Adam, Pahlawan Muda Tarbiyah Islamiyah

Adam, Pahlawan Muda Tarbiyah Islamiyah

Jejak langkah mulai diayungkan, menjemput setiap kejutan ditiap perguliran waktu. Sountrack Asmaul Husna menyambut hangat kedatangan kami hingga ke hati mengantar ke zona alfa menawarkan kekhusyuan, keramahan guru-guru pun mulai menyambut penuh binar, berbincang satu-dua-tiga hal sebelum mereka membawa jiwa-raganya dalam kehidupan anak-anak yang menunggu di kelas.

Aku juga beranjak dari ruang bincang dengan Kepala Madrasah Ibu Maskunah menuju lantai 2 menghampiri kelas Ibu Nurlita sebagai sala-satu Guru Model. Ada yang ingin kusaksikan di Kelas Model itu, sebuah Rak Ceruk Ilmu yang bertengger di pojokan ruangan dengan warna-warninya. Sebentuk bantuan dari Dompet Dhuafa sebagai bagian pendukung program Sekolah Literasi Indonesia. Buku-bukupun rapi menjejeri tiap tingkatannya hingga jam pembelajaran menunjukkan tandanya, kelas dimulai depan kegiatan literasi, anak-anak yang berdomisili di kelas tiga (3) ini dipersilahkan mengambil buku bacaan, sontak saja mereka berhamburan, berebut memilih buku yang disukainya.

Sejurus kemudian semua sudah di posisi nyamannya masing-masing,  ada yang nyender di dinding dengan beralaskan karpet yang telah di sediakan, ada yang mojok dekat lemari, ada yang berkelompok, ada yang menyendiri. Sebuah hal baru memang menawarkan sensasi yang haru. Anak-anak ini begitu antusias, semuanya saling berebutan menyaringkan suara bacaanya, hingga nyaris tak ada yang ada makna yang teratangkap oleh dengar kita.

Namun ditengah ada kebaruan ada pula yang berbeda, adalah Adam namanya. Di hamparan hingar-bingar semangat dan deru suara teman-temannya yang saling bersahutan, Ia terlihat begitu menikmati bacaanya, dengan kening yang sedikit mengkerut, mata yang tajam seolah menembus makna tiap deretan huruf, dan bibir yang tak berkomat-kamit menarikku mendekatnya, mengambil gambarnya dan antiknya dia sama sekali tak bergeming.  “Pahlawan Muda” buku di genggamannya, aku mendekat dan memotong keseriusannya.

“Aku juga mau baca buku ini, dong” sambil memegang ujung buku dan melihat perubahan ekspresi adam.

“Yaaa, aku belum selesai bacanya je bu.” Tolak adam.

“Tapi Ibu juga penasaran bacanya, gimana dong?” Adam tersenyum kecut, menghentikan bacaanya.

Aku mengambil buku yang mulai melemah dari genggamannya melihat-lihat

“Emang ceritanya ini tentang apa, coba ceritakan ke ibu” kataku sembari mengambil posisi duduk disamping Adam.

Adam hanya tersenyum malu-malu sebagai jawaban

“Adam pasti mau jadi pahlawankan? tanyaku lagi, disambung dengan gelengan Adam.

“Jadi pahlawan nggak baik yah?” aku mencoba memancing yang dijawab lagi dengan gelengan lebih cepat.

“Lahh, terus kenapa nggak mau jadi pahlawan?”

“Bahaya bu, harus nangkap penjahat” kata Adam mulai bercerita perlahan-lahan. Tentang 2 anak SD yang bersahabat dan bagaimana petualangannya mengungkap kejahatan, aku menyimak dengan harapan bahwa anak-anak ini hanya butuh diarahkan. Benar bahwa tak ada anak yang bodoh, hanya masalah waktu, hanya soal cara, hanya butuh orang dewasa mengambil peran mendidik.

“Adam, menjadi pahlawan itu berarti menjadi orang yang baik, suka membuat orang senang” kataku mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana.

 

“Kalau Adam rajin belajar, mama seneng nggak?”, “Iya” kata Adam dengan anggukan

“Kalau Adam rajin ke sekolah, bapak seneng nggak?”, “Iya” angguk adam.

“Kalau disekolah, Adam sering nggak membantu teman-temannya?”, “Iya”  angguk adam lagi

Berarti Adam adalah Pahlawan Muda, pahlawan kelas 3 Tarbiyah Islamiyah. Adam tersenyum malu-malu mengangguk.

 

Penulis : Jumrawati (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia penempatan wilayah Indramayu)

2 anak akit masuk islam

2 Anak Suku Akit Pendalaman Riau Masuk Islam

Allah SWT mempunyai banyak cara untuk memberikan hidayah Islam kepada umat manusia. Manusia yang dapat hidayahpun dari berbagai latar belakang profesi, budaya, dan warna kulit. Kalau Allah SWT sudah berkehendak untuk memberi hidayah Islam kepada seseorang, bagaimana pun gelapnya kehidupannya, sekeras apapun hatinya, dan sedalam apapun kebenciannya terhadap Islam maka tidak ada yang bisa menghalanginya untuk berkata jujur bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah rasul utusan Allah.

