Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya. Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau. Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi. “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.” Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang, Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa sebagai Bocah Buta Hilang. “Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Si Bocah Buta Hilang dari Indramayu

Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan  nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya.

Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau.  Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi.  “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.”

Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang,

Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan  kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya  pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa  sebagai Bocah Buta Hilang.

“Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas  kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat  ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Setitik Cahaya “Literasi” di Rasabou

Setitik Cahaya “Literasi” Muncul di Rasabou 

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, dari Sabang sampai Marauke, setiap daerah mempunyai ciri khas tertentu, salah satunya di Kabupaten Bima yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Kekayaan alam yang melimpah membuat daerah ini harus mengekspor hasil alamnya dan dibawa ke luar daerah yang ada di Indonesia seperti bawang, garam, kambing, sapi, dan lain-lain. Namun dibalik kekayaan alam yang melimpah tersebut ada suatu keadaan yang sangat memprihatinkan yaitu sumber daya manusia yang belum memadai, keadaan itulah yang membuat bapak Abi Sakti bergerak dalam bidang pendidikan tepatnya dalam hal “Literasi”. Umurnya yang terhitung masih muda, 28 tahun membuatnya merasa harus semankin banyak berbuat untuk bangsa ini.

Berawal dari keresahan beliau terhadap kondisi anak-anak di Desa Rasabou, Kabupaten Bima yang masih banyak buta huruf sehingga beliau membuat suatu terobosan untuk mengurangi keresahannya. Beliau mengambil buku-buku yang ada di Kantor Desa Rasabou yang tak terpakai kemudian beliau mencari anak-anak yang ada di desa Rasabou untuk menyisihkan waktu bermainnya dengan membaca buku. Anak-anak diminta membaca buku selama 30 menit setiap harinya. Bukan hanya itu, anak-anakpun dibimbing dalam hal keagamaan seperti mengaji. Dari kegitan kecil tersebut membuat bapak Abi membentuk sebuah komunitas yang disebut “Sarangge Baca Bima”. Komunitas tersebut merangkul atau mengajak juga aktivis-aktivis sosial untuk ikut berpastisipasi dalam “Literasi” anak-anak di Kabupaten Bima dan kegiatan tetsebut sudah mencakup beberapa desa dan mempunyai penanggung jawab sendiri-sendiri.

Segala hambatan yang dihadapi tidak menjadikan Pak Abi pesimis sebab cita-cita awal beliau yaitu ingin menjadikan anak-anak di Kabupaten Bima menjadi anak-anak yang berakhlak mulia, mencintai Alquran, mampu membaca, menulis yang membuat beliau selalu semangat, dan sekarang anggota anak-anak dari komunitas “Sarangge Baca Bima” yang awalnya hanya 5 orang anak sekarang mencapai 20 orang anak. Sesuatu yang begitu luar biasa yang dilakukan oleh Bapak Abi dalam memajukan daerahnya dalam hal “Literasi”, dan kegiatan tersebut direspon baik oleh masyarakat setempat. Anak-anak yang dulunya tidak tau membaca sekarang alhamdulillah bisa membaca dan anak-anak yang sebelumnya tidak percaya diri tampil didepan umum sekarang bisa dengan lincah tampil didepan umum”ungkap pak Abi disela-sela kami melakukan wawancara bersama beliau.

Ketika kunjungan ke taman baca Sarangge, antusiasme anak dan hangatnya sambutan dari Pak Abi beserta keluarga menambah rasa syukur saya karena sudah berada ditempat tersebut. Anak-anak yang begitu lucu dan menggemaskan membuat kami tak ingin melewatkan moment bermain bersama mereka. Perkenalan adalah awal saya membuka canda bersama mereka dan hal tersebut menarik perhatian ibu-ibu yang ada disekitar rumah pak Abi untuk datang melihat keramaian dalam perkenalan tersebut. Suasana pecah menjadi riuh  seketika ada seorang anak berkata saat sesi perkenalan “Hobi saya ingin menjadi dokter”, mendengar kepolosan anak tersebut, semuanya tertawa dan anak itupun tertawa. Tidak sampai disitu, kami mulai mengajak anak-anak bernyanyi usai sesi perkenalan yang mengocak perut karena tingkah lucu anak-anak taman baca Sarangge.

Bermain adalah dunia anak. Ketika kita mampu bermain dengan mereka, membawa diri ke dalam dunia bermain mereka maka kita akan sedikit paham tentang karakter anak tersebut. Bermain bersama anak-anak Sarangge membuat lelah menjadi hilang,melihat senyum canda tawa mereka, menciptakan semangat baru. Teruslah berkarya, bermanfaat dimanapun itu. Semoga dari kisah Pak Abi, bisa menjadi inspirasi buat kita semua bahwa melakukan kebaikan, perubahan tidak akan terasa sulit asalkan ada tekad, kerja keras dan keyakinan maka semua urusan itu akan dimudahkan olehNya.

