Penerimaan Tanpa Syarat

Oleh : Oki Dwi Ramadian

Kawan Penempatan Dusun Nunusan, Indragiri Hulu

Setelah sekian lama berada bersama murid-muridku di kelas jauh SDN 04 Rantau Langsat, tinggal bersama masyarakat yang ramah-ramah, serta keadaan alam yang memesona Akhirnya saya berada di kota lagi. Sebut saja begitu. Tempat di mana saya bisa mendapatkan curahan sinyal yang menyejukkan ponselku. Tempat di mana saya bisa mendapati kebisingan dan keramaian.

Berada di kota bukan berarti saya bisa santai-santai. Ada banyak sekali cobaan, eh urusan yang perlu saya lakukan. Salah satu urusan yang saya agendakan adalah menukar seragam pramuka milik dua orang muridku yang kekecilan. Semoga saja berhasil. Bayar juga tidak apa. Tukar tambah gitu ceritanya. Demi muridku apa sih yang tidak?

Jadi Dusun Nunusan itu adalah salah satu dari sekian banyak dusun yang berada jauh di dalam hutan belantara. Dusun ini termasuk di dalam kawasan Taman Nasional Bukit Tiga Puluh. Untuk mencapai sekolah dusun kami yang asri pembaca bisa menyewa perahu mesin yang disebut “boat” oleh penduduk sekitar. Istilahnya canggih ya? Ada Inggris-inggrisnya gitu. Dengan mengendarai boat kita bisa mencapai Dusun Nunusan setelah menempuh sekitar 4 jam. Alternatif lain adalah jalan kaki. Berani masuk hutan taman nasional yang hewan-hewannya ada banyak sekali?

Hari pertama saya tiba di Belilas tepatnya di kantor Dompet Dhuafa Indragiri Hulu saya habiskan dengan beristirahat. Penat juga rasanya perjalanan kurang lebih empat jam naik perahu boat, ditambah satu jam naik motor melewati jalan yang penuh goncangan ke Seberida untuk mengambil mobil ke Belilas lalu dua jam naik mobil ke Belilas. Sambil beristirahat saya mengatur agenda yang akan saya lakukan kedepannya serta menerima pesan whatsapp. Ternyata bukan hanya saya yang lelah, ponselku pun kelelahan menerima pesan-pesan yang masuk. Beberapa kali dia mati, tidak merespon, lalu baterainya habis.

Keesokan harinya dengan bismillah aku bawa dua setel seragam pramuka yang kekecilan itu. Berharap kedua muridku yang jelita akan memiliki seragam pramuka yang pas. Jarak dari kantor Dompet Dhuafa ke pasar tidak begitu jauh. Paling sepuluh menit jalan kaki. Cuacanya sedang terik, ah tidak masalah. Bukan masalah bagiku. Ada motor sih di kantor yang sangat boleh saya pakai. Namun tidak, saya lebih suka jalan kaki.

Perjalanan yang bermandikan cahaya matahari mengantarkan saya ke pintu masuk Pasar Rakyat Soegih Belilas lalu aku mengatakan dengan inilah saatnya menukar seragam pramuka itu. Di lantai satu saya menukan penjual kebutuhan pokok dan plastik. Instingku mengatakan penjual pakaian berada di lantai dua.

Saya naik di lantai dua lalu berbelok ke arah kiri. Ada banyak toko yang tutup tapi lebih banyak yang buka. Toko pertama yang kutawarkan “kerja sama” menujukkan gestur bersedia. Bahkan sempat bertanya bahwa bajunya mau ditukar sepatu? Tidak kataku meskipun muridku di Nunusan sana juga kekurangan sepatu tapi seragam pramuka ini hanya boleh ditukar dengan seragam pramuka juga yang lebih besar. Apalah daya Ibunya tidak menjual pakaian sekolah. Masuk akal pikirku. Dirinya menunjukkan menunjukkan lokasi toko penjual pakaian seragam sekolah. Katanya ada di ujung dekat tangga.

Benar juga pikirku. Setelah berbicara dengan Ibu di toko pertama Saya memutuskan untuk singgah hanya di toko penjual seragam sekolah. Agak jauh ke dalam eh saya bertemu dengan abang yang pernah saya temui waktu pengajian di Musala Mustaqim dekat kantor Dompet Dhuafa Inhu.Ternyata si abang jualan di pasar ini. Dirinya juga menunjukkan lokasi toko yang sama yang ditunjukkan Ibu di toko pertama. Oke langsung cuss ke toko yang dimaksud.

Sesampainya di sana saya bertemu dengan seorang Bapak yang sedang menunggu rezeki untuknya datang. Orangnya ramah. Membuka-buka lipatan seragam pramuka lalu bertanya sedikit. Namun sayang dirinya tidak bersedia untuk menukar seragam dua setel itu dengan seragam lain dengan ukuran lebih besar. Alasannya adalah karena seragam itu tidak dibeli kemarin di tempatnya. Saya lalu menjelaskan bahwa baju ini adalah baju bantuan untuk murid di Dusun Nunusan yang diberikan oleh orang baik. Dirinya lalu berpikir sebentar. Saya menangkap bahwa dirinya tidak tahu dusun itu berada di mana. Ya sudah mungkin toko lain. Bapaknya lalu melipat kembali seragam pramuka itu lalu dimasukkan kembali ke plastik yang sudak kucel sejak di perjalanan kemarin.

