Berkaca pada Masa Lalu

Perjalanan menjadi seorang konsultan relawan bukanlah hal mudah. Banyak hal yang harus direlakan untuk ditinggal, entahlah itu kebersamaan dengan keluarga, hidup pada zona nyaman, atau yang lainnya. Akan tetapi inilah jalan yang telah dipilih oleh saya beserta 23 kawan lainnya. Kami rela untuk mewakafkan satu tahun hidup di daerah penempatan. Besar harapan saya agar satu tahun ini berarti. Supaya saya bisa lebih banyak lagi belajar kepada para tokoh dan lingkungan sekitar, yang kelak akan mewarnai sebagian kisah kehidupan saya.

Saya ingin belajar. Hanya itu modal yang saya punya untuk bisa tetap bertahan. Terkait belajar apa, saya pun tidak tahu. Pokoknya saya percaya bahwa perjalanan saya di Ogan Ilir ini akan membuahkan banyak pelajaran hidup.

Setiap hari saya bersama rekan mengendarai sepeda motor untuk sampai dari sekolah ke sekolah. Kami bertemu dengan banyak sekali murid-murid dan guru-guru. Saat tiba di salah satu SD, saya mengobrol banyak dengan guru tersebut mengenai kisah perjalanan mengajar beliau yang telah puluhan tahun.

“Dik, Ibu sudah ngajar dari tahun ’89. Beragam karakter siswa udah Ibu pahami. Capek, Dik, ngajar anak SD tuh, apalagi kelas rendah.” keluhnya.

Aku hanya tersenyum sembari menanti kalimat beliau selanjutnya.

“Ujian Ibu ini lagi ini lagi…”

“Apa, Bu?” tanyaku penasaran.

“Suka dikasih murid-murid yang belum bisa baca. Bayangkan, Dik, dari tiga puluh siswa, hanya empat siswa yang bisa baca di awal pertemuan kelas dua sama Ibu. Ya Allah, itu 24 lagi gimana… Sedih Ibu, Dik.”

“Masya Allah, ‘PR’ Ibu nambah, dong, ya.”

“Makanya, Ibu bilang ke kepala sekolah untuk beri kesempatan Ibu 3 bulan tidak menyentuh RPP dan semacamnya. Mau bagaimana menggunakan butu tematik juga kalau semua anaknya belum bisa baca.”

Saya menemukan sebuah semangat yang menggebu dari ibu tersebut. Betapa seorang guru sekolah dasar berusaha dengan maksimal agar anak-anak didiknya dapat berhasil. Meski memang keberhasilan itu tidak selalu diukur dari kemampuan kognitif, akan tetapi dari semangatnya untuk bisa meningkatkan kualitas anak, dapat diketahui bahwa ibu tersebut tak pernah main-main dalam mengajar.

“Terserah mau dibilang galak juga sama orang tua. Yang penting anak-anak didik Ibu bisa berhasil. Ibu yakin, bukan anak kami bodoh, akan tetapi mereka hanya perlu didisiplinkan saja agar giat belajarnya.”

Saya semakin semakin setuju dengan kutipan dari Syaikh Ali Musthafa Tantawi, “Aku telah mengajar di banyak sekolah mulai dari jenjang sekolah dasar di perdesaan, di sekolah menengah pertama, menengah atas, hingga perguruan tinggi serta di berbagai jurusan. Aku juga mengajari para dosen di berbagai perguruan tinggi dan masjid-masjid. Namun aku katakan dengan penuh kejujuran, tak ada yang lebih banyak berkahnya, lebih banyak manfaatnya bagi orang, serta lebih banyak pahalanya dari mengajari anak-anak sekolah dasar.”

Peristiwa ini mengantarkanku pada nostalgia belasan tahun lalu ketika saya duduk manis di bangku kayu dengan berseragam putih merah. Kemudian seorang guru dengan teliti mengajari membaca satu-satu muridnya. Inilah salah satu refleksi saya. Terkadang seseorang lupa bahwa capaiannya yang telah pada puncak adalah berkat bimbingan guru SD di anak tangga pertamanya. Terima kasih, guru-guruku. (Nida Falilah, Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia wilayah Ogan Ilir)

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044