Berkaca dari Keterbatasan MI As’adiyah

Semua orang tau bahwa pendidikan merupakan dasar dari kehidupan yang lebih baik bagi setiap insan, baik buruknya kehidupan itu ditentukan oleh pendidikan. Tapi faktanya tidak semua orang dapat memperoleh pendidikan dan tidak setiap orang peduli dengan orang-orang yang belum mendapatkan pendidikan yang layak.

Sebagian orang hanya beranggapan bahwa pendidikan hanyalah amanat undang-undang yang tidak begitu penting untuk diperhatikan. Sebagiannya lagi mengira bahwa pendidikan itu hanya tanggung jawab sebagian orang saja. Dalam hal ini mereka menunjuk gurulah sebagai satu-satu pelaksana pendidikan.

Di sebuah dusun yang terletak didesa tanjung karang kecamatan Sebatik Kabupaten Nunukan Kalimantan Utara berdiri sebuah sekolah swasta yang diberi nama MI As’adiyah, sekolah ini merupakan sekolah filial dari sekolah induknya yang ada di desa Tanjung karang.

Sekolah tersebut hanya mempunyai lokasi yang sangat sempit dengan jumlah ruangan sebanyak 3 lokal, jumlah siswanya sebanyak 37 orang dan guru 4 orang. Dari tiga lokal bangunan sekolah tersebut hanya ada satu bangunan yang permanen, sedangkan dua lokal lainnya masih setengah permanen. Karna jumlah ruangan cuma tiga, jadi untuk satu ruangan itu ditempati oleh dua grade dan itu hanya disekat dengan dinding setinggi bahu guru.

Coba kita pikirkan baik-baik, bagaimana mungkin proses pembelajaran akan efektif kalau keadaannya seperti itu. Suara guru dan siswa dari kelas sebelah terdengar jelas oleh kelas sebelahnya dan itu memicu hilangnya konsentrasi siswa dalam menyerap materi yang dipelajari. Sungguh sangat memprihatinkan, tapi sayangnya hanya segelintir orang saja yang peduli dengan keadaan pendidikan disini. Bukan cuman itu, tapi masih ada lagi hal-hal yang krusial untuk diperhatikan seperti fasilitas yang digunakan dalam proses pembelajaran. Ceruk ilmu dan buku bacaan serta buku mata belajaran misalnya, padahal ini merupakan hal yang perlu diperhatikan untuk anak-anak sekolah karna untuk terlaksananya program literasi atau program wajib baca buku sebelum proses belajar dimulai itu butuh kelengkapan sarana dan prasarana yang memadai yang mendukung sehingga program tersebut bisa terlaksana dengan baik. Lalu bagaimana anak –anak disini bisa aktif melaksanakan program literasi jika keadaan tidak mendukung mereka untuk aktif melakukannya. Kalau urusan semangat anak-anak disini untuk belajar itu jangan ditanya dan jangan diragukan lagi, itu terlihat dari keseharian mereka yang rutin membaca sebelum proses belajar dimulai meskipun buku yang dibaca itu tidak punya alur cerita yang jelas dikarena buku-buku tersebut tidak lagi utuh sebab sebagian dari lembarannya sudah rusak dan sobek.

Kondisi yang penting juga untuk diperhatikan adalah sekolah MI As’adiyah filial ini tidak memiliki pagar pembatas sama sekali dan lokasinya berdekatan dengan jalan raya, kondisi ini sangat berbahaya bagi anak-anak karna banyaknya kendaraan yang melintas dengan kecepatan tinggi. Hal ini membuat para guru harus mengawasi anak didik mereka secara ekstar saat jam istirahat tiba agar tidak melintas dan bermain-main di jalan raya.

Namun, walaupun keadaannya seperti itu sekolah ini merupakan satu-satunya harapan warga dusun Sungai batang agar anak-anak mereka dapat memperoleh pendidikan. Tak perduli dengan segala keadaan serta kekurangan sekolah secara fisiknya, sekolah ini tetap menjadi satu-satunya pilihan warga untuk menyekolahkan anak-anak mereka. Meskipun warga tahu bahwa sekolah ini terbatas secara sarana dan prasarananya, namu ada hal lain yang dinilai oleh warga dari sekolah ini, yakni terkait dengan budaya dan kedisiplinan sekolah.

Tidak bisa dipungkiri sekolah ini memang memiliki keterbatasan dan kelemahan secara fisiknya, tapi kondisi fisik sekolah ini sama sekali tidak mempengaruhi simtim instruksionalnya. Selain dikenal dengan segala kekurangan secara fisiknya, Sekolah ini juga dikenal dengan program Sholat Dhuha dan kedisiplinannya. Dimana setiap hari pada jam istirahat anak-anak diwajibkan untuk melaksanakan Sholat Dhuha secara berjamaah.

Dan itu tentu sekali menjadi salah satu dari sekian alasan warga sehingga begitu antusias untuk menyekolahkan anak-anak mereka, dan anak-anakpun begitu bersemangat untuk bersekolah meskipun mereka harus menempuh jarak 1 km setiap harinya agar dapat samapai ke sekolah.

MI As’adiyah filial berlokasi jauh dari rumah warga karna memang dusun Sungai Batang ini daerah perkebunan kelapa sawit, dan warga setempat tinggal dimasing-masing kebun mereka. Bukan hanya jauhnya jarak sekolah dari rumah sebagai hambatan buat anak-anak di dusun Sungai Batang ini, tetapi juga kondisi jalan keluar-masuk yang masih sangat rusak menjadi hambatannya, ketika hujan turun jalan menjadi becek dan licin. Jangankan anak-anak, orang dewasa pun kesulitan untuk melintas. Tidak heran ketika hujan turun hanya sedikit anak saja yang bisa berangkat sekolah.

Walaupun kondisi demikian adanya, tidak pernah menyurutkan semangat dan kemauan anak-anak disni untuk bersekolah, kaki mereka tetap semangat untuk melangkah meski harus berjalan diatas jalanan yang licin dan berlumpur.

Semangat yang begitu tinggi dari anak-anak bangsa ini harusnya dihadiahkan dengan fasilitas yang memadai agar kelak mereka tumbuh dengan prestasi tinggi. (Anas Ardiansyah, Kawan Sekolah Literasi Indonesia)

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044