Benarkah Kejujuran Ialah Wajah Pendidikan Indonesia?

Benarkah Kejujuran Ialah Wajah Pendidikan Indonesia?

Oleh: Purwoudiotomo

 

“BAGAIMANA, Pak, hari ini bisa datang ke sekolah kan?” tanya bu wakil kepala sekolah.

“Mohon maaf, Bu, hari ini saya ada rapat sehingga tidak dapat hadir,” jawabku setengah berkilah. Pagi ini memang ada rapat, tetapi aku sendiri yang mengagendakannya.

“Baik, Pak, terima kasih. Mohon doanya saja,” jawab suara di seberang sana.

Setelah mengucapkan salam, telepon pun ditutup. Giliran aku yang terdiam merenung. Terbayang olehku kesulitan murid-muridku dalam mengerjakan soal, apalagi standar nilai rata-rata setiap mata pelajaran terus naik dari tahun ke tahun. Ingatanku pun kembali ke pembicaraan dengan bu wakasek kurikulum beberapa hari lalu.

“Mohon maaf, Pak, langsung saja. Bapak tentu bisa menilai kemampuan anak-anak kita. Masih jauh di bawah standar. Hasil Try Out terakhir saja hampir tidak ada yang lulus. Jadi, kami ingin meminta kesediaan Bapak menjadi ‘Tim Sukses’ Ujian Nasional,” jelas bu wakasek kurikulum menjawab kebingunganku setelah sedikit berbasa-basi tentang perkembangan kelas yang aku ajar.

Aku terhenyak. Tiba-tiba saja semuanya menjadi jelas. Siswa-siswa belajar semaunya dan tampak ‘tenang’ walaupun hasil Try Out UN mereka masih sangat memprihatinkan. Sedikitnya siswa yang tidak lulus di sekolah ini, justru membuat guru-gurunya sering tidak masuk dan lebih memilih mengajar di sekolah lain. Belum lagi, bu wakasek yang tiba-tiba meminta bicara empat mata.

“Jadi teknisnya, kita dan beberapa guru yang mengampu mata pelajaran yang di-UN-kan akan berkumpul di ruang kepala sekolah untuk mengerjakan soal, untuk kedua tipe soal, baik IPA maupun IPS. Tidak harus menjawab semua soal sih, yang penting cukup membuat siswa lulus,” lanjut bu wakasek.

Aku terdiam. Sebagai guru bantu sementara mata pelajaran matematika, aku tahu benar ke(tidak)mampuan siswa-siswa salah satu SMA swasta di Jakarta ini. Sepertinya aku terlalu lugu. Strategi menyukseskan siswa lulus UN ini pastinya bukan kali pertama, dan besar kemungkinan keterlibatan dari seluruh komponen sekolah, termasuk kepala sekolah dan pengawas, atau bahkan mungkin struktur di atasnya. Ya, masif dan terstruktur.

“Mohon maaf, sepertinya pada hari itu saya ada rapat, Bu. Nanti saya kabari lagi,” jawabku lirih. Banyak yang berkecamuk di pikiranku. Melihat keraguanku, pun agak kecewa, bu wakasek tampak maklum dan tidak memaksa.

Lamunanku buyar mendapati satu pesan masuk di telepon genggamku. “Ternyata soal tidak dapat dibawa keluar, Pak. Kita doakan semoga lulus semua,” begitu bunyi pesan masuk dari bu wakasek kurikulum.

Aku hanya tersenyum, tidak lagi sepolos sebelumnya. Ketika kuceritakan kejadian ini ke salah seorang temanku yang berprofesi sebagai guru di sebuah sekolah negeri di Bogor, dia hanya berujar, “Itu sih mendingan, di sekolah saya jawaban malah ditulis di depan kelas”. Dan aku kembali ternganga.

 

Komentar

komentar