Bukan Laskar Pelangi

Oleh Agustia (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Bima)

Berbicara tentang pendidikan pasti tak ada habisnya. Mulai dari sistem pembelajaran, kesejahteraan guru-guru, anak-anak yang sulit diatur sampai sarana dan prasarana.

Hari pertama, saat saya berada di kota Bima sebagai konsultan relawan Sekolah Literasi Indonesia. Sekolah yang pertama saya observasi adalah sekolah Mis Yasim Belo. Dari luar sudah nampak bahwa sekolah ini masih minim sarana dan prasarana. Benar saja, ketika saya masuk ke sekolah ini, saya sudah disambut dengan tandusnya halaman sekolah yang tak memiliki apa-apa. Hanya tiang bendera yang menjadi saksi bisu bahwa sekolah ini dulu pernah menjadi sekolah yang diminati oleh masyarakat. Sekolah yang menampung anak-anak yang berada di desa Belo, dan sekarang sekolah ini nyaris tak memiliki siswa.

Sekolah yang dibangun pada tahun 1946 ini adalah sekolah yang paling memprihatinkan, sebab siswa-siswanya dalam setiap kelas bisa dihitung dengan jari. Bahkan ada yang dalam satu kelas hanya 4 orang siswa. Sungguh ini bukan film-film menyedihkan tentang pendidikan, namun ini nyata adalanya. Awalnya ketika saya disambut oleh ibu kepala sekolah Mis Yasim Belo yaitu ibu Suharti dengan senyuman yang begitu hangat, saya pikir ruangan kepala sekolah adalah ruangan yang satu kesatuan dengan fungsi bahwa itu hanya sebagai ruang kepala sekolah namun pada kenyataannya ketika saya mendengarkan  pemaparan dari kepala sekolah bahwa ruangan tersebut juga sebagai ruangan guru-guru. Ruangan guru atapnya sudah bocor dan hampir mau roboh, maka dari itu ruangan tersebut tidak difungsikan lagi. Saya langsung menatap kepala sekolah dengan berkata “Masya Allah ibu, engkau sangat luar biasa”.

Saat obrolan-obrolan hangat dengan kepala sekolah, saya melihat ada satu ruangan yang ditutupi tripleks. Saya pikir itu ruang ibadah atau toilet guru-guru ataupun kepala sekolah, tapi lagi dan lagi saya harus mendapati kenyataan bahwa sekolah ini sangat memprihatinkan. Ruangan yang saya pikir adalah ruang ibadah, nyatanya itu adalah ruangan belajar untuk kelas 6. Jadi bisa dikatakan bahwa ruangan kepala sekolah, guru, dan ruangan belajar untuk kelas 6 berada pada satu kesatuan ruang yang hanya dipisahkan oleh tripleks.

Saat saya masuk ke tiap-tiap ruang kelas yang diberikan sekat. Hati saya terenyuh melihat keadaan ini, sebab kursi tempat anak-anak belajar masih ada yang kurang layak. “Ibu, sekolah ini sudah lama dan banyak yang rusak, hanya dinding yang masih kokoh pada zaman belanda sebab dinding-dinding sekolah ini dibuat oleh belanda” kata ibu Zubaidah, salah satu guru yang ada di Mis Yasim Belo. Memang tembok sekolah ini saya lihat sangat luar biasa kuat walaupun ada beberapa dinding yang mulai retak akibat gempa bumi.

Sekolah Mis Yasim Belo menjadi refleksi kita bersama bahwa masih banyak sekolah desa yang ada di Indonesia ini yang keadaannya mungkin seperti film “laskar pelangi” atau lebih dari itu. Dengan keadaan sekolah seperti ini, kepala sekolah Mis Yasim Belo yaitu ibu Sunarti masih optimis dan semangat untuk memajukan sekolahnya. Walaupun siswa disekolah ini kurang, tapi beliau yakin bahwa suatu saat nanti sekolahnya akan menjadi sekolah unggulan dan sekolah percontohan untuk sekolah-sekolah lainnya. Salah satu bukti semangat itu ketika sekolah berhasil memenangkannya lomba sains. Dan kalau boleh jujur, ini adalah piala pertama yang memenuhi ruangan kepala sekolah.

Semangat pendidikan Indonesia, bangun jiwa dan raga generasi kita. Jangan jadikan keterbatasan untuk berhenti menginspirasi anak-anak dan berjuang dalam dunia pendidikan. Engkau adalah guru tanpa tanda jasa, namamu akan dikenang oleh siswamu, masyarakat dan oleh dunia bahwa engkau adalah guru yang memotivasi, guru hebat dan menginspirasi. Merdeka dari kemiskinan, merdeka dari kebodohan.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044