4 hal wujudkan model pendidikan berkualitas

Siapa yang tidak butuh pendidikan? Sepertinya di zaman modern ini semua orang memerlukan pendidikan. Pengamen jalanan yang masih belia, yang seharusnya menikmati masa kecilnya, jika ditanya apa mau sekolah? Jawabannya pasti mau. Bahkan ada cerita (novel) yang  mengisahkan keyakinan seorang ibu yang tidak pernah mengenyam pendidikan untuk tetap dan gigih menyekolahkan anak-anaknya walaupun, seperti biasa, terkendala masalah uang. Jadi agaknya akan sulit jika kita bertanya pada orang waras pada zaman ini ‘apakah anda tidak butuh pendidikan? Dan dia menjawab tidak’.

Pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat. Setiap manusia membutuhkan pendidikan, sampai kapan dan dimanapun ia berada. Pendidikan sangat penting artinya, sebab tanpa pendidikan manusia akan sulit berkembang dan bahkan akan terbelakang. Dengan demikian pendidikan harus betul-betul diarahkan untuk menghasilkan manusia yang berkualitas dan mampu bersaing, di samping memiliki budi pekerti yang luhur dan moral yang baik.

Pendidikan akhir-akhir ini memiliki kemajuan pesat di penjuru dunia. Pendidikan semakin hari semakin maju. Pendidikan dapat diakses langsung maupun tidak langsung, dengan jarak yang sangat jauh. Pendidikan di Era Modern memang berdampak dalam berbagai aspek kehidupan. Namun di negara kita tercinta ini pendidikan terus menuai kontroversi dan permasalahan. Pendidikan formal terbukti belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Pengangguran terdidik terjadi dimana-mana. Hal inilah yang membuat proses belajar mengajar harus dikembangkan.

Beban kurikulum yang terlampau banyak katanya menjadikan guru harus berpikir keras supaya semua materi dapat tersampaikan dalam waktu yang tersedia, tanpa mengorbankan pemahaman anak didik. Bayak terlihat guru “mendangkalkan” ilmu, dengan alasan jika memaksakan “lebih dalam” konsekuensinya adalah waktu tidak akan cukup. Dan sepertinya gejala ini dialami oleh banyak rekan kita yang berprofesi sebagai guru, walaupun hal tersebut tidak sepenuhnya dapat dibenarkan.  Hal tersebut hanya suatu fatamorgana dan kekhawatiran saja, Namur bisa jadi kedepannya jika terus seperti ini, maka orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang bepengetahuan luas tetapi pengetahuannya dangkal. Padahal dalam era globalisasi justru diperlukan orang-orang yang expert dalam satu bidang tertentu, syukur-syukur bisa expert dua bidang sekaligus.

Selama tiga dasawarsa terakhir, dunia pendidikan Indonesia secara kuantitatif telah berkembang sangat cepat. Pada tahun 1965 jumlah sekolah dasar (SD) sebanyak 53.233 dengan jumlah murid dan guru sebesar 11.577.943 dan 274.545 telah meningkat pesat menjadi 150.921 SD dan 25.667.578 murid serta 1.158.004 guru (Pusat Informatika, Balitbang Depdikbud, 1999). Jadi dalam waktu sekitar 30 tahun jumlah SD naik sekitar 300%. Sudah barang tentu perkembangan pendidikan tersebut patut disyukuri. Namun sayangnya, perkembangan pendidikan tersebut tidak diikuti dengan peningkatan kualitas pendidikan yang sepadan. Akibatnya, muncul berbagai ketimpangan pendidikan di tengah-tengah masyarakat, termasuk yang sangat menonjol adalah: a) ketimpangan antara kualitas output pendidikan dan kualifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan, b) ketimpangan kualitas pendidikan antar desa dan kota, antar Jawa dan luar Jawa, antar pendudukkaya dan penduduk miskin.