 

 

Berkaca dari Keterbatasan MI As’adiyah

Semua orang tau bahwa pendidikan merupakan dasar dari kehidupan yang lebih baik bagi setiap insan, baik buruknya kehidupan itu ditentukan oleh pendidikan. Tapi faktanya tidak semua orang dapat memperoleh pendidikan dan tidak setiap orang peduli dengan orang-orang yang belum mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebagian orang hanya beranggapan bahwa pendidikan hanyalah amanat undang-undang yang tidak begitu penting untuk diperhatikan. Sebagiannya lagi mengira bahwa pendidikan itu hanya tanggung jawab sebagian orang saja. Dalam hal ini mereka menunjuk gurulah sebagai satu-satu pelaksana pendidikan.

Di sebuah dusun yang terletak didesa tanjung karang kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara berdiri sebuah sekolah swasta yang diberi nama MI As’adiyah, sekolah ini merupakan sekolah filial dari sekolah induknya yang ada di desa Tanjung karang.

Sekolah tersebut hanya mempunyai lokasi yang sangat sempit dengan jumlah ruangan sebanyak 3 lokal, jumlah siswanya sebanyak 37 orang dan guru 4 orang. Dari tiga lokal bangunan sekolah tersebut hanya ada satu bangunan yang permanen, sedangkan dua lokal lainnya masih setengah permanen. Karna jumlah ruangan cuma tiga, jadi untuk satu ruangan itu ditempati oleh dua grade dan itu hanya disekat dengan dinding setinggi bahu guru.

Coba kita pikirkan baik-baik, bagaimana mungkin proses pembelajaran akan efektif kalau keadaannya seperti itu. Suara guru dan siswa dari kelas sebelah terdengar jelas oleh kelas sebelahnya dan itu memicu hilangnya konsentrasi siswa dalam menyerap materi yang dipelajari. Sungguh sangat memprihatinkan, tapi sayangnya hanya segelintir orang saja yang peduli dengan keadaan pendidikan disini. Bukan cuman itu, tapi masih ada lagi hal-hal yang krusial untuk diperhatikan seperti fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaran. Ceruk ilmu dan buku bacaan serta buku mata belajaran misalnya, padahal ini merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk anak-anak sekolah karna untuk terlaksananya program literasi atau program wajib baca buku sebelum proses belajar dimulai itu butuh kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai yang mendukung sehingga program tersebut bisa terlaksana dengan baik. Lalu bagaimana anak –anak disini bisa aktif melaksanakan program literasi jika keadaan tidak mendukung mereka untuk aktif melakukannya. Kalau urusan semangat anak-anak disini untuk belajar itu jangan ditanya dan jangan diragukan lagi, itu terlihat dari keseharian mereka yang rutin membaca sebelum proses belajar dimulai meskipun buku yang dibaca itu tidak punya alur cerita yang jelas dikarena buku-buku tersebut tidak lagi utuh sebab sebagian dari lembarannya sudah rusak dan sobek.

Kondisi yang penting juga untuk diperhatikan adalah sekolah MI As’adiyah filial ini tidak memiliki pagar pembatas sama sekali dan lokasinya berdekatan dengan jalan raya, kondisi ini sangat berbahaya bagi anak-anak karna banyaknya kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat para guru harus mengawasi anak didik mereka secara ekstar saat jam istirahat tiba agar tidak melintas dan bermain-main di jalan raya.

Namun, walaupun keadaannya seperti itu sekolah ini merupakan satu-satunya harapan warga dusun Sungai batang agar anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan. Tak perduli dengan segala keadaan serta kekurangan sekolah secara fisiknya, sekolah ini tetap menjadi satu-satunya pilihan warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Meskipun warga tahu bahwa sekolah ini terbatas secara sarana dan prasarananya, namu ada hal lain yang dinilai oleh warga dari sekolah ini, yakni terkait dengan budaya dan kedisiplinan sekolah.

Tidak bisa dipungkiri sekolah ini memang memiliki keterbatasan dan kelemahan secara fisiknya, tapi kondisi fisik sekolah ini sama sekali tidak mempengaruhi simtim instruksionalnya. Selain dikenal dengan segala kekurangan secara fisiknya, Sekolah ini juga dikenal dengan program Sholat Dhuha dan kedisiplinannya. Dimana setiap hari pada jam istirahat anak-anak diwajibkan untuk melaksanakan Sholat Dhuha secara berjamaah.

