Kehidupan dan Perjuangan Kawan SLI

Kawan SLI antarkan 2 anak bersyahadat di Meranti

Untuk menjadi seorang pejuang, tidak melulu harus berada di medan perang, mengacungkan parang dan menebas lawan. Menjadi pejuang itu sebenernya cukup sederhana. Lakukan apa yang menjadi tugas, tanggung jawab, dan profesimu sebaik mungkin, dengan penuh komitmen. Ya, cukup dengan itu, seseorang bisa menjadi pejuang. Pejuang untuk dirinya sendiri, untuk keluarga, untuk bangsa dan negara. Untuk kehidupan yang lebih baik.

Indonesia dengan segala kemajemukannya, tentu memberikan warna tersendiri. Berbagai suku, bahasa, budaya, pun dengan profesinya. Mulai dari kalangan pedagang kaki lima hingga pengusaha hotel bintang lima. Mulai dari petani hingga hakim negeri. Semua tentu sama-sama berjuang di bidangnya dan (semoga) termasuk saya

Saya adalah seorang Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (SLI). Sekolah Literasi Indonesia merupakan salah satu program dari Yayasan ternama di Indonesia, Dompet Dhuafa Republika. Lama waktu bekerja saya di Dompet Dhuafa baru 3 bulan. Kalau kata orang, masih seumuran jagung. Masih panjang perjalanan saya untuk meniti karir di Dompet Dhuafa Republika sebagai Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia (KAWAN SLI). Dan semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik dari apa yang saya miliki untuk yayasan ini.

Bekerja di Dompet Dhuafa sebenarnya tidak pernah terlintas dalam benak saya sebelumnya. Program-program yang sangat identik dengan wilayah pedalaman membuat saya sangat takut. Saya berusaha untuk tidak berurusan dengan hal yang satu ini. Tapi kembali lagi pada sesuatu yang tidak bisa kita tolak, takdir. Justru akhirnya saya menjadi salah satu bagian dari para pejuang daerah pendalaman negeri ini.

Awal perjalanan saya dimulai ketika saya menandatangani kontrak kerja untuk siap ditempatkan di seluruh wilayah kerja Dompet Dhuafa. Kemudian mengikuti pelatihan selama 2 bulan di kota Bogor. Tidak hanya dibekali ilmu tentang pendidikan, tapi juga ditempa fisik dan mental dengan kedisiplinan ala militer. Setelah menjalani pelatihan selama 2 bulan, kami kemudian ditempatkan di unit kerja. Saat-saat penentuan unit kerja adalah hal yang cukup mendebarkan bagi saya. Dalam hati berharap bisa mendapatkan penempatan kerja tidak jauh dari kota kelahiran, syukur-syukur bisa mendapatkan tempat di kota kelahiran. Tapi mungkin, Tuhan punya rencana yang lebih baik.

Takdir berbicara Kepulauan Meranti menjadi tempat penempatan kerja saya. Bekal yang saya dapat selama pelatihan, saya coba terapkan sebisa mungkin. Butuh waktu lama bagi saya untuk beradaptasi di daerah disini. kurang lebih 1 bulan. Namun alhamdulillah, masyarakat disini sangat menyukai tamu-tamu baru yang datang ke desa mereka. Waktu demi waktu terus berlalu masyarakat terus berdatangan kerumah dengan membawa buah-buahan ke tempat saya tinggal saya walau kami berbeda agama. Begitu juga dengan anak-anak disini yang rajin ke rumah untuk belajar.

Hal yang paling saya takuti adalah saat anak-anak non muslim meminta kepada saya untuk mengajari shalat dan mengaji tanpa pemberitahuan dari orang tuanya. Dalam benak pikiran saya “Akan ku pasrahkan kepada yang Kuasa jika ini takdir saya, jika tempat ini tempat terakhir saya hidup, saya sudah relakan. Asalkan anak2 ini masuk ke agama islam”

Seminggu kemudian setelah saya mengajarkan mereka shalat dan mengaji, anak-anak tanpa saya ketahui mereka meminta masuk islam kepada orang tuanya. Hal tersebut membuat saya takut. Beberapa anak datang kerumah saya serta melaporkan tanggapan dari orang tuanya.

“Pak saya tidak boleh masuk islam sama orang tua saya pak” celoteh seorang anak. Begitu juga dengan ketiga teman yang lainnya, mereka merasakan hal yang sama.

Satu jam berselang datanglah seorang anak yang melaporkan bahwa ia telah diizinkan oleh orang tuanya untuk masuk islam dan meminta untuk segera disyahadatkan. Hatiku ragu ketika anak tersebut mengatakan bahwa ia sudah mendapatkan izin dari orang tuanya. Maka saya beranikan diri untuk datang kerumah anak tersebut.

Sesampai dirumahnya, orang tua anak tersebut mengatakan kepada saya,

“Pak tolong ajari anak saya shalat agar menjadi anak yang lebih baik dan berguna untuk desa ini kedepannya”. Sayapun sangat terharu dengan perkataan orang tuanya tersebut.

Tak berhenti disana, sepulang dari rumah anak tersebut, saya mengajak teman saya untuk kerumah pak komite. Disana kam dihidangkan dengan air mineral dan makanan ringan lainnya. Ditengah canda tawa, tiba-tiba pak komite mengajak kami berbicara serius.

 “Pak bolehkah anak saya, masuk islam?”

Hatiku tiba-tiba terhenti untuk menjawab pertanyaan pak komite (apa saking senangnya mendengarkan ya heheh), akhirnya saya menjawab

“Boleh pak, sangat boleh”.