Kukira ada yang bersedia menukar seragam ini dengan seragam pramuka yang lebih besar untuk kedua muridku. Ternyata tidak. Semuanya tidak bersedia. Sebagian mengatakan stoknya masih ada dan tidak berniat menambah dahulu. Sebagian memberikan persyaratan yang sama jika ingin seragam itu ditukar yakni: kedua seragam ini sebelumnya harus dibeli di tokonya. Sulit kupenuhi persyaratan itu. Bahkan saya tidak tahu dari mana asal usul seragam-seragam ini.Meski begitu semuanya berusaha membantu dengan cara menunjukkan lokasi toko yang menjual seragam sekolah dekat tangga yag sudah aku datangi.

Hingga akhirnya setiap toko seragam sekolah pada bagian kiri dan kanan latai dua pasar ini telah kudatangi semua. Sayangnya, tidak ada yang bersedia menerima “unconditionally.” Semuanya memberikan syarat untuk jika saya ingin menukar seragam itu. Syaratanya tidak dapat kupenuhi jadinya saya pulang dengan membawa dua seragam pramuka yang masih berukuran mini. Saya telah berada di pintu bagian depan pasar. Saya turun ke lantai satu lalu ke luar menuju terik matahari dengan mengenakan jaket yang dominan berwarna hitam bertuliskan “Dompet Dhuafa.” Sinar matahari di kota yang dekat dengan garis khatulistiwa serasa meresap ke sanu bari yang dalam, hehe.

Sekolah kami memang jauh di tengah hutan belantara. Tinggal bersama Uwa Ungko, primata yang menyandang status endangered species yang sering berkeliaran di sekitar sekolah. Terkadang kami juga bertemu dengan Rafflesia hasseltii yang bau bunganya begitu busuk dan dapat mengganggu kami yang sedang belajar. Bantuan telah masuk ke dusun kami dan itu semua kami syukuri. Hanya saja, keadaan bantuan itu tidak selalu pas untuk kami. Terkadang tidak selalu cukup untuk kami. Terkadang ada yang kebagian ada yang tidak kebagian bantuan itu tapi kami bersyukur.

Dukalara hati guru dipedalaman yang membuahkan senyuman

Oleh: Munzir

Pendamping Sekolah Literasi Indonesia SDN 12 Sokop Lokal Jauh (Kepulauan Meranti)

 Salah satu Guru yang bernama ibu Riyati yang saat itu mengajar di Desa Repan Kecamatan Rangsang merasa prihatin atas pendidikan di Desa Sokop. Banyak anak-anak yang tidak bersekolah dikarenakan jarak sekolah yang sangat jauh dari rumah mereka. Ibu Riyati mulai membagi waktu antara mengajar dan mengurus keluarga demi anak-anak suku akit agar bisa sekolah layaknya perkotaan. Ibu Riyati pagi hari yang harus mengajar di Repan meluangkan waktu sorenya untuk mengajar anak-anak suku akit di Bandaraya Sokop.

Aktivitas tersebut dilakoni mulai tahun 2014 hinga sekarang. Bermula dari memanfaatkan balai pertemuan berwarna putih berukuran sedang, ibu Riyati mulai memanjakan anak-anak suku Akit dengan pelajaran sekolah dasar. Dengan pakaian tak menyerupai sekolah layaknya diperkotaan, anak-anak Bandaraya tak merasa malu. Rasa ingin belajar yang tinggi akhirnya memberi semangat tersendiri bagi ibu Riyati.

Ibu Riyati mengaku prihatin dan ikhlas tidak digaji waktu itu. Karena, ibu Riyati percaya jika sesuatu yang dilakukan karena Allah SWT pasti akan akan diberikan pula jalan terbaik oleh sang pencipta .

Aktivitas membagi waktu mengajar, pagi, sore dan waktu untuk keluarga dilakoni ibu Riyati selama lebih kurang 2 tahun, yaitu pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 sebelum ia ditetapkan sebagai pengelola sekolah lokal jauh yang terletak di Desa Sokop pada tahun 2016 sampai dengan sekarang.

“saya yakin kalau sudah ada yang buka Lokal Jauh pasti akan banyak yang akan membantu nantinya”  kata ibu Riyati.

Allah tidak tidur, setidaknya kata-kata ini menjadi bukti tersendiri bagi sejarah pendidikan lokal jauh di Desa Sokop, Kepulauan Meranti. Dengan semangat belajar yang tinggi dan adanya guru yang begitu ikhlas membagi ilmu kepada siswanya, akhirnya bantuan mulai berdatangan, saat ini SDN 12 Sokop Lokal Jauh ini sudah dibangun 5 ruangan semi permanen yang dilengkapi meja, kursi dan buku panduan guru. Selain bantuan dari segi bangunan sekolah juga mendapat bantuan tenaga pengajar dan konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia untuk mendampingi sekolahnya melalui Program Dompet Dhuafa.

Pada tahun 2015 Allah membuka jalan untuk Ibu Riyati. Ibu Riyati lolos seleksi K-II dan saat ini berstatus sebagai CPNS. Ibu Riyati yang berasal dari Desa Tebun akhirnya pindah ke Desa Sokop dengan Nota Dinas Kepulauan Meranti, Ibu Riyati kini menetap di dusun Bandaraya bersama suami dan anaknya. Kini hari-hari ibu Riyati dihabiskan dengan anak-anak suku Akit yang mayoritasnya masih menganut kepercayaan Animisme.