Di samping itu, di dunia pendidikan juga muncul dua problem yang lain yang tidak dapat dipisah dari problem pendidikan yang telah disebutkan di atas, (1) Pendidikan cenderung menjadi sarana stratifikasi sosial. (2)  pendidikan sistem persekolahan hanya mentransfer kepada peserta didik apa yang disebut the dead knowledge, yakni pengetahuan yang terlalu bersifat text-book saja sehingga pengatahuan seperti dipisahkan dari akar sumbernya maupun aplikasinya.

Berbagai upaya pembaharuan pendidikan telah dilaksanakan untuk meningkatkan kualitas pendidikan, tetapi sejauh ini belum menampakkan hasil yang sifnifikan. Mengapa kebijakan pembaharuan pendidikan di tanah air kita dapat dikatakan senantiasa gagal dalam menjawab problem masyarakat? Sesungguhnya kegagalan berbagai bentuk pembaharuan pendidikan di tanah air kita bukan semata-mata terletak pada bentuk pembaharuan pendidikannya sendiri yang bersifat erratic, tambal sulam, melainkan lebih mendasar lagi kegagalan tersebut dikarenakan ketergantungan penentu kebijakan pendidikan pada penjelasan paradigma peranan pendidikan dalam perubahan sosial yang sudah usang. Ketergantungan ini menyebabkan adanya harapan-harapan yang tidak realistis dan tidak tepat terhadap efikasi pendidikan.

Tujuan pendidikan yang kita harapkan adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan. Pendidikan harus mampu mempersiapkan warga negara agar dapat berperan aktif dalam seluruh lapangan kehidupan, cerdas, aktif, kreatif, terampil, jujur, berdisiplin dan bermoral tinggi. Mempertimbangkan dan mempersiapkan pendidikan anak-anak sama dengan mempersiapkan generasi yang akan datang. Hati seorang anak bagaikan sebuah kertas putih kosong yang tidak bernoda sedikitpun, tidak bergambar apa-apa, siap merefleksikan semua yang ditampakkan padanya.

Tujuan pendidikan tersebut dapat dicapai dengan implementasi secara maksimal Empat pilar pendidikan yang harus dikembangkan oleh lembaga pendidikan formal, yaitu: (1) Learning To Know (belajar untuk mengetahui), (2) Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu) (3) Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) dan  (4) Learning To Be (belajar untuk menjadi seseorang)

Learning To Know (Belajar Untuk Mengetahui). 

Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Hal itu bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet bumi. Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru. Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi knowing much (berusaha tahu banyak).

Mengimplementasikan  “Learning To Know” (belajar untuk mengetahui), Guru seyogyanya dan sejatinya berfungsi sebagai fasilitator. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan sebagai teman sejawat dalam berdialog dengan siswa dalam mengembangkan penguasaan pengetahuan maupun ilmu tertentu. Guru dituntut menciptakan suasana yang membangkitkan peserta didik untuk terlibat lebih aktif menemukan, mengolah, dan membentuk pengetahuan atau keterampilan baru. Siswa merupakan subyek belajar (bukan objek belajar) sedangkan guru berperan sebagai fasilitator dan motivator.

Learning To Do (belajar untuk melakukan sesuatu/berkarya). 

Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki dan/atau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu doing much (berusaha berkarya banyak).

Learning to do (belajar untuk melakukan sesuatu) akan bisa berjalan jika sekolah memfasilitasi siswa untuk mengaktualisasikan keterampilan yang dimilikinya, serta bakat dan minatnya. Hal tersebut dapat diwujudkan dengan penerapan pembelajaran inovatif, yang dilakukan dengan cara mengakomodir setiap karakteristik dari masing-masing siswa, karena siswa memiliki perbedaan dalam kemampuan belajar Ada siswa yang mengandalkan kemampuan visual (penglihatan) dalam menyerap materi pembelajaran, juga ada sebagaian siswa yang mengandalkan kemampuan auditory atau kemampuan mendengar, serta kemampuan  kinestetik.  Upaya penyeimbangan fungsi otak kiri dan otak kanan siswa perlu mendapatkan perhatian lebih, karena hal tersebut diantaranya dapat mengakibatkan proses renovasi mental, yang pada akhirnmya dapat membangun rasa percaya diri siswa.