“Jadi kapan anak saya di syahadat kan pak”. Tanya pa Komite.

“ Tunggu pak ustad pulang dari Jakarta ya pak hehe” jawab saya.

“ ohhh baik pak” balas pa Komite.

Karna waktu sudah jam 10 malam kami izin pulang, lalu pak komite berteriak kepada kami

“Pak tolong ajari anak saya tentang shalat ya pak???.”

Sayapun menjawab

“Insyaallah siap pak”

Itulah sekelumit kisah perjuangan saya menjadi relawan. Saya sangat berterima kasih pada Dompet Dhuafa yang sudah menjadikan saya bagian dari keluarga ini. Bekerja di sini memberikan sebuah tantangan sekaligus kebahagiaan untuk bisa mengabdi kepada masyarakat dan bangsa melalui profesi. Menjadi seorang pejuang tanpa harus mengangkat senjata. Semoga saya terus bisa memberikan yang terbaik untuk Sekolah Literasi Indonesia.

Pak, Ini Bunga Teh Rio?

Untuk ke sekian kalinya saya mengajar dua lokal beserta semua siswa kelas 1, 2, 3, 4, dan 5 sendirian. Untung untuk tahun ini tidak ada siswa yang sedang duduk di kelas enam. Jika ada, maka mungkin rasanya sudah hampir sama payahnya dengan perjalanan mengumpulkan ketujuh bola naga. Jika saya mengajar di kelas rendah, siswa kelas tinggi sengaja ke kelas rendah mencari perhatian.

Biasanya mereka memperlihatkan dirinya tertawa, baik di jendela atau di pintu. Begitu pula sebaliknya ketika saya mengajar siswa kelas tinggi. Ada saja tingkahnya agar di perhatikan.

Teringat sebuah kisah ketika masih di kelas waktu itu. Belum beranjak dari meja guru namun kedua mataku mengarah ke pintu yang masih terbuka lebar ternyata ada si Engget. Sebenarnya nama asli Engget adalah Denis. Terdengar lebih bagus kan?, Tetapi orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Engget. Entah apa makna di balik nama itu, sehingga membuat saya pun kadang penasaran. Beberapa di antaranya memiliki nama alias, seperti Novita tapi biasa dipanggil “Kolom,” atau Rasna yang terkenal dengan nama “Aping.”. Semacam nama panggung gitu bagi musisi atau nama pena bagi seorang penulis.

Suatu hari seusai pelajaran di kelas, Engget mengajak aku mencari bunga untuk ditanam di depan kelas. Sepertinya dia mendengar perbincangan saya dengan Bu Niar dan Bu Yati saat melaksanakan school strategic discussion kemarin. Salah satu pembahasannya terkait pengadaan taman bunga. Hingga akhirnya ia berinisiatif mengajak saya mencari bunga untuk ditanam di kebun sekolah.

Saya katakan kepadanya: “O itu bagus tapi nanti ya kita cari bersama-sama bunga-bunganya lalu di tanam di sini.” Soalnya untuk program kegiatan itu kami belum membuat manual, deskripsi, penanggung jawab, dan berbagai hal yang perlu disiapkan untuk membuat program yang berkelanjutan

Ia menerima penjelasanku lalu mengganti topik. Engget kini bertanya: “Pak, mau mencium bunga teh rio?”, “ Bunga teh rio? Seperti apa tuh” tanyaku keheranan. Ia lalu membawa saya ke halaman tetangga yang cukup luas halamannya. Disana terdapat berbagai pohon diantaranya pohon pepaya, pohon manggis, bibit tanaman, bunga asoka, dan berbagai tanaman dan pohon lain. Ia lalu mengarahkan pandanganku pada serumpun tanaman berbunga putih. “Bunganya mirip sekali dengan bunga melati tapi kok beda ya dengan melati yang kukenal selama ini ya?” aku bertanya dalam hati.

Ketika kucium barulah saya ngeh dengan “bunga teh rio.” yang dimaksud Engget. Ternyata baunya mirip dengan sebuah minuman teh kemasan. Engget mengira bahwa bunga ini meniru bau minuman teh itu. Saya sampaikan bahwa justru minuman itulah yang menambahkan aroma dari bunga berwarna putih ini sehingga aromanya tercium seperti itu.

Tapi bunga apa sih itu? Bunganya sekilas terlihat seperti bunga melati tapi hanya terdiri dari lima kelopak, tidak lebih. Dibandingkan dengan melati, tanaman ini memiliki daun yang lebih ramping begitu pula rantingnya yang juga langsing. Setelah saya cari tahu ternyata namanya adalah Jasminum officinale atau dalam bahasa Inggris juga disebut poet’s jasmine. Seperti murid-murid kami, bunga ini juga punya nama samaran yang biasa dikenal dengan melati gambir.

Guru cilik dadakan ditengah keterbatasan!

Guru cilik dadakan ditengah keterbatasan!

Hari ini saya mengajar sendirian lagi di sebuah dusun di tengah hutan. Di tengah hutan seperti ini ternyata saya bisa mengatakan: “Kemana rimbanya?” Kalau ditanya rimbanya ke mana, jawabannya rimbanya tidak ke mana-mana. Masih ada di depan, belakang, di sebelah kanan, dan di sebelah kiri, semuanya rimba. Namun sebenarnya saya menanyakan rimba yang lain yaitu Rimba, partner guru saya. Sudah hampir dua minggu ia tidak menemani murid-murid mengajar di sini. Jika bukan karena tidak ada perahu boat yang tersedia mengantar, bisa jadi alasannya adalah karena tidak ada bekal yang cukup untuk bertahan hidup di tengah rimba.