Trainventurer: Memberi Pelatihan Sambil Jalan-Jalan

9 April 2014

Untuk pertama kalinya, akhirnya kaki ini menginjak Bandara El Tari, Kupang. Sejak pertama menerima tawaran dari Makmal Pendidikan untuk memberikan pelatihan di Pulau Rote, tak henti-hentinya aku membayangkan kondisi alam dan sosial-budaya di Nusa Tenggara Timur khususnya di Pulau Rote. Meskipun aku sudah pernah ke Ternate, Labuan Bajo, dan Halmahera untuk waktu yang cukup lama namun tetap saja Pulau Rote membuatku penasaran. “Ini adalah pulau paling selatan dari gugusan Kepulauan Nusantara” pikirku dan aku akan ke sana untuk sebuah misi.

Aku berangkat sejak Subuh untuk menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta bersama kawan-kawan dari Makmal Pendidikan. Hani Karno, penanggung jawab program dari Makmal Pendidikan menjadi teman perjalananku ke Pulau Rote. Entah apa hubungan dirinya dengan Bung Karno atau tokoh cerita Mahabarata bernama Karno. Pembicaraan kami selama perjalanan tidak jauh dari persoalan politik terutama Pemilihan Umum Legislatif yang berlangsung pada hari itu. Yang jelas, saat itu kami terpaksa tidak memilih alias Golput.

Di Bandara El Tari, kami dijemput oleh teman-teman Makmal Pendidikan yang bertugas di sana. Melalui Andrika Rozalina (Ica), aku akhirnya mengetahui bahwa desa yang kami tuju bernama Papela. Ica adalah gadis Minang yang ditugaskan sebagai pendamping program pendidikan luar sekolah di Papela. Hari itu kami menginap di Kupang untuk kemudian menyebrang ke Pulau Rote esok pagi. Tidak banyak yang bisa kukatakan soal Kupang. Secara keseluruhan kondisi pembangunan kota ini mirip dengan Ternate namun Kupang terlihat lebih gersang, demografi penduduk Muslim yang lebih sedikit, dan tidak ada Gunung Gamalama yang menjulang indah.

10 April 2014

Kami harus mengejar pelayaran kapal cepat dari Terminal Kapal Pelni Kupang menuju Pelabuhan Ba’a di Pulau Rote. Aku bertekad untuk tidak tidur selama perjalanan meskipun badan masih terasa lelah. Dari deck kapal yang membawa kami menyebrang, kami melihat pemandangan laut dan gugusan pulau. Aku teringat penyebrangan dari Labuan Bajo menuju Pulau Rinca pada tahun 2012 lalu. Tak sia-sia menahan rasa kantuk karena semua  terbayar lunas ketika kami mendapatkan bonus sambutan dari sekawanan lumba-lumba yang berenang di samping kapal yang kami naiki. Setelah kurang lebih sejam berlayar, kami akhirnya berlabuh di Pelabuhan Ba’a, Pulau Rote.  Di pelabuhan, kami dijemput oleh kepala sekolah SDN 01 Papela dan pejabat dari dinas pendidikan daerah setempat. Kami harus melanjutkan perjalanan darat menuju Papela, Kelurahan Londalusi, Rote Timur dengan mobil. Sayangnya, tubuh ini tak kuat lagi menahan kantuk dan akhirnya tertidur.

Untuk Inilah Saya Kemari

Akhirnya tiba juga aku di Papela! Entah apa yang terjadi selama perjalanan darat tadi. Yang jelas aku merasakan beberapa kali benturan dengan jendela mobil yang membuat kepalaku terasa pusing. “pasti jalanan rusak,” pikirku saat itu. Beruntung aku masih bisa mengistirahatkan badan, berbeda ketika aku harus menempuh jalan darat dari Sofifi menuju Weda di Pulau Halmahera pada tahun 2011. Kami serasa off-road di dalam hutan, belum lagi kebiasaan mereka menyetel lagu dengan volume maksimal. Lagunya sampai terngiang-ngiang di dalam kepalaku “Beta su tau… Ale pung hati… Memang tabage dua…”

Di sini, kami tinggal di rumah salah seorang warga di mana Ica juga tinggal selama bertugas. Hari pertama di Papela, aku hanya sempat berkenalan sedikit dengan lingkungan sekitar sambil mempersiapkan keperluan pelatihan. Esok dan lusa, tanggal 11 dan 12 April 2014, kami sudah harus mengadakan pelatihan bertema “Pelatihan Guru Inspiratif dan Menata Pustaka” di SDN 01 Papela. 11 April 2014, pelatihan pertama mengenai guru inspratif yang dibawakan Hani berjalan dengan baik. Aku hanya dapat membantu semampunya sambil mengenali karakter para peserta. Para peserta sangat antusias, bahkan sebelum acara dimulai ada peserta yang mengajukan diri untuk membacakan puisi. Puisi ini menceritakan keadaan masyarakat di Papela dan masih berkaitan pula dengan Pemilihan Umum Legislatif yang baru saja berlangsung dua hari sebelumnya. Dari puisi tersebut, aku mengetahui bahwa dari setiap periode Pemilihan Umum selalu ada anggota DPRD yang terpilih dari daerah ini. Akan tetapi, tidak untuk periode kali ini.

