Al Si Anak Istimewa

 

Oleh: Purwanto. KOMED

 

Tugas pendidik adalah memberikan stimulus dan support kepada anak–anak dalam kondisi apa pun. Pendidik harus bisa memainkan berbagai peran, menjadi orang tua, pengasuh, perawat, dokter, psikolog, polisi, juga sahabat bagi anak-anaknya di sekolah. Sungguh mulianya menjadi seorang pendidik.

 

Kali ini saya akan berkisah tentang pengalaman kami membersamai amanah Allah yang dititipkan di sekolah kami, seorang anak laki-laki yang sehat dan aktif. Al namanya.

 

 

Saya masih ingat, dari gerbang sekolah pertama kali melihatnya menggandeng tangan ibunya. Langkah kakinya satu-satu digerakkan menuju kantor sekolah. Gerakannya yang amat aktif, berlari ke sana ke mari, keluar masuk ruangan ia lakukan setiap saat. Dua bulan lebih Al belum mau masuk kelas, masih memilih di luar menikmati  kebebasan.

 

Saya dan para guru memaklumi dan berusaha memahami Al. Saat kecil dulu ia sakit-sakitan, sering keluar masuk rumah sakit. Karenanya ibu dan ayahnya fokus kepada kesembuhan Al, bukan di tugas perkembangannya. Wajar saja jika banyak perkembangan dalam dirinya yang belum tumbuh maksimal di usianya yang sekarang menginjak lima tahun. Bahasa, sosial emosional, motorik halus, serta nilai agama dan moral, Al masih belajar untuk itu.

 

Saat lahir sebenarnya Al baik-baik saja. Menginjak usia empat bulan dia mengalami panas yang sangat tinggi dan mengakibatkan dia kejang sehingga harus dirawat di rumah sakit. Hari demi hari dilalui Al dengan keluar masuk rumah sakit. Menginjak usia lima tahun dia masuk ke sekolah kami. Aktif dan lincah anaknya, selama tiga bulan belum mau masuk ruangan dan lebih asyik bermain di luar.

 

Al lebih banyak bermain sendiri, asyik dengan dunianya sendiri. Emosinya masih labil. Jika diajak berbicara dan bersalaman ia selalu membuang muka.

 

Alhamdulillah Allah memberikan petunjuk kepada kami lewat sebuah ilmu, bagaimana kami bisa masuk ke dunia Al. Hari demi hari kami berusaha mendekatinya, meskipun yang kami terima adalah kecuekan dan ketidakpeduliannya dengan keberadaan kami. Namun kami yakin suatu saat Al akan mencari kami dan dekat dengan kami.

 

Setiap hari kami lalui dengan bermain bersama Al. Ia mengalami speech delay alias keterlambatan berbicara karena perkembangan bahasanya belum muncul. Berbagai cara telah dilakukan orang tuanya demi mencapai tumbuh kembangnya yang maksimal. Mulai dari berkunjung ke ahlinya, hingga berujung masuk ke lembaga kami. Pola keterpaduan antara lembaga, orang tua, dan lingkungan, kami terapkan untuk mendampingi tumbuh kembang Al.

 

 

Di sekolah, saya mendekati Al dengan lebih banyak bercerita. Saya berupaya  memahamkan nama benda di sekitar, misalnya sepatu, kaus kaki, buku, air, bel, tanaman, daun, dan lain sebagainya. Upaya ini saya lakukan dengan meminta Al memegang benda dan mengikuti nama benda yang saya sebutkan.

 

Tiap kali datang ke sekolah, Al langsung bermain sampai tiba waktu pulang, bahkan kadang ia tidak mau pulang. Orang tua Al merasa tidak enak hati dengan sikap putranya itu. Akan tetapi kami memberikan pemahaman kepada mereka, tidak usah terlalu dipikirkan, ini saatnya kita berkolaborasi dalam pengasuhan dan pendidikan Al.

 

Karena itulah langkah pertama yang kami lakukan adalah menyusun strategi bagaimana caranya agar Al nyaman di lingkungannya yang baru. Kami sepakat untuk mengikuti alur ke mana dan bagaimana Al bertingkah yang penting ia nyaman.

 

Keaktifan Al di lingkungan baru ini karena selama sekian tahun aktivitasnya hanya di dalam rumah. Orang tuanya masih trauma karena kondisi Al waktu kecil yang sering sakit.

 

Langkah kedua yang kami rumuskan di sekolah adalah mendampingi kemana pun Al bermain, sambil sesekali memberikan stimulus pembelajaran. Seperti yang saya lakukan tadi, dengan cara menunjuk dan menyebutkan nama barang di sekitar.

 

Menginjak empat bulan di sekolah, Al mulai mau masuk ke ruang kelas dan mengikuti kegiatan. Meskipun ia masih mengikuti kemauannya sendiri dan belum mengikuti secara total kegiatan kami. Namun kami tetap memberikan pemahaman secara perlahan kepada Al, akan aturan dan ragam kegiatan yang ada. Karena kami yakin bahwa anak belajar dari melihat, mendengar dan merasakan, demikian juga Al.

 

Seiring berjalannya waktu, perkembangan Al mulai terlihat. Tugas perkembangannya dapat ia capai dengan hasil yang baik, mulai dari bahasa, sosial emosional, dan yang membuat kami lebih takjub adalah kognitifnya. Daya ingat Al sangat tinggi, sampai dia hafal posisi tulisan dari koma, titik, dan bentuknya. Target hafalan yang kami program pun mampu diselesaikannya dengan baik. Untuk itu kami sarankan kepada orang tuanya untuk memasukkan Al ke pondok tahfiz. Namun karena riwayat kesehatannya waktu kecil dulu, orang tua Al  masih keberatan dan memutuskan Al akan dimasukkan ke sekolah umum saja.

 

Dari hasil diagnosa dokter anak, Al termasuk Anak Berkebutuhan Khusus, tetapi kami di sekolah menyebutnya sebagai anak istimewa. Karena kami yakin Allah menciptakan makhlukNya dengan penuh kesempurnaan dan keistimewaan. Tugas kita sebagai pendidiklah untuk mencari dan menggali keistimewaan itu.

 

Tanpa terasa waktu kami membersamai Al selesai sudah. Kini saatnya Al melanjutkan ke SD, dan berpisah dengan kami di sekolah. Sampai jumpa lagi, Mas Al, raihlah cita–citamu setinggi langit diangkasa ya! Terima kasih telah memberikan pelajaran berharga kepada kami untuk lebih menghargai kehidupan.

 

Komentar

komentar