Rezeki tak melulu soal harta

Engkerengas, desa dengan warga yang ramah

Ramah dan baik dalam menyambut tamu merupakan ciri khas dari masyarakat melayu yang mendiami hulu sungai Kapuas, lebih khususnya masyarakat yang berada di Desa Engkerengas Kecamatan Selimbau Kabupaten Kapuas Hulu. Masyarakat disini sehari-hari menggantungkan hidup dari sungai sebagai seorang nelayan. Program pendampingan sekolah di Desa Engkerengas dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa melalui program Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI) bukan yang pertama kali, bahkan sudah menginjak tahun ketiga pada tahun 2018 ini.

Saat pertama kali datang tak ada kesan tertutup atau menghindari saya. Padahal nota bene saya adalah orang baru yang akan ditempatkan selama setahun kedepan di sini. Keramahan inilah yang membuat saya tidak begitu sulit membaur dengan masyarakat desa.

Diantara seluruh masyarakat ada sebuah keluarga yang begitu ramah dengan para tamu atau orang baru yang berkunjung ke Desa Engkerengas ini, namanya keluarga pak Marzuki. Pak Marzuki dan istrinyalah yang sering kupanggil mamak dan bapak. Aku yang saat ini terpisah dengan orang tua di Sulawesi, bertemu mereka berdua adalah pengobat rindu akan kedua orang tuaku. Pak Marzuki merupakan seorang kepala keluarga yang sehari-harinya bekerja sebagai nelayan. Berbagai macam ikan hasil tangkapannya biasa diolah menjadi ikan asin untuk dijual. Terkadang juga beliau mencari sarang lebah madu jika sudah mulai musimnya. Sedangkan istrinya yang biasa ku sebut mamak, bekerja sebagai petani karet. Ketika tangkapan ikan begitu sulit sehingga beberapa masyarakat Desa Engkerengas termasuk Pak Marzuki memelihara hewan ternak seperti ikan dan sapi.

Pak Marzuki memiliki 3 orang anak laki-laki. Anak yang bungsu masih bersekolah di MTs yang saya dampingi saat ini. Sedangkan kedua kakaknya telah selesai sekolah, hanya saja sebatas tingkat MTs saja, sebab akses pendidikan saat itu sangat sulit. Ada yang unik dari keluarga ini  Pak Marzuki dengan ketiga anak laki-lakinya tak ada satupun yang merokok padahal sangat jarang saya melihat laki-laki di desa ini yang tidak merokok, tua muda kebanyakan memiliki kebiasaan tak sehat ini. Menurutku Pak Marzuki merupakan sosok yang berhasil dalam mendidik anak agar tak terpengaruh lingkungan yang negatif. Si bungsu merupakan anak yang paling sering shalat berjamaah di masjid dibandingkan dengan anak-anak lain seusianya.

Jika ditanya kenapa pak Marzuki begitu baik terhadap tamu, jawabannya selalu

“Bahwa tamu selalu membawa rezeki, rezeki tak melulu tentang harta melainkan keberkahan hidup”.

 

Menurut cerita mereka, rumah pak Marzuki menjadi sangat ramai jika musim Pesta Rakyat digelar. Banyak masyarakat dari desa lain yang datang ke desa Engkerengas dan menginap di rumah pak Marzuki. Kadang berminggu-minggu lamanya mereka menginap, padahal tak ada ikatan pertalian darah. Bahkan terkadang suku Dayak yang beragama Nasrani yang saat itu sedang berburu babi hutan di sekitar desa Engkerengas sering menginap di rumah pak Marzuki untuk beristirahat. Pak Marzuki senang membantu orang yang datang ke desanya apalagi jika orang tersebut membawa perubahan untuk desanya agar menjadi lebih baik, beliau adalah sosok yang peduli akan segala kegiatan yang ada di desa, beliau tak pernah absen jika ada kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan di desa. Setiap program yang diselanggarakan oleh sekolah yang didampingi oleh KAWAN SLI beliaupun sering hadir.

Dari pak Marzuki saya banyak belajar bagaimana memuliakan tamu, sebab tamu membawa rezeki yang tak semata-mata berupa harta melainkan keberkahan hidup, bukankah menyambung tali silaturahim merupakan memperlancar rezeki, apalagi dengan menambah ikatan silaturahim dengan orang baru.

Kontributor : Afif (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Umar Bin Khattab Cilik

Darel, Umar Bin Khattab Cilik

Siaaap grak, lancang depaaan grak, tegap grak!

Suara lantang itu bergema di ruang kelas 1, ruang bercat kuning yang tembok dindingnya  sedikit rapuh dan beberapa goresan tinta hitam berbentuk gelombang. Semua siswa dalam kelas mengikuti semua intruksi dari pemilik suara lantang itu. Ternyata Ia adalah Darel, anak laki-laki yang mengemban amanah sebagai ketua kelas 1 di SDN 2 Wanasari Kec. Bangodua Kab.Indramayu. Hari ini Darel membuat orang-orang yang melihat aksinya terkesima termasuk Pak Khalim yang sedang melakukan Monitoring dan Evaluasi (MONEV) di sekolah kami. Siapa yang tidak terkesima dengan anak laki-laki berpostur kecil dan kurus namun bak seorang tentara, badannya tegap, dadanya sedikit membusung dan bersuara lantang serta gercap mengambil langkah dalam memimpin teman-temannya di kelas. Anak laki-laki yang bisa menilai secara obyektif perihal barisan paling rapi di hadapannya. Dengan langkah cepat dan tegap, Darel berjalan ke kiri dan kanan menunjuk barisan yang boleh pulang.