Proses masuk Islam dua orang anak suku pedalaman akit, dusun Bandaraya, desa Sokop, Kabupaten Kepulauan Meranti di masjid Agung Darul Ulum Selat  Panjang dihadiri oleh kedua orang tua anak tersebut.  Bapak  Awa dan Ibu Emi  selaku orang tua dari anak  bernama Bun Wa, sedangkan Bapak  Acai dan Ibu Jalina selaku orang tua dari anak bernama Akai. Kehadiran orang tua tersebut untuk memberikan izin baik secara lisan maupun tulisan kepada  anak-anak mereka untuk memeluk Agama Islam (Rabu, 12 Desember 2018).  Rombongan keluarga Akai dan Bun Wa diantarkan oleh Ibu Riati selaku pengelola sekaligus pendiri sekolah lokal jauh di Bandaraya, Munzir selaku Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dari Dompet Dhuafa, dan Luthfi Irawan selaku penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara dari Dompet Dhuafa. Akses untuk sampai ke masjid Agung Darul Ulum Selat Panjang, rombongan harus naik kapal untuk menyeberang dengan waktu tempuh 2 jam.

Masyarakat suku pedalaman akit mayoritas memeluk agama Budha, termasuk keluarga Akai dan Bun Wa. Walaupun orangtua kedua anak tersebut masih memeluk Agama Budha tapi mereka tetap mendukung kemauan anaknya untuk memeluk Agama Islam. Sebelum kedua  anak tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat ustad H. Ahmad Fauzi, S. Ag ketua  Yayasan Fitrah Fitrah Madani Meranti menjelaskan kepada orang tua dari Akai dan Bun Wa, bahwasanya dengan  memeluk Agama Islam tidak akan memutuskan hubungan  antara orang tua dan anak, bakti anak kepada orang tua adalah hal wajib walaupun beda agama, jelas ustad  H. Ahmad Fauzi saat berada di Kantor  Yayasan Fitrah Fitrah Madani Meranti sebelum dibawa ke masjid Agung.

Saat adzan dzuhur dikumandangkan seluruh masyarakat Kepulauan Meranti melaksanakan shalat dzuhur secara berjamaah di masjid Agung Darul Ulum, setelah selesai shalat dzuhur dilanjutkan dengan proses pengucapan syahadat untuk kedua anak Suku Pedalaman Akit dari Bandaraya tersebut yang disaksikan oleh puluhan orang serta orang tua mereka yang datang ke masjid. Suasana di masjid tersebut penuh haru bahagia menyaksikan Akai kelas 6 Sekolah Dasar dan Bun Wa  kelas 5 Sekolah Dasar telah sah memeluk Agama Islam. Setelah masuk Islam nama Akai berubah menjadi Mujahiddin dan nama Bun Wa berubah menjadi Muhammad Shobirin.

Setelah proses pengucapan syahadat, rombongan dari Bandaraya bergegas untuk pulang ke Bandaraya dengan kapal. Sesampai di pelabuhan Bandaraya,  ibu dari kedua anak  tiba-tiba menangis dengan wajah bahagia “pak guru, Bu Riati, terimakasih ya sudah mengantarkan kami untuk melihat langsung proses pengucapan syahadat anak kami” ucap ibu dari Akai.

“Ia ibu sama-sama” Ucap Munzir selaku Konsultan SLI

“Pak guru saya meyakini bahwa agama islam itu agama nomor satu Pak, makanya saya mau masukkan anak saya ke agama islam. Saya sangat bahagia sekarang anak saya sudah masuk Agama Islam Pak.” ucapnya lagi

“Ia bu, semoga ibu juga segera mendapat hidayah dari Allah” ucap Munzir. Beberapa percakapan singkat Ibu dari Akai tersebut menggambarkan alasan orangtua Akai dan Bun Wa mendukung anaknya untuk masuk Agama Islam karena mereka meyakini Agama Islam adalah agama nomor satu dan juga mengedepankan pendidikan.

Mari sama sama kita doakan semoga kedua anak tersebut Istiqomah memeluk Agama Islam dan semoga orang tua dari anak-anak tersebut segera mendapatkan hidayah-Nya. Amiin.

Kehidupan dan Perjuangan Kawan SLI

Kawan SLI antarkan 2 anak bersyahadat di Meranti

Untuk menjadi seorang pejuang, tidak melulu harus berada di medan perang, mengacungkan parang dan menebas lawan. Menjadi pejuang itu sebenernya cukup sederhana. Lakukan apa yang menjadi tugas, tanggung jawab, dan profesimu sebaik mungkin, dengan penuh komitmen. Ya, cukup dengan itu, seseorang bisa menjadi pejuang. Pejuang untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara. Untuk kehidupan yang lebih baik.

Indonesia dengan segala kemajemukannya, tentu memberikan warna tersendiri. Berbagai suku, bahasa, budaya, pun dengan profesinya. Mulai dari kalangan pedagang kaki lima hingga pengusaha hotel bintang lima. Mulai dari petani hingga hakim negeri. Semua tentu sama-sama berjuang di bidangnya dan (semoga) termasuk saya

Saya adalah seorang Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Sekolah Literasi Indonesia merupakan salah satu program dari Yayasan ternama di Indonesia, Dompet Dhuafa Republika. Lama waktu bekerja saya di Dompet Dhuafa baru 3 bulan. Kalau kata orang, masih seumuran jagung. Masih panjang perjalanan saya untuk meniti karir di Dompet Dhuafa Republika sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI). Dan semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik dari apa yang saya miliki untuk yayasan ini.

Bekerja di Dompet Dhuafa sebenarnya tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Program-program yang sangat identik dengan wilayah pedalaman membuat saya sangat takut. Saya berusaha untuk tidak berurusan dengan hal yang satu ini. Tapi kembali lagi pada sesuatu yang tidak bisa kita tolak, takdir. Justru akhirnya saya menjadi salah satu bagian dari para pejuang daerah pendalaman negeri ini.

