, misalnya KAWAN Alivia yang mampu mnghadapi orang marah dengan istighfar, tetap tersenyum, merendah dengan berterimakasih atas kritikan serta meminta maaf jika ada tindak tanduk kurang berkenan. Kalau KAWAN Luthfia beda lagi, ia merasa bahwa silaturahmi mempermudah urusan dan mampu mengesampingkan sungkan apalagi ketika harus meminta saran pada stakeholder terkait sehingga mereka merasa dilibatkan sampai menemukan solusi terbaik.

 

 

 

Sedangkan KAWAN Nisa menemukan jika keterbukaan itu penting, sehingga arah yang akan dilakukan jelas. “Pak Korwil Silau Laut sangat kooperatif, aku tidak harus menjelaskan di mana titik pengumpulan formulirnya, beliau langsung menyanggupi dan menyampaikannya ke forum. Ternyata keterbukaan itu penting teman-teman,” tambahkan KAWAN Nisa.

 

 

 

 

Alhamdulillah hari ini sembilan formulir sudah dikembalikan, semoga antusias para kepala sekolah untuk mengembangkan kualitas sekolah/madrasahnya terus menggelora. Semoga upaya KAWAN SLI Asahan menjemput bola mampu menyulut optimisme para kepala sekolah/madrasah mendaftarkan sekolah/madrasahnya pada program pendampingan SLI membuahkan hasil yang membahagiakan. Aamiiin

 

 

 

 

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi SLI Kulon Progo  

Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi SLI Kulon Progo

 

 

 

Salah satu hal fundamental atas keberhasilan suatu negara terletak pada proses pendidikan yang berkualitas. Adapun untuk melakukan peningkatan maupun perbaikan proses pendidikan tersebut memerlukan upaya bersama secara komprehensif. Oleh karena itu Dompet Dhuafa Pendidikan (DD Pendidikan) bersama Dompet Dhuafa Jogja (DD Jogja) melakukan sinergi dengan Disdikpora Kulon Progo (KP) serta Kemenag KP. Sinergi yang dilakukan berupa program dampingan bagi Sekolah Dasar (SD) maupun Madrasah Ibtidaiyyah (MI) untuk meningkatkan performa sekolahnya dengan kekhasan literasi.

 

 

 

Pada 2015 DD Pendidikan menginisiasi Sekolah Literasi Indonesia (SLI) guna memfasilitasi sekolah dengan ragam program melalui pendampingan oleh Konsultan Relawan (KAWAN). KAWAN SLI  telah mendampingi 68 sekolah yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia. Tahun ini SLI mengirimkan empat belas KAWAN ke lima wilayah berbeda, salah satunya Kulon Progo. Wilayah lain yakni Semarang, Jawa Tengah; Asahan, Medan; Bima, NTB; serta Halmahera Selatan, Maluku Utara.

 

 

 

Program KAWAN SLI sendiri akan berjalan selama dua semester di Kulon Progo. Program dampingan semester pertama diberikan kepada SD/MI yang berada di Kecamatan Wates, Sentolo, dan Pengasih. Sementara itu, semester kedua akan diberikan kepada SD/MI di kecamatan lain. Saat ini program SLI telah berjalan dua minggu. Sebelumnya, program diawali dengan kegiatan lokakarya yang bertema “Strategi Merancang Keunggulan Sekolah/Madrasah” di aula Menoreh Kemenag pada Rabu (6/11). Dihadiri lima puluh kepala sekolah/madrasah serta disaksikan oleh kepala Disdikpora KP dan kasie Dikmad Kemenag KP, lokakarya berjalan dengan sangat baik. Selain lokakarya pembukaan pendaftaran SLI KP juga resmi dibuka di akhir acara.

