Sarange Taman Baca Sarangge Rasabou

Sarange Taman Baca Sarangge Rasabou

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, dari Sabang sampai Marauke, setiap daerah mempunyai ciri khas tertentu, salah satunya di Kabupaten Bima yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Kekayaan alam yang melimpah membuat daerah ini harus mengekspor hasil alamnya dan dibawa ke luar daerah yang ada di Indonesia seperti bawang, garam, kambing, sapi, dan lain-lain. Namun dibalik kekayaan alam yang melimpah tersebut ada suatu keadaan yang sangat memprihatinkan yaitu sumber daya manusia yang belum memadai, keadaan itulah yang membuat Abi Sakti bergerak dalam bidang pendidikan tepatnya dalam hal literasi. Umurnya yang terhitung masih muda, 28 tahun membuatnya merasa harus semankin banyak berbuat untuk bangsa ini.

Berawal dari keresahan beliau terhadap kondisi anak-anak di Desa Rasabou, Kabupaten Bima yang masih banyak buta huruf sehingga beliau membuat suatu terobosan untuk mengurangi keresahannya. Beliau mengambil buku-buku yang ada di Kantor Desa Rasabou yang tak terpakai kemudian beliau mencari anak-anak yang ada di desa Rasabou untuk menyisihkan waktu bermainnya dengan membaca buku. Anak-anak diminta membaca buku selama 30 menit setiap harinya. Bukan hanya itu, anak-anakpun dibimbing dalam hal keagamaan seperti mengaji. Dari kegitan kecil tersebut membuat bapak Abi membentuk sebuah komunitas yang disebut “Sarangge Baca Bima”. Komunitas tersebut merangkul atau mengajak juga aktivis-aktivis sosial untuk ikut berpastisipasi dalam “Literasi” anak-anak di Kabupaten Bima dan kegiatan tetsebut sudah mencakup beberapa desa dan mempunyai penanggung jawab sendiri-sendiri.

Segala hambatan yang dihadapi tidak menjadikan Abi pesimis sebab cita-cita awal beliau yaitu ingin menjadikan anak-anak di Kabupaten Bima menjadi anak-anak yang berakhlak mulia, mencintai Alquran, mampu membaca, menulis yang membuat beliau selalu semangat, dan sekarang anggota anak-anak dari komunitas “Sarangge Baca Bima” yang awalnya hanya 5 orang anak sekarang mencapai 20 orang anak. Sesuatu yang begitu luar biasa yang dilakukan oleh Abi dalam memajukan daerahnya dalam hal literasi, dan kegiatan tersebut direspon baik oleh masyarakat setempat. Anak-anak yang dulunya tidak tau membaca sekarang alhamdulillah bisa membaca dan anak-anak yang sebelumnya tidak percaya diri tampil di depan umum sekarang bisa dengan lincah tampil didepan umum,” ungkap Abi disela-sela kami melakukan wawancara bersama beliau.

Ketika kunjungan ke taman baca Sarangge, antusiasme anak dan hangatnya sambutan dari Abi beserta keluarga menambah rasa syukur saya karena sudah berada ditempat tersebut. Anak-anak yang begitu lucu dan menggemaskan membuat kami tak ingin melewatkan moment bermain bersama mereka. Perkenalan adalah awal saya membuka canda bersama mereka dan hal tersebut menarik perhatian ibu-ibu yang ada disekitar rumah Abi untuk datang melihat keramaian dalam perkenalan tersebut. Suasana pecah menjadi riuh  seketika ada seorang anak berkata saat sesi perkenalan “Hobi saya ingin menjadi dokter”, mendengar kepolosan anak tersebut, semuanya tertawa dan anak itupun tertawa. Tidak sampai disitu, kami mulai mengajak anak-anak bernyanyi usai sesi perkenalan yang mengocak perut karena tingkah lucu anak-anak Taman Baca Sarangge.

Bermain adalah dunia anak. Ketika kita mampu bermain dengan mereka, membawa diri ke dalam dunia bermain mereka maka kita akan sedikit paham tentang karakter anak tersebut. Bermain bersama anak-anak Sarangge membuat lelah menjadi hilang,melihat senyum canda tawa mereka, menciptakan semangat baru. Teruslah berkarya, bermanfaat dimanapun itu. Semoga dari kisah Abi, bisa menjadi inspirasi buat kita semua bahwa melakukan kebaikan, perubahan tidak akan terasa sulit asalkan ada tekad, kerja keras dan keyakinan maka semua urusan itu akan dimudahkan oleh-Nya.

 

 

Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya. Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau. Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi. “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.” Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang, Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa sebagai Bocah Buta Hilang. “Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Hasbi yang Menggemparkan Indramayu!

Hasbi yang Menggemparkan Indramayu!

 

Hari ini, keempat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan  nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya.

Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau.  Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi.  “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.”

Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang,

Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan  kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya  pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa  sebagai Bocah Buta Hilang.

“Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas  kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat  ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Aku, Teh Rio, dan Jasminum Officinale Milik Engget

Aku, Teh Rio, dan Jasminum Officinale Milik Engget

Untuk ke sekian kalinya saya mengajar dua lokal beserta semua siswa kelas 1, 2, 3, 4, dan 5 sendirian. Untung untuk tahun ini tidak ada siswa yang sedang duduk di kelas enam. Jika ada, maka mungkin rasanya sudah hampir sama payahnya dengan perjalanan mengumpulkan ketujuh bola naga. Jika saya mengajar di kelas rendah, siswa kelas tinggi sengaja ke kelas rendah mencari perhatian.

Biasanya mereka memperlihatkan dirinya tertawa, baik di jendela atau di pintu. Begitu pula sebaliknya ketika saya mengajar siswa kelas tinggi. Ada saja tingkahnya agar di perhatikan.

Teringat sebuah kisah ketika masih di kelas waktu itu. Belum beranjak dari meja guru namun kedua mataku mengarah ke pintu yang masih terbuka lebar ternyata ada si Engget. Sebenarnya nama asli Engget adalah Denis. Terdengar lebih bagus kan?, Tetapi orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Engget. Entah apa makna di balik nama itu, sehingga membuat saya pun kadang penasaran. Beberapa di antaranya memiliki nama alias, seperti Novita tapi biasa dipanggil “Kolom,” atau Rasna yang terkenal dengan nama “Aping.”. Semacam nama panggung gitu bagi musisi atau nama pena bagi seorang penulis.

Suatu hari seusai pelajaran di kelas, Engget mengajak aku mencari bunga untuk ditanam di depan kelas. Sepertinya dia mendengar perbincangan saya dengan Bu Niar dan Bu Yati saat melaksanakan school strategic discussion kemarin. Salah satu pembahasannya terkait pengadaan taman bunga. Hingga akhirnya ia berinisiatif mengajak saya mencari bunga untuk ditanam di kebun sekolah.

Saya katakan kepadanya: “O itu bagus tapi nanti ya kita cari bersama-sama bunga-bunganya lalu di tanam di sini.” Soalnya untuk program kegiatan itu kami belum membuat manual, deskripsi, penanggung jawab, dan berbagai hal yang perlu disiapkan untuk membuat program yang berkelanjutan

Ia menerima penjelasanku lalu mengganti topik. Engget kini bertanya: “Pak, mau mencium bunga teh rio?”, “ Bunga Teh Rio? Seperti apa tuh” tanyaku keheranan. Ia lalu membawa saya ke halaman tetangga yang cukup luas halamannya. Disana terdapat berbagai pohon diantaranya pohon pepaya, pohon manggis, bibit tanaman, bunga asoka, dan berbagai tanaman dan pohon lain. Ia lalu mengarahkan pandanganku pada serumpun tanaman berbunga putih. “Bunganya mirip sekali dengan bunga melati tapi kok beda ya dengan melati yang kukenal selama ini ya?” aku bertanya dalam hati.

Ketika kucium barulah saya ngeh dengan “bunga Teh Rio.” yang dimaksud Engget. Ternyata baunya mirip dengan sebuah minuman teh kemasan. Engget mengira bahwa bunga ini meniru bau minuman teh itu. Saya sampaikan bahwa justru minuman itulah yang menambahkan aroma dari bunga berwarna putih ini sehingga aromanya tercium seperti itu.

Tapi bunga apa sih itu? Bunganya sekilas terlihat seperti bunga melati tapi hanya terdiri dari lima kelopak, tidak lebih. Dibandingkan dengan melati, tanaman ini memiliki daun yang lebih ramping begitu pula rantingnya yang juga langsing. Setelah saya cari tahu ternyata namanya adalah Jasminum officinale atau dalam bahasa Inggris juga disebut poet’s jasmine. Seperti murid-murid kami, bunga ini juga punya nama samaran yang biasa dikenal dengan melati gambir.

Rezeki tak melulu soal harta

Engkerengas, desa dengan warga yang ramah

Ramah dan baik dalam menyambut tamu merupakan ciri khas dari masyarakat melayu yang mendiami hulu sungai Kapuas, lebih khususnya masyarakat yang berada di Desa Engkerengas Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu. Masyarakat disini sehari-hari menggantungkan hidup dari sungai sebagai seorang nelayan. Program pendampingan sekolah di Desa Engkerengas dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melalui program Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) bukan yang pertama kali, bahkan sudah menginjak tahun ketiga pada tahun 2018 ini.

Saat pertama kali datang tak ada kesan tertutup atau menghindari saya. Padahal nota bene saya adalah orang baru yang akan ditempatkan selama setahun kedepan di sini. Keramahan inilah yang membuat saya tidak begitu sulit membaur dengan masyarakat desa.