12 April 2014

Akhirnya tiba saat untuk aku berbagi ilmu yang aku ketahui mengenai pengelolaan perpustakaan dan taman bacaan masyarakat. Pukul 09.00 WITA acara akan dimulai, aku rasa persiapanku sudah cukup matang. Rasanya aku sangat bersemangat karena untuk inilah aku jauh-jauh kemari. Tentu aku juga tidak boleh kalah dari Hani yang kemarin sudah berhasil membawakan pelatihan dengan sangat baik. Tiba-tiba hujan turun lebat disertai dengan angin yang cukup kencang. Hati mulai harap-harap cemas menanti kedatangan peserta pelatihan. Hampir putus asa rasanya menunggu mereka. Jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WITA lewat. “alamat gak bakal ada yang datang sepertinya,” pikirku saat itu.

“Assalamu’alaikum…” terdengar salam dari arah pintu. Akhirnya satu persatu peserta hadir walaupun hujan turun sejak hampir satu jam yang lalu. Meski peserta yang hadir tidak sebanyak hari sebelumnya, acara terpaksa kami mulai. Acara pun segera dibuka oleh Ica. Lalu, kami kembali memberikan kesempatan kepada seorang peserta untuk membacakan puisi karyanya sebelum materi pelatihan dibawakan. Hal yang positif di mana keresahan hati disalurkan ke dalam sebuah karya sastra. Sebuah standing applause pun aku berikan. Semangatku kembali berkobar setelah mendengar puisi yang mengisahkan tentang perjuangan seorang guru.

Ica memberikan isyarat agar aku segera memulai pelatihannya. Tanpa ragu lagi, aku langsung menyapa mereka “Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh…”. Pembukaan dan perkenalan diri berjalan dengan lancar. Aku pun langsung meneruskan “Baiklah Bapak/Ibu, hari ini kita akan membahas mengenai…”. Tiba-tiba semua menjadi gelap. Yak mati lampu!!!

“Ya Salaaaaam…” gumamku saat itu. Aku belum benar-benar mengerti apa yang dimaksud oleh Soe Hok-Gie dengan “Aku sudah biasa merasakan seolah-olah langit akan runtuh. Tapi kali ini rasanya seperti rumahku terbakar”. Saat itu bagiku rasanya seperti rumah terbakar. Rasa panik dan kesal berbaur. Ingin rasanya jongkok di sudut ruangan sambil mengorek-ngorek tanah. Hahaha…

Beruntung aku telah mencetak file presentasiku. Dengan bantuan cetakan file presentasi tersebut, aku melanjutkan pelatihan. Secara pribadi aku tidak puas dengan pelatihan yang telah aku berikan. Ada beberapa kegiatan praktik yang tidak dapat ditunjukkan karena listrik tidak kunjung menyala hingga malam hari. Akhirnya aku mengajukan diri untuk kembali memberikan pelatihan esok hari khusus untuk membahas soal praktik. Beruntung, aku masih diberi kesempatan untuk itu.  

Papela atau Pepela?
    
Saat kami mengadakan pelatihan di SD Negeri 1 Papela, ada satu hal yang menggelitik rasa keingintahuanku. Apa nama sebenarnya daerah ini? Lalu mengapa diberi nama demikian? Pertanyaan ini muncul ketika pelatihan hari pertama berlangsung. Ketika aku berkeliling melihat-lihat SDN 01 Papela, aku melihat papan nama SD tersebut tertulis SD NEG 1 PEPELA namun di papan lainnya tertuliskan PAPELA. Jadi PEPELA atau PAPELA?
 
Pertanyaan usil ini pun aku lontarkan saat pelatihan. Aku berharap hanya salah penulisan, tapi ternyata tidak. Para peserta pelatihan pun memiliki pendapat yang berbeda. Ada yang berpendapat Papela, ada yang berpendapat Pepela, dan ada yang mengatakan kedua nama tersebut sama-sama digunakan. Menurut cerita, “Papela” berasal dari kata “Pa” atau “Pale” yaitu semacam batu giling yang digunakan untuk menghancurkan jagung dan dari kata “Pela” yaitu jagung. Dahulu, di daerah ini banyak terdapat jagung dan sulit untuk mendapatkan beras. Akhirnya warga di sini menjadikan jagung yang dihaluskan menggunakan Pale sebagai makanan pokok pengganti nasi. Jadi kalau saya boleh menyimpulkan, Papela itu diambil dari kata “pale-pela” dan memiliki makna suatu daerah yang masyarakatnya memakan jagung yang dihaluskan dengan batu giling (pale), sedangkan “Pepela” memiliki makna banyak jagung.

Papela merupakan salah satu daerah “kantong” umat Muslim di Pulau Rote. Agama Islam masuk ke Papela dibawa oleh penduduk pendatang dari berbagai daerah. Para pendatang berasal dari Ternate, Sumba, Makassar, Bugis, Jawa, Sumatra, Ambon, dan beberapa daerah lain di Indonesia. Penduduk asli di Papela juga sudah banyak yang menganut agama Islam. Kebanyakan dari mereka menikah dengan pendatang yang beragama Islam hingga akhirnya masuk Islam.