 

 

 

Adapun pengumuman hasil seleksi administrasi SLI KP dapat diunduh di sini. Selanjutnya, sekolah yang dinyatakan  lolos seleksi administrasi akan melalui seleksi lanjutan berupa observasi kondisi sekolah/madrasah, wawancara khusus dengan kepala sekolah/madrasah, dan Forum Group Discussion dengan seluruh guru.

 

 

 

Kemudian kepala sekolah/madrasah yang dinyatakan lolos seleksi lanjutan berhak mengikuti pembinaan intensif selama tiga bulan tanpa biaya. Setelah itu dua bulan selanjutnya kepala sekolah/madrasah melakukan implementasi hasil pembinaan dan berhak menerapkan konsep SLI di sekolah/madrasahnya, serta mendapatkan bimbingan selama masa pendampingan dari KAWAN SLI. Selain itu, sekolah/madrasah juga akan tergabung dalam jaringan nasional SLI.

 

 

 

KAWAN SLI Angkatan 3, Kulon Progo

Irfa Ramadhani & Wahyu Widiyawati.

KOMED Gelar Lomba Cipta Media Pembelajaran Nasional 

KOMED Gelar Lomba Cipta Media Pembelajaran Nasional

 

 

 

Sejak 2014 Komunitas Guru Media Pembelajaran (KOMED) telah memberikan pelatihan, lokakarya, pembelajaran daring (online), dan riset media pembelajaran untuk para guru guna meningkatkan keterampilan menciptakan inovasi pendukung menuntasan masalah KBM di sekolah masing-masing. Terbentuk sejak 2014 KOMED telah menelurkan guru-guru produktif serta kreatif di Malang, Bandung, Yogyakarta, Banten, Jabodebek, Indragiri Hulu, dan Lampung.

 

 

Sebagai bentuk apresiasi terhadap karya dan kreativitas para guru, KOMED mengadakan Lomba Cipta Media Pembelajaran Nasional yang dilaksanakan pada Sabtu (16/11) di Lembaga Pengembangan Insani (LPI) Dompet Dhuafa Pendidikan dan empat wilayah lain dengan waktu pararel, 50 tim dari PAUD/SD se-Indonesia siap unjuk gigi memamerkan media pembelajaran andalan mereka. Selama kurang lebih dua jam para peserta akan membuat ragam media pembelajaran seperti board game, APE, flash card, dan media sederhana/digital.

 

 

 

“Hasil karya para guru harus bermanfaat untuk guru lainnya, terutama guru di daerah 3T,” ujar Nurul, Supervisor KOMED. “Meski sederhana, tapi kami ingin ketika membuat media pembelajaran para peserta membuat Rencana Pembuatan Media Pembelajaran (RPMP) secara sistematis dengan bahasa yang mudah dimengerti, sesuai prinsip ACTTION (Acces, Cost, Target, Technology, Interactive, Organization dan Novelty), dan nantinya media pembelajaran yang dibuat akan dipresentasikan di depan juri. Dengan skala nasional kami ingin para peserta lebih serius membuat media pembelajaran,” tambahnya.

 

 

 

Menurut Nurul gelaran ini akan rutin diadakan setahun sekali agar para guru semakin kreatif membuat media pembelajaran sesuai kebutuhan.

 

 

“Kreativitas harus bisa mendorong dan memotivasi guru memperbaiki kualitas pengajaran melalui media pembelajaran, media pembelajaran merupakan alternatif murah untuk mengubah wajah pendidikan di Indonesia,” tandasnya. (AR)

Kedatangan KAWAN SLI, Pemerintah Halmahera Selatan Optimis Kualitas Pendidikan Membaik

Kedatangan KAWAN SLI, Pemerintah Halmahera Selatan Optimis Kualitas Pendidikan Membaik

 

Labuha – Pada Kamis (07/11) Konsultan Relawan (KAWAN) Sekolah Literasi Indonesia (SLI) beserta dua mahasiswa penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA) dan ketua bidang sekolah dasar dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Halmahera Utara menyambangi kediaman Chairudin, Asisten II Bupati Halmahera Selatan, untuk membicarakan program pendampingan sekolah yang akan dilaksanakan selama satu tahun. Pertemuan perdana ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus pengenalan program SLI di Labuha, Halmahera Selatan.