Diantara seluruh masyarakat ada sebuah keluarga yang begitu ramah dengan para tamu atau orang baru yang berkunjung ke Desa Engkerengas ini, namanya keluarga pak Marzuki. Pak Marzuki dan istrinyalah yang sering kupanggil mamak dan bapak. Aku yang saat ini terpisah dengan orang tua di Sulawesi, bertemu mereka berdua adalah pengobat rindu akan kedua orang tuaku. Pak Marzuki merupakan seorang kepala keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai nelayan. Berbagai macam ikan hasil tangkapannya biasa diolah menjadi ikan asin untuk dijual. Terkadang juga beliau mencari sarang lebah madu jika sudah mulai musimnya. Sedangkan istrinya yang biasa ku sebut mamak, bekerja sebagai petani karet. Ketika tangkapan ikan begitu sulit sehingga beberapa masyarakat Desa Engkerengas termasuk Pak Marzuki memelihara hewan ternak seperti ikan dan sapi.

Pak Marzuki memiliki 3 orang anak laki-laki. Anak yang bungsu masih bersekolah di MTs yang saya dampingi saat ini. Sedangkan kedua kakaknya telah selesai sekolah, hanya saja sebatas tingkat MTs saja, sebab akses pendidikan saat itu sangat sulit. Ada yang unik dari keluarga ini  Pak Marzuki dengan ketiga anak laki-lakinya tak ada satupun yang merokok padahal sangat jarang saya melihat laki-laki di desa ini yang tidak merokok, tua muda kebanyakan memiliki kebiasaan tak sehat ini. Menurutku Pak Marzuki merupakan sosok yang berhasil dalam mendidik anak agar tak terpengaruh lingkungan yang negatif. Si bungsu merupakan anak yang paling sering shalat berjamaah di masjid dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.

Jika ditanya kenapa pak Marzuki begitu baik terhadap tamu, jawabannya selalu

“Bahwa tamu selalu membawa rezeki, rezeki tak melulu tentang harta melainkan keberkahan hidup”.

 

Menurut cerita mereka, rumah pak Marzuki menjadi sangat ramai jika musim Pesta Rakyat digelar. Banyak masyarakat dari desa lain yang datang ke desa Engkerengas dan menginap di rumah pak Marzuki. Kadang berminggu-minggu lamanya mereka menginap, padahal tak ada ikatan pertalian darah. Bahkan terkadang suku Dayak yang beragama Nasrani yang saat itu sedang berburu babi hutan di sekitar desa Engkerengas sering menginap di rumah pak Marzuki untuk beristirahat. Pak Marzuki senang membantu orang yang datang ke desanya apalagi jika orang tersebut membawa perubahan untuk desanya agar menjadi lebih baik, beliau adalah sosok yang peduli akan segala kegiatan yang ada di desa, beliau tak pernah absen jika ada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di desa. Setiap program yang diselanggarakan oleh sekolah yang didampingi oleh KAWAN SLI beliaupun sering hadir.

Dari pak Marzuki saya banyak belajar bagaimana memuliakan tamu, sebab tamu membawa rezeki yang tak semata-mata berupa harta melainkan keberkahan hidup, bukankah menyambung tali silaturahim merupakan memperlancar rezeki, apalagi dengan menambah ikatan silaturahim dengan orang baru.

Kontributor : Afif (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Umar Bin Khattab Cilik

Darel, Umar Bin Khattab Cilik

Siaaap grak, lancang depaaan grak, tegap grak!

Suara lantang itu bergema di ruang kelas 1, ruang bercat kuning yang tembok dindingnya  sedikit rapuh dan beberapa goresan tinta hitam berbentuk gelombang. Semua siswa dalam kelas mengikuti semua intruksi dari pemilik suara lantang itu. Ternyata Ia adalah Darel, anak laki-laki yang mengemban amanah sebagai ketua kelas 1 di SDN 2 Wanasari Kec. Bangodua Kab.Indramayu. Hari ini Darel membuat orang-orang yang melihat aksinya terkesima termasuk Pak Khalim yang sedang melakukan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) di sekolah kami. Siapa yang tidak terkesima dengan anak laki-laki berpostur kecil dan kurus namun bak seorang tentara, badannya tegap, dadanya sedikit membusung dan bersuara lantang serta gercap mengambil langkah dalam memimpin teman-temannya di kelas. Anak laki-laki yang bisa menilai secara obyektif perihal barisan paling rapi di hadapannya. Dengan langkah cepat dan tegap, Darel berjalan ke kiri dan kanan menunjuk barisan yang boleh pulang.

Di Kursi paling belakang, bersama kepala sekolah saat proses pembelajaran berlangsung saya memperhatikannya. Mulai saat Ia meminta izin keluar sambil berlari memegang mulutnya karena giginya tanggal. Jelang beberapa detik, Ia kembali masuk dengan tertawa pada semua temannya. Langsung duduk di bangkunya dan fokus dengan pembelajaran. Menurut Ibu Masnaeni (wali kelas 1) dan Ibu kepala Sekolah, Darel adalah siswa yang cerdas dapat dibahasakan “juara kelas”.  Yang paling membanggakan, Darel mampu mengayomi teman-temannya. Darel kerap menegur temannya yang tidak memungut sampah saat meninggalkan ruangan kelas.