Benar, mengajar di dusun ini butuh perjuangan. Masalah paling utama yang menyulitkan guru untuk mengajar di Dusun Nunusan adalah akses jalan sulit juga mahal. Jika berhasil sampai di dusun dengan selamat, guru harus segera bersiap-siap untuk menghadapi masalah lain yaitu bertahan hidup di tengah rimba. Akibatnya, jika bahan makanan yang dibawa oleh guru sudah mulai habis, ya sudah perlu segera ke hilir. Jangan sampai gurunya kenapa-kenapa.

Permasalahan di sekolah ini memang sulit, namun prinsipnya lakukanlah apa yang bisa dilakukan semaksimal mungkin. Kadang miris melihat murid-murid kelas 1 dan 2 yang digabung dalam satu local. Mereka datang ke sekolah dengan sedikit muatan pembelajaran, sisanya dihabiskan untuk bermain, bertinju, menangis, baikan, lalu bermain lagi. Padahal sebagai putra dan putri Indonesia, mereka juga berhak atas berbagai layanan dan realisasi janji yang diberikan pemerintah. Bahkan jika saya mengajar sendirian artinya saya akan mengajar lima level kelas dalam dua lokal yang berbeda, cukup melelahkan memang.

Hingga saya terpikir sebuah ide yaitu “berdayakan murid kelas tinggi untuk mengajar murid kelas rendah.” Wah, ide yang boleh juga tuh gumam saya. Keesokan harinya saya sampaikan ide itu kepada siswa pada saat apel pagi. Awalnya, wajah murid-murid kelas tinggi terlihat tidak yakin. Namun setelah beberapa siswa saya tunjuk, saya berikan motivasi, saya kuatkan, akhirnya mereka mengangguk setuju untuk mengajari siswa kelas rendah. “Mengenai konsep dan manualnya, nanti saya beritahu setelah masuk kelas” kataku.

Pelajaran jam pertama hari ini selesai. “Kelas tinggi boleh untuk beristirahat namun yang tadi saya tunjuk untuk mengajari adik kelas saya antar ke kelas sebelah” kataku. Inginku, semua kelas tinggi bersedia untuk mengajari si adik kelas, tetapi tidak semuanya bersedia karena ada yang tipe pemalu

Di kelas sebelah suasananya riuh sekali. Anak-anak berlarian, teriak, tertawa, bermain, minta perhatian dan sebagainya. Bagus karena itu tandanya siswanya sehat dan energik seperti seharusnya. Aku memulai memperkenalkan cikgu cilik ini. Awalnya cikgu cilik ini terlihat bingung mengenai materi apa yang perlu diajarkan dan bagaimana caranya. Kubilang, “Materinya adalah A, B, C, D dan seterusnya sedangkan caranya adalah seperti mengajari membaca iqro saat magrib itu loh yang biasa kita lakukan.”

Kupilih materi ini karena kebanyakan murid kelas satu belum mampu untuk membaca. Mengenal huruf pun hanya beberapa. Mungkin hanya abjad A dan B saja. Selebihnya tebak-tebak berhadiah. Supaya si adik kelas bisa belajar dengan baik, kita cukup membuka jendela untuk mereka dan biarkan mereka sendiri yang belajar dari buku-buku yang ada. Kupilih metode iqro adalah karena meskipun murid-muridku belum bisa menyebutkan keseluruhan alfabet dengan benar namun ternyata kebanyakan dari mereka sudah pandai menyebutkan huruf hijaiyah yang biasanya saya dan murid kelas tinggi latihkan kepada murid kelas rendah.

Begitulah keseharian kami di sekolah. Disini kami dituntut berfikir kreatif untuk menyelesaikan masalah yang hadir tanpa kami prediksi. Semua ini menjadi pengalaman berharga yang akan menjadi mozaik perjalanan sukses anak-anak disini. Anak-anak yang dituntut memiliki skill mengajar sebelum waktunya. Dimana keterbatasan memaksa mereka untuk berjuang lebih keras dari yang lainnya.

Ditulis oleh : Oki Dwi Ramadian – Kawan SLI Penempatan Indragiri Hulu

Editor : Marketing Komunisi DD Pendidikan

 

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Inginku tak Hanya Sampai Disini

Dara yang berusia 19 tahun ini bernama Nuri Rahmah anak pertama dari tiga saudara ini merupakan salah satu guru sekaligus staf administrasi yang membantu mengajar di MIS maupun di MTs Istiqomah Entikong. Bu Nuri begitu ia kerap disapa di sekolah baik oleh anak-anak maupun guru-guru. Bu Nuri baru tiga bulan mengabdikan dirinya di sekolah ini. Bu Nuri hanyalah tamatan Madrasah Aliah Negeri. Tamat sekolah dia di tawari pihak sekolah untuk bergabung di MIS dan MTs Istiqomah, awalnya ia hanya diminta membantu sekolah untuk menjadi wali kelas 2 dan guru bahasa arab, tetapi karena sumber daya manusia di sekolah yang terbatas akhirnya dia juga diminta untuk menjadi staf sekaligus guru didua sekolah itu. Bu Nuri pernah bercerita kepada saya bahwa dia ingin sekali kuliah dan menargetkan untuk bisa kuliah di tahun berikutnya. Hanya saja saat ini semuanya terbatas karena ibunya yang juga sakit stroke dan pendapatan Bapaknya yang tidak menentu setiap harinya. Ditambah kebutuhan hidup yang cukup mahal dan untuk membiayai sekolah adiknya membuat dia harus menunda dulu keinginannya untuk kuliah. Dia pernah bercerita sejak MAN dia sempat sekolah di Kabupaten Sanggau menumpang di keluarga dekatnya. Ibu Nuri merupakan guru termuda yang ada di MIS maupun MTs tetapi semangat dan kinerjanya tidak diragukan dalam mengajar dan mengemban amanah sebagai guru sekaligus staf administrasi di dua sekolah ini, padahal gajinya tidaklah seberapa itupun dihitung perjam ngajar yang mana terkadang kalau ada guru yang tidak masuk maka dialah yang akan masuk menggantikan guru tersebut.

