Anies Baswedan: Setiap Tahun, Sekian Juta Anak Kehilangan Kesempatan Bersekolah

Tokoh Pendidikan yang juga menjabat sebagai Rektor Paramadina, Anies Baswedan, hadir memberikan orasinya pada Simposium Pendidikan Nasional, Rabu (30/10). Sesuai dengan tema Simposium, yaitu Pendidikan Berkeadilan, Anies pun memberikan pandangannya tentang timpangnya pendidikan di Indonesia.

“Saudara sekalian, di tahun 2011 kita memiliki 5,6 juta anak yang masuk SD. Anda tahu, berapa anak yang lulus SMA? Hanya 2,3 juta anak. Berarti kita punya 3,3 juta anak yang ‘hilang’ dari pendidikan,” ungkap Anies. “Dari 2,3 juta lulusan SMA itu, hanya 1,1 juta yang bisa masuk ke perguruan tinggi,” lanjutnya.

Anies menilai ada banyak faktor yang menjadi penyebab ketimpangan pendidikan tersebut. Dari sekian banyak faktor, yang paling krusial adalah faktor ekonomi dan geografis. Bicara tentang faktor geografis, Anies mengatakan masih banyak anak terkendala untuk ke sekolah karena jauh dari rumahnya dan kesulitan untuk mengaksesnya. “Kalau yang dibutuhkan anak adalah pendidikan, kenapa kita tidak hadirkan pendidikan ke tengah mereka? Tidak harus membangun sekolah, pendidikan bisa kita lakukan di mana saja.”

Selain permasalahan ketimpangan pendidikan, dalam orasinya, Anies juga mengkritisi tentang bagaimana sinergi orangtua dalam sebuah proses pendidikan. “Pendidikan mendasar adalah di rumah. Dan pendidik terpenting adalah orangtua. Ada lebih dari 60 juta kepala keluarga. Sudahkah kepala rumah tangga berpikir sebagai kepala sekolah atau guru?”

Satu lagi problematika pendidikan Indonesia yang menurut Anies harus segera dibenahi. Menurutnya pendidikan Indonesia belum berfokus pada pembangunan manusia. Selama ini selalu dibanggakan adalah pembangunan fasilitas dan infrastruktur. Bicara pembangunan manusia, maka proses pendidikan kita masih minim teladan. [siska]

{loadposition related}

{fcomment}

Komentar

komentar

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.