Umar Bin Khattab Cilik2

Di usia 7 tahun, Darel sudah menampakkan keberanian, kewibawaan dan karisma seorang pemimpin. Saya  sebut saja Umar Bin Khattab cilik, Umar yang dikenal sebagai Khalifah,  sosok sahabat Rasulullah shallahu’alaihiwassalam yang sangat tegas, pemberani, merakyat dan mengayomi. Sosok Umar mulai nampak pada diri Darel, dan jika jiwa kepemimpinannya semakin diasah berarti sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan telah mempersiapkan pemimpin berintegritas di masa yang akan datang.  Mempersiapkan lahirnya Umar Bin Khattab baru.

Sudah sepatutnya kepemimpinan setiap anak ditumbuhkembangkan, dan cara terjitu yang dapat ditempuh dengan penerapan mendidik anak ala Ali bin Abi Thalib :

“Ajaklah anak bermain dengan menyenangkan pada 7 tahun pertama, disiplinkanlah anak pada 7 tahun kedua, dan bersahabatlah pada anak usia  7 tahun ketiga.”

 

Lebih jauh lagi, Munif Chatif menerjemahkannya “pada masa 7 tahun pertama usianya anak adalah raja yang punya kerajaan bermain, pada  masa tujuh tahun kedua usianya anak adalah pembantu yang harus dididik dan dibimbing, pada masa 7 tahun ketiga usianya  anak akan tumbuh menjadi wazir.”. Kini Darel sudah memasuki fase 7 tahun keduanya berarti mulai didisiplinkan dengan didikan dan bimbingan. Apalagi usianya masih dalam usia golden age, usia paling tepat membentuk pribadi anak.  Uniknya, Darel membiasakan teman sekelasnya untuk menghormati seorang pemimpin walaupun itu adalah teman sebayanya dengan budaya salam. Setiap pulang sekolah Darel berdiri di depan kelas bersama Ibu guru menyalami satu persatu teman sebayanya.

Darel membuka mata kita bahwa siapapun bisa menjadi pemimpin, postur tubuh kecil tidak menjadi masalah. Karena sejatinya semua manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri.

Kontributor : Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Pustaka:

  • Chatif, Munif. 2018. Orang Tuanya Manusia. Bandung: Kaifa Learning
  • Wulansari, Nyi Mas Diane. 2017. Didiklah Anak Sesuai Zamannya. Jakarta: Visimedia Pustaka.
Kawan Fajar (Tingkatkan Minat Baca Siswa MI Al-Azhar Saumlaki)

Cara Tingkatkan Minat Baca Siswa

Di era millenial ini, buku masih menjadi salah satu sumber penting dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Walaupun sebenarnya ilmu pengetahuan sudah dapat diakses melalui berbagai media khususnya internet, namun hal ini tidak cukup mudah dirasakan oleh siswa-siswi MI Al-Azhar Saumlaki. Daerah Saumlaki yang notabene ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat masih kesusahan dalam mendapatkan akses jaringan internet. Di Saumlaki, jaringan internet bisa diakses dengan lancar hanya pada saat-saat tertentu, setelah Shubuh misalnya. Selain itu, ketiadaan buku bacaan di sekolah juga menjadi faktor utama kurangnya minat baca siswa MI Al-Azhar Saumlaki.

Melihat kondisi yang ada, bulan pertama saya ditugaskan di MI Al-Azhar Saumlaki, saya berkoordinasi dengan Kepala Madrasah untuk mengumpulkan buku-buku pelajaran yang tercecer di kelas-kelas. Setelah dikumpulkan dan dirapikan, terdapat satu kardus buku pelajaran. Alhamdulillah, dengan adanya buku-buku pelajaran ini, siswa-siswi MI Al-Azhar Saumlaki mulai termotivasi untuk membaca. Ketika baru datang di sekolah, sebelum pembelajaran dimulai, dan ketika jam istirahat menjadi waktu-waktu yang disediakan mereka untuk membaca.

Dari kegiatan yang mereka lakukan, saya merasa bahwa ketersediaan buku masih sangat diperlukan di sekolah-sekolah yang jaraknya ribuan kilometer dari ibukota Jakarta. Buku-buku yang menarik menjadi rebutan di antara siswa. Hal ini terbukti ketika saya membawa sebuah buku ensiklopedia Bumi dan Tata Surya. Buku tersebut menjadi rebutan, tiap tiba di sekolah, jam istirahat, dan jam pelajaran kosong, ada beberapa siswa yang mendatangi dan meminta izin, “Pak Guru, boleh saya pinjam bukunya?” Dengan demikian, saya mengambil kesimpulan bahwa buku masih jadi sumber belajar utama di sini.