Di Kursi paling belakang, bersama kepala sekolah saat proses pembelajaran berlangsung saya memperhatikannya. Mulai saat Ia meminta izin keluar sambil berlari memegang mulutnya karena giginya tanggal. Jelang beberapa detik, Ia kembali masuk dengan tertawa pada semua temannya. Langsung duduk di bangkunya dan fokus dengan pembelajaran. Menurut Ibu Masnaeni (wali kelas 1) dan Ibu kepala Sekolah, Darel adalah siswa yang cerdas dapat dibahasakan “juara kelas”.  Yang paling membanggakan, Darel mampu mengayomi teman-temannya. Darel kerap menegur temannya yang tidak memungut sampah saat meninggalkan ruangan kelas.

Umar Bin Khattab Cilik2

Di usia 7 tahun, Darel sudah menampakkan keberanian, kewibawaan dan karisma seorang pemimpin. Saya  sebut saja Umar Bin Khattab cilik, Umar yang dikenal sebagai Khalifah,  sosok sahabat Rasulullah shallahu’alaihiwassalam yang sangat tegas, pemberani, merakyat dan mengayomi. Sosok Umar mulai nampak pada diri Darel, dan jika jiwa kepemimpinannya semakin diasah berarti sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan telah mempersiapkan pemimpin berintegritas di masa yang akan datang.  Mempersiapkan lahirnya Umar Bin Khattab baru.

Sudah sepatutnya kepemimpinan setiap anak ditumbuhkembangkan, dan cara terjitu yang dapat ditempuh dengan penerapan mendidik anak ala Ali bin Abi Thalib :

“Ajaklah anak bermain dengan menyenangkan pada 7 tahun pertama, disiplinkanlah anak pada 7 tahun kedua, dan bersahabatlah pada anak usia  7 tahun ketiga.”

 

Lebih jauh lagi, Munif Chatif menerjemahkannya “pada masa 7 tahun pertama usianya anak adalah raja yang punya kerajaan bermain, pada  masa tujuh tahun kedua usianya anak adalah pembantu yang harus dididik dan dibimbing, pada masa 7 tahun ketiga usianya  anak akan tumbuh menjadi wazir.”. Kini Darel sudah memasuki fase 7 tahun keduanya berarti mulai didisiplinkan dengan didikan dan bimbingan. Apalagi usianya masih dalam usia golden age, usia paling tepat membentuk pribadi anak.  Uniknya, Darel membiasakan teman sekelasnya untuk menghormati seorang pemimpin walaupun itu adalah teman sebayanya dengan budaya salam. Setiap pulang sekolah Darel berdiri di depan kelas bersama Ibu guru menyalami satu persatu teman sebayanya.

Darel membuka mata kita bahwa siapapun bisa menjadi pemimpin, postur tubuh kecil tidak menjadi masalah. Karena sejatinya semua manusia adalah pemimpin, minimal pemimpin bagi dirinya sendiri.

Kontributor : Hajra Yansa (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Pustaka:

  • Chatif, Munif. 2018. Orang Tuanya Manusia. Bandung: Kaifa Learning
  • Wulansari, Nyi Mas Diane. 2017. Didiklah Anak Sesuai Zamannya. Jakarta: Visimedia Pustaka.
Kawan Fajar (Tingkatkan Minat Baca Siswa MI Al-Azhar Saumlaki)

Cara Tingkatkan Minat Baca Siswa

Di era millenial ini, buku masih menjadi salah satu sumber penting dalam mendapatkan ilmu pengetahuan. Walaupun sebenarnya ilmu pengetahuan sudah dapat diakses melalui berbagai media khususnya internet, namun hal ini tidak cukup mudah dirasakan oleh siswa-siswi MI Al-Azhar Saumlaki. Daerah Saumlaki yang notabene ibukota Kabupaten Maluku Tenggara Barat masih kesusahan dalam mendapatkan akses jaringan internet. Di Saumlaki, jaringan internet bisa diakses dengan lancar hanya pada saat-saat tertentu, setelah Shubuh misalnya. Selain itu, ketiadaan buku bacaan di sekolah juga menjadi faktor utama kurangnya minat baca siswa MI Al-Azhar Saumlaki.

Melihat kondisi yang ada, bulan pertama saya ditugaskan di MI Al-Azhar Saumlaki, saya berkoordinasi dengan Kepala Madrasah untuk mengumpulkan buku-buku pelajaran yang tercecer di kelas-kelas. Setelah dikumpulkan dan dirapikan, terdapat satu kardus buku pelajaran. Alhamdulillah, dengan adanya buku-buku pelajaran ini, siswa-siswi MI Al-Azhar Saumlaki mulai termotivasi untuk membaca. Ketika baru datang di sekolah, sebelum pembelajaran dimulai, dan ketika jam istirahat menjadi waktu-waktu yang disediakan mereka untuk membaca.

