Belajar Pantang Menyerah dari Sosok Ridho

Belajar Pantang Menyerah dari Sosok Ridho

Oleh: Siti Sahauni

 

Memiliki anak yang sempurna dambaan setiap orangtua. Kaya. Miskin. Mereka pasti akan berlimpah kebahagiaan ketika mendapati anaknya tidak memiliki kekurangan suatu apapun. Memasukkan keberbagai sekolah yang disukai anak dan orangtuanya. Bermain sesuka hati dengan teman-teman sebayanya. Berlari ke sana kemari dan bahkan memiliki mimpi besar ke depan. Tetapi apakah mimpi bocah yang kini sedang duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar di tempat pengabdianku pun sebesar anak-anak pada umumnya.

Tiba-tiba kepalaku dipadati dengan berbagai pertanyaan. Yang semakin kutahu jawabannya. Semakin tak dapat diterima dengan hati lapang dan menyikapinya bijaksana. Ya, pada hari yang tak terduga itu, aku dipertemukan dengan ibunya. Kemudian sebuah pertanyaan meluncur cepat dari mulutku. Jawaban yang terasa getir adalah saat ibunya mengatakan memasukkan anaknya sekolah karena tidak ada lagi pilihan lain. Itu artinya, pilihan itu adalah yang terbaik yang bisa ditempuh oleh anak laki-lakinya, agar ia tidak mendapatkan diskriminasi di lingkungan tempat tinggalnya.

Anak laki-laki yang mempunyai postur tubuh lebih tinggi daripada teman-temannya memang sedikit berbeda. Namun, perbedaan yang dimiliki oleh anak laki-laki itu tidak membuatnya merasa minder. Teman-temannya malah membuka lebar-lebar pintu pertemanan dan tak segan untuk sekadar bercanda atau mengajaknya berbicara.

Melihat pemandangan dua minggu itu, tak urung membuat kedua mataku acap kali mengabut. Kabut di mataku tak sampai merupa titik-titik air mata. Aku tak ingin memberikan suasana haru di saat pembelajaran sedang berlangsung. Sehingga akan mempengaruhi suasana kelas kemudian.

Ridho adalah satu diantara banyak anak yang terpaksa dimasukkan ke sekolah normal ketimbang ke sekolah khusus. Sebuah pengakuan yang datang dari ibunya membuat luka di hatiku kian meradang. Pasalnya tidak dimasukkan anaknya ke sekolah khusus karena kendalanya kompleks. Tidak hanya karena keadaan ekonomi yang menjadi salah penyebabnya. Melainkan juga karena sekolah khusus di daerah tempat tinggal tidak tersedia sekolah tersebut.

Keterbatasan penglihatan yang Ridho alami tidak serta merta membuatnya menyerah begitu saja untuk menyerap dan menambah khasanah pengetahuannya. Meskipun hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan teman-temannya. Namun dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, ia mencoba untuk menyerap apapun yang kuberikan. Indera pendengarnya yang kuat seolah meyakinkanku bahwa Allah SWT memberikan indera pendengarannya sebagai pengganti penglihatannya. Gerakan tangan yang tak kunjung berhenti, itu artinya ia sedang antusias menyimak apa yang sedang kukatakan. Ia kerap kali memainkan kesepuluh jemarinya. Aku selalu memperhatikan apa-apa yang dilakukan Ridho. Yang tak kunjung berhenti digerakannya. Meski sesekali tatapannya seperti kosong, namun kedua telinganya seperti mendengarkan apa yang sedang dibicarakan oleh temannya dan olehku sendiri.

Selain ia tak pernah mengeluh, air mukanya juga tak pernah menyorotkan kesedihan. Yang ada ia tersenyum simpul saat kupegang kedua tangannya sambil menyanyikan sebuah lagi pengiring masuk ke doa, kedua bola mataku berkaca-kaca. Ketika menyaksikan dengan mata telanjang melihat anak laki-laki di depanku mengembangkan senyuman. Kedua telinganya yang berfungsi dengan baik ternyata merespon apa yang didengarnya. Bola matanya berpendar, seperti ada sesuatu yang ingin diutarakan.

Aku merutuki diriku sendiri, saat pertanyaan yang menyakitkan itu terlintas dalam benakku. Pertanyaan yang mungkin membuat kedua orangtuanya pun tak ingin mendengarnya dan mungkin hanya bisa berpasrah sembari mengelus dada. Berharap pada Yang Maha agar tetap menjaga anaknya dengan baik, dan senantiasa berada pada jalan-Nya. Karena siapa yang tahu bahwa perjalanan masa depan seseorang dapat diprediksi dengan tanpa andil-Nya. Hanya Dialah yang dapat mengembalikan mereka di atas dan di bawah. Semoga.*

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.