Pendidikan yang diterapkan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat atau kebutuhan dari daerah tempat dilangsungkan pendidikan. Unsur muatan lokal yang dikembangkan harus sesuai dengan kebutuhan daerah setempat. Muatan lokal yang dimaksud diarahkan kepada ketrampilan yang mengetumakan kearifan lokal, karena keterampilan dapat digunakan untuk menopang kehidupan seseorang bahkan keterampilan lebih dominan daripada penguasaan pengetahuan dalam mendukung keberhasilan kehidupan seseorang.

Learning To Live Together (belajar untuk menjalani kehidupan bersama).

Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, being sociable (berusaha membina kehidupan bersama).

“Learning To Live Together” (belajar untuk menjalani kehidupan bersama) dapat diwujudkan dengan mengimplementasikan kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima (take and give), perlu ditumbuh kembangkan. Kondisi seperti ini memungkinkan terjadinya proses Penerapan pilar keempat ini dirasakan makin penting dalam era globalisasi/era persaingan global. Perlu pemupukkan sikap saling pengertian antar ras, suku, dan agama agar tidak menimbulkan berbagai pertentangan yang bersumber pada hal-hal tersebut. Orang yang mengerti bagaimana menjalani “kehidupan”, dia akan paham bagaimana bersikap menjadi orang. Mereka acapkali memakai kejujuran sebagai dasar, menggunakan kebaikan untuk kedamaian. Tidak mempedulikan apakah imbalan “jasa” itu hanya sebuah senyuman, atau hanya sebuah  ucapan “terima kasih” saja, mereka juga akan merasakan puas dan gembira. Persis seperti yang dikatakan pepatah China kuno, “Melakukan hal-hal yang bermakna itu sendiri adalah suatu kenikmatan ter-hadap kehidupan.”

Learning To Be (belajar untuk menjadi seseorang/belajar bertumbuh kembang).

Tantangan kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (being excellence). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau being morally.

“Learning To Be” (belajar untuk menjadi seseorang) erat hubungannya dengan bakat dan minat, perkembangan fisik dan kejiwaan, tipologi pribadi anak serta kondisi lingkungannya. Bagi anak yang agresif, proses pengembangan diri akan berjalan bila diberi kesempatan cukup luas untuk berkreasi. Sebaliknya bagi anak yang pasif, peran guru dan guru sebagai pengarah sekaligus fasilitator sangat dibutuhkan untuk pengembangan diri siswa secara maksimal. Dalam proses belajar, sesuatu harus dilakukan dengan senang hati. Belajar akan efektif, bila dilakukan dalam suasana menyenangkan. Namun, kenyataan yang ada adalah, semakin dewasa seseorang, sekolah ternyata menciptakan sebuah sistem dan situasi belajar tidak menyenangkan

Dengan demikian, tuntutan pendidikan sekarang dan masa depan harus diarahkan pada peningkatan kualitas kemampuan intelektual dan profesional serta sikap, kepribadian dan moral manusia Indonesia pada umumnya. Dengan kemampuan dan sikap manusia Indonesia yang demikian diharapkan dapat mendudukkan diri secara bermartabat di masyarakat dunia di era globalisasi ini. Semoga tahun 2011 menjadi awal kebangkitan dan perubahan dalam dunia pendidikan indonesia, dengan guru menjadi ujung tombak dan agen perubahan terdepan tentunya dengan peran serta dari seluruh komponen masyarakat dan pemerintah indonesia.

Komentar

komentar



Donasi Pendidikan
Mari bantu anak-anak Indonesia agar merdeka dari kemiskinan dan kebodohan melalui :

Yys Dompet Dhuafa Republika
Rekening BNI Syariah 2880 2880 13

Kantor:
Bumi Pengembangan Insani Jl. Raya Parung Bogor KM, 42 Ds. Jampang Kec. Kemang Kab. Bogor Jawa Barat 16310

Telp:
(0251) 8610817, 861818, 8612044