Dari kegiatan yang mereka lakukan, saya merasa bahwa ketersediaan buku masih sangat diperlukan di sekolah-sekolah yang jaraknya ribuan kilometer dari ibukota Jakarta. Buku-buku yang menarik menjadi rebutan di antara siswa. Hal ini terbukti ketika saya membawa sebuah buku ensiklopedia Bumi dan Tata Surya. Buku tersebut menjadi rebutan, tiap tiba di sekolah, jam istirahat, dan jam pelajaran kosong, ada beberapa siswa yang mendatangi dan meminta izin, “Pak Guru, boleh saya pinjam bukunya?” Dengan demikian, saya mengambil kesimpulan bahwa buku masih jadi sumber belajar utama di sini.

Untuk memfasilitasi mereka agar lebih mudah mendapatkan akses terhadap ilmu pengetahuan, sejak awal November 2018 saya membuka donasi buku bacaan dengan tajuk Buku untuk Saumlaki. Perlahan tapi pasti beberapa donatur sudah menyalurkan bantuan dalam bentuk uang dan buku. Meskipun masih sedikit, saya merasa bersyukur karena dengan demikian saya bisa membantu siswa-siswi MI Al-Azhar Saumlaki membuka akses terhadap ilmu pengetahuan. Dengan demikian mereka akan semakin rajin dan termotivasi untuk belajar, mencari tahu ilmu-ilmu pengetahuan baru dari sumber belajar utama, buku.

 

*Kontributor : Dwi Wahyu Alfajar (Kawan SLI 2 Penempatan Kab. Maluku Tenggara Barat)

Pembelajaran Literasi Berbasis Internet MTS Al Qadr

Ketika Anak Indonesia Timur Belajar Internet

Literasi di era digital mutlak diperlukan mengingat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi berlangsung sangat cepat. Begitu juga dengan literasi internet sangat diperlukan, karena dengan internet seseorang bisa mengetahui apa yang diinginkan secara tepat dan cepat. Dunia seolah di tangan manusia, waktu dan ruang tak menjadi masalah. Saat ini internet bukan hanya digunakan untuk mencari atau membagikan informasi, tetapi juga sudah digunakan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan dan hiburan bahkan sebagai sarana penghasil uang. Harga tarif internet yang lumayan murah menjadikan para pengguna tidak hanya dinikmati oleh orang-orang yang berada di perkotaan tapi juga sudah merambah ke pedesaan. Tak terkecuali di daerah urban Kabupaten Malaka yang berada di perbatasan Indonesia-Timor Leste. Jangan salah di wilayah ini sudah mempunyai  jaringan 4G yang merambah ke sekolah.

Dengan adanya kemudahan akses internet di Kabupaten Malaka maka MTs Al-Qadr yang sudah memasukkan mata pelajaran TIK ke dalam Kurikulumnya. Maka  mau tidak mau siswa harus diajarkan TIK untuk mempersiapkan siswa-siswanya memasuki era industri 4.0. MTs Al-Qadr Betun terbilang baru berdiri yaitu tahun 2015 lalu. Dengan keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki oleh MTs Al-Qadr tak menyurutkan semangat Pak Risman sebagai guru TIK sekaligus guru IPS Terpadu untuk memperkenalkan Komputer dan Internet kepada siswa-siswanya.

Dengan bekal ilmu yang didapatkan selama mengerjakan tugas kuliah dan pengalaman  sebagai operator sekolah, Pak Risman dipercayakan untuk mengajar TIK di MTs Al-Qadr. Untuk mencapai tujuan pembelajaran TIK di kelas VII-IX diantaranya mengetahui Komputer dan Internet maka siswa tidak hanya dijejali dengan teori tapi praktik langsung. Itulah yang menjadi alasan Pak Risman untuk meminjam laptop guru-guru yang lain untuk digunakan oleh siswa belajar komputer. Pada awalnya siswa-siswa kelas VII dan VIII masih gemetaran saat menyentuh keyboard tapi setelah diperkenalkan mereka sudah mulai rileks ketika bersentuhan dengan laptop.

Sedangkan untuk kelas IX sudah diperkenalkan internet dan aplikasi yang digunkan untuk  saling berbagi informasi terutama chat dan email. Dari pembelajaran tersebut maka muncul ide dari guru-guru untuk menggunakan e-mail sebagai sarana untuk mengumpulkan tugas. Hal ini dilakukan agar pembelajaran bisa langsung diaplikasikan dalam pembelajaran. Bukan hanya pada mata pelajaran TIK tapi juga mata pelajaran yang lainnya seperti Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, dan lain-lain. Mereka diharuskan untuk membuat akun atau alamat e-mail melalui hp android yang mereka miliki dan mengirimkan tugasnya lewat e-mail. Keterbatasan sarana dan prasarana MTs tak menjadi halangan untuk tidak melek teknologi. Akan tetapi, yang paling utama yang selalu ditekankan kepada siswa adalah bijaklah menggunakan internet. Dengan bekal ilmu agama yang diberikan di sekolah menjadi patron untuk menggunakan internet yaitu memadukan imtak dan iptek.

Kontributor : Hamid (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia)

Adam, Pahlawan Muda Tarbiyah Islamiyah

Adam, Pahlawan Muda Tarbiyah Islamiyah

Jejak langkah mulai diayungkan, menjemput setiap kejutan ditiap perguliran waktu. Sountrack Asmaul Husna menyambut hangat kedatangan kami hingga ke hati mengantar ke zona alfa menawarkan kekhusyuan, keramahan guru-guru pun mulai menyambut penuh binar, berbincang satu-dua-tiga hal sebelum mereka membawa jiwa-raganya dalam kehidupan anak-anak yang menunggu di kelas.