Kondisi sosial ekonomi masyarakat di Papela tersampaikan seperti pendapat berikut ini:

Kehidupan masyarakat di NTT, khususnya Papela yang merupakan salah satu daerah di Rote rata-rata bermata pencarian nelayan, yang berbatasan dengan langsung dengan negara Australia. Dengan  pendapatan dibawah UMR, mereka berlayar dengan kapal yang mereka sewa dari para rentenir yang ada di daerah mereka, sehingga kemiskinan tidak jauh dari kehidupan mereka. Mungkin, Berangkat dari itulah Makmal pendidikan Dompet Dhuafa membuat program pemberantasan buta huruf. – Andrika Rozalina

Daerah ini sudah beberapa tahun didampingi oleh Dompet Dhuafa karena menurut survey yang mereka lakukan, indeks kehidupan di sana termasuk yang terendah di Indonesia. Beberapa program sudah berjalan di sana. Program-program tersebut menyentuh ke seluruh aspek kehidupan masyarakat. Program-program yang diadakan di sana antara lain program air bersih, peningkatan kesehatan, pendidikan dan beasiswa, pendidikan luar sekolah, dan ekonomi mandiri.

Oleh-Oleh Paling Berkesan
    
Setelah selesai memberikan pelatihan, aku memutuskan untuk tetap tinggal di Papela hingga tanggal 15 April 2014. Hal ini tentu menjadi kesempatan baik bagiku untuk mengenal lebih jauh mengenai daerah ini. Beruntung, aku tidak mengalami banyak kesulitan untuk beradaptasi di sini. Di Papela, umat muslim dapat dengan mudah melaksanakan Shalat karena di sini terdapat tiga masjid. Masjid yang paling tua di Papela adalah Masjid Al-Bahri yang dipimpin oleh Bapak Imam Rajab ‘Ain. Masjid berikutnya adalah Masjid Al-Muhajirin yang dipimpin oleh Bapak Imam Haji Saman Laduma. Masjid ini merupakan masjid yang dibangun atas program dari Presiden Suharto. Masjid yang ketiga adalah Masjid Al-Muhaajidiin yang dipimpin oleh Bapak Imam Buduhasan. Masjid ini merupakan masjid yang paling baru dan terletak di sekitar pemukiman nelayan Suku Bajo.
    
Cuaca di Papela sama seperti cuaca di daerah kepulauan Nusa Tenggara lainnya. Panas dan kering khas daerah pantai namun tidak sumpek seperti di Jakarta. Kita harus ingat pula kalau di sini masih sulit untuk mendapatkan air bersih. Menghemat air bukanlah sebuah pilihan. Masyarakat sekitar sini juga sudah terbiasa untuk menggunakan air hujan untuk persediaan air mereka. Program air bersih di sini belum sepenuhnya berjalan dengan baik. Beruntung, masyarakat Papela tidak kesulitan bahan makanan sebagaimana mereka kesulitan air bersih.
    
Papela dapat menjadi surga dunia bagi pencinta makanan laut. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Papela adalah nelayan. Dari para nelayan inilah, ikan dan hewan laut lainnya didapatkan. Apabila cuaca bagus, hasil tangkapan yang mereka dapatkan cukup melimpah. Mereka biasa berlayar hingga ke perbatasan antara Indonesia dan Australia. Tidak sedikit cerita mengenai nelayan yang tertangkap oleh pihak keamanan laut Australia. Nelayan yang tertangkap akan dibina di lembaga permasyarakatan Australia dan biasanya kapal mereka akan disita atau dibakar. Selain mencari ikan, masyarakat pesisir di Papela juga membudidayakan rumput laut. Hasil laut seperti ikan, lobster, kerang, hingga rumput laut menjadi salah satu sumber pasokan makanan masyarakat Papela.
 
Salah satu makanan khas Papela yang saya suka adalah Babuik. Babuik adalah sejenis kerang. Cara membuatnya cukup sederhana, Babuik segar direbus hingga matang kemudian dibuang kulitnya. Setelah itu, campurkan Babuik dengan air perasan jeruk atau cuka. Tambahkan potongan kasar cabai dan bawang merah lalu jangan lupa berikan garam secukupnya. Sekilas, Babuik mengingatkan saya dengan makanan-makanan ala Prancis. Rasa manis dan kenyal daging kerang segar bercampur pedas cabai dan bawang merah juga segarnya perasan air jeruk sungguh menggugah selera. Selain itu juga ada Falaak. Falaak adalah makanan sejenis Yogurt yang terbuat dari susu kambing yang dicampur dengan bubuk halus kayu manis.

Tidak sulit untuk mencari susu kambing di daerah ini. Di Papela dan kebanyakan daerah di Nusa Tenggara Timur lainnya, Hewan ternak berkeliaran bebas di padang savanna dan jalan-jalan raya. Kuda, Sapi, Domba, Kambing, dan Kerbau lalu-lalang tanpa dijaga. Saat berlayar menuju Pulau Rote, saya pun sempat berbincang dengan salah satu pemilik Rumah Potong Hewan yang sengaja datang dari Malang hendak membeli hewan ternak. Potensi peternakan di Nusa Tenggara Timur memang cukup bagus. Hal ini akan maksimal apabila dikelola dengan manajemen yang benar.

Selain hasil laut dan peternakan, Papela juga memiliki potensi pariwisata dengan keindahan alam, budayanya, dan peninggalan sejarahnya. Melalui cerita Bapak Imam Rajab ‘Ain dan Bapak Adnan Azhari, aku mengetahui bahwa di Papela terdapat goa peninggalan tentara Jepang. Goa Jepang ini dahulu dijadikan sebagai basis pertahanan tentara Jepang dari serangan tentara sekutu. Ada beberapa kisah mistis yang menyelimuti Goa Jepang tersebut, namun menurut mereka itu hanya mitos belaka. Bapak Imam Rajab ‘Ain dan Bapak Adnan Azhari juga bercerita bahwa sewaktu zaman kemerdekaan ada pesawat tempur yang tertembak jatuh di bukit belakang sekolah SDN 01 Papela. Sayangnya, bangkai pesawat tempur tersebut sudah dipreteli dan tidak ada lagi. Aku sendiri belum sempat mengobservasi lokasi Goa Jepang dan lokasi bekas bangkai pesawat tempur tersebut.

