Serigala

Bahaya “Mata Pelajaran” dalam Kurikulum Sekuler

Saat dulu kita belajar pelajaran Ekonomi, sebenarnya itu bukan sedang belajar ilmu ekonomi. Namun sedang dicekoki tsaqofah Barat dalam bidang ekonomi.

Paham pertama yang didoktrinkan adalah tentang permasalahan ekonomi. Dalam pelajaran itu, dikemukakan bahwa persoalan ekonomi muncul karena kelangkaan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia.

Para pelajar Muslim disemai pemahaman bahwa “kebutuhan manusia itu tidak terbatas, sedangkan alat pemuas kebutuhan manusia itu terbatas”.

Padahal itu adalah konsepsi ekonomi yang keliru, menyesatkan dan memperdaya umat manusia.

Itulah konsep sistem ekonomi Kapitalisme yang menganggap dunia dan isinya yang diciptakan oleh Allah ini masih kurang, masih belum cukup.

Lebih fatal lagi, tsaqofah ekonomi tersebut hanya memandang kebutuhan hanya pada aspek materi. Sedangkan kebutuhan moral dan spiritual yang seharusnya juga dipenuhi malah tidak diakui keberadaannya dan tidak pernah diperhatikan.

Berbicara kebutuhan manusia itu jelas terbatas. Yang tidak terbatas adalah keinginannya yang mengikuti hawa nafsu.

Kebutuhan manusia itu adalah hal manusiawi yang memang harus dipenuhi. Namun jangan sampai tertukar atau menjadi bias dengan yang namanya keinginan. Keduanya berbeda.

Saat haus, kita butuh minum. Satu gelas mungkin masih kurang, tambah lagi 1 gelas. Masih kurang juga, tambah lagi gelas yang ke-3, ke-4 dan sampai yang ke-10 atau ke-20. Apa masih butuh minum lagi sampai habis meneguk 1 galon atau 2 galon air? Jelas tidak.

Itu contoh sederhana bahwa kebutuhan manusia itu terbatas.

Sedangkan yang tidak terbatas itu keinginan berlebihan untuk memuaskan syahwat dengan mencari-cari minuman yang beraneka macam, menumpuk-numpuk harta untuk beli air minum, atau bahkan sampai membeli gunung agar sumber dayanya bisa dikuasai olehnya.

Akibat konsep batil tentang kelangkaan barang dan jasa itu, banyak pelajar yang terjebak ke dalam pola pikir dan pola sikap yang salah. Mereka akhirnya terjerumus karena mengikuti syahwatnya, mengikuti apa-apa yang disenangi oleh nafsu yang keluar dari ketentuan syari’ah.

Egoisme individu tercipta, karena ambisi pemenuhan kebutuhan yang katanya tidak terbatas tersebut.

Penjajahan pun merajela karena misi mencari alat pemuas kebutuhan yang menurut tsaqofah Barat tersebut jumlahnya terbatas.

Akhirnya, generasi yang terkooptasi tersebut memiliki gaya hidup materialistis, hedonis, rakus, tidak pandai bersyukur, tidak qona’ah, tidak zuhud dan selalu diliputi nafsu duniawi.

Padahal Rasulullah SAW telah mewanti-wanti akan hal ini.

إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَ فُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْفِتَنِ

Sesungguhnya diantara yang aku takutkan atas kamu adalah syahwat mengikuti nafsu pada perut kamu dan pada kemaluan kamu serta fitnah-fitnah yang menyesatkan. [HR. Ahmad]

Jadi, bidang studi Ekonomi yang diajarkan dalam kurikulum pendidikan yang berasaskan sekuler telah mencuci otak kaum muslimin.

Lebih bahaya lagi saat mereka yang teracuni tsaqofah ekonomi Kapitalisme tersebut menjadi penguasa.

Mereka akan menjadikan sistem ekonomi ala Adam Smith tersebut sebagai acuan dalam mengurus negara.

Mereka hanya fokus pada produksi barang dan jasa. Padahal permasalahan ekonomi yang sebenarnya adalah karena faktor distribusi barang dan jasa yang tidak merata.

Akhirnya kesejahteraan rakyat tidak bisa diwujudkan. Alih-alih sejahtera, rakyat malah semakin sengsara dengan resep-resep ekonomi yang penuh dengan bahaya.

Dalam hubungan antar negara, sistem ekonomi kapitalisme menimbulkan penjajahan atas bangsa-bangsa lemah.

Betapa bahayanya belajar pelajaran Ekonomi (dan pelajaran lainnya yang mengandung tsaqofah asing) yang diajarkan dalam kurikulum pendidikan sekuler saat ini.

Karena itu, berhati-hatilah jika belajar ilmu dalam kurikulum bercorak sekuler, karena bisa jadi kita terjebak mempelajari tsaqofah asing.

Lebih praktisnya, buang jauh-jauh sajalah kurikulum bercorak sekuler yang ada saat ini. Segera ganti dengan kurikulum berdasarkan Islam…!

Sumber: http://www.zaydsayfullah.com/2017/07/06/bahaya-mata-pelajaran-dalam-kurikulum-sekuler/

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044