Buku Bagaimana Ini Bagaimana Itu?

Apa yang Anda temukan dalam buku ini adalah cerminan mereka yang tak mengutuk kegelapan. Mereka berjuang di tengah keterbatasan, berkreasi untuk sebuah harapan pendidikan Indonesia yang lebih baik. Mereka adalah para Pendamping Sekolah dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa yang terjun langsung di berbagai daerah, termasuk pelosok dan pedalaman. Mereka menyelami persoalan riil di lapangan dan menawarkan alternatif penyelesaian. Mulai dari manajemen sekolah, metode pengajaran, hingga pengelolaan keluarga siswa.

Buku Bagaimana Ini Bagaimana Itu? Merupakan buku best practice para Pendamping Sekolah. Buku ini bukan teori, terkaan, atau opini dari para penulisnya, namun betul-betul pengalaman nyata yang didapatkan selama mereka menjalankan program pendampingan sekolah. Karena menurut pandangan kami, tak ada metode pakem dalam menyelesaikan semua masalah di sekolah.

Ahmad Juwaini, Presiden Direktur Dompet Dhuafa.

Harga Rp 60.000

{fcomment}

Celoteh Bintang Kecil di Langit Jampang

Pusat Sumber Belajar (PSB) merupakan Divisi dari Program Peningkatan Kualitas Pendidikan (PKP). Pusat Sumber Belajar (PSB) didesain untuk mengelola semua sumber yang dapat digunakan dalam belajar, baik dalam bentuk cetak maupun audio visual, termasuk mengorganisasi program dan gerakan yang dapat mengoptimalkan pembelajaran.

Pusat Sumber Belajar Makmal Pendidikan pada hari Kamis 17 April 2014 telah mengirimkan 180 eksemplar buku hasil dari kegiatan “Sanggar Literasi” yang telah berjalan di tahun 2013 kepada Sekolah dampingan Sekolah Guru Indonesia – Dompet Dhuafa. Hal ini merupakan Pogram rutin Makmal Pendidikan dalam menyemai bahan bacaan ke beberapa daerah yang masih kekurangan buku bacaan.

Buku ini merupakan kumpulan dari celotehan anak Indonesia, yang penuh keluguan dan kelucuan bercerita tentang petualangannya di dunia “bocah”. Ada komentar lucu yang keluar disana, karena mereka tidak suka akan kondisi lingkungan yang tidak bersahabat, ada juga ide-ide spontan yang muncul lantaran ada permasalahan ruwet yang sulit diselesaikan, serta berbabagi cita-cita dan harapan anak-anak “kampung” yang bersemangat untuk kehidupan yang lebih baik. Buku ini cukup unik, ceria dan inspiratif.

Disajikan dengan bahasa yang ringan dan polos khas anak-anak, buku ini seolah sebagai pelepas dahaga atas kondisi carut marutnya budaya literasi anak di negeri ini. Ditengah maraknya kemunculan buku-buku roman picisan yang dijadikan bahan bacaan oleh anak, buku ini berupaya mengembalikan mereka pada dunianya yang  identik dengan cerita ceria, kaya akan celoteh yang polos dan jenaka, serta penuh ide-ide spontan yang lucu. Walaupun jauh dari kata sempurna, semoga dapat memberikan setitik harapan atas upaya pembenahan kemampuan literasi anak Indoensia.

Sekolah yang akan mendapatkan donasi buku ini berada di 3 wilayah, diantaranya adalah : SDN Sui Kakap (Kal-Bar), SDN 63 Sungai Raya (Kal-Bar), SDN Aik Kangkung (NTB), SDN Jorak Tirair (NTB), SDN Santap Mantar (NTB), SDN 06 Rasau Jaya (Kal-Bar), SDN 004 Sei Menggaris (Kal-Ut), SDN 6 Batu Ampar (Kal-Bar), SDN 30 Kertasari (NTB), SDN Rarak (NTB), SDN 003 Sei Menggaris (Kal-Ut), SDN 007 Tulin Onsoi (Kal-Ut), SDN 002 Sebatik (Kal-Ut), SDN 006 Sebatik Tengah (Kal-Ut), SDN 21 Kuala Mandor B (Kal-Bar), SDN La Muntet (NTB), SDN 001 Sebuku (Kal-Ut), SDN 25 Teluk Pakedai (Kal-Bar).

{fcomment}

Sekolah Ramah Hijau

Sekolah Ramah Hijau

Dampak pemanasan global begitu mengerikan. Bagaimana tidak, meningkatnya suhu dipermukaan bumi memicu terjadinya kemarau panjang dan kebakaran hutan. Temperatur yang panas itu juga akan menyebabkan terjadinya gagal panen. Yang tidak kalah berbahaya, kehidupan hewan liar dan kesehatan manusia pun terancam.

Semua itu bermula dari pemanfaatan sumber daya alam yang dilakukan manusia tanpa disertai fungsi lingkungan sehingga menimbulkan kerusakan bumi. Kondisi ini membuat kita prihatin karena akan menjadi ancaman serius bagi keberlangsungan hidup manusia.
Kurangnya pemahaman dan kesadaran, serta rendahnya komitmen masyarakat dalam berpartisipasi untuk menjaga dan melestarikan lingkungan menjadi faktor utama yang menyebabkan penanganan masalah lingkungan belum menunjukkan hasil menggembirakan. Untuk itu, diperlukan penyadaran tentang pentingnya menjaga dan melestarikan lingkungan. Upaya ini dimulai dari diri kita, dimulai sekarang, dan dilakukan oleh semua pihak, termasuk warga sekolah.