Awal perjalanan saya dimulai ketika saya menandatangani kontrak kerja untuk siap ditempatkan di seluruh wilayah kerja Dompet Dhuafa. Kemudian mengikuti pelatihan selama 2 bulan di kota Bogor. Tidak hanya dibekali ilmu tentang pendidikan, tapi juga ditempa fisik dan mental dengan kedisiplinan ala militer. Setelah menjalani pelatihan selama 2 bulan, kami kemudian ditempatkan di unit kerja. Saat-saat penentuan unit kerja adalah hal yang cukup mendebarkan bagi saya. Dalam hati berharap bisa mendapatkan penempatan kerja tidak jauh dari kota kelahiran, syukur-syukur bisa mendapatkan tempat di kota kelahiran. Tapi mungkin, Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Takdir berbicara Kepulauan Meranti menjadi tempat penempatan kerja saya. Bekal yang saya dapat selama pelatihan, saya coba terapkan sebisa mungkin. Butuh waktu lama bagi saya untuk beradaptasi di daerah disini. kurang lebih 1 bulan. Namun alhamdulillah, masyarakat disini sangat menyukai tamu-tamu baru yang datang ke desa mereka. Waktu demi waktu terus berlalu masyarakat terus berdatangan kerumah dengan membawa buah-buahan ke tempat saya tinggal saya walau kami berbeda agama. Begitu juga dengan anak-anak disini yang rajin ke rumah untuk belajar.

Hal yang paling saya takuti adalah saat anak-anak non muslim meminta kepada saya untuk mengajari shalat dan mengaji tanpa pemberitahuan dari orang tuanya. Dalam benak pikiran saya “Akan ku pasrahkan kepada yang Kuasa jika ini takdir saya, jika tempat ini tempat terakhir saya hidup, saya sudah relakan. Asalkan anak2 ini masuk ke agama islam”

Seminggu kemudian setelah saya mengajarkan mereka shalat dan mengaji, anak-anak tanpa saya ketahui mereka meminta masuk islam kepada orang tuanya. Hal tersebut membuat saya takut. Beberapa anak datang kerumah saya serta melaporkan tanggapan dari orang tuanya.

“Pak saya tidak boleh masuk islam sama orang tua saya pak” celoteh seorang anak. Begitu juga dengan ketiga teman yang lainnya, mereka merasakan hal yang sama.

Satu jam berselang datanglah seorang anak yang melaporkan bahwa ia telah diizinkan oleh orang tuanya untuk masuk islam dan meminta untuk segera disyahadatkan. Hatiku ragu ketika anak tersebut mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan izin dari orang tuanya. Maka saya beranikan diri untuk datang kerumah anak tersebut.

Sesampai dirumahnya, orang tua anak tersebut mengatakan kepada saya,

“Pak tolong ajari anak saya shalat agar menjadi anak yang lebih baik dan berguna untuk desa ini kedepannya”. Sayapun sangat terharu dengan perkataan orang tuanya tersebut.

Tak berhenti disana, sepulang dari rumah anak tersebut, saya mengajak teman saya untuk kerumah pak komite. Disana kam dihidangkan dengan air mineral dan makanan ringan lainnya. Ditengah canda tawa, tiba-tiba pak komite mengajak kami berbicara serius.

 “Pak bolehkah anak saya, masuk islam?”

Hatiku tiba-tiba terhenti untuk menjawab pertanyaan pak komite (apa saking senangnya mendengarkan ya heheh), akhirnya saya menjawab

“Boleh pak, sangat boleh”.

“Jadi kapan anak saya di syahadat kan pak”. Tanya pa Komite.

“ Tunggu pak ustad pulang dari Jakarta ya pak hehe” jawab saya.

“ ohhh baik pak” balas pa Komite.

Karna waktu sudah jam 10 malam kami izin pulang, lalu pak komite berteriak kepada kami

“Pak tolong ajari anak saya tentang shalat ya pak???.”

Sayapun menjawab

“Insyaallah siap pak”

Itulah sekelumit kisah perjuangan saya menjadi relawan. Saya sangat berterima kasih pada Dompet Dhuafa yang sudah menjadikan saya bagian dari keluarga ini. Bekerja di sini memberikan sebuah tantangan sekaligus kebahagiaan untuk bisa mengabdi kepada masyarakat dan bangsa melalui profesi. Menjadi seorang pejuang tanpa harus mengangkat senjata. Semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik untuk Sekolah Literasi Indonesia.

Guru cilik dadakan ditengah keterbatasan!

Guru cilik dadakan ditengah keterbatasan!

Hari ini saya mengajar sendirian lagi di sebuah dusun di tengah hutan. Di tengah hutan seperti ini ternyata saya bisa mengatakan: “Kemana rimbanya?” Kalau ditanya rimbanya ke mana, jawabannya rimbanya tidak ke mana-mana. Masih ada di depan, belakang, di sebelah kanan, dan di sebelah kiri, semuanya rimba. Namun sebenarnya saya menanyakan rimba yang lain yaitu Rimba, partner guru saya. Sudah hampir dua minggu ia tidak menemani murid-murid mengajar di sini. Jika bukan karena tidak ada perahu boat yang tersedia mengantar, bisa jadi alasannya adalah karena tidak ada bekal yang cukup untuk bertahan hidup di tengah rimba.

Benar, mengajar di dusun ini butuh perjuangan. Masalah paling utama yang menyulitkan guru untuk mengajar di Dusun Nunusan adalah akses jalan sulit juga mahal. Jika berhasil sampai di dusun dengan selamat, guru harus segera bersiap-siap untuk menghadapi masalah lain yaitu bertahan hidup di tengah rimba. Akibatnya, jika bahan makanan yang dibawa oleh guru sudah mulai habis, ya sudah perlu segera ke hilir. Jangan sampai gurunya kenapa-kenapa.