Aku juga beranjak dari ruang bincang dengan Kepala Madrasah Ibu Maskunah menuju lantai 2 menghampiri kelas Ibu Nurlita sebagai sala-satu Guru Model. Ada yang ingin kusaksikan di Kelas Model itu, sebuah Rak Ceruk Ilmu yang bertengger di pojokan ruangan dengan warna-warninya. Sebentuk bantuan dari Dompet Dhuafa sebagai bagian pendukung program Sekolah Literasi Indonesia. Buku-bukupun rapi menjejeri tiap tingkatannya hingga jam pembelajaran menunjukkan tandanya, kelas dimulai depan kegiatan literasi, anak-anak yang berdomisili di kelas tiga (3) ini dipersilahkan mengambil buku bacaan, sontak saja mereka berhamburan, berebut memilih buku yang disukainya.

Sejurus kemudian semua sudah di posisi nyamannya masing-masing,  ada yang nyender di dinding dengan beralaskan karpet yang telah di sediakan, ada yang mojok dekat lemari, ada yang berkelompok, ada yang menyendiri. Sebuah hal baru memang menawarkan sensasi yang haru. Anak-anak ini begitu antusias, semuanya saling berebutan menyaringkan suara bacaanya, hingga nyaris tak ada yang ada makna yang teratangkap oleh dengar kita.

Namun ditengah ada kebaruan ada pula yang berbeda, adalah Adam namanya. Di hamparan hingar-bingar semangat dan deru suara teman-temannya yang saling bersahutan, Ia terlihat begitu menikmati bacaanya, dengan kening yang sedikit mengkerut, mata yang tajam seolah menembus makna tiap deretan huruf, dan bibir yang tak berkomat-kamit menarikku mendekatnya, mengambil gambarnya dan antiknya dia sama sekali tak bergeming.  “Pahlawan Muda” buku di genggamannya, aku mendekat dan memotong keseriusannya.

“Aku juga mau baca buku ini, dong” sambil memegang ujung buku dan melihat perubahan ekspresi adam.

“Yaaa, aku belum selesai bacanya je bu.” Tolak adam.

“Tapi Ibu juga penasaran bacanya, gimana dong?” Adam tersenyum kecut, menghentikan bacaanya.

Aku mengambil buku yang mulai melemah dari genggamannya melihat-lihat

“Emang ceritanya ini tentang apa, coba ceritakan ke ibu” kataku sembari mengambil posisi duduk disamping Adam.

Adam hanya tersenyum malu-malu sebagai jawaban

“Adam pasti mau jadi pahlawankan? tanyaku lagi, disambung dengan gelengan Adam.

“Jadi pahlawan nggak baik yah?” aku mencoba memancing yang dijawab lagi dengan gelengan lebih cepat.

“Lahh, terus kenapa nggak mau jadi pahlawan?”

“Bahaya bu, harus nangkap penjahat” kata Adam mulai bercerita perlahan-lahan. Tentang 2 anak SD yang bersahabat dan bagaimana petualangannya mengungkap kejahatan, aku menyimak dengan harapan bahwa anak-anak ini hanya butuh diarahkan. Benar bahwa tak ada anak yang bodoh, hanya masalah waktu, hanya soal cara, hanya butuh orang dewasa mengambil peran mendidik.

“Adam, menjadi pahlawan itu berarti menjadi orang yang baik, suka membuat orang senang” kataku mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana.

 

“Kalau Adam rajin belajar, mama seneng nggak?”, “Iya” kata Adam dengan anggukan

“Kalau Adam rajin ke sekolah, bapak seneng nggak?”, “Iya” angguk adam.

“Kalau disekolah, Adam sering nggak membantu teman-temannya?”, “Iya”  angguk adam lagi

Berarti Adam adalah Pahlawan Muda, pahlawan kelas 3 Tarbiyah Islamiyah. Adam tersenyum malu-malu mengangguk.

 

Penulis : Jumrawati (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia penempatan wilayah Indramayu)

2 anak akit masuk islam

2 Anak Suku Akit Pendalaman Riau Masuk Islam

Allah SWT mempunyai banyak cara untuk memberikan hidayah Islam kepada umat manusia. Manusia yang dapat hidayahpun dari berbagai latar belakang profesi, budaya, dan warna kulit. Kalau Allah SWT sudah berkehendak untuk memberi hidayah Islam kepada seseorang, bagaimana pun gelapnya kehidupannya, sekeras apapun hatinya, dan sedalam apapun kebenciannya terhadap Islam maka tidak ada yang bisa menghalanginya untuk berkata jujur bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah rasul utusan Allah.

Proses masuk Islam dua orang anak suku pedalaman akit, dusun Bandaraya, desa Sokop, Kabupaten Kepulauan Meranti di masjid Agung Darul Ulum Selat  Panjang dihadiri oleh kedua orang tua anak tersebut.  Bapak  Awa dan Ibu Emi  selaku orang tua dari anak  bernama Bun Wa, sedangkan Bapak  Acai dan Ibu Jalina selaku orang tua dari anak bernama Akai. Kehadiran orang tua tersebut untuk memberikan izin baik secara lisan maupun tulisan kepada  anak-anak mereka untuk memeluk Agama Islam (Rabu, 12 Desember 2018).  Rombongan keluarga Akai dan Bun Wa diantarkan oleh Ibu Riati selaku pengelola sekaligus pendiri sekolah lokal jauh di Bandaraya, Munzir selaku Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI) dari Dompet Dhuafa, dan Luthfi Irawan selaku penerima manfaat Beasiswa Aktivis Nusantara dari Dompet Dhuafa. Akses untuk sampai ke masjid Agung Darul Ulum Selat Panjang, rombongan harus naik kapal untuk menyeberang dengan waktu tempuh 2 jam.