Dan itu tentu sekali menjadi salah satu dari sekian alasan warga sehingga begitu antusias untuk menyekolahkan anak-anak mereka, dan anak-anakpun begitu bersemangat untuk bersekolah meskipun mereka harus menempuh jarak 1 km setiap harinya agar dapat samapai ke sekolah.

MI As’adiyah filial berlokasi jauh dari rumah warga karna memang dusun Sungai Batang ini daerah perkebunan kelapa sawit, dan warga setempat tinggal dimasing-masing kebun mereka. Bukan hanya jauhnya jarak sekolah dari rumah sebagai hambatan buat anak-anak di dusun Sungai Batang ini, tetapi juga kondisi jalan keluar-masuk yang masih sangat rusak menjadi hambatannya, ketika hujan turun jalan menjadi becek dan licin. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun kesulitan untuk melintas. Tidak heran ketika hujan turun hanya sedikit anak saja yang bisa berangkat sekolah.

Walaupun kondisi demikian adanya, tidak pernah menyurutkan semangat dan kemauan anak-anak disni untuk bersekolah, kaki mereka tetap semangat untuk melangkah meski harus berjalan diatas jalanan yang licin dan berlumpur.

Semangat yang begitu tinggi dari anak-anak bangsa ini harusnya dihadiahkan dengan fasilitas yang memadai agar kelak mereka tumbuh dengan prestasi tinggi. (Anas Ardiansyah, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Konsultan Relawan: Memeluk Sekolah Dampingan SLI

Konsultan Relawan atau lebih akrabnya di sapa Kawan adalah sebutan bagi pendamping Sekolah Literasi Indonesia. Peran ini membawa aku mengenal pendidikan lebih dekat, menyapa pendidikan lebih sering, dan mengenggam pendidikan lebih erat. Meski dalam skala kecil di lima sekolah Kab. Indramayu, sebuah daerah baru dengan peran baru memiliki tantangan tersendiri.

Masih terekam jelas saat kunjungan perdana ke tiap-tiap sekolah dampingan. Sambutan yang hangat adalah kesan pertama khas orang jawa yang ramah, namun sambutan hangat tak selalu berbanding lurus dengan penerimaan. Jamuan penyambutan tak bisa mewakili semua pihak menyambut baik kehadiran kita. Tentu ada segelintir yang juga memasang tameng pembatas dengan kedatangan kami, menyelidik penuh curiga, meragu penuh kesangsian. Kemudian ada beberapa guru yang mempertanyakan “Apa yang akan kami dapatkan dari program ini? Apakah program ini menjamin karakter yang baik bagi siswa di luar jam sekolah hingga setelah lulus dari sekolah ini?”. Ada juga yang menyerah sebelum bergerak, “yang namanya program pasti membutuhkan dana dan kondisi sekolah kami begini dan begitu”. Belum lagi yang mencibir “apa keuntungan yang didapatkan lembaga anda, padahal inikan tugas pemerintah?”. Percayalah menjelaskannya dalam bahasa yang sederhana dan sesantun mungkin itu tidak semudah yang dipahami.

Akan kusampaikan juga tentang sarana dan prasarana. Aku tidak percaya. Di pulau jawa ini, kabupaten yang dinobatkan sebagai lumbung padi nasional, masih ada meja kursi yang lebih tak layak pakai dibanding yang kugunakan di puluhan tahun lalu. Masih ada ruang kelas yang seharusnya menjadi gudangpun sudah tak layak. Mungkin wajar jika di pelosok, tapi di sini bukan pelosok. Aku juga tercengang dengan ruang kelas dibagi 2 rombongan belajar, kelas 4 dan kelas 5 yang hanya dibatasi tripleks mading. Tapi faktanya kelas tersebut sudah berjalan sepanjang semester ganjil ini. Jangankan mencari fasilitas pendukung, mendapati ruangan tergembok berisikan buku yang berserakan penuh debu dan sarang laba-laba dengan sisa-sisa gigitan tikus adalah sebuah nafas kelegaan.

Akan kuceritakan juga tentang jarak, kunjungan ke Sekolah harus menempuh 20an Km di tiga Sekolah Dampingan, bahkan kadang menghabiskan 1 jam perjalanan. Belum lagi soal akses jalanan bebatuan rusak di salah satu sekolah yang menjadi momok terberat tiap kunjungan kesana. Ditambah akses kendaraan pulang-pergi yang memberatkan. Namun di hamparan bebatuan jalan dan jarak yang jauh aku mendengar banyak perjuangan. Tentang Guru-guru yang setiap harinya pulang pergi melintasinya, hanya dengan harapan Rp.300.000an per bulan yang harus di rapel pula,  bukan satu-dua, bukan sekali-dua kali, bukan setahun-dua tahun tapi hingga puluhan tahun. Tentang paradigma dan komitmen adalah wilayah hati dan memang tak pernah punya tolak ukur.