Permasalahan di sekolah ini memang sulit, namun prinsipnya lakukanlah apa yang bisa dilakukan semaksimal mungkin. Kadang miris melihat murid-murid kelas 1 dan 2 yang digabung dalam satu local. Mereka datang ke sekolah dengan sedikit muatan pembelajaran, sisanya dihabiskan untuk bermain, bertinju, menangis, baikan, lalu bermain lagi. Padahal sebagai putra dan putri Indonesia, mereka juga berhak atas berbagai layanan dan realisasi janji yang diberikan pemerintah. Bahkan jika saya mengajar sendirian artinya saya akan mengajar lima level kelas dalam dua lokal yang berbeda, cukup melelahkan memang.

Hingga saya terpikir sebuah ide yaitu “berdayakan murid kelas tinggi untuk mengajar murid kelas rendah.” Wah, ide yang boleh juga tuh gumam saya. Keesokan harinya saya sampaikan ide itu kepada siswa pada saat apel pagi. Awalnya, wajah murid-murid kelas tinggi terlihat tidak yakin. Namun setelah beberapa siswa saya tunjuk, saya berikan motivasi, saya kuatkan, akhirnya mereka mengangguk setuju untuk mengajari siswa kelas rendah. “Mengenai konsep dan manualnya, nanti saya beritahu setelah masuk kelas” kataku.

Pelajaran jam pertama hari ini selesai. “Kelas tinggi boleh untuk beristirahat namun yang tadi saya tunjuk untuk mengajari adik kelas saya antar ke kelas sebelah” kataku. Inginku, semua kelas tinggi bersedia untuk mengajari si adik kelas, tetapi tidak semuanya bersedia karena ada yang tipe pemalu

Di kelas sebelah suasananya riuh sekali. Anak-anak berlarian, teriak, tertawa, bermain, minta perhatian dan sebagainya. Bagus karena itu tandanya siswanya sehat dan energik seperti seharusnya. Aku memulai memperkenalkan cikgu cilik ini. Awalnya cikgu cilik ini terlihat bingung mengenai materi apa yang perlu diajarkan dan bagaimana caranya. Kubilang, “Materinya adalah A, B, C, D dan seterusnya sedangkan caranya adalah seperti mengajari membaca iqro saat magrib itu loh yang biasa kita lakukan.”

Kupilih materi ini karena kebanyakan murid kelas satu belum mampu untuk membaca. Mengenal huruf pun hanya beberapa. Mungkin hanya abjad A dan B saja. Selebihnya tebak-tebak berhadiah. Supaya si adik kelas bisa belajar dengan baik, kita cukup membuka jendela untuk mereka dan biarkan mereka sendiri yang belajar dari buku-buku yang ada. Kupilih metode iqro adalah karena meskipun murid-muridku belum bisa menyebutkan keseluruhan alfabet dengan benar namun ternyata kebanyakan dari mereka sudah pandai menyebutkan huruf hijaiyah yang biasanya saya dan murid kelas tinggi latihkan kepada murid kelas rendah.

Begitulah keseharian kami di sekolah. Disini kami dituntut berfikir kreatif untuk menyelesaikan masalah yang hadir tanpa kami prediksi. Semua ini menjadi pengalaman berharga yang akan menjadi mozaik perjalanan sukses anak-anak disini. Anak-anak yang dituntut memiliki skill mengajar sebelum waktunya. Dimana keterbatasan memaksa mereka untuk berjuang lebih keras dari yang lainnya.

Ditulis oleh : Oki Dwi Ramadian – Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Editor : Marketing Komunisi DD Pendidikan

 

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Dara yang berusia 19 tahun ini bernama Nuri Rahmah anak pertama dari tiga saudara ini merupakan salah satu guru sekaligus staf administrasi yang membantu mengajar di MIS maupun di MTs Istiqomah Entikong. Bu Nuri begitu ia kerap disapa di sekolah baik oleh anak-anak maupun guru-guru. Bu Nuri baru tiga bulan mengabdikan dirinya di sekolah ini. Bu Nuri hanyalah tamatan Madrasah Aliah Negeri. Tamat sekolah dia di tawari pihak sekolah untuk bergabung di MIS dan MTs Istiqomah, awalnya ia hanya diminta membantu sekolah untuk menjadi wali kelas 2 dan guru bahasa arab, tetapi karena sumber daya manusia di sekolah yang terbatas akhirnya dia juga diminta untuk menjadi staf sekaligus guru didua sekolah itu. Bu Nuri pernah bercerita kepada saya bahwa dia ingin sekali kuliah dan menargetkan untuk bisa kuliah di tahun berikutnya. Hanya saja saat ini semuanya terbatas karena ibunya yang juga sakit stroke dan pendapatan Bapaknya yang tidak menentu setiap harinya. Ditambah kebutuhan hidup yang cukup mahal dan untuk membiayai sekolah adiknya membuat dia harus menunda dulu keinginannya untuk kuliah. Dia pernah bercerita sejak MAN dia sempat sekolah di Kabupaten Sanggau menumpang di keluarga dekatnya. Ibu Nuri merupakan guru termuda yang ada di MIS maupun MTs tetapi semangat dan kinerjanya tidak diragukan dalam mengajar dan mengemban amanah sebagai guru sekaligus staf administrasi di dua sekolah ini, padahal gajinya tidaklah seberapa itupun dihitung perjam ngajar yang mana terkadang kalau ada guru yang tidak masuk maka dialah yang akan masuk menggantikan guru tersebut.

“Sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah dengan mengambil jurusan pariwisata namun karena keterbatasan dan keadaan yang ada akhirnya saya memilih untuk mengabdi dulu di sekolah ini”, pungkas Bu Nuri.