Masyarakat suku pedalaman akit mayoritas memeluk agama Budha, termasuk keluarga Akai dan Bun Wa. Walaupun orangtua kedua anak tersebut masih memeluk Agama Budha tapi mereka tetap mendukung kemauan anaknya untuk memeluk Agama Islam. Sebelum kedua  anak tersebut mengucapkan dua kalimat syahadat ustad H. Ahmad Fauzi, S. Ag ketua  Yayasan Fitrah Fitrah Madani Meranti menjelaskan kepada orang tua dari Akai dan Bun Wa, bahwasanya dengan  memeluk Agama Islam tidak akan memutuskan hubungan  antara orang tua dan anak, bakti anak kepada orang tua adalah hal wajib walaupun beda agama, jelas ustad  H. Ahmad Fauzi saat berada di Kantor  Yayasan Fitrah Fitrah Madani Meranti sebelum dibawa ke masjid Agung.

Saat adzan dzuhur dikumandangkan seluruh masyarakat Kepulauan Meranti melaksanakan shalat dzuhur secara berjamaah di masjid Agung Darul Ulum, setelah selesai shalat dzuhur dilanjutkan dengan proses pengucapan syahadat untuk kedua anak Suku Pedalaman Akit dari Bandaraya tersebut yang disaksikan oleh puluhan orang serta orang tua mereka yang datang ke masjid. Suasana di masjid tersebut penuh haru bahagia menyaksikan Akai kelas 6 Sekolah Dasar dan Bun Wa  kelas 5 Sekolah Dasar telah sah memeluk Agama Islam. Setelah masuk Islam nama Akai berubah menjadi Mujahiddin dan nama Bun Wa berubah menjadi Muhammad Shobirin.

Setelah proses pengucapan syahadat, rombongan dari Bandaraya bergegas untuk pulang ke Bandaraya dengan kapal. Sesampai di pelabuhan Bandaraya,  ibu dari kedua anak  tiba-tiba menangis dengan wajah bahagia “pak guru, Bu Riati, terimakasih ya sudah mengantarkan kami untuk melihat langsung proses pengucapan syahadat anak kami” ucap ibu dari Akai.

“Ia ibu sama-sama” Ucap Munzir selaku Konsultan SLI

“Pak guru saya meyakini bahwa agama islam itu agama nomor satu Pak, makanya saya mau masukkan anak saya ke agama islam. Saya sangat bahagia sekarang anak saya sudah masuk Agama Islam Pak.” ucapnya lagi

“Ia bu, semoga ibu juga segera mendapat hidayah dari Allah” ucap Munzir. Beberapa percakapan singkat Ibu dari Akai tersebut menggambarkan alasan orangtua Akai dan Bun Wa mendukung anaknya untuk masuk Agama Islam karena mereka meyakini Agama Islam adalah agama nomor satu dan juga mengedepankan pendidikan.

Mari sama sama kita doakan semoga kedua anak tersebut Istiqomah memeluk Agama Islam dan semoga orang tua dari anak-anak tersebut segera mendapatkan hidayah-Nya. Amiin.

Kehidupan dan Perjuangan Kawan SLI

Kawan SLI antarkan 2 anak bersyahadat di Meranti

Untuk menjadi seorang pejuang, tidak melulu harus berada di medan perang, mengacungkan parang dan menebas lawan. Menjadi pejuang itu sebenernya cukup sederhana. Lakukan apa yang menjadi tugas, tanggung jawab, dan profesimu sebaik mungkin, dengan penuh komitmen. Ya, cukup dengan itu, seseorang bisa menjadi pejuang. Pejuang untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara. Untuk kehidupan yang lebih baik.

Indonesia dengan segala kemajemukannya, tentu memberikan warna tersendiri. Berbagai suku, bahasa, budaya, pun dengan profesinya. Mulai dari kalangan pedagang kaki lima hingga pengusaha hotel bintang lima. Mulai dari petani hingga hakim negeri. Semua tentu sama-sama berjuang di bidangnya dan (semoga) termasuk saya

Saya adalah seorang Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Sekolah Literasi Indonesia merupakan salah satu program dari Yayasan ternama di Indonesia, Dompet Dhuafa Republika. Lama waktu bekerja saya di Dompet Dhuafa baru 3 bulan. Kalau kata orang, masih seumuran jagung. Masih panjang perjalanan saya untuk meniti karir di Dompet Dhuafa Republika sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI). Dan semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik dari apa yang saya miliki untuk yayasan ini.

Bekerja di Dompet Dhuafa sebenarnya tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Program-program yang sangat identik dengan wilayah pedalaman membuat saya sangat takut. Saya berusaha untuk tidak berurusan dengan hal yang satu ini. Tapi kembali lagi pada sesuatu yang tidak bisa kita tolak, takdir. Justru akhirnya saya menjadi salah satu bagian dari para pejuang daerah pendalaman negeri ini.