Meskipun demikian, aku tetap mendapatkan banyak pengalaman menarik. Salah satu pengalaman yang paling menarik adalah ketika aku berkesempatan terlibat dalam kegiatan pendidikan luar sekolah bersama Ica dan Hani. Kami keluar-masuk pemukiman nelayan dan mencari anak-anak nelayan Suku Bajo untuk belajar baca-tulis.
 
Meskipun negara telah menjamin pendidikan gratis, akan tetapi banyak anak-anak nelayan Suku Bajo yang putus sekolah. Hal ini terjadi bukan semata karena masalah biaya. Menurut Ibu Kepala Sekolah SDN 01 Papela, pola hidup dan kesadaran orang tua anak nelayan Suku Bajo ikut mendorong tingginya angka anak putus sekolah di daerah tersebut. Misalnya, sifat hidup Suku Bajo yang selalu berpindah dan banyak dihabiskan di laut. Seringkali anak murid tersebut tidak masuk sekolah karena ikut melaut bersama bapak mereka hingga berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Tidak sedikit pula murid yang tidak kembali lagi ke Papela. Persoalan lainnya adalah karena anak-anak ini tidak memiliki identitas diri yang resmi dan sah. Rata-rata orang tua mereka buta huruf dan tidak memahami pentingnya pengurusan administrasi kependudukan. Anak-anak suku bajo ini tidak memiliki akte kelahiran bahkan tidak diketahui umur pastinya. Orang tua mereka hanya ingat kalau anaknya lahir sekian minggu atau sekian bulan dari anak yang lain. Uniknya, kepala sekolah juga bercerita kalau terkadang mereka suka merubah nama mereka setelah kembali dari laut. Hal-hal seperti ini membuat pengurusan administrasi sekolah seperti buku raport, ijazah, dan sebagainya menjadi sulit.

Secara keseluruhan, aku melihat penerimaan masyarakat terhadap Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa di Papela sangat bagus. Hal ini terlihat dari bagaimana respon masyarakat dan cerita-cerita mereka terhadap para relawan Dompet Dhuafa yang pernah ditugaskan di Papela seperti Abang Wisyal misalnya. Aku melihat warga Papela sudah menganggap para relawan tersebut sebagai sahabat dan saudara. Aku memang pergi ke Papela dengan niat untuk berbagi sedikit ilmu yang aku miliki. Akan tetapi, kenyataannya justru akulah yang mendapat banyak pelajaran dari perjalanan tersebut. Bertemu dengan warga Papela seperti Bapak Imam Masjid, Para Guru SDN 01 Papela dan Madrasah Papela, Bibi Ne, Bibi Mu, Risal, Rifki dan Aci, juga Ari beserta kawan-kawannya anak Suku Bajo merupakan oleh-oleh paling berkesan bagiku.

{fcomment}

 

Rote, Pemuda Papela dan Semangat Mereka yang Tinggi

Teman-teman, saya ingin mengisahkan pertemuan saya dengan para pemuda Papela. Mereka adalah pemuda yang memiliki hati sangat tampan, akhlaknya menawan, dan hidup mereka selalu diisi dengan kebaikan.

Pertemuan saya dengan mereka diawali dari Pelatihan Perpustakaan yang diadakan kantor tempat saya berkarya, Dompet Dhuafa. Saya ditugaskan untuk mengaktifkan kembali Taman Literasi yang sudah dibangun di sana sejak tahun lalu.

Pada Sabtu (27/9) pagi, saya bersemangat sekali untuk bertemu para peserta pelatihan. Dalam benak saya, mereka pastilah orang-orang yang luar biasa dengan semangat membara. Ternyata prasangka saya terbukti, 15 pemuda dan pemudi yang hadir merupakan orang-orang yang luar biasa.

Seperti pada pelatihan kebanyakan biasanya peserta pelatihan mendadak menjadi sangat  pendiam dan belum mampu mengekspresikan diri mereka, pun sama halnya dengan para peserta Pelatihan Perpustakaan kali ini. Namun seiring berjalannya waktu para peserta Pelatihan Perpustakaan ini menjadi sangat hidup dan dipenuhi canda serta tawa. Terima kasih kepada Faqih, pemuda Papela yang hobi membuat kami semua tertawa.

Yang menarik dalam pelatihan kali ini ialah saat saya meminta mereka menggambarkan perpustakaan impian mereka, hasilnya mengagumkan dan membuat saya tercengang. Rata-rata mereka menginginkan perpustakaan dengan ruang hijau alias banyak tanaman  mengingat Rote memiliki cuaca yang panas, ada ruang khusus untuk bermusik karena ternyata para pemuda Papela ini memiliki talenta bermusik yang luar biasa. “Kami juga menginginkan perpusatakaan yang dapat digunakan untuk santai sambil ngupi-ngupi mbak”, harap Hairul.