“Sebenarnya ingin sekali melanjutkan sekolah dengan mengambil jurusan pariwisata namun karena keterbatasan dan keadaan yang ada akhirnya saya memilih untuk mengabdi dulu di sekolah ini”, pungkas Bu Nuri.

Bu Nuri datang ke sekolah sejak pukul 07.00 Wib sampai pukul 12.00 Wib dilanjut mengajar di MTs setiap harinya sejak pukul 13.00 Wib-17.00 Wib. Terkadang dia mengeluhkan rasa capek dengan jadwalnya begitu padat, akan tetapi dia berharap semoga dengan pengabdian ini dapat membuka jalan kemudahan baginya untuk menyambung pendidikan lagi dibangku kuliah seperti teman-temannya.

Bu Nuri merupakan salah satu patner kawan SLI yang cukup membantu dalam pendampingan MTs Istiqomah Entikong. Beliau cukup kooperatif dan profesional dalam membantu berjalannya program SLI untuk kemajuan sekolah MTs. Mari teman-teman kita do’akan semoga Bu Nuri dimudahklan langkahnya untuk dapat melanjutkan pendidikannya kejenjang yang lebih tinggi dan semoga penyakit Ibunya segera diangkat dan disembuhkan. (AS)

Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya. Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau. Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi. “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.” Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang, Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa sebagai Bocah Buta Hilang. “Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Si Bocah Buta Hilang dari Indramayu

Hari ini, ke-empat kalinya saya berkunjung ke MI Al Wathoniyah, tiap kunjungan  nama Hasbi tak luput hinggap di telinga saya dari percakapan guru-guru. Malam minggu kemarin ibunya menceritakan tentang dunia Hasbi. Hasbi Si Bocah Buta Hilang itulah nama yang merujuk pada anak hiperaktif, anak laki-laki usia tujuh tahun yang kini duduk di bangku kelas satu, anak yang hobi menggigit pensil, anak yang serba gerak cepat dalam pembelajaran olahraga, namun tergolong lambat dalam ranah kognitif dan afektifnya. Suatu perubahan yang membanggakan darinya, karena saat ini buku tulisnya sudah terisi dengan aksara, padahal sebelum memasuki Madrasah, Hasbi dua tahun duduk di bangku Raudhatul Anfal, selama itu bukunya tetap utuh tanpa coretan sama sekali. Ia lebih sibuk dengan dunianya sendiri tanpa memperhatikan instruksi gurunya.

Ada yang unik darinya, ia menarik diri dari kekompakkan kelasnya, saat anak-anak lainnya berteriak menjawab atau apapun itu justru Hasbi memilih diam, setelah anak-anak diam justru saatnya dia berteriak berulang-ulang. Saat suasana hening dalam kelas, mulutnya tak pernah diam selalu saja berkicau.  Terlebih lagi ia sangat senang meneriakan tawa seperti peran si buta dalam sandiwara. Menurut gurunya itu adalah hal yang biasa, ia memang berbeda namun spesial bagi warga madrasah bahkan untuk Yayasan Al Wathoniyah. Guru kelasnya menceritakan kejadian tadi pagi tentang inisiatif Hasbi.  “Sudah menjadi rutinitas, pada hari senin pukul 07.30 dimulailah upacara, namun hari ini belum ada yang menjadi pemimpin upacara. Maka Ibu guru mengumumkan di depan barisan anak-anak ‘hari ini siapa yang ingin menjadi pemimpin upacara?’ Sontak Hasbi mengacungkan tangan dan berteriak ‘saya bu’, di balaslah pernyataan itu oleh bu guru ‘nanti kalau Hasbi sudah kelas empat baru jadi pemimpin upacara.”

Warga Desa Cikedunglor sampai ke Desa Terisi pernah dibuat geger pula oleh ulahnya. Berita kehilangan Hasbi membuat gempar semua orang, warga mengumumkan di tiap masjid Desa Cikedunglor untuk mencari dirinya. Singkat cerita, dia ditemukan di salah satu rumah warga Terisi. Mulai saat itu ia akrab disebut Hasbi si bocah hilang,

Hasbi memang berbeda, kata-kata ini selalu diucapkan oleh orang-orang yang menceritakan  kisah Hasbi kepada saya. Si bocah hilang itu sangat lihai dalam menarik perhatian. Dengan kepercayaan diri yang tinggi ia selalu ingin menampilkan hal yang menunjukkan perbedaan dirinya dengan teman sebayanya. Dibalik respon kognitif dan afektif yang lambat justru si bocah hilang ini sangat berbakat di dunia kesenian sandiwara. Ia sudah dua kali menjadi raja panggung yang sukses menyulap penontonnya terpukau bahkan terpingkal-pingkal dengan aksinya. Ia adalah pemeran si buta dalam sandiwara. Di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, kesenian sandiwara menjadi primadona rakyat. Pementasan biasanya diadakan saat ada acara hajatan pasca panen dan perpisahan sekolah. Pentas pertama dimulai saat perpisahan warga Yayasan Al Wathoniyah dan yang ke dua saat hajatan warga desa. Ia benar-benar sukses menguasai panggung. Untuk bisa tampil sebaik itu, sebelumnya ia menghabiskan waktu berlatih mandiri melalui kaset sandiwara. Orang tuanya tidak pernah mengarahkan untuk belajar sandiwara, justru ia menemukan kecintaannya  pada kesenian sandiwara dengan sendirinya. Ia terus memita kepada ayahnya untuk dibelikan topeng sandiwara dan kaset. Karena peran Hasbi sebagai si buta maka ia kembali diberi gelar oleh warga desa  sebagai Bocah Buta Hilang.