Diketerbatasan sarana dan prasarana yang kuanggap sebagai kekurangan, selalu ada kisah antik dibaliknya. Tentang gedung yang kusebut tak layak telah menjadi saksi belajarnya ribuan generasi penerus bangsa. Dititik ini, di purnama pertama yang sudah terlewati, aku mengakui bahwa amanah ini memang tidak bercanda. Saat kamu harus memberikan sesuatu kepada orang lain, maka yang paling pertama adalah memastikan kita punya sesuatu. Saatnya meluruskan niat, membenahi presepsi dan mengolah semua hal dengan positif. Wejangan saat pembinaan bahwa “Fokus utama kita adalah pada yang mau menerima, pada yang siap bekerja bersama” menjadi penguat.

Pada akhirnya, makin kesini makin melihat lebih luas, masih ada yang jauh lebih banyak menerima kita. Justru keberadaan kita di sini adalah kehadiran yang diharapkan, tantangannya sekarang adalah bagaimana memeluk sekolah dampingan, membentang kebaikan dengan erat pada mereka yang ada. Bersama Dompet Dhuafa mari menjawab panggilan zaman “saatnya turun tangan, saatnya berkarya, saat melakukan apapun untuk Indonesia, untuk Pendidikan, untuk sekolah, dan untuk diri sendiri kepada Yang Maha Benar menitipkan amanah ini”. (Jumrawati, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Gerbang Pendidikan Islam Di Kepulauan Tanimbar

Kepulauan Tanimbar merupakan sebuah daerah yang menjadi bagian dari provinsi Maluku. Secara administratif wilayah ini disebut dengan kabupaten Maluku Tenggara Barat. Kabupaten yang tahun ini merayakan ulang tahun ke-19 ini, hampir 90 persen warganya menganut ajaran agama Katolik dan Protestan. Meskipun demikian akses terhadap pendidikan Islam terus digalakkan beriringan dengan semakin banyaknya pendatang muslim yang menetap di kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Warga muslim mulai datang ke kabupaten ini sejak tahun 2008. Kebanyakan dari mereka adalah orang Jawa, Buton, dan Bugis yang bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional dan penjual makanan. Terdapat dua daerah yang menjadi kompleks permukiman warga muslim di pusat Maluku Tenggara Barat, yaitu daerah pasar baru Omele desa Sifnana dan pasar lama desa Olilit. Selain itu, warga muslim tersebar di kelurahan Saumlaki yang menjadi ibukota kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Untuk membuka akses pendidikan terhadap anak-anak muslim di pusat Maluku Tenggara Barat, beberapa tokoh muslim yang notabene pegawai di Departemen Agama Kabupaten Maluku Tenggara Barat menginisiasi berdirinya sebuah madrasah ibtidaiyah pada tahun 2014 yang kemudian diberi nama MI Al-Azhar Saumlaki di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Sosial Masyarakat Al-Dhiya Marsya Indonesia. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Yayasan, Bapak Adam Kubangung bahwa alasan didirikannya MI Al-Azhar Saumlaki adalah adanya keresahan para warga muslim terhadap pendidikan anak-anak mereka di sekolah umum, di mana porsi pendidikan Islam hampir tidak ada. Hal ini terlihat dari ketiadaan guru-guru muslim di sekolah-sekolah umum. Oleh karena itu, MI Al-Azhar dibuka dengan 7 orang siswa di tahun pertama.

Lima tahun berjalan, alhamdulillah, MI Al-Azhar Saumlaki memiliki sekitar 150 siswa. Jumlah ini tentu tak sedikit. Terlebih MI Al-Azhar Saumlaki merupakan satu-satunya MI di kabupaten Maluku Tenggara Barat. Namun kuantitas siswa yang semakin meningkat belum diimbangi dengan kualitas pengelolaan sekolah yang bagus. Hal ini bukan tanpa sebab, hilir mudiknya guru yang mengajar, keterbatasan akses belajar guru dan siswa menjadi alasan. Pun demikian, dari pihak yayasan selalu mencari solusi untuk memperbaiki manajemen pengelolaan madrasah. Dan bersyukurnya, terdapat beberapa guru yang dapat benar-benar diajak bekerjasama untuk memperbaiki kualitas MI Al-Azhar Saumlaki. Langkah-langkah perbaikan memang harus dilakukan karena MI Al-Azhar Saumlaki menjadi gerbang pendidikan Islam di kepulauan Tanimbar ini. (Fajar, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Pic : https://www.triptrus.com/destination/438/kepulauan-tanimbar

Dinding Sekolah Ku Bukan Dari Tembok

Pendampingan Sekolah Literasi Indonesia di kabupaten Konawe Selatan, Kecamatan Tinanggea terdiri dari 5 sekolah. Salah satunya adalah MI Raudhatul Jannah yang terletak di desa Bomba-bomba. MI Raudahtul Jannah sudah berdiri sejak 12 tahun yang lalu, dibina oleh bapak Imanuddin sekaligus menjadi kepala yayasan dan kepala sekolah tersebut.