Sepanjang pelatihan saya menangkap banyak impian-impian besar mereka mulai dari ingin bertemu dengan pemain sepakbola kelas dunia, ingin sukses menjadi pengusaha sampai ke impian paling mulia yakni membahagiakan orangtua dan menjadi pasangan yang sholeh dan sholehah. Kagum saya dibuatnya! (Kertas impiannya saya kubur di tanah Bogor ya, biar kalian segera datang ke tanah Jawa!). “Ingin bertemu Tuhan mbak”, ujar Suharto. Impian yang unik,  hebat, dan membuat kami yang mendengar sontak tertawa. Bukan menertawakan impian mulia tersebut, tapi lebih kepada terkesima dengan kepolosannya. Namun sangat disayangkan karena akhirnya ia mengurungkan niatnya untuk menuliskan keinginan tersebut dalam kertas impiannya.

Saya semakin kagum dengan mereka saat saya melontarkan ide untuk membuat program Gerobak Ilmu di Papela. Ide tersebut ditangkap dengan cepat, maka tidak perlu menunggu berlama-lama program ini harus segera dilaksanakan. Keesokan harinya saya langsung berkoordinasi dengan sekolah-sekolah di Desa Papela. Saya sangat bahagia karena para Kepala sekolah menyambut baik dan sangat antusias dengan program ini.

Sabtu (29/9) pagi merupakan hari bersejarah yang sangat ditunggu dan hari paling menyenangkan dalam hidup saya dan para pemuda Papela tentunya. Setelah menyiapkan buku dan memasukkannya ke dalam gerobak, sekitar pukul 08.30 kami berkumpul di Taman Literasi dan langsung berjalan menuju sekolah. Gerobak Ilmu dikawal oleh Laskar Papela yang dikepalai oleh Bu Rizal, Laskar Papela merupakan kumpulan pemuda pemudi Papela yang membantu kegiatan ini, personelnya antara lain Bu Rizal, Bu Rifky, Bu Faqih, Bu Hairul, Bu Alfian, Bu Anggi, Bu Barley, Bu Suharto, Bu Armin, Bu Abdus, Susi Nila, Susi Mega, Susi Siti, Susi Imelda, dan Susi Aci. Sekadar informasi, Bu merupakan panggilan untuk kakak laki-laki sedangkan Susi merupakan panggilan untuk kakak perempuan.

Tibalah kami di SD Papela, rupanya Gerobak Ilmu sudah dinanti oleh anak-anak. Maka ketika kami datang gerobak yang merupakan pinjaman dari salah seorang anggota Laskar Papela, Susi Aci, disambut dengan penuh antusias. Seketika gerobak tertutup anak-anak yang sibuk memilih dan mengambil buku bacaan. Seperti orang yang kelaparan, anak-anak di sini begitu ”ganas” “melahap” buku-buku yang kami bawa. “Ibu..ibu…beta juga mau buku, tapi beta tak bisa ambil”, kata salah seorang anak yang mengeluh sambil menarik-narik baju untuk minta diambilkan buku.  Setelah puas membaca, kunjungan Gerobak Ilmu bersama para Laskar Papela ini saya tutup dengan mengajari tepuk Banana kepada anak-anak. Open banana 3x, Slice banana 2x, eat banana 2x, shake banana 2x, exit banana 2x, I love banana.

Karena kunjungan berikutnya baru akan dilaksanakan pukul 11 siang di salah satu MTS, maka Gerobak Ilmu kami parkir di depan warung salah satu warga. Kami tak menyangka kalau Gerobak Ilmu kami diserbu para warga. Para warga mendatangi gerobak kami dan mulai memilah-milah buku untuk dipinjam.  “Ini bayar kah? Berapa lama beta bisa pinjam buku Cara Mendidik Anak Menjadi Shaleh ini?”, tanya salah satu ibu sambil memegang buku pilihannya.

Selesai sudah kegiatan mulia para Laskar Papela tersebut. Selanjutnya pada sore hari, kami bersama-sama melakukan Team Building ke Pantai Ve, pantai yang benar-benar membentuk huruf Ve. Kami bermain-main bagai anak kecil lupa pulang, mulai dari bermain benteng sampai rujakan, kami sangata senang. Acara hari itu ditutup dengan foto-foto bersama ala kami, loncat-loncatan! Hahaha.

Sabtu yang indah di Papela, Rote, akan menjadi kenangan yang selalu saya ingat. Para pemudanya, semangatnya, senyum ramah, pantainya dan tentu saja anak-anaknya! Saya berdoa dengan khusyuk dalam hati kepada Tuhan, pencipta Bumi Rote agar aku bisa kembali lagi dan saling berbagi inspirasi!

Hatiku tertambat di Rote! [Dini].

{fcomment}

Mengentas Buta Aksara di Bumi Reog

Antara tahun 1904 – 1905, Jepang terlibat perang melawan Rusia. Dalam sebuah pertempuran di Selat Tsushima 27 – 28 Mei 1905, Jepang berhasil mengalahkan Rusia. Penyebab kekalahan Rusia adalah hanya 20% dari tentara Rusia yang berperang dalam pertempuran itu yang bisa membaca dan menulis. Akibatnya, banyak di antara tentara itu yang tidak bisa mengoperasikan secara benar persenjataan modern (saat itu), serta seringkali serangan Rusia salah sasaran karena salah membaca peta dan salah mengoperasikan jaringan komunikasi. Sementara itu hampir semua tentara Jepang bisa membaca dan menulis.