“Setiap anak memang memiliki kecerdasan yang berbeda, barangkali ada yang lemah dalam kecerdasan logis matematik tapi unggul dalam kecerdasan kinestetik seperti olahraga dan kesenian sandiwara, itulah Hasbi, Hal ini menjadi tugas  kita untuk mengarahkan potensi apa yang ia miliki. Justru ibu harus berbangga diri di usianya yang sangat muda ia sudah menemukan dunianya untuk berkembang, sudah memiliki kepercayaan diri yang tinggi yang justru membedakannya dengan anak-anak lainnya, sayapun di usia yang sama saat itu belum bisa melakukan hal-hal sejauh itu karena terbelenggu kementalan yang rendah.” itulah yang saya katakan pada ibunya saat  ibunya mencurahkan kata hatinya kepada saya tentang Hasbi. Saya sangat yakin, Hasbi si bocah buta hilang akan menyumbang karya besar di dunia kesenian ketika potensinya semakin diasah dan diarahkan (HY)

Setitik Cahaya “Literasi” di Rasabou

Setitik Cahaya “Literasi” Muncul di Rasabou 

Indonesia adalah negara yang kaya akan sumber daya alam, dari Sabang sampai Marauke, setiap daerah mempunyai ciri khas tertentu, salah satunya di Kabupaten Bima yang terletak di Propinsi Nusa Tenggara Barat. Kekayaan alam yang melimpah membuat daerah ini harus mengekspor hasil alamnya dan dibawa ke luar daerah yang ada di Indonesia seperti bawang, garam, kambing, sapi, dan lain-lain. Namun dibalik kekayaan alam yang melimpah tersebut ada suatu keadaan yang sangat memprihatinkan yaitu sumber daya manusia yang belum memadai, keadaan itulah yang membuat bapak Abi Sakti bergerak dalam bidang pendidikan tepatnya dalam hal “Literasi”. Umurnya yang terhitung masih muda, 28 tahun membuatnya merasa harus semankin banyak berbuat untuk bangsa ini.

Berawal dari keresahan beliau terhadap kondisi anak-anak di Desa Rasabou, Kabupaten Bima yang masih banyak buta huruf sehingga beliau membuat suatu terobosan untuk mengurangi keresahannya. Beliau mengambil buku-buku yang ada di Kantor Desa Rasabou yang tak terpakai kemudian beliau mencari anak-anak yang ada di desa Rasabou untuk menyisihkan waktu bermainnya dengan membaca buku. Anak-anak diminta membaca buku selama 30 menit setiap harinya. Bukan hanya itu, anak-anakpun dibimbing dalam hal keagamaan seperti mengaji. Dari kegitan kecil tersebut membuat bapak Abi membentuk sebuah komunitas yang disebut “Sarangge Baca Bima”. Komunitas tersebut merangkul atau mengajak juga aktivis-aktivis sosial untuk ikut berpastisipasi dalam “Literasi” anak-anak di Kabupaten Bima dan kegiatan tetsebut sudah mencakup beberapa desa dan mempunyai penanggung jawab sendiri-sendiri.

Segala hambatan yang dihadapi tidak menjadikan Pak Abi pesimis sebab cita-cita awal beliau yaitu ingin menjadikan anak-anak di Kabupaten Bima menjadi anak-anak yang berakhlak mulia, mencintai Alquran, mampu membaca, menulis yang membuat beliau selalu semangat, dan sekarang anggota anak-anak dari komunitas “Sarangge Baca Bima” yang awalnya hanya 5 orang anak sekarang mencapai 20 orang anak. Sesuatu yang begitu luar biasa yang dilakukan oleh Bapak Abi dalam memajukan daerahnya dalam hal “Literasi”, dan kegiatan tersebut direspon baik oleh masyarakat setempat. Anak-anak yang dulunya tidak tau membaca sekarang alhamdulillah bisa membaca dan anak-anak yang sebelumnya tidak percaya diri tampil didepan umum sekarang bisa dengan lincah tampil didepan umum”ungkap pak Abi disela-sela kami melakukan wawancara bersama beliau.

Ketika kunjungan ke taman baca Sarangge, antusiasme anak dan hangatnya sambutan dari Pak Abi beserta keluarga menambah rasa syukur saya karena sudah berada ditempat tersebut. Anak-anak yang begitu lucu dan menggemaskan membuat kami tak ingin melewatkan moment bermain bersama mereka. Perkenalan adalah awal saya membuka canda bersama mereka dan hal tersebut menarik perhatian ibu-ibu yang ada disekitar rumah pak Abi untuk datang melihat keramaian dalam perkenalan tersebut. Suasana pecah menjadi riuh  seketika ada seorang anak berkata saat sesi perkenalan “Hobi saya ingin menjadi dokter”, mendengar kepolosan anak tersebut, semuanya tertawa dan anak itupun tertawa. Tidak sampai disitu, kami mulai mengajak anak-anak bernyanyi usai sesi perkenalan yang mengocak perut karena tingkah lucu anak-anak taman baca Sarangge.

