99129170_7d542023a6_b

Buku (Bukan) Budaya

“Sedikit sekali siswa mau membaca buku, beberapa puluh buku yang disimpan di pojokkan kelas menjadi pajangan tak tersentuh. Bagaimana mau menciptakan budaya baca, jika minat membaca pun tak ada?” ujar seorang guru SMA prihatin melihat kondisi kelasnya.

Ada juga guru yang mengeluhkan gaya belajar siswa sehingga memengaruhi minatnya dalam membaca. Bagaimana mungkin seorang siswa kinestetik mau duduk diam untuk membaca jika mereka tak menyukai buku tersebut?

Kondisi semacam ini banyak terjadi di Sekolah Menengah Atas (SMA). Membangun budaya literasi bukan sesuatu yang  mudah tetapi bisa dawali dengan membudayakan kegiatan membaca.

Lain halnya dengan Sekolah Dasar (SD). Para guru berpendapat bahwa minat baca anak SD cukup tinggi. Namun, hal tersebut tidak didukung oleh fasilitas yang memadai. buku-buku yang tersedia masih terbilang sedikit. Sementara sekolah sangat terbatas dalam pengadaan dana untuk buku. Meskipun ada sekian persen dana BOS untuk buku, belum berdampak besar dalam menunjang fasilitas membaca peserta didik karena dana yang tersedia hanya digunakan untuk membeli buku pelajaran yang hanya dipakai saat kegiatan belajar mengajar saja.

Bahkan, sebagian besar perpustakaan di sekolah dasar terbengkalai. Ironi memang ketika  seiring berjalannya waktu perpustakaan tersebut tersulap secara otomatis menjadi gudang, tempat  penyimpanan sarana dan prasarana olah raga, alat musik, dan berbagai barang lainnya. Hal itu membuat para siswa tidak memiliki ruang khusus untuk mengembangkan budaya literasi.

Masalah selanjutnya adalah keterampilan membaca siswa SD yang sangat terbatas, dari pengalaman kami berbincang dengan para guru SD wilayah Jawa Barat, di setiap kelas mereka selalu saja ada 1 – 3 siswa di kelas rendah yang tertinggal dan belum mampu membaca lancar, belum lagi motivasi siswa yang rendah untuk berusaha maksimal ditambah cueknya orang tua, kebanyakan mereka menyerahkan semua urusan ini pada guru kelas.

Selalu ada masalah untuk mencapai tujuan tertentu, yang dalam hal ini menciptakan budaya baca di sekolah tingkat Sekolah Dasar. Tidak semudah membalikan telapak tangan, namun penting bagi kita untuk melakukan beberapa upaya sebelum segalanya terlambat. Negara Indonesia dalam Survei Central Connecticut State University in New Britain menyuguhkan data bahwa tingkat literasi Indonesia berada di rangking 60 dunia 61 negara yang diuji berdasarkan minat bacanya, rapot merah yang memalukan dan perlu perhatian khusus dari berbagai pihak, sedangkan tes PISA tahun 2015 untuk kategori keterampilan membaca menunjukkan skor 397 (Skor rata – rata OECD 493), hanya naik 1 skor dar tes PISA tahun 2012.

Penelitian – penelitian ini seharusnya mampu membangkitkan orang – orang kita dari tidur panjangnya, bagaimanapun juga keterampilan membaca merupakan pondasi dari kegiatan belajar, bagaimana mungkin seorang siswa dipaksa memahami bacaan organ pernapasan manusia sedangkan membaca kata saja masih terbata – bata.

Belakangan ini jangan heran jika kita menemukan gerakan membaca digalakkan dimana-mana, ini sebuah reaksi sekaligus upaya untuk menemukkan solusi dari riset – riset yang memilukkan tadi. Tahun 2017, dengung gerakan literasi semakin riuh dilontarkan dari para pegiat hingga pemerintah. Kita perlu mengapresiasi upaya pemerintah yang dengan kerja keras mereka melahirkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) dari berbagai jenjang, tidak hanya publikasinya saja yang digaungkan, pemerintah membuat instrument yang cukup lengkap melalui Buku Saku dan Panduan Gerakan Literasi Sekolah. Semangat ini seharusnya diikuti oleh semua kalangan, terutama dalam hal ini sekolah, pemerintah kita dengan sangat serius ingin menaikkan minat baca secara massif, maka harus disambut dengan serius pula oleh kita semua. Lalu bagaimana cara melakukannya? Kita bisa mengikuti buku panduan GLS yang telah disusun oleh para ahli atau kita bisa belajar dari negara – negara lain yang sudah mapan dalam minat bacanya, jika dirasa berat, kita bisa juga belajar pada beberapa organisasi – organisasi di Indonesia yang sudah berpengalaman.

Dalam kegiatan Focus Group Disucussion (FGD) yang dilakukan oleh Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa di tiga sekolah wilayah kabupaten Bogor, mereka menemukan kegiatan yang sama yang dilakukan di tiga sekolah tersebut, yaitu kegiatan 15 menit membaca sebelum belajar, kegiatan ini biasa dilakukan di pagi hari di kelas masing – masing. Namun ketika ditanya, apakah kegiatan ini cukup efektif untuk membangun budaya baca di sekolah? Dari dua sekolah tersebut menjawab, tidak. Sedangkan satu sekolah mengatakan bahwa tidak bisa dipukul rata, bagaimanapun juga ada faktor – faktor lainnya yang mempengaruhi, seperti kesediaan buku yang berkualitas, dll. Namun keterbatasan tersebut tidak akan menyelesaikan masalah apapun tanpa aksi nyata.