MI Raudhatul Jannah terdiri dari 5 guru yang aktif yang tiap hari datang ke sekolah, 1 orang kepala sekolah, dan 1 orang “Guru jam terbang” yang hanya beberapa hari di sekolah. Kepala sekolah MI Raudhatul Jannah tidak hanya bertugas mengelola sekolah, tetapi sebagai pengajar sekaligus wali kelas. Hal ini dikarenakan secara administrasi MI Raudhatul gurunya sanagt minim. Tentu ini bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah saja, tetapi juga elemen yang ada di sekolah tersebut misalnya guru maupun dinas pendidikan setempat.

Tidak saja kekurangan guru, MI Raudhatul Jannah juga kekurangan sarana dan prasarana sekolah seperti : bangunan sekolah baik, ruangan kelas maupun perpustakaan sekolah yang layak, dan nyaman bagi peserta didik untuk belajar. Tidak sesempurna sekolah lain yang berlandaskan tembok dengan ruang yang besar, MI Raudhatul Jannah hanya dilandasi bangunan kayu. Walaupun seperti itu, MI Raudhatul Jannah mempuyai sumber daya manusianya yang bagus seperti guru-guru yang memiliki semangat rasa memiliki terhadap sekolah yang kuat. Bagi guru-guru disana yang menjadi hal terpenting bagi mereka adalah semangat peserta didik yang mau belajar.

(Piska Yunita, Kawan SLI Angkatan 2 Penempatan Konawe Selatan)

Berkaca pada Masa Lalu

Perjalanan menjadi seorang konsultan relawan bukanlah hal mudah. Banyak hal yang harus direlakan untuk ditinggal, entahlah itu kebersamaan dengan keluarga, hidup pada zona nyaman, atau yang lainnya. Akan tetapi inilah jalan yang telah dipilih oleh saya beserta 23 kawan lainnya. Kami rela untuk mewakafkan satu tahun hidup di daerah penempatan. Besar harapan saya agar satu tahun ini berarti. Supaya saya bisa lebih banyak lagi belajar kepada para tokoh dan lingkungan sekitar, yang kelak akan mewarnai sebagian kisah kehidupan saya.

Saya ingin belajar. Hanya itu modal yang saya punya untuk bisa tetap bertahan. Terkait belajar apa, saya pun tidak tahu. Pokoknya saya percaya bahwa perjalanan saya di Ogan Ilir ini akan membuahkan banyak pelajaran hidup.

Setiap hari saya bersama rekan mengendarai sepeda motor untuk sampai dari sekolah ke sekolah. Kami bertemu dengan banyak sekali murid-murid dan guru-guru. Saat tiba di salah satu SD, saya mengobrol banyak dengan guru tersebut mengenai kisah perjalanan mengajar beliau yang telah puluhan tahun.

“Dik, Ibu sudah ngajar dari tahun ’89. Beragam karakter siswa udah Ibu pahami. Capek, Dik, ngajar anak SD tuh, apalagi kelas rendah.” keluhnya.

Aku hanya tersenyum sembari menanti kalimat beliau selanjutnya.

“Ujian Ibu ini lagi ini lagi…”

“Apa, Bu?” tanyaku penasaran.

“Suka dikasih murid-murid yang belum bisa baca. Bayangkan, Dik, dari tiga puluh siswa, hanya empat siswa yang bisa baca di awal pertemuan kelas dua sama Ibu. Ya Allah, itu 24 lagi gimana… Sedih Ibu, Dik.”

“Masya Allah, ‘PR’ Ibu nambah, dong, ya.”

“Makanya, Ibu bilang ke kepala sekolah untuk beri kesempatan Ibu 3 bulan tidak menyentuh RPP dan semacamnya. Mau bagaimana menggunakan butu tematik juga kalau semua anaknya belum bisa baca.”