Bermain adalah dunia anak. Ketika kita mampu bermain dengan mereka, membawa diri ke dalam dunia bermain mereka maka kita akan sedikit paham tentang karakter anak tersebut. Bermain bersama anak-anak Sarangge membuat lelah menjadi hilang,melihat senyum canda tawa mereka, menciptakan semangat baru. Teruslah berkarya, bermanfaat dimanapun itu. Semoga dari kisah Pak Abi, bisa menjadi inspirasi buat kita semua bahwa melakukan kebaikan, perubahan tidak akan terasa sulit asalkan ada tekad, kerja keras dan keyakinan maka semua urusan itu akan dimudahkan olehNya.

 

 

Berkaca dari Keterbatasan MI As’adiyah

Semua orang tau bahwa pendidikan merupakan dasar dari kehidupan yang lebih baik bagi setiap insan, baik buruknya kehidupan itu ditentukan oleh pendidikan. Tapi faktanya tidak semua orang dapat memperoleh pendidikan dan tidak setiap orang peduli dengan orang-orang yang belum mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebagian orang hanya beranggapan bahwa pendidikan hanyalah amanat undang-undang yang tidak begitu penting untuk diperhatikan. Sebagiannya lagi mengira bahwa pendidikan itu hanya tanggung jawab sebagian orang saja. Dalam hal ini mereka menunjuk gurulah sebagai satu-satu pelaksana pendidikan.

Di sebuah dusun yang terletak didesa tanjung karang kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara berdiri sebuah sekolah swasta yang diberi nama MI As’adiyah, sekolah ini merupakan sekolah filial dari sekolah induknya yang ada di desa Tanjung karang.

Sekolah tersebut hanya mempunyai lokasi yang sangat sempit dengan jumlah ruangan sebanyak 3 lokal, jumlah siswanya sebanyak 37 orang dan guru 4 orang. Dari tiga lokal bangunan sekolah tersebut hanya ada satu bangunan yang permanen, sedangkan dua lokal lainnya masih setengah permanen. Karna jumlah ruangan cuma tiga, jadi untuk satu ruangan itu ditempati oleh dua grade dan itu hanya disekat dengan dinding setinggi bahu guru.

Coba kita pikirkan baik-baik, bagaimana mungkin proses pembelajaran akan efektif kalau keadaannya seperti itu. Suara guru dan siswa dari kelas sebelah terdengar jelas oleh kelas sebelahnya dan itu memicu hilangnya konsentrasi siswa dalam menyerap materi yang dipelajari. Sungguh sangat memprihatinkan, tapi sayangnya hanya segelintir orang saja yang peduli dengan keadaan pendidikan disini. Bukan cuman itu, tapi masih ada lagi hal-hal yang krusial untuk diperhatikan seperti fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaran. Ceruk ilmu dan buku bacaan serta buku mata belajaran misalnya, padahal ini merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk anak-anak sekolah karna untuk terlaksananya program literasi atau program wajib baca buku sebelum proses belajar dimulai itu butuh kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai yang mendukung sehingga program tersebut bisa terlaksana dengan baik. Lalu bagaimana anak –anak disini bisa aktif melaksanakan program literasi jika keadaan tidak mendukung mereka untuk aktif melakukannya. Kalau urusan semangat anak-anak disini untuk belajar itu jangan ditanya dan jangan diragukan lagi, itu terlihat dari keseharian mereka yang rutin membaca sebelum proses belajar dimulai meskipun buku yang dibaca itu tidak punya alur cerita yang jelas dikarena buku-buku tersebut tidak lagi utuh sebab sebagian dari lembarannya sudah rusak dan sobek.

Kondisi yang penting juga untuk diperhatikan adalah sekolah MI As’adiyah filial ini tidak memiliki pagar pembatas sama sekali dan lokasinya berdekatan dengan jalan raya, kondisi ini sangat berbahaya bagi anak-anak karna banyaknya kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat para guru harus mengawasi anak didik mereka secara ekstar saat jam istirahat tiba agar tidak melintas dan bermain-main di jalan raya.

Namun, walaupun keadaannya seperti itu sekolah ini merupakan satu-satunya harapan warga dusun Sungai batang agar anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan. Tak perduli dengan segala keadaan serta kekurangan sekolah secara fisiknya, sekolah ini tetap menjadi satu-satunya pilihan warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Meskipun warga tahu bahwa sekolah ini terbatas secara sarana dan prasarananya, namu ada hal lain yang dinilai oleh warga dari sekolah ini, yakni terkait dengan budaya dan kedisiplinan sekolah.

Tidak bisa dipungkiri sekolah ini memang memiliki keterbatasan dan kelemahan secara fisiknya, tapi kondisi fisik sekolah ini sama sekali tidak mempengaruhi simtim instruksionalnya. Selain dikenal dengan segala kekurangan secara fisiknya, Sekolah ini juga dikenal dengan program Sholat Dhuha dan kedisiplinannya. Dimana setiap hari pada jam istirahat anak-anak diwajibkan untuk melaksanakan Sholat Dhuha secara berjamaah.

Dan itu tentu sekali menjadi salah satu dari sekian alasan warga sehingga begitu antusias untuk menyekolahkan anak-anak mereka, dan anak-anakpun begitu bersemangat untuk bersekolah meskipun mereka harus menempuh jarak 1 km setiap harinya agar dapat samapai ke sekolah.

