Asaku Hanya Satu, Bisa Pulang Bertemu Ibu

Dan ada beberapa hal yang harusnya kita sadari bahwa kita mesti mengalah dengan waktu, untuk berhenti ditengah perjalanan. Bukan berhenti untuk mengalah dengan kesenangan, namun hanya untuk sejenak menikmati bahwa kekuasaan Tuhan memang layak untuk di pandang dan diresapi sampai ke urat nadi. Kita pasti tidak pernah menyangkal bahwa mengeluh adalah hal yang tidak sengaja telah menjadi sebuah kebiasaan, dalam kata lain lupa  bahwa bersyukur adalah sebuah darma bagi seluruh insan dimuka bumi.

Disaat kita mulai tenggelam dengan aktivitas, seringkali kesibukan memakan waktu luang yang seharusnya dimanfaatkan sebagai berantara untuk melepas rindu dengan kampung halaman. Bernostalogia tentang rumah yang menjadi tujuan akhir dari sebuah perjalan panjang. Ketika memutuskan untuk berjuang melalui jalan berpertualang, maka disaat itulah kita mulai sadar bahwa itu adalah sebuah opsi untuk berpisah sejenak dengan rumah.

Bicara tentang rumah, hal ini mengingatkan saya dengan anak-anak panti asuhan yang banyak bersekolah di MI Muhammadiyah 2 Bandung. Mereka yang bersekolah mulai dari kelas 1 sampai kelas 6. Kebanyakan dari mereka adalah anak yatim piatu, bahkan tidak sedikit juga dari mereka yang masih memiliki ayah dan ibu namun karena sebuah tuntutan hidup dalam hal ekonomi, membuat mereka harus dititipkan oleh kedua orang tua mereka ke Panti Asuhan. Terbayangkah, dikala umur mereka masih kecil, mereka harus dihadapkan dengan sebuah perpisahan, tantangan besar didepan mata menuntut mereka  untuk harus hidup mandiri yang tentunya jauh dari kasih sayang dan lindungan orang tua.

Sebuah kejadian sendu terjadi di MI Muhammadiyah 2 Bandung tepatnya pada tanggal 19 Januari 2019. Saat itu sedang ada kegiatan Parenting dengan tema “Mempersiapkan Anak Menyonsong Masa Depan”, dimana saat itu menghadirkan orang tua dari siswa dan siswi. Di akhir acara ada peampilan dari kelas 6, mereka menyanyikan lagu tentang Ayah dan Ibu. Belum setengah dari lagu yang mereka nyanyikan, suasana langsung berubah menjadi sendu, satu persatu dari mereka mulai meneteskan air mata, begitupun dengan orangtua dan guru-guru. Saat itu aku yang sedang mengabadikan moment, sambil berusaha untuk menahan air mata, namun sayang, rinduku tentang rumah terbawa hanyut oleh setiap lirik lagu yang mereka nyanyikan.. Setelah lagu selesai dinyanyikan, anak-anak langsung bubar, berlari ke orangtua mereka, dekapan peluk ibu dan ayah mereka mengubah suasana menjadi haru. Namun fokusku mulai beralih dengan mereka yang duduk terdiam sambil meneteskan air mata di atas panggung. Iya,mereka adalah anak-anak panti asuhan yang tidak menemukan sosok ibu atau ayahnya. Namun kesedihan mereka sedikit terobati ketika wali kelas dan guru-guru menghampiri dan langsung merangkul mereka, seraya menciptakan sebuah maksud bahwa mereka juga punya orang tua, yaitu guru mereka.

Disini aku mulai berfikir, bahwa perpisahan adalah sebuah proses untuk menuju pulang. Demi sebuah kerinduan maka bungkuslah diri dengan kekuatan. Ingatlah untuk selalu mendoakan pemilik rumah si penyambut kedatangan ketika kembali. Karena sejauh apapun perjalanan yakinlah doa orangtua akan setia menemani dalam setiap langkah. Menuju 7 Purnama untuk kembali.

“Apakah petualangan adalah tentang mengabaikan rumah untuk dianggap gagah?
Apakah petualangan tentang menyendiri untuk keangkuhan diri?
Apakah petualangan adalah tentang melupakan keindahan kasih sayang orang tua untuk melihat kindahan alam?
Kini aku sadari bahwa petualangan adalah menghilang untuk menemukan, ,melangkah untuk memaafkan, mengalah untuk membahagiakan, dan pergi untuk pulang.” –Fiersa Besari–

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044