sek0h

Cara Jitu Membuat Perpustakaan Menarik

Oleh: Nurul Aeni

“Waw!” komentar Devi ketika diperlihatkan perpustakaan sekolah yang akan ia kelola. Bukan tanpa sebab ia terkejut, perpustakaan yang ia lihat telah beralih fungsi menjadi  gudang tempat penyimpanan perkakas kebutuhan sekolah seperti alat musik, alat olah raga, alat peraga pembelajaran hingga tumpukan buku pelajaran menjadi satu dengan penataan asal-asalan. Ia semakin terkejut melihat banyaknya sarang laba-laba dan debu tebal di pojokan.

Selain menjadi Wali Kelas Kelas VI (enam) SDN Putat Nutug 01 Ciseeng Kabupaten Bogor, bendahara sekolah, sekarang ia diamanahi untuk mengaktifkan kembali fungsi perpustakaan sekolah sebagaimana mestinya. Ia sempat menolak karena keterbatasan waktu dan  mengingat ia sendiri tak punya pengalaman sama sekali mengurus perpustakaan. Namun di sisi lain Devi merasa sangat tertantang karena ini merupakan hal yang baru untuknya. Ia yakin pengalamannya akan bertambah jika menjalankan amanah tersebut.

“Triiiiinggggg” bel pulang berbunyi. Sembari merapikan meja, Devi berpikir keras bagaimana membenahi perpustakaan sekolahnya, ditambah kondisi sumber daya manusia di SD ini masih sangat minim dan perlu digerakkan secara massif serta butuh upaya lebih keras. Ia  juga tidak memiliki wewenang apalagi kekuasaan mengerahkan rekan-rekannya.

“Bip…bip…bip” gawai Devi berbunyi. Ia melihat sebuah pesan berisi Seleksi Pendampingan Program Perpustakaan Sekolah dari Makmal Pendidikan Dompet Dhuafa. “Waaah… Alhamdulillah ada peluang untuk mendapatkan solusi membenahi perpustakaan ini,” serunya. Walaupun belum tentu sekolah ini mendapatkan program bantuan tersebut, namun ia bersemangat untuk mendapatkannya. Ia mulai mempersiapkan berkas dan menghubungi nara hubung yang tertera untuk bertanya lebih lanjut terkait persyaratan yang dibutuhkan. Setelah segalanya siap dan atas izin kepala sekolah, ia mengirimkan semua persyaratan tersebut melalui email, ia tidak berharap terlalu banyak, persaingan dengan sekolah lain menjadi tantangan sulit, namun Devi selalu berdoa atas upayanya tersebut.

Dua minggu menanti, akhirnya ia mendapatkan kabar bahwa SDN Putat Nutug 01 mendapatkan program pendampingan perpustakaan. Devi gembira bukan kepalang, ia segera mengabari kepala sekolah. Ia tak sabar untuk membuat  langkah yang mesti dilakukan. Langkah pertama, tentu ia harus membuat Surat Perjanjian Kerjasama (SPK) yang dilakukan oleh pihak Dompet Dhuafa Pendidikan dengan SDN Putat Nutug 01 dan Kepala UPT Ciseeng, peran pemerintah setempat sangat penting untuk menyukseskan program tersebut, karena itulah UPT setempat dilibatkan dari awal melalui tanda tangan SPK. “Uh…. Lega rasanya,” ujar Devi.

Berikutnya seluruh guru dikumpulkan untuk mengikuti Focus Group Discussion (FGD) yang dipimpin Dompet Dhuafa Pendidikan, diskusi ini ditujukkan untuk menghasilkan konsep program sesuai kebutuhan SDN Putat Nutug 01.  Selama FGD Devi banyak bertanya mengenai hal yang vital dalam program ini, yaitu “bagaimana menjaga semangat kita, guru – guru, agar berkomitmen untuk program ini?”,…. Ehmmm pertanyaan yang sangat sulit, namun PIC dari Dompet Dhuafa hanya menjawab dua hal, pertama, carilah keuntungan apa yang bisa kamu dapatkan dari program ini untuk dirimu sendiri, kedua, bangkitkan motivasi dari dalam diri sendiri berdasarkan keuntungan tersebut. Jawaban tersebut direspon dengan senyuman dan anggukan tanda sepakat guru SDN Putat Nutug 01.

Mempersiapkan ruangan perpustakaan agar bersih dari debu, kotoran dan barang–barang yang tidak relevan menjadi PR berikutnya, ruangan perpustakaan kotor menjadi alasan siswa malas datang ke perpustakaan, karena itu Devi mengerahkan para siswa serta para guru untuk membenahi ruangan perpustakaan mereka. “uhhh sulit dan sangat melelahkan, di tengah kesibukkan mengajar dan administrasi, saya harus membersihkan debu yang menahun ini,” keluh guru-guru lainnya. Selalu saja ada yang keberatan, namun hal tersebut tidak mematahkan cita–cita Devi untuk mewujudkan perpustakaan sekolah impiannya.

