Adam, Pahlawan Muda Tarbiyah Islamiyah

Adam, Pahlawan Muda Tarbiyah Islamiyah

Jejak langkah mulai diayungkan, menjemput setiap kejutan ditiap perguliran waktu. Sountrack Asmaul Husna menyambut hangat kedatangan kami hingga ke hati mengantar ke zona alfa menawarkan kekhusyuan, keramahan guru-guru pun mulai menyambut penuh binar, berbincang satu-dua-tiga hal sebelum mereka membawa jiwa-raganya dalam kehidupan anak-anak yang menunggu di kelas.

Aku juga beranjak dari ruang bincang dengan Kepala Madrasah Ibu Maskunah menuju lantai 2 menghampiri kelas Ibu Nurlita sebagai sala-satu Guru Model. Ada yang ingin kusaksikan di Kelas Model itu, sebuah Rak Ceruk Ilmu yang bertengger di pojokan ruangan dengan warna-warninya. Sebentuk bantuan dari Dompet Dhuafa sebagai bagian pendukung program Sekolah Literasi Indonesia. Buku-bukupun rapi menjejeri tiap tingkatannya hingga jam pembelajaran menunjukkan tandanya, kelas dimulai depan kegiatan literasi, anak-anak yang berdomisili di kelas tiga (3) ini dipersilahkan mengambil buku bacaan, sontak saja mereka berhamburan, berebut memilih buku yang disukainya.

Sejurus kemudian semua sudah di posisi nyamannya masing-masing,  ada yang nyender di dinding dengan beralaskan karpet yang telah di sediakan, ada yang mojok dekat lemari, ada yang berkelompok, ada yang menyendiri. Sebuah hal baru memang menawarkan sensasi yang haru. Anak-anak ini begitu antusias, semuanya saling berebutan menyaringkan suara bacaanya, hingga nyaris tak ada yang ada makna yang teratangkap oleh dengar kita.

Namun ditengah ada kebaruan ada pula yang berbeda, adalah Adam namanya. Di hamparan hingar-bingar semangat dan deru suara teman-temannya yang saling bersahutan, Ia terlihat begitu menikmati bacaanya, dengan kening yang sedikit mengkerut, mata yang tajam seolah menembus makna tiap deretan huruf, dan bibir yang tak berkomat-kamit menarikku mendekatnya, mengambil gambarnya dan antiknya dia sama sekali tak bergeming.  “Pahlawan Muda” buku di genggamannya, aku mendekat dan memotong keseriusannya.

“Aku juga mau baca buku ini, dong” sambil memegang ujung buku dan melihat perubahan ekspresi adam.

“Yaaa, aku belum selesai bacanya je bu.” Tolak adam.

“Tapi Ibu juga penasaran bacanya, gimana dong?” Adam tersenyum kecut, menghentikan bacaanya.

Aku mengambil buku yang mulai melemah dari genggamannya melihat-lihat

“Emang ceritanya ini tentang apa, coba ceritakan ke ibu” kataku sembari mengambil posisi duduk disamping Adam.

Adam hanya tersenyum malu-malu sebagai jawaban

“Adam pasti mau jadi pahlawankan? tanyaku lagi, disambung dengan gelengan Adam.

“Jadi pahlawan nggak baik yah?” aku mencoba memancing yang dijawab lagi dengan gelengan lebih cepat.

“Lahh, terus kenapa nggak mau jadi pahlawan?”

“Bahaya bu, harus nangkap penjahat” kata Adam mulai bercerita perlahan-lahan. Tentang 2 anak SD yang bersahabat dan bagaimana petualangannya mengungkap kejahatan, aku menyimak dengan harapan bahwa anak-anak ini hanya butuh diarahkan. Benar bahwa tak ada anak yang bodoh, hanya masalah waktu, hanya soal cara, hanya butuh orang dewasa mengambil peran mendidik.

“Adam, menjadi pahlawan itu berarti menjadi orang yang baik, suka membuat orang senang” kataku mencoba menjelaskan dengan bahasa sederhana.

 

“Kalau Adam rajin belajar, mama seneng nggak?”, “Iya” kata Adam dengan anggukan

“Kalau Adam rajin ke sekolah, bapak seneng nggak?”, “Iya” angguk adam.

“Kalau disekolah, Adam sering nggak membantu teman-temannya?”, “Iya”  angguk adam lagi

Berarti Adam adalah Pahlawan Muda, pahlawan kelas 3 Tarbiyah Islamiyah. Adam tersenyum malu-malu mengangguk.

 

Penulis : Jumrawati (Konsultan Relawan Sekolah Literasi Indonesia penempatan wilayah Indramayu)

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044