* * *

Tiga pasang mata tua itu nampak serius memandangi lembaran-lembaran kertas di hadapannya. Sebulan yang lalu, tulisan pada lembaran-lembaran tersebut sama sekali tidak memiliki makna bagi mereka. Hanya coretan-coretan tanpa arti yang dapat dipahami. Namun kini, pun masih terbata, dari lisan mereka dapat terucap potongan-potongan kata yang tertulis dalam buku yang mereka pegang. Secara perlahan, mereka mulai melek aksara, huruf demi huruf, suku kata hingga terangkai menjadi kata. Usia yang mulai merangkak senja tidak menyurutkan minat mereka untuk terus menimba ilmu. Kelelahan seharian bekerja sebagai buruh tani tidak menjadi alasan bagi mereka untuk berhenti belajar.

Jawa Timur merupakan provinsi dengan indeks pendidikan yang tergolong rendah di Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa lebih dari 35 ribu anak usia 16-18 tahun (jenjang SMA/ SMK) di Jawa Timur putus sekolah, tertinggi di antara provinsi lain di Indonesia. Di Jawa Timur juga terdapat lebih dari 1,5 juta penduduk yang masih buta huruf, terbanyak di Indonesia. Dari 33 kabupaten/ kota di Indonesia dengan jumlah buta aksara terpadat, Jawa Timur memberikan sumbangan terbesar dengan menempatkan 13 kabupaten yang masuk zona merah. Persentase kasus buta aksara tertinggi di Jawa Timur ada di Kabupaten Sumenep yang mencapai 24,66%, sementara jumlah penduduk buta aksara tertinggi ada di Kabupaten Jember dengan 181.384 jiwa.

Kabupaten Ponorogo, bersama Tuban, Ngawi dan Lamongan masuk ke zona kuning, dimana jumlah penduduk buta huruf sudah di bawah 50 ribu jiwa. Kemiskinan dan kesempatan bersekolah menjadi faktor penyebab utama tingginya angka buta huruf ini. Ibu Watemi, salah seorang peserta pembelajaran tematik untuk pengentasan buta huruf yang diselenggarakan oleh Makmal Pendidikan – Dompet Dhuafa menceritakan bahwa dirinya tidak dapat membaca dan menulis karena memang tidak pernah sekolah. Dari kecil sudah bekerja. Hal tersebut juga diamini Ibu Nganti, warga Desa Sambilawang, Kecamatan Bungkal, Kabupaten Ponorogo yang tidak dapat membaca karena putus sekolah sejak kelas 1 SD. Kala itu ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dan pindah ke luar Ponorogo sehingga ia putus sekolah dan memilih untuk membantu orang tua bekerja.


Selain dikenal sebagai Kota Reog, Ponorogo juga dikenal sebagai pemasok Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ke luar negeri. Salah satu efek negatif dari pengiriman TKI ke luar negeri adalah pada tingginya angka perceraian di Ponorogo. Pengadilan Agama mencatat bahwa setiap bulannya ada ratusan pengajuan perceraian, puncaknya adalah ketika lebaran. TKI yang status ekonominya meningkat, datang bukan hanya membawa uang namun juga mengurus perceraian. Ada juga yang mampir pulang untuk menyelenggarakan pernikahan. Dampak negatif pun dirasakan oleh anak-anak di Ponorogo yang harus tinggal bersama kakek neneknya karena orang tua mereka di luar negeri atau bercerai. Pendidikan di Ponorogo pun cenderung stagnan. Anak-anak yang dididik oleh ‘orang tua’ yang buta aksara, bersekolah dengan impian menjadi TKI. Pulang kampung untuk menikah, pulang kampung untuk bercerai dan meninggalkan anak yang memiliki impian sama dengan mereka.

Program Klaster Mandiri yang digagas Dompet Dhuafa di beberapa wilayah kantong kemiskinan yang potensial di Indonesia dirancang untuk memutus rantai kemiskinan ini dengan integrasi intervensi pemberdayaan masyarakat di bidang ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Di Ponorogo, permasalahan ekonomi masyarakat yang merambat ke pendidikan keluarga dapat coba dituntaskan dengan menghasilkan produk ekonomi unggulan masyarakat, baik pertanian maupun peternakan. Sejalan dengan upaya tersebut, pemberantasan buta huruf dan parenting masyarakat menjadi penting untuk terus dilakukan guna memperbaiki kualitas pendidikan, pemikiran, dan kehidupan masyarakat.

* * *

Tiga pasang mata tua itu nampak cerah di tengah keremangan malam. Pembelajaran malam ini dicukupkan, buku-buku mereka tutup dengan seulas senyuman. Mereka mungkin termasuk segelintir penduduk buta aksara di Indonesia yang mau dan berkesempatan untuk kembali belajar mengenal huruf. Sebagian besar lainnya tidak mau karena merasa malu, atau tidak berkesempatan karena minimnya akses untuk dapat belajar. Semangat mereka untuk belajar itu begitu terpancar, tak lekang oleh usia, tak goyah walau mereka harus melewati jalanan gelap penuh bebatuan untuk hadir di ruang belajar. Ada secercah harapan untuk masa depan yang lebih baik, tidak lagi terlilit oleh belenggu kebodohan dan kemiskinan. Semoga.

Purwa Udiutomo
Manajer Laboratorium Pengembangan Mutu Pendidikan
Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa
0818 0804 4286
purwa.udiutomo@gmail.com