perpustakaan

Ajari Aku Membaca

Oleh: Ervan Nugroho. 

Ketika itu, pesawat mulai merapat di Bandara Terminal A2. Para penumpang mulai memasuki pesawat Lion menuju Batam.

Perjalanan tidak memakan waktu lama, kurang dari dua jam saja.

Langit masih cerah saat itu, Bandara Internasional Batam pun sudah mulai terlihat dari kabin pesawat. Sabuk pengaman pun mulai dipasang untuk proses pendaratan.

Saya tidak cukup lama berada di Kota Batam, karena pesawat menuju pulau Natuna segera terbang, pesawat Wing memberikan satu kursi untuk saya duduki menuju Natuna.

Perjalanan menuju Natuna hanya kurang dari satu jam. Pulau Natuna masih terlihat hijau, hanya beberapa pantai yang terlihat kering tanpa pepohonan. Lokasi sekolah yang saya datangi lumayan jauh dari kota kecamatan dan berada di pinggir gunung, Gunung Ceruk namanya, dengan udara relatif tidak terlalu panas tidak seperti Kota Batam.

Seorang guru bertanya kepada saya “Siswa sudah dapat membaca, terus bagaimana cara saya mengajari mereka membaca?” Pertanyaan tersebut kemudian saya jawab dengan kemampuan bagaimana membaca cepat dan bagaimana memahami bacaan dengan baik.

Siswa di sekolah pulau Natuna memang gemar membaca, pasalnya di Natuna tidak ada hiburan selain televisi, perpustakaan yang ada pun tidak kuasa menampung hasrat para siswa untuk membaca dan melahap semua bacaan yang ada di perpustakaan.

Siswa dan guru masih menggunakan model membaca konvensional, yaitu membaca pelan dan lama. Bagi kita, waktu sangatlah berharga sehingga kita harus mengetahui bagaimana membaca yang cepat dan benar itu.

Siswa memperhatikan saya ketika menerangkan tentang bagaimana membaca cepat itu, yaitu dengan menggunakan indera mata sekali lihat dalam satu garis kalimat. Membaca itu tidak harus semua dibaca namun membaca yang penting bagi kita menggunakan 5 W dan 1 H itu sangat penting, What, When, Who, Why, Where dan How.

Siswa mulai mengikuti cara membaca saya, dengan menyapu bersih setiap baris paragraf dan melatih kemampuan mata untuk melihat dalam satu kali membaca. Mengajukan beberapa pertanyaan sebelum membaca sebuah buku adalah sebuah keharusan, sehingga kita dapat menemukan semua jawaban dari pertanyaan yang telah kita ajukan.

Siswa Sekolah Dasar Negeri 04 Natuna sangatlah ramah dan tidak malu apabila mereka belum dapat membaca dengan cepat, namun secara umum para siswa senang dan menikmati kalau mereka akan membaca.

Tak terasa selama satu pekan kita berada di Natuna, waktu cepat berlalu, para siswa sangat senang ketika kita membawakan tiga kardus besar yang berisi buku-buku bacaan, mereka mengucapkan terima kasih banyak karena buku merupakan sumber inspirasi bagi mereka.

Saya hanya berharap bahwa sekolah yang berada di bawah kaki gunung Ceruk tetap gemar membaca dan mampu menulis kembali kisah-kisah kehidupan mereka untuk menjadi coretan perjalanan hidup setiap siswa selama mereka belajar di sana.

Secara pribadi saya cukup senang berada di tengah kehidupan Natuna walau hanya satu pekan, guru-guru disana senang membaca. Suatu saat, mungkin saya akan berjumpa kembali dengan sahabat satu pekan di pulau Natuna atau pulau-pulau lainnya yang memberikan rasa hidup di kehidupan ini. Teruslah membaca!

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044