Untuk memfasilitasi mereka agar lebih mudah mendapatkan akses terhadap ilmu pengetahuan, sejak awal November 2018 saya membuka donasi buku bacaan dengan tajuk Buku untuk Saumlaki. Perlahan tapi pasti beberapa donatur sudah menyalurkan bantuan dalam bentuk uang dan buku. Meskipun masih sedikit, saya merasa bersyukur karena dengan demikian saya bisa membantu siswa-siswi MI Al-Azhar Saumlaki membuka akses terhadap ilmu pengetahuan. Dengan demikian mereka akan semakin rajin dan termotivasi untuk belajar, mencari tahu ilmu-ilmu pengetahuan baru dari sumber belajar utama, buku.

 

*Kontributor : Dwi Wahyu Alfajar (Kawan SLI 2 Penempatan Kab. Maluku Tenggara Barat)

Pembelajaran Literasi Berbasis Internet MTS Al Qadr

Ketika Anak Indonesia Timur Belajar Internet

Literasi di era digital mutlak diperlukan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat. Begitu juga dengan literasi internet sangat diperlukan, karena dengan internet seseorang bisa mengetahui apa yang diinginkan secara tepat dan cepat. Dunia seolah di tangan manusia, waktu dan ruang tak menjadi masalah. Saat ini internet bukan hanya digunakan untuk mencari atau membagikan informasi, tetapi juga sudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan hiburan bahkan sebagai sarana penghasil uang. Harga tarif internet yang lumayan murah menjadikan para pengguna tidak hanya dinikmati oleh orang-orang yang berada di perkotaan tapi juga sudah merambah ke pedesaan. Tak terkecuali di daerah urban Kabupaten Malaka yang berada di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Jangan salah di wilayah ini sudah mempunyai  jaringan 4G yang merambah ke sekolah.

Dengan adanya kemudahan akses internet di Kabupaten Malaka maka MTs Al-Qadr yang sudah memasukkan mata pelajaran TIK ke dalam Kurikulumnya. Maka  mau tidak mau siswa harus diajarkan TIK untuk mempersiapkan siswa-siswanya memasuki era industri 4.0. MTs Al-Qadr Betun terbilang baru berdiri yaitu tahun 2015 lalu. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh MTs Al-Qadr tak menyurutkan semangat Pak Risman sebagai guru TIK sekaligus guru IPS Terpadu untuk memperkenalkan Komputer dan Internet kepada siswa-siswanya.

Dengan bekal ilmu yang didapatkan selama mengerjakan tugas kuliah dan pengalaman  sebagai operator sekolah, Pak Risman dipercayakan untuk mengajar TIK di MTs Al-Qadr. Untuk mencapai tujuan pembelajaran TIK di kelas VII-IX diantaranya mengetahui Komputer dan Internet maka siswa tidak hanya dijejali dengan teori tapi praktik langsung. Itulah yang menjadi alasan Pak Risman untuk meminjam laptop guru-guru yang lain untuk digunakan oleh siswa belajar komputer. Pada awalnya siswa-siswa kelas VII dan VIII masih gemetaran saat menyentuh keyboard tapi setelah diperkenalkan mereka sudah mulai rileks ketika bersentuhan dengan laptop.

Sedangkan untuk kelas IX sudah diperkenalkan internet dan aplikasi yang digunkan untuk  saling berbagi informasi terutama chat dan email. Dari pembelajaran tersebut maka muncul ide dari guru-guru untuk menggunakan e-mail sebagai sarana untuk mengumpulkan tugas. Hal ini dilakukan agar pembelajaran bisa langsung diaplikasikan dalam pembelajaran. Bukan hanya pada mata pelajaran TIK tapi juga mata pelajaran yang lainnya seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan lain-lain. Mereka diharuskan untuk membuat akun atau alamat e-mail melalui hp android yang mereka miliki dan mengirimkan tugasnya lewat e-mail. Keterbatasan sarana dan prasarana MTs tak menjadi halangan untuk tidak melek teknologi. Akan tetapi, yang paling utama yang selalu ditekankan kepada siswa adalah bijaklah menggunakan internet. Dengan bekal ilmu agama yang diberikan di sekolah menjadi patron untuk menggunakan internet yaitu memadukan imtak dan iptek.

Kontributor : Hamid (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Adam, Pahlawan Muda Tarbiyah Islamiyah

Adam, Pahlawan Muda Tarbiyah Islamiyah

Jejak langkah mulai diayungkan, menjemput setiap kejutan ditiap perguliran waktu. Sountrack Asmaul Husna menyambut hangat kedatangan kami hingga ke hati mengantar ke zona alfa menawarkan kekhusyuan, keramahan guru-guru pun mulai menyambut penuh binar, berbincang satu-dua-tiga hal sebelum mereka membawa jiwa-raganya dalam kehidupan anak-anak yang menunggu di kelas.