MI As’adiyah filial berlokasi jauh dari rumah warga karna memang dusun Sungai Batang ini daerah perkebunan kelapa sawit, dan warga setempat tinggal dimasing-masing kebun mereka. Bukan hanya jauhnya jarak sekolah dari rumah sebagai hambatan buat anak-anak di dusun Sungai Batang ini, tetapi juga kondisi jalan keluar-masuk yang masih sangat rusak menjadi hambatannya, ketika hujan turun jalan menjadi becek dan licin. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun kesulitan untuk melintas. Tidak heran ketika hujan turun hanya sedikit anak saja yang bisa berangkat sekolah.

Walaupun kondisi demikian adanya, tidak pernah menyurutkan semangat dan kemauan anak-anak disni untuk bersekolah, kaki mereka tetap semangat untuk melangkah meski harus berjalan diatas jalanan yang licin dan berlumpur.

Semangat yang begitu tinggi dari anak-anak bangsa ini harusnya dihadiahkan dengan fasilitas yang memadai agar kelak mereka tumbuh dengan prestasi tinggi. (Anas Ardiansyah, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Konsultan Relawan: Memeluk Sekolah Dampingan SLI

Konsultan Relawan atau lebih akrabnya di sapa Kawan adalah sebutan bagi pendamping Sekolah Literasi Indonesia. Peran ini membawa aku mengenal pendidikan lebih dekat, menyapa pendidikan lebih sering, dan mengenggam pendidikan lebih erat. Meski dalam skala kecil di lima sekolah Kab. Indramayu, sebuah daerah baru dengan peran baru memiliki tantangan tersendiri.

Masih terekam jelas saat kunjungan perdana ke tiap-tiap sekolah dampingan. Sambutan yang hangat adalah kesan pertama khas orang jawa yang ramah, namun sambutan hangat tak selalu berbanding lurus dengan penerimaan. Jamuan penyambutan tak bisa mewakili semua pihak menyambut baik kehadiran kita. Tentu ada segelintir yang juga memasang tameng pembatas dengan kedatangan kami, menyelidik penuh curiga, meragu penuh kesangsian. Kemudian ada beberapa guru yang mempertanyakan “Apa yang akan kami dapatkan dari program ini? Apakah program ini menjamin karakter yang baik bagi siswa di luar jam sekolah hingga setelah lulus dari sekolah ini?”. Ada juga yang menyerah sebelum bergerak, “yang namanya program pasti membutuhkan dana dan kondisi sekolah kami begini dan begitu”. Belum lagi yang mencibir “apa keuntungan yang didapatkan lembaga anda, padahal inikan tugas pemerintah?”. Percayalah menjelaskannya dalam bahasa yang sederhana dan sesantun mungkin itu tidak semudah yang dipahami.

Akan kusampaikan juga tentang sarana dan prasarana. Aku tidak percaya. Di pulau jawa ini, kabupaten yang dinobatkan sebagai lumbung padi nasional, masih ada meja kursi yang lebih tak layak pakai dibanding yang kugunakan di puluhan tahun lalu. Masih ada ruang kelas yang seharusnya menjadi gudangpun sudah tak layak. Mungkin wajar jika di pelosok, tapi di sini bukan pelosok. Aku juga tercengang dengan ruang kelas dibagi 2 rombongan belajar, kelas 4 dan kelas 5 yang hanya dibatasi tripleks mading. Tapi faktanya kelas tersebut sudah berjalan sepanjang semester ganjil ini. Jangankan mencari fasilitas pendukung, mendapati ruangan tergembok berisikan buku yang berserakan penuh debu dan sarang laba-laba dengan sisa-sisa gigitan tikus adalah sebuah nafas kelegaan.

Akan kuceritakan juga tentang jarak, kunjungan ke Sekolah harus menempuh 20an Km di tiga Sekolah Dampingan, bahkan kadang menghabiskan 1 jam perjalanan. Belum lagi soal akses jalanan bebatuan rusak di salah satu sekolah yang menjadi momok terberat tiap kunjungan kesana. Ditambah akses kendaraan pulang-pergi yang memberatkan. Namun di hamparan bebatuan jalan dan jarak yang jauh aku mendengar banyak perjuangan. Tentang Guru-guru yang setiap harinya pulang pergi melintasinya, hanya dengan harapan Rp.300.000an per bulan yang harus di rapel pula,  bukan satu-dua, bukan sekali-dua kali, bukan setahun-dua tahun tapi hingga puluhan tahun. Tentang paradigma dan komitmen adalah wilayah hati dan memang tak pernah punya tolak ukur.

Diketerbatasan sarana dan prasarana yang kuanggap sebagai kekurangan, selalu ada kisah antik dibaliknya. Tentang gedung yang kusebut tak layak telah menjadi saksi belajarnya ribuan generasi penerus bangsa. Dititik ini, di purnama pertama yang sudah terlewati, aku mengakui bahwa amanah ini memang tidak bercanda. Saat kamu harus memberikan sesuatu kepada orang lain, maka yang paling pertama adalah memastikan kita punya sesuatu. Saatnya meluruskan niat, membenahi presepsi dan mengolah semua hal dengan positif. Wejangan saat pembinaan bahwa “Fokus utama kita adalah pada yang mau menerima, pada yang siap bekerja bersama” menjadi penguat.

