Belajar Menjadi Bijak Berkat Salmi dan Sandi

Belajar Menjadi Bijak Berkat Salmi dan Sandi

Salmi dan Sandi. S bersaudara adalah dua siswa istimewaku. Yah, bahkan teramat istimewa. Ujian kenaikan kelas belum saja dimulai, tapi hampir seluruh siswa telah berbisik-bisik bahwa si Duo S itu akan tinggal kelas. Belum bisa membaca, pun malas menulis. Ah, bahkan Bik Ris, ibu kantin sekolah lokal jauh kami bilang, dulu sebelum kami datang, sebelum DD mengutus guru, mereka tidak punya teman. Hanya berdua saja. Pergi dan pulang sekolah diantar jemput. Lalu mereka akan duduk di kantin sembari menunggu masuk kelas. Begitulah selalu. Yah, akupun bisa merasakan bagaimana mereka terasing ketika di dalam kelas dahulu. Ketika purnama pertama aku mengajar di sekolah fillial SDN 12 Sokop. Tidak ada yang mengajak mereka berbicara. Bisa mendengar suara mereka adalah keajaiban bagiku. Namun kini, ah, betapa riuh suara mereka. Bekejar-kejaran dengan yang lainnya ketika jam istirahat sembari tertawa lepas sampai menampakkan gusi-gusi mereka. Tidak lagi terasing. Mereka sudah dianggap keluarga di kelas 1. Saling pinjam meminjamkan alat tulis dengan bahasa yang santun juga ucapan terimakasih ketika mengembalikannya sudah mulai mendarah daging dalam hubungan sosialisasi mereka.

Dulu, mereka berdua adalah siswa paling terakhir yang selesai menulis dengan tulisan yang sangat kacau bahkan tak terbaca olehku. Tidak bersemangat. Tidak antusias. Ekspresi datar, bersandar dan tiduran di dalam kelas yang bahkan sangat sempit untuk sekadar meluruskan kaki. Namun, perlahan aku mengajak para jenius yang lancar menulis untuk menjadi tutor mereka. Sekaligus menjawab keresahanku tentang apa yang harus mereka lakukan untuk memanfaatkan waktu sembari menunggu teman-temannya selesai menulis. Jadilah mereka mendiktekan satu persatu huruf kepada si S bersaudara. Sesekali ketika melihat para jenius mulai kewalahan dan tidak sabar dengan kelambanan S bersaudara barulah aku yang langsung mendampingi mereka.

Saat ini, si Salim sang kakak mulai menunjukkan teladannya kepada sang adik. Mulai merapikan tulisan, bahkan sangat antusias untuk tampil ke depan meski ia belum tentu mampu menjawab. Ia sudah lebih lancar menulis. Sedangkan sang adik melalui pendampingan ia akan termotivasi. Satu keistimewaan yang belum lama ini kutemukan adalah ia memiliki kelebihan dalam daya ingat lebih baik dari kakaknya menurutku. Sungguh indah lika liku belajar membaca bersama mereka. Dari yang masih belum lancar mengenal huruf, kini telah lancar membaca satu kata yang terdiri dari 4-5 huruf.

Benar rupanya, Pengalaman adalah guru yang paling berharga, dan guru adalah pengalaman belajar menjadi bijak.

Komentar

komentar