Aku juga beranjak dari ruang bincang dengan Kepala Madrasah Ibu Maskunah menuju lantai 2 menghampiri kelas Ibu Nurlita sebagai sala-satu Guru Model. Ada yang ingin kusaksikan di Kelas Model itu, sebuah Rak Ceruk Ilmu yang bertengger di pojokan ruangan dengan warna-warninya. Sebentuk bantuan dari Dompet Dhuafa sebagai bagian pendukung program Sekolah Literasi Indonesia. Buku-bukupun rapi menjejeri tiap tingkatannya hingga jam pembelajaran menunjukkan tandanya, kelas dimulai depan kegiatan literasi, anak-anak yang berdomisili di kelas tiga (3) ini dipersilahkan mengambil buku bacaan, sontak saja mereka berhamburan, berebut memilih buku yang disukainya.

Sejurus kemudian semua sudah di posisi nyamannya masing-masing,  ada yang nyender di dinding dengan beralaskan karpet yang telah di sediakan, ada yang mojok dekat lemari, ada yang berkelompok, ada yang menyendiri. Sebuah hal baru memang menawarkan sensasi yang haru. Anak-anak ini begitu antusias, semuanya saling berebutan menyaringkan suara bacaanya, hingga nyaris tak ada yang ada makna yang teratangkap oleh dengar kita.

Namun ditengah ada kebaruan ada pula yang berbeda, adalah Adam namanya. Di hamparan hingar-bingar semangat dan deru suara teman-temannya yang saling bersahutan, Ia terlihat begitu menikmati bacaanya, dengan kening yang sedikit mengkerut, mata yang tajam seolah menembus makna tiap deretan huruf, dan bibir yang tak berkomat-kamit menarikku mendekatnya, mengambil gambarnya dan antiknya dia sama sekali tak bergeming.  “Pahlawan Muda” buku di genggamannya, aku mendekat dan memotong keseriusannya.

“Aku juga mau baca buku ini, dong” sambil memegang ujung buku dan melihat perubahan ekspresi adam.

“Yaaa, aku belum selesai bacanya je bu.” Tolak adam.

“Tapi Ibu juga penasaran bacanya, gimana dong?” Adam tersenyum kecut, menghentikan bacaanya.

Aku mengambil buku yang mulai melemah dari genggamannya melihat-lihat

“Emang ceritanya ini tentang apa, coba ceritakan ke ibu” kataku sembari mengambil posisi duduk disamping Adam.

Adam hanya tersenyum malu-malu sebagai jawaban

“Adam pasti mau jadi pahlawankan? tanyaku lagi, disambung dengan gelengan Adam.

“Jadi pahlawan nggak baik yah?” aku mencoba memancing yang dijawab lagi dengan gelengan lebih cepat.

“Lahh, terus kenapa nggak mau jadi pahlawan?”

“Bahaya bu, harus nangkap penjahat” kata Adam mulai bercerita perlahan-lahan. Tentang 2 anak SD yang bersahabat dan bagaimana petualangannya mengungkap kejahatan, aku menyimak dengan harapan bahwa anak-anak ini hanya butuh diarahkan. Benar bahwa tak ada anak yang bodoh, hanya masalah waktu, hanya soal cara, hanya butuh orang dewasa mengambil peran mendidik.

“Adam, menjadi pahlawan itu berarti menjadi orang yang baik, suka membuat orang senang” kataku mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana.

 

“Kalau Adam rajin belajar, mama seneng nggak?”, “Iya” kata Adam dengan anggukan

“Kalau Adam rajin ke sekolah, bapak seneng nggak?”, “Iya” angguk adam.

“Kalau disekolah, Adam sering nggak membantu teman-temannya?”, “Iya”  angguk adam lagi

Berarti Adam adalah Pahlawan Muda, pahlawan kelas 3 Tarbiyah Islamiyah. Adam tersenyum malu-malu mengangguk.

 

Penulis : Jumrawati (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia penempatan wilayah Indramayu)

2 anak akit masuk islam

2 Anak Suku Akit Pendalaman Riau Masuk Islam

Allah SWT mempunyai banyak cara untuk memberikan hidayah Islam kepada umat manusia. Manusia yang dapat hidayahpun dari berbagai latar belakang profesi, budaya, dan warna kulit. Kalau Allah SWT sudah berkehendak untuk memberi hidayah Islam kepada seseorang, bagaimana pun gelapnya kehidupannya, sekeras apapun hatinya, dan sedalam apapun kebenciannya terhadap Islam maka tidak ada yang bisa menghalanginya untuk berkata jujur bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah rasul utusan Allah.