Bu Nuri datang ke sekolah sejak pukul 07.00 Wib sampai pukul 12.00 Wib dilanjut mengajar di MTs setiap harinya sejak pukul 13.00 Wib-17.00 Wib. Terkadang dia mengeluhkan rasa capek dengan jadwalnya begitu padat, akan tetapi dia berharap semoga dengan pengabdian ini dapat membuka jalan kemudahan baginya untuk menyambung pendidikan lagi dibangku kuliah seperti teman-temannya.

Bu Nuri merupakan salah satu patner kawan SLI yang cukup membantu dalam pendampingan MTs Istiqomah Entikong. Beliau cukup kooperatif dan profesional dalam membantu berjalannya program SLI untuk kemajuan sekolah MTs. Mari teman-teman kita do’akan semoga Bu Nuri dimudahklan langkahnya untuk dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi dan semoga penyakit Ibunya segera diangkat dan disembuhkan. (AS)

Konsultan Relawan: Memeluk Sekolah Dampingan SLI

Konsultan Relawan atau lebih akrabnya di sapa Kawan adalah sebutan bagi pendamping Sekolah Literasi Indonesia. Peran ini membawa aku mengenal pendidikan lebih dekat, menyapa pendidikan lebih sering, dan mengenggam pendidikan lebih erat. Meski dalam skala kecil di lima sekolah Kab. Indramayu, sebuah daerah baru dengan peran baru memiliki tantangan tersendiri.

Masih terekam jelas saat kunjungan perdana ke tiap-tiap sekolah dampingan. Sambutan yang hangat adalah kesan pertama khas orang jawa yang ramah, namun sambutan hangat tak selalu berbanding lurus dengan penerimaan. Jamuan penyambutan tak bisa mewakili semua pihak menyambut baik kehadiran kita. Tentu ada segelintir yang juga memasang tameng pembatas dengan kedatangan kami, menyelidik penuh curiga, meragu penuh kesangsian. Kemudian ada beberapa guru yang mempertanyakan “Apa yang akan kami dapatkan dari program ini? Apakah program ini menjamin karakter yang baik bagi siswa di luar jam sekolah hingga setelah lulus dari sekolah ini?”. Ada juga yang menyerah sebelum bergerak, “yang namanya program pasti membutuhkan dana dan kondisi sekolah kami begini dan begitu”. Belum lagi yang mencibir “apa keuntungan yang didapatkan lembaga anda, padahal inikan tugas pemerintah?”. Percayalah menjelaskannya dalam bahasa yang sederhana dan sesantun mungkin itu tidak semudah yang dipahami.

Akan kusampaikan juga tentang sarana dan prasarana. Aku tidak percaya. Di pulau jawa ini, kabupaten yang dinobatkan sebagai lumbung padi nasional, masih ada meja kursi yang lebih tak layak pakai dibanding yang kugunakan di puluhan tahun lalu. Masih ada ruang kelas yang seharusnya menjadi gudangpun sudah tak layak. Mungkin wajar jika di pelosok, tapi di sini bukan pelosok. Aku juga tercengang dengan ruang kelas dibagi 2 rombongan belajar, kelas 4 dan kelas 5 yang hanya dibatasi tripleks mading. Tapi faktanya kelas tersebut sudah berjalan sepanjang semester ganjil ini. Jangankan mencari fasilitas pendukung, mendapati ruangan tergembok berisikan buku yang berserakan penuh debu dan sarang laba-laba dengan sisa-sisa gigitan tikus adalah sebuah nafas kelegaan.

Akan kuceritakan juga tentang jarak, kunjungan ke Sekolah harus menempuh 20an Km di tiga Sekolah Dampingan, bahkan kadang menghabiskan 1 jam perjalanan. Belum lagi soal akses jalanan bebatuan rusak di salah satu sekolah yang menjadi momok terberat tiap kunjungan kesana. Ditambah akses kendaraan pulang-pergi yang memberatkan. Namun di hamparan bebatuan jalan dan jarak yang jauh aku mendengar banyak perjuangan. Tentang Guru-guru yang setiap harinya pulang pergi melintasinya, hanya dengan harapan Rp.300.000an per bulan yang harus di rapel pula,  bukan satu-dua, bukan sekali-dua kali, bukan setahun-dua tahun tapi hingga puluhan tahun. Tentang paradigma dan komitmen adalah wilayah hati dan memang tak pernah punya tolak ukur.

Diketerbatasan sarana dan prasarana yang kuanggap sebagai kekurangan, selalu ada kisah antik dibaliknya. Tentang gedung yang kusebut tak layak telah menjadi saksi belajarnya ribuan generasi penerus bangsa. Dititik ini, di purnama pertama yang sudah terlewati, aku mengakui bahwa amanah ini memang tidak bercanda. Saat kamu harus memberikan sesuatu kepada orang lain, maka yang paling pertama adalah memastikan kita punya sesuatu. Saatnya meluruskan niat, membenahi presepsi dan mengolah semua hal dengan positif. Wejangan saat pembinaan bahwa “Fokus utama kita adalah pada yang mau menerima, pada yang siap bekerja bersama” menjadi penguat.