Buku ini merupakan bagian dari upaya menanamkan karakter Sekolah Ramah Hijau di lingkungan sekolah. Ditulis berdasarkan gagasan dan praktik lapangan di sekolah pendampingan PT Trakindo Utama dan Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa, pembahasan buku meliputi: peran sekolah di tengah isu pemanasan global; tahapan penerapan Sekolah Ramah Hijau; empat langkah aksi Sekolah Ramah Hijau. Tidak sekedar gagasan, buku ini mengungkapkan pengalaman langsung upaya sekolah menyelamatkan bumi.

Menyulut Jiwa di Kampung Hatta

Menyulut Jiwa di Kampung Hatta

“Pendidikan adalah eskalator sosial dan kearifan manusia. Karena itu membangun kembali pendidikan di ranah Minang pasca-gempa dasyat, amat penting untuk memastikan proses eskalasi ini tidak putus. Menyulut Jiwa di Kampung Hatta menjadi saksi komitmen insan pengajar Sumatera Barat untuk bangkit dari keterpurukan. Semoga mampu menjadi energi dan inspirasi, agar Hatta-Hatta baru kembali terlahir dari Ranah Minang. Man jadda wajada” (Ahmad Fuadi, Novelis Negeri 5 Menara)

Mari tengok kampung Hatta; kampung yang pernah melahirkan para manusia cerdas, kreatif, dan berbudi luhur hingga nama Indonesia dikenal di mancanegara. Mari tengok kampung Hatta; kampung nan elok dikelilingi panorama indah bukit, ngarai, gunung, dan sungai.

Tapi mari rasakan pula perihnya menjadi korban amukan gempa bumi 30 September 2009 di kampung Hatta, Sumatera Barat. Mimpi-mimpi tinggi terkoyak. Cita-cita untuk maju tergerus. Asa untuk bangkit pun enggan beranjak. Tersadarlah bahwa apakah menjadi warga kampung Hatta sudah seperti Bapak Proklamator itu ataukah Cuma sebatas kesamaan kampung kelahirannya?

Dunia pendidikan yang diidealkan Hatta ternyata selama ini terlanjur terabaikan. Menjadi cerdas seolah sudah anugerah dari langit hingga tidak perlu ada kreativitas. Maka, gempa bumi 30 september 2009 tidak semata soal teknis pergeseran lempeng bumi, tapi juga bisa dipandang sebagai penegur atas laku tidak syukur atas kelebihan selama ini.

Hadirnya Dompet Dhuafa bersama beberapa donatur ditengah gempa sejatinya ingin menyulut jiwa-jiwa tangguh yang pernah terlahir di tanah Minang. Etos Hatta, Natsir, Agus Salim, Ning, hingga Hamka ingin dibangkitkan sebagai inspirasi majunya pendidikan Sumatera Barat. Program sekolah pendampingan pasca-bencana gempa tidak semata bicara pembangunan fisik sekolah, tapi yang lebih utama adalah bagaimana menggugah dan menyulut jiwa-jiwa yang masih tenggelam pelik bak Kelok Ampek Puluah Ampek.

Di Tepi Batas Ku Bangun Negeriku – Rote

Di Tepi Batas Ku Bangun Negeri Ku
Jejak Langkah Pendampingan di Tanah Rote

Pendidikan hari ini adalah gambaran tentang wajah bangsa kita dimasa depan. Keseriusan suatu bangsa dalam memperhatikan pendidikan generasi mudanya, kelak akan menyelamatkan bangsa tersebut dari dinamika pergeseran zaman yang sarat tantangan dan sangat kompetitif. Masyarakat yang rendah kualitas pendidikannya akan semakin jauh tertinggal dan hanya akan menjadi “jajahan” bangsa-bangsa lain yang lebih maju mutu pendidikannya.

Keseriusan Negara dalam menfasilitasi pendidikan bagi rakyatnya diantaranya dapat kita lihat dari kinerja pemerintah dalam mengelola sekolah-sekolah perbatasan. Pada faktanya, wilayah-wilayah perbatasan umumnya yang terasing secara geografis seringkali membuat mereka kurang mendapatkan perhatian yang cukup, termasuk di bidang pendidikan. Bahkan tak jarang banyak warga  perbatasan yang mengaku lebih senang bila wilayahnya menjadi teritorial dari negara tetangga .

Pendidikan buat masyarakat didaerah-daerah ‘”beranda” nusantara tersebut selama ini masih belum menjadi program negara yang bernilai strategis. Padahal pendidikan adalah harapan terakhir bagi banyak masyarakat dhuafa (baca: marjinal) di daerah perbatasan untuk bisa merubah nasib hidup ke strata sosial yang lebih tinggi. Maka bila disederhanakan, pendidikan adalah sarana mobilitas sosial bagi masyarakat perbatasan untuk bisa memperoleh kehidupan yang lebih baik di negeri sendiri di banding harus bermigrasi menjadi warga negara asing .

***

Mendampingi sekolah-sekolah diwilayah perbatasan (beranda) Indonesia adalah bagian dari komitmen Makmal Pendidikan selaku jejaring Dompet Dhuafa untuk berperan strategis dalam perbaikan bangsa dimasa depan. Ini adalah program besar yang murni bersumber dari ummat melalui pengelolaan dana zakat, infaq, dan shodaqoh. Kita ingin membuktikan bahwa dengan penegakan kebiasaan berzakat yang dikelola dengan benar, maka akan membantu bangsa ini untuk bangkit dan lebih bermartabat. Kita bisa menyebut ini sebagai nasionalisme zakat untuk bangsa.