Saya menemukan sebuah semangat yang menggebu dari ibu tersebut. Betapa seorang guru sekolah dasar berusaha dengan maksimal agar anak-anak didiknya dapat berhasil. Meski memang keberhasilan itu tidak selalu diukur dari kemampuan kognitif, akan tetapi dari semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas anak, dapat diketahui bahwa ibu tersebut tak pernah main-main dalam mengajar.

“Terserah mau dibilang galak juga sama orang tua. Yang penting anak-anak didik Ibu bisa berhasil. Ibu yakin, bukan anak kami bodoh, akan tetapi mereka hanya perlu didisiplinkan saja agar giat belajarnya.”

Saya semakin semakin setuju dengan kutipan dari Syaikh Ali Musthafa Tantawi, “Aku telah mengajar di banyak sekolah mulai dari jenjang sekolah dasar di perdesaan, di sekolah menengah pertama, menengah atas, hingga perguruan tinggi serta di berbagai jurusan. Aku juga mengajari para dosen di berbagai perguruan tinggi dan masjid-masjid. Namun aku katakan dengan penuh kejujuran, tak ada yang lebih banyak berkahnya, lebih banyak manfaatnya bagi orang, serta lebih banyak pahalanya dari mengajari anak-anak sekolah dasar.”

Peristiwa ini mengantarkanku pada nostalgia belasan tahun lalu ketika saya duduk manis di bangku kayu dengan berseragam putih merah. Kemudian seorang guru dengan teliti mengajari membaca satu-satu muridnya. Inilah salah satu refleksi saya. Terkadang seseorang lupa bahwa capaiannya yang telah pada puncak adalah berkat bimbingan guru SD di anak tangga pertamanya. Terima kasih, guru-guruku. (Nida Falilah, Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia wilayah Ogan Ilir)

Pasir di Tengah Laut itu Sekolahku

Oleh: Inda Dwi S. (Kawan SLI Angkatan 2, Penempatan Kab. Konawe Selatan)

Bungin adalah salah satu kampung di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bungin merupakan kampung yang terletak di tengah laut. Untuk menuju kampung tersebut, dari pelabuhan belakang pasar Tinanggea menyebrang kurang lebih 15 menit menggunakan perahu kecil bermuatan penumpang 4 orang menuju kampung Bungin. Dari pelabuhan Tinanggea ke Bungin cukup membayar Rp. 5000,00 saja. Untuk keselamatan? Percaya kepada Allah SWT adalah kuncinya. Karena perahu kecil dengan muatan penumpang 4 orang tidak dilengkapi dengan pelampung. Konon katanya masyarakat kampung Bungin kebanyakan adalah masyarakat suku Bajo yang terkenal pandai dalam hal berenang dan menyelam. Mungkin hal itulah yang menyebabkan perahu yang berlalu lalang disana tidak pernah dilengkapi dengan pelampung.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki di kampung Bungin, nampak bahwa masyarakat disana sangat ramah. Banyak dari mereka menawarkan untuk singgah, menanyakan siapa kami, dan apa tujuan kami datang disini. Saat itu langsung saja kami menanyakan dimana lokasi sekolahnya. Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi bahwa di kampung tengah laut tersebut terdapat sekolah satu atap yaitu SD dan SMP. Sekedar informasi, bahwa sekolah di kampung Bungin bukan merupakan sekolah dampingan dri SLI. Namun demikian, berdasarkan wisata edukasi yang kami lakukan kemarin sangat menarik untuk diceritakan.

Di hari minggu pagi itu anak-anak banyak yang bermain di sekolah. Ada yang bermain bola bekel, mempersiapkan jaring untuk menangkap ikan serta ada yang bermain rumah-rumahan diatas tanah. Diatas tanah? Iya, karena saat itu air laut sedang surut sehingga tanahnya nampak. Mereka dengan lincahnya berlarian di tanah, kemudian naik keatas papan sekolahnya tanpa rasa takut dan canggung. Sempat kami menanyakan aktivitas mereka sehari-hari di sekolah, siapa guru mereka, di sekolah belajar apa aja, kemudian muncul satu pertanyaan menarik yang ingin saya ketahui dari mereka. “Ketika pelajaran olahraga biasanya belajarnya bagaimana dek?”, tanyaku pada mereka. Dengan polosnya mereka menjawab “kalau air surut kami main bola voli di lapangan”, ucap mereka sambil menunjuk arah lapangan bola. Lapangan yang mereka maksud adalah tanah biasa yang hanya dapat dilihat ketika air laut surut. Ketika air laut pasang, lapangan mereka hilang, dan olahraga diisi dengan berenang.