Pada akhirnya, makin kesini makin melihat lebih luas, masih ada yang jauh lebih banyak menerima kita. Justru keberadaan kita di sini adalah kehadiran yang diharapkan, tantangannya sekarang adalah bagaimana memeluk sekolah dampingan, membentang kebaikan dengan erat pada mereka yang ada. Bersama Dompet Dhuafa mari menjawab panggilan zaman “saatnya turun tangan, saatnya berkarya, saat melakukan apapun untuk Indonesia, untuk Pendidikan, untuk sekolah, dan untuk diri sendiri kepada Yang Maha Benar menitipkan amanah ini”. (Jumrawati, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Berkaca pada Masa Lalu

Perjalanan menjadi seorang konsultan relawan bukanlah hal mudah. Banyak hal yang harus direlakan untuk ditinggal, entahlah itu kebersamaan dengan keluarga, hidup pada zona nyaman, atau yang lainnya. Akan tetapi inilah jalan yang telah dipilih oleh saya beserta 23 kawan lainnya. Kami rela untuk mewakafkan satu tahun hidup di daerah penempatan. Besar harapan saya agar satu tahun ini berarti. Supaya saya bisa lebih banyak lagi belajar kepada para tokoh dan lingkungan sekitar, yang kelak akan mewarnai sebagian kisah kehidupan saya.

Saya ingin belajar. Hanya itu modal yang saya punya untuk bisa tetap bertahan. Terkait belajar apa, saya pun tidak tahu. Pokoknya saya percaya bahwa perjalanan saya di Ogan Ilir ini akan membuahkan banyak pelajaran hidup.

Setiap hari saya bersama rekan mengendarai sepeda motor untuk sampai dari sekolah ke sekolah. Kami bertemu dengan banyak sekali murid-murid dan guru-guru. Saat tiba di salah satu SD, saya mengobrol banyak dengan guru tersebut mengenai kisah perjalanan mengajar beliau yang telah puluhan tahun.

“Dik, Ibu sudah ngajar dari tahun ’89. Beragam karakter siswa udah Ibu pahami. Capek, Dik, ngajar anak SD tuh, apalagi kelas rendah.” keluhnya.

Aku hanya tersenyum sembari menanti kalimat beliau selanjutnya.

“Ujian Ibu ini lagi ini lagi…”

“Apa, Bu?” tanyaku penasaran.

“Suka dikasih murid-murid yang belum bisa baca. Bayangkan, Dik, dari tiga puluh siswa, hanya empat siswa yang bisa baca di awal pertemuan kelas dua sama Ibu. Ya Allah, itu 24 lagi gimana… Sedih Ibu, Dik.”

“Masya Allah, ‘PR’ Ibu nambah, dong, ya.”

“Makanya, Ibu bilang ke kepala sekolah untuk beri kesempatan Ibu 3 bulan tidak menyentuh RPP dan semacamnya. Mau bagaimana menggunakan butu tematik juga kalau semua anaknya belum bisa baca.”

Saya menemukan sebuah semangat yang menggebu dari ibu tersebut. Betapa seorang guru sekolah dasar berusaha dengan maksimal agar anak-anak didiknya dapat berhasil. Meski memang keberhasilan itu tidak selalu diukur dari kemampuan kognitif, akan tetapi dari semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas anak, dapat diketahui bahwa ibu tersebut tak pernah main-main dalam mengajar.

“Terserah mau dibilang galak juga sama orang tua. Yang penting anak-anak didik Ibu bisa berhasil. Ibu yakin, bukan anak kami bodoh, akan tetapi mereka hanya perlu didisiplinkan saja agar giat belajarnya.”

Saya semakin semakin setuju dengan kutipan dari Syaikh Ali Musthafa Tantawi, “Aku telah mengajar di banyak sekolah mulai dari jenjang sekolah dasar di perdesaan, di sekolah menengah pertama, menengah atas, hingga perguruan tinggi serta di berbagai jurusan. Aku juga mengajari para dosen di berbagai perguruan tinggi dan masjid-masjid. Namun aku katakan dengan penuh kejujuran, tak ada yang lebih banyak berkahnya, lebih banyak manfaatnya bagi orang, serta lebih banyak pahalanya dari mengajari anak-anak sekolah dasar.”

Peristiwa ini mengantarkanku pada nostalgia belasan tahun lalu ketika saya duduk manis di bangku kayu dengan berseragam putih merah. Kemudian seorang guru dengan teliti mengajari membaca satu-satu muridnya. Inilah salah satu refleksi saya. Terkadang seseorang lupa bahwa capaiannya yang telah pada puncak adalah berkat bimbingan guru SD di anak tangga pertamanya. Terima kasih, guru-guruku. (Nida Falilah, Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia wilayah Ogan Ilir)

Pasir di Tengah Laut itu Sekolahku

Oleh: Inda Dwi S. (Kawan SLI Angkatan 2, Penempatan Kab. Konawe Selatan)

Bungin adalah salah satu kampung di Kecamatan Tinanggea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Bungin merupakan kampung yang terletak di tengah laut. Untuk menuju kampung tersebut, dari pelabuhan belakang pasar Tinanggea menyebrang kurang lebih 15 menit menggunakan perahu kecil bermuatan penumpang 4 orang menuju kampung Bungin. Dari pelabuhan Tinanggea ke Bungin cukup membayar Rp. 5000,00 saja. Untuk keselamatan? Percaya kepada Allah SWT adalah kuncinya. Karena perahu kecil dengan muatan penumpang 4 orang tidak dilengkapi dengan pelampung. Konon katanya masyarakat kampung Bungin kebanyakan adalah masyarakat suku Bajo yang terkenal pandai dalam hal berenang dan menyelam. Mungkin hal itulah yang menyebabkan perahu yang berlalu lalang disana tidak pernah dilengkapi dengan pelampung.