Kita perlu mengemas beberapa aktivitas yang bertujuan untuk membangun kedekatan siswa dengan buku, hal yang pertama yang perlu kita lakukan untuk membangun budaya baca bukanlah mengajarkan kata perkata, namun menciptakan pengalaman yang menyenangkan bersama buku, bagaimanapun seperti yang kita harapkan, pengalaman menyenangkan ini dapat memproduksi endorhpine yang bikin ketagihan, maka sangat disarankan bagi guru untuk mengupayakannya. Lalu bagaimana cara kita melakukan pengalaman ini di sekolah dengan segala keterbatasan?

Makmal Pendidikan yang pernah mendampingi 40an sekolah dasar marginal sepanjang tahun 2011 – 2014 dalam Program Sekolah Cerdas Literasi mulai mengaplikasikan dan membangun budaya baca ini dari hal yang paling kecil, yaitu labelisasi, metode dengan  memberikan label (bacaan) untuk setiap benda yang ada di lingkungan sekolah, misalkan : ember, sapu, meja, dll. Mungkin tidak semua siswa dapat atau berniat membaca label – label tersebut, namun dia menjadi tahu hurup apa yang digunakan untuk membentuk kata “sapu”. Teknik ini juga dibenarkan oleh Cheri Fuller dalam bukunya “Sekolah Berawal Dari Rumah”, ia menunjukkan  kegiatan ini untuk melabeli mainan anak di rumah.

Masih dalam bukunya Cheri Fuller, ia berharap kita orang dewasa membantu siswa membacakan bacaan tertentu yang ada di sekelilingnya. Kita bisa membacakan kata “Ruang Kepala Sekolah” untuk menunjukkan disanalah ruang Kepala Sekolah itu berada. Ini mungkin perlu pembiasaan yang lama, namun anak – anak yang masih berada di tingkat bawah sangat disarankan mendapatkan teknik ini.

Berikutnya adalah membacakan cerita dengan lantang pada siswa di kelas, dalam buku Read Aloud yang dikarang Jim Trelease, ia secara berulang membahas hal ini di setiap babnya. Membacakan buku secara lantang dengan disertai mimik muka dan intonasi yang tepat akan menciptakan pengalaman yang mengesankan bagi siswa dan membuat mereka lebih penasaran untuk membaca, terutama ketika buku tersebut berseri. Buku – buku apa yang bagus untuk kegiatan ini sehingga anak – anak suka? Saat ini di Indonesia, sudah banyak penerbit buku anak yang sangat bagus dan sangat disarankan, buku terbitan Litara, Kanisius, Bestari cukup memikat untuk dibacakkan oleh guru di kelas mereka.

Kemudian menghidupkan dan menyulap fungsi perpustakaan menjadi ramah anak, dari tiga belas Sekolah Dasar (SD)  yang pernah dan saat ini masih didampingi oleh Pusat Sumber Belajar Dompet Dhuafa (PSBDD), awalnya sekolah – sekolah ini sama sekali tidak menggunakan perpustakaan mereka secara benar, kebanyakan ruang perpustakaan tersebut hanya berfungsi sebagai gudang yang bersarang laba-laba dan menakutkan. Namun, setelah guru – guru mereka menyulap perpustakaan tersebut dengan display – display menarik, sudut baca yang nyaman dan menambahkan beberapa bacaan yang bergambar dan berkualitas, siswa – siswa mereka menjadi begitu rajin datang ke perpustakaan. Ada satu sekolah yang didampingi PSBDD, saat mereka baru saja selesai menghias kelas mereka bersama siswa kelas 6, siswa yang lain menjadi begitu tidak sabar untuk mengunjungi perpustakaan mereka. Sekolah bisa menjadikan perpustakaan ini menjadi tempat yang tepat untuk dimanfaatkan siswa di sela waktu istirahat mereka. Melibatkan siswa dalam menghias perpustakaan juga bisa menjadi alternatif yang disarankan, membangun rasa kepemilikan dan bangga bahwa hasil kerja keras mereka begitu dihargai adalah pengalaman berharga untuk siswa – siswa ini.

Selain perpustakaan, kita juga bisa mendekatkan siswa kita ke sumber bacaan. Makmal Pendidikan dalam program sekolah Cerdas Literasi membuatkan ceruk ilmu di setiap kelas di sekolah yang mereka dampingi, ini bukan sesuatu yang mahal untuk dilakukan, cukup beberapa rak warna/i, puluhan buku dan karpet yang menarik untuk didisplay di pojok kelas mereka.

Jadi, sebenarnya  secara teknis tidak sulit untuk menciptakan budaya baca ini, namun memang perlu komitmen kuat dari setiap warga sekolah guna mencapai tujuan tersebut. Kerjasama semua pihak, kepala sekolah sebagai leader dan penggerak sangat diperlukan dalam hal ini, apabila kepala sekolah sudah memiliki kesadaran pentingnya budaya baca, maka ia tinggal mencolek semua gurunya untuk terlibat dalam program, tak lupa peran komite dan wali siswa yang bisa membantu menjaga semangat siswa dalam membaca di rumah mereka masing – masing. Dengan begitu, jika upaya kecil ini dilakukan secara massif dan konsisten, bukan tidak mungkin angka – angka minat baca negara kita akan bergeser ke angka yang lebih menyenangkan.

 

Referensi :

Cherri, Fuller. Sekolah Berawal Dari Rumah : Cara – cara Sederhana Untuk Membuat Pembelajaran Menyenangkan.  Bandung :  Khazanah Bahari, 2010

Jim, Trealease. “Read Aloud Handbook : Mencerdaskan Anak dengan Membacakan Cerita Sejak Dini”.  Jakarta Selatan :  Hikmah, 2017.

https://www.oecd.org/pisa/pisa-2015-results-in-focus.pdf, diakses pada 09 Oktober 2017.

 

 

 

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044