Mungkin banyak orang yang takut tinggal di pulau, dikelilingi laut lepas dengan berbagai resiko yang ada. Namun demikian, warga Bungin terlihat menikmatinya. Bahkan dari hasil wawancara, kebanyakan masyarakat yang tinggal di Kampung Bungin merupakan pendatang. Mereka menetap disana menjadi nelayan, petani rumput laut, dan pedagang. Mereka menjalaninya dengan senang hati. Tidak berbeda dengan anak-anaknya, anak-anak disana meskipun hidup terbatas namun semangatnya tetap tinggi untuk bersekolah. Bahkan ketika kami datang, yang notabene adalah orang asing bagi mereka, namun dengan ceria nya mereka bercerita bahwa mereka sudah sekolah, ada yang kelas satu, kelas dua, bahkan TK sekalipun dan itu tanpa kami menanya terlebih dahulu. Tetap semangat anak-anakku, semoga semangatmu tak pernah padam dalam menimba ilmu. Semoga kelak satu, dua, atau sekian dari kalian akan membangun peradaban di kampung kalian, memberi perubahan yang lebih baik di kampung kalian. Dan cerita sore itu ditutup dengan senja yang indah di kampung Bungin.

Bukan Laskar Pelangi

Oleh Agustia (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Bima)

Berbicara tentang pendidikan pasti tak ada habisnya. Mulai dari sistem pembelajaran, kesejahteraan guru-guru, anak-anak yang sulit diatur sampai sarana dan prasarana.

Hari pertama, saat saya berada di kota Bima sebagai konsultan relawan Sekolah Literasi Indonesia. Sekolah yang pertama saya observasi adalah sekolah Mis Yasim Belo. Dari luar sudah nampak bahwa sekolah ini masih minim sarana dan prasarana. Benar saja, ketika saya masuk ke sekolah ini, saya sudah disambut dengan tandusnya halaman sekolah yang tak memiliki apa-apa. Hanya tiang bendera yang menjadi saksi bisu bahwa sekolah ini dulu pernah menjadi sekolah yang diminati oleh masyarakat. Sekolah yang menampung anak-anak yang berada di desa Belo, dan sekarang sekolah ini nyaris tak memiliki siswa.

Sekolah yang dibangun pada tahun 1946 ini adalah sekolah yang paling memprihatinkan, sebab siswa-siswanya dalam setiap kelas bisa dihitung dengan jari. Bahkan ada yang dalam satu kelas hanya 4 orang siswa. Sungguh ini bukan film-film menyedihkan tentang pendidikan, namun ini nyata adalanya. Awalnya ketika saya disambut oleh ibu kepala sekolah Mis Yasim Belo yaitu ibu Suharti dengan senyuman yang begitu hangat, saya pikir ruangan kepala sekolah adalah ruangan yang satu kesatuan dengan fungsi bahwa itu hanya sebagai ruang kepala sekolah namun pada kenyataannya ketika saya mendengarkan  pemaparan dari kepala sekolah bahwa ruangan tersebut juga sebagai ruangan guru-guru. Ruangan guru atapnya sudah bocor dan hampir mau roboh, maka dari itu ruangan tersebut tidak difungsikan lagi. Saya langsung menatap kepala sekolah dengan berkata “Masya Allah ibu, engkau sangat luar biasa”.

Saat obrolan-obrolan hangat dengan kepala sekolah, saya melihat ada satu ruangan yang ditutupi tripleks. Saya pikir itu ruang ibadah atau toilet guru-guru ataupun kepala sekolah, tapi lagi dan lagi saya harus mendapati kenyataan bahwa sekolah ini sangat memprihatinkan. Ruangan yang saya pikir adalah ruang ibadah, nyatanya itu adalah ruangan belajar untuk kelas 6. Jadi bisa dikatakan bahwa ruangan kepala sekolah, guru, dan ruangan belajar untuk kelas 6 berada pada satu kesatuan ruang yang hanya dipisahkan oleh tripleks.

Saat saya masuk ke tiap-tiap ruang kelas yang diberikan sekat. Hati saya terenyuh melihat keadaan ini, sebab kursi tempat anak-anak belajar masih ada yang kurang layak. “Ibu, sekolah ini sudah lama dan banyak yang rusak, hanya dinding yang masih kokoh pada zaman belanda sebab dinding-dinding sekolah ini dibuat oleh belanda” kata ibu Zubaidah, salah satu guru yang ada di Mis Yasim Belo. Memang tembok sekolah ini saya lihat sangat luar biasa kuat walaupun ada beberapa dinding yang mulai retak akibat gempa bumi.