Awal perjalanan saya dimulai ketika saya menandatangani kontrak kerja untuk siap ditempatkan di seluruh wilayah kerja Dompet Dhuafa. Kemudian mengikuti pelatihan selama 2 bulan di kota Bogor. Tidak hanya dibekali ilmu tentang pendidikan, tapi juga ditempa fisik dan mental dengan kedisiplinan ala militer. Setelah menjalani pelatihan selama 2 bulan, kami kemudian ditempatkan di unit kerja. Saat-saat penentuan unit kerja adalah hal yang cukup mendebarkan bagi saya. Dalam hati berharap bisa mendapatkan penempatan kerja tidak jauh dari kota kelahiran, syukur-syukur bisa mendapatkan tempat di kota kelahiran. Tapi mungkin, Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Takdir berbicara Kepulauan Meranti menjadi tempat penempatan kerja saya. Bekal yang saya dapat selama pelatihan, saya coba terapkan sebisa mungkin. Butuh waktu lama bagi saya untuk beradaptasi di daerah disini. kurang lebih 1 bulan. Namun alhamdulillah, masyarakat disini sangat menyukai tamu-tamu baru yang datang ke desa mereka. Waktu demi waktu terus berlalu masyarakat terus berdatangan kerumah dengan membawa buah-buahan ke tempat saya tinggal saya walau kami berbeda agama. Begitu juga dengan anak-anak disini yang rajin ke rumah untuk belajar.

Hal yang paling saya takuti adalah saat anak-anak non muslim meminta kepada saya untuk mengajari shalat dan mengaji tanpa pemberitahuan dari orang tuanya. Dalam benak pikiran saya “Akan ku pasrahkan kepada yang Kuasa jika ini takdir saya, jika tempat ini tempat terakhir saya hidup, saya sudah relakan. Asalkan anak2 ini masuk ke agama islam”

Seminggu kemudian setelah saya mengajarkan mereka shalat dan mengaji, anak-anak tanpa saya ketahui mereka meminta masuk islam kepada orang tuanya. Hal tersebut membuat saya takut. Beberapa anak datang kerumah saya serta melaporkan tanggapan dari orang tuanya.

“Pak saya tidak boleh masuk islam sama orang tua saya pak” celoteh seorang anak. Begitu juga dengan ketiga teman yang lainnya, mereka merasakan hal yang sama.

Satu jam berselang datanglah seorang anak yang melaporkan bahwa ia telah diizinkan oleh orang tuanya untuk masuk islam dan meminta untuk segera disyahadatkan. Hatiku ragu ketika anak tersebut mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan izin dari orang tuanya. Maka saya beranikan diri untuk datang kerumah anak tersebut.

Sesampai dirumahnya, orang tua anak tersebut mengatakan kepada saya,

“Pak tolong ajari anak saya shalat agar menjadi anak yang lebih baik dan berguna untuk desa ini kedepannya”. Sayapun sangat terharu dengan perkataan orang tuanya tersebut.

Tak berhenti disana, sepulang dari rumah anak tersebut, saya mengajak teman saya untuk kerumah pak komite. Disana kam dihidangkan dengan air mineral dan makanan ringan lainnya. Ditengah canda tawa, tiba-tiba pak komite mengajak kami berbicara serius.

 “Pak bolehkah anak saya, masuk islam?”

Hatiku tiba-tiba terhenti untuk menjawab pertanyaan pak komite (apa saking senangnya mendengarkan ya heheh), akhirnya saya menjawab

“Boleh pak, sangat boleh”.

“Jadi kapan anak saya di syahadat kan pak”. Tanya pa Komite.

“ Tunggu pak ustad pulang dari Jakarta ya pak hehe” jawab saya.

“ ohhh baik pak” balas pa Komite.

Karna waktu sudah jam 10 malam kami izin pulang, lalu pak komite berteriak kepada kami

“Pak tolong ajari anak saya tentang shalat ya pak???.”

Sayapun menjawab

“Insyaallah siap pak”

Itulah sekelumit kisah perjuangan saya menjadi relawan. Saya sangat berterima kasih pada Dompet Dhuafa yang sudah menjadikan saya bagian dari keluarga ini. Bekerja di sini memberikan sebuah tantangan sekaligus kebahagiaan untuk bisa mengabdi kepada masyarakat dan bangsa melalui profesi. Menjadi seorang pejuang tanpa harus mengangkat senjata. Semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik untuk Sekolah Literasi Indonesia.

Pak, Ini Bunga Teh Rio?

Untuk ke sekian kalinya saya mengajar dua lokal beserta semua siswa kelas 1, 2, 3, 4, dan 5 sendirian. Untung untuk tahun ini tidak ada siswa yang sedang duduk di kelas enam. Jika ada, maka mungkin rasanya sudah hampir sama payahnya dengan perjalanan mengumpulkan ketujuh bola naga. Jika saya mengajar di kelas rendah, siswa kelas tinggi sengaja ke kelas rendah mencari perhatian.

Biasanya mereka memperlihatkan dirinya tertawa, baik di jendela atau di pintu. Begitu pula sebaliknya ketika saya mengajar siswa kelas tinggi. Ada saja tingkahnya agar di perhatikan.