 

“Di pertemuan perdana ini kami dan teman-teman dari BAKTI NUSA juga meminta dukungan pemerintah Halmahera Selatan supaya kegiatan serta program KAWAN SLI dapat berjalan dengan baik,” ujar Cut Indah Putri, KAWAN SLI Angkatan 3 penempatan Halmahera Selatan.

 

Chairudin, mengatakan, jika pemerintah Halmahera Selatan menyambut baik dan memberikan dukungan kepada KAWAN SLI agar bisa bekerja sesuai tupoksi, ia juga berharap akan ada dampak yang baik serta signifikan terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Halmahera Selatan.

 

“Kami sangat terbantu dengan kedatangan KAWAN SLI, sinergi antara pemerintah dan lembaga sekelas Dompet Dhuafa Pemdidikan sangat diperlukan untuk mewujudkan tujuan pendidikan Nasional,” jelas Chairudin.

 

SLI merupakan salah satu program Dompet Dhuafa Pendidikan yang menitikberatkan kegiatannya dalam pendampingan sekolah. Selama mendampingi sekolah terpilih ada empat hal yang harus KAWAN SLI maksimalkan diantaranya mewujudkan sekolah berkualitas, peningkatan kepemimpinan sekolah, sistem pembelajaran, dan budaya sekolah berbasis literasi. Untuk mewujudkan semuanya KAWAN bertugas memberikan pelatihan dan pembinaan terhadap kepala sekolah dalam masa pendampingan. (Cut Indah Putri, KAWAN Angkatan 3, penempatan Halmahera Selatan)

 

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Perkuat Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang

Sekolah Literasi Indonesia (SLI) Perkuat Kolaborasi dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang

Semarang – Menguatkan kolaborasi, Sekolah Literasi Indonesia (SLI) kunjungi Dinas Pendidikan Kota Semarang pada Rabu (06/11) sebagai salah satu upaya penjajakan program SLI di Kota ATLAS (Aman, Tertib, Lancar, Asri dan Sehat) tersebut.  Abdul Khalim, General Manajer Sekolah Ekselensia Indonesia, mengatakan jika penjajakan ini merupakan salah satu cara SLI menyeleksi sekolah yang akan didampingi melalui perhelatan lokakarya di SDN  SendangMulyo 04.

“Selain mempererat silaturahmi, kedatangan kami ke Dinas Pendidikan Kota Semarang juga untuk melis sekolah-sekolah mana saja yang bisa kami bidik untuk didampingi. Program SLI menekankan kepada pengembangan sekolah dan manajemen di dalamnya sebab itulah dibutuhkan kolaborasi agar program ini berjalan dengan  baik,” terang Abdul Khalim. “Sekolah yang didampingi akan melewati proses seleksi terlebih dahulu, sekolah terpilih akan kami beritahukan di kemudian hari melalui kepala sekolah bersangkutan,” tambahnya.

Melalui program mumpuni di penempatan, KAWAN SLI Angkatan 3 ditugaskan mendampingi dan mengoptimalisasi sekolah terpilih di lima daerah yakni Medan, Semarang, Yogyakarta, Bima, dan Halamahera Selatan. Selama dua belas bulan KAWAN SLI akan membantu kepala sekolah meningkatkan performa sekolah dan sistem di dalamnya.

KAWAN SLI dituntut memiliki jiwa kepedulian tinggi terhadap pendidikan di pelosok negeri, sebelum turun ke penempatan mereka digembleng agar bisa menjalankan amanah membangun pendidikan di daerah dengan kesungguhan hati demi mewujudkan sekolah unggul dan hebat. (Yuyun Kurniawati, KAWAN SLI Angkatan 3, penempatan Semarang)