Sekolah Mis Yasim Belo menjadi refleksi kita bersama bahwa masih banyak sekolah desa yang ada di Indonesia ini yang keadaannya mungkin seperti film “laskar pelangi” atau lebih dari itu. Dengan keadaan sekolah seperti ini, kepala sekolah Mis Yasim Belo yaitu ibu Sunarti masih optimis dan semangat untuk memajukan sekolahnya. Walaupun siswa disekolah ini kurang, tapi beliau yakin bahwa suatu saat nanti sekolahnya akan menjadi sekolah unggulan dan sekolah percontohan untuk sekolah-sekolah lainnya. Salah satu bukti semangat itu ketika sekolah berhasil memenangkannya lomba sains. Dan kalau boleh jujur, ini adalah piala pertama yang memenuhi ruangan kepala sekolah.

Semangat pendidikan Indonesia, bangun jiwa dan raga generasi kita. Jangan jadikan keterbatasan untuk berhenti menginspirasi anak-anak dan berjuang dalam dunia pendidikan. Engkau adalah guru tanpa tanda jasa, namamu akan dikenang oleh siswamu, masyarakat dan oleh dunia bahwa engkau adalah guru yang memotivasi, guru hebat dan menginspirasi. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan.

Semangat Cita Siswa Beranda

Oleh : Atin Sanita

Kawan Sekolah Literasi Indonesia  wilayah Sanggau

Desa Entikong merupakan merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak Malaysia Timur. Masyarakat disini sangat heterogen, berbagai macam suku ada disini diantaranya; Suku Dayak, Melayu, Minang, Jawa dan lain sebagainya. MTs Istiqomah merupakan salah satu sekolah yang ada di Kecamatan Entikong. MTs ini baru saja berdiri  dan mendapatkan izin operasional sejak bulan Mei 2018. MTs Istiqomah berada dalam naungan Yayasan Lintas Batas (YLB). Jumlah Siswa yang ada di MTs Istiqomah ini sebanyak 33 orang, terdiri dari 19 orang siswa kelas VII, dan 14 orang siswa kelas VIII. Sekolah ini belum memiliki bangunan sendiri, sarana dan prasarana yang memadai serta SDM yang optimal untuk mendukung kegiatan proses pembelajaran.

Selama ini siswa siswi MTs Istiqomah belajar menumpang di ruangan kelas milik MIS Istiqomah. Selain itu di Sekolah ini juga belum memiliki satu orangpun guru tetap yang selalu standby di sekolah, semua gurunya merupakan guru-guru yang juga terikat di Sekolah lain. Ada juga yang bekerja sebagai Swasta, sehingga ini menjadi salah satu alasan mengapa MTs Istiqomah harus masuk disiang hari. Meskipun dengan keadaan yang serba terbatas, namun anak-anak kami ini selalu semangat ke Sekolah setiap harinya. Walaupun terkadang di Sekolah tidak mereka temui guru, tetapi anak anak anak ini senantiasa menunggu sampai gurunya datang. Biasanya sambil menunggu guru dating, aktivitas yang mereka lakukan adalah dengan bermain bola Volly dan Bola Kaki.

Seperti disabtu kemarin, walaupun dalam keadaan hujan mereka tetap datang ke Sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar dan latihan upacara bendera.  Untuk siswa kelas VII belajar SBK dan diarahkan oleh Ibu Vella untuk membuat karya bunga gantung dari botol plastik. Meskipun dalam  keadaan hujan anak anak ini sangat antusias mencari tanah yang hitam dan subur untuk dimasukan dalam pot botol bekas yang sudah mereka lobangi. Mereka bekerja secara berkelompok dengan bagi bagi tugas sehingga tidak anak yang tidak bertugas dalam setiap kelompok tersebut. Saya perhatikan mereka sangat senang dengan belajar di luar ruang kelas dan langsung praktik. Yah mungkin mereka merasa jenuh kalau pengajaran dikelas hanya mencatat materi lalu diberi tugas. Hal demikian kurang memberikan pemahaman dan pengaplikasian konsep pembelajaran yang disampaikan. Sudah sepantasnya kita sebagai guru lebih kreatif dan inovatif lagi dalam mengemas materi pelajaran agar disampaikan lebih menarik perhatian siswa dan tidak membosankan.

Anak- anak ini datang ke Sekolah dengan membawa harapan orangtua mereka. Dengan mendapatkan pendidikan yang layak, suatu hari mereka bisa menggapai cita-citanya untuk mengangkat harkat dan martabat kedua orangtua serta mengharumkan nama bangsa ini. Saya yakin dengan semua keterbatasan yang ada, semangat masih membara dalam jiwa mereka. Darimanapun asal sekolah mereka, apapun latar belakang mereka, jika terus diasah suatu hari kelak anak-anak ini akan menjadi mutiara Beranda yang berkilau yang akan mengharumkan Negeri ini; Negeri Indonesia tercinta.