Teringat sebuah kisah ketika masih di kelas waktu itu. Belum beranjak dari meja guru namun kedua mataku mengarah ke pintu yang masih terbuka lebar ternyata ada si Engget. Sebenarnya nama asli Engget adalah Denis. Terdengar lebih bagus kan?, Tetapi orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Engget. Entah apa makna di balik nama itu, sehingga membuat saya pun kadang penasaran. Beberapa di antaranya memiliki nama alias, seperti Novita tapi biasa dipanggil “Kolom,” atau Rasna yang terkenal dengan nama “Aping.”. Semacam nama panggung gitu bagi musisi atau nama pena bagi seorang penulis.

Suatu hari seusai pelajaran di kelas, Engget mengajak aku mencari bunga untuk ditanam di depan kelas. Sepertinya dia mendengar perbincangan saya dengan Bu Niar dan Bu Yati saat melaksanakan school strategic discussion kemarin. Salah satu pembahasannya terkait pengadaan taman bunga. Hingga akhirnya ia berinisiatif mengajak saya mencari bunga untuk ditanam di kebun sekolah.

Saya katakan kepadanya: “O itu bagus tapi nanti ya kita cari bersama-sama bunga-bunganya lalu di tanam di sini.” Soalnya untuk program kegiatan itu kami belum membuat manual, deskripsi, penanggung jawab, dan berbagai hal yang perlu disiapkan untuk membuat program yang berkelanjutan

Ia menerima penjelasanku lalu mengganti topik. Engget kini bertanya: “Pak, mau mencium bunga teh rio?”, “ Bunga teh rio? Seperti apa tuh” tanyaku keheranan. Ia lalu membawa saya ke halaman tetangga yang cukup luas halamannya. Disana terdapat berbagai pohon diantaranya pohon pepaya, pohon manggis, bibit tanaman, bunga asoka, dan berbagai tanaman dan pohon lain. Ia lalu mengarahkan pandanganku pada serumpun tanaman berbunga putih. “Bunganya mirip sekali dengan bunga melati tapi kok beda ya dengan melati yang kukenal selama ini ya?” aku bertanya dalam hati.

Ketika kucium barulah saya ngeh dengan “bunga teh rio.” yang dimaksud Engget. Ternyata baunya mirip dengan sebuah minuman teh kemasan. Engget mengira bahwa bunga ini meniru bau minuman teh itu. Saya sampaikan bahwa justru minuman itulah yang menambahkan aroma dari bunga berwarna putih ini sehingga aromanya tercium seperti itu.

Tapi bunga apa sih itu? Bunganya sekilas terlihat seperti bunga melati tapi hanya terdiri dari lima kelopak, tidak lebih. Dibandingkan dengan melati, tanaman ini memiliki daun yang lebih ramping begitu pula rantingnya yang juga langsing. Setelah saya cari tahu ternyata namanya adalah Jasminum officinale atau dalam bahasa Inggris juga disebut poet’s jasmine. Seperti murid-murid kami, bunga ini juga punya nama samaran yang biasa dikenal dengan melati gambir.

Guru cilik dadakan ditengah keterbatasan!

Guru cilik dadakan ditengah keterbatasan!

Hari ini saya mengajar sendirian lagi di sebuah dusun di tengah hutan. Di tengah hutan seperti ini ternyata saya bisa mengatakan: “Kemana rimbanya?” Kalau ditanya rimbanya ke mana, jawabannya rimbanya tidak ke mana-mana. Masih ada di depan, belakang, di sebelah kanan, dan di sebelah kiri, semuanya rimba. Namun sebenarnya saya menanyakan rimba yang lain yaitu Rimba, partner guru saya. Sudah hampir dua minggu ia tidak menemani murid-murid mengajar di sini. Jika bukan karena tidak ada perahu boat yang tersedia mengantar, bisa jadi alasannya adalah karena tidak ada bekal yang cukup untuk bertahan hidup di tengah rimba.

Benar, mengajar di dusun ini butuh perjuangan. Masalah paling utama yang menyulitkan guru untuk mengajar di Dusun Nunusan adalah akses jalan sulit juga mahal. Jika berhasil sampai di dusun dengan selamat, guru harus segera bersiap-siap untuk menghadapi masalah lain yaitu bertahan hidup di tengah rimba. Akibatnya, jika bahan makanan yang dibawa oleh guru sudah mulai habis, ya sudah perlu segera ke hilir. Jangan sampai gurunya kenapa-kenapa.

Permasalahan di sekolah ini memang sulit, namun prinsipnya lakukanlah apa yang bisa dilakukan semaksimal mungkin. Kadang miris melihat murid-murid kelas 1 dan 2 yang digabung dalam satu local. Mereka datang ke sekolah dengan sedikit muatan pembelajaran, sisanya dihabiskan untuk bermain, bertinju, menangis, baikan, lalu bermain lagi. Padahal sebagai putra dan putri Indonesia, mereka juga berhak atas berbagai layanan dan realisasi janji yang diberikan pemerintah. Bahkan jika saya mengajar sendirian artinya saya akan mengajar lima level kelas dalam dua lokal yang berbeda, cukup melelahkan memang.

Hingga saya terpikir sebuah ide yaitu “berdayakan murid kelas tinggi untuk mengajar murid kelas rendah.” Wah, ide yang boleh juga tuh gumam saya. Keesokan harinya saya sampaikan ide itu kepada siswa pada saat apel pagi. Awalnya, wajah murid-murid kelas tinggi terlihat tidak yakin. Namun setelah beberapa siswa saya tunjuk, saya berikan motivasi, saya kuatkan, akhirnya mereka mengangguk setuju untuk mengajari siswa kelas rendah. “Mengenai konsep dan manualnya, nanti saya beritahu setelah masuk kelas” kataku.