Kesan pertama saat menginjakkan kaki di kampung Bungin, nampak bahwa masyarakat disana sangat ramah. Banyak dari mereka menawarkan untuk singgah, menanyakan siapa kami, dan apa tujuan kami datang disini. Saat itu langsung saja kami menanyakan dimana lokasi sekolahnya. Sebelumnya kami sudah mendapatkan informasi bahwa di kampung tengah laut tersebut terdapat sekolah satu atap yaitu SD dan SMP. Sekedar informasi, bahwa sekolah di kampung Bungin bukan merupakan sekolah dampingan dri SLI. Namun demikian, berdasarkan wisata edukasi yang kami lakukan kemarin sangat menarik untuk diceritakan.

Di hari minggu pagi itu anak-anak banyak yang bermain di sekolah. Ada yang bermain bola bekel, mempersiapkan jaring untuk menangkap ikan serta ada yang bermain rumah-rumahan diatas tanah. Diatas tanah? Iya, karena saat itu air laut sedang surut sehingga tanahnya nampak. Mereka dengan lincahnya berlarian di tanah, kemudian naik keatas papan sekolahnya tanpa rasa takut dan canggung. Sempat kami menanyakan aktivitas mereka sehari-hari di sekolah, siapa guru mereka, di sekolah belajar apa aja, kemudian muncul satu pertanyaan menarik yang ingin saya ketahui dari mereka. “Ketika pelajaran olahraga biasanya belajarnya bagaimana dek?”, tanyaku pada mereka. Dengan polosnya mereka menjawab “kalau air surut kami main bola voli di lapangan”, ucap mereka sambil menunjuk arah lapangan bola. Lapangan yang mereka maksud adalah tanah biasa yang hanya dapat dilihat ketika air laut surut. Ketika air laut pasang, lapangan mereka hilang, dan olahraga diisi dengan berenang.

Mungkin banyak orang yang takut tinggal di pulau, dikelilingi laut lepas dengan berbagai resiko yang ada. Namun demikian, warga Bungin terlihat menikmatinya. Bahkan dari hasil wawancara, kebanyakan masyarakat yang tinggal di Kampung Bungin merupakan pendatang. Mereka menetap disana menjadi nelayan, petani rumput laut, dan pedagang. Mereka menjalaninya dengan senang hati. Tidak berbeda dengan anak-anaknya, anak-anak disana meskipun hidup terbatas namun semangatnya tetap tinggi untuk bersekolah. Bahkan ketika kami datang, yang notabene adalah orang asing bagi mereka, namun dengan ceria nya mereka bercerita bahwa mereka sudah sekolah, ada yang kelas satu, kelas dua, bahkan TK sekalipun dan itu tanpa kami menanya terlebih dahulu. Tetap semangat anak-anakku, semoga semangatmu tak pernah padam dalam menimba ilmu. Semoga kelak satu, dua, atau sekian dari kalian akan membangun peradaban di kampung kalian, memberi perubahan yang lebih baik di kampung kalian. Dan cerita sore itu ditutup dengan senja yang indah di kampung Bungin.

Bukan Laskar Pelangi

Oleh Agustia (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Bima)

Berbicara tentang pendidikan pasti tak ada habisnya. Mulai dari sistem pembelajaran, kesejahteraan guru-guru, anak-anak yang sulit diatur sampai sarana dan prasarana.

Hari pertama, saat saya berada di kota Bima sebagai konsultan relawan Sekolah Literasi Indonesia. Sekolah yang pertama saya observasi adalah sekolah Mis Yasim Belo. Dari luar sudah nampak bahwa sekolah ini masih minim sarana dan prasarana. Benar saja, ketika saya masuk ke sekolah ini, saya sudah disambut dengan tandusnya halaman sekolah yang tak memiliki apa-apa. Hanya tiang bendera yang menjadi saksi bisu bahwa sekolah ini dulu pernah menjadi sekolah yang diminati oleh masyarakat. Sekolah yang menampung anak-anak yang berada di desa Belo, dan sekarang sekolah ini nyaris tak memiliki siswa.

Sekolah yang dibangun pada tahun 1946 ini adalah sekolah yang paling memprihatinkan, sebab siswa-siswanya dalam setiap kelas bisa dihitung dengan jari. Bahkan ada yang dalam satu kelas hanya 4 orang siswa. Sungguh ini bukan film-film menyedihkan tentang pendidikan, namun ini nyata adalanya. Awalnya ketika saya disambut oleh ibu kepala sekolah Mis Yasim Belo yaitu ibu Suharti dengan senyuman yang begitu hangat, saya pikir ruangan kepala sekolah adalah ruangan yang satu kesatuan dengan fungsi bahwa itu hanya sebagai ruang kepala sekolah namun pada kenyataannya ketika saya mendengarkan  pemaparan dari kepala sekolah bahwa ruangan tersebut juga sebagai ruangan guru-guru. Ruangan guru atapnya sudah bocor dan hampir mau roboh, maka dari itu ruangan tersebut tidak difungsikan lagi. Saya langsung menatap kepala sekolah dengan berkata “Masya Allah ibu, engkau sangat luar biasa”.

Saat obrolan-obrolan hangat dengan kepala sekolah, saya melihat ada satu ruangan yang ditutupi tripleks. Saya pikir itu ruang ibadah atau toilet guru-guru ataupun kepala sekolah, tapi lagi dan lagi saya harus mendapati kenyataan bahwa sekolah ini sangat memprihatinkan. Ruangan yang saya pikir adalah ruang ibadah, nyatanya itu adalah ruangan belajar untuk kelas 6. Jadi bisa dikatakan bahwa ruangan kepala sekolah, guru, dan ruangan belajar untuk kelas 6 berada pada satu kesatuan ruang yang hanya dipisahkan oleh tripleks.