Pada akhirnya, makin kesini makin melihat lebih luas, masih ada yang jauh lebih banyak menerima kita. Justru keberadaan kita di sini adalah kehadiran yang diharapkan, tantangannya sekarang adalah bagaimana memeluk sekolah dampingan, membentang kebaikan dengan erat pada mereka yang ada. Bersama Dompet Dhuafa mari menjawab panggilan zaman “saatnya turun tangan, saatnya berkarya, saat melakukan apapun untuk Indonesia, untuk Pendidikan, untuk sekolah, dan untuk diri sendiri kepada Yang Maha Benar menitipkan amanah ini”. (Jumrawati, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Gerbang Pendidikan Islam Di Kepulauan Tanimbar

Kepulauan Tanimbar merupakan sebuah daerah yang menjadi bagian dari provinsi Maluku. Secara administratif wilayah ini disebut dengan kabupaten Maluku Tenggara Barat. Kabupaten yang tahun ini merayakan ulang tahun ke-19 ini, hampir 90 persen warganya menganut ajaran agama Katolik dan Protestan. Meskipun demikian akses terhadap pendidikan Islam terus digalakkan beriringan dengan semakin banyaknya pendatang muslim yang menetap di kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Warga muslim mulai datang ke kabupaten ini sejak tahun 2008. Kebanyakan dari mereka adalah orang Jawa, Buton, dan Bugis yang bekerja sebagai pedagang di pasar tradisional dan penjual makanan. Terdapat dua daerah yang menjadi kompleks permukiman warga muslim di pusat Maluku Tenggara Barat, yaitu daerah pasar baru Omele desa Sifnana dan pasar lama desa Olilit. Selain itu, warga muslim tersebar di kelurahan Saumlaki yang menjadi ibukota kabupaten Maluku Tenggara Barat.

Untuk membuka akses pendidikan terhadap anak-anak muslim di pusat Maluku Tenggara Barat, beberapa tokoh muslim yang notabene pegawai di Departemen Agama Kabupaten Maluku Tenggara Barat menginisiasi berdirinya sebuah madrasah ibtidaiyah pada tahun 2014 yang kemudian diberi nama MI Al-Azhar Saumlaki di bawah naungan Yayasan Pendidikan dan Sosial Masyarakat Al-Dhiya Marsya Indonesia. Sebagaimana diungkapkan oleh Ketua Yayasan, Bapak Adam Kubangung bahwa alasan didirikannya MI Al-Azhar Saumlaki adalah adanya keresahan para warga muslim terhadap pendidikan anak-anak mereka di sekolah umum, di mana porsi pendidikan Islam hampir tidak ada. Hal ini terlihat dari ketiadaan guru-guru muslim di sekolah-sekolah umum. Oleh karena itu, MI Al-Azhar dibuka dengan 7 orang siswa di tahun pertama.

Lima tahun berjalan, alhamdulillah, MI Al-Azhar Saumlaki memiliki sekitar 150 siswa. Jumlah ini tentu tak sedikit. Terlebih MI Al-Azhar Saumlaki merupakan satu-satunya MI di kabupaten Maluku Tenggara Barat. Namun kuantitas siswa yang semakin meningkat belum diimbangi dengan kualitas pengelolaan sekolah yang bagus. Hal ini bukan tanpa sebab, hilir mudiknya guru yang mengajar, keterbatasan akses belajar guru dan siswa menjadi alasan. Pun demikian, dari pihak yayasan selalu mencari solusi untuk memperbaiki manajemen pengelolaan madrasah. Dan bersyukurnya, terdapat beberapa guru yang dapat benar-benar diajak bekerjasama untuk memperbaiki kualitas MI Al-Azhar Saumlaki. Langkah-langkah perbaikan memang harus dilakukan karena MI Al-Azhar Saumlaki menjadi gerbang pendidikan Islam di kepulauan Tanimbar ini. (Fajar, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Pic : https://www.triptrus.com/destination/438/kepulauan-tanimbar

Dinding Sekolah Ku Bukan Dari Tembok

Pendampingan Sekolah Literasi Indonesia di kabupaten Konawe Selatan, Kecamatan Tinanggea terdiri dari 5 sekolah. Salah satunya adalah MI Raudhatul Jannah yang terletak di desa Bomba-bomba. MI Raudahtul Jannah sudah berdiri sejak 12 tahun yang lalu, dibina oleh bapak Imanuddin sekaligus menjadi kepala yayasan dan kepala sekolah tersebut.

MI Raudhatul Jannah terdiri dari 5 guru yang aktif yang tiap hari datang ke sekolah, 1 orang kepala sekolah, dan 1 orang “Guru jam terbang” yang hanya beberapa hari di sekolah. Kepala sekolah MI Raudhatul Jannah tidak hanya bertugas mengelola sekolah, tetapi sebagai pengajar sekaligus wali kelas. Hal ini dikarenakan secara administrasi MI Raudhatul gurunya sanagt minim. Tentu ini bukan hanya tanggung jawab kepala sekolah saja, tetapi juga elemen yang ada di sekolah tersebut misalnya guru maupun dinas pendidikan setempat.

Tidak saja kekurangan guru, MI Raudhatul Jannah juga kekurangan sarana dan prasarana sekolah seperti : bangunan sekolah baik, ruangan kelas maupun perpustakaan sekolah yang layak, dan nyaman bagi peserta didik untuk belajar. Tidak sesempurna sekolah lain yang berlandaskan tembok dengan ruang yang besar, MI Raudhatul Jannah hanya dilandasi bangunan kayu. Walaupun seperti itu, MI Raudhatul Jannah mempuyai sumber daya manusianya yang bagus seperti guru-guru yang memiliki semangat rasa memiliki terhadap sekolah yang kuat. Bagi guru-guru disana yang menjadi hal terpenting bagi mereka adalah semangat peserta didik yang mau belajar.

(Piska Yunita, Kawan SLI Angkatan 2 Penempatan Konawe Selatan)