“Ehmmm perpustakaan sudah mulai rapi dari debu dan barang tidak perlu, tapi buku pelajaran yang kedaluarsa masih banyak menumpuk di perpustakaan, apa yang harus saya lakukan berikutnya ya?” tanya Devi kepada PIC program dari Dompet Dhuafa Pendidikan. “Merapikan seluruh buku sehingga lebih mudah diambil dan enak dilihat, buku pelajaran sebaiknya disimpan di kelas masing–masing saja, perpustakaan sebaiknya berisi buku–buku bacaan saja,” itu solusi yang ditawarkan dari PIC program tersebut. Devi dan timnya mulai mengklasifikasikan buku mana saja yang mesti ada di perpustakaan dan mana yang mesti ada di kelas. Proses ini memakan waktu yang lama, terlebih lagi tugas guru yang banyak bukan main, tapi sekali lagi ini hanya tantangan saja.

Setelah semua proses itu dilewati, Devi mulai kebingungan, ia tahu bahwa perpustakaan memiliki manajemennya sendiri, namun ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Tentu saja program ini juga menawarkan beragam pelatihan, salah satunya pelatihan manajemen perpustakaan. Devi merasa sudah cukup tenang bahwa dirinya dan guru lainnya akan mendapatkan pembekalan dari Dompet Dhuafa Pendidikan. Pelatihan manajemen perpustakaan tersebut dilakukan selama satu hari, dengan penuh gembira Devi dan para guru SDN Putat Nutug 01 mengikuti pelatihan ini hingga selesai, mereka belajar  pentingnya fungsi perpustakaan sekolah untuk meningkatkan minat baca siswa, belajar mengklasifikasikan buku, memberikan identitas pada buku, pembukuan, membuat perarturan perpustakaan dan lain sebagainya. Pelatihan tersebut menjadi pencerahan bagi Devi sebagai penanggung jawab perpustakaan di SD-nya

Minggu berikutnya, Devi selalu meluangkan waktu setiap pulang sekolah untuk mengimplementasikan hasil pelatihan tersebut, ini juga bukan perkara yang mudah, apalagi ia dan guru lainnya juga harus menyiapkan semua berkas akreditasi di sekolah. Tantangan ini tidak menyurutkan mereka, “ini hampir tengah jalan, tinggal beberapa langkah lagi perpustakaan ini bisa diakses para siswa,” itulah yang selalu menjadi semangat Devi.

Ruang perpustakaan sudah bersih, tidak ada lagi barang yang mengganggu, beberapa buku sudah dikirim oleh Dompet Dhuafa Pendidikan dan juga sudah dinomori, buku induk sudah dibuat begitu juga peraturan, kartu peminjaman sudah dicetak, hampir semua proses sudah dilakukan. “tapi sepertinya masih ada yang kurang, perpustakaan masih terlihat tidak menarik untuk dikunjungi,” gumamnya. Dengan bantuan dari Dompet Dhuafa Pendidikan, Devi dan siswa Kelas 6 mulai menghias. Meja dicat warna-warni dan sentuhan akhir ia membuat kalimat afirmasi agar siswanya selalu semangat membaca.

Perpustakaan yang telah dipercantik membuat siswa siswi SDN Putat Nutug 01 menjadi penasaran dan tertarik untuk datang serta membaca buku. Beberapa terlihat membaca di pojokan yang nyaman dalam perpustakaan tersebut. Selain kegiatan lima belas menit membaca sebelum belajar kini lengkaplah sudah karena adanya perpustakaan sekolah nyaman. Devi sangat terharu dan bersyukur, waktu yang diluangkan untuk menyulap perpustakaan tersebut terbayar sudah, namun ia tak ingin pengalamannya terhenti di sini saja, iapun membuat grup WA yang berisi para pustakawan di Gugus Ciseeng sebagai sarana berbagi pengalaman, ia ingin agar sekolah lain juga mendapatkan imbas yang sama dari program ini.

Perjalanan memang masih panjang untuk membangun budaya baca di SDN Putat Nutug 01, namun Devi percaya, jika komitmen warga sekolahnya kuat maka semuanya bisa diatasi. Terlebih lagi pemerintah memiliki program Gerakan Literasi Sekolah, ini mempermudahnya dan kawan–kawannya mewujudkan cita–cita besar sekolah ini. “Diawali dengan menghias perpustakaan maka siswa penasaran untuk datang ke sana, budaya membaca akan lebih mudah diwujudkan,” ungkapnya penuh haru.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044