Saat saya masuk ke tiap-tiap ruang kelas yang diberikan sekat. Hati saya terenyuh melihat keadaan ini, sebab kursi tempat anak-anak belajar masih ada yang kurang layak. “Ibu, sekolah ini sudah lama dan banyak yang rusak, hanya dinding yang masih kokoh pada zaman belanda sebab dinding-dinding sekolah ini dibuat oleh belanda” kata ibu Zubaidah, salah satu guru yang ada di Mis Yasim Belo. Memang tembok sekolah ini saya lihat sangat luar biasa kuat walaupun ada beberapa dinding yang mulai retak akibat gempa bumi.

Sekolah Mis Yasim Belo menjadi refleksi kita bersama bahwa masih banyak sekolah desa yang ada di Indonesia ini yang keadaannya mungkin seperti film “laskar pelangi” atau lebih dari itu. Dengan keadaan sekolah seperti ini, kepala sekolah Mis Yasim Belo yaitu ibu Sunarti masih optimis dan semangat untuk memajukan sekolahnya. Walaupun siswa disekolah ini kurang, tapi beliau yakin bahwa suatu saat nanti sekolahnya akan menjadi sekolah unggulan dan sekolah percontohan untuk sekolah-sekolah lainnya. Salah satu bukti semangat itu ketika sekolah berhasil memenangkannya lomba sains. Dan kalau boleh jujur, ini adalah piala pertama yang memenuhi ruangan kepala sekolah.

Semangat pendidikan Indonesia, bangun jiwa dan raga generasi kita. Jangan jadikan keterbatasan untuk berhenti menginspirasi anak-anak dan berjuang dalam dunia pendidikan. Engkau adalah guru tanpa tanda jasa, namamu akan dikenang oleh siswamu, masyarakat dan oleh dunia bahwa engkau adalah guru yang memotivasi, guru hebat dan menginspirasi. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan.

Semangat Cita Siswa Beranda

Oleh : Atin Sanita

Kawan Sekolah Literasi Indonesia  wilayah Sanggau

Desa Entikong merupakan merupakan salah satu desa yang ada di kecamatan Entikong Kabupaten Sanggau. Wilayah ini berbatasan langsung dengan Negara Bagian Serawak Malaysia Timur. Masyarakat disini sangat heterogen, berbagai macam suku ada disini diantaranya; Suku Dayak, Melayu, Minang, Jawa dan lain sebagainya. MTs Istiqomah merupakan salah satu sekolah yang ada di Kecamatan Entikong. MTs ini baru saja berdiri  dan mendapatkan izin operasional sejak bulan Mei 2018. MTs Istiqomah berada dalam naungan Yayasan Lintas Batas (YLB). Jumlah Siswa yang ada di MTs Istiqomah ini sebanyak 33 orang, terdiri dari 19 orang siswa kelas VII, dan 14 orang siswa kelas VIII. Sekolah ini belum memiliki bangunan sendiri, sarana dan prasarana yang memadai serta SDM yang optimal untuk mendukung kegiatan proses pembelajaran.

Selama ini siswa siswi MTs Istiqomah belajar menumpang di ruangan kelas milik MIS Istiqomah. Selain itu di Sekolah ini juga belum memiliki satu orangpun guru tetap yang selalu standby di sekolah, semua gurunya merupakan guru-guru yang juga terikat di Sekolah lain. Ada juga yang bekerja sebagai Swasta, sehingga ini menjadi salah satu alasan mengapa MTs Istiqomah harus masuk disiang hari. Meskipun dengan keadaan yang serba terbatas, namun anak-anak kami ini selalu semangat ke Sekolah setiap harinya. Walaupun terkadang di Sekolah tidak mereka temui guru, tetapi anak anak anak ini senantiasa menunggu sampai gurunya datang. Biasanya sambil menunggu guru dating, aktivitas yang mereka lakukan adalah dengan bermain bola Volly dan Bola Kaki.

Seperti disabtu kemarin, walaupun dalam keadaan hujan mereka tetap datang ke Sekolah untuk mengikuti kegiatan belajar dan latihan upacara bendera.  Untuk siswa kelas VII belajar SBK dan diarahkan oleh Ibu Vella untuk membuat karya bunga gantung dari botol plastik. Meskipun dalam  keadaan hujan anak anak ini sangat antusias mencari tanah yang hitam dan subur untuk dimasukan dalam pot botol bekas yang sudah mereka lobangi. Mereka bekerja secara berkelompok dengan bagi bagi tugas sehingga tidak anak yang tidak bertugas dalam setiap kelompok tersebut. Saya perhatikan mereka sangat senang dengan belajar di luar ruang kelas dan langsung praktik. Yah mungkin mereka merasa jenuh kalau pengajaran dikelas hanya mencatat materi lalu diberi tugas. Hal demikian kurang memberikan pemahaman dan pengaplikasian konsep pembelajaran yang disampaikan. Sudah sepantasnya kita sebagai guru lebih kreatif dan inovatif lagi dalam mengemas materi pelajaran agar disampaikan lebih menarik perhatian siswa dan tidak membosankan.

Anak- anak ini datang ke Sekolah dengan membawa harapan orangtua mereka. Dengan mendapatkan pendidikan yang layak, suatu hari mereka bisa menggapai cita-citanya untuk mengangkat harkat dan martabat kedua orangtua serta mengharumkan nama bangsa ini. Saya yakin dengan semua keterbatasan yang ada, semangat masih membara dalam jiwa mereka. Darimanapun asal sekolah mereka, apapun latar belakang mereka, jika terus diasah suatu hari kelak anak-anak ini akan menjadi mutiara Beranda yang berkilau yang akan mengharumkan Negeri ini; Negeri Indonesia tercinta.