Talkshow Suku Akit

Baru tau, ternyata ini asal-usul suku pedalaman Akit

Dalam rangka mengisi hari libur Dompet Dhuafa Pendidikan, melalui Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesi (KAWAN SLI) penempatan SDN 12 Sokop Lokal Jauh Kab. Kepulauan Meranti menggelar Pesta Literasi dengan tema “Asal Usul Suku Pedalaman Akit dan Pendidikannya” yang dilaksanakan hari Sabtu (22/12).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat suku pedalaman  Akit akan pentingnya pendidikan dan juga untuk mengingat kembali sejarah suku pedalaman Akit. Kegiatan ini dipandu oleh Munzir dari Konsultan Sekolah Literasi (SLI) dan Luthfi Irawan dari BAKTI NUSA. Talk show ini disampaikan oleh Pak Nardi (Kepala Suku), Pak Aheng (Kepala Dusun) dan Ibu Riyati (Tokoh Pendidikan).

Talk show dimulai dengan pengulasan sejarah suku pedalaman Akit oleh Pak Nardi dan Pak Aheng. ” Sumatera merupakan tempat tinggal bagi suku-suku besar yang mempunyai tradisi budaya terkenal seperti Aceh, Batak, Minangkabau dan Melayu. Selain itu terdapat juga sejumlah suku-suku minoritas dan nyaris tidak dikenal, salah satunya adalah suku pedalaman Akit. Sebagian besar suku ini terdapat di dataran rendah Sumatera sebelah timur dimana mereka pernah hidup secara tradisional di kawasan hutan luas diantara sungai-sungai penting maupun rawa-rawa pantai dan pulau-pulau lepas pantai. ” Ujar Pak Nardi.

Talkshow Suku Akit2

Orang Akit atau orang Akik, adalah kelompok sosial yang berdiam di daerah Hutan Panjang dan Kecamatan Rangsang Pesisir di Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Sebutan “Akit” diberikan kepada masyarakat ini karena sebagian besar kegiatan hidup mereka berlangsung di rakit. Dengan rakit tersebut mereka berpindah dari satu tempat ke tempat lain di pantai laut dan muara sungai. Mereka juga membangun rumah-rumah sederhana di pinggir-pinggir pantai untuk dipergunakan ketika mereka mengerjakan kegiatan di darat, ucap Pak Nardi selaku pemateri.

Mata pencaharian pokok orang Akit adalah menangkap ikan, mengumpulkan hasil hutan, berburu binatang, dan meramu sagu. Orang Akit tidak mengenal sistem perladangan secara menetap. Pengambilan hasil hutan yang ada di tepi-tepi pantai biasanya disesuaikan dengan jumlah kebutuhan. Penangkapan ikan atau binatang laut lainnya mereka lakukan dengan cara sederhana, misalnya dengan memasang perangkap ikan (bubu). Hasil meramu sagi biasanya dapat memenuhi kebutuhan akan sagu selama beberapa bulan.

Tradisi suku pedalaman Akit adalah Joget yang dipertunjukkan pertama kali pada tahun 1960-an dalam acara pesta perkawinan. Sejak ratusan tahun lalu hingga sekarang, mereka masih memelihara tradisi Joget. Tradisi joget tentu saja terdapat perpaduan antara gerakan tubuh, alat musik, dan juga nyanyian yang dilantunkan serupa syair utuh, sesuai bahasa mereka. Syair tersebut menceritakan kehidupan, alam, dan kebiasaan sehari-hari suku mereka.

Gelap datang, para penjoget naik ke darat. Lengkap dengan kostum joget: kebaya pendek, kain dan selendang panjang. Mak penjoget pun bersiap. Duduk di sudut ruang. Persis di samping pemusik. Ada gendang pendek dan biola. ‘’Dang kung… dang kung.. dang kung…’’ Tarian dimulai. Bukan tari biasa. Tangan kiri seiras dengan kaki kiri. Begitu juga tangan kanan, seiras dengan kanan. Maka, penjoget tegelek-gelek, tegelek-tegelek.

Joget berlangsung lama. Panjang. Sampai para lelaki berdiri mencari pasangannya. Ikut menari, ikut tegelek-gelek. Terlebih saat selendang panjang disangkutkan ke leher lelaki itu. Semakin tegelek. Kecantikan para penjoget sungguh menawan. Para lelaki tak hendak lepas dari lilitan selendang. Bahkan sampai joget usai, penjoget kembali ke laut, kembali ke rakit, para lelaki turut masuk ke dalam lumpur tepian.

Tari ini terciptanya di Desa Sonde maka diberilah nama dengan sebutan Tari Joget Sonde. Sejarah Desa Sonde itu sendiri adalah pada zaman dahulu pohon sonde hanya terdapat di daerah kampung tersebut, di mana getah pohon sonde tersebut bisa dijual dengan harga yang tinggi. Karena banyak orang yang pergi mengambil kayu sonde dan daerah tersebut tidak memiliki nama maka masyarakat setempat memberi nama Sonde, ucap pak aheng.

Salah satu tradisi lain yang menjadi ikon suku pedalaman Akit adalah tradisi Perang Air (Cian Cui) dan mandi bunga dimalam tahun baru untuk membuang sial.

Setelah pengulasan sejarah suku pedalaman Akit sudah dipaparkan, talk show dilanjutkan dengan pemaparan mengenai kondisi pendidikan di suku pedalaman Akit oleh Ibu Riyati. Puluhan anak-anak suku pedalaman Akit yang berada di Dusun Bandaraya, Desa Sokop, Kecamatan Rangsang Pesisir, Kepulauan Meranti tidak bisa melanjutkan pendidikan ke sekolah menengah pertama (SMP).

Talkshow Suku Akit3

Pengelola SDN 12 Sokop Lokal Jauh selaku tokoh pendidikan didusun bandaraya, Riyati, mengungkapan, puluhan anak-anak Suku Akit yang tidak melanjutkan sekolah disebabkan tidak adanya sekolah tingkat menengah pertama (SMP) di dusun mereka.

“Dusun kami hanya punya SD, sebab itu banyak anak-anak yang hanya sampai SD saja. Hampir seratusan anak,” ujar Riyati.

Ibu Riyati mengatakan, sebenarnya ada SMP di desa tetangga, Desa Repan. Namun, akses transportasi dari Dusun Bandaraya, Desa Repan sangat jauh. Untuk sekolah ke Desa Repan, mereka harus berjalan sekitar 20 km. Tapi tidak semua warga memiliki motor. “Hanya sedikit saja warga yang punya motor, hanya para pekerja jauh saja,” ujarnya.

Sebelum talk show berakhir Ibu Riyati juga memberikan motivasi kepada warga suku pedalaman Akit bahwa pendidikan itu penting dan harus diperjuangkan. ” Kuncinya adalah berani, kita harus berani melewati batas, walau orangtua hanya lulusan SD atau bahkan tidak sekolah, anak-anak kita harus sekolah, minimal harus sarjana “, ujarnya. (Munzir – KAWAN SLI)

Talkshow Suku Akit4

Komentar

komentar