Proses masuk Islam dua orang anak suku pedalaman akit, dusun Bandaraya, desa Sokop, Kabupaten Kepulauan Meranti di masjid Agung Darul Ulum Selat  Panjang dihadiri oleh kedua orang tua anak tersebut.  Bapak  Awa dan Ibu Emi  selaku orang tua dari anak  bernama Bun Wa, sedangkan Bapak  Acai dan Ibu Jalina selaku orang tua dari anak bernama Akai. Kehadiran orang tua tersebut untuk memberikan izin baik secara lisan maupun tulisan kepada  anak-anak mereka untuk memeluk Agama Islam (Rabu, 12 Desember 2018).  Rombongan keluarga Akai dan Bun Wa diantarkan oleh Ibu Riati selaku pengelola sekaligus pendiri sekolah lokal jauh di Bandaraya, Munzir selaku Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dari Dompet Dhuafa, dan Luthfi Irawan selaku penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara dari Dompet Dhuafa. Akses untuk sampai ke masjid Agung Darul Ulum Selat Panjang, rombongan harus naik kapal untuk menyeberang dengan waktu tempuh 2 jam.

Masyarakat suku pedalaman akit mayoritas memeluk agama Budha, termasuk keluarga Akai dan Bun Wa. Walaupun orangtua kedua anak tersebut masih memeluk Agama Budha tapi mereka tetap mendukung kemauan anaknya untuk memeluk Agama Islam. Sebelum kedua  anak tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat ustad H. Ahmad Fauzi, S. Ag ketua  Yayasan Fitrah Fitrah Madani Meranti menjelaskan kepada orang tua dari Akai dan Bun Wa, bahwasanya dengan  memeluk Agama Islam tidak akan memutuskan hubungan  antara orang tua dan anak, bakti anak kepada orang tua adalah hal wajib walaupun beda agama, jelas ustad  H. Ahmad Fauzi saat berada di Kantor  Yayasan Fitrah Fitrah Madani Meranti sebelum dibawa ke masjid Agung.

Saat adzan dzuhur dikumandangkan seluruh masyarakat Kepulauan Meranti melaksanakan shalat dzuhur secara berjamaah di masjid Agung Darul Ulum, setelah selesai shalat dzuhur dilanjutkan dengan proses pengucapan syahadat untuk kedua anak Suku Pedalaman Akit dari Bandaraya tersebut yang disaksikan oleh puluhan orang serta orang tua mereka yang datang ke masjid. Suasana di masjid tersebut penuh haru bahagia menyaksikan Akai kelas 6 Sekolah Dasar dan Bun Wa  kelas 5 Sekolah Dasar telah sah memeluk Agama Islam. Setelah masuk Islam nama Akai berubah menjadi Mujahiddin dan nama Bun Wa berubah menjadi Muhammad Shobirin.

Setelah proses pengucapan syahadat, rombongan dari Bandaraya bergegas untuk pulang ke Bandaraya dengan kapal. Sesampai di pelabuhan Bandaraya,  ibu dari kedua anak  tiba-tiba menangis dengan wajah bahagia “pak guru, Bu Riati, terimakasih ya sudah mengantarkan kami untuk melihat langsung proses pengucapan syahadat anak kami” ucap ibu dari Akai.

“Ia ibu sama-sama” Ucap Munzir selaku Konsultan SLI

“Pak guru saya meyakini bahwa agama islam itu agama nomor satu Pak, makanya saya mau masukkan anak saya ke agama islam. Saya sangat bahagia sekarang anak saya sudah masuk Agama Islam Pak.” ucapnya lagi

“Ia bu, semoga ibu juga segera mendapat hidayah dari Allah” ucap Munzir. Beberapa percakapan singkat Ibu dari Akai tersebut menggambarkan alasan orangtua Akai dan Bun Wa mendukung anaknya untuk masuk Agama Islam karena mereka meyakini Agama Islam adalah agama nomor satu dan juga mengedepankan pendidikan.

Mari sama sama kita doakan semoga kedua anak tersebut Istiqomah memeluk Agama Islam dan semoga orang tua dari anak-anak tersebut segera mendapatkan hidayah-Nya. Amiin.

Kehidupan dan Perjuangan Kawan SLI

Kawan SLI antarkan 2 anak bersyahadat di Meranti

Untuk menjadi seorang pejuang, tidak melulu harus berada di medan perang, mengacungkan parang dan menebas lawan. Menjadi pejuang itu sebenernya cukup sederhana. Lakukan apa yang menjadi tugas, tanggung jawab, dan profesimu sebaik mungkin, dengan penuh komitmen. Ya, cukup dengan itu, seseorang bisa menjadi pejuang. Pejuang untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara. Untuk kehidupan yang lebih baik.

Indonesia dengan segala kemajemukannya, tentu memberikan warna tersendiri. Berbagai suku, bahasa, budaya, pun dengan profesinya. Mulai dari kalangan pedagang kaki lima hingga pengusaha hotel bintang lima. Mulai dari petani hingga hakim negeri. Semua tentu sama-sama berjuang di bidangnya dan (semoga) termasuk saya

Saya adalah seorang Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Sekolah Literasi Indonesia merupakan salah satu program dari Yayasan ternama di Indonesia, Dompet Dhuafa Republika. Lama waktu bekerja saya di Dompet Dhuafa baru 3 bulan. Kalau kata orang, masih seumuran jagung. Masih panjang perjalanan saya untuk meniti karir di Dompet Dhuafa Republika sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI). Dan semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik dari apa yang saya miliki untuk yayasan ini.