Pelajaran jam pertama hari ini selesai. “Kelas tinggi boleh untuk beristirahat namun yang tadi saya tunjuk untuk mengajari adik kelas saya antar ke kelas sebelah” kataku. Inginku, semua kelas tinggi bersedia untuk mengajari si adik kelas, tetapi tidak semuanya bersedia karena ada yang tipe pemalu

Di kelas sebelah suasananya riuh sekali. Anak-anak berlarian, teriak, tertawa, bermain, minta perhatian dan sebagainya. Bagus karena itu tandanya siswanya sehat dan energik seperti seharusnya. Aku memulai memperkenalkan cikgu cilik ini. Awalnya cikgu cilik ini terlihat bingung mengenai materi apa yang perlu diajarkan dan bagaimana caranya. Kubilang, “Materinya adalah A, B, C, D dan seterusnya sedangkan caranya adalah seperti mengajari membaca iqro saat magrib itu loh yang biasa kita lakukan.”

Kupilih materi ini karena kebanyakan murid kelas satu belum mampu untuk membaca. Mengenal huruf pun hanya beberapa. Mungkin hanya abjad A dan B saja. Selebihnya tebak-tebak berhadiah. Supaya si adik kelas bisa belajar dengan baik, kita cukup membuka jendela untuk mereka dan biarkan mereka sendiri yang belajar dari buku-buku yang ada. Kupilih metode iqro adalah karena meskipun murid-muridku belum bisa menyebutkan keseluruhan alfabet dengan benar namun ternyata kebanyakan dari mereka sudah pandai menyebutkan huruf hijaiyah yang biasanya saya dan murid kelas tinggi latihkan kepada murid kelas rendah.

Begitulah keseharian kami di sekolah. Disini kami dituntut berfikir kreatif untuk menyelesaikan masalah yang hadir tanpa kami prediksi. Semua ini menjadi pengalaman berharga yang akan menjadi mozaik perjalanan sukses anak-anak disini. Anak-anak yang dituntut memiliki skill mengajar sebelum waktunya. Dimana keterbatasan memaksa mereka untuk berjuang lebih keras dari yang lainnya.

Ditulis oleh : Oki Dwi Ramadian – Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Editor : Marketing Komunisi DD Pendidikan

 

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Dara yang berusia 19 tahun ini bernama Nuri Rahmah anak pertama dari tiga saudara ini merupakan salah satu guru sekaligus staf administrasi yang membantu mengajar di MIS maupun di MTs Istiqomah Entikong. Bu Nuri begitu ia kerap disapa di sekolah baik oleh anak-anak maupun guru-guru. Bu Nuri baru tiga bulan mengabdikan dirinya di sekolah ini. Bu Nuri hanyalah tamatan Madrasah Aliah Negeri. Tamat sekolah dia di tawari pihak sekolah untuk bergabung di MIS dan MTs Istiqomah, awalnya ia hanya diminta membantu sekolah untuk menjadi wali kelas 2 dan guru bahasa arab, tetapi karena sumber daya manusia di sekolah yang terbatas akhirnya dia juga diminta untuk menjadi staf sekaligus guru didua sekolah itu. Bu Nuri pernah bercerita kepada saya bahwa dia ingin sekali kuliah dan menargetkan untuk bisa kuliah di tahun berikutnya. Hanya saja saat ini semuanya terbatas karena ibunya yang juga sakit stroke dan pendapatan Bapaknya yang tidak menentu setiap harinya. Ditambah kebutuhan hidup yang cukup mahal dan untuk membiayai sekolah adiknya membuat dia harus menunda dulu keinginannya untuk kuliah. Dia pernah bercerita sejak MAN dia sempat sekolah di Kabupaten Sanggau menumpang di keluarga dekatnya. Ibu Nuri merupakan guru termuda yang ada di MIS maupun MTs tetapi semangat dan kinerjanya tidak diragukan dalam mengajar dan mengemban amanah sebagai guru sekaligus staf administrasi di dua sekolah ini, padahal gajinya tidaklah seberapa itupun dihitung perjam ngajar yang mana terkadang kalau ada guru yang tidak masuk maka dialah yang akan masuk menggantikan guru tersebut.

“Sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah dengan mengambil jurusan pariwisata namun karena keterbatasan dan keadaan yang ada akhirnya saya memilih untuk mengabdi dulu di sekolah ini”, pungkas Bu Nuri.

Bu Nuri datang ke sekolah sejak pukul 07.00 Wib sampai pukul 12.00 Wib dilanjut mengajar di MTs setiap harinya sejak pukul 13.00 Wib-17.00 Wib. Terkadang dia mengeluhkan rasa capek dengan jadwalnya begitu padat, akan tetapi dia berharap semoga dengan pengabdian ini dapat membuka jalan kemudahan baginya untuk menyambung pendidikan lagi dibangku kuliah seperti teman-temannya.

Bu Nuri merupakan salah satu patner kawan SLI yang cukup membantu dalam pendampingan MTs Istiqomah Entikong. Beliau cukup kooperatif dan profesional dalam membantu berjalannya program SLI untuk kemajuan sekolah MTs. Mari teman-teman kita do’akan semoga Bu Nuri dimudahklan langkahnya untuk dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi dan semoga penyakit Ibunya segera diangkat dan disembuhkan. (AS)