Bekerja di Dompet Dhuafa sebenarnya tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Program-program yang sangat identik dengan wilayah pedalaman membuat saya sangat takut. Saya berusaha untuk tidak berurusan dengan hal yang satu ini. Tapi kembali lagi pada sesuatu yang tidak bisa kita tolak, takdir. Justru akhirnya saya menjadi salah satu bagian dari para pejuang daerah pendalaman negeri ini.

Awal perjalanan saya dimulai ketika saya menandatangani kontrak kerja untuk siap ditempatkan di seluruh wilayah kerja Dompet Dhuafa. Kemudian mengikuti pelatihan selama 2 bulan di kota Bogor. Tidak hanya dibekali ilmu tentang pendidikan, tapi juga ditempa fisik dan mental dengan kedisiplinan ala militer. Setelah menjalani pelatihan selama 2 bulan, kami kemudian ditempatkan di unit kerja. Saat-saat penentuan unit kerja adalah hal yang cukup mendebarkan bagi saya. Dalam hati berharap bisa mendapatkan penempatan kerja tidak jauh dari kota kelahiran, syukur-syukur bisa mendapatkan tempat di kota kelahiran. Tapi mungkin, Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Takdir berbicara Kepulauan Meranti menjadi tempat penempatan kerja saya. Bekal yang saya dapat selama pelatihan, saya coba terapkan sebisa mungkin. Butuh waktu lama bagi saya untuk beradaptasi di daerah disini. kurang lebih 1 bulan. Namun alhamdulillah, masyarakat disini sangat menyukai tamu-tamu baru yang datang ke desa mereka. Waktu demi waktu terus berlalu masyarakat terus berdatangan kerumah dengan membawa buah-buahan ke tempat saya tinggal saya walau kami berbeda agama. Begitu juga dengan anak-anak disini yang rajin ke rumah untuk belajar.

Hal yang paling saya takuti adalah saat anak-anak non muslim meminta kepada saya untuk mengajari shalat dan mengaji tanpa pemberitahuan dari orang tuanya. Dalam benak pikiran saya “Akan ku pasrahkan kepada yang Kuasa jika ini takdir saya, jika tempat ini tempat terakhir saya hidup, saya sudah relakan. Asalkan anak2 ini masuk ke agama islam”

Seminggu kemudian setelah saya mengajarkan mereka shalat dan mengaji, anak-anak tanpa saya ketahui mereka meminta masuk islam kepada orang tuanya. Hal tersebut membuat saya takut. Beberapa anak datang kerumah saya serta melaporkan tanggapan dari orang tuanya.

“Pak saya tidak boleh masuk islam sama orang tua saya pak” celoteh seorang anak. Begitu juga dengan ketiga teman yang lainnya, mereka merasakan hal yang sama.

Satu jam berselang datanglah seorang anak yang melaporkan bahwa ia telah diizinkan oleh orang tuanya untuk masuk islam dan meminta untuk segera disyahadatkan. Hatiku ragu ketika anak tersebut mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan izin dari orang tuanya. Maka saya beranikan diri untuk datang kerumah anak tersebut.

Sesampai dirumahnya, orang tua anak tersebut mengatakan kepada saya,

“Pak tolong ajari anak saya shalat agar menjadi anak yang lebih baik dan berguna untuk desa ini kedepannya”. Sayapun sangat terharu dengan perkataan orang tuanya tersebut.

Tak berhenti disana, sepulang dari rumah anak tersebut, saya mengajak teman saya untuk kerumah pak komite. Disana kam dihidangkan dengan air mineral dan makanan ringan lainnya. Ditengah canda tawa, tiba-tiba pak komite mengajak kami berbicara serius.

 “Pak bolehkah anak saya, masuk islam?”

Hatiku tiba-tiba terhenti untuk menjawab pertanyaan pak komite (apa saking senangnya mendengarkan ya heheh), akhirnya saya menjawab

“Boleh pak, sangat boleh”.

“Jadi kapan anak saya di syahadat kan pak”. Tanya pa Komite.

“ Tunggu pak ustad pulang dari Jakarta ya pak hehe” jawab saya.

“ ohhh baik pak” balas pa Komite.

Karna waktu sudah jam 10 malam kami izin pulang, lalu pak komite berteriak kepada kami

“Pak tolong ajari anak saya tentang shalat ya pak???.”

Sayapun menjawab

“Insyaallah siap pak”

Itulah sekelumit kisah perjuangan saya menjadi relawan. Saya sangat berterima kasih pada Dompet Dhuafa yang sudah menjadikan saya bagian dari keluarga ini. Bekerja di sini memberikan sebuah tantangan sekaligus kebahagiaan untuk bisa mengabdi kepada masyarakat dan bangsa melalui profesi. Menjadi seorang pejuang tanpa harus mengangkat senjata. Semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik untuk Sekolah Literasi Indonesia.